Bangku Pertama di Kelas Baru
Saat guru baru saja hendak menutup pintu kelas dan menyapa murid-muridnya, pintu itu kembali terbuka lebar dengan suara berderit keras. Semua mata seketika beralih ke arah pintu. Di sana berdiri seorang perempuan dengan seragam yang tidak dipakai sesuai aturan—kemeja dimasukkan sebagian, rok dilipat menjadi lebih pendek dari yang lain, rambut panjangnya dihiasi jepit rambut berkilauan yang tidak diizinkan sekolah. Ia berjalan masuk dengan langkah santai, kepala sedikit mendongak ke atas seolah tidak ada satu pun di ruangan ini yang setara dengannya. Tidak ada kata maaf, tidak ada sapaan sopan kepada guru.
Itu Laras. Rara langsung mengenali wajah itu sekilas—salah satu murid yang dulu di SMP selalu berbuat seenaknya, suka menyuruh teman lain seolah pelayan, dan selalu merasa segala sesuatu bisa diatur hanya karena orang tuanya pejabat tinggi. Kebiasaan buruknya dulu memang sulit diubah, dan tampaknya sampai sekarang ia masih berpikir begitu.
Laras melirik sekilas ke seluruh ruangan, lalu berjalan menuju bangku di baris depan Rara dan Aisyah. Tanpa bicara apa-apa, ia menepuk bahu teman yang sudah duduk di sana. "Pindah sana, aku mau duduk di sini," ucapnya datar, seolah itu adalah hak mutlaknya. Murid yang ditegur itu tampak bingung dan ragu, tapi Laras sudah meletakkan tas bermereknya di atas meja seolah memastikan tempat itu miliknya. Akhirnya murid itu menunduk dan pindah ke bangku lain yang masih kosong.
Rara mengerutkan kening dalam-dalam, tangannya mengepal erat di bawah meja. Hatinya rasanya panas melihat tingkah itu. Padahal baru pertama kali masuk sekolah, belum kenal siapa-siapa, tapi sudah bertingkah seolah menguasai seluruh kelas. Ia mendengus pelan, suaranya cukup terdengar jelas oleh Aisyah di sebelahnya.
Aisyah hanya diam, menatap sekilas ke arah Laras lalu kembali menunduk menata buku catatannya, tidak ikut berkomentar atau menambah keributan. Namun Rara sadar, mungkin Aisyah menganggapnya terlalu cepat menilai orang, atau malah merasa terganggu dengan sikapnya yang begitu terbuka. Rara menoleh perlahan, wajahnya penuh penyesalan.
"Maaf banget ya... aku emang responnya kayak begitu kalau ada orang yang tidak aku sukai," ucapnya pelan sekali, hampir berbisik. "Aku tahu ini baru pertama kali ketemu, rasanya kayak langsung ilfil banget lihat tingkahnya. Tapi ya sudahlah, namanya juga respons secara spontan, aku nggak bisa pura-pura senang kalau hatinya nggak begitu."
Aisyah berhenti menulis, lalu menatap Rara dengan senyum lembut dan tenang. "Nggak apa-apa kok, Rara. Perasaanmu itu wajar sekali. Setiap orang punya kenyamanan dan batasannya masing-masing. Kamu nggak perlu memaksakan diri untuk menyukai atau tersenyum pada orang yang tingkahnya memang kurang tepat. Yang penting kita tetap sopan dan nggak cari masalah duluan, itu saja sudah cukup."
Mendengar itu, dada Rara terasa lega seolah beban berat terangkat. Ia takut Aisyah menganggapnya kasar atau terlalu cepat menghakimi, tapi ternyata teman barunya ini begitu pengertian. "Terima kasih ya sudah mengerti," ucap Rara tersenyum tulus. "Aku cuma nggak suka orang yang merasa paling hebat dan meremehkan orang lain begitu saja. Semua orang itu sama di mata Tuhan kan?"
"Betul sekali," jawab Aisyah sambil mengangguk. "Nilai seseorang bukan dari jabatan orang tuanya atau harta yang dimilikinya, tapi dari tingkah lakunya dan bagaimana ia memperlakukan orang lain."
Pelajaran pun akhirnya dimulai. Namun belum berlangsung lama, Laras di depan mulai berisik. Ia berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya, membuka ponsel diam-diam, bahkan sesekali tertawa keras hingga membuat guru berhenti bicara dan menatapnya tajam.
