Indonesia
NovelToon NovelToon

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

BAB 1 — Klien Keseratus

BAB 1 — Klien Keseratus

Kue untuk klien keseratusku miring ke kiri.

Tara menyalahkan pengemudi ojek. Pengemudi ojek, kalau diberi kesempatan membela diri, mungkin akan menyalahkan tulisan SELAMAT MEMBANTU ORANG BERPISAH yang terlalu panjang untuk permukaan kue berdiameter dua puluh sentimeter.

“Aku sudah bilang tulisannya cukup angka seratus,” kata Lila, staf administrasi kami, sambil menusukkan lilin ke bagian yang tidak retak.

“Angka seratus itu bisa berarti apa saja,” sahut Tara. “Seratus tahun, seratus juta, seratus kali gagal diet.”

“Kalau kalimatmu begitu, kesannya kita merayakan perceraian orang.”

“Kita merayakan pekerjaan yang selesai dengan baik.”

Aku berdiri di ambang ruang rapat sambil membawa map terakhir Rani. “Kalian bisa membahas etika tulisan kue setelah aku menyimpan dokumen ini?”

Enam orang di dalam ruangan langsung bertepuk tangan.

Aku berhenti.

“Jangan berlebihan.”

“Telat,” kata Lila. Ia meniup peluit kertas yang hanya mengeluarkan suara serak. “Pidato, Bu Direktur.”

Ruang Tengah Mediasi tidak besar. Satu lantai kantor kami hanya memiliki tiga ruang konsultasi, satu ruang rapat, area kerja terbuka, dan dapur sempit yang selalu berbau kopi. Dindingnya sengaja tidak dicat putih karena menurut Tara, orang yang datang untuk membicarakan rumah tangga sudah cukup banyak melihat warna rumah sakit di tempat lain.

Hari itu, meja rapat dipenuhi kotak makanan, gelas kertas, dan bunga yang sudah memenuhi hampir separuh meja. Sebagian bunga dikirim mantan klien. Sebagian lagi dari rekan kerja. Buket paling besar berdiri di sudut ruangan, berisi mawar putih dengan kartu kecil bertuliskan satu kalimat.

Aku bangga kepadamu. Jangan pulang sendiri. —R

Aku tidak ingat pernah memberi tahu Rendra bahwa kesepakatan Rani akan ditandatangani hari ini. Jadwal kantorku memang tersambung dengan kalender keluarga. Mungkin ia melihatnya di sana.

“Pidato,” ulang Tara.

Aku meletakkan map ke lemari terkunci. “Aku tidak menyiapkan apa-apa.”

“Bagus. Kalau disiapkan biasanya terlalu formal.”

Aku menatap wajah-wajah yang sudah bekerja bersamaku selama bertahun-tahun. Lila yang selalu menyelipkan biskuit ke ruang konsultasi saat klien tampak belum makan. Bagas, mediator junior yang lebih takut pada mesin fotokopi daripada pada pasangan yang sedang bertengkar. Dua staf hukum, satu konselor keluarga, dan Tara yang berdiri paling belakang dengan kedua tangan terlipat.

Ia ikut tersenyum, tetapi matanya tidak.

Sejak keluar dari ruang mediasi tadi, ia belum berhenti memeriksa ponselnya.

“Seratus klien bukan berarti seratus perceraian,” kataku. “Sebagian berdamai. Sebagian memilih pisah. Sebagian datang cuma untuk memastikan mereka masih punya pilihan. Yang kita rayakan bukan berakhirnya pernikahan orang. Kita merayakan karena seratus orang masuk ke ruangan ini dan pulang dengan keputusan yang lebih mereka pahami.”

Bagas mengangkat gelas kopi. “Dan karena Bu Nadira akhirnya mau mengganti kursi ruang dua.”

“Itu belum diputuskan.”

“Pegasnya sudah keluar, Bu.”

“Berarti duduknya jangan terlalu ke kanan.”

Tawa memenuhi ruangan. Ketegangan dari mediasi panjang tadi perlahan lepas dari tengkukku.

Lila memotong kue dengan hasil yang membuat tulisan panjang di atasnya terbelah tepat pada kata BERPISAH. Tara membagikan makanan kiriman Rendra. Ia bahkan masih ingat pesanan kami: nasi tanpa acar untuk Bagas, salad dengan saus terpisah untuk Lila, mi ayam tanpa daun bawang untuk Tara.

Rendra mengingat pesanan orang-orang lebih baik daripada aku.

