Indonesia
NovelToon NovelToon

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Episode 1

Bab 1: Suara dari Kegelapan

— Bang, kasus lama aja sok tahu.

— Detektif gagal mode serius.

— Anak panti kalau lapar memang halu, ya?

— Mending cari kerja beneran, Bro. Jangan jual mimpi.

Angka penonton di pojok layar turun dari tiga puluh dua menjadi dua puluh tujuh.

Raka Laksana membaca semuanya. Satu per satu.

Lampu ring light murah di depannya berkedip. Di belakangnya, kertas besar bertuliskan DETEKTIF 100 PERSEN miring sedikit, seolah ikut mengejek.

Ia memaksa suaranya tetap stabil.

"Kalau kita lihat dari pola laporan warga, pelaku kemungkinan orang dekat. Dalam kasus anak hilang, akses menjadi alasan pertama untuk diperiksa, bukan tuduhan awal."

Chat bukannya tenang, malah makin liar.

— Teori Google.

— Sok ahli.

— Kalau pintar, kenapa masih ngekos sempit?

Tangan kiri Raka mengepal di bawah meja.

Di kasur lipat sebelah kanan, Kribo menjulurkan kepala dari balik laptop rusaknya. Rambut keritingnya berantakan seperti kabel charger yang sudah terlalu lama dipakai.

KBro,K bisiknya, tidak cukup pelan untuk tidak tertangkap mikrofon, Klo yakin mau lanjut? Kolom komentar hari ini lebih kejam daripada ibu kos.K

Komentar langsung meledak.

— Wkwk bahkan temannya kasihan.

— Ibu kos incoming!

— Bayar kos dulu, detektif!

Raka menggeser mikrofon sedikit menjauh. KDiam, Krib.K

KGue cuma bantu rKalita masuk ruangan.K Kribo mengangkat dua tangan. KBu Santi tadi nanya lagi. Kalau akhir minggu ini belum bayar, kita disuruh keluar. Gue bisa tidur di kantor warnet, tapi lo? Lo kalau tidur di jalan nanti bikin konten baru, 'Detektif 100 Persen Menyelidiki Nyamuk'.K

Beberapa penonton tertawa lewat emoji.

Raka ingin ikut tertawa, setidaknya supaya terlihat santai. Tapi dompetnya di laci tinggal berisi dua lembar uang kecil, dan dashboard novel Penghakiman Iblis Manusia di tab sebelah menunjukkan angka pembaca yang bahkan lebih menyedihkan daripada penonton live-nya.

Di kepalanya, suara Bu Yanti dari Panti Asuhan Bunga Harapan melintas singkat.

Selalu berdiri di sisi yang benar.

Raka menarik napas dan menatap kamera lagi.

KKalian boleh mengejek. Tapi statistik tetap statistik. Delapan puluh persen kasus anak hilang yang cepat terpecahkan selalu dimulai dari lingkaran terdekat. Keluarga, tetangga, pengasuh, orang yang terakhir melihat korban.K

Seorang penonton mengirim stiker koin receh.

Nilainya kecil. Sangat kecil. Tapi notifikasi donasi itu tetap berbunyi.

TING!

Pesan donasi muncul:

— Buat beli martabak imajinasi.

Kribo memukul bantal untuk menahan tawa. Raka menatap layar tanpa berkedip.

KTerima kasih donasinya,K katanya datar. KSemoga imajinasimu juga bisa dipakai untuk hal yang lebih berguna.K

Komentar mendadak lebih ramai.

— Oho, tersinggung.

— Detektif miskin marah.

— Anak panti sok punya harga diri.

Kali ini, sesSatu di dada Raka terasa panas.

Ia pernah dihina karena miskin. Sering. Pernah ditolak kerja karena latar panti. Pernah dianggap tidak pantas masuk komunitas penulis karena tidak punya koneksi. Pernah melihat orang-orang berbicara tentang keadilan seolah itu barang mahal yang hanya boleh disentuh orang berjas.

Tapi setiap kali ia hampir berhenti, ia selalu ingat wajah anak-anak kecil di panti yang menunggu kabar baik dari dunia luar.

Kalau orang seperti dia juga menyerah, siapa yang akan berdiri untuk orang yang lebih lemah?