"Laras, tolong perhatikan pelajaran, jangan berisik," tegur guru dengan nada tegas.
Laras hanya menoleh sebentar, menyunggingkan senyum sinis. "Maaf Pak, ini penting kok," jawabnya seenaknya, lalu kembali berbuat seperti semula. Rara menggelengkan kepala tak percaya. Dulu di SMP pun ia selalu begitu, merasa teguran guru tidak berlaku untuknya karena orang tuanya bisa menyelesaikan semuanya.
Jam istirahat pun tiba. Rara dan Aisyah berjalan beriringan menuju kantin, bercerita tentang hal-hal ringan sambil tertawa kecil. Belum sampai di sana, mereka melihat Laras sedang berdiri di dekat kolong pohon, sedang menyuruh seorang murid lain mengambilkan minum untuknya. "Cepatlah, aku capek berdiri di sini," ucap Laras sambil menyilangkan tangan di dada. Murid itu tampak ragu tapi akhirnya menurut saja.
Rara hendak melangkah mendekat untuk menegur, tapi Aisyah menahan lengannya pelan. "Biarkan saja dulu ya, Rara. Nanti kita yang terlihat cari masalah. Percayalah, perbuatan seperti itu lama-lama pasti akan terlihat siapa yang salah," bisik Aisyah lembut. Rara menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. Ia tahu Aisyah benar, tapi rasanya tidak enak melihat orang lain diperlakukan seperti itu.
Siang harinya saat jam pelajaran kosong, beberapa murid mulai berkenalan satu sama lain. Ternyata Laras mulai bercerita dengan suara yang cukup keras agar semua mendengar. "Ayahku kan kenal baik dengan kepala sekolah dan guru-guru di sini, jadi kalau ada apa-apa tinggal bilang saja sama aku. Nanti pasti beres kok," ucapnya sambil tersenyum bangga. Beberapa murid hanya diam, ada yang terlihat terkesan, tapi banyak juga yang hanya tersenyum kecut.
Rara hanya memutar bola matanya malas tanpa berniat menanggapi. Ia menoleh ke Aisyah yang sedang membaca buku. "Kamu nggak heran ya dengernya?" tanyanya pelan.
Aisyah menutup bukunya perlahan. "Aku cuma berharap dia sadar lebih cepat. Kekuasaan dan jabatan orang tua itu bukan untuk disombongkan atau dijadikan alasan berbuat semaunya, tapi justru harusnya lebih bisa menjaga sikap dan memberi contoh baik. Kalau terus begitu, lama-lama dia yang akan rugi sendiri. Orang lain mungkin takut karena orang tuanya, tapi bukan berarti mereka menghargai dirinya," ucapnya dengan bijak.
Rara mengangguk setuju. "Betul. Aku lebih suka dihargai karena apa yang aku lakukan, bukan karena siapa orang tuaku. Seperti kamu, meski sederhana, tapi aku merasa nyaman dan menghargaimu banget karena kamu tulus dan baik hati."
Aisyah tersipu malu mendengar pujian itu. "Kamu juga begitu kok, Rara. Kamu berani jujur pada perasaanmu, itu hal yang jarang dimiliki orang lain. Asal kita saling menjaga satu sama lain, kita pasti bisa melewati hari-hari di sini dengan baik."
Hari demi hari berlalu. Rara dan Aisyah semakin akrab, selalu bersama dari berangkat sampai pulang sekolah, saling membantu saat kesulitan pelajaran, dan saling menguatkan saat ada masalah. Sebaliknya, Laras perlahan mulai kesepian. Teman-teman yang dulu mendekat karena takut orang tuanya, lama-lama menjauh karena tidak tahan dengan sikapnya yang suka menyuruh dan merasa paling benar.
Suatu hari, saat ada tugas kelompok, tidak ada satu pun yang mau satu kelompok dengan Laras. Ia duduk sendirian di bangkunya, wajahnya merah padam menahan malu dan marah. Rara melihat itu, hatinya sempat merasa kasihan meski masih ingat tingkah Laras.
"Kita tawarkan saja masuk ke kelompok kita ya?" bisik Rara pada Aisyah. "Mungkin dia cuma belum terbiasa, kalau dia mau berubah kan nggak apa-apa."
