Ananta Shakira, lulusan S2 dari universitas terkenal dalam negeri melangkah pelan menyusuri koridor sekolah taman kanak kanak dengan langkah tenang.
Senyumnya tidak pernah pudar, begutu juga lambaian tangannya, membalas interaksi dengan anak didik maupun rekan rekan sejawat yang baru dia kenal.
Suasana sekolah cukup rame dan riuh oleh tawa dan rengekan anak anak usia pra sekolah itu, Ada yang super aktif berlari lari, juga ada yang sengaja mengencangkan volume suaranya.
Taman Kanak Kanak ini atau dikenal sebagai Kindergarten Permata Husada merupkan pra sekolah internasional. Ada beberapa bahasa asing yang diajarkan untuk tingkat dasar. Karena tujuannya hanya untuk mengenalkan hingga anak anak itu terlatih berkomunikasi di luar bahasa ibu.
Ada dua kategori kelas untuk anak didik di taman kanak kanak ini. Khusus usia empat sampai lima tahun yang berada di kelas nol kecil dan enam tahun di kelas nol besar.
Sudah dua minggu Ananta berdinas di sini. Ananta mengajar di kelas nol besar dan dia sangat bersyukur. Sesuai perintah orang tuanya, Ananta pun selalu mengupload semua kegiatannya bersama anak anak yang setahun lagi akan melanjutkan pendidikannya ke sekolah dasar di media sosial papanya.
Resiko Ananta jadi anak tunggal yang papanya menjabat sebagai wakil ketua dewan yang haus akan pencitraan. Untuk sementara ini dia terpaksa harus melupakan cita citanya yang ingin berkarir di perusahaan papanya
Flashback tiga minggu yang lalu.
"Posisi papamu banyak yang ngincar. Jadi kamu harus bantu mendukung karir papamu, Nanta," ucap mamanya tenang.
Ananta tau, demi dukungan untuk suaminya, mamanya punya seabrek kegiatan sosial. Ananta ngga mengira kalo dia juga kena imbasnya. Dia pikir setelah lulus kuliah S2, bisa langsung bekerja sebagai direktur di perusahaan papanya. Sayangnya malah diminta mengajar anak anak usia pra sekolah.
"Aku orangnya ngga sabar, mah. Nanti orang tua mereka bisa protes kalo anaknya kucubit karena nakal," protes Ananta dengan menampilkan mimik wajah memohon agar mamanya berpikir ulang dengan rencananya.
Mamanya-Nyonya Prameswari yang berkuasa melototkan matanya.
"Kamu harus belajar sabar, Ananta. Kesabaranmu itu yang akan jadi poin tambahan simpati buat karir papa kamu nanti."
Ananta hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan lelah karena bujukan ngotot mamanya.
"Mah, papa juga baru menjabat. Nanti aja kalo udah mau pemilihan lagi baru nyari simpati." Ananta menawarkan solusi. Dia masih ngeri membayangkan akan menghadapi anak anak kecil yang pastinya akan banyak tingkah dan sulit diatur.
"Justru itu. Dari sekarang kita harus menunjukkan image keluarga yang baik dan bahagia di mata para pemilih. Jadi periode berikutnya papa bisa terpilih lagi dengan pemilik suara yang lebih banyak," tukas Prameswari dengan nada suara menggebu gebu.
"Siapa tau jalan papa jadi ketua komisi bisa tambah lancar," lanjut mamanya masih dengan penuh semangat.
Ananta menghela nafas panjang.
"Untuk apa juga papa jadi anggota dewan, mah. Kita juga udah kaya. Lagi pula rakyat di luar aja sudah ngga percaya." Ananta menyahut skeptis.
Udah aman jadi pengusaha sukses, udah kaya raya juga. Masih aja kurang. Manusia memang tidak tau bersyukur, omel Ananta dalam hati.
Mamanya malah berkacak pinggang sambil melotot menatapnya.
"Kita juga butuh kekuasaan, Ananta. Pernah dengar kalimat orang kaya kalah lawan dengan pejabat?"
