Salju turun dengan lebat di Ibukota Jingcheng, menutupi jalanan yang dingin dengan selimut putih. Namun, rasa dingin dari salju itu tidak sebanding dengan hawa dingin yang menusuk tulang di sebuah gang sempit dan terpencil.
"Uhuk...!"
Lin Chen memuntahkan darah hitam, tubuhnya terhuyung dan membentur dinding bata yang kasar. Pakaiannya compang-camping, dipenuhi luka sayatan. Di depannya, berdiri sepasang pria dan wanita yang berpakaian mewah, menatapnya dengan tatapan jijik seolah melihat seekor kecoa yang sekarat.
"Lin Chen, berhentilah meronta. Terimalah takdirmu sebagai sampah," ucap pria itu sambil tersenyum sinis. Dia adalah Lin Tian, adik tiri yang dulunya selalu bersikap manis dan memanggilnya 'Kakak', namun ternyata adalah ular berbisa yang merancang kejatuhannya.
Di sebelah Lin Tian, berdiri seorang wanita cantik dengan mantel bulu rubah yang mahal. Dia adalah Ye Mei, wanita yang pernah berjanji akan sehidup semati dengan Lin Chen.
"Ye Mei... kenapa?" suara Lin Chen serak, matanya merah menatap wanita itu. "Keluarga Lin memberimu segalanya. Aku... memberimu segalanya!"
Ye Mei tertawa dingin, matanya memancarkan arogansi. "Memberiku segalanya? Kau sekarang hanyalah orang cacat yang meridiannya telah dihancurkan! Kau dibuang dari Keluarga Lin dan dituduh menggelapkan dana perusahaan. Menikah denganmu hanya akan membuatku menjadi bahan tertawaan di seluruh Jingcheng!"
Tanpa peringatan, Ye Mei melangkah maju. Sebuah belati beracun berwarna kebiruan melesat dari tangannya dan menembus tepat di jantung Lin Chen.
Jleb!
Rasa sakit yang tak tertahankan meledak di dada Lin Chen. Kesadarannya mulai memudar. Di detik-detik terakhir hidupnya, ia mendengar tawa mengejek Lin Tian dan Ye Mei.
Jika ada kehidupan selanjutnya... aku, Lin Chen, bersumpah akan mencabik-cabik kalian dan membuat kalian merasakan penderitaan ribuan kali lipat!
Kegelapan menelan segalanya.
Hah!
Lin Chen membuka matanya dengan terengah-engah. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya secara refleks mencengkeram dadanya.
Tidak ada belati. Tidak ada darah. Jantungnya berdetak dengan kuat dan normal.
"Di mana aku...?"
Ia menatap sekeliling. Alih-alih gang berdarah di Jingcheng, ia kini berada di sebuah kamar mewah yang didominasi warna monokrom. Desainnya sangat rapi, nyaris tanpa sentuhan personal, seperti kamar hotel berbintang.
Mata Lin Chen tertuju pada jam digital di atas meja nakas. Tanggal yang tertera di sana membuat pupilnya mengecil drastis.
12 Agustus 2021.
Lima tahun! Ia telah kembali ke lima tahun yang lalu!
Ingatan masa lalu mengalir deras ke dalam otaknya. Hari ini adalah hari paling memalukan dalam hidupnya. Hari ini adalah hari di mana ayahnya sendiri menendangnya keluar dari Keluarga Lin dalam keadaan meridian hancur, mengirimnya ke Kota Donghai yang terpencil, dan memaksanya menjadi "suami menumpang" di Keluarga Su.
Di kehidupan sebelumnya, penghinaan di Kota Donghai inilah yang menghancurkan mentalnya sebelum akhirnya ia diseret kembali ke Ibukota hanya untuk dibunuh secara brutal.
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya, menghentikan laju pikirannya.
[Ding!]
[Mendeteksi fluktuasi jiwa yang kuat. Persyaratan Reinkarnasi Terpenuhi.]
[Sistem Penguasa Urban Tertinggi sedang diikat...]
[10%... 50%... 100%. Binding Sukses!]
[Status Host: Meridian hancur, fisik sangat lemah (Status: Cacat).]
[Memberikan Hadiah Pemula: 1x Pil Pembersih Sumsum Dewa, 1x Kitab Medis Sembilan Jarum Misterius.]
Sistem?
Lin Chen mengepalkan tangannya. Sebagai mantan Tuan Muda yang cerdas, ia dengan cepat memahami situasinya. Surga tidak hanya memberinya kesempatan kedua untuk hidup, tetapi juga memberinya sebuah kemampuan yang melampaui akal sehat manusia.
Keluarga Lin, Ye Mei... tunggu aku. Hutang darah harus dibayar dengan darah.
Cklek.