“Pak Rendra ini bikin standar suami orang lain rusak,” kata Bagas sambil membuka kotaknya.

“Jangan bicara begitu di kantor mediasi,” sahut Tara cepat.

Nada suaranya membuat Bagas berhenti tertawa.

Aku menoleh kepadanya. “Kamu benar-benar kenapa?”

Tara mengangkat bahu. “Kurang tidur.”

“Semalam kamu bilang tidur jam sembilan.”

“Aku bohong.”

Jawaban itu terdengar ringan. Tapi begitu ponselku bergetar, wajahnya kembali pucat.

Rendra menelepon.

Aku menjawab sambil berjalan ke dekat jendela. “Halo?”

“Sudah makan?”

“Baru mau.”

“Perutmu sakit kalau kopi masuk duluan.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa masih dilakukan?”

Aku melihat cangkir kosong di dekat mapku. “Karena orang dewasa kadang membuat keputusan buruk dengan sadar.”

Ada jeda pendek, lalu aku mendengar suara Rendra tertawa pelan. Ia tidak sering tertawa lepas. Bahkan lewat telepon, suara itu mampu membuat hari yang melelahkan terasa sedikit lebih ringan.

“Bagaimana klienmu?” tanyanya.

“Kesepakatannya ditandatangani.”

“Bagus.”

“Dari mana kamu tahu hari ini hari terakhir?”

“Kalendermu.”

Jawabannya datang tanpa ragu.

Aku tidak pernah mempermasalahkan kalender bersama. Rendra memiliki jadwal yang lebih padat daripada jadwalku dan tetap bisa mengingat kapan aku harus bertemu dokter gigi, kapan kantor membayar pajak, atau kapan aku biasanya mengalami migrain menjelang sidang panjang.

“Gilang menunggu sampai perayaan selesai,” lanjutnya. “Telepon dia kalau kamu mau pulang.”

“Aku bisa menyetir sendiri.”

“Kamu berangkat bersamaku pagi tadi.”

Benar. Aku bahkan lupa mobilku berada di rumah.

“Baiklah. Mungkin agak malam.”

“Tidak masalah.”

Dari belakang, sebuah sendok jatuh ke lantai. Ketika aku menoleh, Tara sedang membungkuk mengambilnya.

Rendra berkata, “Tara masih di sana?”

Pertanyaan itu membuat mataku kembali ke jendela.

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Tadi dia tidak menjawab pesanku.”

Aku mengalihkan perhatian kepada Tara. “Kamu menghubunginya?”

“Urusan hadiah untukmu.”

Tara berdiri dengan sendok di tangan, menatapku seolah tahu persis siapa yang sedang kubicarakan.

“Hadiah apa?” tanyaku.

“Nanti saja. Nikmati perayaannya.”

Rendra mengakhiri telepon setelah mengingatkanku minum obat lambung. Ketika aku kembali ke meja, Tara sudah membuang sendok itu dan mengambil yang baru.

“Rendra mengirim pesan apa?” tanyaku.

“Enggak penting.”

“Katanya soal hadiah.”

“Dia banyak bilang sesuatu kelihatan seperti hadiah.”

Kalimat itu terlalu tajam untuk dibiarkan lewat, tetapi Lila memanggilku untuk berfoto. Seseorang mematikan lampu. Lilin berbentuk angka satu dan dua angka nol menyala di atas kue yang semakin miring.

Aku berdiri di tengah tim, mengangkat pisau kue, dan tersenyum ke arah kamera.

Pada foto itu, yang kemudian kulihat berkali-kali, semua orang tampak bahagia.

Hanya Tara yang tidak melihat kamera.

Ia melihat buket mawar dari Rendra.

Perayaan berakhir hampir pukul delapan. Bagas dan Lila pulang lebih dulu. Dua staf hukum membawa sisa makanan. Konselor kami menawarkan membantu membersihkan, tetapi Tara menyuruhnya pergi dengan alasan ia perlu membicarakan laporan operasional denganku.

Begitu pintu lift tertutup di belakang orang terakhir, Tara mengunci pintu utama kantor.

Klik kuncinya terdengar terlalu keras.

Aku berdiri di dekat meja resepsionis. “Sekarang kamu mau jelaskan?”

Tara menurunkan tirai kaca, lalu memeriksa lorong melalui celah kecil.

“Kamu membuatku takut.”

“Bagus.”

“Bagus?”

“Kalau kamu takut, setidaknya kamu bakal dengar sampai selesai.”