Ananta sudah menyerah untuk mendebat mamanya lagi. Jadinya sekarang dia berada di sini, setelah hampir satu minggu memikirkan untuk mengajar anak anak yang ternyata kelakuannya-untungnya cukup manis, tidak sebrutal yang dia pikirkan. Lagi pula di dalam kelas, Ananta tidak sendiri. Masih ada dua guru pendamping yang membantunya. Dia bersyukur karena tidak sendirian ketika mengajar di dalam kelas.
Endflashback
Tepat jam sebelas siang saat anak anak didiknya berjalan beriringan meninggalkan kelas, mamanya tiba tiba menelpon dirinya.
Ponselnya dia jauhkan begitu suara mamanya terdengar nyaring.
"Sayaaang.... kamu ternyata yang dipilih anaknya Pak Latif Jaffar untuk dia temui nanti siang. Kamu udah selesai ngajar, kan, sekarang?"
Seruan heboh mamanya membuat Ananta tersentak.
Dia dijodohkan? Seolah ada mercon yang meledak menghancurkan gendang telinganya hingga sesaat dia merasa tuli.
"Ananta, kamu dengar mama, kan?"
Ananta masih bengong.
"ANANTA!"
Dia langsung tersentak mendengar gelegar suara mamanya.
"Malah diam aja. Ayo, kamu langsung ke butik Tante Dita. Dia sudah nunggu kamu datang." Suara mamanya kembali terdengar dengan nada yang ngga sabar.
"Ma ...," protes Ananta. Dia kaget, Sejak kapan perjodohan ini di atur?
Dadanya bergemuruh karena kesal dan mau marah.
Eh, bukannya anak tunggal Om Latif Jaffar sudah meninggal ? Kenapa dia bisa lupa, Ananta menggerutu dalam hati.
Ananta tentu saja tau berita itu. Anak konglomerat ternama itu meninggal karena kecelakaan satu bulan yang lalu.
Tapi kenapa dia masih saja dijodohkan dengan orang yang sudah meninggal.
"Ma, aku mau dinikahkan dengan pocica, ya?" sungut Ananta.
"Loh, kok, pocica." Prameswari-mamanya Ananta menyanggah kaget. Tapi ngga lama kemudian terdengar suara tawa lepasnya.
"Mama belum cerita, ya. Mama lupa. Ini anaknya Om Latif Jaffar yang lain."
Lho, bukannya anak Om Latif Jaffar cuma satu, batin Ananta bingung.
Beda dengan volume suara mamanya di awal yang meninggi, sekarang sudah menurun dan cenderung berbisik saat beliau berucap lagi.
"Anak Om Latif dengan istri sirinya."
Ananta tercengang. Info ini baru kali ini dia dengar.
"Nanti aja mama cerita. Sekarang kamu ke butik Tante Dita. Ngga enak kalo Arsen lama menunggu."
"Arsen?" Siapa lagi, batinnya pusing.
"Itu, anaknya Om Latif Jaffar. Namanya Arsen Angkasa."
"Tapi aku mau meeting sama guru guru yang lain, ma. Ngga bisa seenaknya aja, dong, pergi begitu aja," tolak Ananta cepat.
Intinya dia ngga mau dijodohkan.
"Mama yang akan ijinkan sama Tante Juli. Sekarang kamu pergi, ya. Mama mau telpon Tante Juli."
"Ma---." Protes Ananta terputus karena mamanya sudah menoffkan sambungan telpon mereka.
Ananta menghembuskan nafas kesal.
Masih kurang baktinya dengan jadi guru di tk ini, ya, gerutunya kesal dalam hati.
Memang beberapa hari yang lalu ada sentilan omongan papa dan mamanya yang akan mencarikan jodoh untuknya. Tapi Ananta sudah menolaknya. Ternyata penolakannya tidak dianggap.
Ananta menghembuskan nafas yang kali ini lebih panjang lagi.
Kali ini dia akan membantah keinginan mamanya.
Kalo jadi guru, Logika Ananta masih bisa terima. Tapi menikah? Dia maunya sekali seumur hidup. Bukan kawin sebentar terus cerai.