Pintu kamar tiba-tiba didorong terbuka. Seorang wanita muda melangkah masuk. Ia mengenakan setelan jas kerja yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Kulitnya seputih salju, fitur wajahnya bagaikan mahakarya pelukis legendaris, namun ekspresinya sedingin es dari kutub utara.
Dia adalah Su Ruoxue. CEO Grup Kosmetik Su, wanita tercantik di Kota Donghai, dan mulai hari ini... ia adalah istri sahnya di atas kertas.
"Sudah bangun?" Suara Su Ruoxue sama dinginnya dengan wajahnya. Ia melemparkan sebuah map dokumen ke atas tempat tidur, tepat di pangkuan Lin Chen.
"Jika sudah bangun, baca aturannya. Pernikahan ini hanya kesepakatan bisnis antara kakekku dan Keluarga Lin. Kau tidak lebih dari sebuah tameng bagiku. Mulai besok, tugasmu adalah membersihkan rumah dan memasak. Jangan pernah berani menyentuh barang-barangku, dan yang paling penting, jangan pernah berani memanggil dirimu sebagai suamiku di depan umum. Apakah kau mengerti?"
Di kehidupan sebelumnya, Lin Chen yang saat itu masih berada dalam titik terendah kehidupannya—cacat, putus asa, dan kehilangan segalanya—hanya bisa menundukkan kepala, menerima penghinaan itu mentah-mentah.
Namun kali ini, Lin Chen tidak menunduk. Ia perlahan mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Su Ruoxue.
Mata itu tidak lagi memancarkan ketakutan atau keputusasaan. Sebaliknya, mata itu dalam bak jurang tak berdasar, memancarkan aura dominasi seorang kaisar yang baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang.
Melihat tatapan itu, Su Ruoxue tanpa sadar menahan napas. Jantungnya berdebar kencang, sebuah firasat aneh merayapi tulang belakangnya. Ada apa dengan tatapan pria cacat ini? Kenapa dia menatapku seolah-olah aku hanyalah semut di bawah kakinya?
"Ambil kembali dokumenmu," ucap Lin Chen dengan suara rendah dan tenang.
"A-apa katamu?" Su Ruoxue mengerutkan kening, mencoba mengembalikan ketenangannya. "Lin Chen, jangan lupa statusmu! Kau bukan lagi Tuan Muda Jingcheng! Di sini, kau hanya menantu yang menumpang. Jika kau tidak mematuhi aturan ini, aku bisa langsung mengusirmu ke jalanan!"
"Aku tahu siapa aku," Lin Chen menyela. Ia berdiri perlahan dari tempat tidur. Meskipun tubuhnya masih terasa lemah, auranya membuat seluruh ruangan terasa sesak.
Ia mengambil map dokumen itu dan melemparkannya kembali ke meja dengan santai.
"Aku, Lin Chen, tidak akan pernah menjadi pelayan siapa pun. Mengenai pernikahan ini, kau menganggapnya sebagai kesepakatan, maka biarlah menjadi kesepakatan. Aku tidak akan mencampuri urusanmu, dan kau... jangan coba-coba memerintahku."
Su Ruoxue tertegun. Pria ini... apakah ini benar-benar Lin Chen, si "sampah cacat" yang rumornya telah tersebar di seluruh kalangan elit?
"Kau akan menyesali kesombonganmu ini, Lin Chen!" Su Ruoxue mendengus dingin, memutar tubuhnya dan membanting pintu dengan keras saat ia keluar dari kamar.
Setelah kepergian wanita itu, keheningan kembali menyelimuti kamar. Lin Chen mengalihkan pandangannya kembali ke udara kosong di depannya.
"Sistem, ekstrak Pil Pembersih Sumsum Dewa."
[Ding! Pil Pembersih Sumsum Dewa berhasil diekstraksi.]
Dalam sekejap, sebuah pil berwarna emas seukuran kelereng muncul di telapak tangan Lin Chen. Aroma obat yang sangat harum langsung memenuhi ruangan, membuat pikiran Lin Chen yang tadinya berat menjadi sangat jernih.
Tanpa ragu sedikit pun, Lin Chen menelan pil tersebut.
BUM!
Detik berikutnya, energi yang luar biasa panas meledak di dalam perutnya bak gunung berapi. Energi itu mengalir ke seluruh pembuluh darahnya, menabrak meridian-meridiannya yang telah hancur dan tersumbat lima tahun lalu.
"Argh!"
Lin Chen menggertakkan giginya hingga nyaris retak. Rasa sakitnya seperti tubuhnya sedang dirobek-robek dan dijahit kembali, diulang hingga ribuan kali. Keringat bercampur kotoran berwarna hitam berbau busuk mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Itu adalah racun dari Keluarga Lin dan kotoran duniawi yang selama ini menyumbat potensi tubuhnya.
