Suasana pagi itu cukup ramai di panti asuhan,Anak-anak panti siap-siap untuk berangkat sekolah,Sedangkan ayla sibuk merapikan tas,Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan panti,Tak lama kemudian seseorang mengetok pintu.
Tok tok tok!
Salah satu anak panti yang berada paling dekat dengan pintu segera berjalan menghampiri dan membukanya.
"Assalamualaikum"ucap bagas.
"Waalaikumsalam"jawab ayla dan beberapa anak panti.
"Sudah siap?"tanya bagas.
"Sudah,Bentar"jawab ayla sambil berjalan menghampiri bagas.
Tiba-tiba winda,Ibu panti yang biasa dipanggil bunda oleh anak-anak panti keluar dari dapur.
"Ayla sarapan dulu"ucap bunda.
"Ayla sarapan di sekolah,Bunda"jawab alya.
"Jangan lupa makan yah"ucap bunda.
"Siap,Bunda"jawab ayla.
Ayla lalu menghampiri bunda dan mencium punggung tangannya,Bagas pun melakukan hal yang sama.
"Kita berangkat dulu,Bunda"ucap bagas.
"Assalamualaikum"ucap bagas dan ayla bersamaan sebelum keluar dari panti.
"Waalaikumsalam"jawab bunda
...••••••...
Di dalam mobil,Tangan bagas dan ayla saling tergenggam erat,Sementara tangan bagas yang satunya memegang setir dengan santai.
Mobil sport itu melaju membelah jalan pagi yang ramai,Sekitar 10 menit perjalanan mobil bagas sudah memasuki area sekolah.
Bagas memarkirkan mobilnya di tempat parkir,Setelah parkir dengan sempurna,Bagas menoleh ke arah ayla lalu mengeluarkan kotak bekal dari tasnya.
"Makan"ucap bagas.
"Ta-tapi"ucap ayla ragu.
"Masih ada waktu sebelum jam pelajaran dimulai"ucap bagas.
"Sudah makan?"tanya ayla.
"Sudah"jawab bagas.
Setelah ayla selesai makan,Bagas turun lebih dulu dari mobil,Bagas berjalan ke sisi lain mobil lalu membukakan pintu untuk ayla,Ayla menerima uluran tangan bagas dan turun dari mobil,Mereka berdua berjalan bergandengan,Bersama menuju gedung kelas,Kelas 12 IPA 1 milik ayla berada tidak jauh dari kelas bagas.
"Belajar yang pintar,Jangan nakal"ucap bagas sambil mengelus lembut rambut ayla.
Ayla hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
Bagas memastikan jika ayla sudah masuk ke kelasnya,Setelah itu bagas langsung berjalan menuju kelasnya.
"Ayla!."
Teriak seseorang,Seisi kelas lansung melihat menoleh saat seseorang tersebut berteriak,Siapa lagi kalau bukan sahabatnya rina dan salsa.
"Berisik banget deh kalian,Jangan teriak-teriak"ucap ayla sambil duduk di bangkunya.
"Hehehe maaf"ucap mereka berdua sambil cengengesan.
...••••••...
Tring!
Bel istirahat akhirnya berbunyi.
Suasana kelas yang tadi tenang langsung berubah ramai,Para siswa mulai keluar kelas menuju kantin,Sedangkan ayla masih merapikan bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Ke kantin yuk,Aku lapar banget"ucap salsa sambil memegang perutnya.
"Aku juga"ucap rina.
Ayla tersenyum kecil.
"Yaudah,Ayo."
Mereka bertiga berjalan menuju kantin sekolah,Seperti biasa kantin sudah penuh oleh para siswa yang sedang membeli makanan.
"Ya ampun rame banget"ucap salsa sambil melihat sekeliling.
Rina mengangguk.
"Iya,Tempat duduknya juga penuh semua."
Mereka membawa makanan yang sudah dibeli lalu mencari tempat duduk.
"Aduh gak ada tempat"ucap rina.
Saat ayla menoleh ke arah pojok kantin,Ayla melihat bagas sedang duduk bersama beberapa temannya,Bagas juga melihat ayla yang sedang berdiri kebingungan mencari tempat duduk,Bagas lalu melambaikan tangannya sedikit.
"Sayang,Sini."
Ayla menoleh ke arah rina dan salsa.
"Kita ikut gabung duduk di sana aja"ucap alya.
Mereka pun berjalan mendekati tempat duduk yang dimaksud ayla di sana ada bagas bersama dua sahabat bagas yaitu raka dan dimas.
"Duduk"ucap bagas,Sambil menggeser kursinya sedikit agar ayla lebih dekat.
Ayla duduk di samping bagas,Sementara rina dan salsa duduk di seberang ayla.
Ayla menuangkan sambal ke mangkuknya.
"Buset buk bos sambalnya banyak banget?"ucap dimas.
"Itu mah bukan pedas lagi,tapi pedas banget"ucap salsa.
"Hehehe,Hari ini ayla lagi pengen makan yang pedas-pedas"ucap ayla sambil cengengesan.
Bagas melihat mangkuk ayla yang penuh sambal,Ekspresinya tetap datar tapi terlihat kesal.
"Sayang"panggil bagas ke ayla dengan suara dingin.
"Apa?"jawab ayla.
"Sambalnya kebanyakan"ucap bagas.
"Gapapa kok"jawab ayla.
"Kebanyakan"ucap bagas,Suara lebih tegas.
"Kali ini aja plis"ucap ayla dengan nada memohon.
Bagas langsung menarik mangkuk ayla dan menukarnya dengan piring berisi nasi goreng miliknya.
"Eh!bagas"ucap ayla.
"Makan yang ini"ucap bagas.
"Tapi kan aku maunya bakso"ucap ayla.
"Gak usah membantah"ucap bagas.
"Kamu kan tau sendiri aku suka pedas"ucap ayla.
"Kalau sakit perut?"ucap bagas suara dingin tapi tegas.
Ayla langsung terdiam.
"Udah ay,Makan aja"ucap rina.
"Iya,Bagas cuma khawatir sama kamu"ucap salsa.
"Cepat makan keburu dingin"ucap bagas.
"Iya"jawab ayla.
...••••••...
"Ayla,Pulang diantar bagas?"tanya rina sambil merapikan tasnya.
Ayla menggeleng pelan.
"Enggak,Aku mau ke pasar."
"Ngapain?"tanya salsa.
"Bunda lagi sakit,Jadi aku mau beli bahan makanan buat masak di panti"jawab ayla.
"Sendirian?"tanya rina.
"Kalian mau ikut?"ucap ayla tersenyum kecil.
"Ya ikutlah!Masa kamu ke pasar sendiri"jawab salsa.
"Ayo sebelum bagas datang,Soalnya aku gak izin ke dia."
"Serious?"ucap rina langsung melotot.
"Aku cuma ke pasar sebentar aja kok"jawab ayla.
"Kalau dia tahu kamu pergi tanpa bilang,Dia bisa marah loh"ucap salsa.
"Udah gak papa"ucap ayla.
Mereka bertiga akhirnya keluar gerbang sekolah bersama.
...••••••...
Ayla sibuk memilih sayur,Tempe,Dan beberapa bahan lain.
"Ay,Udah semua?"tanya rina.
"Sudah"jawab ayla.
Ayla,Rina dan salsa baru saja selesai berbelanja,Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.
Brak!
Pintu mobil terbuka keras,Bagas keluar dengan wajah dingin.
Rina dan salsa langsung saling melirik.
"Waduh"bisik salsa ke rina.
"Sayang"ucap bagas suara terdengar datar tapi menahan emosi.
Ayla menoleh dan langsung kaget.
"Bagas?."