Ananta menyimpan ponselnya ke sakunya dan melangkahkan kakinya menuju ruang untuk meeting.
Tapi langkah kakinya terhenti ketika bertemu dengan Tante Juli yang menatapnya panik.
"Ananta, kenapa kamu ke sini?" Tante Juli berseru kaget.
"Meeting, tante."
Wajah Tante Juli nampak makin panik. Reflek dia menggandeng Ananta berjalan cepat meninggalkan ruang meeting.
"Ngga apa apa ngga ikut meeting, Nanta. Kamu mau kencan, kan ...?"
"Ngga apa apa, tante. Ngga penting juga," bantah Ananta cepat.
"Jangan begitu, Nanta. Nanti Pak Latif ngga jadi kerja sama dengan papa kamu," sergah Tante Juli makin khawatir. Sebenarnya bukan begitu. Dia lebih takut dimarahin Mama Ananta sebagai donatur tetap kindergartennya.
"Kalo perjodohan ini sukses, dana pengembangan sekolah kamu, aku tambahin tiga kali lipat." Bujukan mamanya Ananta terngiang lagi di telinganya.
Ananta terdiam.
DEG
Jantungnya berdebar keras.
Maksudnya? Ada kekecewaan menyusup dalam hati Ananta.
"Datang aja temuin anaknya Pak Latif, Nanta. Dari sekian banyak perempuan, kamu yang terpilih sayang." Wajah Tante Juli nampak bangga. Dia harus bisa meyakinkan Ananta. Terbayarng dana segar yang akan turun nanti.
Ananta tanpa sadar memijat keningnya.
"Kan, mama dan papa pernah cerita, ya, kalo kamu mau dijodohkan. Trus kamu tolak. Sebenarnya papa dan mama kirain juga bakalan gagal. Ini di luar dugaan," cerita mamanya via video call. Sekarang dia sudah berada di dalam mobil jemputannya yang pak supirnya sudah mendapat mandat menuju butik Tante Dita yang fasilitasnya lengkap dengan salonnya untuk memake over penampilannya.
Ananta mendengarkan penuturan mamanya tanpa minat.
"Setelah kecelakaan Ega, terjadi keributan di pihak saudara saudara Om Latif untuk jadi pengganti Ega sebagai pimpinan perusahaan. Tapi semua ditolak karena Om Latif rupanya punya anak di luar nikah dari kekasihnya yang bule Amerika. Orang tua Om Latif sudah tidak bisa menentang lagi karena Arsen memang darah daging Om Latif." Mamanya-Prameswari masih dengan penuh semangat menuturkan ceritanya. Dia tidak peduli dengam wajah datar putrinya.
"Agar mendapat menantu pribumi, Mamanya Om Latif melakukan seleksi ketat untuk memilih calon istri untuk Arsen. Kamu salah satu yang termasuk dipinang. Setelah berhari hari tanpa kabar, ternyata hari ini keberuntungan ada di kamu, sayang. Arsen dan juga atas persetujuan Latif dan mamanya memilih kamu." Prameswari mengusap air matanya yang membayangi di sudut sudut matanya. Hatinya meledak dalam bahagia dan haru. Begitu juga suaminya yang tau pertama kabar ini.
"Waktunya jadi sempit karema ponsel papa kamu sempat lowbat. Uugghhh.. . kita jadi kehilangan banyak waktu berharga," keluh Prameswari.
Dalam hati Ananta malah senang kalo laki laki itu nanti jadi ilfeel karena keterlambatannya nanti di kencan pertama mereka.
Belum apa apa, kamu udah ngga ontime, mungkin begitu omelan laki laki itu nanti.
Ananta merasa geli sendiri dengan pemikiran absurdnya
"Untung saja restoran tempat pertemuan kalian dekat banget dengan butik Tante Dita. Jadi kamu bisa sekalian ganti baju dan didandani di sana."
Ananta jadi teringat ucapan Tante Juli.
"Kalo perjodohan ini gagal, papa akan rugi karena kerja samanya batal?" tanyanya dingin.
