Indonesia
NovelToon NovelToon

Arsitek Memori

Debu di galeri ingatan

‎Aroma ozon dan kertas tua selalu memenuhi lantai tiga Archivia, tempat Rian menghabiskan separuh hidupnya. Di kota Neo-Veridia, ingatan bukan lagi sesuatu yang abstrak; ingatan adalah komoditas. Orang-orang datang untuk menjual kenangan buruk mereka agar bisa tidur nyenyak, atau membeli kenangan manis milik orang lain demi merasakan kebahagiaan semu.

‎Rian adalah seorang Archivist—penata memori. Tugasnya sederhana: membersihkan, mengatalogkan, dan memastikan kristal-kristal ingatan berbentuk silinder kaca yang tersimpan di rak baja tetap utuh. Namun, malam itu, ritme kerjanya yang membosankan terganggu oleh dentang lonceng pintu depan yang tidak biasa. Jam menunjukkan pukul dua dini hari, lima jam setelah Archivia resmi ditutup.

Rian terheran siapa yang datang ternyata, ‎Seorang wanita bergaun hitam melangkah masuk. Wajahnya tersembunyi di balik tudung kain, tetapi napasnya tersengal-sengal, menyebarkan embun tipis di udara dingin ruangan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu meletakkan sebuah silinder kaca kecil di atas meja kerja Rian.

‎"Sembunyikan ini," bisiknya. Suaranya gemetar, sarat akan ketakutan yang mendalam. "Jangan pernah menontonnya. Cukup sembunyikan." tegasnya lagi.

‎Sebelum Rian sempat bertanya, wanita itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan lorong kota yang diguyur hujan deras. Rian berdiri terpaku, memandangi silinder di tangannya. Berbeda dengan silinder ingatan standar yang memancarkan cahaya biru pekat atau keemasan, silinder ini berpendar dengan warna merah redup yang tidak stabil tanda bahwa ingatan di dalamnya telah diubah secara paksa atau merupakan memori terlarang.

‎Rasa ingin tahu adalah penyakit paling berbahaya bagi seorang Archivist. Aturan nomor satu di Archivia tegas: Jangan pernah mengakses memori tanpa izin. Tetapi dorongan rasa penasaran di kepala Rian begitu kuat. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia memasukkan silinder merah itu ke dalam alat pemindai impuls otak di mejanya dan menempelkan visor ke matanya.

‎Dunia di sekelilingnya mendadak runtuh, berganti menjadi sebuah ruang laboratorium megah yang dipenuhi pecahan kaca dan asap tebal. Di tengah ruangan, seorang pria berseragam putih berdiri membelakanginya, menunjuk ke arah layar besar yang menampilkan denah kota Neo-Veridia dengan titik-titik merah yang menyebar cepat.

‎"Proyek Oblivion tidak bisa dihentikan, Rian," ujar pria dalam memori itu. Pria itu lalu berbalik meninggalkan Rian sendiri.

‎Jantung Rian serasa berhenti berdetak. Pria di dalam memori terlarang itu memiliki wajah yang persis sama dengannya—hanya saja dengan parut luka mendalam di pipi kiri dan mata yang dingin tanpa emosi. Pria itu adalah dirinya sendiri, tetapi Rian sama sekali tidak memiliki ingatan pernah berdiri di laboratorium tersebut.

Cukup terkejut Rian pun melepas ‎Visor dari wajah nya dan secara otomatis memori tersebut pun berhenti. Ia terduduk lemas di kursinya, napasnya memburu. Melepas lamunan ia menyentuh pipi kirinya; kulitnya halus, tanpa parut luka sedikit pun. Namun, rasa dingin dari ingatan itu membekas nyata di syaraf kepalanya, penuh pertanyaan apa yang sebenarnya akan terjadi di hidupnya.

‎Di luar terdengar suara sirine patroli kota melolong nyaring melalui celah jendela. Cahaya merah dan biru memantul di dinding ruangan, membuat silinder kaca di mejanya tampak kian mengancam. Rian tahu, garis batas kehidupannya yang tenang telah melintasi titik tanpa jalan kembali.

