Hujan di Provinsi Abbu tidak pernah terasa bersih. Ia turun bukan sebagai air suci yang menyucikan jiwa, melainkan sebagai tetesan tinta encer yang kelam, meninggalkan noda abu-abu pekat di setiap permukaan yang disentuhnya. Bau lembap kertas busuk dan besi berkarat menggantung tebal di udara, menusuk hidung siapa pun yang cukup bodoh untuk tetap bertahan di lembah sampah ini.
Ren Zexian menarik kerudung kain goni kasar lebih dalam ke wajahnya, melindungi matanya dari gerimis yang menyengat. Di tangannya, sebuah kuas bambu retak tergenggam erat. Ujung bulunya sudah botak, habis terkikis oleh ribuan jam pekerjaan membosankan, namun Ren memperlakukannya dengan kelembutan yang sama seperti seorang ibu memegang bayinya.
"Satu lagi," gumamnya pelan, suaranya serak karena jarang digunakan.
Di hadapannya, tergeletak tumpukan gulungan mantra sisa buangan dari Paviliun Awan di atas. Gulungan-gulungan itu dibuang karena dianggap "cacat"—gagal menampung Qi dengan stabil, atau mengandung goresan yang kurang estetis menurut standar kaum bangsawan. Bagi mereka, ini adalah sampah. Bagi Ren, ini adalah sisa-sisa kehidupan yang masih bisa diperas.
Ia mencelupkan ujung kuasnya ke dalam wadah kecil berisi cairan hitam kental—tinta daur ulang yang ia racik sendiri dari arang kayu bakar dan getah pohon besi. Dengan gerakan tangan yang hemat dan presisi, Ren mulai mengikis karakter-karakter rusak di permukaan gulungan tua. Tugasnya sederhana: menjadi Penghapus. Ia menghapus jejak kesalahan masa lalu agar kertasnya bisa digunakan kembali oleh para pelajar miskin yang tak mampu membeli perkamen baru.
Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Saat Ren mengarahkan pandangannya pada gulungan yang setengah hancur itu, dunia di sekitarnya seolah kehilangan warnanya. Bagi orang normal, gulungan itu berwarna cokelat kusam dengan tulisan emas yang memudar. Tapi bagi Ren, dunia selalu tampak hitam, putih, dan abu-abu. Ia tidak pernah melihat keindahan warna-warni Qi yang dibanggakan para Kaligrafer Agung. Ia hanya melihat struktur. Garis-garis tipis yang membentuk realitas.
Dan saat ini, matanya menangkap sesuatu yang aneh.
Di sudut kiri bawah gulungan, di balik lapisan tinta yang tebal, ada sebuah retakan. Bukan retakan fisik pada kertas, melainkan retakan pada makna kata itu sendiri. Karakter "Kekuatan" yang tertulis di sana tidak utuh. Goresan vertikalnya terputus sepersekian milimeter, menciptakan celah mikroskopis yang mengalirkan energi liar keluar seperti darah dari luka terbuka.
"Typo," bisik Ren, jiwanya merinding. "Realitas ini... bocor."
Ia tahu ia seharusnya mengabaikannya. Aturan Perpustakaan Terlarang jelas: jangan bertanya, jangan mengamati terlalu dalam, hapus saja. Tapi rasa ingin tahu—penyakit kronis yang telah menghancurkan banyak orang sebelum dirinya—mendorong jarinya untuk menyentuh celah itu.
Seketika, sebuah denyutan nyeri tajam menembus ujung jarinya. Tinta di gulungan itu mendesis, berubah menjadi asap hitam pekat yang membentuk wajah-wajah meringis sebelum lenyap ditelan hujan. Ren menarik tangannya mundur, napasnya tersengal. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena pengakuan. Ia baru saja menyentuh kebenaran yang disembunyikan oleh Dewan Langit. Dunia ini tidak sekuat yang mereka klaim. Ia sedang rapuh.
"Ren!"
Teriakan itu memecah lamunannya. Ren menoleh cepat, melihat sosok kecil berlari terhuyung-huyung melintasi genangan tinta hitam. Lin, adiknya yang berusia sepuluh tahun, wajahnya pucat pasi, mata besarnya berkaca-kaca menahan sakit.
"Lin?" Ren segera membuang kuasnya dan berlari menyambut gadis kecil itu. Ia menangkap tubuh ringkih Lin tepat sebelum gadis itu jatuh ke lumpur. Tubuh Lin terasa dingin, terlalu dingin, seperti es yang mulai mencair.