Bagas berjalan mendekat.
"Kamu ngapain di sini?."
"Aku beli bahan makanan"jawab ayla.
"Tanpa bilang ke aku?"tanya bagas.
"Aku cuma ke pasar sebentar-"jawab ayla.
"Aku tanya kamu,Kamu izin atau enggak?"potong bagas tegas.
Ayla mulai kesal.
"Aku gak harus izin setiap mau kemana-mana,Kan?"tanya ayla.
Rina dan salsa mundur sedikit.
"Kamu tahu aku nyariin kamu di sekolah?"ucap bagas dengan suara rendah.
"Aku bukan anak kecil yang harus lapor sana kamu"jawab ayla.
Bagas menatap ayla tajam.
"Kamu pergi ke tempat seramai ini tanpa bilang apa-apa."
"Aku gak apa-apa"ucap ayla.
"Bukan itu masalahnya"ucap bagas.
Ayla mulai emosi.
"Terus masalahnya apa?Aku cuma beli bahan makanan buat anak-anak panti karena bunda sakit."
Bagas terdiam sebentar.
"Tetap saja kamu harus bilang."
"Kenapa sih kamu selalu ngatur aku?"ucap ayla suara mulai meninggi.
Rina langsung panik.
"Aku cuma khawatir"ucap bagas tegas.
"Aku gak butuh dijagain kayak gitu"ucap ayla.
Ucapan ayla membuat bagas terdiam,Beberapa detik suasana benar-benar sunyi,Lalu bagas berucap pelan tapi dingin.
"Baik."
Bagas mengambil kantong belanja dari tangan alya dan meletakkannya ke mobil.
"Masuk mobil."
"Aku bisa pulang sendiri"ucap ayla
Bagas menatap ayla tajam.
"Sayang."
Nada suara bagas membuat alya terdiam.
Rina berbisik pelan.
"Udah ay nanti makin ribut,Kita juga bisa pulang sendiri kok."
Salsa juga mengangguk.
"Iya ay,Gapapa kok."
Ayla akhirnya masuk mobil dengan wajah kesal.
Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil benar-benar hening,Tidak ada yang berbicara,Bagas mengemudi dengan ekspresi dingin,Sementara ayla menatap ke luar jendela dengan wajah yang masih kesal.
Mobil terus melaju membelah jalan sore yang cukup ramai,Suara mesin mobil dan klakson kendaraan lain terdengar samar.
Ayla masih menatap ke luar jendela,Tangannya saling menggenggam di pangkuan,Jujur saja ayla takut sekali dengan bagas,Sedangkan bagas melirik ayla sekilas lalu kembali fokus ke jalan.
Beberapa menit berlalu tanpa kata.
Tiba-tiba bagas berucap pelan.
"Kamu selalu begini."
Ayla menoleh sedikit.
"Maksudnya?."
"Pergi sendiri tanpa bilang apa-apa"ucap bagas.
"Aku cuma ke pasar"ucap ayla.
"Kalau sesuatu terjadi sama kamu?"tanya bagas.
Ayla terdiam sejenak.
"Aku bisa jaga diri"jawab ayla.
Bagas menghela napas panjang.
"Itu bukan poinnya."
"Lalu apa?"tanya ayla.
Bagas menatap jalan dengan rahang menegang.
"Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa."
Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang panti asuhan,Bangunan sederhana itu terlihat tenang di bawah cahaya sore yang mulai redup.
Bagas mematikan mesin mobil.
Ayla langsung membuka pintu tanpa berucap apa-apa,Ayla mengambil kantong belanja dari kursi belakang.
"Aku bawa sendiri"ucap ayla singkat.
Namun sebelum ayla sempat mengangkat semuanya,Bagas sudah mengambil sebagian kantong belanja itu.
"Aku bantu."
"Aku bisa sendiri"ucap ayla.
Bagas menatapnya sebentar.
"Aku tahu,Tapi aku tetap bantu."
Ayla tidak menjawab lagi,Ayla hanya berjalan masuk ke halaman panti.
Beberapa anak kecil yang sedang bermain langsung berlari mendekat.
"Kak ayla pulang!"teriak salah satu anak kecil.
"Kak ayla bawa makanan ya?"tanya anak lain dengan mata berbinar.
Ayla langsung tersenyum lembut,Wajah kesalnya sedikit memudar.
"Iya,Nanti kak ayla masakin ya."
Anak-anak itu bersorak kecil,Bagas berdiri di belakang ayla sambil memperhatikan pemandangan itu,Wajahnya yang tadi dingin perlahan melunak.
Seseorang keluar dari dalam panti,Yang terlihat agak pucat.
"Ayla kamu sudah pulang?."
Ayla langsung mendekat.
"Bunda harusnya istirahat,Jangan keluar."
"Anak-anak bilang kamu pulang,Habis dari mana?"ucap bunda winda.
Ayla memegang tangan bunda winda dengan lembut.
"Iya,Bila habis dari pasar bunda,Beli bahan makanan,Bunda istirahat saja biar ayla yang masak."
"Jangan,Biar bunda bantu lagi pula masaknya jumlah banyak"ucap bunda winda.
"Nggak usah bunda biar bagas yang bantu,Bagas bisa"ucap bagas.
Bunda winda lalu melihat bagas yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Oh ada nak bagas rupanya."
Ayla sedikit gugup.
Bagas langsung menundukkan kepala sopan.
"Sore,Bun."
Bunda winda tersenyum hangat.
"Sore juga."
Ayla segera membawa kantong belanja ke dapur panti.
Dapur panti cukup sederhana tapi bersih,Ayla mulai mengeluarkan sayur,Tempe dan bahan-bahan lainnya.
Bagas mengambil pisau dan mulai memotong sayuran.
Beberapa detik kemudian,Seseorang berdiri di sampingnya.
"Kamu ngapain di sini?"tanya ayla.
"Tadi kan aku udah bilang mau bantu"jawab bagas.
"Emang Kamu bisa masak?"tanya ayla.
Bagas mengambil tempe dari meja.
"Bisa sedikit."
Ayla menatapnya ragu.
Bagas lalu mengambil pisau lain dan mulai memotong tempe dengan rapi.
Ayla terkejut.
"Loh kamu beneran bisa?."
"Hmm"jawab bagas.
Beberapa menit mereka memasak dalam diam.
Suara potongan sayur dan wajan yang dipanaskan memenuhi dapur kecil itu.
Tiba-tiba ayla berucap pelan.
"Tadi aku juga salah."
Bagas berhenti memotong sebentar.
"Aku gak bilang dulu ke kamu."
Bagas menaruh pisau.
"Aku juga terlalu marah."
Ayla menatapnya.
"Aku cuma gak suka kalau kamu terlalu ngatur."
Bagas menghela napas.
"Aku bukan mau ngatur."
"Lalu?"tanya ayla.
Bagas menatap ayla dengan serius.
"Aku cuma khawatir."
Ayla terdiam.
Bagas melanjutkan dengan suara lebih pelan.
"Kamu selalu mikirin orang lain,Anak-anak panti,Bunda dan semua."
Ayla menunduk sedikit.
"Tapi kamu jarang mikirin diri kamu sendiri"ucap bagas.
Ucapan itu membuat ayla terdiam cukup lama.
"Aku udah terbiasa begitu"ucap ayla.
Bagas mengambil wajan lalu menaruh tempe ke dalamnya,Suara minyak panas langsung terdengar.
"Aku tahu"ucap bagas.
Beberapa detik kemudian ayla berucap pelan.
"Makasih sudah khawatir sama aku."
Bagas tidak menjawab,Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Beberapa anak kecil tiba-tiba mengintip dari pintu dapur.
