Indonesia
NovelToon NovelToon

PLAYING WITH FIRE

Bab 1

Cermin besar di ruang ganti itu memantulkan sesosok wanita dengan gaun malam berwarna krem yang anggun.

Vanessa menyentuh gaun rancangan desainer ternama itu dengan ujung jarinya yang dingin. Malam ini adalah pesta ulang tahun perusahaan Carlton Group, dan sebagai tunangan resmi Jordan Carlton, Vanessa telah menghabiskan waktu lima jam untuk memastikan penampilannya tampak sempurna.

Tidak ada sehelai rambut pun yang boleh keluar dari tatanannya. Tidak ada cacat yang boleh terlihat di hadapan publik.

Sebab, bagi Jordan, Vanessa bukanlah seorang manusia dengan perasaan. Vanessa hanyalah sebuah barang pameran, sebuah trofi dari perjodohan paksa yang wajib tampil tanpa celah.

"Kenapa kau lama sekali?"

Suara berat yang dingin itu memecah kesunyian. Jordan berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan jas hitam yang dipotong sangat rapi.

Matanya menatap Vanessa dari atas ke bawah, bukan dengan binar kagum, melainkan dengan penilaian yang kritis dan menghakimi.

"Maaf, Jordan. Aku hanya memastikan gaun ini tidak..."

"Ganti gaunmu," potong Jordan tanpa ragu, suaranya tajam tanpa intonasi.

Vanessa terpaku. "Apa? Tapi pesta akan dimulai tiga puluh menit lagi. Gaun ini yang kau pilihkan minggu lalu."

Jordan berjalan mendekat, menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Yessika baru saja memberi tahu bahwa dia mengenakan warna yang senada. Aku tidak ingin melihatmu menyaingi warnanya atau membuat Yessika merasa tidak nyaman di pesta pertamanya bersama keluarga Carlton."

Napas Vanessa tercekat. Yessika. Nama itu lagi. Anak haram dari ayahnya sendiri, seorang wanita yang tiba-tiba hadir dua tahun lalu dan dengan cepat merebut perhatian semua orang.

"Jordan, ini pesta resmi perusahaanmu. Aku adalah tunangan resmimu," ujar Vanessa, suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.

"Kenapa aku yang harus mengalah hanya karena Yessika memilih warna yang sama dengan gaunku?"

Jordan maju satu langkah, menatap Vanessa dengan tatapan merendahkan.

"Vanessa, jangan mulai bersikap egois. Yessika baru saja sembuh dari sakitnya, dan ayahmu meminta aku untuk menjaganya malam ini. Kau sudah memiliki segalanya. Status, nama besar, dan posisi sebagai calon istriku. Bisakah kau mengalah sedikit saja untuk adikmu?"

Vanessa mengepalkan tangannya di balik lipatan kain gaunnya. Kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan.

"Baiklah," ucap Vanessa halus, menurunkan pandangannya. "Aku akan menggantinya."

Jordan tersenyum tipis, Sebuah senyuman penuh kemenangan yang terbiasa ia dapatkan dari Vanessa.

"Bagus. Jangan buat aku malu malam ini."

Setelah Jordan pergi, Vanessa mengganti gaunnya dengan gaun hitam polos yang terkesan buru-buru. Dengan langkah perlahan, ia berjalan menyusuri koridor lantai atas hotel menuju aula pesta.

Namun, langkahnya terhenti saat melewati sebuah ruangan VIP yang pintunya tidak tertutup rapat.

Suara desahan napas yang berat, hela napas terengah-engah, dan gesekan kain terdengar samar dari dalam.

Vanessa membeku. Rasa curiga merayapi benaknya, memaksanya untuk melangkah mendekat dan mengintip melalui celah pintu yang terbuka sedikit.

Pemandangan di dalam ruangan itu menghantam dada Vanessa bagaikan godam berat.

Di atas sofa kulit berukuran besar, Jordan dan Yessika sedang beradu peluh, tenggelam dalam keintiman yang liar dan penuh gairah.

Pakaian mereka acak-acakan. Jordan memeluk pinggang Yessika dengan erat, sementara Yessika menyandarkan kepalanya di bahu Jordan dengan napas memburu.

Di tengah pergulatan dosa itu, mata Yessika tiba-tiba terbuka. Tatapannya mengarah lurus ke celah pintu, tepat ke arah mata Vanessa.

Bukannya terkejut atau panik, bibir Yessika justru mengukir senyuman mengejek yang sangat tipis. Dengan sengaja, Yessika makin mengeratkan pelukannya di leher Jordan, mengelus rambut pria itu dengan penuh kepemilikan.

"Mmm... Jordan..." bisik Yessika dengan suara manja yang sengaja dikencangkan.

"Aku penasaran... sebenarnya, siapa yang lebih nikmat di atas ranjang? Aku... atau Kakakku, Vanessa?"

Jordan terkekeh rendah, suara napasnya yang berat terdengar begitu jelas di telinga Vanessa yang berdiri mematung di luar.