Proses itu berlangsung selama satu jam penuh. Ketika rasa sakit itu akhirnya mereda, Lin Chen jatuh terduduk di lantai, terengah-engah, namun matanya bersinar sangat terang.
Ia mengepalkan tinjunya. Terdengar suara tulang berderak yang renyah. Tenaganya telah kembali! Bukan hanya kembali, fisiknya sekarang terasa sepuluh kali lebih kuat daripada saat ia berada di puncak masa kejayaannya sebelum dilumpuhkan!
[Ding!]
[Meridian berhasil diperbaiki dan diperkuat.]
[Host telah melangkah ke Tahap Awal Seniman Bela Diri Tingkat Bumi!]
Sebuah senyum dingin dan mematikan tersungging di sudut bibir Lin Chen. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan kotoran hitam di tubuhnya, membiarkan air dingin mengguyur kepalanya.
"Keluarga Su menganggapku sebagai tameng... Keluarga Lin menganggapku sebagai sampah yang sudah mati..." Lin Chen menatap pantulan dirinya di cermin, matanya menajam.
"Mulai hari ini, aku akan membalikkan langit Kota Donghai!"
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari kamar yang kini terasa berbeda. Setelah membuang semua kotoran beracun dari tubuhnya, kulit Lin Chen kini tampak lebih bersih, sehat, dan memancarkan kilau perunggu yang maskulin. Otot-ototnya yang dulu menyusut karena meridian yang hancur kini terbentuk sempurna, proporsional bagaikan patung marmer Yunani kuno.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam, lalu melangkah keluar dari kamarnya. Setiap langkahnya kini terasa ringan namun kokoh, dipenuhi dengan kekuatan batin dari Seniman Bela Diri Tingkat Bumi.
Di lantai bawah, ruang makan Keluarga Su yang mewah tampak tegang.
Di ujung meja, duduk seorang wanita paruh baya dengan perhiasan mencolok dan wajah yang memancarkan keangkuhan. Dia adalah Wang Qin, ibu mertua Lin Chen. Di sebelahnya, Su Ruoxue sedang mengurut pelipisnya, tampak kelelahan dengan setumpuk dokumen bisnis di hadapannya.
Mendengar suara langkah kaki, Wang Qin mendongak. Begitu melihat Lin Chen, wajahnya langsung berkerut jijik.
"Lihatlah jam berapa sekarang, dasar sampah!" bentak Wang Qin tajam. "Kau pikir rumah Keluarga Su ini panti asuhan? Kakek menyuruhmu kemari untuk menjadi pelayan, bukan majikan! Cepat ke dapur dan buatkan kami sarapan!"
Di kehidupan masa lalu, Lin Chen akan segera menundukkan kepala dan bergegas ke dapur dengan tubuh gemetar. Namun kali ini, Lin Chen hanya melirik Wang Qin dengan tatapan datar, lalu berjalan santai ke arah meja makan dan menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri.
"Kau... kau berani mengabaikanku?!" Suara Wang Qin meninggi, jarinya menunjuk tepat ke wajah Lin Chen. "Dasar orang cacat tidak berguna! Jika bukan karena kakek Ruoxue yang pikun itu, orang buangan dari Ibukota sepertimu bahkan tidak pantas menjilat lantai rumah kami!"
"Ibu, cukup," tegur Su Ruoxue dengan suara lelah. Ia tidak membela Lin Chen, ia hanya terlalu pusing dengan masalah perusahaannya untuk mendengar keributan di pagi hari.
Lin Chen meletakkan gelasnya. Ia menatap Wang Qin dengan tenang. "Nyonya Wang, aku menikah dengan putrimu karena perjanjian dua keluarga. Aku bukan pembantu di rumah ini. Jika kau ingin sarapan, suruh pelayanmu sendiri yang membuatnya."
Gebrakan!
Wang Qin memukul meja. Matanya melotot tak percaya. "Kau berani menjawabku?! Ruoxue, lihat bajingan ini! Dia berani menantang ibumu!"
Su Ruoxue mengerutkan kening. Ia menatap Lin Chen, merasa ada yang berbeda dari pria ini. Auranya yang kemarin terlihat menyedihkan dan layu kini menghilang tanpa sisa, digantikan oleh ketenangan yang aneh.
Namun, sebelum Su Ruoxue sempat membuka mulut, suara decit ban mobil yang mengerem kasar terdengar dari halaman depan, disusul dengan suara dobrakan pintu utama.
Brak!
Pintu ruang makan didorong terbuka dengan kasar. Seorang pemuda arogan dengan setelan jas mahal berwarna merah marun melangkah masuk, diiringi oleh empat pengawal berbadan besar yang mengenakan kacamata hitam.
"Bibi Wang, Ruoxue sayang, selamat pagi!" sapa pemuda itu sambil tersenyum congkak.
