Bab 001: Dokter Muda yang Tidak Diinginkan
Kantong jenazah dibuka di Ruang Autopsi IKF.
Arka Pratama baru berdiri lima menit di sudut ruangan ketika pandangannya tiba-tiba bergetar.
Di atas leher perempuan muda yang terbujur di meja autopsi, titik merah muncul. Titik itu membesar, menyusun huruf demi huruf seperti bara tipis di udara.
[Kebenaran Forensik aktif.]
Suara mekanis itu tidak masuk lewat telinga. Ia terdengar langsung di kepala Arka.
[Target jenazah terdeteksi.]
[Label Penyebab Kematian terbuka.]
Dua baris merah darah menggantung di atas tubuh itu.
[Asfiksia Mekanik]
[Pembunuhan]
Arka menahan napas.
Pembunuhan.
Kesimpulan bunuh diri runtuh.
Padahal semua data luar terlihat terlalu rapi: perempuan dua puluh enam tahun, ditemukan tergantung di kamar kos, pintu terkunci dari dalam, ada surat wasiat, keluarga menyebut riwayat depresi. Keluarga juga meminta jenazah segera diproses agar bisa dimakamkan malam itu.
dr. Suherman Priyanto, ahli forensik senior IKF, memeriksa leher korban dengan cepat. Dua teknisi berdiri di dekat meja instrumen. Salah satunya mencatat.
"Pemeriksaan luar," kata dr. Suherman. "Bekas jeratan pada leher, arah naik ke belakang. Tidak ada luka perlawanan jelas. Riwayat depresi. TKP tertutup. Catat dugaan bunuh diri."
Teknisi mengangguk. "Baik, Dok."
Arka menatap label merah itu.
Informasi pendek masuk ke pikirannya: sudut alur jeratan tidak cocok dengan titik gantung, titik perdarahan di konjungtiva terlalu padat, tekanan leher tidak sepenuhnya berasal dari berat tubuh sendiri.
Sistem tidak memberinya nama pelaku.
Sistem hanya memberinya arah.
Dan arah itu menunjuk pada satu hal: jika kesimpulan bunuh diri keluar malam ini, seorang pembunuh akan pulang dengan aman.
Arka melirik berkas di meja kecil. Surat Permintaan Visum sudah ada. Di bagian catatan keluarga tertulis bahwa pemberitahuan Pasal 134 telah dilakukan, tetapi keluarga meminta pemeriksaan dipercepat.
"Dok," kata Arka hati-hati, "kalau ada kemungkinan perlu pemeriksaan dalam, keluarga harus diberi penjelasan tambahan. Catatan Pasal 134 baru menyebut pemeriksaan luar dan visum jenazah."
dr. Suherman menoleh tajam. "Kau baru lima menit berdiri di ruang ini sudah mengajari saya prosedur?"
"Saya hanya memastikan, Dok."
"Yang memastikan prosedur di sini saya. Tugasmu mengamati. Jangan mengubah ruang autopsi menjadi ruang kuliah."
Teknisi yang memegang kamera menahan senyum. Arka menutup mulutnya, tapi label merah di atas jenazah tidak hilang.
"Dokter Suherman," kata Arka.
Semua orang menoleh.
Ini hari pertama Arka di IKF. Dua jam sebelumnya, ia masih berdiri di depan meja administrasi dengan map rotasi Co-Ass dari Universitas Airlangga. Ia menunggu empat puluh menit sebelum dr. Suherman memanggilnya, lalu langsung diuji dengan foto orofaring korban tenggelam.
Arka menjawab benar.
Asfiksia. Kemungkinan tenggelam. Perlu pemeriksaan diatom.
Tapi jawaban itu tidak membuatnya dihargai.
dr. Suherman hanya bertanya, "Kau pernah menyentuh jenazah sungguhan?"
Saat Arka menjawab belum pernah melakukan otopsi penuh, dua teknisi tertawa kecil.