Prameswari tersenyum manis, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Karena itu kamu harus berhasil, sayang. Kerja sama yang ditawarkan lebih dari setengah trilyun, sayang. Belum lagi bonus yang akan kamu dapatkan kalo jadi istri Arsen," bujuk Prameswari menyemangati putrinya.
Ananta menghembuskan nafas kesal. Mobil yang membawanya sudah memasuki halaman butik Tante Juli.
"Semangat, dong, sayang. Katanya kamu kandidat ketiga yang dihubungi. Yang dua lainnya sudah ditolak Arsen."
Ananta tidak berkata apa apa lagi. Dengan malas Ananta keluar dari dalam mobil. Tante Dita sudah menunggunya di depan butiknya dengan wajah cemasnya.
*
*
*
Ananta berjalan pelan ke arah meja reservasi yang sudah diberitaukan pegawai restoran. Dia bahkan diantar seolah dirinya adalah tamu istimewa yang sudah ditunggu sejak lama.
DEG
Jantung Ananta berdetak keras ketika tatapannya membentur pada punggung kokoh milik Arsen Angkasa yang sudah datang lebih dulu.
Walau ada sedikit kelegaan karena sudah membuat laki laki pewaris pengganti itu menunggunya, tetap saja dia merasa ngga enak hati.
Memang terlambat lima menit, batin Ananta ketika melihat jam di pergelangan tangannya.
Kalo Arsen seorang yang menganggap waktu adalah uang, pasti saat ini laki laki itu merasa sangat kesal terhadap dirinya.
"Maaf, sudah membuat anda menunggu."
Masih dengan jantung yang berdebar sangat keras, Ananta kini sudah berada di hadapan laki laki itu.
Wajahnya jauh berbeda dengan almarhum Ega. Arsen terlalu banyak mengambil gen bule mamanya.
Desir desir halus di hatinya semakin deras ketika laki laki itu menatapnya. Wajah tampannya dingin dan tidak ramah. Tapi Ananta cukup terkesima dengan sepasang bola mata yang berwarna hijau terang itu.
Pegawai restoran yang mengantarnya menggeser kursinya agar dia bisa duduk. Duduk di depan Arsen.
"Terimakasih," ucap Ananta dengan senyum ramah.
"Sama sama, nona."
"Pesan apa saja yang kamu mau," sela Arsen memutus kontak mata Ananta dan pegawai restoran itu.
Karena melihat Arsen hanya memesan secangkir kopi, Ananta jadi berpikir kalo pembicaraan ini akan dilalui dalam waktu singkat.
Tapi karena perutnya masih belum diisi selain sarapan, Ananta memesan jus alpukat. Berharap bisa mengganjal lapar lambungnya untuk sementara waktu.
Pegawai restoran itu kenudian pergi setelah tau yang dipesan Ananta.
"Kamu sudah tau siapa saya, kan?" Ucap Arsen dingin, membuka pembicaraan.
"Ya." Ananta hanya menjawab singkat. Sudah ngga mood untuk berbasa basi. Paling juga dicancel perjodohannya, pikir Ananta yakin. Dia yakin Arsen tidak tertarik dengannya.
"Apa yang kamu tau tentang saya?"
Ananta membetulkan posisi duduknya. Tatap keduanya bertemu.
"Hanya informasi umum saja."
"Katakan saja."
Ananta tidak langsung menjawab. Hatinya bingung. Ngga mungkin yang mamanya bisikkan tadi dia katakan pada laki laki ini, kan?
Mamanya saja agak berhati hati mengatakan hal yang mungkin masih dianggap tabu.
Ananta menarik nafas dalam, sempat terdiam karena memikirkan jawaban yang pantas dia berikan.
"Kamu saudara satu ayah dengan almarhum Ega."
Laki laki itu mendengus.
" Lebih tepatnya saya anak yang diakui setelah anak sahnya meninggal. Bukan begitu yang sudah kamu tau?" Koreksi Arsen dengan sinis.
Ananta terdiam. Dia ngga menyangka akan seperti ini jadinya situasi mereka. Ananta merasa dirinya sedang dituduh pura pura ngga tau siapa laki laki di depannya.
