Angin musim gugur berhembus dingin melewati Puncak Bintang Jatuh, membawa serta aroma dupa yang perlahan memudar dari Aula Leluhur. Daun-daun kering berserakan di halaman, menambah kesan sunyi dan mati pada tempat yang dulunya penuh dengan kehidupan itu.
Di dalam aula, seorang pemuda duduk bersila di atas kursi kayu kebesaran Ketua Sekte. Wajahnya pucat, dan keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di dahinya.
Pemuda itu perlahan membuka matanya. Ada kebingungan yang mendalam di manik matanya yang hitam pekat.
"Aku... benar-benar bertransmigrasi?" gumam Jiang Chen dengan suara serak.
Satu jam yang lalu, dia adalah seorang pekerja kantoran biasa di Bumi yang tertidur karena kelelahan setelah bekerja lembur. Namun, saat dia membuka mata, dia mendapati dirinya berada di dunia yang sama sekali asing—dunia di mana para pembudidaya bisa membelah gunung dan terbang melintasi langit.
Dari ingatan pemilik tubuh asli yang membanjiri kepalanya, Jiang Chen mengetahui situasinya saat ini yang sangat tragis:
Identitas: Ketua Sekte Pedang Bintang generasi ke-18.
Kultivasi: Ranah Pemadatan Qi tingkat 3 (Bisa dibilang, sangat lemah).
Status Sekte: Hancur lebur.
Setengah bulan yang lalu, gurunya—Ketua Sekte generasi ke-17—tewas secara misterius saat menjelajahi sebuah reruntuhan kuno. Mendengar kabar kematian sang pilar utama, para tetua sekte bukannya berduka, malah menjarah paviliun harta karun, paviliun kitab suci, dan gudang pil obat sebelum melarikan diri pada malam yang sama. Para murid yang melihat sekte tidak lagi memiliki masa depan pun ikut bubar.
Sekte Pedang Bintang yang dulunya cukup disegani di wilayah ini, runtuh dalam waktu semalam.
"Ketua Sekte! Gawat!"
Suara gebrakan pintu memecah lamunan Jiang Chen. Seorang gadis muda berpakaian putih lusuh berlari masuk dengan napas tersengal-sengal dan mata yang memerah karena menangis. Dia adalah Su Yue, adik seperguruan Jiang Chen dan satu-satunya murid yang masih keras kepala bertahan di sekte ini.
"Ada apa, Saudari Junior?" tanya Jiang Chen, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meski kepalanya masih berdenyut.
"Orang-orang dari Sekte Harimau Hitam telah menembus gerbang depan!" Su Yue menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah, tubuh mungilnya bergetar. "Penatua Zhao dari sekte mereka memberi kita waktu satu batang dupa untuk menyerahkan Plakat Sekte dan segera angkat kaki dari gunung ini. Jika tidak... mereka akan membunuh kita berdua!"
Jiang Chen tersenyum pahit. Baru saja dia bereinkarnasi, apakah dia harus mati lagi? Di dunia kultivasi di mana yang kuat memangsa yang lemah, Ranah Pemadatan Qi tingkat 3 miliknya tidak lebih dari sekadar semut di mata Sekte Harimau Hitam.
Di saat keputusasaan mulai merayap di hatinya, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi tiba-tiba bergema di dalam benaknya.
[DING!]
[Mendeteksi keputusasaan Tuan Rumah... Menyesuaikan gelombang jiwa...]
[Sistem Pembangunan Sekte Abadi berhasil diikat!]
Mata Jiang Chen melebar. Jantungnya berdetak kencang. Sebagai pembaca setia novel web di kehidupan sebelumnya, dia tentu tahu apa arti suara ini. Jari Emas-nya telah tiba!
Sebuah layar transparan berwarna biru muda yang hanya bisa dilihat olehnya muncul di udara.
[Panel Tuan Rumah]
Nama: Jiang Chen
Kultivasi: Ranah Pemadatan Qi (Tingkat 3)
Sekte: Sekte Pedang Bintang (Peringkat: Tidak Masuk Akal / Hampir Punah)
Jumlah Murid: 1 (Su Yue)
Poin Sekte: 0
[MISI UTAMA DIPICU: Pertahankan Martabat Sekte!]