Ia mengambil tas kerjanya dari bawah meja. Bukan tas besar yang biasa dibawanya, melainkan tas kulit cokelat tua yang tadi tidak kulihat. Tangannya gemetar saat membuka ritsleting.

“Tara.” Aku mendekat. “Apa Rendra melakukan sesuatu kepadamu?”

Ia mengeluarkan sebuah buku tipis berkulit abu-abu.

Sampulnya polos, tanpa judul atau logo perusahaan. Sudut-sudutnya aus, seolah buku itu sudah berpindah tangan berkali-kali.

Tara meletakkannya di meja, tetapi telapak tangannya masih menempel di sana.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Bukan pertanyaan pertama yang perlu kamu ajukan.”

“Lalu apa?”

“Siapa saja yang ada di dalamnya.”

Aku menarik kursi. Tara tetap berdiri.

Saat kubuka halaman pertama, aku melihat kolom-kolom yang dibuat dengan rapi: nama, tanggal, jumlah, dan satu kata yang ditulis dengan huruf kapital. Beberapa halaman lama memakai tinta biru yang mulai memudar. Halaman lebih baru dicetak, kemudian ditempeli tanda tangan kecil di sudut kanan.

Nama-namanya tidak langsung kukenal. Sebuah perusahaan keamanan. Seorang pemilik rumah kontrakan. Nama yayasan yang pernah memberi beasiswa kepada perempuan korban kekerasan.

“Apa ini?” tanyaku.

Tara tetap diam.

Aku membalik beberapa halaman. Jumlahnya berbeda-beda. Ada yang hanya sekali. Ada yang berulang setiap bulan. Semuanya begitu teratur sampai terasa bukan seperti catatan pribadi.

Lalu aku melihat nama yang kukenal lebih baik daripada apa pun yang ada di buku itu.

Tara Savitri.

Aku berhenti membalik halaman.

Di bawah namanya tercatat pembayaran bulanan selama bertahun-tahun. Nominalnya berbeda-beda, tetapi jaraknya teratur dan tidak pernah terputus terlalu lama.

Di kolom terakhir hanya ada satu kata.

TEMANI.

Kubaca lagi. Tetap sama.

“Tara,” panggilku.

Ia memalingkan wajah.

“Tara, lihat aku.”

Sahabatku menelan ludah sebelum akhirnya berani menatapku.

“Siapa yang membayar ini?”

Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Aku menunjuk baris-baris transaksi. “Setiap bulan. Selama bertahun-tahun. Siapa?”

Tara menarik kursi di seberangku, lalu duduk perlahan. Wajahnya seperti seseorang yang sudah lama menunggu hukuman dan baru saja mendengar namanya dipanggil.

“Rendra,” katanya akhirnya.

Dada terasa sesak. “Rendra membayarmu?”

Tara mengiyakan dengan gerakan kecil.

Suara pendingin ruangan mendadak terdengar sangat jelas. Dari jalan di bawah, klakson bersahutan. Tak ada yang berubah di luar sana.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Menemanimu.”

“Kamu sahabatku.”

“Aku tahu.”

“Jadi dia membayarmu untuk menjadi sahabatku?”

“Tidak sesederhana itu.”

“Buat sederhana.” Suaraku naik tanpa bisa kutahan. “Dua belas tahun kita berteman. Kamu ada waktu Ibu meninggal. Kamu membantu aku membuka kantor ini. Kamu berdiri di sampingku saat aku menikah. Bagian mana yang dibayar?”

Mata Tara mulai basah. “Perasaanku bukan bagian yang dibayar.”

“Lalu apa?”

Ia menutup buku itu dengan kedua tangannya, seolah nama di dalamnya bisa keluar kalau dibiarkan terbuka.

“Aku menerima uang untuk tetap dekat, memastikan kamu enggak sendirian, dan memberi tahu Rendra kalau ada sesuatu yang berubah. Kalau kamu sakit. Kalau kamu takut. Kalau kamu mulai menyembunyikan masalah.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku terdorong ke belakang.

“Kamu melaporkan aku kepada suamiku?”

“Tidak semuanya.”

“Berapa banyak?”

“Nad—”

“Berapa banyak hidupku yang kamu berikan kepadanya?”

Tara ikut berdiri. Air matanya jatuh. Kali ini aku tidak bergerak untuk memeluknya.

Ia mendorong buku abu-abu itu ke arahku.

“Bawa ini pulang.”

“Aku tidak akan pulang sebelum kamu menjawab.”

“Kamu perlu membaca semuanya.”

“Apa lagi yang harus kubaca?”

