Indonesia
NovelToon NovelToon

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

1 - PERNIKAHAN TETAP BERLANGSUNG

Di bulan Januari tahun 2030, pagi itu langit Provinsi Seruni cerah tanpa awan, seolah-olah alam ikut merayakan hari besar dua keluarga bangsawan yang paling disegani di provinsi tersebut. Angin lembut mengusap puncak menara pusat yang menjulang, membawa wangi bunga serta harum suguhan yang sudah disiapkan sejak subuh.

Di beberapa sudut jalan, anak-anak berlarian sambil memungut kembang gula yang dibagikan para pelayan keluarga Wijaya.

Keluarga Wijaya dan keluarga Prasaja sama-sama bangsawan terpandang dengan pengaruh yang berimbang di kalangan masyarakat. Hari ini, kedua keluarga itu tengah merayakan pernikahan putra dan putri mereka yang telah dipertunangkan sejak kecil, dan seluruh Provinsi Seruni seakan ikut berbahagia menyambutnya.

Di sepanjang jalan dan lorong, layar-layar raksasa milik kota memutar rekaman wajah kedua mempelai secara berulang-ulang, dari pagi hingga malam, tanpa henti. Senyum yang sama diputar berkali-kali sampai orang-orang yang lewat pun hafal di luar kepala.

Dalam rekaman itu, sang perempuan tampak lembut dan manis, sedangkan sang pria tampak gagah dan tampan. Siapa pun yang menyaksikannya akan mengakui bahwa mereka adalah pasangan yang sangat serasi, seolah-olah memang ditakdirkan untuk bersama selamanya.

Upacara pernikahan digelar di balai jamuan di puncak menara pusat Provinsi Seruni, tepatnya di lantai kedelapan puluh delapan, tempat yang hanya diperbolehkan untuk perayaan paling istimewa sepanjang tahun. Balai itu mampu menampung ratusan tamu dalam satu waktu, dengan jendela kaca besar yang menghadap ke seluruh penjuru kota.

Lampu kristal mewah menggantung dari langit-langit dan berkilauan bagai bintang di malam hari, peralatan saji tersusun rapi di atas taplak putih, dan gelas-gelas yang saling bersulang silih berganti memenuhi ruangan dengan kemeriahan yang sulit dibendung.

Untuk pernikahan ini, bukan hanya bangsawan Provinsi Seruni yang berdatangan; kabarnya dua tokoh besar dari Provinsi Kedaton juga turut hadir, suatu kehormatan yang sangat jarang sekali terjadi bagi pernikahan di provinsi lain.

Dari situ tampak betapa besar perhatian yang diterima pernikahan kali ini. Nama kedua keluarga itu, Wijaya dan Prasaja, semakin terangkat di mata seluruh penjuru Cakrawala, dan hubungan mereka dianggap semakin kokoh oleh publik.

Akan tetapi, berbeda dengan riuhnya suasana balai jamuan, suasana di depan ruang pengantin justru sangat muram dan menyesakkan. Di dalam ruangan itu, waktu seakan berjalan lebih lambat daripada di luar.

---

"Rara, kabar Danendra belum ada juga?" tanya Ratih dengan cemas, menatap putrinya yang berdiri diam di depan cermin. "Jangan-jangan ia mendapat sesuatu. Bagaimana kalau Ibu pergi menemui keluarga Prasaja dan bertanya sekali lagi? Ibu tidak tahan melihatmu menunggu begini. Ibu yakin ia akan datang. Kalian sudah bersama sejak kecil, masa iya dia tega menelantarkanmu di hari penting seperti ini?"

Kirana yang mengenakan gaun pengantin putih itu menundukkan pandangan; matanya jatuh pada deretan permata yang menghiasi tepi gaunnya. Permata itu kecil, tetapi berkilau, dan untuk sesaat ia merasa sedikit pusing menatapnya.

Pada saat itu, Gelang Lentera di pergelangan tangannya tiba-tiba berbunyi. Kirana mengangkat tangan dan segera menyambung panggilan yang datang dari Danendra, tunangannya sendiri.

"Rara, maafkan aku. Kapal terbang Sekar mengalami kecelakaan di Provinsi Segara. Aku harus segera menyelamatkannya! Kau harus mengerti, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja dalam keadaan seperti itu!"

"Bukankah ada tim penyelamat yang bisa menanganinya?"

