Indonesia
NovelToon NovelToon

Pewaris Makam Para Raja 2

Bab 1

Kapal Terbang Spiritual milik Lin Xiao akhirnya mendarat di sebuah lembah tersembunyi yang berjarak beberapa mil dari gerbang Kota Awan Suci.

Mereka bertiga melompat turun dari geladak, lalu Lin Xiao segera menyembunyikan kendaraan raksasa itu ke dalam Cincin Penyimpanannya.

Tap. Tap.

"Mulai dari titik ini, kita bukan lagi penguasa perbatasan selatan." ucap Lin Xiao sambil melemparkan dua helai jubah usang kepada Xue Mingyue dan Meng Shan.

"Kita hanyalah tiga orang kultivator pengelana miskin yang datang ke pusat benua untuk mencari peruntungan kecil."

Xue Mingyue menangkap jubah berwarna cokelat lumpur itu dengan ujung jarinya seolah sedang memegang bangkai tikus yang bau.

"Apakah aku benar-benar harus memakai kain kotor ini, Lin Xiao?" keluh gadis pewaris es utara itu dengan wajah cemberut.

"Wajah cantikmu itu hanya akan mengundang masalah dari para tuan muda mesum di kota ini, Xue'er." jawab Lin Xiao dengan senyum mengejek.

"Kecuali kau ingin aku memenggal kepala setiap pria yang menatapmu di jalanan, pakailah jubah itu dan tutup separuh wajahmu."

'Dia selalu saja memiliki alasan yang masuk akal namun sangat menyebalkan.' batin Xue Mingyue sambil mendengus pelan dan memakai jubah tersebut.

Di sisi lain, Meng Shan sedang berusaha keras memasukkan tubuh raksasanya ke dalam jubah abu-abu yang jelas terlalu kecil untuknya.

Srak.

"Tuan Lin Xiao, kain ini merobek sisik batu di punggung saya." lapor Meng Shan dengan wajah memelas layaknya anak kecil.

"Tahan saja keluhanmu, raksasa bodoh, setidaknya itu bisa menutupi kilauan kulit metalikmu yang mencolok itu." balas Lin Xiao menggelengkan kepalanya.

Lin Xiao kemudian menggunakan teknik kamuflase dari Kaisar Roh Kematian untuk menekan aura Inti Emas Menengah miliknya.

Dia membatasi fluktuasi energinya hingga hanya terlihat seperti kultivator Pembentukan Dasar tingkat delapan, sama halnya dengan kedua sekutunya yamg juga membatasi ranah kultivasinya.

"Ayo kita jalan kaki dari sini, jangan membuat keributan sampai kita mengetahui aturan main di kota ini." perintah Lin Xiao memimpin langkah.

Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak yang perlahan bergabung dengan jalan utama yang terbuat dari batu pualam putih.

Semakin dekat mereka dengan gerbang Kota Awan Suci, semakin padat pula lalu lintas manusia yang mereka temui.

Ribuan kultivator dengan berbagai macam pakaian dan senjata berlalu lalang, mengendarai monster terbang atau kereta yang ditarik oleh binatang buas.

"Energi spiritual orang-orang yang lewat ini rata-rata berada di tahap Pembentukan Dasar puncak." bisik Xue Mingyue merapatkan jubahnya.

"Bahkan penjaga gerbang kota itu memiliki aura Inti Emas awal."

"Selamat datang di pusat dunia, di mana mantan ketua sekte kalian bisa dipekerjakan sebagai satpam gerbang kota." canda Lin Xiao dengan nada sarkastis.

Mereka bertiga membayar pajak masuk menggunakan beberapa keping batu spiritual rendah dan berhasil melewati gerbang tanpa dicurigai.

Pemandangan di dalam Kota Awan Suci benar-benar membuat Meng Shan dan Xue Mingyue menahan napas karena takjub.

Jalanan kota itu lebarnya mencapai seratus meter, diapit oleh bangunan-bangunan pencakar langit yang terbuat dari logam spiritual dan kaca giok.

"Tujuan pertama kita adalah mencari pasar gelap terbesar di sudut kota ini." ucap Lin Xiao menatap peta kota yang baru dia beli dari pedagang kaki lima.

"Kita perlu mencairkan sebagian senjata dan batu giok hitam dari sekte selatan menjadi mata uang yang diakui di pusat benua ini."

"Apakah kita akan merampok pasar gelap itu lagi seperti yang kau lakukan di asrama sekte dulu?" tanya Meng Shan dengan suara polos yang keras.

Bugh.

Lin Xiao langsung memukul bagian belakang kepala Meng Shan menggunakan sarung pedangnya.

