Indonesia
NovelToon NovelToon

The Last Survivors

Bab 1. Awal Mula Kiamat

Pagi itu dimulai seperti hari-hari biasanya. Berita di televisi hanya menyebutkan wabah flu aneh yang menyebar di tiga kota besar—dianggap hanya musim sakit biasa, tak ada yang menyangka dunia akan runtuh dalam hitungan jam.

Natalia baru saja merapikan berkas kerjanya saat suara teriakan memecah keramaian jalanan di luar kantor. Awalnya ia kira hanya perkelahian biasa, hingga ia melihat sosok yang berjalan terhuyung, pakaian robek berlumuran darah, dan menggigit siapa saja yang mencoba menolong.

Justin kekasihnya, menarik lengannya erat. "Kita harus pergi. Sekarang juga."

"hah, ada apa..?!" tanya nya.

"nanti aku ceritakan di dalam mobil, ayo..?" tanpa banyak bicara Natalia lalu mengikuti ajakan kekasih nya itu, dengan berlari tergesa-gesa.

Mereka berlari menuju mobil, namun jalanan sudah berubah menjadi kekacauan. Orang-orang berlarian panik, suara tembakan terdengar bersahut-sahutan, dan sosok-sosok yang tak lagi manusia berjalan perlahan mengejar setiap makhluk bernyawa yang mereka temui.

Mata Natalia terbelalak saat melihat kerumunan manusia yg sudah berubah menjadi menyeramkan, ia lalu bertanya pada Justin, kekasih nya.

"Ke mana kita harus pergi?" tanya Natalia dengan suara bergetar, menatap mata Rian yang biasanya tenang kini penuh ketakutan.

"yg pasti kita harus menyelamatkan diri kita, jauh dari sini. Aku juga mendapatkan kabar, jika situasi jalanan menuju ke arah vila ku sangat kacau, kita tidak melewati nya," jawab Justin, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Namun takdir berkata lain. Saat Rian hendak menyalakan mesin, tubuhnya tiba-tiba limbung. Demam tinggi yang sempat ia sembunyikan sejak kemarin kini meledak. Matanya perlahan berubah sayu, dan tatapan yang dulu penuh kasih sayang perlahan berganti rasa lapar yang tak wajar.

"Justin.. Hei... Kamu kenapa..?" tanya Natalia.

"Natalia... kamu harus berusaha untuk cepat pergi dari sini... Aku.. Akh... Aku.. Maafkan aku, demam ini... Demam ini gak wajar.." tubuh Justin bergetar hebat, ia berusaha untuk keluar namun di cegah oleh Natalia.

"please... Jangan tinggalkan aku Justin.." mohon nya, namun Justin menguatkan Natalia.

"bertahanlah Nat, bertahan dengan situasi ini.. Berjanji lah untuk tidak mati.." Justin lalu keluar, dan menutup pintu mobil nya ia lalu berlari menuju ke kerumunan mayat hidup itu, dan memancing mereka untuk menjauh dari mobil.

Natalia terpaku kaku. Di hadapannya, orang yang paling ia cintai perlahan berubah menjadi salah satu dari mereka, Justin dengan tenaga yg tersisa sedikit, berusaha untuk memancing kerumunan itu. Dan di luar sana, gerombolan itu semakin menjauh dari mobil nya, membuka celah agar mobil nya bisa bergerak dan menjauh dari jalanan.

Tangis Natalia tak terhenti, saat dia melihat Justin berdiri di atas jembatan, lalu mobil itu bergerak meninggalkan jalanan yg sudah penuh dengan mayat hidup.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Di sisi lain sebuah gedung rumah sakit yg sudah kacau dengan para pasien, suster, dokter, dan pengunjung berpencar ketakutan dan menghindari dari gigitan mayat hidup, di sana ada polisi dan juga tentara untuk berusaha mengevakuasi para korban yg selamat, sisa nya dari mereka mungkin akan di tembak atau di ledakkan.

Di dalam kamar rawat, masih banyak pasien yg koma dan juga kritis. Ada juga pasien yg masih dalam kondisi melahirkan dan operasi, namun mereka di tinggalkan oleh para dokter aan suster saat mendengar ada nya wabah mematikan yg sudah menyebar dan berubah menjadi mematikan.

Situasi ini sangat kacau, apakah pemerintah dan penjabat daerah dapat menangani ini.