"Wah ada kak bagas!"ucap salah satu anak panti.
"Kak bagas mau nggak pacaran sama aku?"tanya anak panti lain dengan polos.
Ayla langsung tersedak.
"Eh!Kalian jangan macam-macam!."
Anak-anak itu malah tertawa.
Bagas hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
Tak lama kemudian masakan akhirnya selesai.
Ayla menaruh makanan di meja makan panjang.
Anak-anak panti langsung berkumpul dengan wajah senang.
"Terima kasih kak ayla dan kak bagas"ucap mereka bersamaan.
Ayla dan bagas tersenyum hangat.
Ayla lalu menoleh ke arah bagas
"Bagas."
"Hmm?"ucap bagas.
"Makasih sudah bantu"ucap ayla.
Bagas menatapnya sebentar.
"Jangan pergi tanpa bilang lagi."
Ayla tersenyum kecil.
"Iya."
"Aku pamit pulang dulu"ucap bagas.
"Sampaikan salamku ke om dan tante"ucap ayla.
"Iya"ucap bagas.
"Besok aku berangkat sendiri aja gas"ucap ayla.
Bagas menyilangkan tangannya.
"Kenapa?."
Ayla menjawab dengan santai.
"Aku kangen berangkat pakai sepeda,udah lama gak berangkat pakai sepeda lagi,Kali ini aja plis boleh."
Bagas menatap ayla beberapa detik,Seolah sedang memastikan apakah ayla benar-benar serius,Lalu bagas menghela napas kecil.
"Hmm oke."
Ayla tersenyum.
"Makasih."
Bagas akhirnya masuk ke mobilnya.
Mesin mobil menyala pelan,Sebelum pergi,Bagas sempat menatap ayla sekali lagi,Ayla masih berdiri di halaman panti,Beberapa detik kemudian mobil bagas perlahan meninggalkan halaman panti.
Ayla masih berdiri sampai mobil itu benar-benar hilang di ujung jalan,Barulah ayla menarik napas pelan,Senyum ayla perlahan memudar,Sebenarnya alasan ayla tidak ingin dijemput bukan hanya karena ayla ingin bersepeda,Ada hal lain yang harus ayla lakukan malam ini.
Ayla masuk kembali ke dalam panti.
Di dapur,Beberapa bahan makanan masih tersisa di meja,Tepung,Gula,Telur,Dan mentega,Ayla menatap bahan-bahan itu sebentar,Lalu ayla mulai menggulung lengan bajunya.
"Kakak mau masak lagi?"tanya salah satu anak panti.
Ayla tersenyum.
"Iya."
"Mau bikin apa?"tanya salah satu anak panti.
Ayla mulai menyiapkan mangkuk besar.
"Kue."
Anak-anak langsung mendekat penasaran.
"Bunda biasanya yang nganterin ke toko,Tapi karena bunda lagi sakit jadi besok kak ayla yang harus nganter"ucap ayla pelan.
Ayla mulai memecahkan telur ke dalam mangkuk.
Anak-anak memperhatikannya dengan antusias.
"Aku bantu!"ucap salah satu anak kecil.
"Iya aku juga!"ucap salah satu anak panti lainnya.
Ayla tertawa kecil.
"Baiklah,Tapi jangan rebutan."
Dapur panti kembali ramai oleh suara tawa anak-anak.
Malam mulai turun perlahan,Lampu dapur menyala terang,Ayla terus mengaduk adonan kue dengan sabar,Sesekali ayla tersenyum melihat anak-anak yang membantu dengan penuh semangat,Meski terlihat lelah,Ayla tetap tersenyum,Karena bagi ayla Melihat anak-anak panti bahagia sudah lebih dari cukup,Ayla menuangkan adonan kue ke dalam loyang dengan hati-hati,Aroma mentega dan gula mulai memenuhi dapur kecil itu.
Salah satu anak kecil berdiri di samping ayla sambil memegang sendok kayu.
"Kak ayla,Nanti kuenya manis nggak?."
Ayla tertawa kecil.
"Pasti manis dong."
"Manisnya kayak kak ayla?"ucap salah satu anak panti lainnya.
Ayla langsung tersipu.
"Ih kalian ini ada-ada saja."
Anak-anak kembali tertawa,Beberapa dari mereka membantu menata loyang,Sementara yang lain menunggu dengan sabar di dekat meja dapur,Setelah semua adonan selesai dimasukkan ke dalam loyang,Ayla membuka oven kecil yang sudah dipanaskan sejak tadi lalu ayla memasukkan loyang satu per satu dengan hati-hati.
"Ovennya panas,Jangan dekat-dekat ya"ucap ayla mengingatkan.
"Iya kak"jawab mereka serempak.
Sambil menunggu kue matang,Ayla membersihkan meja dapur yang berantakan,Tepung berserakan di sana-sini,Dan beberapa mangkuk masih belum dicuci,Salah satu anak kecil tiba-tiba menarik ujung bajunya.
"Kak ayla capek nggak?."
Ayla menatap anak itu sebentar lalu tersenyum lembut.
"Sedikit."
"Kalau capek istirahat saja kak"ucap salah satu anak panti lainnya.
Ayla menggeleng pelan.
"Nanti saja kalau kuenya sudah selesai."
Anak itu mengangguk mengerti,Beberapa menit kemudian,Aroma kue yang manis mulai tercium dari dalam oven.
"Wah harum banget!"ucap salah satu anak dengan semangat.
"Iya kak,Kayak di toko roti besar yang dipinggir jalan!"tambah yang lain.
Ayla tersenyum melihat reaksi mereka,Ketika timer oven berbunyi,Ayla segera memakai sarung tangan dapur lalu membuka oven,Uap hangat langsung keluar,Kue yang ada di dalamnya terlihat mengembang dengan warna keemasan yang cantik.
"Wow!"seru anak-anak hampir bersamaan.
Ayla mengangkat loyang dan menaruhnya di atas meja.
"Tunggu dingin dulu ya."
Namun anak-anak sudah mengelilingi meja dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Boleh coba satu?"tanya seorang anak kecil dengan suara pelan.
Ayla tertawa.
"Kalau semuanya mau coba, nanti kuenya habis dong,Tapi sedikit saja."
Ayla berpikir sebentar lalu mengambil pisau.
"Baiklah,Satu potong kecil saja untuk masing-masing."
Anak-anak langsung bersorak senang,Ayla memotong kue kecil-kecil lalu membagikannya,Begitu mereka mencicipinya,Wajah mereka langsung berseri-seri.
"Enak!."
"Manis banget!."
Mendengar itu,Ayla merasa hatinya hangat,Kerja kerasnya malam itu terasa sangat berarti,Tak lama kemudian bunda winda masuk ke dapur perlahan.
"Ayla kamu masih di dapur?."
Ayla langsung menoleh.
"Bunda harusnya istirahat."
Bunda winda melihat meja yang penuh dengan kue.
"Kamu membuat semua ini?."
Ayla mengangguk.
"Untuk dijual besok."
Bunda winda menatapnya dengan mata yang penuh rasa haru.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri seperti ini."
Ayla tersenyum lembut.
"Ayla tidak merasa dipaksa kok,Bun."
Ayla menatap anak-anak yang sedang makan kue dengan wajah bahagia.
"Ayla cuma ingin membantu."
Bunda winda menghela napas pelan lalu mengelus kepala ayla.
"Kamu anak yang baik."
Ayla hanya tersenyum kecil,Malam semakin larut,Satu per satu anak-anak mulai mengantuk dan kembali ke kamar mereka,Setelah semua kue selesai dipanggang dan dikemas rapi,Ayla akhirnya duduk di kursi dapur,Tubuhnya terasa sangat lelah,Tapi hatinya terasa ringan,Ayla menatap kotak-kotak kue yang sudah tersusun di atas meja.