Identitas yang hilang

Suara raungan sirine patroli kian mendekat, membelah keheningan malam Neo-Veridia. Kilatan cahaya merah dan biru menembus kaca jendela Archivia, memantul licin di atas lantai besi yang dingin. Rian tahu betul apa arti sirine itu: Penjaga Kategori, satuan pengaman memori kota, sedang menyisir distrik ini. Jika mereka menemukan silinder merah itu di tangannya, Rian tidak hanya akan dipecat—ia akan di-reset, memorinya dikuras habis hingga ia tak lebih dari sekadar cangkang bernapas.

‎Dengan jemari yang gemetar, Rian mencabut silinder merah dari slot pemindai. Ia memasukkannya ke dalam saku dalam jaket kulitnya yang tebal. Dinginnya tabung kaca itu seolah menembus kain dan menusuk kulit dadanya.

‎Pintu depan Archivia terhentak keras. Tiga prajurit berseragam pelindung serat karbon masuk dengan senjata laras pendek terangkat. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh tegap dengan visor taktis melingkupi matanya, melangkah maju. Logo elang emas di dadanya berkilau muram.

‎"Rian Vance?" suara pria itu bergema datar, terdistorsi oleh modulasi mikrofon helmnya. "Kami mendeteksi anomali sinyal pemindaian frekuensi tinggi dari unit ini sepuluh detik yang lalu."

‎Rian berusaha menata napasnya, mencoba bersikap layaknya seorang Archivist yang kelelahan di akhir shift malam. "Hanya inventarisasi rutin, Komandan. Ada silinder lama yang korup dan memicu lonjakan daya."

‎Pria itu melangkah mendekati meja kerja Rian. Matanya yang tersembunyi di balik visor seolah menguliti setiap gerak-gerik Rian. Ia mengulurkan tangan yang terbungkus sarung tangan taktis, mengetuk-ngetuk permukaan meja baja.

‎"Ada seorang wanita yang baru saja keluar dari bangunan ini," kata sang Komandan. "Dia membawa barang curian dari Sektor Nol. Serahkan, dan kau bisa pulang dengan kepala tetap utuh."

‎"Tidak ada wanita yang masuk," jawab Rian perlahan, menatap lurus ke arah visor hitam itu. "Tempat ini ditutup sejak pukul sembilan malam."

‎Suasana mendadak mencengkam. Pria itu menyipitkan mata, lalu mengangkat tangannya untuk memberi sinyal pada dua anak buahnya. "Geledah seluruh lantai. Periksa log transaksi pemindai."

‎Rian tahu log pemindai di mejanya tidak bisa dibohongi; jejak akses memori merah itu tersimpan di sistem internal. Begitu mereka menekan tombol History, semuanya selesai.

‎Tanpa berpikir panjang, Rian memutar tubuhnya dan menyenggol botol cairan pembersih kimia terkonsentrasi tinggi di pinggir meja hingga jatuh tepat ke atas terminal daya utama. Percikan api menyambar hebat. BZZZT! Asap tebal membubung seketika, memicu alarm kebakaran dan memadamkan seluruh aliran listrik di gedung lantai tiga itu.

‎"Sialan!" teriak salah satu prajurit di tengah kegelapan yang mendadak.

‎Rian tidak membuang detik. Mengandalkan hafalannya atas seluk-beluk Archivia yang telah ia huni selama bertahun-tahun, ia menerobos kegelapan, berlari melompati pagar pembatas, dan menerobos pintu darurat menuju tangga belakang.

‎Ia menuruni anak tangga besi dengan gila-gilaan saat suara tembakan energi terdengar memantul dari lantai atas. Rian mendarat di gang sempit yang basah oleh air hujan. Udara dingin membentur wajahnya, tetapi otaknya terasa membara.

‎Sambil terus berlari menyusuri gang-gang gelap Distrik 4, Rian menyentuh pipi kirinya lagi. Kulitnya tetap halus. Namun, sosok dirinya di dalam memori tadi—pria berwajah sama yang memiliki parut luka dan mengendalikan Proyek Oblivion—terus menari-nari di ingatan penjelajahannya.

‎Siapa sebenarnya Rian Vance? Apakah ingatan yang ia jalani selama ini sebagai seorang Archivist biasa hanyalah sebuah kepalsuan yang ditanamkan ke dalam otaknya?