Raka hendak menjawab komentar berikutnya ketika sebuah akun baru masuk ke live.

Namanya Ratih_Sari.

Tidak ada foto profil. Tidak ada lencana. Tidak ada riwayat donasi.

Pesan pertamanya muncul di tengah arus ejekan.

— Tolong...

Raka berhenti bicara.

Komentar lain terus bergerak, menertawakan, menyuruhnya membaca chat mereka. Tapi pesan dari akun itu muncul lagi.

— Bayi saya hilang.

Jari Raka berhenti di atas mouse.

Kribo, yang tadinya santai, ikut menegakkan badan.

Pesan ketiga datang lebih panjang, terputus-putus.

— Polisi bilang mungkin dibawa ayah kandungnya. Orang-orang bilang saya terlalu panik. Tapi saya tahu ada yang salah. Anak saya belum bisa berjalan jauh. Dewi baru delapan bulan. Tolong, Bang. Tolong bantu saya.

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Raka membaca nama itu dalam hati.

Dewi.

Bayi delapan bulan.

Komentar yang tadi ramai mulai bercampur.

— Settingan nih.

— Kalau bener lapor polisi, Bu.

— Kasihan juga.

— Detektif gagal dapat klien pertama?

Raka mencondongkan tubuh ke depan. KBu Ratih, kalau Anda benar-benar membutuhkan bantuan, kirim kronologi singkat. Kapan terakhir Dewi terlihat? Siapa saja yang berada di rumah? Apakah ada rekaman CCTV di sekitar lokasi?K

Kribo menatapnya. KRaka...K

KAku tahu.K Raka tidak menoleh. KTapi kalau ini benar, kita dengar dulu.K

Pesan Ratih muncul lagi.

— Saya tidak punya uang banyak. Saya hanya punya foto Dewi dan rekaman suara terakhirnya. Saya sudah ke Polsek. Mereka bilang masih penyelidikan. Tapi suami saya... ibu mertua saya... semua orang menyuruh saya diam.

Raka merasakan sesSatu yang dingin merayap di tengkuknya.

KSuami Anda?K tanyanya.

Belum sempat Ratih menjawab, layar laptopnya berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu seluruh live freeze.

Komentar berhenti bergerak. Angka penonton membeku di empat puluh satu. Wajah Raka sendiri di layar tertahan dengan ekspresi setengah bicara, seperti foto yang rusak.

KEh?K Kribo mengetuk keyboard. KInternet mati?K

Bukan.

Raka tahu itu sebelum alasan masuk akal muncul di kepalanya. Udara di kamar kos berubah berat. Bunyi kipas angin menghilang. Derit motor dari jalan bawah lenyap. Bahkan napas Kribo terdengar jauh.

Lalu rasa sakit menghantam kepalanya.

Raka mencengkeram tepi meja. Pandangannya memutih. Seolah ada palu tak terlihat memukul tengkoraknya dari dalam.

KRaka!K Kribo melompat dari kasur.

Raka tidak bisa menjawab.

Di layar yang membeku, kotak chat Ratih tiba-tiba berubah merah.

Huruf-huruf asing muncul di atas pesan perempuan itu. Bukan ketikan manusia. Bukan font platform streaming.

【DOSA TERDETEKSI DI SEKITAR SUBJEK】

【INDEKS DOSA: 92/100】

【JENIS KASUS: PEMBUNUHAN】

【TINGKAT KEPARAHAN: KRITIS】

Darah Raka seperti berhenti mengalir.

Pembunuhan.

Kata itu berdiri sendirian di kepalanya, dingin dan tajam.

Suara mekanis terdengar.

Bukan dari speaker.

Dari dalam pikirannya.

【Sistem Penghakiman diaktifkan.】

【Tuan Rumah terdeteksi: Raka Laksana.】

【Kesesuaian jiwa: 100 persen.】

【Kasus pertama terdeteksi: Kasus Pembunuhan Bayi Dewi.】

Raka menggertakkan gigi. KSiapa...?K

Kribo membeku. KLo ngomong sama siapa?K

Raka tidak mendengar jelas. Di hadapannya, kamar kos murah itu seperti terbelah oleh lapisan cahaya hitam. Di tengah cahaya itu muncul sepasang mata merah samar, lalu sebuah buku hitam terbuka tanpa tangan. Sampulnya bergambar pedang lurus yang ujungnya mengarah ke bawah.