"Semoga besok semuanya laku"gumamnya pelan.
Pagi harinya,Ayla sudah bersiap sejak subuh,Beberapa kotak kue yang sudah ayla buat semalam tersusun rapi di dalam keranjang sepeda.
"Banyak banget,Kak ayla"ucap salah satu anak panti.
"Iya,Semoga laku semua"jawab ayla sambil tersenyum.
Ayla lalu menaiki sepedanya dan mulai mengayuh menuju toko langganan panti.
Beberapa menit kemudian,Ayla sampai di depan toko.
Seorang ibu pemilik toko keluar.
"Eh ayla,kok kamu yang kesini,kan biasannya bu winda yang kesini?."
"Iya bu,Bunda lagi sakit,Jadi ayla yang antar kue hari ini."
Ibu pemilik toko tersenyum hangat.
"Wah rajin sekali kamu."
Ayla menyerahkan kotak kue.
"Semoga laris ya,Bu."
"Insyaallah"
Ibu pemilik toko kemudian berjalan ke meja kasir dan mengambil dompetnya.
"Berapa semuanya hari ini?."
Ayla menjawab pelan.
"Seperti biasa,Bu."
Ibu pemilik toko menghitung uangnya lalu menyerahkannya kepada ayla.
"Ini ya."
Ayla menerima uang itu dengan hati-hati.
"Terima kasih banyak bu,Semoga kuenya benar-benar laku semua hari ini."
Ibu pemilik toko mengangguk.
...••••••...
Setelah menaruh sepedanya ditempat parkir,Ayla berjalan sendiri di lorong gedung sekolah,Wajah alya terlihat sedikit cerah hari ini.
Tiba-tiba ada suara salsa melirik ayla dengan senyum jahil yang mengagetkan ayla.
"Ayla!."
"Astagfirullah,Salsa bikin kaget saja"ucap ayla.
"Hehehe,maaf."
"Tumben berangkat sendiri?."
"Iya lagi pengen berangkat sendiri"jawab ayla.
Rina langsung menyambung.
"Kelihatannya ada yang baikan nih."
Wajah ayla langsung memerah.
Rina memperhatikan ayla beberapa detik lalu menyipitkan mata.
"Dari tadi lihat gerbang terus,Nunggu bagas?."
"Nggak."
"Bohong"ucap salsa.
Belum sempat ayla membalas,Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang.
"Sayang."
Mereka bertiga langsung menoleh,Bagas berdiri di sana dengan tas di bahunya dan ekspresi seperti biasa datar tapi dingin.
Salsa tersenyum jahil lalu menyenggol lengan ayla.
"Tuh yang dari tadi ditunggu akhirnya datang."
Ayla langsung memutar mata.
"Apaan sih?Aku nggak nunggu."
"Kalau nggak nunggu,Tapi kok kelihatannya senang banget pas bagas datang?.”
Rina dan salsa langsung tertawa,Sementara ayla berusaha mengabaikan mereka meski wajahnya mulai memerah.
Bagas berjalan mendekat.
"Sudah sarapan?."
Ayla mengangguk.
"Sudah."
Bagas menatapnya sebentar.
"Bener?."
"Iya."
Bagas menatap ayla sebentar lalu berucap singkat.
"Masuk kelas."
Didalam kelas,Saat pelajaran berlangsung,Ayla sedang menulis catatan,Tiba-tiba ada suara notif di ponselnya,Lalu ayla membuka ponselnya.
Pacar posesif
Istirahat ke rooftop
Iya
Salsa mengintip.
"Ada chat dari pacar rupanya."
Rina langsung menimpali.
"Kiw kiw."
Ayla menutup wajahnya karena salting.
...•••••...
"Kamu nyuruh aku ke sini kenapa?."
Bagas mengeluarkan sesuatu dari tasnya,Sebuah kotak kecil berisi roti dan susu.
"Buat kamu."
Ayla kaget.
"Ini apa?."
"Kamu bilang sudah sarapan,Tapi aku tahu kamu bohong."
Ayla tersenyum kecil.
"Tadi buru-buru,Jadi gak sempat sarapan,Terima kasih yah."
"Makan."
"Kamu sudah makan?."
"Sudah."
"Jangan bohong bekal kamu aja aku makan,Kita bagi berdua,Aku suapin yah"sambil mengarahkan roti ke mulut bagas,Bagas pun menerima suapan dari ayla.
...••••••...
Jam pelajaran berlanjut sampai siang,Saat pulang sekolah,Siswa mulai keluar dari kelas,Ayla keluar bersama rina dan salsa,Tiba-tiba bagas berjalan mendekat ke arah tiga gadis tersebut.
"Sayang."
"Iya?."
"Ayo aku antar kamu pulang."
Salsa langsung menyikut rina.
"Kiw-kiw."
Ayla menatap mereka kesal.
"Kalian berdua diam bisa gak?."
"Kamu lupa aku kan hari ini bawa sepeda gas"
"Enggak,Aku kawal kamu dari belakang."
"Rina,Salsa aku duluan yah."
"Oke"jawab rina dan salsa bersamaan.
"Ayla!Jangan berantem lagi ya!"teriak salsa.
Wajah ayla langsung memerah,Sementara bagas hanya menggeleng kecil lalu masuk ke kursi kemudi,Mobil pun perlahan meninggalkan sekolah.
Mobil bagas berjalan pelan keluar dari gerbang sekolah,Mengikuti sepeda yang dikayuh ayla di depannya.
Ayla sesekali melirik ke belakang.
"Bagas"teriak ayla.
Bagas membuka kaca mobilnya sedikit.
"Apa?."
"Kamu gak usah pelan-pelan banget gitu kali."
Bagas menjawab singkat.
"Nanti kamu ditabrak orang gimana."
Ayla langsung cemberut.
"Aku bisa naik sepeda sendiri."
"Maka dari itu aku di belakang."
Ayla menghela napas pelan,Tapi sebenarnya ayla sedikit senang,Beberapa meter kemudian mereka berhenti di lampu merah.
Bagas menurunkan kaca mobilnya lagi.
"Kamu capek?."
"Gak."
"Bohong."
Ayla meliriknya.
"Kamu kenapa sih?Dari tadi nanya terus."
Bagas hanya menatap lurus ke depan.
"Aku cuma memastikan kamu baik-baik saja."
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Ayla kembali mengayuh sepedanya,Beberapa menit kemudian,Ayla mulai memperlambat sepedanya,Bagas langsung menurunkan kaca mobil.
"Kenapa?."
"Haus."
Bagas langsung menghentikan mobil di pinggir jalan,Bagas keluar dari mobil lalu membuka bagasi.
Ayla menatapnya bingung.
"Kamu ngapain?."
Bagas mengeluarkan sebotol air mineral.
"Nih."
Ayla kaget.
"Kamu bawa air juga?."
Bagas menyerahkan botol ke ayla.
"Minum."
Ayla mengambil botol itu.
"Kamu kayak lagi bawa anak kecil."
Bagas menjawab datar.
"Memang."
Ayla langsung menatapnya kesal.
"Bagas!."
Bagas sedikit tersenyum tipis melihat ekspresi alya,Ayla minum beberapa teguk lalu mengembalikan botolnya.
"Terima kasih."
Bagas tidak langsung mengambilnya.
"Habiskan."
"Aku gak haus banget."
"Minum."
Nada suaranya tegas tapi tidak keras.
Ayla akhirnya menuruti,Setelah itu ayla mengembalikan botolnya,Bagas menaruh botol itu kembali ke mobil.
"Sudah?."
"Sudah."