Wajah Su Ruoxue langsung memucat. "Zhao Tian? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?!"
Zhao Tian adalah Tuan Muda dari Keluarga Zhao, salah satu keluarga tiran lokal di Kota Donghai. Ia terkenal kejam, licik, dan sudah lama mengincar Su Ruoxue beserta perusahaan kosmetiknya.
"Ruoxue, kenapa kau begitu dingin?" Zhao Tian melangkah mendekati meja makan tanpa diundang, lalu menarik kursi. "Aku dengar Grup Kosmetik Su sedang mengalami krisis rantai pasokan bahan baku. Pemasok utamamu membatalkan kontrak sepihak, bukan? Kebetulan sekali, aku bisa menyelesaikan masalah itu hanya dengan satu panggilan telepon."
Zhao Tian mencondongkan tubuhnya, menatap Su Ruoxue dengan tatapan mesum. "Syaratnya mudah. Jadilah wanitaku, dan serahkan 40% saham perusahaanmu kepadaku. Daripada kau mempertahankan status pernikahan konyolmu dengan anjing cacat dari Ibukota ini."
Setelah mengatakan itu, Zhao Tian melirik Lin Chen dari atas ke bawah, lalu tertawa meremehkan. "Oh, jadi ini Tuan Muda Lin yang terkenal itu? Kudengar meridianmu dihancurkan dan sekarang kau bahkan tidak kuat mengangkat sekantong beras? Ckckck, menyedihkan sekali."
"Zhao Tian, jaga bicaramu dan keluar dari rumahku sekarang juga!" Su Ruoxue berdiri, wajah cantiknya memerah karena marah. "Aku tidak akan pernah menjual perusahaanku, apalagi menjadi wanitamu!"
"Jangan keras kepala, Ruoxue." Zhao Tian mendengus dingin. Matanya menyipit penuh ancaman. "Di Kota Donghai ini, apa yang kuinginkan pasti kudapatkan. Jika aku tidak bisa mendapatkanmu dengan cara halus, aku tidak keberatan menggunakan cara kasar."
Zhao Tian memberi isyarat kepada pengawalnya yang paling besar. "Ah Long, patahkan kedua kaki anjing cacat ini dan lempar dia ke jalanan. Aku tidak suka melihat wajahnya saat aku sedang melamar calon istriku."
"Baik, Tuan Muda!"
Pengawal bernama Ah Long itu melangkah maju sambil meretakkan buku-buku jarinya. Tingginya hampir dua meter dengan otot yang menonjol di balik jas hitamnya. Ia menatap Lin Chen dengan seringai kejam.
"Nak, jangan salahkan aku. Salahkan nasibmu karena menjadi sampah," geram Ah Long, lalu mengayunkan tinjunya yang sebesar kepalan tangan gorila tepat ke arah wajah Lin Chen.
"Berhenti! Jangan sentuh dia!" teriak Su Ruoxue refleks. Meskipun ia membenci pernikahan ini, ia tidak sekejam itu untuk membiarkan seorang pria cacat dipukuli di rumahnya.
Namun, tinju itu terlalu cepat.
Wang Qin bahkan sudah menutup matanya, membayangkan darah Lin Chen akan mengotori karpet mahalnya. Zhao Tian tersenyum lebar, bersiap melihat pemandangan yang memuaskan.
Plak!
Sebuah suara redam bergema di ruang makan.
Bukan suara tulang wajah yang remuk, melainkan suara sesuatu yang ditangkap dengan telak.
Mata Zhao Tian membelalak, senyumnya membeku. Su Ruoxue menahan napasnya.
Di sana, Lin Chen masih berdiri dengan tenang di tempatnya. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara tangan kanannya dengan santai menangkap tinju raksasa milik Ah Long. Wajah Lin Chen tidak menunjukkan ekspresi apa pun, seolah ia hanya sedang menangkap daun yang jatuh dari pohon.
"I-ini..." Ah Long berkeringat dingin. Ia mencoba menarik tangannya kembali, tetapi cengkeraman Lin Chen terasa seperti catok baja yang tidak bisa digoyahkan sedikit pun.
"Kau bilang aku sampah?" suara Lin Chen mengalun pelan, sedingin angin musim dingin.
KRAK!
Lin Chen memutar pergelangan tangan Ah Long. Suara patahan tulang yang mengerikan terdengar seketika.
"AAARGHHH!" Ah Long menjerit histeris, berlutut ke lantai sambil memegangi lengannya yang kini bengkok ke arah yang tidak wajar.
Sebelum ada yang sempat bereaksi, Lin Chen mengangkat kakinya dan menendang dada Ah Long.
BUM!