Deskripsi: Sebuah sekte agung tidak boleh menyerah pada ancaman anjing-anjing rendahan. Usir atau bunuh anggota Sekte Harimau Hitam yang berani menginjakkan kaki di depan Aula Leluhur.
Batas Waktu: 1 Jam.
Hadiah Keberhasilan:
Kultivasi Instan ke Ranah Pembentukan Fondasi (Tingkat 1).
Formasi Pelindung Sekte: Tirai Bintang Pembantai (Tingkat Bumi).
Teknik Pedang: Tebasan Pemisah Awan.
Hukuman Kegagalan: Kematian.
"Ketua Sekte? Kakak Seperguruan?" Su Yue menatap Jiang Chen dengan cemas, melihat kakak seperguruannya itu hanya diam mematung. "Apakah... apakah kita harus melarikan diri sekarang lewat jalur rahasia di belakang gunung?"
Jiang Chen perlahan berdiri dari kursinya. Kepanikan di matanya telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh ketenangan yang sedingin es dan ketajaman bak pedang yang baru diasah. Dia melangkah maju dan menepuk pundak adik seperguruannya dengan lembut.
"Lari? Mengapa kita harus lari dari rumah kita sendiri?" Jiang Chen merapikan jubah kebesarannya yang sedikit kotor. "Su Yue, kau berdirilah di belakangku. Kakakmu ini yang akan mengurus 'tamu' tak diundang kita."
Di halaman depan Aula Leluhur, belasan pria bertubuh kekar dengan jubah bermotif garis harimau tertawa terbahak-bahak sambil merusak beberapa patung batu peninggalan sekte.
Di barisan paling depan, seorang pria paruh baya dengan bekas luka codet di wajahnya berdiri sambil menyilangkan tangan. Dia adalah Penatua Zhao, seorang kultivator Ranah Pemadatan Qi tingkat 8.
"Waktu satu batang dupa sudah hampir habis!" teriak Penatua Zhao dengan suara serak yang menggelegar. "Bocah Jiang! Jika kau masih bersembunyi seperti kura-kura, jangan salahkan pedangku ini jika tidak memiliki mata!"
Krieeet...
Pintu kayu Aula Leluhur yang berat terbuka perlahan.
Jiang Chen melangkah keluar dengan tangan bertaut di belakang punggung, ekspresinya sangat tenang, seolah-olah dia sedang berjalan-jalan di taman bunganya sendiri. Di belakangnya, Su Yue mengikuti dengan wajah pucat, tangan mungilnya mencengkeram erat gagang pedang besi yang sudah berkarat di bagian ujungnya.
"Penatua Zhao," suara Jiang Chen bergema, tidak terlalu keras namun memancarkan wibawa yang membuat orang-orang di halaman seketika terdiam. "Ini adalah tanah suci Sekte Pedang Bintang. Membawa senjata, merusak properti, dan berteriak layaknya anjing liar di depan Aula Leluhur kami... apakah Sekte Harimau Hitam tidak pernah diajarkan tata krama?"
Keheningan berlangsung selama beberapa detik sebelum Penatua Zhao tertawa terbahak-bahak, tawanya memicu cemoohan dari para murid di belakangnya.
"Tata krama? Hahaha! Di dunia kultivasi ini, tinju dan kekuatan adalah tata krama!" Penatua Zhao meludah ke tanah, menatap Jiang Chen dengan jijik. "Gurumu yang keras kepala itu sudah menjadi pupuk, dan sektemu sudah bangkrut. Serahkan Plakat Sekte sekarang! Karena suasana hatiku sedang baik, aku mungkin akan membiarkanmu hidup sebagai tukang sapu, dan adik seperguruanmu yang cantik itu... heh, dia bisa melayani Tuan Muda kami di ranjang."
Wajah Su Yue memerah karena marah dan terhina, "Kalian... tidak tahu malu!"
Mata Jiang Chen menyipit. Hawa dingin melintas di pupil matanya. Sambil mempertahankan wajah datarnya, dia diam-diam berkomunikasi dengan Sistem di dalam benaknya.