Aisyah tersenyum bangga melihat kebaikan hati Rara. "Ayo saja. Mungkin ini cara terbaik untuk menyadarkannya."
Mereka berdua berjalan mendekati Laras. "Hei, Laras. Kalau kamu belum punya kelompok, boleh gabung sama kami kok," ucap Rara dengan nada tulus, tanpa kepura-puraan.
Laras menatap mereka berdua dengan mata terbelalak, tak percaya ada yang mau mengajaknya bergabung. Perlahan air matanya menetes. "Kenapa... kenapa kalian masih mau sama gue? Gue tahu aku jahat sama kalian," ucapnya terisak.
"Karena kita semua masih sama-sama belajar menjadi lebih baik," jawab Aisyah lembut. "Kamu bisa berubah kok, Laras. Mulai sekarang cobalah bersikap sopan dan menghargai orang lain, pasti semua akan menyukaimu apa adanya."
Laras mengangguk pelan, menghapus air matanya. Hari itu menjadi awal yang baru bagi mereka berempat. Di bangku pertama di pojok ruangan itu, bukan hanya persahabatan Rara dan Aisyah yang tumbuh, tapi juga benih perubahan dan kebaikan yang menyebar ke seluruh kelas.
Rara menatap ke arah jendela, melihat langit yang cerah. Ia bersyukur sekali keinginannya dulu terwujud, dan bahkan lebih dari itu—ia tidak hanya mendapatkan teman yang baik, tapi juga belajar bahwa kebaikan dan kesabaran bisa menyentuh hati siapa pun, sekeras apa pun tembok yang mereka bangun di dalam diri.
Pesona di Koridor Sekolah
Minggu-minggu pertama berlalu begitu cepat, dan Rara kini sudah merasa sangat betah duduk di sebelah Aisyah. Setiap jam istirahat mereka selalu berjalan beriringan, saling berbagi cerita, dan tertawa bersama. Namun belakangan ini, Rara sering kali diam saja saat melihat sekeliling kelas, matanya tanpa sadar sering melirik ke arah bangku di baris tengah.
Di sana duduk Dimas. Cowok yang wajahnya memang tidak bisa dipungkiri sangat tampan, senyumnya ramah, dan gayanya tenang namun berwibawa. Kabar yang beredar sejak hari pertama masuk sekolah, Dimas memang anak dari pengusaha sukses, tapi dia tidak pernah sombong atau memamerkan kekayaannya. Lebih dari itu, semua guru sepakat Dimas adalah murid yang sangat cerdas, berprestasi, dan diprediksi akan menjadi Ketua OSIS periode selanjutnya. Benar-benar calon pemimpin yang diharapkan sekolah.
Dimas tidak pernah sendirian. Di sebelah kanannya duduk Arga, cowok yang tegas dan berani, dan di sebelah kirinya duduk Bima yang pendiam namun bijaksana. Rara baru tahu minggu lalu, ketiga sahabat ini sudah akrab sejak SMP, dan ternyata mereka beruntung sekali bisa masuk ke SMA yang sama, bahkan satu kelas lagi. Persahabatan mereka terlihat begitu erat dan alami.
"Kamu ngeliatin apa sih dari tadi bengong terus?" bisik Aisyah pelan sambil menyenggol lengan Rara.
Rara tersentak kaget, pipinya langsung merona merah seketika. "Eh, nggak... nggak ngeliatin apa-apa kok," jawabnya gugup sambil buru-buru menunduk ke bukunya. Tapi hatinya berdebar kencang. Jujur saja, siapa yang tidak akan terpikat pada Dimas? Cara dia berbicara saat mengajukan pertanyaan di depan kelas, cara dia tertawa mendengar cerita Arga, bahkan cara dia menolong teman yang kesulitan membawa buku—semuanya memancarkan pesona yang berbeda dari cowok lain. Tidak heran jika nama Dimas sudah mulai menjadi topik pembicaraan hampir semua perempuan di angkatan ini.
Bel istirahat berbunyi. Saat Rara dan Aisyah berjalan keluar kelas, berpapasanlah mereka dengan Dimas, Arga, dan Bima yang baru datang dari perpustakaan.
"Hai, Rara! Hai, Aisyah," sapa Dimas dengan senyum lebar yang tulus. Suaranya lembut namun jelas terdengar.
Rara rasanya seolah berhenti bernapas sejenak. "H-hai Dimas..." jawabnya terbata-bata, hanya bisa tersenyum kaku.