"Aku... aku lupa, Kakak," isak Lin, tangannya mencengkeram baju compang-camping Ren dengan kekuatan putus asa. "Aku lupa nama ibu. Aku mencoba mengingat wajahnya, tapi... yang ada hanya kertas kosong. Putih. Semua putih."
Darah Ren membeku. The Fade.
Kepudaran. Penyakit kutukan yang dikatakan para pendeta sebagai hukuman bagi mereka yang jiwanya kotor. Tapi Ren tahu itu bohong. Ini adalah gejala dari dunia yang kehabisan tinta. Dan Lin, adik satu-satunya yang ia miliki, yang ia lindungi dari kekejaman dunia dengan tubuhnya sendiri, kini mulai terhapus.
Rasa panas yang asing membakar dada Ren. Bukan Qi, bukan kemarahan biasa, tapi sesuatu yang lebih purba. Ia mengangkat kepala, menatap ke arah langit kelabu di mana Paviliun Awan melayang megah, jauh dari jangkauan orang-orang seperti mereka. Di sana, para Kaligrafer minum anggur dari cawan giok, tertawa sambil menulis takdir orang lain sesuka hati. Sementara di sini, di bawah, adiknya perlahan-lahan berhenti ada.
"Tidak," desis Ren, suaranya rendah namun sarat dengan ancaman yang membuat udara di sekitarnya terasa berat. "Aku tidak akan membiarkanmu hilang, Lin. Tidak hari ini. Tidak pernah."
Ia menggendong Lin dengan hati-hati, memastikan gadis kecil itu bersandar nyaman di dadanya. Langkah kakinya berat saat ia berbalik menuju gubuk reyot mereka di ujung lembah. Namun, di tengah jalan, sekelompok pria menghalangi rute pulang mereka.
Tiga orang. Preman lokal yang menyebut diri mereka "Penjaga Tinta". Mereka mengenakan jubah tiruan dari sutra murah, dengan lencana sekte palsu yang ditempel miring di dada. Pemimpinnya, seorang pria gemuk dengan wajah penuh bekas cacar, tersenyum licik sambil memainkan cambuk kulit di tangannya.
"Woi, Sampah," panggil si pemimpin, meludah ke tanah di depan kaki Ren. "Bayaran perlindungan bulan ini belum kau lunasi. Atau kau pikir karena kau bekerja untuk Perpustakaan, kau kebal?"
Ren berhenti. Ia tidak menurunkan Lin dari gendongannya. Matanya yang hampa menatap pria itu, bukan dengan ketakutan, tapi dengan analisis dingin. Ia melihat aliran Qi si preman—kacau, boros, dan penuh celah. Goresan teknik bela diri pria itu kasar, tidak memiliki fondasi. Sebuah lukisan buruk yang dipaksakan terlihat indah.
"Aku tidak punya uang," jawab Ren datar. Suaranya tidak bergetar.
"Kalau begitu, kami ambil barang ganti," kata si preman, matanya jelalatan mengarah pada kuas retak yang terselip di ikat pinggang Ren. "Kuas tua itu masih punya sedikit residu Qi kan? Serahkan, atau kami ambil paksa. Dan mungkin... kami akan 'membantu' adikmu lupa lebih cepat."
Ancaman itu menyentuh saraf paling sensitif dalam diri Ren.
Waktu seolah melambat. Ren merasakan detak jantung Lin yang lemah di dadanya. Ia merasakan dinginnya hujan. Dan ia melihat celah itu. Bukan hanya pada gulungan tadi, tapi pada stance kuda-kuda si preman. Ada celah selebar rambut di antara kaki kiri pria itu, titik di mana keseimbangannya bergantung sepenuhnya pada ego, bukan pada struktur tulang.
Ren tidak berpikir. Ia bertindak.
Dengan tangan kanan yang masih menggendong Lin, tangan kirinya bergerak cepat meraih kuas retaknya. Ia tidak membutuhkan tinta. Ia menggunakan sisa energi vitalnya sendiri, darah yang mengalir di meridiannya yang terbalik, sebagai medium.
Di udara, Ren menggoreskan satu karakter sederhana. Bukan karakter "Api" atau "Angin" yang umum digunakan para pemula. Ia menulis karakter "Hapus" dalam dialek kuno yang telah dilarang selama seratus tahun.
Goresan itu tidak indah. Itu kasar, patah-patah, dan gelap seperti lubang tanpa dasar.