Halaman kosong terbuka.

Tinta hitam bergerak sendiri.

【Skill Awal Terbuka】

Nama: Mata Dosa

Efek: Melihat indeks dosa dan jejak kejahatan berat di sekitar subjek terkait.

【Skill Awal Terbuka】

Nama: Buku Penghakiman

Efek: Merekam dosa, menyusun bukti, dan membuka jalur penghakiman setelah kebenaran terverifikasi.

Raka menatap buku itu.

Takut? Ya.

Gila? Mungkin.

Tapi di balik rasa sakit yang masih menusuk kepalanya, ada sesSatu yang lain bangkit. SesSatu yang selama ini ia tekan setiap kali dihina, setiap kali ditertawakan, setiap kali melihat berita kejahatan berakhir dengan kata Kmasih diselidikiK.

Kalau ini nyata, maka untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak hanya bisa menebak.

Ia bisa membuktikan.

Ia bisa mengejar.

Ia bisa menghakimi.

Layar laptop menyala merah sepenuhnya.

Komentar penonton tetap beku, tetapi pesan Ratih bergerak sendiri ke tengah layar.

Dewi tidak hilang, Raka.

Tulisan itu bukan dari Ratih.

Suara mekanis kembali berbicara, lebih dingin dari sebelumnya.

【Misi Penghakiman Pertama】

Nama Misi: Selesaikan Kasus Pembunuhan Bayi Dewi.

Target: Temukan pelaku utama, ungkap bukti, dan pastikan kebenaran tercatat.

Batas Waktu: 15 hari.

Hadiah: 10.000 Poin Penghakiman + Skill Tambahan.

Poin Saat Ini: 0.

Gagal: Tuan Rumah kehilangan seluruh ingatan.

Raka mengangkat kepala.

Di layar, chat Ratih akhirnya bergerak lagi.

— Bang Raka... Anda masih di sana?

Raka menatap kamera yang kembali menyala. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak gemetar.

KSaya di sini, Bu Ratih.K

Ia menatap panel merah yang hanya bisa ia lihat.

KDan saya akan menemukan siapa yang mengambil Dewi.K

Episode 2

Bab 2: Jejak Pertama

ADan saya akan menemukan siapa yang mengambil Dewi.A

Kalimat itu keluar begitu tenang hingga Raka sendiri hampir tidak mengenali suaranya.

Di layar, wajah Ratih Sari tidak terlihat. Hanya chat yang gemetar dalam bentuk huruf-huruf pendek, seolah perempuan itu mengetik sambil menangis.

— Terima kasih, Bang.

— Saya tidak tahu harus minta tolong ke siapa lagi.

Komentar penonton langsung pecah lagi, tapi malam ini kata-kata mereka terasa kecil dibanding panel merah yang masih mengambang di sudut pandang Raka.

【Misi aktif: Kasus Pembunuhan Bayi Dewi】

【Batas waktu: 14 hari 23 jam 51 menit】

【Poin Penghakiman: 0】

Hitungan mundur itu bergerak.

Detik demi detik.

Kribo berdiri di sampingnya, wajahnya sudah tidak bercanda. ARaka, live-nya matiin dulu. Sekarang.A

Raka mengangguk. Ia menatap kamera. ALive malam ini selesai. Bu Ratih, saya akan hubungi Anda lewat pesan pribadi. Jangan hapus apa pun. Jangan beri tahu siapa pun dulu bahwa Anda menghubungi saya.A

— Lah, takut ketahuan settingan?

— Kabur!

— Detektif gagal panik.

Raka menekan tombol end.

Layar menjadi gelap. Suara kipas angin kembali terdengar, kasar dan pelan. Kamar kos itu masih sama sempitnya, tapi dunia Raka sudah retak.

Kribo menutup laptopnya. AOke. Sekarang jelaskan. Lo tiba-tiba pucat, layar live freeze, terus lo ngomong seolah habis dapat wahyu dari server neraka. Apa yang terjadi?A

Raka memijat pelipisnya. Rasa sakit tadi sudah berkurang, tetapi sisa denyutnya masih tertinggal seperti bekas pukulan.