"Pewaris pengganti, orang orang melabeli saya begitu. Kamu dan keluarga kamu pasti juga berpikiran sama."
Ananta masih terdiam dan berharap jus alpukatnya cepat datang. Kerongkongannya terasa sangat kering.
"Saya hanya anak tidak sah. Tapi kamu mau mendaftar jadi calon istri saya. Apa sebenarnya yang kamu dan keluarga kamu inginkan? Harta yang tiba tiba jadi milik saya?"
Ananta tersinggung mendengar kalimat tajam tanpa filter itu. Bukan dirinya yang mau, tapi orang tuanya, protesnya dalam hati. Dia balas menatap laki laki itu dengan tatapan menusuk.
Bodoh amat dengan kerja sama papanya yang terancam gagal.
Lagi pula kenapa dia yang disalahkan atas nasib sial laki laki ini?
Tapi sebelum Ananta menyahuti kata kata pedas Arsen, sesuai harapannya jus alpukatnya datang.
"Terimakasih."
"Sama sama, nona." Pelayan restoran itu kemudian pergi meninggalkan dua tamu istimewanya yang sedang terkungkung dalam ketegangan.
Tanpa peduli sedang ditatap oleh sepasang mata laser di depannya, Ananta meneguk jus alpukatnya hingga tinggal separuhnya saja. Dia perlu membasahi kerongkongannya dan memberi nutrisi untuk lambungnya sekarang.
"Kalo anda tidak ingin dijodohkan dengan saya, ngga apa apa. Harta anda juga ngga akan hilang." Ananta menyahuti dengan senyum manis. Setelah minum tadi dia sudah mendapatkan cukup energi untuk membantah laki laki di depannya.
Bayangkan saja. Dia belum sempat makan saat mamanya menyuruhnya agar secepatnya didandani di tempat Tante Dita. Tante Dita juga ngga menawarinya makan karena mungkin mengira dia masih kenyang. Teman mamanya itu langsung memintanya mengganti pakaian dan memoleskan make up ke wajahnya ala penyanyi korea.
Sampai di restoran yang menyajikan banyak menu yang menggugah selera, Ananta malah harus mendengarkan keluh kesah laki laki ini dengan perut kosong.
Memang Arsen menawarkan agar dia memesan makanan apa saja. Tapi Ananta merasa sungkan karena laki laki ini hanya minum secangkir kopi saja tanpa ada makanan karbo di depannya.
Sudut bibir Arsen ketarik lebih ke atas dengan tatapan lebih sinis lagi.
"Yakin keluarga kamu mau menolak kerjasama ini?"
"Kenapa enggak?" Ananta menjawab cepat dengan ngga kalah sinisnya. Walaupun dia tau kalo kegagalan ini bakal diratapi mama dan papanya selama berhari hari. Terutama mamanya.
Arsen merapikan krah bajunya dan agak melonggarkan dasinya.
"Kamu tau, kan, berapa nilai kerja sama yang papa saya tawarkan? Saya tau keluarga kamu cukup kaya, tapi pasti keluarga kamu ngga mau kehilangan momen ini, kan?"
Arsen seolah tau kalo keluarga Ananta memang sangat mengharap perjodohan ini terjadi.
"Bukannya perjodohan ini tergantung anda? Anda tinggal tolak saja kalo anda tidak suka, tidak perlu memikirkan keluarga saya. Anda juga masih punya banyak pilihan, kan?" Ananta merasa laki laki sombong tapi bernasib mengenaskan ini harus tau, kalo Ananta tidak peduli dengan batalnya perjodohan ini. Satu lagi yang harus dia tau juga, kalo dia belum pantas dipanggil kamu.
Telunjuk tangan Arsen mengetuk pelan berulang kali di atas meja mendengar ucapan kesal Ananta.
"Kamu calon istri ketiga yang dihubungi papa saya. Memang atas kemauan saya."
"Anda bisa milih yang lain, kan," ejek Ananta, kemudian dia meneguk lagi jus alpukatnya hingga tandas. Dia masih merasa lapar. Menghadapi laki laki ini ternyata membuat jus alpukatnya jadi tidak berguna.