"Xiao." (Hilang)
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada cahaya menyilaukan. Hanya suara desis halus, seperti kertas yang disobek perlahan.
Cambuk di tangan si preman tiba-tiba kehilangan wujudnya. Bukan patah, bukan terbakar, tapi terhapus. Dari pegangan hingga ujungnya, cambuk itu berubah menjadi debu abu-abu yang hanyut terbawa angin. Si preman terbelalak, matanya membelot keluar karena ketidakpercayaan. Ia mencoba menyerang dengan tinjunya, namun Ren hanya melangkah satu kali ke samping, menghindari serangan itu dengan efisiensi minimum, lalu menempelkan ujung kuasnya ke pergelangan tangan pria itu.
Goresan kedua. Lebih cepat. Lebih kejam.
Jari-jari tangan si preman menghilang. Digantikan oleh kehampaan putih yang mengerikan. Pria itu menjerit, bukan karena sakit fisik semata, tapi karena horor eksistensial melihat bagian dari dirinya tidak lagi ada di dunia ini. Dua anak buahnya panik, mundur dengan wajah pucat pasi, melihat Ren bukan sebagai manusia, tapi sebagai monster.
"Bawa dia pergi," perintah Ren dingin, matanya menatap tajam ke arah dua preman lainnya. "Dan katakan pada tuan kalian. Jika satu tetes hujan saja menyentuh adikku karena kelalaian kalian, aku akan datang ke rumah kalian. Dan aku tidak akan hanya menghapus jari kalian."
Para preman itu lari. Mereka lari tanpa menoleh, meninggalkan pemimpin mereka yang meringkuk kesakitan, memegangi tangan yang terluka parah.
Ren tidak merasa puas. Ia tidak merasa bangga. Ia hanya merasa lelah. Sangat lelah.
Ia menatap kuas di tangannya, yang kini mengeluarkan asap tipis berwarna hitam. Teknik terlarang. Kutukan. Ia tahu ia baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Tapi saat ia menunduk dan melihat wajah Lin yang tertidur gelisah di pelukannya, Ren tahu ia tidak punya pilihan.
Dunia ini adalah lukisan yang salah. Dan jika tidak ada yang berani membersihkannya, maka Ren Zexian akan menjadi noda yang merobeknya dari dalam.
Dengan langkah mantap, ia menerobos hujan tinta, membawa adiknya menuju kehangatan gubuk mereka, sementara di kejauhan, langit di atas Paviliun Awan bergemuruh pelan, seolah menyadari bahwa seorang penulis baru telah lahir. Seorang penulis yang tidak bermaksud menciptakan keindahan, tetapi kebenaran.
Gubuk itu lebih mirip tumpukan sampah yang dipaksa berdiri tegak daripada tempat tinggal. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu kering yang telah dimakan rayap waktu, ditutupi lapisan kertas mantra bekas yang menguning dan rapuh. Atapnya bocor di tiga titik berbeda, membiarkan hujan tinta masuk dan menetes ke dalam ember-ember keramik retak yang diletakkan Ren di lantai tanah.
Suara tetesan air—tik, tik, tik—adalah satu-satunya musik yang menemani malam itu.
Ren duduk bersila di sudut ruangan, tubuhnya masih menggigil meski ia telah membungkus diri dengan selimut wol kasar. Di pangkuannya, Lin tertidur lelap, napasnya dangkal namun teratur. Wajah gadis kecil itu tampak damai, jauh dari rasa sakit yang tadi menyiksanya. Ren menatap adik perempuannya dengan tatapan lembut, jari-jarinya yang kotor dan penuh noda tinta perlahan mengelus rambut Lin yang kusut. Ia membersihkan sehelai daun kering yang tersangkut di sana dengan kelembutan seorang pemahat yang menangani kristal paling rapuh.
"Maafkan Kakak," bisik Ren, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru hujan. "Kakak terlalu lemah."
Rasa bersalah itu seperti batu berat di dadanya, lebih berat daripada rasa nyeri di tangannya. Ia menunduk, memandang tangan kirinya. Pergelangan tangannya membengkak, kulitnya melepuh hitam di sekitar urat nadi. Itu adalah harga yang harus dibayar untuk menggunakan teknik "Xiao". Menggunakan Qi tubuh sendiri sebagai tinta tanpa wadah atau kuas yang layak adalah tindakan bunuh diri bagi praktisi tingkat rendah. Meridiannya terasa seperti terbakar oleh asam, setiap denyut nadi mengirimkan gelombang nyeri tajam ke seluruh tubuhnya.