AAku belum bisa jelaskan semuanya.A

AJawaban paling mencurigakan nomor satu.A Kribo menunjuknya. ACoba lagi.A

AAku punya firasat kuat Dewi tidak hilang.A Raka memilih kata-katanya dengan hati-hati. ADia dibunuh.A

Wajah Kribo mengeras. ADibunuh? Bayi delapan bulan? Lo dapat dari mana?A

Raka menatap layar laptop yang sudah mati. Ia tidak bisa bilang ada suara mekanis di kepalanya, buku hitam, indeks dosa, dan ancaman kehilangan seluruh ingatan kalau gagal. Bahkan bagi Kribo, itu terlalu gila.

ADari pola pesannya. Dari pilihan katanya. Dari fakta bahwa semua orang di rumah menyuruh Ratih diam.A Raka berhenti sebentar. ADan dari sesSatu yang belum bisa aku buktikan. Tapi aku akan buktikan.A

Kribo menatapnya lama.

Di luar kamar, motor lewat di gang sempit. Dunia berjalan seperti biasa, seolah tidak ada bayi bernama Dewi yang mungkin sudah tidak bernapas lagi.

Akhirnya Kribo menghela napas. AGue benci kalau lo pakai nada sok misterius begini. Biasanya setelah itu hidup kita jadi lebih miskin.A

AKita memang sudah miskin.A

ABenar juga.A Kribo duduk kembali, membuka laptop. AKirim kontak Ratih. Kalau lo mau lompat ke lubang, gue ikut. Tapi gue bawa laptop. Minimal kalau mati, ada data yang bisa bikin orang lain repot.A

Untuk pertama kalinya sejak sistem aktif, Raka hampir tersenyum.

Ia mengirim pesan pribadi kepada Ratih. Beberapa detik kemudian, video call tersambung.

Wajah Ratih muncul di layar. Ia terlihat belum tiga puluh. Rambutnya diikat asal, matanya bengkak, dan lampu kuning membuat wajahnya tampak semakin pucat.

ABang Raka?A suaranya nyaris tidak keluar.

AIya, Bu Ratih. Saya Raka. Di samping saya Kribo, teman saya. Dia membantu urusan data. Semua yang Anda katakan malam ini tidak akan kami sebarkan tanpa izin.A

Kribo mengangkat tangan sedikit. AMalam, Bu. Saya cuma tukang laptop. Abaikan muka saya.A

Ratih mencoba mengangguk, tapi dagunya gemetar.

Pada saat itulah pandangan Raka berubah.

Di sekitar wajah Ratih, muncul lingkaran cahaya tipis. Bukan cahaya kamera. Bukan pantulan lampu. Angka merah transparan bergerak di samping namanya.

【RATIH SARI】

【INDEKS DOSA: 12/100 — RENDAH】

【KETERKAITAN DENGAN KASUS AKTIF: KORBAN KELUARGA / BUKAN PELAKU】

Raka menahan napas.

Jadi benar.

Bukan halusinasi karena kurang tidur. Bukan efek stres. Sistem itu bisa membaca seseorang bahkan lewat video call.

Suara dingin Hakim berbisik di dalam kepalanya.

【Mata Dosa dapat membaca indeks dosa subjek dalam jarak pandang langsung, termasuk media visual real-time. Akurasi dipengaruhi kualitas gambar, kondisi cahaya, dan keterkaitan subjek dengan kasus aktif.】

Raka mengepalkan tangan di bawah meja.

Ratih bukan pelaku.

Untuk pertama kalinya, satu bagian kecil dari kegelapan itu punya bentuk.

ABu Ratih,A kata Raka, lebih lembut. ACeritakan dari awal. Kapan terakhir Dewi terlihat?A

Ratih menunduk. Bahunya bergetar.

ATiga hari lalu. Sore. Saya sedang mencuci di belakang. Dewi tidur di kamar. Mas Wisnu bilang dia mau keluar beli rokok. Bu Marlina, ibu mertua saya, ada di dapur. Waktu saya kembali... Dewi sudah tidak ada.A

APintu rumah?A

ATidak rusak. Tidak ada bekas dibuka paksa.A

Kribo langsung mengetik.

ASiapa yang pertama bilang Dewi mungkin dibawa ayah kandungnya?A tanya Raka.