Pria seberat lebih dari seratus kilogram itu melayang di udara bak layang-layang putus, menabrak pintu ganda ruang makan hingga hancur berantakan, dan terkapar pingsan di lorong depan dengan darah menyembur dari mulutnya.
Keheningan total melanda ruangan itu. Hanya terdengar suara napas yang memburu dari Zhao Tian.
"T-tunggu... k-kau bukan orang cacat! Bukankah meridianmu sudah hancur?!" Zhao Tian melangkah mundur dengan gemetar, wajahnya yang tadi arogan kini pucat pasi. Tiga pengawal lainnya bahkan tidak berani melangkah maju, kaki mereka gemetar melihat kekuatan mengerikan barusan.
Lin Chen mengambil tisu dari meja, mengelap tangannya dengan perlahan, lalu membuangnya ke lantai. Ia melangkah maju mendekati Zhao Tian. Setiap langkahnya terdengar seperti detak jam kematian di telinga Tuan Muda keluarga Zhao itu.
"Di kehidupan sebelumnya, aku membiarkan anjing-anjing sepertimu menggonggong. Tapi hari ini..."
Lin Chen menghilang dari pandangan Zhao Tian, dan di detik berikutnya, ia sudah berdiri tepat di depan pemuda itu.
"...Aku akan mengajarimu cara tutup mulut."
PLAAAK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Zhao Tian. Kekuatan tamparan itu begitu dahsyat hingga tubuh Zhao Tian berputar di udara sebelum membentur ujung meja makan dengan keras.
Tiga gigi bercampur darah muntah dari mulut Zhao Tian. Setengah wajahnya langsung membengkak merah bak kepala babi.
"K-kau berani memukulku?! Aku adalah penerus Keluarga Zhao! Kau sudah mati, Lin Chen! Kau—"
Lin Chen menatapnya dengan tatapan merendahkan, lalu menginjak dada Zhao Tian dengan satu kaki, menekan paru-parunya hingga pemuda itu nyaris kehabisan napas.
"Bawa tuan kalian yang menyedihkan ini dan enyah dari pandanganku sebelum aku memutuskan untuk mematahkan lehernya," perintah Lin Chen kepada tiga pengawal yang tersisa. "Dan sampaikan pada Keluarga Zhao... jika kalian berani mengganggu Keluarga Su lagi, aku akan menghapus nama Keluarga Zhao dari peta Kota Donghai."
Ketiga pengawal itu buru-buru maju, memapah Zhao Tian yang merintih kesakitan dan setengah pingsan, lalu melarikan diri dari rumah itu layaknya anjing yang dipukuli.
Ruang makan kembali hening.
Wang Qin berdiri mematung di sudut ruangan, tubuhnya gemetar hebat hingga cangkir teh di tangannya bergemeretak. Su Ruoxue menatap punggung Lin Chen dengan mata terbelalak lebar. Jantungnya berdetak liar.
Pria ini... apakah dia benar-benar Lin Chen yang sama yang datang kemarin?
Di saat yang bersamaan, suara mekanis bergema di benak Lin Chen.
[Ding!]
[Berhasil menyelesaikan misi tersembunyi: Menampar wajah antagonis tingkat rendah untuk pertama kalinya!]
[Evaluasi: Sempurna. Dominasi yang luar biasa.]
[Reward: Uang Tunai 10.000.000 Yuan (Telah ditransfer secara legal ke rekening rahasia Swiss milik Host) & Keterampilan Pasif: 'Mata Emas' (Master-level Appraisal - Kemampuan menilai keaslian, sejarah, dan nilai semua barang antik/batu giok di dunia).]
Mendengar notifikasi sistem, Lin Chen tersenyum tipis. Mata Emas? Ini adalah modal awal yang sempurna untuk membangun kembali kekaisaran finansialnya.
Ia membalikkan badan, menatap ibu mertua dan istrinya yang masih shock. Ia merapikan kerah kemejanya dengan santai.
"Aku akan pergi keluar sebentar," ucap Lin Chen tenang, lalu berjalan melewati Su Ruoxue tanpa menoleh lagi.
Keluar dari gerbang mewah kediaman Keluarga Su, Lin Chen menghirup udara pagi dalam-dalam. Angin musim gugur yang sejuk menyapu wajahnya, membawa perasaan bebas yang sudah lama tidak ia rasakan.
Ia mengeluarkan ponsel lamanya yang retak di bagian ujung layar. Sebuah pesan notifikasi dari bank luar negeri terpampang jelas:
[Pemberitahuan Saldo] Dana sebesar 10.000.000,00 CNY telah berhasil ditransfer ke rekening rahasia Anda. Status dana: Bersih dan legal.
"Sepuluh juta Yuan," gumam Lin Chen sambil tersenyum tipis. "Untuk orang biasa, ini adalah uang yang tidak akan habis seumur hidup. Tapi untuk menghancurkan raksasa seperti Keluarga Lin dan Keluarga Zhao... ini bahkan belum cukup untuk menjadi uang saku."