"Sistem, novel-novel bilang selalu ada paket hadiah pemula untuk Tuan Rumah baru. Di mana milikku?"
[DING!]
[Paket Hadiah Pemula tersedia. Buka sekarang?]
"Buka!"
[Selamat! Tuan Rumah mendapatkan: Kartu Pengalaman Ranah Inti Emas (Durasi: 10 Menit), 100 Poin Sekte, dan Mata Penilai!]
Napas Jiang Chen sedikit tertahan. Hatinya melonjak kegirangan. Kartu Pengalaman Inti Emas!
Di wilayah perbatasan yang terpencil ini, seorang kultivator Ranah Pembentukan Fondasi sudah dianggap sebagai penguasa mutlak. Sementara itu, Ranah Inti Emas adalah eksistensi legendaris yang hanya ada di sekte-sekte besar di pusat benua! Menggunakan kekuatan Inti Emas di tempat ini sama saja dengan membawa meriam untuk menembak nyamuk.
"Bocah, kau menolak bersulang dan malah memilih minum racun!" Penatua Zhao, yang merasa tersinggung karena Jiang Chen malah melamun, akhirnya kehilangan kesabaran. Dia menghunus pedang besarnya yang memancarkan cahaya perak. "Murid-murid, maju! Patahkan kedua kaki dan tangan bocah ini!"
"Baik, Penatua!"
Tiga murid Sekte Harimau Hitam melesat maju, pedang mereka terhunus, siap mengoyak daging dan tulang. Su Yue memejamkan mata, melangkah maju bersiap menahan serangan mematikan itu dengan tubuhnya sendiri demi melindungi ketua sektenya.
Namun, sebelum pedang mematikan itu sempat menyentuh sehelai rambut pun dari pakaian Jiang Chen...
"Sistem, gunakan Kartu Pengalaman Inti Emas!" perintah Jiang Chen di dalam hatinya.
BOOM!
Seketika, badai energi spiritual yang sangat dahsyat meledak dari tubuh Jiang Chen. Jubahnya berkibar liar, dan rambut hitamnya melayang di udara seolah melawan gravitasi. Tekanan spiritual yang menekan layaknya runtuhan gunung menyapu seluruh Puncak Bintang Jatuh dalam radius ratusan meter.
Brak! Brak! Brak!
Ketiga murid yang maju tadi bagaikan layang-layang putus. Tubuh mereka langsung terhempas ke belakang, menyemburkan darah segar di udara, dan pingsan seketika dengan tulang rusuk hancur sebelum tubuh mereka menyentuh tanah.
"A-Apa?!"
Penatua Zhao terhuyung mundur. Matanya melotot seolah ingin keluar dari sarangnya. Kakinya bergetar hebat tak terkendali di bawah tekanan aura spiritual yang mengerikan itu. Udara di sekitarnya terasa begitu kental hingga dia tidak bisa bernapas.
"I-Ini... Tekanan macam apa ini?!" Suara Penatua Zhao bergetar hebat, kesombongannya hancur berkeping-keping menjadi teror murni. "R-Ranah Inti Emas?! T-Tidak mungkin! Bagaimana mungkin sampah s-sepertimu—"
Jiang Chen tidak menjawab. Dia melangkah maju satu langkah.
KRAK!
Ubin batu di bawah kakinya retak seperti jaring laba-laba. Dia menatap Penatua Zhao dari atas, pandangannya layaknya dewa kematian yang sedang menatap seekor semut rendahan.
"Berlutut."
Satu kata dari Jiang Chen diucapkan dengan nada datar, tetapi di telinga Penatua Zhao, itu terdengar seperti guntur kemarahan dari surga. Tekanan spiritual menghantam pundak pria paruh baya itu dengan kekuatan puluhan ribu kati.
KRAAK!!
"AAARRGGHHH!"
Penatua Zhao menjerit histeris dan jatuh berlutut dengan keras. Kedua tempurung lututnya hancur total menabrak lantai batu. Darah segar merembes keluar, menodai halaman suci Sekte Pedang Bintang. Murid-murid Sekte Harimau Hitam lainnya sudah jatuh tengkurap ke tanah, gemetar ketakutan tanpa bisa menggerakkan satu jari pun.