Lalu ia disuruh mencuci botol spesimen dan mengepel ruang autopsi.
"Sebelum saya mengakui kau sebagai Dokter Muda," kata dr. Suherman waktu itu, "di mata saya kau tenaga angkut."
Sekarang, di ruangan yang sama, Arka melihat kata [Pembunuhan] menyala di atas korban.
Ia tidak bisa diam.
"Konjungtiva korban menunjukkan perdarahan titik yang terlalu luas," kata Arka. Ia menunjuk tanpa menyentuh jenazah. "Arah alur jeratan juga tidak sepenuhnya konsisten. Saya pikir jaringan leher perlu dibuka lebih dalam sebelum membuat kesimpulan."
Ruang autopsi mendadak sunyi.
dr. Suherman menatapnya perlahan. "Saya sudah bilang saat masuk tadi. Berdiri di sudut. Tidak menyentuh. Tidak bicara."
"Saya hanya mengusulkan pemeriksaan lanjutan, Dok."
"Mengusulkan?" dr. Suherman melepas sarung tangan dengan kasar. "Kau baru hari pertama. Bahkan otopsi penuh saja belum pernah kau lakukan. Kau berani mempertanyakan dua puluh tahun pengalaman saya?"
Teknisi yang tadi mencatat menunduk, tapi sudut mulutnya bergerak.
Arka menahan panas di wajahnya. "Kalau ini pembunuhan, VeR awal yang salah bisa membuat pelaku pergi."
"Kalau?" Suara dr. Suherman naik. "Forensik tidak bekerja dengan kalau. Forensik bekerja dengan bukti. Dan bukti yang sah tidak keluar dari mulut anak magang yang baru selesai mencuci botol."
Kalimat itu menampar lebih keras daripada tawa teknisi.
Anak magang.
Mencuci botol.
Arka melihat label merah itu lagi. Kata [Pembunuhan] tidak berubah.
Ia memaksa dirinya berpikir jernih. Label hanya bisa ia lihat sendiri. Tidak boleh ia sebut. Tidak bisa masuk berkas. Kalau ia ingin dipercaya, ia harus menemukan bukti yang bisa difoto, dicatat, dan diverifikasi.
dr. Suherman menunjuk pintu. "Keluar setelah saya selesai menerima telepon ini. Jangan sentuh apa pun. Setelah itu kau kembali ke rak spesimen."
Ponselnya bergetar. Ia melirik layar, lalu keluar ruangan.
Satu teknisi ikut membawa formulir. Yang lain ragu sebentar, lalu menyusul. Mungkin tidak ingin berada di dekat anak magang yang baru mempermalukan dirinya sendiri.
Pintu tertutup.
Ruang autopsi tinggal menyisakan Arka dan jenazah perempuan muda itu.
Lampu operasi berdengung pelan.
Di luar pintu, suara dr. Suherman terdengar samar di telepon.
Arka menatap meja instrumen.
Skalpel nomor 23 terbaring di nampan stainless.
Ia tahu aturannya. Dokter Muda tidak boleh melakukan bedah mayat tanpa supervisi. Ia tidak boleh menandatangani VeR. Jika keluarga korban menggugat, jika prosedur dipersoalkan, jika dr. Suherman ingin membuangnya dari rotasi, kariernya bisa selesai sebelum dimulai.
Tapi ia juga tahu waktu mereka sempit.
Keluarga ingin pemakaman malam ini.
VeR awal hampir ditulis sebagai bunuh diri.
TKP bisa dibersihkan sebelum Inafis kembali.
Jika Arka keluar sekarang, label merah itu akan tetap menjadi rahasia di kepalanya, sementara bukti di tubuh korban ikut terkubur.
Ia berjalan ke pintu.
Tangannya menyentuh panel kunci.
Di kepalanya, suara dr. Suherman terulang: kau bahkan belum pernah menyentuh jenazah.