"Tutup mulut besarmu itu jika di tempat umum, raksasa bodoh." desis Lin Xiao dengan tajam.

"Di kota ini, pengelola pasar gelap pasti dilindungi oleh ahli Jiwa Murni atau bahkan Transformasi Jiwa, kita datang untuk berdagang secara damai." jelas Lin Xiao.

Setelah berjalan selama dua jam melewati labirin kota, mereka akhirnya tiba di depan sebuah bangunan bawah tanah yang tampak kumuh dari luar.

Kriet.

Lin Xiao mendorong pintu kayu lapuk tersebut, menampilkan tangga batu yang menurun tajam ke arah kegelapan.

Begitu mereka tiba di dasar tangga, pemandangan yang sangat kontras menyambut mata mereka.

Sebuah aula bawah tanah yang luar biasa megah dan diterangi oleh ribuan kristal cahaya terhampar luas di hadapan mereka.

Ratusan konter transaksi berjejer rapi, dipenuhi oleh kultivator yang sedang menawar artefak kuno, pil beracun, hingga budak monster.

"Aromanya persis seperti kampung halamanku." bisik Lin Xiao menghirup udara yang dipenuhi oleh keserakahan dan niat membunuh yang disembunyikan.

Mereka berjalan menuju salah satu konter penilai barang yang terlihat sedikit sepi di sudut ruangan.

Di balik konter itu, seorang pria tua sedang mengamati sebuah belati menggunakan kaca pembesar beraura spiritual.

"Aku ingin menjual seratus senjata pusaka tingkat rendah dan puluhan keranjang batu giok hitam murni." ucap Lin Xiao meletakkan satu cincin spasial di atas meja.

Bab 2

Pria tua itu menghentikan pekerjaannya dan melirik cincin spasial milik Lin Xiao dengan tatapan malas.

"Batu giok hitam dari wilayah selatan? Kualitas barang dari pinggiran benua biasanya sangat buruk dan rapuh." sebuah suara merdu namun sangat sinis terdengar dari arah samping meja.

Lin Xiao memutar kepalanya dan menatap sosok yang baru saja mengomentari barang dagangannya tersebut.

Seorang gadis muda yang mengenakan gaun sutra berwarna putih keperakan sedang berdiri bersandar pada pilar batu.

Sebuah cadar tipis menutupi separuh wajah bagian bawahnya, namun sepasang mata amethyst yang indah dan tajam menatap langsung ke arah Lin Xiao.

"Barang buruk atau tidak, itu tergantung pada siapa yang menilainya." balas Lin Xiao dengan nada yang sama sinisnya.

"Apakah kau seorang penilai di pasar gelap ini, Nona?" tanya Lin Xiao menyilangkan lengannya di depan dada.

Gadis bercadar itu tertawa pelan, suara tawanya terdengar seperti dentingan lonceng perak yang sangat jernih.

"Aku bukan seorang penilai barang, aku hanya seorang pelanggan yang kebetulan memiliki selera yang sangat tinggi." jawab gadis itu melangkah mendekat.

Dia mengulurkan tangannya yang seputih pualam dan mengambil pedang besi berkarat yang menggantung di pinggang Lin Xiao tanpa meminta izin.

Sring.

Lin Xiao dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan gadis itu sebelum ujung jarinya sempat menyentuh gagang pedangnya.

"Tangan yang berani menyentuh pedangku tanpa izin biasanya akan terpisah dari pemiliknya." ancam Lin Xiao dengan suara bariton yang menusuk.

Gadis bercadar itu sama sekali tidak terlihat takut, matanya justru memancarkan ketertarikan yang semakin dalam.

"Refleks yang sangat bagus untuk ukuran seorang pengelana miskin tingkat delapan." puji gadis itu melepaskan tarikannya.

"Namaku adalah Yue, dan aku tahu pedang karatanmu itu menyembunyikan aura kematian yang sangat pekat."

Xue Mingyue yang berdiri di belakang Lin Xiao melangkah maju dan menepis tangan Nona Yue agar menjauh dari Lin Xiao.

"Jaga jarakmu, Nona, kami tidak datang ke mari untuk mencari teman mengobrol." ucap Xue Mingyue dengan nada sedingin es.

Nona Yue menatap Xue Mingyue dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum tipis di balik cadarnya.

"Aura es yang sangat murni, namun sayangnya terlalu kaku dan kurang fleksibel." kritik Nona Yue dengan santai.

"Kalian bertiga jelas bukan kultivator pengelana biasa, kalian menyembunyikan sesuatu yang besar."