"Rara, apa maksudmu dengan perkataan seperti itu?! Mana mungkin aku berdiam diri ketika Sekar menimpa musibah seperti ini? Aku bukan orang yang tega melihatnya terluka sendirian!"

Kirana menjawab dengan tenang, tanpa sedikit pun nada terkejut di dalamnya, seolah ia sudah menduga jawaban seperti ini sejak awal. "Danendra, apa kau lupa bahwa beberapa jam lagi aku genap berusia dua puluh tahun? Jika kau tidak kembali untuk menikahiku, aku akan dijodohkan secara paksa oleh Arsip Agung. Kau mengerti maksudku, bukan?"

"Rara, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk kembali. Tak seorang pun menginginkan kecelakaan seperti ini terjadi, kau harus percaya itu."

Berusaha sekuat tenaga? Artinya, ada kemungkinan ia tidak akan kembali sama sekali.

Kirana tidak menjawab.

Sebaliknya, Danendra justru tampak tidak senang. Ia menegur dengan nada kesal, "Rara, aku tahu kau kecewa, tetapi jangan egois! Sekar adalah adikmu sendiri! Luka-lukanya parah, aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja! Sudah, cukup. Aku akan berusaha kembali. Dan satu hal lagi, jangan sekali-kali kau menghubungi ayah ibuku untuk urusan ini!"

Panggilan terputus.

Di cermin, sudut bibir sang pengantin perempuan terangkat membentuk senyuman yang dingin dan tidak ramah sama sekali.

Oh, adiknya?

Huh, justru dia yang egois?

---

Ketika Kirana berusia tiga belas tahun, kapal terbang yang ditumpanginya diserang oleh bajak langit di tengah perjalanan antarprovinsi. Beruntung, Bala Penjaga Cakrawala tiba tepat waktu dan berhasil menyelamatkan semua penumpang, termasuk ia yang saat itu sudah tak sadarkan diri.

Serangan itu terjadi begitu cepat, sebelum siapa pun sempat bereaksi, dan hampir menewaskan semua orang di dalam kapal.

Namun luka-lukanya terlalu parah. Ia terbaring dalam Peti Kaca Rembulan dan membeku selama lima tahun lamanya, menunggu tubuhnya pulih sedikit demi sedikit di dalam cairan penahan waktu itu.

Tak seorang pun tahu bahwa selama lima tahun tertidur itu, jiwa Kirana sebenarnya berkelana ke Alam Kuna, negeri yang telah lenyap lebih dari seribu tahun silam. Di sana ia belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun di zamannya sekarang, beberapa di antaranya bahkan telah hilang ditelan zaman dan tidak lagi dikenal oleh generasi saat ini.

Ketika ia terbangun, ada seorang gadis yang usianya enam bulan lebih muda di dalam keluarganya. Gadis itu diadopsi dari Provinsi Segara, konon anak dari sahabat karib ayahnya yang sudah tiada, dan diberi nama Sekar.

Sekar sangat cerdik dan pandai mengambil hati siapa pun. Bukan hanya ayahnya, Bawono, yang memperlakukannya seperti anak kandung, kedua kakak Kirana pun menjaganya seperti adik sendiri yang harus dilindungi. Ia hafal cara membuat setiap orang di rumah merasa nyaman, seolah tidak ada satu pun yang bisa menolaknya.

Kini bahkan Danendra, yang sejak kecil telah dipertunangkan dengan Kirana, kabur dari pernikahan hanya demi gadis itu, seolah-olah semua janji masa kecil tidak pernah ada artinya.

Mana mungkin ia mendapat kecelakaan tepat di momen yang paling krusial seperti ini. Semuanya terasa terlalu kebetulan untuk bisa dipercaya begitu saja.

---

"Rara..." Ratih tampak sangat khawatir. Ia menatap putrinya dengan cemas, tetapi untuk sesaat ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menghibur.

Kirana justru menenangkan ibunya. "Bu, tidak apa-apa. Pernikahan ini tetap akan dilangsungkan seperti biasa, kok."

"Seperti biasa?"

"Iya. Ibu bantu aku menemani para tamu di balai jamuan sebentar. Aku akan keluar untuk suatu keperluan."

Ratih mengejarnya beberapa langkah. "Rara, kau mau ke mana? Masih ada waktu untuk menunggu, jangan bertindak gegabah!"