Klik.
Kunci ruang autopsi menutup dari dalam.
Langkah cepat terdengar mendekat. Gagang pintu bergerak sekali, lalu dua kali.
"Arka?" Suara dr. Suherman berubah tajam. "Buka pintunya."
Arka memakai sarung tangan baru.
"Arka! Kau dengar saya?"
Ia mengambil skalpel nomor 23. Logamnya dingin, ringan, dan nyata. Ia menarik nampan instrumen lebih dekat dengan siku, tanpa melepas pandangan dari leher korban.
BRAK!
Pintu dihantam.
"Kau tahu apa yang kau lakukan? Buka pintunya sekarang!"
Arka berdiri di sisi meja autopsi. Matanya menatap alur jeratan yang terlalu rapi di leher korban.
"Saya tahu, Pak Dokter," bisiknya.
Ia menurunkan ujung skalpel.
Dan ketika logam dingin itu membuka garis pertama di kulit leher jenazah, semua hinaan tentang anak magang, botol spesimen, dan tangan yang belum pernah menyentuh mayat berubah menjadi satu keputusan: kalau kebenaran harus dibuka paksa, Arka akan membukanya sendiri.
Bab 002: Tamparan untuk Sang Guru
Garis pertama itu pendek, tapi cukup untuk membuat seluruh hidup Arka berubah arah.
Di luar, pintu besi dihantam.
BRAK!
"Arka! Buka pintunya!"
Arka tidak menjawab. Ia membuka jaringan leher lapis demi lapis. Tangannya seharusnya gemetar, tapi justru stabil. Setiap aturan yang ia langgar berdiri jelas di kepalanya, namun label merah di atas jenazah lebih jelas lagi.
[Pembunuhan]
Ia tidak boleh hanya percaya pada sistem. Ia harus menemukan bukti.
"Kalau kau merusak jenazah itu, kariermu selesai!" teriak dr. Suherman dari luar.
Arka memperdalam irisan.
Jaringan subkutan terbuka. Di area otot sternokleidomastoideus, warna merah gelap tampak menyusup ke dalam serat otot. Memar itu berada di jaringan dalam. Tekanan setelah mati tidak akan membentuk pola seperti itu.
Korban masih hidup saat lehernya ditekan.
[Temuan pendukung terdeteksi.]
[Perdarahan dalam otot leher: ante-mortem.]
"Satu," bisik Arka.
Di koridor, suara perempuan terdengar tegas. "Apa yang terjadi?"
Teknisi menjawab gugup, "Bu Iptu, anak magang itu mengunci ruang autopsi. Dia membedah sendiri."
"Apa?"
Arka mengenali nama dari berkas: Adira Larasati, Kanit Reskrim Polrestabes Surabaya.
dr. Suherman cepat berkata, "Bu Iptu, dia tidak stabil. Saya menegurnya, lalu dia melakukan tindakan bodoh."
Arka mendengar semuanya, tapi tidak berhenti.
Satu bukti bisa diperdebatkan.
Dua bukti membuat orang diam.
Tiga bukti memaksa ruangan berpihak pada kebenaran.
Ia membuka jaringan sekitar laring. Ujung instrumen menyentuh struktur keras. Kartilago tiroid.
Ada retakan melintang.
Tekanan kuat dari depan atau samping. Terarah. Tidak cocok dengan gantung diri biasa pada perempuan muda.
[Fraktur kartilago tiroid terkonfirmasi.]
"Dua."
Adira berbicara di luar, "Mundur."
Koridor hening.
Arka tahu pintu akan segera didobrak. Ia mengarahkan lampu kecil ke alur jeratan. Bekas tali besar terlalu mencolok, seolah sengaja disiapkan agar semua mata berhenti di sana.
Di bawahnya, ada garis lain.
Tipis.
Hampir horizontal.
Lebarnya sekitar dua milimeter.