"Lalu apa urusannya denganmu?" tanya Lin Xiao menatap tajam mata gadis misterius tersebut.

"Jika kau tidak ingin membeli batu giok hitamku, maka pergilah dan cari mainan lain."

Nona Yue menyandarkan tubuhnya ke meja konter, sama sekali tidak terpengaruh oleh aura intimidasi dari Lin Xiao.

"Aku tidak tertarik dengan batu giokmu, tapi aku memiliki sebuah informasi yang mungkin sangat berharga bagi iblis yang bersembunyi di balik jubah kusammu itu." bisik Nona Yue dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Lin Xiao.

"Aku memiliki setengah potongan peta yang mengarah ke Domain Bintang Jatuh, sebuah reruntuhan kuno yang belum pernah dijarah oleh Empat Sekte Suci."

Mendengar kata reruntuhan kuno, para roh kaisar di dalam Dantian Lin Xiao mendadak terbangun dan memberikan resonansi yang kuat.

'Bocah, aku merasakan jejak aura dari Kaisar Ilusi Bintang pada tubuh gadis itu!' gema suara Kaisar Bayangan di dalam pikiran Lin Xiao.

'Jangan biarkan dia pergi, reruntuhan itu pasti berisi warisan yang bisa mendorong kultivasimu menembus tahap Jiwa Murni!'

Lin Xiao mempertahankan ekspresi datarnya, namun sudut bibirnya perlahan melengkung ke atas.

"Sebuah peta reruntuhan kuno? Kedengarannya seperti jebakan klasik untuk merampok kultivator bodoh di pusat benua ini." balas Lin Xiao mencoba memancing.

"Kau terlalu mencurigai orang baik seperti ku, Tuan Pengelana." jawab Nona Yue mengibaskan tangannya dengan elegan.

"Aku butuh pengawal yang kuat dan tidak terikat dengan faksi mana pun di kota ini untuk menemaniku masuk ke sana."

"Dan mataku mengatakan bahwa kau memiliki cukup banyak darah di tanganmu untuk bisa melindungi punggungku."

Lin Xiao menatap Xue Mingyue dan Meng Shan sekilas, lalu kembali menatap mata amethyst milik Nona Yue.

"Kami mungkin bersedia mendengarkan tawaranmu lebih lanjut, Nona Yue." putus Lin Xiao mengambil kembali cincin spasialnya dari meja konter.

"Tapi mari kita bicarakan ini di tempat yang memiliki anggur kualitas terbaik di kota ini."

Nona Yue mengangguk setuju, matanya memancarkan kepuasan dari seorang pemburu yang berhasil menangkap mangsa incarannya.

Sebuah aliansi sementara yang sangat rapuh baru saja terbentuk di sudut tergelap Kota Awan Suci.

Lin Xiao tidak tahu siapa sebenarnya gadis bercadar ini, dan gadis itu pun tidak tahu monster macam apa yang baru saja dia undang ke dalam hidupnya.

Namun satu hal yang pasti, eksplorasi menuju Domain Bintang Jatuh ini akan menguji batas kewarasan dan kekuatan mereka berempat.

Bab 3

Matahari sore mulai menyembunyikan sinarnya di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit Kota Awan Suci.

Nona Yue memimpin rombongan kecil itu menyusuri jalanan distrik elit yang terbuat dari lempengan emas putih.

"Apakah kau yakin pengemis-pengemis ini bisa membayar tagihan di Paviliun Anggur Giok, Nona?" ejek penjaga pintu kedai menatap jubah kusam Lin Xiao.

Nona Yue hanya melemparkan sebuah koin ungu bercahaya ke wajah penjaga itu tanpa menghentikan langkahnya.

"Beri kami ruangan VIP tingkat tertinggi dan bawakan anggur darah naga yang paling tua." perintah gadis bercadar sutra tersebut dengan nada elegan.

Penjaga itu langsung pucat pasi menyadari nilai koin di tangannya dan buru-buru membukakan pintu untuk mereka.

Ruangan VIP itu dipenuhi oleh aroma dupa penenang jiwa dan perabotan yang diukir dari kayu spiritual berumur ribuan tahun.

Meng Shan duduk dengan canggung, takut menghancurkan kursi kecil yang terlihat sangat rapuh dan mahal tersebut.

"Jadi, Nona Yue, mari kita berhenti bermain tebak-tebakan." buka Lin Xiao bersandar rileks di kursinya.

"Jelaskan pada kami apa sebenarnya Domain Bintang Jatuh itu sebelum aku memutuskan untuk menjual tenagaku padamu."