Begitu pintu tertutup, sebait kalimat melayang masuk ke dalam ruangan.

"Pengantin prianya tidak ada. Aku akan Mencari pengantin pria yang baru."

Ratih berdiri mematung di balik pintu. Mulutnya setengah terbuka, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang sanggup keluar darinya.

2 - RASANYA INGIN KUUSAP

Di balik keputusan Kirana untuk menerima pinangan Danendra Prasaja, tersimpan serentetan alasan yang cukup panjang dan rumit, yang sebagian besar berkaitan erat dengan masa lalunya sendiri yang tak banyak orang ketahui.

Ia terbaring begitu lama di dalam Peti Kaca Rembulan, dan ketika akhirnya terbangun, kepalanya dibanjiri terlalu banyak kenangan dari masa-masa di Alam Kuna. Semua kenangan itu bercampur aduk, membuatnya kesulitan menyesuaikan diri, persis seperti orang yang baru menyeberangi zaman yang sama sekali berbeda.

Terlebih lagi, tubuhnya baru saja pulih dan masih terasa sangat lemah, sehingga ia belum mampu melakukan aktivitas yang berat. Dokter yang merawatnya bahkan berpesan agar ia tidak memaksakan diri berlebihan.

Selama hampir dua tahun setelah terbangun, ia nyaris tidak pernah meninggalkan kediaman Wijaya. Kegiatannya hanya berkisar di dalam rumah, berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, sesekali menyinggahi jaringan Gema untuk membaca kabar atau sekadar membuang waktu bersama pelayan yang setia menemaninya.

Setelah terbangun, ia hampir tidak pernah berhubungan dengan lawan jenis yang bukan kerabat dekatnya sendiri, dan itu pun sudah menjadi kebiasaannya sejak lama.

Terlebih lagi, Kirana dan Danendra telah dipertunangkan oleh kedua kakek mereka sejak keduanya masih kecil, jauh sebelum Kirana mengerti arti sebuah kata yang bernama cinta, bahkan sebelum ia bisa membedakan mana perasaan dan mana kewajiban.

Mereka dianggap sepadan, dan bisa dikatakan seperti sepasang kekasih yang tumbuh bersama sejak kecil. Tahun ini, keduanya bahkan sama-sama diterima di jurusan Peracikan Ramu Akademi Militer Kekaisaran, sebuah pencapaian yang membanggakan kedua keluarga.

Dengan begitu, pernikahan di antara mereka menjadi hal yang wajar-wajar saja, hampir seperti kewajiban yang tinggal dijalankan.

Kekaisaran Cakrawala memiliki aturan yang sangat tegas: setiap perempuan biasa wajib memiliki pasangan sah di usia dua puluh tahun, dan aturan itu sama sekali tidak bisa ditawar-tawar oleh siapa pun, termasuk oleh anak dari keluarga bangsawan sekalipun.

Jika tidak, Arsip Agung akan menunjuk seorang suami sebagai "hadiah ulang tahun" pada hari ia genap berusia dua puluh tahun, tepat setelah tengah malam berlalu.

Ketidakpastian penunjukan acak itu terlalu besar. Siapa yang tahu suami seperti apa yang akan ditentukan oleh Arsip Agung untuk dirinya nanti, apakah ia tampan atau tidak, baik hati atau jahat, muda atau tua, semua bergantung pada keberuntungan belaka.

Bagi Kirana, menikahi Danendra yang segalanya sudah ia kenal jauh lebih baik daripada harus menerima orang asing yang tidak dikenal sama sekali.

Namun siapa sangka, pada detik-detik terakhir menjelang pernikahan, Sekar berhasil menggunakan tipu muslihat untuk membujuk Danendra pergi, membuatnya mustahil untuk menikahi Kirana!

Kirana menghela napas panjang. Ia tahu bahwa Sekar mengingini Danendra, dan Danendra sendiri juga menyimpan perasaan kepada Sekar. Keduanya memang sudah saling menyukai, meskipun berusaha ditutup-tutupi dari orang lain.

Bukan berarti Danendra itu tak tergantikan bagi Kirana.

Namun kini tinggal beberapa jam menuju tengah malam. Dari mana ia bisa mencari pria yang menarik hatinya untuk segera dinikahi dalam waktu sesingkat itu, sementara semua tamu sedang menunggu di balai jamuan?