Di belakangnya, Su Yue membuka matanya dan menutup mulutnya karena terkejut. Pedang berkaratnya jatuh ke tanah. Dia menatap punggung lebar kakak seperguruannya seolah sedang menatap sesosok dewa yang baru turun dari kahyangan.
Jiang Chen tersenyum tipis, menatap darah musuhnya di tanah.
Udara di halaman Aula Leluhur seolah membeku. Bau anyir darah segar dari lutut Penatua Zhao yang hancur menguar, bercampur dengan debu dari ubin batu yang retak.
Di bawah tekanan spiritual Ranah Inti Emas yang dipancarkan Jiang Chen, waktu terasa berhenti. Belasan murid Sekte Harimau Hitam terkapar di tanah, wajah mereka menempel pada ubin dingin, nyaris tidak bisa menarik napas.
"S-Senior... ampun! Ini... ini pasti sebuah kesalahpahaman!" Penatua Zhao merintih kesakitan, suaranya bergetar karena teror yang absolut. Wajahnya yang arogan kini dipenuhi air mata dan ingus.
Sebagai kultivator tingkat 8 Ranah Pemadatan Qi, dia sangat sadar betapa mengerikannya Ranah Inti Emas. Tokoh seperti itu bisa memusnahkan seluruh Sekte Harimau Hitam hanya dengan membalikkan telapak tangan! Jika dia tahu Ketua Sekte Pedang Bintang yang digosipkan sebagai "sampah" ini adalah monster yang menyembunyikan kekuatannya, dia lebih rela memotong lehernya sendiri daripada datang ke mari.
Jiang Chen menatap pria paruh baya yang meratap di bawah kakinya dengan ekspresi datar. Di dalam benaknya, dia mengaktifkan salah satu hadiah dari Paket Pemula.
"Sistem, gunakan Mata Penilai pada orang ini."
[Mata Penilai Diaktifkan]
Nama: Zhao Kui (Penatua Luar Sekte Harimau Hitam)
Kultivasi: Ranah Pemadatan Qi (Tingkat 8)
Tingkat Permusuhan: 100% (Mati-matian)
Niat Saat Ini: Memohon ampun untuk bertahan hidup, lalu berencana melaporkan kekuatan Tuan Rumah kepada Ketua Sekte Harimau Hitam agar mereka bisa menyewa pembunuh bayaran untuk meracuni Tuan Rumah.
Membaca panel transparan di depannya, sudut bibir Jiang Chen melengkung membentuk seringai dingin.
Benar-benar anjing tua yang licik. Beraninya dia memikirkan cara membalas dendam saat sedang berlutut memohon ampun?
"Kesalahpahaman?" Jiang Chen mengulangi kata-kata Zhao Kui dengan nada pelan. "Kau mendobrak gerbang sektemu, menghancurkan patung leluhurku, dan mengancam akan menodai adik seperguruanku. Di bagian mana letak kesalahpahamannya?"
Mata Zhao Kui membelalak. Sebelum dia sempat merangkai kebohongan berikutnya, Jiang Chen mengangkat tangan kanannya dan dengan santai menjentikkan jarinya.
SYUUT!
Sebuah pedang Qi yang terbuat dari energi spiritual murni melesat secepat kilat, menembus tepat di tengah dahi Zhao Kui.
Bruk.
Mata Penatua Zhao kehilangan cahayanya, dan tubuhnya ambruk ke tanah. Dia tewas seketika, bahkan sebelum sempat merasakan sakit dari pukulan mematikan itu.
Melihat penatua mereka mati semudah membunuh seekor lalat, para murid Sekte Harimau Hitam yang tersisa menjerit tertahan. Beberapa dari mereka saking takutnya sampai mengompol di celana.
"Bawa mayat anjing ini dan kembali ke Tuan Muda kalian," suara Jiang Chen menggelegar, ditujukan kepada murid-murid yang gemetar ketakutan. "Sampaikan pesanku padanya: Jika ada satu ekor anjing dari Sekte Harimau Hitam yang berani mendekati Puncak Bintang Jatuh lagi... aku akan meratakan sekte kalian hingga ke akar-akarnya. Enyah!"