Tanpa disadari Ananta, laki laki itu tersenyum menatapnya. Tangannya melambai pada pegawai restoran yang masih berdiri mengawasi mereka.
"Mungkin kita seharusnya makan siang dulu sebelum membicarakan hal ini. Saya sekarang juga merasa lapar."
Eh, Ananta kaget juga mendengarnya. Dia yakin cacing di lambungnya tidak berbunyi sedikit pun. Kenapa laki laki setengah bule ini paham kalo dia sedang kelaparan?
Ananta tidak menolak ketika salah satu pegawai restoran itu menyodorkan menu padanya. Karena dia melihat Arsen juga memegang daftar menu yang sama.
Walaupun perjodohannya gagal, dia ngga boleh jatuh sakit karena penyakit magnya yang kambuh.
Ananta mulai mengamati Arsen di sela gerakan garpu dan pisaunya. Dia dan Arsen sama sama memesan steak. Ananta pikir laki laki bule itu akan memesan medium rare. Tapi ternyata sama dengan dirinya yang memlilih matang sempurna.
"Apakah mengajar anak anak kecil itu memang keinginanmu?"
Ananta yang sedang melihat Arsen jadi ke gap, jantungnya berdebar aneh mendapati lirikan sekilas Arsen.
"Bukan."
Arsen menusukkan garpu ke potongam steaknya.
"Keinginan orang tuamu?"
"Begitulah." Ananta mengambil tisu dan mengusap sudut kanan bibirnya yang ada sisa saos. Karena ke gap tadi, garpu yang membawa potongan daging steak agak melenceng dari mulutnya.
Memang agak memalukan.
"Masih ada." Tunjuk Arsen dengan acuh pada bagian bawah sudut bibir Ananta yang belum terjangkau oleh tisunya.
Ananta mengeluarkan cermin kecil yang selalu dia bawa. Bukan ngga percaya dengan Arsen, tapi dia hanya ingin memastikan kalo memang hanya tinggal di situ saja sisa saos yang masih ada. Dan dia juga ngga mau seperti di film film romantis yang beberapa dia tonton, dimana akan berakhir dengan tangan laki laki itu yang membersihkannya.
Uugghhh ... apa yang dia pikirkan, batin Ananta mengomel.
Arsen tersenyum tipis ketika melihat Ananta mulai fokus dengan cermin kecilnya.
"Kamu ke sini juga atas permintaan orang tuamu?"
Ananta mengalihkan matanya dari cermin untuk melihat Arsen sejenak.
"Sama seperti anda." Ananta sudah tidak peduli dengan ratapan mamanya yang akan kehilangan uang setengah T.
Ini demi harga dirinya!
Kalo Arsen ngga mau dengannya, dia ngga mungkin maksa. Pasti masih banyak calon yang belum dipanggil.
Ananta sama sekali ngga merasa bersalah pada kedua orang tuanya.
Senyum Arsen sudah tidak lagi sinis tersungging di bibirnya, yang sayangnya Ananta tidak melihatnya. Karena gadis di depannya terlalu fokus melahap steaknya.
"Kamu penurut sekali," ucap Arsen dengan nada mencela.
"Aku anak tunggal."
Arsen tidak berkomentar lagi. Kalimat Ananta mengingatkan posisinya yang juga sama. Dia juga anak tunggal dan tidak punya pilihan untuk menolak jadi pewaris pengganti.
"Ada muridmu yang nakal?" Arsen tiba tiba saja jadi ingin tau apakah gadis di depannya menyukai pekerjaannya atau tidak.
"Mereka ngga nakal, hanya terlalu aktif saja," bela Ananta. Teringat kelakuan anak didiknya. Ananta ngga akan berpikir dua kali untuk resign kalo hanya dia sendiri saja yang mengajarnya di kelas dan menangani mereka.
"Sudah ada yang kamu cubit?" Arsen menahan tawa membayangkan Ananta melakukan KDRT terhadap anak didiknya yang tukang bikin keributan.