Bersambung

Bab 2. langkah Tanpa Kembali

Dunia Natalia seolah runtuh seketika. Di Dalam mobil ia harus melihat Justin—lelaki yang selalu menjadi tempat paling aman, yang kemarin malam masih berjanji akan menjaganya sampai kapan pun—kini berdiri tak lagi mengenali siapa dirinya. Matanya yang dulu hangat dan penuh kasih sayang kini berubah merah menyala, kosong, dan dipenuhi hawa nafsu yang tak masuk akal. Kulitnya pucat kebiruan, napasnya terdengar berat dan mendengus, sementara air liur bercampur darah menetes dari sudut bibirnya yang retak.

Namun, ia sudah berjanji untuk hidup dan berjuang di dunia yg sudah berubah menjadi kota mati. Masih dalam kondisi yg sangat bingung, Natalia menatap jalanan yg sudah berubah banyak mobil saling bertabrakan, anak kecil menjadi korban dan mereka yg tidak selamat harus menjadi bagian para mayat hidup, Natalia masih menatap jalanan. Ia berfikir jika ada seseorang yg masih selamat di sana, akan ia tolong dan membawa nya pergi dari jalanan itu.

Di kejauhan, ledakan terdengar bersahut-sahutan. Asap hitam membumbung tinggi menutupi sinar matahari, mengubah siang yang cerah menjadi kelabu mencekam. Teriakan minta tolong berbaur dengan jeritan kematian, sementara sosok-sosok mayat hidup semakin banyak bermunculan, merayap dan berjalan perlahan dari setiap gang, setiap gedung, dan setiap sudut jalan yang tadi ramai.

tapi nasib baik menghampiri diri nya, ia melihat ada seseorang yg meminta tolong pada Natalia, mendekati mobil milik nya.

dok...dok..dok..

"hei tolong aku, buka pintu nya." Natalia lalu membuka pintu mobil itu dan orang itu lalu masuk dan menutup kembali pintu mobil dengan nafas yg tersengal dan ketakutan.

"aku heran dengan semua orang, mereka ini... Kenapa, dan mereka mati, tapi bangkit lalu saling menyerang." ucap nya dengan nafas yg tersengal.

"aku tidak tau, aku sedang di kantor dengan beberapa kerajaan ku, tau-tau dunia sudah berubah." geleng nya.

"ya, aku juga begitu.. dan yg paling aneh nya, tidak ada berita dan pemerintah yg mengevakuasi para korban yg masih selamat, kemana mereka pergi." ucap nya

"aku rasa mereka sudah tau dan memilih untu pergi dari kota ini." ujar Natalia.

"hei.. kita belum kenalan, aku Mega.. Dulu nya seorang pramuniaga sebelum ada nya wabah ini."

"aku Natalia.."

"kita akan kemana sekarang..."

"menjauh dari sini Mega, mencari tempat aman dan mencari para korban yg selamat."

"oh iya... Semoga mereka masih bisa menyelamatkan diri, kita jga harus mencari persediaan makanan bukan."

"ya aku setuju.."

Mobil itu lalu bergerak menuju swalayan, untuk mencari bahan-bahan persediaan makanan dan juga minuman.

Beberapa kemudian, mereka sampai namun Natalia dan Mega harus kecewa dengan apa yg mereka lihat. Swalayan itu sudah tersegel dan isi nya terpenuhi oleh zombie, lalu mobil itu bergerak kembali mencari toko bahan baku yg masih ada persediaan.

"memang kita kurang beruntung.." sahut Mega kecewa.

"ya aku tau.." balas Natalia singkat dan fokus pada jalanan.

"kamu tau, dulu aku mempunyai cita-cita." ucap Mega.

"cita-cita... Apa itu.." tanya Natalia.

"ya cita-cita menjadi seorang pemimpin yg baik.." jawab nya sambil tertawa pelan.

"jangan berharap menjadi pemimpin, Mega. Itu tak muda, ingat. Dengan situasi seperti ini, tidak ada penyelamatan.." jelas nya

"iya aku tau.." lirik Mega sambil tersenyum, namun senyuman nya memudar, saat melihat ada toko yg terbuka dan isi nya masih ada sisa-sisa bahan makanan dan minuman, Mega lalu menunjukkan jari nya ke arah kiri jalan, "itu lihat, di sana.."

"iya aku juga lihat, kita menepi dan cari beberapa persediaan yg masih layak dan obat-obatan.." angguk Mega, kedua nya lalu turun dan mencari beberapa persediaan.