Begitu tekanan spiritual dari tubuh Jiang Chen ditarik, belasan murid itu bangkit dengan panik. Mereka memanggul mayat Zhao Kui dan teman-teman mereka yang pingsan, lalu lari terbirit-birit menuruni gunung layaknya kelinci yang dikejar harimau.
Bersamaan dengan kepergian mereka, suara mekanis yang familiar kembali terdengar.
[DING!]
[Misi Utama Selesai: Pertahankan Martabat Sekte!]
[Evaluasi Penyelesaian: Sempurna. Tuan Rumah menunjukkan dominasi mutlak yang layak dimiliki oleh seorang Master Sekte sejati.]
[Hadiah Misi Sedang Dibagikan...]
Pada saat yang sama, batas waktu 10 menit dari Kartu Pengalaman Ranah Inti Emas habis. Kekuatan luar biasa yang mengalir di dalam pembuluh darah Jiang Chen tiba-tiba menghilang layaknya air pasang yang surut, membuatnya merasa sedikit hampa.
Namun, sebelum rasa pusing akibat penurunan kekuatan tiba, energi spiritual murni dari Sistem langsung membanjiri dantian-nya.
BOOM!
Aura kultivasi Jiang Chen meledak. Hanya dalam hitungan detik, kultivasinya yang asli meroket menembus kemacetan masa lalunya!
Tingkat 4 Pemadatan Qi...
Tingkat 6 Pemadatan Qi...
Tingkat 9 Pemadatan Qi...
KRAK!
Sebuah suara retakan halus terdengar dari dalam dantian-nya, dan lautan energi Qi miliknya memadat menjadi cair, menandakan terobosan besar!
Ranah Pembentukan Fondasi (Tingkat 1)!
Jiang Chen mengepalkan tinjunya, merasakan kekuatan nyata yang kini sepenuhnya menjadi miliknya, bukan sekadar pinjaman dari sistem. Meski tidak sekuat Ranah Inti Emas tadi, ini adalah kekuatan sejatinya!
"K-Kakak Seperguruan...?"
Sebuah suara lembut dan gemetar memanggil dari belakang. Su Yue berdiri mematung, menatap Jiang Chen dengan mata terbelalak yang dipenuhi rasa kagum dan tak percaya.
"Kau... kau sudah mencapai Ranah Inti Emas legendaris? Sejak kapan? Mengapa Guru tidak pernah memberitahuku?" tanya gadis itu, beruntun seperti senapan mesin.
Jiang Chen berbalik, menatap wajah adik seperguruannya yang kotor karena debu namun tetap tak bisa menyembunyikan kecantikan alaminya. Dia tersenyum tipis.
"Ranah Inti Emas tadi hanyalah ilusi dari formasi rahasia peninggalan leluhur. Aku membakar sisa energi formasi itu untuk menakut-nakuti mereka," Jiang Chen memberikan alasan yang masuk akal. Dia tidak mungkin menjelaskan tentang keberadaan Sistem. "Namun, di bawah tekanan tadi, aku tanpa sengaja berhasil menerobos batas. Sekarang, aku secara resmi berada di Ranah Pembentukan Fondasi."
Mata Su Yue berbinar terang. Ranah Pembentukan Fondasi! Di radius seribu mil ini, bahkan Ketua Sekte Harimau Hitam sendiri baru berada di Ranah Pembentukan Fondasi Tingkat 2!
"Luar biasa! Sekte Pedang Bintang kita akhirnya memiliki Master Ranah Pembentukan Fondasi lagi setelah sekian lama!" Air mata kebahagiaan mengalir di pipi gadis itu. Beban berat yang menimpanya sejak kematian guru mereka terasa sedikit terangkat.
Jiang Chen mengelus kepala Su Yue dengan lembut, menenangkan gadis yang kelelahan mental itu.
"Ini baru permulaan, Su Yue. Pergi dan istirahatlah sebentar. Mulai hari ini, tidak akan ada yang berani menindas Sekte Pedang Bintang kita lagi."
Setelah Su Yue mengangguk patuh dan kembali ke kamarnya, Jiang Chen membuka kembali panel sistemnya. Dia masih memiliki dua hadiah luar biasa yang belum diekstrak.