"Belum ada," jawab Ananta jujur. Hampir saja sebenarnya dia lakukan, tapi dia masih ingat peaan mamanya untuk sabar demi karir papanya.
Arsen menatap Ananta dengan tatapan meeemehkan karena tidak percaya. Sejak pertama ngobrol dengannya saja sudah kelihatan kalo gadis yang bernama Ananta ini punya sifat galak.
"Masa?" tanyanya.
"Kalo aku lakukan, papaku bisa mendapat stigma buruk." Helaan nafas Ananta terdengar perlahan
Arsen memperdengarkan tawa mahalnya.
Jantung Ananta berdebar keras ketika tatapnya bersirobok dengan netra Arsen. Tajam dan sangat menusuk sekali. Aneh, padahal bibirnya sedang tertawa.
*
*
*
"Bagaimana? Arsen mau nerima kamu jadi istrinya?" Berondong Prameswari ngga sabar dan sangat penasaran ketika putrinya baru saja membuka pintu mobil. Dia sampai ikut menjemput Ananta dari tempat kencannya.
Ananta memilih duduk dulu di samping mamanya sebelum menjawab pertanyaan beliau.
"Arsen ngga bilang apa apa waktu kamu pergi?" kejar Prameswari dengan kening berkerut. Hatinya mendadak risau akan kegagalan Ananta.
Dengan cepat Ananta menggelengkan kepalanya.
"Yaa..... " Mamanya tampak kecewa. Dia menghembuskan nafas panjang. Ternyata tidak selancar yang dia perkirakan.
"Tapi belum pasti juga kamu ditolakkan....?" Prameswari masih menggantungkan harapannya.
"Ngga tau, mam." Setelah selesai makan, laki laki itu mengusirnya secara halus dengan alasan meeting.
Tidak ada kata kata dari laki laki setengah bule itu tentang keputusan perjodohannya. Diterima atau tidak. Untungnya dia tidak memohon mohon agar diterima jadi istrinya. Entah kenapa Ananta merasa lega.
Prameswari tersenyum ketika tidak mendengar jawaban Ananta sampai mobil yamg menjemput Ananta di restoran tadi melaju ke rumah mereka.
Masih ada harapan, batin Prameswari mencoba tetap tenang dan yakin.
*
*
*
Arsen masih menatap kepergian Ananta hingga sosok gadis itu tidak tertangkap retinanya lagi.
Dia menghela nafas kesal berulang kali.
Sampai kapan dia harus menemui calon calon yang diatur oma dan papanya.
Diantara ketiga gadis tadi, hanya Ananta yang tidak menunjukkan ketertarikan dengannya. Dua gadis sebelumnya terang terangan menyukainya bahkan tidak segan membujuknya agar menerima mereka.
Apa dia masih harus menemui calon keempat? batinnya sebal.
*
*
*
Sudah beberapa hari berlalu dan tiada kabar dari Arsen. Apakah kabar baik yang diharapkan mamanya atau kabar buruk yang diinginkan dirinya.
Orang tuanya nampak senewen karena nilai investasi yang sangat besar dan akan sangat menyedihkan kalo gagal didapatkan.
"Kamu sudah nanya Latif, mas?" tanya Prameswari pada suaminya saat mereka sedang breakfast.
Gerakan tangan Ananta yang ingin menyuapkan nasi goreng rempela hati ayam buatan ARTnya tertahan.
"Latif belum mengatakan apa apa." Papanya-Gala Aghia menatap istrinya sebentar saat memberikan jawaban.
"Kamu tanya, dong, mas?"
Ananta memutar bola matanya. Mamanya sama sekali tidak menghargai putrinya. Bukannya lebih baik diam dan menunggu saja. Ananta mengomel dalam hati.
"Belum sempat ketemu Latif," ngeles Gala Aghia berusaha tetap tenang. Tiap hari istrinya menginterogasinya, sementara Latif belum mengatakan siapa yang akan dipilih jadi calon istri putranya.
Prameswari menghembuskan nafas kasar.
"Kalo dia sampai menolak putriku, berarti dia bodoh," umpatnya gedek.
Ananta hampir tersedak mendengarnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!