Mega dan Natalia masuk ke toko itu dan berpencar, kedua nya mencari beberapa persediaan seperti makanan berat dan ringan, obat-obatan serta minuman. Di rasa cukup.kedua nya bergegas keluar menuju ke mobil, lalu menutup pintu mobil itu dan melajukan nya meninggalkan area toko bahan baku.

"cukup untuk beberapa hari ke depan, dan kita harus mencari persediaan bahan bakar." ucap Natalia.

"nanti beberapa meter lagi , di sana ada bahan bakar. Pertamini khusus untuk mobil." ujar nya, lalu mobil itu melaju menuju ke tempat dimana bahan bakar tersedia.

Tak lama kemudian mobil mereka sampai di tempat tujuan, Natalia lalu turun di ikuti Mega. Mega berlalu mencari sesuatu yg akan menjaga diri nya dan juga Natalia, sedangkan Natalia mengisi bahan bakar nya dengan full.

"oke...mungkin ini cukup." gumam nya.

"Nat.. Aku mempunyai sesuatu..lihat." sahut Mega saat setelah mendekati Natalia.

"senapan dan pistol, lalu beberapa peluru. Kamu dapatkan dimana." tanya Natalia.

"aku mendapatkan nya di dalam sana, mereka meninggalkan barang ini, dan aku juga membawa jerigen dan ada isi nya." jawab Mega.

Natalia menganggukkan kepala nya sambil tersenyum, melihat semua yg di bawa Mega, " oke.. Kita simpan di bagasi, dan kita harus segara pergi dari sini." jerigen berisi solar itu lalu di pindahkan kedalam bagasi mobil, lalu Mega dan Natalia masuk ke dalam mobil dan melajukan nya meninggalkan area Pertamini.

perjalanan mereka masih sangat jauh sekali, mencari tempat yg aman dan jauh dari kota.

Bersambung

Bab 3. Mencari Tempat Aman

Di sudut kota gedung putih yaitu rumah sakit, yg sangat mencekam dan masih banyak dari mereka untuk mencari tempat aman, Langkah demi langkah dari para warga untuk keluar dari rumah sakit pusat kota itu, Dulu, tempat itu adalah harapan bagi setiap orang yang sakit, tempat di mana nyawa diselamatkan. Namun hari ini, rumah sakit itu berubah menjadi neraka yang paling mengerikan. Pintu kaca yang pecah berantakan, koridor yang penuh jejak darah, dan sunyi yang mencekam sesekali dipecahkan oleh geraman rendah dari balik ruangan yang tertutup.

remaja dan para orang dewasa berharap ada yg menyelamatkan mereka dan membawa air minum, atau makanan. Para Pasien, perawat, hingga dokter yang dulu menyelamatkan nyawa kini berjalan tak tentu arah, menatap kosong, dan siap menerkam siapa pun yang bernapas.

"sampai kapan kita harus berdiam diri di sini.." kesal seorang pria dengan tubuh yg gempal.

"aku tidak tau, tapi kita harus bersabar.." timpal nya.

"ya tapi sampai kapan.." balas nya.

"Diam lah... Jangan berdebat.." sahut yg lain melerai.

Saat ia hendak bersuara, terdengar suara tembakan di luar. keempat orang itu lalu saling pandang, dan mendekati celah ventilasi untuk mengintip siapa yg datang

"hei lihat, ada orang yg berseragam tentara dan polisi datang untuk kita!" seru pemuda itu, dengan wajah yg berbinar namun tetap memiliki ketakutan.

"hei... Kami di sini,tolong kami..." teriak si pria dengan tubuh gempal, ia memanggil beberapa orang-orang yg ada di sana.

"aku rasa mereka mendengar kita..."

"ya aku rasa begitu.

di sisi lain, mereka yg datang membawa perlengkapan senjata mencari beberapa korban yg akan di selamatkan. Di antara nya ada polisi dan tentara, lalu dokter dan 3 warga sipil yg juga memegangi senjata masing-masing.

Polisi dan tentara itu tidak bertugas di bawa kepimpinan atau perintah dari atasan, kenapa... karena kedua orang beda profesi itu sudah sangat kecewa dengan pemerintah yg memilih menyelamatkan diri ketimbang para warga di kota ini.

Keenam orang itu lalu masuk ke dalam dan mencari ruangan yg berisi obat-obatan.

"kita berpencar, kalian bertiga selamatkan mereka yg tak terinfeksi, aku, Danu, dan dokter Rizal akan mencari obat-obatan." perintah nya.

"oke .. Tapi tadi aku mendengar suara orang yg memanggil.." ucap nya.