"Sistem, ekstrak Formasi Pelindung Sekte: Tirai Bintang Pembantai!"
[Mengekstrak Formasi Tingkat Bumi: Tirai Bintang Pembantai...]
[Silakan letakkan Mata Formasi di dalam tanah Puncak Bintang Jatuh.]
Sebuah cakram giok biru keunguan muncul di telapak tangan Jiang Chen, memancarkan cahaya redup seperti rasi bintang. Tanpa membuang waktu, Jiang Chen menyuntikkan energi spiritual Pembentukan Fondasi miliknya ke dalam cakram tersebut dan membenamkannya ke tanah di tengah Aula Leluhur.
WUUUSH!
Tiba-tiba, pilar cahaya perak melesat ke langit. Jika ada yang melihat dari jauh, Puncak Bintang Jatuh seolah ditutupi oleh kubah transparan bercahaya yang dipenuhi oleh ribuan bintang kecil yang berkedip. Udara di dalam sekte seketika menjadi jauh lebih segar, dan energi spiritual di sekitarnya meningkat dua kali lipat.
[Formasi Tirai Bintang Pembantai (Aktif):]
Mode Pertahanan: Mampu menahan serangan penuh dari kultivator Ranah Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) selama 3 hari 3 malam.
Mode Serangan: Tuan Rumah dapat memanipulasi energi bintang untuk mengeksekusi musuh yang masuk ke wilayah sekte tanpa izin. (Maksimal target mematikan: Ranah Inti Emas tingkat puncak).
Jiang Chen tersenyum puas. Dengan formasi ini, basis operasinya kini tidak tertembus. Dia memiliki perlindungan mutlak di wilayahnya sendiri.
"Sekarang pertahanannya sudah kuat," Jiang Chen bergumam sambil menatap hamparan bangunan sektenya yang sepi dan kosong. "Langkah selanjutnya... sudah saatnya sekte ini mencari darah baru."
Cahaya fajar menyingsing, menembus kabut tipis yang menyelimuti Puncak Bintang Jatuh. Berkat formasi Tirai Bintang Pembantai, energi spiritual di sekitar sekte kini terasa dua kali lipat lebih kental dan murni.
Su Yue, yang bangun lebih pagi untuk menyapu halaman, melebarkan matanya saat merasakan pori-pori kulitnya dengan rakus menyerap energi spiritual di udara. Hanya dengan bernapas, dia merasa kultivasi Pemadatan Qi tingkat 2 miliknya perlahan merangkak naik.
Sementara itu, di halaman belakang Aula Leluhur, Jiang Chen sedang berdiri tegak dengan mata terpejam. Dia baru saja mengekstrak hadiah terakhir dari misinya semalam.
"Sistem, pelajari Teknik Pedang: Tebasan Pemisah Awan!"
[DING! Mentransfer ingatan seni bela diri...]
[Selamat! Tuan Rumah telah mencapai tingkat Penguasaan Sempurna untuk 'Tebasan Pemisah Awan'.]
Tiba-tiba, Jiang Chen membuka matanya. Sebuah kilatan cahaya setajam pedang melintas di pupil matanya. Dia mengangkat dua jari kanannya, menggabungkannya menjadi pedang jari, lalu menebas ke arah lautan awan yang menggantung di tepi tebing.
SRAAAKK!
Sebuah busur energi pedang berwarna putih perak melesat dengan kecepatan kilat, merobek udara dengan suara melengking. Saat energi itu menghantam lautan awan di kejauhan, awan tebal itu terbelah menjadi dua bagian dengan rapi, seolah-olah ditebas oleh pedang dewa raksasa, menciptakan celah sepanjang puluhan meter yang memperlihatkan langit biru di baliknya.
Jiang Chen menarik napas perlahan, menekan energi spiritualnya kembali ke dalam dantian.
"Kekuatan Ranah Pembentukan Fondasi dipadukan dengan teknik tingkat tinggi benar-benar mengerikan," batinnya puas. Di dunia ini, teknik bela diri dibagi menjadi tingkat Fana, Bumi, Langit, dan Surga. Tebasan Pemisah Awan adalah murni teknik tingkat Bumi tingkat atas, sesuatu yang bahkan Ketua Sekte Harimau Hitam tidak miliki.