Apakah ia harus pasrah dan menunggu keputusan Arsip Agung yang serba tidak pasti itu?

---

Dengan perasaan enggan menyerah, Kirana melangkah menyusuri koridor panjang sambil mengangkat ujung gaunnya dengan tangan. Tiba-tiba, sesuatu yang berbulu melintas cepat di hadapan penglihatannya, nyaris membuatnya berhenti melangkah.

Ia yang mengenakan sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter itu tersentak, nyaris kehilangan keseimbangan, lalu mundur selangkah untuk menenangkan diri.

Begitu pandangannya pulih, Kirana melihat sepasang mata basah yang besar sedang menatapnya dari kejauhan, dengan sorot yang campur aduk antara bingung dan penuh harap.

Pemuda itu sangat tampan, dengan fitur wajah yang halus dan tegas, serta kulit yang begitu putih hingga nyaris tidak terlihat pori-porinya sama sekali. Bulu matanya panjang, dan wajahnya tampak begitu bersih seperti belum pernah tersentuh debu, dengan alis yang tegas namun tetap meninggalkan kesan lugu di setiap sudutnya.

Rambutnya berwarna keperakan dengan ujung yang acak-acakan, dan sepasang tanduk kecil dengan warna yang sama bergetar pelan seolah-olah ia sedang takut, persis seperti gambaran manusia naga dalam cerita rakyat yang selama ini ia dengar, sosok yang setengah manusia dan setengah binatang suci.

Hati Kirana ikut bergetar oleh pemandangan yang begitu menakjubkan itu, seolah ada sesuatu yang hangat mengalir di dadanya.

Astaga! Wajah mungilnya! Rasanya ia ingin segera mengusap dan membelai pipi itu sepuas-puasnya!

Tiba-tiba punggung kakinya terasa geli. Ia menunduk dan melihat seutas ekor naga keperakan yang halus sedang meliuk-liuk pelan di atas punggung kakinya, seolah-olah sedang menyapa dengan takzim.

Kirana bertanya, "Siapa kau?"

Manusia naga secantik ini, jika ia pernah melihatnya sebelumnya, pasti ia tidak akan pernah melupakannya seumur hidup!

Namun ia baru saja melewatkan lima tahun tidur, dan hampir dua tahun setelah terbangun, Kirana nyaris tidak mengenal satu pun lawan jenis yang bukan kerabatnya.

Pemuda besar itu memonyongkan bibirnya yang tipis lalu berkata dengan suara pelan dan sedikit canggung, "Namaku Rangga."

Hanya nama panggilan.

Meskipun pemuda besar ini benar-benar sesuai dengan selera Kirana di segala hal, prioritas utamanya saat ini adalah mencari pengganti pengantin pria yang baru saja kabur.

Urusan yang paling sulit di hadapannya, biarlah ia selesaikan terlebih dahulu sebelum memikirkan hal lain.

Kirana hendak pergi sambil mengangkat ujung gaunnya, tetapi betisnya tiba-tiba terjerat oleh ekor naga yang besar dan lentur itu.

Ia mengangkat kepala dan mendapati pemuda itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, bertanya dengan suara lirih, "Mau ke mana kau?"

Karena pihak lain begitu tampan dan menggemaskan, kesabaran Kirana pun tetap terpelihara, meskipun sebenarnya ia sedang tergesa-gesa sekali.

Ia berkata dengan lembut, "Kakak sedang buru-buru. Kakak harus mencari pria untuk dinikahi. Nanti kakak kembali ke sini menemui kamu, ya?"

"Jangan, jangan dulu." Pemuda besar itu menggigit sudut bibirnya dengan wajah yang sangat sedih dan tertekan. Matanya yang gelap berkabut air, tetapi ekor naganya tetap erat melilit pergelangan kaki Kirana, seolah takut ia akan kabur secepat kedatangannya. Semburat keperakan di ujung ekor itu berkilau redup, menambah kesan polos yang tidak bisa ia tolak. "Jangan pergi, ya?"

Kirana memegangi dadanya, dadanya yang tiba-tiba berdebar-debar tidak karuan.

Siapa yang tega pergi meninggalkan pemandangan seperti itu?

Terpaksa ia berkata setengah bercanda setengah serius, "Hei, kakak benar-benar sedang buru-buru sekarang dan sangat butuh pengantin pria. Alangkah baiknya jika kamu sudah berusia lebih dari dua puluh tahun, supaya bisa membantu kakak menyelesaikan urusan yang mendesak ini."

