Indonesia
NovelToon NovelToon

Pura-pura Buta Untuk Melihat Pengkhianatan Suami Dan Sahabatku

Pernikahan Dan Duri Dalam Selimut

​Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.

​Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki pasangan yang penyayang dan seorang sahabat sejati yang selalu ada di sisinya. Namun, di balik tatapan hangat dan perhatian manis yang selalu ditunjukkan Zidan, ada getaran halus yang terlewatkan oleh indra Amanda. Setiap kali mereka bertiga menghabiskan waktu bersama, tatapan Zidan kerap tertahan lebih lama pada sosok Zahra. Ada lirikan singkat yang tersimpan rapi di balik senyuman formal, serta sentuhan tak sengaja yang perlahan menjelma menjadi kebiasaan halus yang tertutup rapi oleh tirai kepercayaan Amanda yang terlampau dalam.

​Keseriusan Zidan membimbing hubungan mereka menuju jenjang yang lebih tinggi. Hari wisuda yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Dengan toga yang melilit tubuh dan senyum kebahagiaan yang mengembang, Zidan berlutut di hadapan Amanda tepat di tengah lapangan kampus yang ramai, mempersembahkan sebuah cincin dan janji suci untuk meniti kehidupan baru bersama. Di samping mereka, Zahra bertepuk tangan riuh, mengabadikan momen tersebut dengan kameranya sembari melempar senyum paling manis. Namun, di balik lensa kamera itu, tak ada yang menyadari betapa tatapan Zahra dan Zidan saling mengunci dengan makna yang amat gelap, menandai dimulainya babak baru yang penuh pura-pura.

​Pesta pernikahan digelar dengan megah. Tangis haru mewarnai malam resepsi ketika Amanda resmi menyandang status sebagai istri Zidan. Zahra hadir sebagai pendamping pengantin wanita termewah, memeluk Amanda erat-erat dan membisikkan doa agar pernikahan mereka abadi. Amanda meneteskan air mata bahagia, merasa hidupnya telah sempurna. Namun, tepat pada malam pertama usai ikatan suci itu terucap, ketika Amanda terlelap karena kelelahan, sebuah bahaya tersembunyi mulai bekerja di balik kegelapan rumah baru mereka.

​Hubungan terlarang antara Zidan dan Zahra nyatanya tidak dimulai dengan ketidaksengajaan, melainkan telah berakar sejak awal masa pernikahan itu diikrarkan. Setiap kali Amanda pergi bekerja atau disibukkan dengan urusan rumah tangga, Zahra akan sering berkunjung dengan alasan menemani sahabatnya. Amanda yang polos dan terlampau percaya sama sekali tidak menaruh kecurigaan ketika Zidan sering kali menawarkan diri untuk mengantar Zahra pulang, atau saat pesan singkat di telepon genggam suaminya berdering di tengah malam dengan nama kontak yang tersamarkan.

​Bagi Amanda, kedekatan mereka adalah hal wajar karena mereka sudah saling mengenal sejak lama. Kebutaannya akan realita membuat Zidan dan Zahra semakin berani. Di belakang Amanda, jemari mereka saling bertaut di bawah meja makan, tatapan sarat gairah dan rasa bersalah yang telah tumpul bertukar tanpa henti. Kebahagiaan pernikahan yang dirasakan Amanda hanyalah panggung sandiwara yang dibangun di atas kepalsuan. Zidan menikmati peran sebagai suami idaman di depan Amanda, sementara di ruang-ruang tersembunyi, ia memberikan bagian terlarang dari dirinya untuk Zahra. Rasa percaya yang begitu tinggi menutupi seluruh tanda kemerahan yang seharusnya membuat Amanda curiga, hingga suatu hari, takdir memaksa tabir penutup itu terkuak dengan begitu kejam.

Topeng Kegelapan Untuk Sebuah Pembalasan

​Hari itu, hujan turun membasahi kota dengan lebatnya. Amanda pulang lebih awal dari kantor karena bermaksud memberikan kejutan untuk ulang tahun pernikahan pertama mereka. Dengan kue kecil di tangannya dan senyum yang mengembang, ia melangkah pelan memasuki rumah. Suasana rumah begitu hening, hanya terdengar suara gemericik air hujan yang menerpa kaca jendela. Namun, saat melangkah menuju kamar utama, langkah kaki Amanda mendadak terhenti. Pintu kamar yang biasanya tertutup rapat kini sedikit terbuka, membocorkan suara desahan dan bisikan mesra yang sangat familiar di telinganya.