"Ayo lanjut."
Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju panti,Di tengah jalan,Tiba-tiba rantai sepeda alya berbunyi krek,Sepedanya langsung berhenti,Ayla hampir kehilangan keseimbangan,Bagas langsung menghentikan mobil dan keluar dengan cepat.
"Sayang!."
"Aku gak apa-apa!"ucap ayla.
Bagas sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa?."
"Kayaknya rantainya lepas."
Bagas berjongkok memeriksa sepeda itu,Benar saja,Rantainya terlepas.
Ayla menatapnya.
"Kamu bisa benerin?."
Bagas tidak menjawab,Bagas langsung memasang kembali rantai sepeda itu dengan tangannya,Beberapa menit kemudian tangan bagas sudah kotor oleh oli.
Ayla terlihat sedikit merasa bersalah.
"Bagas."
"Hmm."
"Maaf."
Bagas berhenti sebentar lalu menatap ayla.
"Kenapa?."
"Tangan kamu jadi kotor."
Bagas kembali memasang rantainya.
"Bukan masalah."
Setelah selesai,Bagas berdiri.
"Coba."
Ayla menaiki sepedanya dan mengayuh sedikit.
"Bisa!."
Bagas mengangguk,Ayla membuka tasnya lalu mengeluarkan tisu.
"Sini."
Bagas mengangkat alis.
"Buat apa?."
"Bersihin tangan kamu."
"Aku bisa sendiri."
Ayla langsung menarik tangannya sedikit.
"Diam."
Bagas terdiam,Ayla membersihkan oli di tangan bagas dengan hati-hati,Beberapa detik suasana menjadi canggung,Bagas memperhatikan wajah alya yang sangat fokus membersihkan tangannya.
"Kamu serius banget."
Ayla tidak menoleh.
"Ya iyalah."
Beberapa saat kemudian ayla selesai.
"Sudah."
Bagas melihat tangannya yang sudah cukup bersih.
"Terima kasih."
Ayla tersenyum kecil.
"Sama-sama."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Beberapa anak kecil di pinggir jalan melihat mobil bagas yang mengikuti sepeda ayla,Salah satu anak berbisik pada temannya.
"Itu kakaknya dikawal mobil."
Ayla mendengar itu dan langsung malu.
"Bagas."
"Apa?."
"Jangan dekat-dekat banget."
Bagas menatapnya.
"Kenapa?."
"Malu."
Bagas sedikit menghela napas.
"Aku cuma memastikan kamu sampai."
Ayla menunduk sedikit sambil tersenyum,Tidak lama kemudian mereka sampai di depan panti,Ayla menghentikan sepedanya,Bagas memarkir mobilnya,Ayla menurunkan standar sepeda lalu menatap Bagas.
"Terima kasih sudah ngawal aku."
Bagas berjalan mendekat.
"Memang tugasku."
Ayla mengangkat alis.
"Tugas?."
Bagas menjawab santai.
"Menjaga kamu."
Wajah ayla langsung sedikit merah.
"Bagas kamu kalau ngomong bisa gak jangan bikin salting?."
Bagas hanya menatapnya.
"Kamu yang gampang salting."
Ayla cemberut.
"Aku masuk dulu."
Ayla mendorong sepedanya ke dalam halaman panti.
Bagas mengikutinya dari belakang,Beberapa anak panti langsung berlari ke arah ayla.
"Kak ayla pulang!."
"Yeay"jawab Anak-anak sambil tertawa kecil.
Salah satu anak melihat bagas.
"Kak bagas juga datang!."
Bagas mengangguk kecil.
Bunda winda keluar dari dalam rumah.
"Ayla sudah pulang?."
"Iya bun."
Bunda winda lalu melihat bagas.
"Nak bagas."
Bagas menunduk sopan.
"Iya bunda."
Bunda winda tersenyum kecil.
"Terima kasih sudah menjaga ayla."
Ayla langsung menatap bunda winda.
"Bunda"
Bagas menjawab tenang.
"Tidak apa-apa."
Bunda winda kembali masuk ke dalam.
Ayla dan bagas berdiri sebentar di halaman,Alya menatapnya.
"Kamu mau pulang?."
"Sebentar lagi."
"Ada apa lagi?."
Bagas menatapnya beberapa detik lalu berkata pelan.
"Besok jangan bohong lagi kalau belum sarapan."
Ayla langsung salah tingkah.
"Iya."
"Dan jangan lupa makan."
"Siap pak bos."
Bagas sedikit tersenyum tipis,Ayla menatap bagas lalu tertawa kecil.
"Aneh."
"Apa yang aneh?."
"Kamu."
Bagas mengangkat alis.
"Kenapa?."
"Soalnya kamu dingin banget ke orang lain."
Ayla berhenti sebentar.
"Tapi perhatian banget ke aku."
Bagas menatapnya tanpa menjawab,Ayla langsung panik.
"Aku masuk dulu!."
Ayla buru-buru masuk ke dalam panti,Sementara bagas berdiri beberapa detik di halaman dengan ekspresi datarnya,Lalu berjalan menuju mobilnya.
...••••••...
Kamar bagas terlihat cukup luas dengan jendela besar yang menghadap ke halaman,Lampu kamar hanya menyala redup,Bagas duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang ponsel,Bagas baru saja selesai mandi Rambutnya masih sedikit basah,Bagas membuka galeri ponselnya tanpa sadar,Matanya berhenti pada satu foto,Foto itu adalah foto ayla yang sedang tertawa bersama anak-anak panti,Bagas menatap foto itu beberapa detik,Lalu bagas menghela napas pelan.
"Kenapa jadi ingat hari itu"gumamnya pelan.
Pikirannya perlahan kembali ke masa lalu.
Flashback on
Mobil sport berwarna merah berhenti tepat didepan pekarangan panti,Disambut oleh suara anak-anak di panti.
"Mama dan papa duluan aja,Bagas mau telfon teman bagas,Nanti bagas Nyusul."
"Oke"sahut mama dan papa bersamaan.
Pasangan paruh baya itu keluar dan dengan senyumannya menyapa anak-anak panti.
Bagas keluar dari mobil,Bagas berjalan ke arah taman panti,Duduk disalah satu tempat duduk dibawah pohon,Dan mulai membuka handphone nya mencari nomer dimas.
Drrttt...drrttt...
Tidak berselang lama,handphonenya yang bergetar diterima oleh dimas.
"Hallo ada apa."
"Gue gak bisa latihan hari ini"jawab bagas.
"Ada lagi?kalau gitu gue tu-."
Bagas Mematikan sambungan ponsel sepihak,Cuaca pada sore hari itu sangat sejuk,Anginnya bertiup pelan dan tak lupa langit jingga yang meredup,Bagas ingin memejamkan sebentar matanya,Tak berselang lama,Bagas mendengar suara perempuan menangis,Bagas membuka kembali matanya,Entah dorongan dari mana,Bagas mulai berjalan mencari sumber suara tersebut dan menghampiri gadis tersebut.
"Ahh...tolong...sakittt."
Bagas melihat luka di lutut dan tangan gadis tersebut tanpa bicara,Bagas langsung memapah gadis tersebut.
"Eh?!"
"Diam,Aku hanya ingin membersihkan lukamu."
Bagas membawa gadis tersebut kedalam mobilnya dan mendudukkan gadis tersebut ke kursi penumpang,Bagas mengambil sebuah kotak yang ada di laci mobil.
"Ceroboh,Kalau tahu berbahaya,Jangan lari ke jalan"maki bagas pada gadis itu.
"Ma-maaf aku merepotkan."
"Kalau tahu bahaya,Jangan lari kejalan."
Bagas membersihkan luka di lututnya dengan hati-hati.