Alur itu tidak cocok dengan tali gantungan. Jejaknya lebih sesuai dengan tali kecil atau kabel yang mencekik korban lebih dulu, lalu disamarkan dengan bekas gantungan kasar.
"Tiga."
Adira menghitung di luar. "Satu. Dua. Tiga."
Benturan keras meledak. Pintu terbuka ke dalam.
Adira masuk lebih dulu. Wajahnya dingin, marah, dan sepenuhnya sadar bahwa ia sedang melihat pelanggaran prosedur.
"Siapa yang memberi Anda wewenang mengunci ruang autopsi?" tanyanya tajam. "Ini jenazah dalam perkara polisi, Dok. Bukan ruang praktik pribadi."
dr. Suherman menyusul masuk. Napasnya berat. "Bu Iptu, anak ini baru datang hari ini. Dia bahkan belum pernah menyentuh jenazah. Dia membedah tanpa izin. Arka, kau sudah gila?"
Kalimat itu kembali muncul.
Belum pernah menyentuh jenazah.
Tapi kali ini jenazah sudah terbuka, dan bukti sudah ada di depan mata.
Arka meletakkan skalpel di nampan. Ia mengangkat kedua tangan sedikit.
"Saya siap bertanggung jawab, Bu Iptu. Tapi lihat dulu tiga temuan ini."
Adira menatapnya satu detik. "Tunjukkan."
dr. Suherman terdiam.
Arka membuka bagian otot leher dengan pinset. "Pertama, perdarahan luas pada otot sternokleidomastoideus. Ini ante-mortem. Korban masih hidup saat tekanan terjadi."
Adira mendekat. "Lanjut."
"Kedua, fraktur melintang pada kartilago tiroid. Pada kasus gantung diri biasa, temuan ini tidak mudah terjadi, apalagi pada korban muda. Ini lebih sesuai dengan pencekikan kuat."
Teknisi di ambang pintu tidak lagi tertawa.
Arka menggeser lampu. "Ketiga, alur tipis dua milimeter di bawah bekas tali besar. Arah dan lebarnya berbeda. Saya menduga korban dicekik lebih dulu dengan tali kecil atau kabel, lalu digantung untuk membuat TKP terlihat seperti bunuh diri."
Ruang autopsi diam.
Adira membungkuk, memperhatikan garis itu. Kemarahannya berubah menjadi fokus.
"Foto semua temuan," katanya kepada teknisi. "Pakai skala ukur. Hubungi Inafis. Minta mereka kembali ke TKP dan cari tali kecil, kabel, atau serat tipis. Status perkara naik menjadi dugaan pembunuhan."
"Siap, Bu Iptu."
"Tunggu," kata Arka.
Teknisi berhenti.
dr. Suherman langsung menoleh. "Apa lagi?"
Arka menunjuk area leher tanpa menyentuh. "Ambil foto alur besar dan alur kecil dalam satu frame dulu, Dok. Kalau dipisah, pembela nanti bisa bilang itu dua temuan yang tidak berhubungan. Harus terlihat bahwa alur kecil tertutup sebagian oleh alur besar."
Adira menatap teknisi. "Lakukan seperti itu."
Teknisi cepat mengambil penggaris skala. Tangannya tidak setenang tadi. Kamera berbunyi beberapa kali.
"Dan swab serat di tepi alur kecil," lanjut Arka. "Kalau pelaku memakai kabel atau tali sintetis, mungkin ada transfer mikro. Saya tidak bisa memastikan tanpa Labfor, tapi jangan sampai hilang karena jenazah langsung dibersihkan."
Adira mengangguk singkat. "Catat. Swab serat sebelum pembersihan jenazah."
Kali ini tidak ada yang tertawa. Bahkan teknisi yang paling muda otomatis menulis ulang label bukti dengan tangan lebih hati-hati.
Teknisi bergerak cepat.