Tara memandangi buku di antara kami sebelum berani menatapku.

Ketika berbicara, suaranya pecah.

“Aku bukan satu-satunya yang dibayar suamimu.”

BAB 2 — Orang yang Membayar

BAB 2 — Orang yang Membayar

Tiga menit sebelum presentasi dimulai, ponselku menampilkan satu notifikasi yang seharusnya tidak muncul.

BRANKAS LAMA — AKSES TERBUKA.

Aku sedang berdiri di depan layar setinggi dua meter, dikelilingi sembilan orang yang menunggu keputusan tentang investasi senilai ratusan miliar. Di ujung meja, ayahku mengetuk pulpen sekali, tanda bahwa ia sudah kehilangan kesabaran bahkan sebelum aku mulai bicara.

“Rendra?” panggil direktur keuangan.

Aku mengangkat telunjuk, meminta waktu tanpa menjelaskan. Notifikasi kedua masuk.

BENDA TERDAFTAR TIDAK TERDETEKSI.

Sistem tidak menyebut nama benda. Aku yang membuatnya begitu tujuh tahun lalu. Hanya ada satu barang di brankas itu yang memiliki sensor terpisah dari dokumen lain.

Buku berkulit abu-abu.

Ruangan seketika terasa terlalu terang.

“Lanjutkan tanpa saya,” kataku.

Ayahku menyandarkan punggung. “Rapat ini dijadwalkan ulang dua kali karena kamu.”

“Jadwalkan ketiga kali.”

Beberapa orang menunduk, pura-pura membaca berkas. Tidak ada yang ingin terlihat memperhatikan ketika Surya Kalyana dan putranya saling menatap terlalu lama.

“Apa ada keadaan darurat?” tanyanya.

Aku mengambil jas dari sandaran kursi. “Belum.”

“Kalau belum, duduk.”

Biasanya aku akan duduk. Bukan karena takut, tetapi karena melawan ayahku selalu menambah pekerjaan banyak orang. Hari ini aku tidak peduli.

Aku keluar dari ruang rapat sambil menelepon kepala keamanan pribadi. Sambungan baru berbunyi sekali sebelum kuputuskan.

Yang langsung kupikirkan cuma satu: cari buku itu, ambil kembali, dan pastikan Nadira tidak sempat membuka halaman terakhir.

Aku bahkan tahu siapa yang harus dihubungi.

Gilang bisa mencapai kantor Nadira dalam dua belas menit. Dua petugas lain dapat menutup akses lift tanpa menimbulkan keributan. Tara akan menyerahkan buku itu jika ditekan dengan cara yang tepat. Kalau tidak, ada salinan kartu akses, rekaman kamera, dan daftar semua jalan keluar dari gedung tersebut.

Aku hafal semua pilihan itu karena bertahun-tahun memastikan tidak ada keadaan yang benar-benar berada di luar jangkauanku.

Jempolku berhenti di atas nama Gilang.

Lalu kuturunkan ponsel.

Tidak.

Kalau aku mengambil buku itu sekarang, aku hanya akan membuktikan semua yang tertulis di dalamnya.

Aku masuk ke lift pribadi. Pintu menutup, memantulkan wajahku di dinding logam: kemeja putih, dasi gelap, ekspresi yang cukup tenang untuk menipu siapa pun yang tidak mengenalku.

Nadira akan tahu aku berbohong hanya dari cara rahangku mengeras.

Aku meneleponnya.

Panggilan pertama tidak diangkat.

Panggilan kedua langsung ditolak.

Pada panggilan ketiga, nomor itu tidak lagi dapat dihubungi.

Ia memblokirku.

Aku menatap layar sebentar. Seharusnya tidak mengejutkan, tetapi tetap terasa seperti pintu ditutup tepat di depan wajahku.

Aku kemudian menelepon Tara.

Ia menjawab setelah cukup lama hingga aku sempat menghitung tujuh dering.

“Di mana Nadira?” tanyaku.

“Pertanyaan pertama kamu bukan soal bukunya?”

“Kalau aku menelepon soal buku, aku akan bertanya di mana buku itu.”

“Dia baik-baik saja.”

“Itu bukan jawaban.”

“Sekarang kamu tahu rasanya menerima jawaban yang tidak menjawab.”

Nada suara Tara gemetar, tetapi ia tidak mundur. Selama ini ia hampir selalu berhati-hati ketika bicara kepadaku. Aku pernah mengira itu karena ia menghormati batas. Sekarang aku sadar sebagian kehati-hatian itu lahir dari rasa bersalah.