Di kehidupan sebelumnya, Lin Chen adalah seorang jenius bisnis di Ibukota. Ia tahu betul bahwa membangun sebuah kekaisaran membutuhkan modal awal yang masif. Untungnya, sistem baru saja memberinya kunci pembuka jalan: [Mata Emas].
Tanpa membuang waktu, Lin Chen menghentikan taksi dan menyebutkan tujuannya. "Ke Pasar Antik Jiulong."
Pasar Antik Jiulong adalah pusat perdagangan barang antik terbesar di Provinsi Jiangnan. Jalanan sepanjang dua kilometer itu dipenuhi oleh toko-toko mewah berlantai tiga hingga lapak-lapak tenda di pinggir jalan yang menjual segala jenis barang; mulai dari porselen, batu giok, lukisan kaligrafi, hingga koin perunggu berkarat.
Tempat ini adalah surga bagi para kolektor, sekaligus neraka bagi mereka yang serakah. Di sini, ungkapan 'satu langkah ke surga, satu langkah ke neraka' sangatlah nyata.
Lin Chen turun dari taksi dan melangkah memasuki keramaian pasar. Ia memusatkan pikirannya dan bergumam dalam hati, "Sistem, aktifkan Mata Emas."
[Ding!]
[Keterampilan Pasif: 'Mata Emas' diaktifkan. Memindai area sekitar...]
Tiba-tiba, pandangan Lin Chen berubah. Dunia di sekitarnya seolah mendapatkan lapisan filter baru. Dari berbagai barang yang dipajang di lapak-lapak, memancar cahaya dengan warna yang berbeda-beda.
Cahaya abu-abu redup menandakan barang palsu atau sampah. Cahaya putih berarti barang asli namun bernilai rendah. Sedangkan cahaya biru, ungu, dan emas menandakan barang-barang berharga tinggi sesuai dengan tingkat kelangkaannya.
Sejauh mata memandang, 99% barang di pasar itu memancarkan cahaya abu-abu.
"Pantas saja banyak orang bangkrut di sini," kekeh Lin Chen pelan. Ia berjalan menyusuri jalanan dengan santai, mengabaikan teriakan para pedagang yang mencoba menawarkan barang rongsokan kepadanya.
Hingga akhirnya, langkah Lin Chen terhenti di depan sebuah toko barang antik berukuran sedang yang bernama [Paviliun Harta Karun].
Matanya menyipit. Di sudut toko yang gelap dan berdebu, di tumpukan lukisan-lukisan kaligrafi tua yang ditata sembarangan dalam sebuah tong kayu, memancar seberkas cahaya keemasan yang sangat menyilaukan.
Cahaya Emas!
Lin Chen melangkah masuk. Pemilik toko, seorang pria paruh baya bertubuh tambun bernama Bos Wang, sedang asyik meminum teh sambil melayani seorang pelanggan istimewa.
Pelanggan itu adalah seorang pria tua berambut putih yang mengenakan setelan tunik tradisional Tiongkok (Tangzhuang). Ia memancarkan aura wibawa yang sangat kuat. Di sisinya, berdiri seorang gadis muda cantik berusia sekitar dua puluhan, mengenakan gaun merah elegan dengan ekspresi sedikit angkuh.
"Tuan Tua Tang, Anda lihat vas porselen biru putih dari Dinasti Ming ini? Ini adalah koleksi terbaik di toko saya," rayu Bos Wang dengan senyum menjilat.
Tuan Tua Tang hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya perlahan, jelas tidak tertarik.
Lin Chen mengabaikan mereka. Ia langsung berjalan ke arah tong kayu di sudut ruangan dan menarik sebuah gulungan lukisan tua yang penuh debu. Ketika ia membukanya, lukisan itu menampilkan pemandangan burung bangau dan pohon pinus. Kertasnya menguning dan tepiannya sudah mulai rapuh.
Informasi dari Mata Emas seketika muncul di benak Lin Chen.
[Nama Barang:] Lukisan Burung Bangau Tiruan (Kualitas Rendah)
[Tahun:] Akhir Dinasti Qing.
[Nilai Permukaan:] 500 Yuan.
[Status Tersembunyi:] Terdapat rongga rahasia (Lukisan di dalam lukisan). Di baliknya tersembunyi karya asli 'Pemandangan Musim Semi' oleh pelukis legendaris Dinasti Ming, Tang Yin (Tang Bohu).
[Nilai Asli:] Estimasi 35.000.000 - 45.000.000 Yuan.
Jantung Lin Chen berdetak sedikit lebih cepat, namun wajahnya tetap sedatar air danau yang tenang. Ia menggulung lukisan itu dan berjalan ke meja kasir.