Tapi ia tidak menyesal. Tidak sedikit pun.
Jika pilihan yang ada adalah kehilangan jari preman itu atau kehilangan ingatan Lin tentang ibu mereka, Ren akan memilih seribu kali lagi untuk menghapus keberadaan orang lain. Dunia mungkin menganggapnya monster karena teknik terlarang itu, tapi bagi Ren, itu hanyalah alat. Alat untuk melindungi satu-satunya hal yang masih membuatnya merasa manusia.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan aliran Qi yang kacau di dalam tubuhnya. Sesuai Kitab Suci yang ia pelajari secara diam-diam dari buku-buku buangan, ia harus menstabilkan energi sebelum fajar tiba. Jika tidak, racun tinta akan menyebar ke jantungnya.
Ren menutup matanya. Dalam kegelapan kelopak matanya, dunia berubah.
Tidak ada warna. Tidak ada cahaya matahari atau bulan. Hanya garis-garis putih tipis yang membentuk kerangka segala sesuatu. Ia melihat dinding gubuk bukan sebagai bambu, melainkan sebagai kumpulan garis vertikal dan horizontal yang saling mengunci. Ia melihat udara bukan sebagai ruang kosong, melainkan sebagai jaring halus yang bergetar. Dan di dalam tubuhnya, ia melihat meridiannya sendiri—jalur-jalur energi yang seharusnya mengalir lancar seperti sungai, kini tersumbat oleh gumpalan-gumpalan hitam pekat, seperti tinta kental yang membeku.
"Ini bukan kerusakan," gumam Ren dalam hati, mengamati struktur sumbatan itu dengan Mata Void-nya. "Ini adalah... penolakan."
Tubuhnya menolak Qi standar karena jalurnya terbalik. Orang lain menyerap Qi dari langit dan bumi untuk mengisi cangkir jiwa mereka. Ren? Cangkirnya bocor di dasar. Setiap kali ia mencoba mengisi, energinya keluar lagi. Itulah sebabnya ia selalu dianggap sampah. Tapi malam ini, saat ia menggunakan teknik penghapusan, ia menyadari sesuatu. Ia tidak perlu mengisi cangkir. Ia perlu mengubah bentuk cangkir itu sendiri.
Alih-alih memaksa Qi mengalir, Ren membayangkan dirinya sebagai penghapus. Ia tidak mendorong energi ke depan, ia menarik kekacauan itu ke dalam, lalu "menghapus" sifat liar dari energi tersebut hingga menjadi hampa. Perlahan, rasa panas di lengannya mereda. Nyeri itu tidak hilang sepenuhnya, tapi berubah menjadi dingin yang tajam dan terkendali.
Ketika Ren membuka matanya kembali, hujan di luar sudah mulai reda. Langit di atas Lembah Abbu masih kelabu, tetapi ada celah tipis di mana cahaya pucat fajar mulai menyusup masuk.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan keras di pintu bambu.
BAM! BAM! BAM!
Lin terbangun, matanya membelalak ketakutan. "Kakak?"
Ren segera meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat diam. Ekspresi lembutnya lenyap seketika, digantikan oleh kewaspadaan dingin. Ia bangkit perlahan, memastikan Lin tetap tertutup selimut, lalu melangkah menuju pintu. Ia tidak mengambil senjatanya—kuasnya masih tergeletak di meja kayu—tapi ia siap. Tubuhnya tegang, siap untuk bergerak atau menyerang jika diperlukan.
"Siapa?" tanya Ren, suaranya datar namun berwibawa.
"Buka, Zexian!" Suara itu berat dan akrab. Bukan suara preman, tapi juga bukan suara teman. Itu suara Tuan Hao, kepala penjaga gerbang lembah, seorang pria paruh baya yang dikenal karena keserakahannya dan kebenciannya pada para pemulung.
Ren membuka pintu sedikit saja, cukup untuk memperlihatkan separuh wajahnya. Di luar, Tuan Hao berdiri bersama dua anak buahnya, mengenakan seragam kulit tebal yang basah kuyup. Wajah Hao merah padam, matanya menyipit curiga.
"Aku mendengar keributan tadi malam," kata Hao, mendobrak masuk tanpa menunggu undangan. Matanya menyapu ruangan sempit itu, mencari sesuatu. "Ada laporan tentang penggunaan sihir gelap di sektor ini. Energi negatif yang sangat kuat. Seperti... penghapusan."