“Apakah Nadira masih di kantor?” tanyaku.

“Aku enggak akan kasih tahu.”

“Aku tidak meminta kamu menahannya.”

“Belum.”

Satu kata itu menancap lebih dalam daripada seharusnya.

Aku masuk ke mobil sendiri, menolak ketika pengemudi gedung menawarkan bantuan. “Dengar, Tara. Jangan kirim foto, jangan menyalin halaman, dan jangan bicara dengan siapa pun dari keluarga Kalyana.”

“Kenapa? Takut rahasiamu dibaca orang?”

“Takut ada orang lain yang tahu buku itu sudah keluar.”

“Orang lain siapa?”

Aku menyalakan mesin. “Bawa Nadira ke tempat yang dia pilih. Jangan arahkan dia pulang. Jangan arahkan dia ke mana pun.”

Tara terdiam.

“Maksudmu apa?”

“Untuk sekali ini, biarkan dia memilih.”

Aku mengakhiri panggilan sebelum ia sempat bertanya lebih jauh.

Perjalanan pulang biasanya membutuhkan empat puluh menit. Aku menempuhnya dalam dua puluh tujuh menit, tetap mengikuti lampu lalu lintas, tetapi tidak mengingat satu pun kendaraan yang kulewati.

Sepanjang jalan, pikiranku terus kembali ke susunan buku itu.

Nama. Tanggal. Jumlah. Sumber rekening. Kata kerja.

Sistem yang awalnya dibuat sederhana karena kata-kata panjang lebih mudah disalahgunakan. Ironisnya, kata-kata pendek justru memberi ruang lebih besar untuk membenarkan apa saja.

TEMANI.

JEMPUT.

LAPOR.

TUNDA.

Pada awalnya setiap kata memiliki batas. Kemudian aku mulai menambahkan catatan, instruksi, jadwal, dan pengecualian. Aku menyebutnya penyesuaian risiko. Tidak pernah kusebut pengawasan, sebab manusia lebih mudah hidup dengan kesalahan yang diberi nama profesional.

Aku tahu Nadira akan membaca nama Tara lebih dahulu. Itu cukup untuk menghancurkan persahabatan yang dibangun selama dua belas tahun.

Setelah itu ia akan menemukan Gilang.

Dr. Mira.

Pemilik apartemen lamanya.

Naufal, klien pertama yang membuat Ruang Tengah dikenal.

Setiap halaman akan mengambil satu bagian hidup yang ia anggap miliknya, lalu membuatnya terlihat kotor.

Daftar nama bukan bagian yang paling kutakuti.

Ada satu halaman yang seharusnya tidak pernah berada di buku itu.

Aku tidak menulisnya. Aku juga tidak pernah mencabutnya.

Kesalahan yang paling sulit kuakui bukan ketika aku melakukan sesuatu yang salah. Yang paling buruk adalah saat aku melihat kebohongan yang menguntungkanku, lalu memilih membiarkannya tetap hidup.

Ponselku berdering melalui sambungan mobil.

Gilang.

Aku mengangkatnya.

“Pak, Bu Nadira tidak jadi memakai kendaraan kantor.”

“Siapa yang menyuruhmu mengikuti?”

“Tidak ada. Sistem mengirim pemberitahuan karena ponsel beliau tidak terhubung ke kendaraan terdaftar.”

Aku menahan kemudi lebih erat.

Bahkan ketika aku memutuskan tidak mengawasinya, sistem yang kubangun tetap melakukannya untukku.

“Matikan pelacakan ponselnya.”

Di seberang, Gilang menunda jawaban satu detik.

“Semua pelacakan, Pak?”

“Semuanya.”

“Termasuk fitur darurat?”

Aku hampir menjawab tidak. Kebiasaan membuat kata itu sudah sampai di ujung lidah.

“Termasuk fitur darurat.”

“Baik.”

“Dan jangan datang ke rumah malam ini.”

“Kalau Ibu Nadira—”

“Jangan datang kecuali dia sendiri yang menghubungimu.”

Setelah sambungan berakhir, kabin mobil menjadi sunyi.

Aku baru menyadari tangan kiriku gemetar ketika berhenti di lampu merah.

Bukan kepergiannya yang membuatku gemetar. Ketakutan itu sudah tinggal di tubuhku selama bertahun-tahun sampai terasa terlalu biasa untuk dikenali.