"Aduh...perih."
"Tahan sedikit."
Setelah selesai mengobati bagas menatap singkat gadis tersebut.
"Sekarang jawab,Kenapa kamu bisa terserempet motor?."
"Aku mengejar kelinciku,Dia tiba-tiba kabur keluar."
Bagas menghela nafas pelan.
"Bahaya kalau lari ke jalan tanpa melihat sekitar."
Gadis itu menunduk sedikit malu.
"Iya,Aku terlalu panik."
Bagas lalu bertanya dengan nada datar.
"Nama?"tanya bagas,Setelah mengobati gadis itu.
"Hah?."
"Nama kamu."
"Nama aku ayla."
"Nama kamu siapa?"tanya ayla.
"Bagas."
"Rumah kamu dimana?."
"Rumah aku disitu"sambil menunjuk ke arah panti.
Bagas terdiam sejenak,lalu menutup kotak.
"Hmm,Aku antar kamu kesana."
"Terima kasih."
Bagas hanya mengangguk singkat,Sebelum ia keluar dari mobil,Sementara itu dari kejauhan kelinci coklat ayla akhirnya muncul kembali di pinggir jalan.
Kembali ke masa sekarang.
Bagas tersenyum kecil mengingat kejadian itu.
"Ternyata dari situ"gumamnya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar,Nama ayla muncul di layar,Bagas langsung mengangkatnya.
"Hallo."
Di layar terlihat ayla yang sedang duduk di kamarnya.
"Kamu belum tidur?."
"Belum."
"Aku juga"ucap ayla.
Bagas bertanya datar.
"Ada apa?."
Ayla tersenyum kecil.
"Gak ada,Cuma pengen videocall."
Bagas terdiam sebentar.
"Kenapa?."
Ayla menjawab jujur.
"Kangen."
Bagas tidak langsung menjawab,Ayla langsung tertawa kecil melihat ekspresinya.
"Kamu pasti lagi kaku gitu kan?."
"Nggak."
"Boong."
"Bagas."
"Hmm."
"Kamu lagi ngapain?."
"Duduk."
Ayla langsung memutar mata.
"Iya aku tahu kamu duduk,Maksudku tadi sebelum videocall."
"Mandi"
Mereka akhirnya mengobrol cukup lama,Tentang sekolah,Tentang anak-anak panti dan tentang hal-hal kecil lainnya.
Waktu berlalu tanpa terasa,Jam di kamar bagas menunjukkan pukul 11 malam.
Ayla mulai menguap.
"Aku ngantuk."
"Tidur."
Ayla menggeleng.
"Tapi jangan dimatiin."
Bagas mengangkat alis.
"Kenapa?."
Ayla sedikit malu.
"Aku mau sleep call."
Ayla meletakkan ponselnya di samping bantal,Tapi layar masih memperlihatkan wajah bagas yang sedang bersandar di kepala tempat tidurnya.
"Bagas."
"Hmm."
"Kalau aku ketiduran duluan jangan dimatiin ya."
"Hmm."
Tidak lama kemudian ayla benar-benar tertidur,Bagas masih melihat layar ponselnya.
Melihat ayla yang sudah tertidur dengan tenang,Bagas tersenyum tipis,Lalu bagas akhirnya ikut merebahkan diri di tempat tidurnya,Videocall itu tetap menyala dan malam itu mereka tertidur.
Sinar matahari mulai masuk melalui jendela kamar bagas,Jam di meja samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 05.30,Bagas perlahan membuka matanya,Bagas masih memegang ponselnya.
Layar ponsel itu masih menyala dengan videocall yang belum terputus,Di layar terlihat ayla masih tertidur pulas,Rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya setengah tertutup bantal,Bagas menatap layar itu beberapa detik.
"Cantik"gumam bagas pelan sambil melihat jam lagi.
"Kalau nggak dibangunkan dia bisa telat sekolah."
Bagas mendekatkan ponselnya sedikit.
"Sayang."
Tidak ada respon.
"Sayang."
Masih tidak ada respon.
Bagas menghela napas kecil.
"Sayang,Bangun."
Di layar,Ayla hanya bergerak sedikit lalu memeluk bantalnya lebih erat.
Bagas mengangkat alis.
"Keras kepala bahkan saat tidur."
Bagas mencoba lagi kali ini suaranya sedikit lebih tegas.
"Sayang bangun."
Ayla akhirnya bergerak sedikit tapi matanya masih tertutup.
"Ughh."
Bagas berkata lagi.
"Kamu mau telat sekolah?."
Ayla masih setengah sadar.
"Iya."
Bagas langsung mengerutkan alis.
"Iya?."
Beberapa detik kemudian ayla baru sadar,Matanya terbuka sedikit lalu melihat layar ponsel.
"Gas?."
"Hmm."
Ayla langsung menutup wajahnya dengan bantal.
"Astaga kita masih videocall?."
"Hmm."
"Semalaman?."
Bagas mengangguk.
Ayla langsung duduk dengan rambut yang masih berantakan.
"Kenapa kamu gak matiin?."
"Kamu yang bilang jangan dimatiin."
Ayla langsung mengingat.
"Oh iya."
Bagas melihat jam lagi.
"Sudah hampir jam enam."
Ayla panik langsung buru-buru turun dari tempat tidur.
"Hah aku bisa telat sekolah!."
Bagas menatapnya tenang dari layar.
"Maka dari itu aku bangunkan."
Ayla buru-buru merapikan rambutnya.
"Kamu sudah bangun dari tadi?."
"Baru"jawab Bagas singkat.
"Makasih yah sudah bangunin aku."
"Hmm."
Ayla tersenyum manis.
"Selamat pagi."
Bagas menatap layar ponselnya sebentar lalu menjawab pelan.
"Pagi."
"Aku matiin yah,Lebih baik kita siap-siap,Aku mau mandi dulu."
"Hmm,jangan lupa makan."
"Iya."jawab ayla singkat.
"Video."
"Hah."
"Video pas kamu makan."
"Ihh iya iya aku video dasar posesif,Bay-bay."
Tut Tut
Setelah ayla mematikan videocall,Ayla bergegas ke kamar mandi.
...••••••...
Bel sekolah akhirnya berbunyi panjang,Siswa-siswi mulai keluar dari kelas dengan riuh,Alya memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan rapi seperti biasa.
"Sayang!"suara seseorang memanggil dari depan kelas.
Alya menoleh,Matanya langsung membesar ketika melihat bagas berdiri di depan pintu kelas dengan santai,Tangan dimasukkan ke saku celananya.
Bagas berjalan mendekat.
"Ayo,Aku antar kamu pulang."
Rina dan salsa yang dari tadi menguping langsung mendekat dengan mata berbinar.
"Ayla jemputan datang!"ucap salsa menggoda.
"Mobil sport loh."tambah rina.
Ayla langsung menatap mereka tajam.
"Kalian diam nggak?."
Bagas hanya tersenyum tipis.
"Ayo."
Ayla akhirnya menghela napas.
"Iya,Iya"
Mereka berjalan keluar sekolah.Di parkiran,Mobil sport bagas sudah menunggu,Beberapa siswa langsung melirik ketika bagas membuka pintu mobil untuk ayla,Mobil pun melaju meninggalkan sekolah.
Di dalam mobil suasana sempat hening.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di depan panti asuhan tempat ayla tinggal.
Ayla membuka sabuk pengaman.
"Makasih ya."
Alya hendak turun,Tapi bagas tiba-tiba berucap.
"Sayang."
Ayla menoleh.
"Malam ini kamu ada acara?."
Ayla berpikir sebentar.
"Nggak ada sih,Emang kenapa?."