Pria itu mendaratkan ciuman kasar di leher Yessika sebelum menjawab tanpa ragu, "Tentu saja kau, Yessika. Kenapa kau malah membandingkan dirimu dengan wanita kaku seperti dia?"

"Tapi dia tunanganmu," goda Yessika sambil mengusap dada Jordan. "Masa kau tidak pernah menyentuhnya sama sekali?"

"Aku belum pernah menyentuhnya dan sama sekali tidak tertarik padanya," sahut Jordan dingin, suaranya penolakannya begitu lugas.

"Vanessa itu membosankan. Kalau bukan karena perjodohan konyol keluarga, aku tidak akan pernah sudi meliriknya."

Yessika mendesah puas, matanya yang tajam tetap melirik ke arah celah pintu, menikmati setiap detik kehancuran di wajah Vanessa.

"Tapi sebentar lagi aku juga harus dijodohkan dengan Alessio, kan? Ayahmu sudah merencanakannya..."

Jordan mendengus kasar. Matanya menyipit penuh keangkuhan.

"Tenang saja. Begitu aku resmi diangkat menjadi Kepala Keluarga Carlton, aku pasti akan membatalkan pernikahanmu dengan Alessio. Aku tidak akan membiarkan anak tak berguna seperti Alessio menyentuhmu. Kau akan tetap bersamaku. Aku memang akan menjadikanmu simpananku, tapi posisimu di hatiku dan di rumah Carlton akan jauh lebih tinggi dibanding Vanessa. Dia hanya akan jadi formalitas, sedangkan kau yang akan memegang kekuasaan sejati."

"Benarkah? Janji ya?" Yessika tertawa manja, menyembunyikan wajahnya di dada Jordan saat peraduan peluh mereka berlanjut kembali.

Di balik pintu, Vanessa berdiri kaku. Dingin menyergap seluruh tubuhnya hingga ke tulang.

Tangannya yang memegang tepi dinding bergetar hebat, menahan gejolak emosi dan rasa jijik yang luar biasa. Ia meremas gaun hitamnya kuat-kuat, berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak atau menerobos masuk.

Vanessa membalikkan badan dan melangkah mundur secara perlahan. Setiap langkahnya terasa sangat berat.

Ia menelan seluruh kepahitan itu dalam diam, memaksa jiwanya untuk tetap tenang dan bersikap sebiasa mungkin ketika berjalan menuju aula pesta.

Ia tahu betul realitas hidupnya saat ini. Ia tidak memiliki kemampuan apa pun untuk melancarkan perlawanan terbuka.

Jika malam ini ia mengamuk, membatalkan perjodohan, atau membongkar perselingkuhan itu, tidak ada seorang pun yang akan berdiri di sampingnya.

Keluarga Carlton yang berkuasa pasti akan membungkamnya demi menjaga nama baik. Dan yang paling parah, ayahnya sendiri, Benny Grey, pasti akan langsung menyalahkannya dan memaksa Vanessa menelan penghinaan itu bulat-bulat.

Vanessa bahkan tidak memiliki uang yang cukup untuk melarikan diri dan memulai hidup baru.

Pikiran Vanessa melayang pada kenangan pahit beberapa bulan terakhir. Benny Grey, ayahnya yang serakah, tidak pernah memberinya uang yang cukup sejak ibu kandungnya meninggal.

Pria itu memangkas seluruh akses finansial Vanessa demi memanjakan Yessika.

Bahkan uang tunjangan bulanan yang seharusnya dikirimkan oleh keluarga Carlton untuk kebutuhan Vanessa sebagai calon menantu, selalu direbut oleh Jordan.

“Kau tidak butuh uang sebanyak ini, Vanessa,” kata Jordan waktu itu dengan nada meremehkan saat memblokir kartu kreditnya dan menyerahkan amplop jatah bulanan itu kepada Yessika.

“Kau hanya tinggal di rumah, tidak ada pergaulan penting. Yessika lebih membutuhkan uang ini untuk pengobatan dan gaun-gaun mewahnya agar tidak memalukan nama keluarga Grey.”

Vanessa terkurung sepenuhnya dalam sangkar emas tanpa kunci. Tanpa uang, tanpa dukungan keluarga, dan tanpa kekuasaan.

Namun, di tengah keputusasaan yang membakar dadanya, sebuah percakapan samar yang tak sengaja ia dengar di koridor kediaman Carlton beberapa hari lalu mendadak melintas di kepalanya.

“Tuan Muda Kedua, Alessio Carlton... dikabarkan akan kembali dari luar negeri dalam beberapa hari ini.”

Alessio Carlton.

Anak kedua keluarga Carlton yang dibuang dan diasingkan ke luar negeri selama sepuluh tahun terakhir. Pria yang selalu dicap sebagai produk gagal, tidak berguna, dan tidak pernah diakui oleh keluarga Carlton sendiri.

Sebuah senyuman dingin dan sarat akan bahaya perlahan terukir di bibir Vanessa. Matanya yang tadinya penuh kesedihan kini memancarkan kilatan tekad yang tajam.