Jantung Ren berdegup sekali, keras, tapi wajahnya tetap datar seperti topeng. "Saya hanya membersihkan gulungan tua, Tuan Hao. Anda tahu bagaimana kertas-kertas lama itu kadang mengeluarkan sisa Qi saat dihancurkan."
Hao menatapnya tajam, hidungnya berkerut seolah mencium bau darah. Ia melangkah mendekati Ren, mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang besar. "Jangan bermain bodoh denganku, anak haram. Aku tahu kau menemukan sesuatu di Perpustakaan. Aku melihatmu membawa pulang gulungan hitam kemarin sore."
Ren merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, tapi ia tidak mundur. "Itu sampah, Tuan. Saya berniat membuangnya."
"Kita lihat saja." Hao menggeser Ren dengan kasar, lalu mulai mengacak-acak tumpukan gulungan di sudut ruangan. Ia melemparkan kertas-kertas itu sembarangan, merusak kerja keras Ren selama berhari-hari. Lin meringkuk di sudut, matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak berani bersuara.
Hampir sepuluh menit Hao menggeledah ruangan itu. Tidak ada yang ditemukan. Gulungan berisi teknik "Xiao" itu telah Ren bakar habis di tungku kecilnya sesaat setelah ia pulang, abunya telah ia buang ke sungai tinta. Yang tersisa hanyalah abu dan kenangan.
Hao berhenti, napasnya berat. Ia menatap Ren dengan kebencian murni. "Kau beruntung hari ini, Zexian. Tapi ingat, mata kami selalu awas. Jika ada satu tanda lagi... kau dan adik kecilmu akan kami usir ke Hutan Bayangan. Dan kau tahu apa yang terjadi di sana."
Ancaman itu nyata. Hutan Bayangan adalah tempat pembuangan akhir, di mana makhluk-makhluk tinta liar yang gagal berevolusi berkeliaran. Manusia yang masuk ke sana jarang keluar utuh.
"Tentu, Tuan Hao," jawab Ren dengan kepala tertunduk, menyembunyikan kilatan dingin di matanya yang hampa. "Terima kasih atas peringatan Anda."
Hao meludah ke lantai, lalu berbalik pergi bersama anak buahnya, meninggalkan kekacauan di dalam gubuk kecil itu.
Setelah langkah kaki mereka menjauh, Ren menutup pintu dan menguncinya. Ia menghela napas panjang, bahunya merosot lelah. Ia berjalan ke arah Lin, yang kini gemetar hebat.
"Mereka... mereka akan mengambilku, Kak?" tanya Lin dengan suara kecil.
Ren berlutut di hadapan adiknya, memegang kedua tangan gadis itu yang dingin. Ia menatap lurus ke dalam mata Lin, memastikan gadis itu melihat keteguhan di wajahnya.
"Dengarkan Kakak, Lin," kata Ren, suaranya rendah namun tegas, seperti sumpah yang diukir di batu. "Tidak ada siapa pun di dunia ini—baik manusia, dewa, maupun monster—yang akan mengambilmu dariku. Sebelum mereka bisa menyentuhmu, aku akan memastikan nama mereka terhapus dari sejarah."
Lin menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Kepercayaan di matanya adalah bahan bakar yang membuat api di dada Ren terus menyala.
Ren bangkit, lalu mulai membereskan kekacauan yang ditinggalkan Hao. Ia memunguti gulungan-gulungan yang berserakan, membersihkannya dengan hati-hati. Saat ia memunguti sebuah potongan kertas yang sobek, ia menyadari sesuatu. Di balik tumpukan sampah yang diacak-acak Hao, tersembunyi sebuah amplop kecil berwarna perak, terjepit di antara celah dinding bambu.
Benda itu tidak terlihat sebelumnya. Amplop itu bersih, terlalu bersih untuk tempat seburuk ini. Dan yang lebih mengejutkan, amplop itu tidak basah, meskipun hujan telah menerpa atap gubuk semalaman.
Ren mengambilnya dengan hati-hati. Tidak ada nama pengirim. Hanya sebuah simbol tersegel di bagian belakang: gambar kuas yang patah, dikelilingi oleh lingkaran tinta yang retak.
Simbol yang sama persis dengan kuas yang ia temukan di perpustakaan kemarin.