Adira menoleh ke dr. Suherman. "Dokter Suherman, Anda tadi sudah akan menulis kesimpulan bunuh diri?"
dr. Suherman menelan ludah. "Data pemeriksaan luar dan TKP memang mengarah ke sana."
"Mengarah," kata Adira. "Belum selesai."
Wajah dr. Suherman memucat.
Arka melepas sarung tangan luar dan membuangnya ke wadah limbah medis. Tangannya tetap stabil.
Adira kembali menatapnya. "Anda sadar tindakan Anda bisa diserang penasehat hukum nanti?"
"Sadar, Bu Iptu. Karena itu saya tidak akan menulis kesimpulan. Temuan harus difoto, dicatat, dan diverifikasi oleh Dokter Suherman sebagai Sp.F. Saya hanya membuka jalan."
"Kenapa Anda berani mengambil risiko sejauh itu?"
Tatapan Arka tetap pada jenazah. "Karena kalau malam ini ditulis bunuh diri, jenazah akan dimakamkan. Besok alur kecil itu mungkin sudah tidak bisa diperiksa dengan kondisi yang sama. Pelaku akan punya satu malam penuh untuk membersihkan TKP."
Bambang belum hadir di sana, tapi logika itu adalah logika penyidik. Adira jelas menangkapnya.
"Jadi Anda mengunci pintu untuk membeli waktu?"
"Untuk mencegah kesimpulan salah keluar lebih dulu, Bu Iptu."
Jawaban itu membuat semua orang diam lagi.
Adira menahan pandangannya. "Nama Anda?"
"Arka Pratama."
"Dokter Muda?"
"Benar."
"Hari pertama?"
"Benar."
Di pintu, dua teknisi saling pandang. Satu jam lalu mereka melihat Arka mencuci botol spesimen. Sekarang ia berdiri di depan meja autopsi dan memaksa kasus berubah arah.
Adira mengangguk pelan, lalu berkata kepada dr. Suherman, "Kalau dia tidak mengunci pintu ini, Dokter, malam ini Anda hampir menandatangani VeR yang membuat seorang pembunuh pulang dengan tenang."
Kalimat itu tidak keras.
Tapi cukup untuk membuat dr. Suherman kehilangan warna di wajahnya.
Arka tidak tersenyum. Ia tidak menatap teknisi. Ia tidak menikmati momen itu.
Ia hanya melihat label merah di atas leher jenazah.
[Pembunuhan]
Kali ini, kata itu tidak lagi sendirian di kepalanya.
Sekarang ruangan ini juga sudah mendengarnya.
Bab 003: Sang Pembunuh Ada di Lobi
Sekarang ruangan ini juga sudah mendengarnya.
Adira Larasati langsung mengambil alih.
"Segel ruangan ini. Semua foto temuan masuk berkas. Jangan ada barang keluar tanpa catatan rantai bukti." Ia menoleh ke dr. Suherman. "Dokter Suherman, VeR awal direvisi menjadi dugaan pembunuhan. Kesimpulan final menyusul setelah pemeriksaan lengkap."
dr. Suherman membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Baik, Bu Iptu."
Itu pertama kalinya Arka mendengar suara senior itu tanpa tekanan.
Adira menatap Arka. "Anda ikut saya."
Arka mengira ia akan dimarahi di kantor polisi. Namun ketika Adira berjalan keluar, ia memberi ruang di sisi kirinya.
Arka berjalan sejajar dengannya.
Di koridor, dua teknisi melihat perubahan itu dengan jelas. Satu jam lalu Arka memegang botol spesimen. Sekarang Kanit Reskrim membawanya sebagai orang yang perlu didengar.
dr. Suherman mengikuti beberapa langkah di belakang.
Di lift, suara sistem kembali muncul di kepala Arka.
[Misi darurat selesai.]
[Kesalahan klasifikasi kematian berhasil dicegah.]