​Dada Amanda bergemuruh hebat ketika matanya menyipit menembus celah pintu. Di dalam sana, di atas tempat tidur yang biasa ia tiduri bersama suaminya, Zidan sedang memeluk mesra sosok wanita yang sangat ia kenali. Wanita itu adalah Zahra, sahabat yang sudah disayanginya melebihi saudaranya sendiri selama enam tahun terakhir. Dunia Amanda rasanya runtuh seketika. Tidak ada teriakan histeris, tidak ada amukan, dan tidak ada air mata yang menetes. Rasa sakit yang teramat luar biasa itu justru melumpuhkan seluruh emosinya, menggantikannya dengan kehampaan yang amat dingin.

​Tanpa bersuara, Amanda melangkah mundur. Ia menjatuhkan kue di tangannya ke atas karpet dan berlari menuju mobilnya di tengah guyuran hujan keras. Pikiran Amanda benar-benar kosong; bayangan tawa Zahra dan janji manis Zidan berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak di dalam kepalanya. Menginjak pedal gas dalam-dalam, ia melesatkan mobilnya menembus jalanan licin tanpa arah. Di sebuah persimpangan, saat lampu merah menyala, Amanda bukannya mengerem, melainkan semakin menekan gas menuju sebuah truk pembawa barang yang sedang melintas. Suara dentuman keras terdengar membelah malam, menyisakan puing-puing besi yang hancur bersimbah darah.

​Tubuh Amanda yang tak berdaya dilarikan ke rumah sakit. Benturan keras membuat jantungnya sempat berhenti sebelum akhirnya para dokter berhasil menyelamatkan nyawanya. Selama satu minggu penuh, Amanda terbaring kaku dalam koma, melayang di antara batas hidup dan mati. Di luar ruang ICU, Zidan dan Zahra berpura-pura menunjukkan rasa duka yang mendalam, menangis di depan keluarga besar seolah-olah mereka adalah orang yang paling kehilangan, padahal di dalam hati mereka menyelinap rasa lega atas kecelakaan tersebut.

​Hari kedelapan, keajaiban terjadi. Kelopak mata Amanda perlahan terbuka. Saat kesadarannya pulih sepenuhnya, ingatan tentang pengkhianatan keji itu langsung menyengat dadanya. Namun, alih-alih menangis, tatapan mata Amanda berubah menjadi begitu dingin dan tajam. Ketika dokter spesialis memeriksa kondisinya secara pribadi sebelum keluarga masuk, Amanda memegang erat lengan sang dokter. Dengan suara serak namun penuh penekanan, Amanda memohon sebuah permintaan gila: ia meminta dokter memalsukan rekam medisnya dan menyatakan bahwa kecelakaan itu telah merusak saraf penglihatannya hingga ia mengalami kebutaan permanen.

​Dokter sempat ragu, namun melihat keutuhan tekad dan penderitaan mendalam di mata wanita muda itu, ia akhirnya menyetujui sandiwara tersebut. Ketika Zidan dan Zahra masuk ke dalam ruang perawatan dengan raut wajah terpukul yang dibuat-buat, Amanda menyambut mereka dengan pandangan mata yang kosong menatap langit-langit kamar. Ia berpura-pura panik, meraba-raba udara, dan meratapi kegelapan yang kini menyelimuti hidupnya. Zidan merangkulnya erat sambil mengusap air mata palsu, sementara Zahra memegang tangannya dengan pura-pura prihatin. Di balik kebutaan palsunya, Amanda bersumpah dalam hati untuk menyaksikan setiap detik busuk pengkhianatan mereka dari balik topeng kegelapan ini—menunggu waktu yang tepat untuk meruntuhkan kehidupan kedua pengkhianat itu tanpa tersisa.

Air Mata Palsu

​Dokter melangkah keluar dari ruang perawatan dengan langkah pelan dan raut wajah yang sengaja dibuat berat. Di tangannya, ia menggenggam papan rekam medis yang baru saja dimanipulasi secara rahasia—seseorang wanita muda di dalam sana telah menukar kebenarannya dengan sebuah kebohongan besar demi menyingkap kebusukan dua orang paling ia sayangi. Suasana koridor rumah sakit yang berbau karbol dingin itu seketika menegang saat derap langkah sang dokter terhenti di hadapan dua orang yang sejak tadi menunggu dengan gelisah.