Aku takut ia akan melihat hidup kami seperti ia melihat perkara para kliennya: memisahkan perasaan dari tindakan, niat dari akibat, lalu menyusun semuanya dengan bahasa yang tidak bisa kubantah.

Aku pernah menyaksikannya membantu seorang perempuan memahami bahwa suami yang selalu datang menjemput bukan selalu suami yang perhatian. Kadang ia hanya lelaki yang tidak tahan istrinya berada di tempat yang tidak bisa ia lihat.

Saat itu aku berdiri di luar ruang konsultasi, membawa makan siang yang terlambat dimakan Nadira, dan merasa bangga pada pekerjaannya.

Aku tidak pernah bertanya apa yang akan ia katakan jika perempuan itu adalah dirinya sendiri.

Di luar tidak ada mobil Nadira ataupun Gilang; hanya penjaga kompleks yang tampak di kejauhan.

Aku memarkir mobil dan turun.

Rumah tampak sama seperti pagi tadi. Tirai ruang depan setengah terbuka. Pot tanaman yang Nadira pindahkan tiga kali masih berdiri di sisi tangga. Gelas yang dipakainya sebelum berangkat mungkin masih berada di dekat wastafel.

Untuk sesaat, aku membayangkan masuk, menunggu di ruang kerja, lalu menyiapkan kalimat yang tepat. Kalimat yang bisa membuatnya duduk. Kalimat yang akan menahan amarahnya cukup lama agar aku bisa mengendalikan urutan kebenaran.

Lalu aku melihatnya.

Nadira duduk di bangku kecil di samping pintu utama. Tas kerjanya berada di lantai. Buku abu-abu itu tergeletak di atas kedua pahanya.

Ia tidak menangis.

Aku lebih siap menghadapi air mata daripada ketenangan di wajahnya.

Ketika aku menaiki anak tangga pertama, Nadira berdiri.

“Jangan buka pintunya,” katanya.

Aku berhenti.

Ia mengangkat buku itu di antara kami.

“Kita bicara di sini. Di tempat yang belum sempat kamu atur.”

BAB 3 — Daftar Orang Terdekat

BAB 3 — Daftar Orang Terdekat

Rendra berhenti dua anak tangga di bawahku.

Sejak menikah, baru malam itu aku berdiri lebih tinggi darinya tanpa merasa perlu mengecilkan suara.

“Kita bicara di sini,” ulangku.

Tatapannya bergerak dari wajahku ke buku abu-abu di tanganku. Ia tidak mencoba mengambilnya atau mendekat. Sikap tenangnya justru membuat amarahku semakin sulit kutahan.

“Kamu sudah membacanya sampai mana?” tanyanya.

Aku mendengus pelan. “Itu pertanyaan pertamamu?”

“Aku perlu tahu apa yang sudah kamu lihat.”

“Supaya kamu bisa memilih kebohongan yang sesuai?”

Rendra merapatkan bibir sebentar. “Supaya aku tidak menjelaskan sesuatu yang belum kamu tanyakan.”

“Itu sama saja.”

“Tidak.”

“Buatku sama.”

Aku membuka buku itu pada halaman yang sudah kutandai dengan sobekan kertas. Lampu teras jatuh tepat di atas nama Tara.

“Tara Savitri. Pembayaran setiap bulan. Kode TEMANI.” Aku mencari matanya. “Benar?”

“Benar.”

Ia tidak menyangkal atau mencoba menyebutnya salah paham.

Jawaban jujur yang datang terlalu cepat ternyata bisa terasa lebih kejam daripada kebohongan.

“Kamu membayar sahabatku.”

“Aku meneruskan pembayaran yang sudah ada, lalu mengubah beberapa ketentuannya.”

“Meneruskan dari siapa?”

Rendra diam.

Aku mengangguk pelan. “Baik. Kita baru satu nama dan kamu sudah mulai memilih bagian mana yang boleh kuketahui.”

“Ada hal-hal yang bukan hanya milikku untuk diceritakan.”

“Hidupku ada di dalam buku ini. Jangan bilang itu bukan milikku.”

Ia menaiki satu anak tangga, lalu berhenti ketika aku mundur.

Gerakan itu kecil. Rendra melihatnya. Wajahnya tidak berubah, hanya kedua tangannya turun ke sisi tubuh, terbuka dan kosong.

“Aku tidak akan mengambil bukunya,” katanya.

“Kamu berharap aku berterima kasih?”

“Tidak.”

“Bagus.”

Aku duduk lagi karena lututku mulai lemas. Bukan untuk menenangkan percakapan. Buku itu terasa lebih berat daripada ketika Tara memberikannya.