[Hadiah diberikan: Injeksi Pengetahuan Forensik Dasar.]
Arka menahan napas.
Informasi mengalir cepat: pola asfiksia, perdarahan jaringan lunak, fraktur laring, perubahan postmortem, struktur dasar Visum et Repertum. Rasanya seperti banyak pintu dibuka sekaligus di kepalanya.
[Modul pendukung terbuka: Modul Penguatan Visual.]
Dunia menajam.
Goresan di dinding lift terlihat jelas. Debu di bahu rompi Adira tampak satu per satu. Bahkan jari dr. Suherman yang menekan telapak tangan sendiri terlihat dari pantulan logam.
"Dok?"
Arka mengerjap. "Saya baik-baik saja, Bu Iptu."
"Saya belum bilang Anda aman," kata Adira. "Tindakan Anda melanggar prosedur. Tapi temuan Anda menyelamatkan perkara. Jadi sampai saya tahu Anda ini masalah atau saksi penting, jangan jauh dari saya."
"Baik, Bu Iptu."
Pintu lift terbuka ke lobi utama Polrestabes Surabaya.
Keluarga korban duduk di bangku panjang. Petugas piket berbicara lewat telepon. Di dekat pilar, seorang pria muda menangis dengan kedua tangan menutup wajah.
"Itu pelapor," kata Adira rendah. "Hendra Wijaya. Tunangan korban. Dia yang menemukan jenazah bersama penjaga kos."
Arka melihat ke arah pria itu.
Hendra memakai kemeja biru muda kusut. Bahunya bergetar. Suaranya pecah. Dari jauh, ia tampak seperti laki-laki yang kehilangan calon istri.
Lalu label merah muncul di atas kepalanya.
[Pelaku]
Arka membeku.
Sang pembunuh ada di lobi.
Hendra menurunkan tangan dari wajahnya dan mengusap pipi. Namun ujung jarinya kering. Tidak ada air mata. Setiap sekitar tiga puluh detik, matanya menyapu ruangan, mengukur reaksi polisi. Bahunya hanya bergetar ketika ada petugas lewat.
Duka tidak terlihat di sana.
Itu panggung.
Seorang polisi berusia empat puluhan menghampiri Adira. Tubuhnya kokoh, wajahnya keras, matanya terbiasa membaca orang.
"Bu Adira. Ada perkembangan?"
"Ada, Pak Bambang. Kesimpulan bunuh diri runtuh. Dugaan kuat pembunuhan."
Bambang Wicaksono melirik Hendra. "Saya sudah merasa TKP itu terlalu rapi. Tapi pintu terkunci dari dalam membuat anggota ragu."
"Inafis kembali ke TKP. Cari tali kecil, kabel, atau serat tipis."
"Siap." Bambang menatap Arka. "Ini anak IKF yang bikin ribut?"
Adira menjawab datar, "Ini Dokter Muda yang menemukan tiga bukti kita hampir lewatkan. Arka Pratama."
Bambang mengangkat alis. "Dokter Muda? Hari pertama sudah bikin orang tua sakit jantung. Hebat juga, Dok."
Arka menunduk sopan. "Saya hanya mengikuti temuan, Pak Bambang."
"Temuan kadang lebih jujur daripada orang hidup." Bambang menyipitkan mata. "Dari tadi kau lihat pelapor. Ada apa?"
Arka tidak bisa mengatakan ada label [Pelaku] di atas kepala Hendra.
Sistem tidak bisa masuk berkas.
Maka ia memakai hal yang bisa dilihat.
"Tangisnya tidak konsisten," kata Arka. "Dia menutup wajah, tapi jari yang dipakai mengusap pipi kering. Getaran bahunya muncul saat petugas lewat. Matanya terus mengecek reaksi polisi. Orang yang benar-benar hancur biasanya tidak mengatur duka serapi itu."