Ratih terdiam terlalu lama.

AMas Wisnu. Dia bilang Bagus masih sering menanyakan Dewi. Dia bilang mungkin Bagus datang diam-diam. Tapi Bagus tinggal di Kota Jati. Jauh sekali. Dia memang pernah salah, Bang, tapi dia tidak akan menyakiti Dewi.A

Nama Bagus Saputra muncul di kepala Raka seperti titik baru di papan kasus.

APolisi memeriksa Bagus?A

AKatanya sudah dihubungi. Bagus bilang dia di tempat kerja. Ada orang yang melihat. Tapi setelah itu Pak RT dan polisi dari Polsek bilang kemungkinan lain... Dewi dibawa binatang liar.A

Kribo berhenti mengetik. ABayi hilang dari kamar, pintu tidak rusak, lalu kesimpulannya binatang liar? Ini desa atau kandang kebun binatang?A

Ratih menggigit bibir. ARumah kami dekat kebun kosong. Mereka bilang bisa saja ada anjing liar masuk dari belakang. Tapi saya tahu kamar Dewi. Jendelanya tinggi. Tidak mungkin, Bang.A

Suara perempuan itu pecah. Raka tidak memotongnya.

Di samping layar, panel lain terbuka.

【Tutorial Sistem — Lv1】

【Mata Dosa: Membaca indeks dosa subjek terkait kasus aktif.】

【Buku Penghakiman: Merekam dakwaan setelah bukti cukup.】

【Jalur Eksekusi: Pengadilan Rakyat / Penghakiman Diam-Diam.】

【Poin Penghakiman: Diperoleh setelah kasus selesai.】

Raka membaca cepat. Satu aturan langsung tertanam di kepalanya: bukti cukup. Sistem bukan alasan untuk asal menuduh.

ABu Ratih,A katanya, Aapakah ada orang lain di rumah selain Anda, Wisnu, dan Bu Marlina?A

"Ada Jono. Tetangga jauh. Dia sering disuruh bantu angkat barang. Anak itu... pikirannya seperti anak kecil. Dia baik. Kadang Bu Marlina menyuruhnya beli sesSatu. Tapi hari itu saya tidak ingat dia datang atau tidak."

Kribo mengetik nama Jono di catatan.

AAlamat lengkap?A tanya Raka.

Ratih menyebutkan lokasi di Desa Batu Giok, Kecamatan Makmur, sekitar empat jam perjalanan dari Kota Elang Biru dengan bus antarkota lalu ojek desa.

Kribo menatap Raka. Matanya sudah menghitung biaya sebelum mulutnya bicara.

Raka mengangguk kecil.

AKami berangkat pagi,A kata Raka.

Ratih terkejut. ABesok? Tapi Bang... saya tidak punya uang untuk bayar jasa Anda. Saya hanya—A

ASaya belum bicara soal uang. Simpan foto Dewi, rekaman suara, chat dengan Bagus, dan semua pesan dari Wisnu atau Bu Marlina. Jangan hapus apa pun. Kalau ada yang bertanya, bilang saja Anda masih menunggu kabar dari polisi.A

Ratih menutup mulut dengan tangan. Air matanya turun tanpa suara.

ATerima kasih,A bisiknya. ASaya cuma ingin tahu Dewi di mana. Kalau dia masih hidup... saya ingin dia pulang. Kalau dia sudah...A

Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu. Raka menatap angka 12/100 di samping wajahnya. Ratih bukan orang yang mengambil nyawa anaknya.

AKami akan datang,A kata Raka. ATunggu kami.A

Panggilan berakhir.

Kamar kos kembali sunyi.

Kribo memutar laptopnya ke arah Raka. AGue belum masuk sistem apa pun yang terlalu resmi. Cuma pencarian terbuka, berita lokal, jejak media sosial, dan beberapa database bocor lama. Wisnu Marpaung. Umur tiga puluh empat. Pernah dipanggil Polsek karena penganiayaan ringan di warung kopi. Tidak lanjut karena korban mencabut laporan. Ada jejak utang judi online. Namanya muncul di grup pinjaman ilegal juga.A

Raka mendekat. ANominal?A

ABelum jelas. Tapi cukup buat orang panik.A Kribo menunjuk layar. ADan ini menarik. Seminggu sebelum Dewi hilang, Wisnu jual motor. Murah banget. Seperti orang butuh uang cepat.A

Raka menatap foto profil Wisnu yang muncul di layar: laki-laki dengan senyum biasa, kemeja rapi, tangan merangkul Ratih. Di foto itu, ia tampak seperti suami yang ingin terlihat baik.