"iya aku juga sama, mungkin itu mereka.. Kalian cari ke lorong itu , siapa tau mereka ada di sana."

Tanpa banyak bicara, mereka bertiga melangkah menuju ke lorong yg kiri, sedangkan dokter Rizal dan tentara itu ke lorong Kanan untuk mencari perlengkapan obat-obatan.

"aku tidak mengira akan menjadi seorang Rambo.." seru nya.

"ya ya... Rambo berperang di kiamat zombie.." Dokter Rizal tertawa pelan.

"shhh... Diam, aku mendengar sesuatu.." sahut tentara itu yg bernama Aldo, Danu dan Dokter Rizal saling pandang, dan mengikuti langkah rekan nya menuju ke pintu yg bertuliskan 'jangan di buka'.

"hei Aldo,, aku rasa jangan melanggar perintah, lihat ada tulisan untuk jangan buka." cegah Danu, ia merasa jika larangan adalah sebuah perintah.

"tapi.. Aku mendengar sesuatu di sana.." yakin nya.

"jangan Aldo.. Lebih baik jangan.." namun larangan itu tetap tak ia hiraukan.

Aldo lalu membuka Pintu ruangan itu terbuka sedikit, menampakkan kegelapan pekat yang menyembunyikan apa saja di dalamnya. Napas mereka tertahan sejenak, jari-jemari mencengkeram senjata yang terasa berat di tangan. Polisi itu mengisyaratkan diam, lalu perlahan mendorong pintu itu terbuka lebar.

Hanya kesunyian yang menyambut—sebentar.

Tiba-tiba, geraman rendah meledak dari segala arah. Belasan sosok yang dulunya manusia merayap dan berjalan terhuyung dari balik lemari obat, di bawah tempat tidur, hingga dari balik tirai yang compang-camping. Mata mereka kosong merahnya, darah mengering di pakaian seragam medis yang tak lagi rapi.

"Mundur! Jangan biarkan mereka mendekat!" bentak Danu.

Tembakan meledak memecah keheningan. Satu, dua, tiga sasaran tumbang, namun yang lain tak berhenti melangkah. Mereka tak merasa sakit, tak takut mati, hanya dipandu oleh satu naluri: melahap. Peluru terbukti tak cukup menghentikan semuanya, hanya menunda sejenak.

Di lorong sebelah, tiga orang yang dikirim menyelamatkan warga segera berhadapan dengan pemandangan yang sama. Pria gempal yang tadi berteriak meminta tolong kini terbelalak ngeri saat sosok yang dulu adalah perawat berjalan mendekat dengan tangan terjulur.

"Jangan bergerak! Tetap di belakangku!" perintah salah satu penyelamat, mengarahkan senjata dengan tangan gemetar namun mantap.

Di tengah kekacauan itu, dokter Rizal berteriak dari kejauhan, "Jangan habiskan peluru untuk yang masih jauh! Tembak tepat di kepala! Hanya itu yang menghentikan mereka!"

Kata-kata itu menjadi penuntun. Perlahan namun pasti, mereka mulai mengatur langkah, mundur selangkah demi selangkah sambil melindungi satu sama lain. Tidak ada lagi perdebatan, tidak ada lagi keluhan. Hanya kesadaran bahwa nyawa mereka kini bergantung pada kesigapan rekan di sebelahnya.

Danu menendang satu sosok yang hampir merobek lengan pria gempal itu, sementara polisi di sampingnya melepaskan satu tembakan tepat di kening makhluk itu.

"Kita harus keluar sekarang! Dinding belakang gudang obat lebih lemah, kita jebol dari sana!" seru dokter Rizal sambil meraih kotak obat yang tersisa.

Mereka berlari menerobos lorong yang kini mulai dipenuhi makhluk-makhluk itu, suara geraman dan langkah berat mengejar di belakang. Di luar sana, dunia mungkin sudah hancur, namun di antara mereka yang tersisa, satu hal baru saja terbentuk: ikatan yang tak terduga, dan tekad untuk bertahan hidup bersama, walau maut mengintai di setiap sudut.

Namun mereka sudah sangat terdesak peluru dari setiap pistol masing-masing sudah menipis.. Keenam orang itu ditambah 4 orang yg di selamatkan hanya bisa pasrah, namun tidak dengan Danu dan juga imron seorang anggota polisi, berusaha mendobrak paksa pintu keluar agar mereka bisa menyelamatkan diri dari bahaya yg mencekam.

Bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!