Bambang dan Adira sama-sama melihat Hendra.
Seolah sadar diperhatikan, Hendra menangis lebih keras. "Pak Polisi... kapan saya boleh melihat Sari? Saya cuma mau lihat dia sekali lagi. Saya tidak kuat begini..."
Beberapa keluarga korban ikut terisak.
Arka justru makin yakin.
Nada sedih itu naik terlalu cepat.
Terlalu tepat waktu.
Bambang mengembuskan napas. "Baru keluar dari ruang mayat, sudah baca orang hidup?"
"Saya hanya mengamati, Pak."
"Tipis bedanya. Tapi kalau berguna, saya suka yang tipis-tipis."
Adira membuat keputusan cepat. "Pak Bambang, bawa Hendra ke ruang pemeriksaan. Alasan resmi: tambahan keterangan pelapor karena status perkara berubah. Jangan sebut tersangka dulu."
"Siap."
Bambang memberi isyarat kepada petugas piket untuk menutup akses lorong, cukup halus agar keluarga korban tidak panik.
Bambang berjalan mendekati Hendra bersama dua petugas.
"Mas Hendra," katanya ramah. "Kami perlu tambahan keterangan. Sebentar saja."
Hendra mengangkat wajah. "Tambahan? Saya sudah cerita semua, Pak. Saya yang lapor. Saya juga korban di sini."
"Karena Mas pelapor pertama, keterangan Mas penting. Mari."
Hendra berdiri.
"Saya harus ikut sekarang?" tanyanya. "Keluarga Sari masih di sini. Saya harus menemani mereka."
Adira menjawab sebelum Bambang. "Justru karena status perkara berubah, kami perlu memastikan urutan kejadian dari orang pertama yang menemukan korban. Kalau keterangan Mas Hendra bersih, prosesnya cepat."
Kata bersih membuat rahang Hendra bergerak.
"Saya tidak menyembunyikan apa pun, Bu."
"Bagus," kata Adira. "Maka pemeriksaan tambahan tidak akan lama."
Tangan kirinya masuk ke saku celana.
Arka menangkap gerakan itu.
Terlalu cepat. Terlalu melindungi.
Dengan Modul Penguatan Visual, ia melihat punggung tangan kiri Hendra sekilas keluar dari saku. Ada garis kemerahan kasar di sisi luar.
Seperti gesekan tali.
Atau kabel.
Adira melihat perubahan wajah Arka. "Apa lagi?"
Arka mendekat setengah langkah. "Bu Iptu, perhatikan tangan kirinya. Jangan biarkan dia mencuci atau menyentuh apa pun."
"Luka?"
"Kemungkinan gesekan. Belum bisa saya sebut apa sebelum dilihat langsung. Tapi kalau dia pelapor pertama dan benar mencoba membuka pintu, luka seperti itu harus bisa dijelaskan. Kalau tidak, itu jalan masuk kita."
Adira tidak bertanya dari mana Arka melihatnya secepat itu. Ia hanya memakai informasi yang berguna.
Adira menatap Hendra yang mulai berjalan ke lorong pemeriksaan.
Matanya berubah dingin.
"Pak Bambang."
Bambang berhenti.
"Pastikan kedua tangannya terlihat di atas meja saat pemeriksaan."
Hendra menoleh terlalu cepat.
Terlalu takut untuk seorang pelapor biasa.
Label merah di atas kepalanya berdenyut lebih kuat.
[Pelaku]
Arka berdiri di lobi dan menoleh ke belakang.
dr. Suherman masih di dekat lift, jauh dari percakapan, seperti tidak yakin apakah ia masih punya tempat di sana.
Tatapan mereka bertemu.
Kali ini Arka tidak menunduk.
Ia hanya berkata cukup pelan agar didengar Adira, "Bawa dia masuk, Bu Iptu. Kalau saya benar, pembunuhnya tidak pernah meninggalkan gedung ini."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!