Saat dia hendak kembali ke aula, suara Sistem berbunyi lagi.
[DING!]
[Misi Utama Baru Dipicu: Darah Baru Sekte!]
Deskripsi: Sebuah sekte tidak akan bisa menaklukkan dunia hanya dengan seorang Ketua dan satu adik seperguruan. Berhentilah menjadi sekte rongsokan dan mulailah merekrut!
Tugas: Rekrut satu murid pertama dengan bakat minimal Tingkat Bumi (Earth Grade).
Hadiah Keberhasilan: Peningkatan Bangunan [Paviliun Kitab Suci], Teknik Kultivasi Tingkat Surga Seni Bintang Nirwana, dan 200 Poin Sekte.
Batas Waktu: 7 Hari.
Mata Jiang Chen berbinar. Hadiah Teknik Kultivasi Tingkat Surga! Di wilayah pinggiran benua ini, teknik Tingkat Bumi saja bisa memicu pertumpahan darah antar sekte, apalagi Tingkat Surga!
"Namun, bakat Tingkat Bumi tidak mudah ditemukan," gumam Jiang Chen sambil membelai dagunya. "Genius seperti itu biasanya sudah diperebutkan oleh sekte-sekte besar semenjak mereka balita. Bagaimana aku bisa menemukannya dalam tujuh hari?"
"Kakak Seperguruan! Ketua Sekte!"
Suara panik Su Yue menghentikan lamunannya. Gadis itu berlari dari arah gerbang depan dengan sapu lidi yang masih tergenggam di tangannya.
"Ada apa, Su Yue? Apakah anjing-anjing dari Sekte Harimau Hitam itu berani kembali?" Ekspresi Jiang Chen menjadi dingin seketika.
"Bukan! Bukan mereka!" Su Yue menunjuk ke arah anak tangga panjang yang mengarah ke gerbang gunung. "Ada seseorang di Tangga Ujian. Dia... dia berlumuran darah dan sepertinya sekarat!"
Jiang Chen mengangkat alisnya. Tangga Ujian adalah seribu anak tangga batu yang dirancang oleh leluhur Sekte Pedang Bintang untuk menguji tekad calon murid. Tangga itu memiliki gravitasi formasi ringan yang menekan fisik siapapun yang menaikinya.
Tanpa banyak bicara, Jiang Chen melesat layaknya bayangan, diikuti Su Yue di belakangnya.
Di anak tangga ke-999, satu langkah lagi menuju gerbang utama Sekte Pedang Bintang.
Seorang remaja laki-laki berusia sekitar lima belas tahun terkapar menempel pada batu tangga dingin. Pakaiannya compang-camping, dipenuhi noda darah yang sudah mengering dan lumpur. Jari-jarinya berdarah karena mencengkeram tepi tangga terlalu keras, kuku-kukunya bahkan ada yang terlepas.
Meski napasnya sangat lemah bak benang yang hampir putus, sepasang matanya menyala dengan api kebencian dan tekad yang begitu mengerikan.
"Satu... langkah... lagi..." anak laki-laki itu menggertakkan giginya hingga berdarah, menarik tubuhnya yang hancur ke atas anak tangga terakhir.
Bruk!
Tubuhnya terhempas ke tanah datar di depan gerbang. Dia berhasil.
Sepasang sepatu bot bersih berwarna hitam tiba-tiba muncul di pandangannya. Anak itu mendongak dengan susah payah, melihat seorang pemuda berjubah putih kebesaran sedang menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
"T-Tolong... terima aku... sebagai murid..." suara anak itu parau bagai gesekan logam berkarat. "Ajari aku... membunuh."
Jiang Chen tidak langsung menjawab. Dia mengamati anak ini, lalu diam-diam mengaktifkan Sistem di benaknya.
"Sistem, gunakan Mata Penilai."
[Mata Penilai Diaktifkan]
Nama: Lin Mo
Usia: 15 Tahun
Kultivasi: Tidak ada (Dantian dan Meridian utama hancur lebur)
Bakat Bawaan: Tubuh Pedang Kuno (Tingkat Surga) - Sedang tertidur/Bersetatus cacat.