"Bos, berapa harga lukisan ini?" tanya Lin Chen, memotong percakapan Bos Wang.
Bos Wang menoleh dengan raut wajah kesal karena diganggu. Ia menatap pakaian Lin Chen yang terlihat murah dan biasa saja, lalu mendengus meremehkan. "Itu lukisan asli dari Dinasti Ming. Kalau kau tidak punya uang, jangan sentuh sembarangan! Harganya 50.000 Yuan!"
Lin Chen tertawa dingin. "Kertasnya dari era Republik awal, tintanya mengambang dan tidak meresap, stempelnya pun dicetak menggunakan mesin. Dinasti Ming? Bos, kalau kau ingin menipu, setidaknya carilah barang tiruan yang lebih bagus. Aku beri kau 3.000 Yuan."
Mendengar analisis tajam Lin Chen, Tuan Tua Tang yang awalnya tidak peduli, tiba-tiba menoleh. Matanya memancarkan ketertarikan. Gadis berbaju merah di sebelahnya pun ikut menatap Lin Chen, meski dengan tatapan skeptis.
Bos Wang tersedak, wajahnya memerah karena kebohongannya dibongkar di depan pelanggan VIP-nya. "B-bocah kurang ajar! Kau pikir kau pakar?! Baiklah, 3.000 Yuan, ambil sampah itu dan pergi dari tokoku!"
Bos Wang setuju dengan cepat karena modal awal lukisan rongsok itu hanyalah 50 Yuan. Ia masih untung besar.
Lin Chen langsung mentransfer uang 3.000 Yuan menggunakan ponselnya. Transaksi selesai.
"Bocah, kau baru saja membuang 3.000 Yuan untuk sebuah kertas penyeka meja," ejek gadis berbaju merah itu tiba-tiba, menyilangkan lengannya. "Kakekku adalah Presiden Asosiasi Barang Antik Donghai. Sekali lihat saja, kakekku tahu lukisan itu bahkan tidak bernilai 100 Yuan. Berlagak pintar tapi sebenarnya bodoh."
"Yuyan, jaga sopan santunmu," tegur Tuan Tua Tang lembut, lalu menatap Lin Chen sambil tersenyum. "Anak muda, cucuku benar. Lukisan itu memang tiruan berkualitas sangat rendah. Mengapa kau mau menghabiskan 3.000 Yuan untuknya?"
Lin Chen balas menatap Tuan Tua Tang. Ia mengenali siapa pria ini. Tang Zhen, Kepala Keluarga Tang, salah satu dari tiga keluarga penguasa sejati di Kota Donghai—jauh di atas keluarga kelas menengah seperti Keluarga Su maupun Zhao.
"Tuan Tua Tang," ucap Lin Chen tenang. "Kadang-kadang, yang berharga bukanlah apa yang terlihat di permukaan, melainkan apa yang disembunyikannya."
Lin Chen menoleh ke arah Bos Wang. "Bos, pinjamkan aku sebuah baskom berisi air hangat dan sebuah pinset bedah."
"Untuk apa kau meminta hal-hal aneh di toko barang antikku?!" Bos Wang menggerutu, namun melihat Tuan Tua Tang yang tampak penasaran, ia akhirnya menyuruh pelayannya membawakan barang yang diminta Lin Chen.
Lin Chen meletakkan gulungan lukisan itu di atas meja lebar. Di bawah tatapan skeptis Yuyan, cibiran Bos Wang, dan mata tajam Tang Zhen, Lin Chen mencelupkan tangannya ke dalam air hangat dan membasahi ujung-ujung lukisan itu dengan sangat hati-hati.
Gerakannya mengalir, sangat presisi, seolah ia adalah seorang ahli restorasi yang telah berpengalaman puluhan tahun. Keterampilan ini, tentu saja, merupakan bagian dari pengetahuan pasif yang diberikan oleh Mata Emas.
Tiga menit kemudian, lem di sudut lukisan itu mulai meleleh.
Lin Chen mengambil pinset. Dengan gerakan secepat kilat namun sangat lembut, ia menarik lapisan atas kertas lukisan tersebut.
Sreeeekk...
Lapisan tiruan berkualitas rendah itu terkelupas sepenuhnya, memperlihatkan sebuah lapisan kertas Xuan (kertas kaligrafi Tiongkok) kuno di bawahnya. Kertas itu memancarkan aroma tinta tua yang sangat khas. Sebuah pemandangan pegunungan dan sungai musim semi yang dilukis dengan sapuan kuas yang luar biasa megah dan hidup, perlahan menampakkan dirinya di depan mata mereka semua.
Di sudut kanan bawah, terdapat sebuah cap stempel merah berbunyi: 'Pelajar Romantis Pertama di Jiangnan'.
BRAK!