Mata basah Rangga yang seperti anak rusa itu langsung membelalak penuh keterkejutan.

3 - NIKAHI AKU

Rangga menggembungkan dadanya sedikit, seolah ingin terlihat lebih dewasa di depan gadis yang baru saja dikenalnya itu. "Aku... aku sudah dewasa!" Ia mengerutkan kening, tampak tengah menghitung-hitung usianya sendiri dengan susah payah, lalu akhirnya berkata dengan wajah yang sangat serius, "Seharusnya, aku sudah berumur empat puluh tahun!"

Blukutuk! Kirana nyaris tersedak oleh tawanya yang tidak tertahankan, sampai-sampai ia harus menutup mulutnya dengan telapak tangan. Rangga tampak bingung mendengar suara tawa itu, tidak mengerti apa yang membuat gadis di depannya tertawa seperti itu. Alisnya berkerut, dan sepasang tanduk kecilnya ikut bergetar.

Dengan wajah semungil dan semenggemaskan itu, ia mengaku sudah berumur empat puluh tahun? Siapa yang akan percaya dengan perkataan polos seperti itu?

"Si kecil manis, kau sedang bercanda, kan?"

Segala kesedihan Kirana akibat kaburnya Danendra seolah tersapu bersih dalam sekejap, seperti debu yang terbawa angin dan tidak pernah ada. Ia hampir lupa bahwa beberapa jam lagi ia genap berusia dua puluh tahun, karena kehadiran pemuda ini berhasil mengalihkan seluruh perhatiannya.

Ia pun menggoda pemuda itu dengan senyuman. "Kalau begitu, keluarkan Gelang Lentera milikmu. Jika usiamu sudah genap dua puluh tahun, kau bisa membantu kakak menikah. Nanti, setelah semua masalah ini selesai, kalau kau mau pergi, kau boleh pergi sesukamu."

Meskipun perceraian di Kekaisaran Cakrawala tidak semudah yang dibayangkan orang kebanyakan, tetap saja jauh lebih baik daripada dijodohkan secara acak dengan pria yang tidak diketahui rupa maupun perangainya sama sekali.

Yang terpenting, Kirana termasuk orang yang sangat mementingkan wajah. Ia tidak tahan melihat suami yang jelek. Jika kelak ia menikah dengan pria yang buruk rupa, ia bisa kehilangan nafsu makan dan tidak bisa tidur setiap malam! Ia bahkan punya kebiasaan kecil: jika melihat wajah yang terlalu buruk, ia akan merasa mual seharian dan tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun.

Dulu, ia bersedia menunjukkan kesetiaannya kepada Danendra dan menikah dengannya semata-mata karena wajah Danendra masih bisa ia toleransi.

Namun jika dibandingkan dengan Rangga yang berdiri di hadapannya ini, Danendra tidak lebih dari sekadar ubi di antara hidangan mewah!

Gelang Lentera? Rangga menunduk, menatap pergelangan tangannya sendiri, lalu menemukan Gelang Lentera yang melingkar erat di sana, seolah benda itu adalah bagian dari tubuhnya.

Namun tampaknya gelang itu sedang rusak. Ia mengutak-atiknya cukup lama sebelum akhirnya berhasil membuka tampilan pengajuan Sumpah Sejiwa di cermin gema. Meskipun ia tidak begitu memahami cara kerja gelang ini, nalurinya tetap menemukan pilihan yang tepat untuk dibuka.

"Kakak, yang ini, kan?"

Kirana mencondongkan tubuh untuk memeriksanya dari dekat. Gelang itu berwarna hitam pekat, dan ia tidak bisa menebak mereknya, tetapi teksturnya halus dan mengilap, pasti bukan barang yang murah.

Mungkin ada lapisan pengaman yang aktif, atau mungkin memang rusak, sehingga ia tidak bisa melihat hal lain. Tampilan informasi pribadi pemuda itu tampak agak kacau, tetapi untungnya kode gema untuk pengajuan sumpah masih terbaca dengan jelas. Kirana tidak terlalu memikirkan hal itu, yang terpenting kode itu utuh, karena hanya itulah yang bisa menyelamatkannya dari jodoh acak Arsip Agung.