Bagas menatapnya sebentar lalu berkata dengan tenang.
"Dinner."
Ayla langsung melotot.
"Hah?."
Bagas mengangguk pelan.
"Aku jemput jam tujuh."
"Tunggu dulu!Aku belum jawab!."
Bagas tersenyum tipis.
"Aku anggap iya."
"Bagas!."
Namun bagas sudah menyalakan kembali mobilnya dan pergi,Ayla berdiri di depan gerbang panti dengan wajah masih kaget
"Ini orang kenapa sih,mendadak banget ngajak dinner segala kan jadi bingung pilih baju"gumamnya pelan.
...••••••...
Sebuah mobil sport merah berhenti di depan panti asuhan,Lampu depannya menerangi halaman panti yang mulai sepi.
Bagas keluar dari mobilnya lalu menatap ke arah pintu panti.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
Ayla keluar dengan gaun sederhana berwarna biru muda,Rambutnya diikat setengah,membuat wajahnya terlihat semakin manis.
Bagas sempat terdiam beberapa detik.
Ayla berjalan mendekat.
"Kenapa diam?"tanya ayla sambil mengerutkan kening.
Bagas berdehem kecil.
"Nggak apa-apa."
"Kamu lihat aku aneh ya?."
"Nggak."
"Terus?."
Bagas menatap ayla sebentar,lalu berucap pelan.
"Kamu cantik."
Ayla langsung terdiam dan wajahnya sedikit memerah.
"Eh makasih"ucapnya pelan.
"Ayo."
Bagas membuka pintu mobil untuk ayla.
Beberapa menit kemudian.
Mobil berhenti di sebuah restoran yang cukup mewah,Lampu-lampunya hangat dan suasananya tenang,Ayla melihat sekeliling dengan sedikit kagum.
"Bagas ini mahal nggak sih?."
Bagas menarik kursi untuknya.
"Duduk."
Ayla duduk pelan.
"Jawab dulu."
Bagas ikut duduk di depannya.
"Tenang aja."
"Aku takut nggak bisa bayar."
Bagas menatapnya datar.
"Aku yang ngajak."
"Iya tapi."
"Aku yang bayar."
Ayla menghela napas lega.
"Syukurlah."
Bagas hampir tersenyum melihat reaksinya,Seorang pelayan datang membawa menu.
"Silakan dipilih."
Ayla membuka menu dengan hati-hati.
"Bagas."
"Hmm?."
"Aku boleh pesan apa aja?."
"Boleh."
"Bener?."
"Bener."
Ayla langsung memilih dengan semangat.
"Aku mau ini sama ini,Ini juga kelihatannya enak."
Bagas hanya memperhatikannya dengan tatapan tenang.
Setelah pelayan pergi,Ayla menatap bagas.
"Kamu nggak pesan?."
"Samain aja."
Ayla menutup buku menu perlahan lalu menatap bagas sambil tersenyum kecil.
"Samain aja?."
Bagas mengangguk santai.
"Iya."
Ayla tertawa pelan.
"Kamu ini benar-benar nggak berubah."
Bagas sedikit memiringkan kepalanya.
"Apa yang nggak berubah?."
"Dari dulu kalau makan selalu ikut pesanan aku."
Bagas menyandarkan punggungnya di kursi.
"Soalnya kamu selalu pilih yang enak."
Ayla menyipitkan matanya sedikit.
"Kamu itu malas mikir."
Bagas tersenyum tipis.
"Mungkin."
Beberapa detik mereka terdiam,Suasana restoran terasa hangat dengan lampu-lampu temaram.
Ayla memandang bagas dengan ekspresi yang lebih lembut.
"Bagas."
"Hmm?."
"Kamu ingat pertama kali kita ketemu?."
Bagas langsung mengangguk.
"Tentu."
Ayla menatap meja sebentar seolah mengingat sesuatu.
"Waktu itu kamu datang sama orang tuamu."
Bagas mengangguk pelan.
"Ayahku menyumbang untuk panti."
Ayla tertawa kecil.
"Aku ingat kamu menolongku saat terserempet motor."
Bagas mengangguk.
"Terus beberapa hari kemudian kamu datang lagi."
"Hmm."
"Kamu bawa cokelat."
Bagas berkata santai.
"Kamu suka cokelat."
Ayla menunjuk dirinya sendiri.
"Aku bahkan belum bilang kalau aku suka cokelat."
Bagas menjawab tenang.
"Aku melihatmu saat terserempet motor,juga membawa coklat waktu itu."
Ayla tersenyum.
"Kamu memang selalu memperhatikan."
"Hanya hal-hal yang penting."
Beberapa detik mereka terdiam.
Ayla kemudian berkata pelan.
"Sejak hari itu kita jadi sering bertemu."
Bagas mengangguk.
"Kamu mulai sering datang ke panti."
Bagas menambahkan.
"Kamu juga mulai menungguku."
Ayla tertawa kecil.
"Iya juga."
Bagas menatapnya dengan lembut.
"Lalu beberapa bulan kemudian,Kamu seenaknya sendiri klaim aku jadi pacar kamu dan sejak itu kita selalu bersama."
Bagas berucap tenang.
"Lima tahun."
Ayla tersenyum.
"Iya,Lima tahun."
Beberapa saat kemudian pelayan datang membawa makanan mereka.
"Silakan makanannya."
Beberapa piring diletakkan di atas meja dengan rapi.
Ayla langsung terlihat senang.
"Wah ini kelihatannya enak."
Ayla segera mengambil garpunya dan mencicipi sedikit,Matanya langsung berbinar.
"Enak!."
Bagas memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Kamu selalu begitu kalau makan."
Ayla tertawa.
"Soalnya aku suka makanan enak mahal lagi."
Mereka makan beberapa saat dengan santai.
Lalu ayla kembali berbicara.
"Bagas."
"Hmm?."
"Kamu pernah menyesal nggak?."
Bagas menatapnya.
"Menyesal apa?."
Ayla memainkan sendoknya pelan.
"Pacaran sama aku."
Bagas langsung menjawab tanpa ragu.
"Nggak."
Ayla terlihat sedikit terkejut.
"Serius?."
Bagas mengangguk.
"Hmm."
Ayla tersenyum kecil.
"Padahal aku cuma anak panti."
Bagas langsung menatapnya serius.
"Aku tidak suka kamu bilang begitu."
Ayla sedikit terdiam.
Bagas melanjutkan.
"Buatku kamu bukan 'anak panti'."
Ayla menatapnya pelan.
"Lalu?."
Bagas berkata dengan suara tenang.
"Kamu orang yang paling penting dalam hidupku."
Ayla langsung tersipu sedikit.
"Bagas."
Bagas melanjutkan lagi.
"Selama Lima tahun ini kamu selalu ada."
Ayla tersenyum lembut.
"Kamu juga."
Bagas menatapnya beberapa detik.
"Sayang."
"Iya?."
Nada suaranya kali ini terdengar lebih serius.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Ayla mulai penasaran.
"Apa?."
Bagas menatap matanya.
"Aku ingin kita bertunangan."
Sendok di tangan ayla langsung berhenti.
"Hah?."
Bagas tetap terlihat tenang.
"Tunangan."
Ayla menatapnya dengan wajah kaget.
"Bagas kamu serius?."
Bagas mengangguk tanpa ragu.
"Sangat serius."
Ayla masih terlihat terkejut.
"Tapi ini tiba-tiba."
Bagas menggeleng pelan.
"Tidak tiba-tiba."
Ayla mengerutkan kening.
"Kenapa?."
Bagas menjawab lembut.
"Aku sudah memikirkan ini sejak lama."
Bagas melanjutkan.