Tuan Tua Tang secara refleks menggebrak meja dan berdiri, matanya membelalak lebar hingga nyaris melompat keluar dari rongganya. Napasnya memburu keras.
Gadis bernama Yuyan menutup mulutnya dengan tangan, tertegun tak percaya. Bos Wang di sisi lain, kakinya langsung lemas dan ia jatuh terduduk ke lantai, wajahnya sepucat mayat.
"I-ini... sapuan kuas yang bebas namun tajam... tinta yang meresap ke jiwa..." Suara Tuan Tua Tang bergetar hebat. Tangannya yang keriput gemetar saat ia mencondongkan tubuhnya ke arah lukisan itu, seolah sedang menatap dewa yang turun dari langit.
"Ini adalah karya asli Tang Bohu! Pemandangan Musim Semi! Ya Tuhan! Lukisan di dalam lukisan! Teknik menyembunyikan mahakarya untuk menghindari perampasan di era perang!"
Tuan Tua Tang menatap Lin Chen seolah melihat monster. Pemuda berpakaian lusuh ini memiliki mata yang lebih tajam dari naga!
"Berapa... berapa nilai lukisan itu, Kek?" tanya Yuyan dengan suara bergetar, rasa angkuhnya hancur tak bersisa.
"Di lelang Xianggang tahun lalu, karya Tang Bohu dengan kualitas di bawah ini terjual seharga 30 juta Yuan. Lukisan ini... setidaknya bernilai 40 juta Yuan!" seru Tang Zhen bersemangat.
Mendengar angka "40 juta Yuan", Bos Wang memutar matanya ke atas dan langsung pingsan di tempat karena serangan jantung ringan. Ia baru saja menjual barang seharga 40 juta dengan harga 3.000 Yuan!
Lin Chen dengan tenang menggulung lukisan yang telah terbuka itu. "Tuan Tua Tang memiliki mata yang bagus. Jika Tuan Tua tertarik, aku bisa melepasnya kepada Anda."
"Benarkah?!" Tang Zhen sangat gembira. "Adik kecil, aku tidak akan mengambil keuntungan darimu! Aku akan mentransfer 45 juta Yuan ke rekeningmu sekarang juga! Yuyan, cepat minta nomor rekening Tuan Muda ini!"
Tang Yuyan, gadis cantik yang tadinya meremehkan Lin Chen, kini melangkah maju dengan wajah memerah karena malu. Ia membungkuk sedikit, memperlihatkan sikap hormat. "Tuan, m-maafkan kelancanganku sebelumnya. Boleh saya meminta nomor rekening Anda?"
Lin Chen menyebutkan deretan nomor rekeningnya dengan datar.
Hanya dalam waktu lima menit, ponsel Lin Chen kembali bergetar.
[Pemberitahuan Saldo] Dana masuk sebesar 45.000.000,00 CNY. Saldo Anda saat ini: 54.997.000,00 CNY.
Dalam waktu kurang dari dua jam sejak ia melangkah keluar dari rumah Keluarga Su, Lin Chen telah meraup kekayaan lebih dari lima puluh juta Yuan.
"Urusan bisnis telah selesai. Terima kasih, Tuan Tua Tang." Lin Chen mengangguk sopan dan berbalik untuk pergi.
"Tunggu, Adik Kecil!" panggil Tang Zhen buru-buru, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam keemasan yang sangat eksklusif. Di seluruh Kota Donghai, kartu ini hanya dikeluarkan kurang dari sepuluh lembar. Pemegang kartu ini akan diperlakukan sebagai tamu kehormatan tingkat tertinggi oleh Keluarga Tang di mana pun mereka berada.
"Hari ini aku, Tang Zhen, telah membuka mata. Tolong terima kartu ini. Jika Adik Kecil menemui kesulitan di Kota Donghai, Keluarga Tang-ku bersedia membantu dengan segenap kekuatan kami."
Lin Chen melirik kartu itu, lalu menyimpannya ke dalam sakunya. Mengingat Keluarga Tang memiliki pengaruh besar di faksi bawah tanah dan bisnis, ini akan menjadi bidak catur yang bagus untuk rencananya di masa depan.
"Akan kuingat, Tuan Tua Tang. Nama saya Lin Chen."
Setelah mengatakan itu, Lin Chen melangkah keluar dari toko, meninggalkan bayangan punggung yang penuh misteri.
Tang Zhen menatap kepergian Lin Chen sambil mengelus jenggotnya. Matanya memancarkan kilatan tajam seorang penguasa sejati.
"Lin Chen... pemuda ini seperti naga yang tersembunyi di perairan dangkal. Yuyan, segera perintahkan orang-orang kita untuk menyelidiki latar belakangnya. Pemuda dengan kemampuan menakutkan seperti ini tidak mungkin hanya orang biasa!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!