Jejak wanita bergaun hitam

Hujan deras membasahi lorong-lorong sempit Distrik 4. Rian merapatkan jaketnya, berusaha menyatu dengan bayang-bayang di balik deretan neon yang berkedip redup. Sirine patroli Penjaga Kategori terdengar samar-samar di kejauhan, tetapi Rian tahu mereka tidak akan berhenti menyisir sektor ini hingga berhasil menyitanya.

Sembari ketakutan ‎langkahnya melambat saat memasuki sebuah gang buntu yang diterangi lampu uap kekuningan. Di sana berdiri sebuah kedai kopi tua yang hampir ambruk—tempat bertukar informasi paling aman di Distrik Bawah. Rian mendorong pintu besi kedai yang berderit nyaring dia masuk.

‎Di balik meja bar, seorang pria paruh baya dengan mata mekanis tengah mengelap gelas. Rian pun mendekatinya sembari mengawasi sekitar. Pria itu adalah Kael, mantan Hacker memori yang kini menghabiskan harinya menjual informasi selundupan.

‎"Kau terlihat seperti mayat berjalan, Rian," gumam Kael tanpa menghentikan gerak tangannya. "Sesuatu yang buruk baru saja terjadi di Archivia?" tanyanya menduga.

‎Rian duduk di bangku sudut yang gelap, lalu mengeluarkan silinder kaca berpendar merah itu dan meletakkannya samar di atas meja. "Aku butuh melacak siapa pemilik sinyal ini, Kael. Dan aku butuh mencari wanita yang membawanya padaku. Apa maksud dari semua ini"

‎Mata mekanis Kael berputar, fokus pada pendar warna merah di dalam silinder. Wajahnya yang penuh kerutan mendadak pucat pasi Ia tampak ketakutan dan sontak menyambar tabung itu cepat-cepat dan menyembunyikannya di bawah kain lap.

‎"Kau gila!" bisik Kael dengan suara tertahan. "Ini enkripsi tingkat Sektor Nol. Siapa pun yang menyentuh barang ini biasanya akan ditemukan mengapung di Sungai Veridia tanpa otak!"

‎"Dia mengenakan gaun hitam, membawa aura ketakutan, dan tahu namaku," potong Rian, matanya menatap tajam ke arah Kael. "Dia menyebut soal Proyek Oblivion sebelum Penjaga Kategori mengepungku. Tolong aku, Kael. Aku melihat diriku sendiri di dalam memori ini."

‎Kael terdiam lama. Suara detak jarum jam dinding tua menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan di antara mereka. Akhirnya, Kael menghela napas panjang dan menarik sebuah terminal portabel dari bawah meja.

‎"Wanita bergaun hitam itu... hanya ada satu orang di Distrik Bawah yang berani membawa memori tingkat tinggi seperti ini," ujar Kael seraya menekan beberapa tombol di layar terminal. "Namanya Maya. Dia pernah menjadi peneliti utama di Divisi Restorasi Pusat sebelum dinyatakan 'hilang' tiga tahun lalu."

‎Layar portabel milik Kael menampilkan gambar bergerak dari kamera pengawas di lorong Distrik 4. Terlihat sesosok wanita bergaun hitam melintas cepat menuju wilayah batas—sebuah area terlarang yang dikenal sebagai Pasar Gelap Sinyal.

‎"Jika kau ingin menemuinya, kau harus pergi ke Pasar Gelap sebelum Penjaga Kategori menemukan tempat persembunyiannya," lanjut Kael, menyerahkan sebuah keping navigasi kecil pada Rian. "Tapi ingat, Rian. Jika ingatan di dalam silinder itu menunjukkan bahwa kau adalah bagian dari Proyek Oblivion, artinya masa lalumu jauh lebih berbahaya daripada para prajurit yang mengejarmu malam ini."

‎Rian menggenggam keping navigasi itu erat-erat. Rasa takut yang sejak tadi membayanginya kini berganti menjadi tekad yang dingin. Ia berdiri, merapatkan tudung jaketnya, dan melangkah kembali ke dalam guratan hujan malam Neo-Veridia.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!