Status Tambahan: Dikejar oleh pembunuh dari Klan Lin (Kota Daun Musim Gugur).
Latar Belakang: Tuan Muda jenius dari Klan Lin yang dikhianati oleh pamannya sendiri. Meridiannya dihancurkan dan dianggap sebagai sampah, dibuang ke jurang, namun bertahan hidup dan merangkak naik ke gunung ini.
Napas Jiang Chen sedikit tertahan saat melihat baris "Tingkat Surga". Baru saja aku mengantuk, seseorang sudah memberiku bantal!
Siapa sangka, bocah sekarat dengan meridian hancur yang bahkan tidak dilirik oleh kultivator pengemis pun, ternyata memiliki fisik langka Tingkat Surga yang sedang tertidur! Karena dantian dan meridiannya hancur, energi dari Tubuh Pedang Kuno-nya bocor dan membuat tubuhnya tampak cacat total di mata penilai biasa.
Namun, di bawah Mata Penilai sistem, harta karun yang terkubur lumpur ini terlihat jelas!
"Dantianmu hancur, meridianmu terputus. Di mata dunia kultivasi, kau bahkan lebih rendah dari manusia fana biasa," ucap Jiang Chen dengan nada datar, suaranya bergema menembus kesunyian pagi. "Mengapa aku harus menerima orang cacat di sekte suciku?"
Mata Lin Mo meredup. Rasa putus asa menyelimuti hatinya. Ya, dia tahu tubuhnya sudah hancur. Dia hanya datang ke Puncak Bintang Jatuh karena ini adalah satu-satunya sekte terdekat yang bersedia menerima siapa saja di masa lalunya.
"Namun..." kalimat Jiang Chen menggantung di udara, "...dunia ini dipenuhi oleh orang-orang bodoh yang memiliki mata tapi tak bisa melihat Gunung Tai."
Lin Mo mendongak tiba-tiba, secercah harapan menyala di matanya.
Jiang Chen mengayunkan lengan jubahnya, dan sebuah botol porselen kecil—pil penyembuh dasar yang tersisa di inventaris sekte—melayang dan mendarat di depan Lin Mo.
"Di mataku, meridian yang hancur bukanlah akhir, melainkan wadah yang dikosongkan untuk diisi ulang. Bakat Tubuh Pedang Kuno-mu terlalu agung untuk wadah fana biasa." Jiang Chen membalikkan badannya, menatap ke arah lautan awan dengan tangan di belakang punggung. Perawakannya saat ini tampak seperti seorang immortal sejati yang mahatahu.
Mendengar kata "Tubuh Pedang Kuno", tubuh Lin Mo bergetar hebat. Tidak pernah ada yang memberitahunya tentang hal ini! Tuan di hadapannya ini... hanya dengan satu lirikan bisa melihat esensi sejatinya menembus tubuhnya yang cacat!
"Makan pil itu. Jika kau memiliki kekuatan untuk berdiri, masuklah ke Aula Leluhur dan berlututlah," suara Jiang Chen terdengar tenang, dipenuhi dengan otoritas yang tak tertandingi.
"Mulai hari ini, langit yang tidak bisa melindungimu, akan kugantikan. Musuh yang menertawakanmu, akan kau injak. Kau, Lin Mo, akan menjadi Murid Besar Sekte Pedang Bintang di bawah bimbinganku!"
Lin Mo meraih pil itu dengan tangan bergetar, menelannya, dan merasakan kehangatan menyebar di tubuhnya. Mengabaikan sisa rasa sakit, dia memaksa dirinya bangkit, menangkupkan kedua tangannya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu bersujud dengan kening menyentuh batu keras.
"Murid Lin Mo... menyapa Guru!"
Di saat yang bersamaan, suara mekanis meledak di benak Jiang Chen.
[DING!]
[Misi Utama Selesai: Darah Baru Sekte!]
[Mengekstrak Hadiah: Peningkatan Paviliun Kitab Suci, Teknik Bintang Nirwana (Tingkat Surga), 200 Poin Sekte...]
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!