Nona Yue menuangkan anggur merah pekat ke dalam gelas kristalnya dengan gerakan yang sangat anggun.

"Domain Bintang Jatuh adalah makam dari seorang kaisar kuno yang menguasai elemen ruang dan gravitasi." jelas gadis itu menatap cairan di gelasnya.

"Tempat itu tidak bisa ditembus dengan kekerasan murni atau sihir elemen biasa, karena setiap serangan akan dipantulkan kembali oleh ilusi ruang."

"Di dalam sana, gravitasi bisa berubah ratusan kali lipat secara acak, meremukkan organ dalam kultivator yang tidak memiliki ketahanan fisik tingkat tinggi." sambungnya membeberkan fakta mengerikan.

Xue Mingyue mendengus pelan dan melipat kedua lengannya di depan dada.

"Jika sihir tidak berguna di sana, lalu apa yang membuatmu berpikir kami bisa membantumu?" potong Xue Mingyue dengan nada ketus.

"Karena mataku melihat bahwa bosmu ini memiliki kulit yang cukup tebal untuk menahan tekanan gravitasi di dalam sana." balas Nona Yue melirik lengan Lin Xiao.

"Kalian memiliki apa yang aku butuhkan, dan aku memiliki peta yang kalian butuhkan."

Brak.

Pintu ruangan VIP itu tiba-tiba didobrak secara paksa dari luar hingga kayu spiritualnya nyaris terlepas dari engsel.

Tiga orang pemuda berjubah perak dengan lambang bulan sabit di dada mereka melangkah masuk dengan wajah arogan.

"Kudengar Nona Yue yang cantik sedang minum anggur dengan sekumpulan gembel jalanan!" tawa pemuda di tengah yang memegang kipas lipat.

"Apakah seleramu sudah menurun drastis sejak kau tiba di kota ini, sayangku?"

Nona Yue meletakkan gelas kristalnya dengan keras ke atas meja, matanya memancarkan ketidaksukaan yang sangat jelas.

"Tuan Muda Lu, Anda sangat tidak sopan mendobrak ruanganku seperti ini." desis Nona Yue menahan amarahnya.

"Ayolah, Nona Yue, kau tahu Istana Bayangan Bulan selalu terbuka untuk menyambutmu." goda Tuan Muda Lu melangkah mendekati meja mereka.

Pemuda itu menatap remeh ke arah Lin Xiao dan Meng Shan yang masih memakai jubah kusam khas pengelana rendahan.

"Hei rakyat jelata, ambil koin perak ini dan pergilah dari sini, ruangan ini sudah kuambil alih." usir Tuan Muda Lu melemparkan sekeping koin ke arah piring makanan.

Lin Xiao sama sekali tidak menatap koin itu, dia hanya terus memandangi sisa anggur di dalam gelasnya.

"Meng Shan, apakah di kota elit ini kita diizinkan untuk membuang sampah sembarangan di dalam kedai?" tanya Lin Xiao dengan suara bariton yang pelan.

"Saya rasa tidak, Tuan, penjaga kota pasti sangat ketat soal kebersihan." jawab Meng Shan dengan wajah polos yang sangat natural.

Tuan Muda Lu mengerutkan keningnya, merasa dihina oleh obrolan dua pengelana miskin yang bahkan tidak berani menatap wajahnya tersebut.

"Kau berani mengataiku sampah, dasar gembel?!" raung Tuan Muda Lu mengangkat tangannya untuk menampar wajah Lin Xiao.

Wush.

Tangan pemuda berjubah perak itu melesat membelah udara dengan kecepatan tingkat Inti Emas awal.

Namun tangan itu berhenti tepat satu inci dari pipi Lin Xiao, seolah menabrak dinding baja yang tidak terlihat.

Lin Xiao telah mencengkeram pergelangan tangan Tuan Muda Lu hanya dengan menggunakan tiga jari tangan kanannya.

Pemuda dari Kota Jade River itu sama sekali tidak menolehkan kepalanya, matanya masih fokus pada gelas kristalnya.

Krak.

Suara tulang yang remuk dan hancur terdengar sangat jelas di dalam ruangan VIP yang kedap suara tersebut.

"Aaaarrghh!" jerit Tuan Muda Lu jatuh berlutut, wajahnya berubah menjadi sangat pucat karena rasa sakit yang melumpuhkan saraf tangannya.

Dua pengawal Tuan Muda Lu segera mencabut pedang mereka dengan panik melihat majikan mereka dilumpuhkan.

"Lepaskan Tuan Muda kami atau kami akan memotong tanganmu, gembel!" teriak salah satu pengawal bersiap menerjang maju.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!