Mata Raka terasa panas.

AKita butuh uang bus,A katanya.

Kribo membuka laci, mengeluarkan dompet, koin, kartu e-money, dan satu amplop kusut bertuliskan BAYAR KOS.

AIni dana pemakaman masa depan kita,A katanya muram. ACukup buat dua tiket bus paling pagi, air mineral, dan mungkin satu gorengan kalau kita berbagi.A

APakai.A

Kribo menatapnya. ALo yakin?A

Raka menatap panel merah di sudut pandangnya.

【Batas waktu: 14 hari 22 jam 36 menit】

ATidak,A jawab Raka jujur. ATapi aku lebih tidak yakin bisa tidur kalau kita diam.A

Kribo menghela napas panjang. Lalu ia menyambar jaket lusuh dari gantungan.

ABaiklah. Kalau kita diusir, gue pilih tidur dekat colokan. Laptop harus tetap hidup.A

Pagi datang tanpa terasa.

Langit Kota Elang Biru masih abu-abu ketika Raka dan Kribo naik bus antarkota di terminal kecil Distrik Surya. Raka membawa tas ransel tipis. Kribo membawa laptop utamanya seperti orang membawa senjata.

Bus bergerak meninggalkan kota. Warung dan gedung rendah pelan-pelan berubah menjadi sawah basah dan kebun kosong.

Kribo duduk di sebelah jendela, jemarinya menari di keyboard meski sinyal naik-turun.

"Ada satu lagi," katanya pelan. "Marlina. Ibu Wisnu. Namanya pernah disebut di berita lama soal mediasi keluarga. Statusnya memang mediasi keluarga; tetangga pernah lapor karena ribut besar. Orangnya dominan. Suka ikut campur rumah tangga Wisnu."

AJadi rumah itu punya tiga tekanan,A kata Raka. AUtang Wisnu, Marlina yang mengontrol rumah, dan Dewi yang bukan anak kandung Wisnu.A

Kribo menoleh. ALo sudah punya tersangka.A

AAku punya arah. Belum bukti.A

AItu kalimat yang lebih sehat.A

Raka memandang keluar jendela. Dulu ia hanya membaca kasus dari layar. Sekarang kasus itu menunggunya di ujung jalan.

Suara Hakim muncul lagi, sangat pelan, seperti bisikan dari balik halaman buku.

【Peringatan.】

【Indeks dosa di lokasi tujuan sangat tinggi.】

【Tuan Rumah disarankan bersiap.】

Raka tidak berkedip.

Di luar jendela, papan jalan tua bertuliskan DESA BATU GIOK — 18 KM lewat begitu saja.

Kribo masih mengetik, tidak tahu bahwa udara di sekitar mereka baru saja menjadi lebih dingin.

Raka merapatkan tangan pada tali ranselnya.

ADewi,A bisiknya nyaris tanpa suara. ATunggu sebentar lagi.A

Episode 3

Bab 3: Bau Kematian

"Dewi," bisik Raka nyaris tanpa suara. "Tunggu sebentar lagi."

Bus tua itu menurunkan mereka di halte kecil yang catnya sudah mengelupas. Siang di Desa Batu Giok terasa lengket. Udara panas bercampur bau tanah basah, asap dapur, dan sesSatu yang samar, terlalu tipis untuk disebut busuk, tapi cukup membuat tengkuk Raka menegang.

Ratih sudah menunggu di bawah pohon waru.

Perempuan itu memakai kerudung lusuh dan masker yang ditarik ke dagu. Matanya bengkak. Begitu melihat Raka dan Kribo turun, ia melangkah cepat, lalu berhenti seolah baru sadar bahwa harapannya hanya bertumpu pada dua orang asing dengan ransel tipis.

"Bang Raka?"

"Iya, Bu Ratih." Raka menjaga suaranya rendah. "Kami langsung ke rumah?"