Arga menepuk bahu Dimas sambil terkekeh. "Ayo cepat, nanti antrean di kantin panjang lho!" ajaknya. Bima hanya tersenyum tipis sambil melambaikan tangan sebelum ketiganya berjalan menjauh.
Rara menatap punggung mereka yang menjauh, sampai Aisyah menepuk pelan bahunya. "Wah, sepertinya aku tahu kenapa kamu sering bengong ya," goda Aisyah sambil tertawa kecil. "Dimas memang cowok yang baik dan luar biasa. Tapi tenang saja, kamu pasti punya kesempatan kok."
Rara menunduk malu-malu sambil tersenyum tipis. "Aku cuma... kagum saja, Aisyah. Dia kelihatan sempurna banget. Siapa tahu nanti kita bisa jadi teman dekat, kan?"
Matahari pagi menyinari koridor sekolah, dan langkah kaki mereka berlanjut. Rara menyadari, hari-hari di SMA ini mungkin akan menjadi lebih berwarna dan penuh harapan, karena kini ada sosok yang membuatnya ingin menjadi lebih baik lagi.
***
Malam itu langit sudah gelap, cahaya bulan menyelinap masuk lewat celah gorden kamar Rara. Ia sudah berbaring di tempat tidur, matanya terpejam, tapi pikirannya sama sekali belum mau beristirahat. Bayangan wajah Dimas terus berputar di kepalanya, tak mau pergi begitu saja.
Rara teringat lagi senyum tulusnya tadi siang, cara matanya berbinar saat berbicara, dan sapaan ramahnya yang begitu hangat tanpa memandang siapa lawan bicaranya. Rasanya ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya setiap kali teringat sosok itu.
"Udah ganteng, manis lagi..." gumamnya pelan dalam hati, senyum tipis tak sengaja tersungging di bibirnya meski ia sudah tertidur setengah sadar.
Tiba-tiba saja Rara terbangun kaget, matanya terbuka lebar seketika. Ia baru sadar dirinya bergumam hal itu sambil melamun sampai terbawa ke alam mimpi. Pipi Rara terasa panas sekali, seolah terbakar malu. Ia menutup wajahnya dengan bantal, berharap tidak ada siapa-siapa yang mendengar bisikan kecilnya tadi.
"Ya ampun... kok bisa-bisanya aku sampai ngomong begitu sendiri di kamar?" keluhnya pelan sambil mengintip sedikit dari balik bantal. Hatinya berdebar kencang, campuran antara rasa senang dan malu yang bercampur aduk.
Ia membalikkan badan, menatap langit-langit kamar yang remang. Benar-benar Dimas punya pesona yang aneh, bikin orang yang melihatnya susah lupa. Rara menghela napas panjang, lalu perlahan tersenyum kembali.
"Besok kan masih bisa ketemu di sekolah," batinnya menghibur diri. Dengan perasaan yang masih sedikit berdebar, Rara kembali memejamkan mata, berusaha menyimpan rasa itu baik-baik sampai pagi tiba.
Rara menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Ia menyelimuti tubuhnya hingga ke dada, lalu memejamkan mata perlahan, membiarkan rasa kantuk yang sempat hilang perlahan kembali menyelimuti.
Perlahan-lahan, bayangan wajah Dimas yang tadi membuatnya malu berubah menjadi senyum hangat yang menenangkan. Rara tersenyum tipis di dalam tidurnya, membiarkan dirinya hanyut kembali ke dalam mimpi yang indah. Tak lama kemudian, napasnya menjadi teratur dan tenang, dan ia pun kembali terlelap dengan damai.
Matahari pagi menyelinap lembut lewat celah jendela kamar, menyentuh wajah Rara yang perlahan membuka mata. Ia terbangun dengan perasaan ringan, seolah beban apa pun sudah hilang semalam. Sesaat Rara teringat mimpinya—tentang senyum Dimas yang hangat, dan betapa malunya ia sempat bergumam sendiri di kamar. Pipi Rara masih terasa sedikit panas saat mengingatnya, tapi kali ini diikuti senyum yang tulus dan penuh semangat.