Jari-jari Ren gemetar saat ia membuka segel itu. Di dalamnya, hanya ada selembar kertas tipis dengan satu kalimat yang ditulis dengan tinta emas yang masih berkilau:
"Jika kau bisa melihat retakan, maka kau siap membaca halaman berikutnya. Datanglah ke Gerbang Utara saat bulan purnama. Bawa kuasmu. Jangan ikuti siapa pun."
Ren menatap tulisan itu, lalu menoleh ke jendela kecil di mana bulan sabit pucat mulai muncul di balik awan kelabu. Bulan purnama masih tiga hari lagi.
Seseorang tahu. Seseorang mengetahui apa yang ia lakukan malam ini. Seseorang mengetahui kekuatan "Mata Void" miliknya.
Apakah ini jebakan? Atau ini harapan?
Ren menggenggam kertas itu erat-erat hingga kertasnya berkerut. Ia tidak punya pilihan. Untuk menyelamatkan Lin dari The Fade, ia membutuhkan jawaban. Ia membutuhkan kekuatan yang lebih besar daripada sekadar trik penghapusan amatir. Ia perlu tahu siapa yang menulis dunia ini, dan mengapa dunia ini begitu rusak.
Ia menoleh ke Lin, yang kini sudah tertidur lagi karena kelelahan emosional. Ren tersenyum tipis, senyuman yang penuh tekad dan bahaya.
"Siapkan dirimu, dunia," bisiknya pada keheningan gubuk. "Penulis barumu sudah mulai membaca."
Di luar, angin berhembus kencang, membawa aroma tinta basah dan janji akan badai yang lebih besar.
Tiga hari berikutnya berlalu dengan kecepatan yang menyiksa, seperti tetesan air yang jatuh dari ujung jarum. Bagi Ren Zexian, waktu bukan lagi sekadar ukuran jam atau matahari, melainkan hitungan mundur menuju sesuatu yang ia tidak sepenuhnya pahami, namun sangat ia butuhkan.
Ia menghabiskan hari-hari itu dengan rutinitas ganda. Di siang hari, ia tetap menjadi Ren si Pemulung, kepala tertunduk, tangan kotor, mengumpulkan sisa-sisa tinta dari tempat pembuangan dekat Gerbang Timur. Ia mendengarkan gosip para pekerja lain tentang kenaikan harga pil Qi dan ketegangan antara Klan Kaligrafi Naga dan Klan Phoenix. Ia tersenyum tipis, mengangguk sopan, dan menjadi bagian dari latar belakang yang tak terlihat. Itu adalah pertahanan terbaiknya: menjadi biasa. Menjadi membosankan.
Namun, di malam hari, ketika Lin tertidur lelap dan hujan tinta reda menjadi gerimis halus, Ren berubah.
Di dalam gubuk sempit mereka, dengan pintu terkunci rapat dan jendela ditutup kain tebal, Ren berlatih. Bukan teknik bela diri standar yang diajarkan di akademi-akademi elit—teknik yang membutuhkan postur sempurna dan aliran Qi yang harmonis. Ren tidak punya kemewahan itu. Meridiannya yang terbalik membuatnya muntah darah setiap kali ia mencoba meniru gerakan dasar "Aliran Sungai Tenang".
Sebaliknya, ia bereksperimen dengan kecacatannya.
Ia duduk bersila di atas lantai tanah dingin, mata tertutup, membiarkan Mata Void-nya melihat ke dalam. Ia tidak mencoba mengisi cangkir jiwanya. Ia mencoba memperlebar retakan di dasarnya. Dengan kuas patahnya, ia menggoreskan karakter-karakter kecil di udara: "Pecah", "Retak", "Hampa". Setiap goresan memakan energi vitalnya, membuat kulitnya semakin pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya semakin dalam. Tapi setiap kali ia berhasil "menghapus" sepotong kecil rasa sakit atau kelelahan dari tubuhnya, ia merasa lebih ringan. Lebih tajam.
Ia belajar bahwa kekuatan penghapusan bukan tentang menghancurkan, tapi tentang mengembalikan sesuatu ke keadaan sebelum ia "ditulis". Jika luka adalah tulisan kesalahan pada daging, maka penghapusan adalah mengembalikannya menjadi kulit utuh. Jika ketakutan adalah tinta yang mengotori pikiran, maka penghapusan adalah membersihkannya menjadi keheningan.
Ini adalah seni yang berbahaya. Satu kesalahan kecil, dan ia bisa menghapus ingatannya sendiri, atau worse, menghapus keberadaannya secara permanen. Tapi Ren tidak takut. Ketakutan adalah kemewahan bagi orang yang masih memiliki masa depan. Baginya, masa depan adalah barang mewah yang harus direbut paksa.