Ratih mengangguk. "Mas Wisnu ada di rumah. Bu Marlina juga. Tolong... jangan bilang dulu soal video call tadi."

"Saya mengerti."

Kribo berjalan di sebelah Raka sambil berbisik, "Desa ini sunyi banget. Biasanya tempat sunyi punya dua kemungkinan: damai atau banyak orang pura-pura tidak lihat apa-apa."

"Catat kemungkinan kedua," jawab Raka.

Rumah Ratih berada di ujung jalan tanah, dekat kebun kosong dan rumpun bambu. Halamannya sempit. Di samping rumah ada saluran pembuangan kecil yang mengarah ke belakang. Beberapa tetangga menatap dari beranda, cepat-cepat masuk saat mata Raka menyapu mereka.

Seorang pria keluar dari pintu depan.

Wisnu Marpaung tersenyum terlalu cepat.

"Jadi ini Bang Raka, ya?" katanya, menjabat tangan Raka erat. "Ratih cerita ada orang dari live yang mau bantu. Maaf rumah kami berantakan. Kami semua masih kacau sejak Dewi hilang."

Suaranya hangat. Matanya basah. Cara berdirinya seperti suami yang lelah, takut, dan ingin dipercaya.

Lalu Mata Dosa menyala.

【WISNU MARPAUNG】

【INDEKS DOSA: 97/100】

【KETERKAITAN DENGAN KASUS AKTIF: SANGAT TINGGI】

Dunia di sekitar Raka seperti menyempit.

Sembilan puluh tujuh.

Lebih tinggi dari angka di sekitar Ratih. Lebih gelap dari apa pun yang pernah ia lihat. Di balik senyum Wisnu, Raka seolah melihat lapisan hitam pekat yang menempel di kulit pria itu.

Raka hampir menarik tangannya, tapi ia menahan diri.

"Saya hanya ingin membantu memastikan kronologi," katanya. "Kalau memang Dewi dibawa orang lain, semakin cepat semua detail jelas, semakin baik."

Senyum Wisnu tidak hilang, tapi rahangnya mengeras sepersekian detik. "Tentu. Kami juga ingin Dewi pulang."

Dari dalam rumah, seorang perempuan paruh baya muncul membawa lap. Ia menyeka telapak tangan berkali-kali, padahal tidak ada noda yang terlihat.

"Ini ibu saya, Bu Marlina," kata Wisnu.

Marlina mengangguk singkat. "Ratih itu terlalu panik. Tapi ya sudah, kalau mau lihat-lihat, silakan. Asal jangan bikin rumah makin kacau."

【MARLINA】

【INDEKS DOSA: 78/100】

【KETERKAITAN DENGAN KASUS AKTIF: TINGGI】

Kribo, yang tidak melihat panel itu, hanya memandang Raka dari sudut mata. Ia pasti membaca perubahan kecil di wajah Raka.

Raka menunduk sopan. "Terima kasih, Bu. Kami mulai dari kamar Dewi."

Kamar Dewi kecil. Ada kasur bayi, selimut tipis bermotif bunga, botol susu kosong, dan gantungan baju mungil di dinding. Ratih berhenti di ambang pintu. Tangannya gemetar memegang ujung kerudung.

"Baju terakhirnya warna pink," katanya lirih. "Ada gambar kelinci. Saya yang pakaikan sore itu."

Raka berjongkok di samping kasur. Ia tidak menyentuh apa pun sembarangan. Matanya menyapu lantai, kolong ranjang, sudut lemari.

Di bawah tempat tidur bayi, terselip bungkus kecil berwarna bening dengan sisa gambar buah.

Kribo ikut jongkok. "Jelly?"

Raka mengambilnya dengan tisu dari saku, lalu panel sistem berkedip.

【Barang bukti terdeteksi】

【Objek: Bungkus jelly】

【Klasifikasi awal: SENJATA PEMBUNUHAN】

Napas Raka tertahan.

Jelly?

Bayi delapan bulan belum seharusnya diberi makanan seperti itu. Tapi senjata pembunuhan? Bagaimana caranya?

"Apa Dewi biasa makan jelly?" tanya Raka, tetap menatap bungkus itu.

Ratih langsung menggeleng. "Tidak. Saya tidak pernah kasih. Dewi masih bubur halus."