Ia bangun lebih awal dari biasanya, merapikan tempat tidur dengan teliti, lalu memilih seragam yang paling rapi dan nyaman. Sambil menyisir rambut di depan cermin, Rara berbisik pelan pada bayangannya sendiri: "Hari ini harus lebih percaya diri. Jangan cuma diam kalau berpapasan lagi ya."
Sesampainya di sekolah, suasana gerbang sudah ramai dengan siswa yang berdatangan. Rara berjalan cepat menuju kelas, tapi baru sampai di halaman depan, ia melihat tiga sosok yang dikenalnya sedang berhenti sejenak di dekat taman sekolah. Dimas sedang menahan pintu gerbang untuk seorang siswi yang membawa tumpukan buku berat, sementara Arga tertawa sambil membantu mengangkat salah satu tumpukan buku itu, dan Bima sudah lebih dulu berjalan menuju kelas sambil memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Rara berhenti sejenak, matanya terbelalak takjub. Ternyata bukan hanya tampan dan ramah, Dimas juga begitu perhatian tanpa perlu pamer atau menunggu pujian orang lain. Tanpa sadar langkah kakinya perlahan mendekat. Saat Dimas menoleh setelah selesai membantu siswi itu, matanya langsung bertemu dengan mata Rara. Kali ini Rara tidak buru-buru menunduk seperti biasanya, ia menarik napas pelan, lalu tersenyum lebar dan melambaikan tangan duluan.
"Selamat pagi, Dimas! Selamat pagi semuanya!" sapa Rara dengan suara yang cukup jelas dan tenang.
Dimas terlihat sedikit terkejut sejenak, lalu senyumnya melebar lebih lebar dari biasanya, matanya berbinar senang. "Pagi, Rara! Kamu sudah datang lebih awal ya," jawabnya ramah, lalu melambaikan tangan kembali. "Pagi juga ya, semangat belajarnya hari ini!"
Arga menyenggol pelan lengan Dimas sambil melirik ke arah Rara dengan senyum jahil. "Wah, biasanya yang menyapa duluan kami, sekarang gantian ya," bisiknya cukup terdengar. Dimas hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, sementara Bima ikut menyapa dengan senyum hangat sebelum ketiganya melanjutkan langkah mereka menuju kelas.
Rara melangkah masuk ke dalam kelas dengan hati yang melompat gembira. Aisyah yang baru duduk di sebelahnya langsung menyenggol pelan lengannya begitu melihat wajah Rara yang berseri-seri. "Wah, cerah sekali mukamu pagi ini. Ada apa nih? Kayaknya ada kabar gembira ya?" tanyanya sambil tersenyum penuh selidik.
Rara duduk tegak, menyusun bukunya dengan hati-hati sambil menahan senyum. "Aku baru sadar, Aisyah. Tidak perlu sembunyi-sembunyi atau takut menyapa duluan. Kalau kita jadi diri sendiri dan berbuat baik, pasti semuanya akan terasa mudah dan menyenangkan. Tadi aku menyapa Dimas duluan lho, dan dia senang sekali," ceritanya dengan nada bangga.
"Nah, itu baru temanku!" puji Aisyah sambil bertepuk tangan pelan. "Lihat kan? Tidak sesulit yang kamu bayangkan kan? Kamu cantik, pintar, dan baik hati, pasti orang lain juga senang berkenalan denganmu."
Bel masuk berbunyi, dan pelajaran pun dimulai. Namun tak lama kemudian, guru mata pelajaran Matematika masuk dengan wajah serius. "Anak-anak, minggu depan akan diadakan seleksi untuk masuk tim Olimpiade Matematika sekolah. Siapa yang berminat silakan daftar hari ini juga," ucapnya.
Banyak siswa yang langsung berbisik-bisik, sebagian menolak karena merasa sulit, sebagian lain ragu-ragu. Tiba-tiba tangan Dimas terangkat tegak. "Saya mau mendaftar, Pak," ucapnya tegas. Tak lama kemudian, Arga dan Bima juga ikut mengangkat tangan. Rara menatap mereka kagum, lalu perlahan ia juga memberanikan diri mengangkat tangannya pelan.
Guru itu tersenyum puas. "Bagus sekali. Rara dan Dimas, silakan bertemu sebentar setelah pelajaran selesai untuk membahas jadwal latihan," panggilnya.