Malam bulan purnama tiba.
Langit di atas Provinsi Abbu jarang sekali cerah. Awan tinta biasanya menutupi bulan, mengubahnya menjadi bola cahaya redup yang suram. Tapi malam ini, awan-awan itu tersibak, seolah-olah ada tangan raksasa yang membelahnya. Bulan purnama menggantung rendah, besar, dan berwarna kuning pucat, cahayanya memantul di genangan-genangan tinta hitam di jalanan lembah, menciptakan ilusi jalan perak yang retak.
Ren mengenakan jubah gelapnya yang paling tidak mencolok. Ia menyembunyikan kuas patahnya di dalam lengan bajunya. Di saku dalamnya, amplop perak itu terasa hangat, seolah-olah memiliki denyut nadi sendiri.
"Jaga dirimu, Lin," bisiknya pada gadis kecil yang tidur di balik selimut tebal. Ia meninggalkan sedikit uang tembaga—hasil jual tiga gulungan mantra grade rendah—di bawah bantal Lin, cukup untuk membeli roti dan obat pereda nyeri jika ia tidak kembali besok pagi.
Dengan langkah hening, Ren menyusuri gang-gang sempit Lembah Abbu. Ia menghindari patroli Penjaga Tinta, bergerak melalui bayangan-bayangan dinding yang panjang. Ia tahu jalur tikus ini seperti telapak tangannya sendiri; setiap celah, setiap tumpukan sampah, setiap atap yang rapuh.
Gerbang Utara terletak di tepi lembah, tempat tanah mulai mendaki curam menuju jembatan gantung yang menghubungkan Provinsi Abbu dengan Provinsi Langit di atasnya. Daerah ini sepi, diterpa angin kencang yang membawa aroma ozon dan... sesuatu yang lain. Aroma kertas baru. Aroma tinta mahal.
Saat Ren mencapai area terbuka di depan gerbang tua yang sudah tidak digunakan itu, ia berhenti. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya angin yang menderu dan bayangan bulan yang memanjang.
Apakah ini jebakan? Pikiran itu melintas sekilas, tapi Ren menepisnya. Ia sudah terlalu jauh untuk mundur.
"Tunjukkan dirimu," kata Ren, suaranya terbawa angin.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan.
Ren mengerutkan kening. Ia melangkah maju, memasuki lingkaran cahaya bulan di tengah lapangan berbatu. Saat kakinya menyentuh batu tengah, udara di sekitarnya bergetar. Tiba-tiba, dari balik bayangan tiang gerbang yang runtuh, sesosok figur muncul.
Bukan monster. Bukan preman.
Seorang pria tua.
Ia mengenakan jubah sederhana berwarna abu-abu, terbuat dari kain linen kasar yang mirip dengan baju Ren, namun potongannya jauh lebih elegan dan kuno. Rambutnya putih seperti salju, diikat longgar dengan tali rami. Wajahnya penuh kerutan, seperti peta dunia yang telah dilipat ribuan kali, tetapi matanya... matanya jernih, tajam, dan berwarna hitam pekat tanpa dasar.
Di tangannya, ia memegang sebuah kuas. Bukan kuas emas berhiaskan permata,也不是 kuas bambu retak. Itu adalah kuas kayu hitam polos, tanpa hiasan, yang tampak sangat biasa. Namun, aura yang dipancarkannya membuat udara di sekitar Ren terasa berat, seolah-olah gravitasi telah meningkat dua kali lipat.
Ren segera mengambil sikap defensif, tangannya siap meraih kuasnya. "Siapa kau?"
Pria tua itu tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Ren, pandangannya menyelidik, seolah-olah sedang membaca buku yang terbuka di hadapan wajahnya.
"Kau menggunakan teknik Xiao," kata pria itu akhirnya. Suaranya serak, seperti gesekan batu kering. "Teknik yang telah dilarang sejak Era Kaligrafer Pertama. Teknik yang memakan jiwa penggunanya sebagai tinta."
Ren menegang. "Aku tidak punya pilihan."
"Pilihan selalu ada, anak muda," balas pria tua itu, langkahnya pelan mendekati Ren. "Kau memilih jalan yang paling menyakitkan karena kau marah. Dan kemarahanmu... itu indah. Tapi juga bodoh."
Ren menggeram. "Jangan menghina aku, Tuan Tua. Jika kau di sini untuk menangkapku, lakukan saja. Tapi ketahuilah, aku akan menghapus setidaknya separuh wujudmu sebelum aku jatuh."