"Aku bahkan sudah membicarakannya dengan bunda."
Mata ayla sedikit membesar.
"Bunda tahu?."
Bagas mengangguk.
"Terus papa dan mama kamu?."
"Mereka juga tahu."
Ayla semakin terkejut.
"Jadi,cuma aku saja yang gak tahu?."
Bagas tersenyum tipis.
"Kurang lebih begitu."
Ayla menggeleng tidak percaya.
"Kamu jahat."
"Aku cuma ingin membuatmu terkejut."
Bagas melanjutkan.
"Lima tahun ini aku selalu membayangkan masa depan kita."
Ayla menunduk sedikit.
"Bagas."
Bagas berucap lagi dengan suara lembut.
"Aku ingin kamu jadi bagian dari hidupku selamanya."
Ayla perlahan mengangkat kepalanya,Wajahnya memerah dan matanya sedikit berkaca.
"Kamu benar-benar serius?."
Bagas mengangguk sekali lagi.
Suasana meja mereka menjadi sangat sunyi.
"Dan aku tidak keberatan menunggu jawabanmu."
Ayla menatapnya dengan lembut,Namun kali ini ia tidak terlihat ragu,Dengan suara pelan namun jelas,Ayla berucap.
"Kalau denganmu aku tidak takut tentang masa depan."
Bagas sedikit terkejut.
Ayla tersenyum hangat.
"Aku mau."
Bagas menatap ayla beberapa detik setelah mendengar jawabannya.
Kalimat itu membuat dadanya terasa hangat,Untuk pertama kalinya sejak tadi,Ekspresi tenangnya sedikit berubah,Ada kebahagiaan yang jelas terlihat di matanya.
"Sayang kamu serius?"tanyanya pelan,Seolah masih memastikan.
Ayla tersenyum lembut sambil mengangguk.
"Iya,Aku serius."
Bagas menghembuskan napas kecil yang sejak tadi seperti ia tahan.
"Syukurlah."
Ayla sedikit tertawa melihat reaksinya.
"Kamu kira aku bakal nolak?."
"Aku nggak pernah berpikir kamu nolak aku."
"Terus kenapa kamu kelihatan gugup gitu."
Bagas menatap ayla lembut.
"Karena jawabmu sangat berarti buatku."
"Terus kenapa kelihatan gugup begitu?."
Bagas menatapnya lembut.
"Karena jawabanmu sangat berarti buatku."
Ayla langsung terdiam.
Bagas melanjutkan dengan suara tenang.
"Aku sudah memikirkan momen ini sejak lama."
Tatapan ayla perlahan melembut.
"Selama lima tahun,Aku selalu yakin dengan perasaanku,Tapi aku tetap tidak bisa memaksa perasaanmu."
Wajah ayla kembali memerah.
"Bagaimanapun juga,Keputusan ini akan mengubah hidup kita."
Ayla tersenyum kecil.
"Dan kamu takut aku belum siap?."
Bagas mengangguk pelan.
"Sedikit."
Ayla menahan senyum.
"Padahal kamu kelihatan sangat tenang."
"Aku berusaha."
Jawaban singkat itu membuat ayla tertawa pelan.
"Kamu lucu juga kalau gugup."
Bagas menghela napas kecil.
"Kalau urusannya tentang kamu."
Jantung ayla kembali berdebar mendengar jawaban itu.
"Bagas."
"Hmm?."
"Kamu sudah menyiapkan semua ini dari tadi, ya?."
Bagas tidak langsung menjawab,Bagas hanya memasukkan tangannya ke saku jas yang ia kenakan.
Ayla kembali tersipu mendengar jawabannya.
"Bagas."
Ayla memperhatikannya dengan penasaran.
"Kamu lagi ngapain?."
Bagas kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
Ayla langsung terdiam.
"Itu."
Bagas mendorong kotak kecil itu perlahan ke arah Ayla.
"Aku sudah menyiapkannya."
Ayla menatap kotak itu dengan mata membesar.
"Bagas jangan bilang."
Bagas membuka kotak kecil itu,Di dalamnya terdapat sebuah cincin sederhana namun sangat indah,Kilau batu kecil di atasnya memantulkan cahaya lampu restoran.
Ayla langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kamu bahkan sudah menyiapkan cincin?."
Bagas menjawab tenang.
"Aku tidak ingin melamar kamu tanpa persiapan."
Ayla masih terlihat tidak percaya.
"Bagas."
Beberapa orang di meja lain mulai melirik karena suasana mereka yang terlihat berbeda.
Bagas kemudian berdiri dari kursinya.
Ayla langsung kaget.
"Bagas?Kamu mau apa?."
Tanpa berucap apa-apa lagi,Bagas berjalan sedikit mendekat ke sisi ayla.
Lalu,dengan tenang bagas berlutut di samping kursinya.
Ayla benar-benar membeku.
"Bagas!Jangan lakukan ini di sini!."
Namun bagas hanya tersenyum tipis.
"Sayang."
Ayla menatapnya dengan wajah merah karena malu dan terkejut.
"Apa?."
Bagas memegang kotak cincin itu dengan lembut.
"Selama lima tahun ini,kamu selalu menjadi alasan kenapa aku ingin pulang lebih cepat."
Ayla terdiam.
"Kamu juga selalu menjadi alasan kenapa aku ingin masa depan yang lebih baik."
Mata ayla mulai sedikit berkaca.
Bagas melanjutkan dengan suara tenang namun penuh kesungguhan.
"Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang akan kita hadapi."
Ayla menggenggam ujung gaunnya pelan.
"Tapi aku tahu satu hal."
Bagas menatap mata ayla dalam-dalam.
"Aku ingin menghadapinya bersamamu."
Air mata kecil mulai muncul di sudut mata ayla.
Bagas mengambil cincin itu dari kotaknya.
"Sayang."
"Iya"jawab ayla dengan suara pelan.
"Maukah kamu menjadi pasanganku?."
Ayla tertawa kecil di sela air matanya.
"Kamu ini tadi sudah nanya."
Bagas tersenyum.
"Tapi aku ingin mendengarnya lagi."
Ayla mengangguk pelan.
"Iya,Bagas."
Bagas menatapnya sebentar.
"Lagi."
Ayla akhirnya tersenyum lebar.
"Iya,Aku mau jadi pasanganmu."
Bagas perlahan mengambil tangan kiri ayla.
Tangan ayla sedikit dingin karena gugup,Ayla menatapnya tanpa berkedip.
Dengan gerakan hati-hati,Bagas menyematkan cincin itu ke jari manis ayla.
Cincin itu pas di jarinya.
Beberapa orang di restoran mulai bertepuk tangan kecil melihat momen itu.
Ayla langsung menunduk malu.
"Bagas semua orang lihat."
Bagas berdiri kembali lalu duduk di kursinya.
"Tidak apa-apa."
Ayla masih melihat cincin di jarinya dengan tidak percaya.
"Kita benar-benar sudah tunangan?."
Bagas tersenyum tipis.
"Iya."
Ayla mengangkat tangannya sedikit,Memperhatikan cincin itu yang berkilau di bawah cahaya lampu.
"Lima menit lalu kita masih makan biasa."
Bagas tertawa kecil.
"Sekarang kita tunangan."
Ayla menatap bagas dengan mata hangat.
"Kamu benar-benar mengubah hidupku,Bagas."
Bagas menjawab dengan tenang.
"Kamu juga mengubah hidupku."
Ayla tersenyum lembut sambil menggenggam tangannya sendiri yang kini sudah terpasang cincin.
Malam itu,Di tengah restoran yang hangat dan penuh cahaya,Hubungan tujuh tahun mereka akhirnya berubah menjadi janji untuk masa depan bersama.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!