​Melihat pintu ruang rawat terbuka, Zidan dan Zahra langsung bangkit dari kursi tunggu stainless steel. Wajah mereka secara instan bertransformasi, memasang raut kecemasan yang diatur sedemikian rupa agar terlihat sempurna di mata publik. Dengan nada suara yang ditahan dan sedikit bergetar, sang dokter mulai menyampaikan vonis medis yang telah disepakati bersama Amanda. Ia menjelaskan bahwa benturan hebat pada bagian tengkorak belakang tidak hanya merusak saraf penglihatan Amanda hingga menyebabkan kebutaan permanen, tetapi juga memicu trauma selebral yang berakibat pada amnesia sementara. Sang dokter menegaskan bahwa Amanda kehilangan ingatan mengenai peristiwa-peristiwa penting dalam beberapa bulan terakhir, termasuk memori spesifik yang terjadi tepat sebelum kecelakaan maut itu menghantamnya.

​Seketika itu juga, panggung sandiwara di koridor rumah sakit mencapai puncaknya. Zidan langsung meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi sembari mengeluarkan suara isakan pelan yang terdengar begitu hancur. Ia berakting seolah dunia di sekitarnya baru saja runtuh mendengar kemalangan yang menimpa istri tercintanya. Di sampingnya, Zahra memegangi dadanya sendiri, menutup mulut dengan jemarinya yang gemetar sembari meneteskan air mata yang mengalir deras membasahi pipi. Bagi siapa saja yang melintas di koridor tersebut, Zahra tampak seperti seorang sahabat sejati yang hatinya hancur berkeping-keping melihat penderitaan Amanda.

​Namun, drama penuh kedukaan itu tidak bertahan lama. Begitu sang dokter menyampaikan salam empati dan berbalik memunggungi mereka untuk berjalan menjauh menelusuri koridor, topeng penderitaan itu perlahan terlepas. Di balik telapak tangan yang masih menutupi bagian bawah wajahnya, Zidan perlahan menurunkan jemarinya. Isakan tangisnya mendadak berhenti total. Ia menoleh ke arah Zahra, dan pada detik itulah tatapan mata mereka saling mengunci di tengah kesunyian lorong rumah sakit.

​Tidak ada lagi raut kepedihan, kecemasan, atau rasa guilty di antara mereka. Iris mata kedua orang itu justru berkilat memancarkan kepuasan dan kebahagiaan yang amat pekat. Senyum tipis yang sarat akan kemenangan perlahan terukir di sudut bibir Zidan. Zahra, yang tadinya menyapu air mata dengan tisu, kini menarik napas lega seraya membalas senyuman itu dengan tatapan penuh arti. Bagi mereka berdua, vonis medis yang baru saja diucapkan oleh dokter tidak kurang dari sebuah keajaiban yang melengkapi rencana tersembunyi mereka.

​Kebutaan fisik yang dialami Amanda berarti wanita itu tidak akan pernah lagi bisa mengawasi gerak-gerik mereka, tidak akan bisa membaca isi pesan di telepon genggam, dan tidak akan bisa melihat tatapan terlarang yang mereka bagikan di dalam rumah. Ditambah lagi dengan kondisi amnesia sementara, Zidan dan Zahra merasa berada di atas angin. Mereka yakin sepenuhnya bahwa alasan sebenarnya di balik kecelakaan tragis itu telah terkubur rapat di dalam ingatan Amanda yang terhapus. Rahasia perselingkuhan yang mereka rajut sejak awal pernikahan kini terasa benar-benar aman dari ancaman pembongkaran.

​Di dalam ruang perawatan, Amanda terbaring kaku di atas ranjang dengan perban yang melingkari sebagian kepalanya. Suasana ruangan yang hening membuat pendengarannya yang kini sengaja dipertajam menjadi jauh lebih peka. Amanda mendengarkan setiap ketukan langkah, setiap bisikan pelan, dan perubahan ritme napas dari dua orang yang berdiri tepat di luar pintunya. Ia tahu pasti, di balik tawa dan bisikan lega yang nyaris tak terdengar dari koridor, Zidan dan Zahra sedang merayakan kelumpuhan hidupnya.

​Perlahan, Zidan merangkul pundak Zahra dengan erat, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya—bukan sebagai bentuk saling menguatkan di tengah duka cita, melainkan sebagai selebrasi atas kebebasan terlarang yang baru saja mereka dapatkan. Mereka menyandarkan harapan di atas kebohongan yang mereka anggap nyata. Tanpa mereka sadari, dari balik kegelapan buatan dan mata yang terpejam di dalam kamar rawat, Amanda sedang menyusun jaring penjerat. Kebutaannya adalah senjata, dan amnesianya adalah umpan paling mematikan untuk menyaksikan setiap detik kebusukan mereka hingga saat pembalasan itu tiba.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!