Pria tua itu tertawa pendek, suara yang kering dan tanpa humor. "Menarik. Sangat menarik. Kau bahkan tidak tahu siapa aku, tapi kau sudah siap bertarung sampai mati. Itu sifat seorang Penulis Sejati. Bukan mereka yang menulis untuk pujian, tapi mereka yang menulis karena mereka harus."
Ia berhenti beberapa meter di depan Ren. "Namaku Master Wei. Dulu, aku adalah Kepala Pengarsip di Perpustakaan Langit. Sekarang? Aku hanyalah hantu yang tersisa di antara baris-baris kalimat yang terlupakan."
Ren menurunkan kewaspadaannya sedikit, meski otot-ototnya masih tegang. "Master Wei... Nama itu tidak ada dalam catatan sejarah manapun yang pernah kubaca."
"Tentu saja tidak," kata Wei, senyum tipis muncul di bibirnya. "Karena kami adalah mereka yang dihapus. Kami adalah para penulis yang menolak menulis kebohongan Dewan Langit. Kami adalah tinta yang dibuang agar lukisan dunia tetap terlihat 'sempurna'."
Wei mengangkat kuasnya, menunjukkannya ke arah Ren. "Kau memiliki Mata Void, anak muda. Kau melihat retakan di dunia. Tapi melihat saja tidak cukup. Kau harus tahu cara menambalnya. Atau lebih baik lagi... cara menulis ulang."
"Apa maksudmu?" tanya Ren, jantungnya berdegup kencang.
"Dewan Langit sedang menyembunyikan sesuatu," kata Wei, suaranya menjadi serius, hampir berbisik. "The Fade bukan bencana alam. Itu adalah hasil dari 'Penyuntingan Besar'. Mereka sedang menghapus provinsi-provinsi bawah, mengorbankan ribuan nyawa seperti kalian, untuk mengumpulkan Tinta Jiwa Murni bagi kaum elit di atas. Mereka menulis ulang realitas agar hanya mereka yang abadi."
Darah Ren membeku. Kata-kata itu confirmasi dari ketakutan terbesarnya. Lin tidak sakit karena kutukan. Lin sakit karena dunia sedang dimakan oleh keserakahan orang-orang di atas.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Ren, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan.
"Aku ingin mengajarkanmu cara bertahan hidup," jawab Wei. "Dan cara melawan. Tapi harganya mahal. Kau harus meninggalkan identitas lamamu. Kau harus menjadi muridku, dan dalam prosesnya, kau akan menghadapi hal-hal yang akan menguji kemanusiaanmu. Apakah kau siap?"
Ren menatap bulan purnama di atas, lalu menoleh ke arah lembah gelap di mana Lin tidur. Ia memikirkan preman yang kehilangan jari, memikirkan Hao yang arogan, memikirkan tatapan kosong Lin saat ia lupa nama ibu mereka.
Ia tidak ragu.
"Ajarilah aku," kata Ren, suaranya tegas seperti besi. "Ajarilah aku bagaimana cara menghapus kebohongan mereka."
Master Wei mengangguk perlahan. Ia melemparkan sebuah gulungan kecil ke kaki Ren. Gulungan itu terbuat dari kulit hitam, diikat dengan tali merah darah.
"Baca ini. Hafalkan setiap goresannya. Besok malam, temui aku di Reruntuhan Kuil Tinta. Jangan datang jika kau masih ragu. Karena sekali kau masuk ke jalan ini, tidak ada kata 'penghapusan' untuk dirimu sendiri."
Tanpa menunggu jawaban, tubuh Master Wei seolah larut ke dalam bayangan, menghilang begitu saja, meninggalkan Ren sendirian di bawah cahaya bulan yang dingin.
Ren memungut gulungan hitam itu. Rasanya dingin dan berat. Ia membukanya sedikit, dan matanya melebar. Di dalamnya, tidak ada teks biasa. Hanya gambar-gambar anatomi manusia yang dicoret-coret dengan tinta merah, menunjukkan titik-titik meridian yang bisa "diputus" atau "dihapus".
Ini bukan ilmu kultivasi. Ini adalah ilmu pembunuhan.
Ren menutup gulungan itu erat-erat. Angin malam menerpa wajahnya, membawa janji akan perubahan yang tak terhindarkan. Ia bukan lagi sekadar pemulung. Ia adalah calon pemberontak. Dan perang tinta baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!