Rara terkejut sekaligus senang. Ternyata ia akan bertemu Dimas lagi untuk urusan yang sama. Saat bel istirahat berbunyi, Dimas menghampiri meja Rara dengan senyumnya yang khas. "Ternyata kamu juga suka Matematika ya, Rara? Bagus sekali, nanti kita bisa belajar bareng kalau ada waktu," ajaknya tulus.
"Benarkah? Aku mau sekali, Dimas!" jawab Rara antusias, kali ini tanpa rasa gugup sedikit pun.
Di luar jendela, langit biru tampak cerah tanpa awan gelap. Rara tahu, hari ini bukan hanya tentang melihat Dimas dari jauh atau sekadar mengagumi pesonanya, tapi tentang menemukan keberanian untuk melangkah maju, menjadi teman yang baik, dan perlahan menemukan tempatnya sendiri di tengah dunia yang baru ini. Dan entah kenapa, ia merasa jalan ke depannya akan penuh kejutan indah yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rencana di Balik Senyum
Suasana kelas terasa ramai begitu bel istirahat berbunyi. Beberapa siswa bergegas keluar menuju kantin, sebagian lainnya memilih tetap di dalam kelas sambil berbincang dengan teman sebangkunya. Rara dan Aisyah baru saja hendak beranjak dari tempat duduk mereka, ketika mata Rara tanpa sengaja menangkap sosok Laras yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju bangku di sudut ruangan.
Di sana duduk Citra, siswi yang sejak awal masuk sekolah sudah terlihat akrab dengan Laras. Laras menepuk bahu Citra dengan antusias, lalu duduk di bangku kosong di depannya, mencondongkan tubuh seolah ingin berbisik rahasia besar. Rara yang masih berdiri di dekat mejanya, tak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Ra, tunggu sebentar ya," ucap Rara pelan pada Aisyah. "Aku mau lihat sebentar mereka mau ngobrolin apa."
Aisyah mengangguk pelan, lalu ikut berdiri di samping Rara sambil pura-pura merapikan buku di atas meja.
"Cit, gue mau ngomong sesuatu sama lo," buka Laras dengan nada berbisik namun penuh semangat. Matanya melirik sekilas ke arah bangku tengah tempat Dimas sedang duduk bersama Arga dan Bima, lalu kembali menatap Citra dengan senyum penuh harap. "Lo tahu kan siapa Dimas? Cowok yang ganteng itu, duduk di sana."
Citra mengangguk pelan sambil mengikuti arah pandangan Laras. "Tahu lah, siapa yang nggak kenal Dimas. Dia memang paling menonjol di kelas kita. Kenapa emangnya?"
Laras tersenyum malu-malu, pipinya sedikit merona. "Jujur ya Cit... gue naksir berat sama dia. Dari hari pertama masuk sekolah gue sudah perhatiin dia. Dia nggak cuma ganteng lho, tapi kelihatan cerdas, sopan, dan pasti punya masa depan yang cerah. Gue yakin banget dia punya potensi besar buat jadi orang sukses nanti. Pas banget kalau dia sama gue."
Citra terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya itu. "Wah, percaya dirinya tinggi sekali ya lo. Tapi memang benar sih, Dimas itu tipe idaman banyak cewek di sini."
"Nah makanya itu!" Laras menepuk pelan tangan Citra. "Itulah kenapa gue butuh bantuan lo. Lo kan kenal banyak orang, pasti lebih gampang buat lo ngomong sama dia. Tolong ya Cit, bantu gue minta nomor HP Dimas. Bilang aja buat keperluan tugas kelompok atau PR, biar terlihat wajar dan nggak mencurigakan. Jadi kalau ada tugas atau pekerjaan rumah, kita bisa saling kirim materi dan diskusi lewat HP. Pasti dia nggak akan menolak alasan sebaik itu kan?"
Citra menatap Laras ragu sejenak. "Boleh saja sih aku bantu... tapi kamu yakin nggak apa-apa? Biasanya cowok kalau tahu ada yang sengaja minta nomornya karena naksir, kadang malah jadi risih lho."
"Ah enggak kok!" potong Laras cepat dengan wajah yakin. "Lo kan bilang aja itu buat keperluan pelajaran, urusan tugas. Lagian gue kan cuma minta nomornya aja dulu, nanti sisanya aku yang usahain sendiri. Pasti berhasil deh!"
Dari kejauhan, Rara mendengar semua percakapan itu dengan perasaan yang tidak enak. Ia mengerutkan kening, matanya menatap tajam ke arah Laras. Hatinya rasanya panas melihat tingkah perempuan itu.