Rendra tetap berdiri di tangga.

Aku membuka halaman berikutnya.

Dr. Mira Handayani — LAPOR.

Nama itu membuat tenggorokanku mengering.

Aku mulai menemui Dr. Mira dua tahun setelah Ibu meninggal. Rendra yang merekomendasikannya, tetapi aku sendiri yang memutuskan datang. Setidaknya, sampai malam ini aku percaya begitu.

“Dr. Mira juga kamu bayar?”

Rendra membiarkan pertanyaanku menggantung.

“Jawab.”

“Ada pembayaran dari yayasan.”

“Yayasan keluargamu.”

“Iya.”

“Untuk melaporkan apa?”

“Risiko keselamatan.”

“Risiko menurut siapa?”

“Awalnya menurut penilaian profesionalnya.”

“Awalnya?”

Rendra menatapku tanpa berkedip. “Aku tidak akan menjelaskan batas laporan itu di teras.”

Aku menutup buku dengan keras. “Kamu masih mencoba memindahkan percakapan ke tempat yang kamu inginkan.”

“Karena pembicaraan tentang psikologmu tidak seharusnya didengar penjaga kompleks.”

Aku menoleh ke arah gerbang. Pos keamanan berada cukup jauh. Tidak ada orang di sekitar kami.

Masuk akal.

Aku benci bahwa sebagian kalimatnya selalu masuk akal.

“Kita pindah ke taman samping,” kataku. “Bukan ke dalam rumah.”

Rendra menerima tanpa berdebat.

Kami berjalan memutari rumah dengan jarak beberapa langkah. Taman samping tidak besar. Ada dua kursi rotan di bawah pohon kamboja dan meja rendah yang jarang digunakan. Lampu dinding menyala otomatis ketika kami datang.

Aku memilih kursi yang menghadap pintu keluar taman. Rendra duduk di seberang setelah menunggu sampai aku lebih dahulu mengambil tempat.

Hal-hal seperti itu dulu membuatku merasa dihormati.

Sekarang aku bertanya-tanya berapa banyak sikap baiknya yang memang lahir dari cinta dan berapa banyak yang dipelajari agar aku selalu merasa aman di dekatnya.

Aku membuka buku lagi.

Gilang Adiputra — JEMPUT.

“Gilang?”

“Iya.”

“Dia juga dibayar khusus untukku?”

“Dia bekerja untukku.”

“Jangan bermain kata.”

Rendra mengusap rahangnya. “Tugas awalnya menjemputmu dalam keadaan darurat.”

“Tugas awal?”

“Setelah kita menikah, aku menambahkan tanggung jawab lain.”

“Seperti melaporkan aku pergi ke mana?”

Ia membiarkan pertanyaan itu lewat.

Itu sudah cukup.

Aku mengingat setiap kali Gilang muncul sebelum aku sempat memesan kendaraan. Setiap kali hujan turun dan mobil sudah menunggu di depan kantor. Setiap kali Rendra menelepon beberapa menit setelah aku mengubah rencana.

Selama ini aku menyebutnya perhatian.

Ternyata perhatian itu punya jadwal kerja.

Aku membalik halaman dengan jari yang mulai dingin.

Nama pemilik apartemen lamaku tercatat di sana. Bu Ratna, perempuan yang memberiku harga sewa murah ketika aku baru merintis kantor. Kodenya PINDAHKAN.

“Bu Ratna menerima uang darimu?”

“Tidak langsung dariku.”

“Dari perusahaanmu?”

“Dari rekening yang berada dalam pengelolaanku.”

“Kamu sengaja membuatku tinggal di apartemen itu?”

“Apartemen itu memiliki keamanan lebih baik daripada tempat yang kamu pilih sebelumnya.”

“Aku tidak bertanya apakah tempatnya lebih baik.”

Rendra menunduk sebentar. “Iya.”

Satu kata itu mengubah kenangan tentang kamar sempit dengan jendela menghadap jalan menjadi sesuatu yang asing.

Aku masih ingat hari ketika Bu Ratna menelepon dan berkata unit tersebut baru kosong. Aku mengira aku beruntung. Lokasinya dekat kantor pertama Ruang Tengah. Harganya berada di bawah pasar. Dari tempat itulah aku mengenal lingkungan baru, mendapat klien lebih banyak, dan akhirnya bertemu Rendra dalam seminar yang diadakan dua gedung dari apartemen.

Tatapanku tetap padanya.

“Kapan semua ini dimulai?”