Selama Kirana membuka catatan informasi pribadinya dan keduanya saling menautkan kode gema, itu sudah dianggap sebagai pengajuan Sumpah Sejiwa kepada Arsip Agung Kekaisaran Cakrawala.

Jika kedua pihak memenuhi segala syarat pernikahan, Arsip Agung akan mengesahkannya tanpa banyak bertanya. Prosesnya singkat, tetapi hasilnya mengikat, dan tidak seorang pun bisa membatalkannya sesuka hati.

Dan pada saat itulah, terdengar suara langkah kaki yang datang dari belakang mereka.

Kirana menoleh dan melihat dua orang perempuan tengah berjalan mendekat ke arahnya.

Yang satu lebih tua, mengenakan kebaya ungu yang anggun dan mewah, dengan perawakan yang sangat berwibawa dan sikap yang terkesan mahal.

Yang satu lagi terlihat lebih muda dan berjalan di samping perempuan berbaju ungu itu, dengan langkah yang ringan namun penuh arti, sesekali menoleh ke arah Kirana dengan sorot mata yang tidak bersahabat.

Ternyata, ibu dan kakak perempuan Danendra yang datang mencarinya.

"Kirana, kakakku belum juga datang. Nah, bagaimana dengan pernikahan ini?" Daniati mengerutkan bibirnya dengan senyum yang tampak puas dan sedikit mengejek di ujung-ujungnya. Ia memang dikenal suka mencari masalah, dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meremehkan Kirana di depan umum, terlebih di hari yang paling penting seperti ini.

Daniati memang selalu tidak menyukai Kirana yang dianggapnya anak sakit-sakitan. Dalam pandangannya, Kirana hanya terus menempel pada kakaknya dengan sikap yang sombong.

Yang lebih penting lagi, ia dan Sekar adalah sahabat karib yang sudah saling mengenal selama tujuh tahun lamanya.

Ibu Danendra sebenarnya tidak keberatan dengan pernikahan ini, lagipula hubungan kedua keluarga memang sudah dekat sejak bertahun-tahun.

Terlebih lagi, di mata Ibu Danendra, Sekar hanyalah anak angkat keluarga Wijaya, bukan darah daging sungguhan.

Bagaimana mungkin ia bisa menandingi Kirana, seorang gadis bangsawan yang pantas dan terhormat?

Ia berkata dengan nada yang sungguh-sungguh, "Rara, jika kau menunggu Danendra, ia pasti akan kembali untuk menikahimu."

Kirana menunduk dan melihat waktu yang tertera di Gelang Lentera miliknya. Saat itu sudah lewat pukul sembilan malam. Ia menatap angka di cermin gema itu lama-lama, seolah menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.

Tinggal kurang dari tiga jam menuju tengah malam, dan waktu terus berjalan tanpa ampun.

Jika Danendra benar-benar ingin kembali, seharusnya ia sudah berada di Provinsi Seruni sejak sekarang.

Namun ia tidak datang.

Kirana tersenyum dan berkata, "Bibi, pernikahan ini tetap akan dilangsungkan seperti biasa. Bibi sebaiknya kembali ke balai jamuan saja, agar para tamu tidak bertanya-tanya." Ia memilih untuk tetap tersenyum karena tidak ada gunanya bertengkar di depan orang-orang yang sedang menonton; ia jauh lebih tenang daripada yang mereka kira.

Ibu Danendra mengangguk puas. Meskipun Kirana ini kurang sehat, latar belakang keluarganya baik, perawatannya rapi, dan ia terlihat patuh serta cerdas.

Daniati menyangga ibunya, menoleh ke belakang sambil mencibir, "Kasihan sekali, aku sudah tidak tega melihat wajahmu nanti!"

Keduanya pun pergi tanpa menyadari bahwa Rangga berada di sudut koridor itu sejak tadi hingga akhir. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri sehingga melewatkan sosok di sudut yang paling penting.

Kirana mengerutkan mata, lalu berbalik. Ia mendapati Rangga masih duduk di tempatnya semula. Tadi ia menyembunyikan ekornya karena takut terlihat, dan sekarang ekor itu kembali muncul dengan gemas.

Rangga sedang dengan cermat mencoba mengaitkan ekornya ke pergelangan kaki Kirana lagi, seperti anak kecil yang sedang bermain. Ekornya bergoyang pelan, dan matanya yang besar menatap Kirana penuh harap, seolah Meminta persetujuan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!