"Kamu lihat nggak, Aisyah?" bisik Rara dengan nada kesal. "Kemarin saja dia baru saja berbuat seenaknya, menyuruh teman lain pindah tempat duduk dan bersikap seolah dia yang paling berkuasa di sini. Belum seminggu, kok sekarang sudah centil-centil mendekati Dimas? Padahal belum lama ini dia memberikan kesan yang sangat buruk buat semua orang."
Aisyah menghela napas pelan, lalu menatap Laras dengan pandangan yang sulit diartikan. "Sabar ya, Rara. Itu kan urusan perasaan orang lain, kita nggak bisa melarang siapa saja yang mau menyukai siapa. Tapi memang cara yang dipakai Laras itu agak kurang tepat sih. Seharusnya dia mulai dari sikapnya dulu, baru kemudian mendekati orang lain dengan tulus."
"Tapi kan caranya nggak gitu juga!" Rara masih belum bisa menahan kekesalannya. "Dia mau pakai alasan tugas dan PR cuma biar bisa dapat nomor HP? Itu kan bohong namanya. Padahal dia sendiri yang kemarin malah menyepelekan aturan sekolah dan menyusahkan orang lain. Kok sekarang tiba-tiba seolah-olah dia rajin belajar dan butuh bantuan pelajaran? Rasanya nggak pas banget lihatnya."
Sambil terus berbisik, Rara tidak mengalihkan pandangannya dari Laras. Ia melihat Laras terus membujuk Citra dengan wajah memelas namun matanya memancarkan tekad yang kuat. Citra yang tidak tega menolak akhirnya mengangguk pelan, menyetujui permintaan itu.
"Baiklah, nanti gue coba tanyain ke Dimas," ucap Citra akhirnya.
Laras langsung bersorak gembira, lalu memeluk lengan Citra dengan senyum lebar. "Makasih banyak ya Cit! Lo memang sahabat terbaik gue! Gue tunggu kabarnya ya!"
Setelah itu Laras berjalan pergi dengan langkah ringan menuju kantin, meninggalkan Citra yang masih menatap punggungnya sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan.
Rara menghela napas panjang, lalu menatap Dimas yang masih asyik mengobrol dengan Arga dan Bima di sudut lain kelas. Dimas tertawa mendengar cerita Arga, senyumnya tetap ramah dan tulus seperti biasanya. Rara bertanya-tanya dalam hati, apakah Dimas akan tahu kalau ada yang berniat mendekatinya dengan cara yang tidak jujur seperti itu?
"Yuk kita ke kantin saja," ajak Aisyah menyadarkan Rara dari lamunannya. "Kita nggak usah terlalu memikirkan apa yang dilakukan orang lain. Yang penting kita tetap jadi diri sendiri dan bersikap jujur kepada siapa saja."
Rara mengangguk pelan, meski rasa tidak sukanya terhadap sikap Laras masih tersisa di hati. Ia tahu benar bahwa ketulusan jauh lebih berharga daripada segala cara yang dibuat-buat. Dan melihat Dimas yang begitu baik hati, Rara yakin suatu saat nanti Dimas pun akan bisa melihat siapa yang tulus dan siapa yang hanya memakai topeng manis demi kepentingan sendiri.
Mereka berjalan beriringan keluar kelas, meninggalkan suasana kelas yang perlahan mulai sepi, namun menyisakan satu hal yang pasti hari-hari pertama di SMA ini memang penuh dengan kejutan, baik yang menyenangkan maupun yang menyisakan rasa heran.
“Ra, kamu enggak usah sedih kayak gitu dong kita kan baru masuk SMA? Kamu benar benar suka sama Dimas ya? Kelihatan banget dari raut wajah kamu!”
Rara tersenyum dengan apa yang diucapkan oleh Aisyah bisa bisanya baru aja masuk SMA eh udah kayak cinta cinta orang dewasa! Ia pun tersenyum dengan apa yang diucapkan oleh Aisyah bisa bisanya berpikiran kayak begitu. Lalu menggelengkan kepala mengatakan ada sesuatu hal yang biasa aja, udah enggak usah dipikirkan hal yang kayak gitu batinnya dalam hati berkata seperti itu! “enggak kok enggak ada sesuatu gimana gimana santai aja.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!