Rendra menyandarkan kedua siku ke lutut. “Sebelum kita menikah.”

“Berapa lama sebelum kita menikah?”

Ia tidak menjawab.

Aku kembali ke bagian awal buku. Tanggal-tanggal lama tersusun tanpa belas kasihan.

Empat tahun pernikahan kami.

Pembayaran pertama kepada Bu Ratna tercatat tujuh tahun lalu.

Tiga tahun sebelum aku menjadi istrinya.

Dua tahun sebelum Rendra mengaku pertama kali melihatku di seminar.

Aku menggeser halaman.

Ada nama Naufal Haris, klien pertama yang membuat Ruang Tengah dibicarakan media. Lelaki yang datang dengan kasus rumit mengenai kakaknya, lalu merekomendasikanku kepada beberapa keluarga lain setelah mediasi selesai.

Kode di samping namanya adalah PERCAYA.

“Jangan,” kata Rendra.

Aku mengangkat kepala. “Jangan apa?”

“Jangan menyimpulkan seluruh kariermu dibeli hanya dari satu baris.”

“Kalau kamu ingin aku tidak menyimpulkan, jelaskan.”

“Naufal benar-benar membutuhkan mediator. Hasil pekerjaannya nyata. Kemampuanmu juga nyata.”

“Tapi dia diarahkan kepadaku.”

“Iya.”

“Dan dibayar.”

“Iya.”

Suara itu keluar lebih pelan, tetapi tetap jelas.

Aku menunduk.

Klien pertama. Kantor pertama. Apartemen pertama yang sanggup kubayar. Psikolog yang membantuku melewati kematian Ibu. Sahabat yang tahu setiap kelemahanku. Pengemudi yang selalu datang tepat waktu.

Orang-orang terdekatku tidak berdiri mengelilingiku karena kebetulan.

Mereka ditempatkan.

“Apa ada satu hal dalam hidupku yang tidak kamu sentuh?” tanyaku.

Rendra menatapku lama. “Perasaan mereka kepadamu.”

“Itu bukan milikmu untuk dijadikan jawaban.”

“Aku tidak membayar siapa pun untuk mencintaimu.”

“Tapi kamu membayar mereka untuk tinggal.”

Rendra tidak menyangkalnya.

Angin malam menggeser beberapa helai rambut ke wajahku. Biasanya ia akan mengangkat tangan untuk menyingkirkannya. Kali ini tangannya tetap berada di atas lutut.

Aku kembali melihat tanggal-tanggal di buku.

“Pembayaran ini sudah ada sebelum kita bertemu,” kataku. “Jadi, kamu berbohong ketika bilang kamu melihatku pertama kali di seminar.”

“Aku melihatmu sebelumnya.”

“Di mana?”

“Dari berkas.”

Jawaban itu membuatku menatapnya tajam.

“Berkas apa?”

“Bukan malam ini.”

Aku berdiri. “Kamu tidak punya hak menentukan kapan.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kalau tahu, kamu akan menjawab.”

“Ada nama lain yang terlibat, Nadira.”

“Selalu ada alasan.”

“Ada orang yang sudah meninggal.”

Kalimat itu menghentikanku.

Rendra menatap buku, bukan wajahku. Ada sesuatu dalam ekspresinya yang belum pernah kulihat. Bukan rasa takut tertangkap, melainkan takut mengatakan terlalu banyak.

Aku tidak memberinya waktu untuk menyusun ulang percakapan.

Aku membalik halaman demi halaman, mencari tanggal paling lama. Beberapa nama asing lewat di depan mata. Perusahaan keamanan. Yayasan. Pengacara. Orang-orang yang belum kukenal atau mungkin pernah kutemui tanpa mengingat namanya.

Lalu sebuah halaman yang lebih tebal terselip di antara dua lembar lama.

Kertasnya berbeda. Lebih putih. Tintanya lebih baru.

Di sana hanya ada satu nama.

Rendra Kalyana.

Aku membaca tanggal di sampingnya.

Tujuh tahun lalu.

Setahun sebelum seminar tempat kami mengaku pertama kali bertemu.

Tidak ada jumlah pembayaran. Hanya nomor dokumen dan satu kata kerja yang dicetak dengan huruf kapital.

Aku mengangkat buku itu agar Rendra melihat halaman yang sama.

Wajahnya berubah.

Sedikit saja. Cukup untuk menghapus ketenangan yang dipakainya sejak tiba.

Aku menurunkan pandangan ke kata tersebut.

NIKAHI.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!