Wisnu tertawa kecil dari belakang, terlalu kering. "Namanya rumah, Bang. Bisa saja bungkus lama. Anak-anak tetangga sering main."

"Anak tetangga main sampai bawah ranjang bayi?" Kribo bertanya tanpa melihatnya.

Wisnu terdiam.

Marlina cepat menyela. "Kalau sudah selesai, silakan ke ruang depan. Kamar ini bikin Ratih sedih."

"Sebentar, Bu." Raka berdiri. "Saya boleh pakai kamar mandi bawah?"

Lap di tangan Marlina berhenti bergerak.

"Rusak," katanya cepat. "Pakai yang atas saja."

"Rusaknya bagian apa?"

"Ya rusak. Airnya mampet. Tidak usah dilihat."

Terlalu cepat. Terlalu tegang.

Raka menatap pintu kecil di dekat dapur. Dari celah bawahnya, ada bau kaporit samar.

Mereka keluar ke halaman belakang dengan alasan memeriksa akses dari kebun. Rumput di sana tinggi sebagian, tapi jalur menuju lubang septik tampak lebih bersih, seolah baru sering dilewati. Bau samar yang Raka cium sejak turun bus muncul lagi, kali ini lebih jelas.

Kribo menutup hidung. "Bro... lo nyium?"

"Iya."

Marlina mendadak berdiri lebih dekat ke lubang septik. "Belakang rumah memang bau. Saluran lama. Jangan terlalu dekat, nanti kotor."

"Kalau saluran lama, kapan terakhir dibuka?" tanya Raka.

Marlina terdiam. Wisnu langsung mengambil alih.

"Sudah, Bang. Polisi juga sudah lihat sekitar sini. Tidak ada apa-apa." Ia meraih bahu Ratih, seolah menenangkan istrinya, tapi jari-jarinya menekan terlalu kuat. Ratih meringis kecil.

Dari pagar bambu, dua tetangga berbisik. Salah satunya berkata cukup keras, "Orang kota datang-datang bongkar rumah orang. Kasihan keluarga sudah sedih."

Raka mendengar. Wisnu juga mendengar, dan untuk sesaat senyumnya kembali penuh. Ia tahu desa ada di pihak orang yang tampak paling menderita.

Saat pria itu bicara, mata Raka menangkap gerakan di kejauhan.

Di tepi rumpun bambu, seorang pemuda bertubuh besar berdiri memandangi rumah. Wajahnya polos, matanya gelisah. Di tangannya ada sesSatu yang diremas-remas.

Bungkus jelly.

"Siapa itu?" tanya Raka.

Ratih menoleh. "Jono. Dia sering bantu tetangga. Anak baik."

Begitu sadar diperhatikan, Jono mundur satu langkah, lalu menghilang di balik bambu.

Raka menyimpan semua potongan itu di kepala: Wisnu 97, Marlina 78, bungkus jelly, kamar mandi bawah, jalur bersih menuju septik, Jono dengan bungkus yang sama.

Malam turun lebih cepat daripada yang ia inginkan.

Marlina memasak dengan wajah kaku. Wisnu terus memainkan peran suami yang cemas. Ratih hampir tidak menyentuh makanan. Raka menunggu sampai rumah mulai sunyi, lalu keluar diam-diam melalui pintu samping.

Kribo berbisik dari tikar ruang tamu, "Lo mau ke mana?"

"Lihat belakang. Kalau lima menit aku belum balik, bangunkan Ratih."

"Itu kalimat yang tidak pernah membawa kabar baik."

Raka tidak menjawab.

Halaman belakang gelap. Hanya ada lampu dapur yang bocor dari jendela. Bau itu kini menusuk lebih kuat. Raka berjalan mendekati lubang septik, menahan napas, lalu menyorotkan lampu ponsel ke celah beton yang retak.

Permukaannya hitam. Diam.

Lalu sesSatu bergerak pelan di bawah cahaya.

Sepotong kain kecil berwarna pink mengapung di permukaan air kotor.

Di kain itu, samar tapi jelas, ada gambar kelinci.

Darah Raka terasa turun ke kaki.

Suara sistem berbunyi tanpa belas kasihan.

【Konfirmasi lokasi jasad.】

【Bayi Dewi berada di dalam lubang septik.】

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!