Rencana gila mulai terbentuk di dalam benaknya.

Bukankah syarat perjodohan keluarga Grey dan Carlton hanya menyatakan bahwa aku harus menikah dengan 'putra keluarga Carlton'? pikir Vanessa. Siapa pun calonnya, bukankah itu sama saja?

Lagi pula, Vanessa tahu sebuah rahasia besar yang disembunyikan rapat-rapat oleh keluarga Carlton. Sebuah rahasia yang ia ketahui dari mendiang ibunya.

Semua orang mengira Jordan adalah putra mahkota yang sempurna, sementara Alessio adalah anak terbuang. Padahal kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya.

Alessio adalah satu-satunya putra sah yang memiliki darah murni keluarga Carlton.

Sementara Jordan? Jordan hanyalah anak haram hasil perselingkuhan Ayah Jordan dengan seorang wanita penghibur. Jordan baru dijemput pulang dan diakui sebagai anak pertama setelah ibu kandung Alessio meninggal dunia secara mendadak akibat keracunan yang penuh teka-teki.

Jordan mengira dia adalah raja yang tak tertandingi. Dia mengira bisa menginjak-injak Vanessa dan menjadikan Yessika ratunya di atas penderitaan Vanessa.

"Kau ingin menjadikan Yessika simpananmu dan membuangku setelah mengambil segalanya, Jordan?" bisik Vanessa sangat pelan saat kakinya menyentuh anak tangga menuju aula pesta yang megah.

Matanya menatap lurus ke arah kerumunan lampu kristal di bawah sana.

"Kalau begitu, aku akan memastikan anak haram sepertimu akan kehilangan seluruh takhta yang sangat kau banggakan. Dan aku akan menyerahkannya langsung ke tangan musuh abadimu... Alessio."

Bab 2

Musik klasik masih bergema lembut di aula utama Hotel Grand Carlton. Di sudut koridor yang sedikit tersembunyi dekat balkon, Vanessa berdiri kaku sambil menggenggam tas tangannya. Suara langkah sepatu bertumit tinggi yang menghentak ketus menyentak lamunannya.

Yessika muncul dari belokan. Gaunnya sedikit kusut, tetapi senyum di bibirnya mengembang penuh keangkuhan.

"Kak Vanessa," panggil Yessika dengan nada manis yang dibuat-buat, berhenti tepat di depan Vanessa. "Kenapa bersembunyi di sini? Pesta di bawah sangat meriah, lho."

Vanessa menatap wanita di hadapannya dengan tatapan dingin tanpa riak.

"Mau apa lagi kau, Yessika?"

Yessika terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menyapu penampilan Vanessa yang kini berbalut gaun hitam polos.

"Aku hanya kasihan padamu. Kau berdandan setengah mati, tapi pada akhirnya... Jordan tetap memilih menyentuhku di ruang VIP tadi."

Ia melangkah mendekat, berbisik tepat di samping telinga Vanessa.

"Kau tunangan sahnya, Kak. Tapi kau tahu apa yang tragis? Di mata Jordan, kau itu tidak ada harganya. Dia cuma mencintaiku. Tubuhku, jiwaku... semuanya."

Vanessa tidak bergeming. Ditatapnya manik mata Yessika yang penuh rasa haus akan pengakuan.

"Lalu bagaimana dengan Alessio?" tanya Vanessa datar. "Bukankah kau yang memohon pada Ayah agar dijodohkan dengan putra kedua Keluarga Carlton itu?"

Yessika tertawa geli, seolah pertanyaan Vanessa adalah lelucon paling konyol yang pernah ia dengar.

"Alessio? Pria terbuang yang bahkan tak diakui ayahnya sendiri itu?" Yessika mengibaskan tangannya meremehkan. "Aku tidak peduli sedikit pun padanya. Dia cuma alat."

Yessika memiringkan kepalanya, memamerkan senyum licik.

"Kalau aku bertunangan dengan Alessio, aku punya alasan sah untuk tinggal di kediaman utama Carlton. Sama sepertimu, Kak. Dan artinya... aku dan Jordan bebas bermesraan setiap hari di bawah atap yang sama. Di belakang punggungmu. Di belakang si bodoh Alessio."

Mata Vanessa menyipit.

"Kau pasti sudah dengar semua percakapan kami di ruangan tadi, kan?" lanjut Yessika, menatap Vanessa penuh kemenangan.

"Nanti, saat Jordan resmi jadi Kepala Keluarga Carlton, dia akan membatalkan tunanganku dengan Alessio yang rendahan itu. Aku akan jadi wanita utamanya. Dan kau? Kau cukup bersyukur karena Jordan masih sudi menjadikanmu simpanan di sudut rumah."

Yessika maju satu langkah lagi, mencengkeram bahu Vanessa cukup kuat.

"Siap-siap saja, Kak. Aku akan memastikan hidupmu di rumah itu seperti neraka. Kau akan ditindas, menderita, sampai akhirnya mati menyusul ibu kandungmu yang menyedihkan itu."

Plak!

Suara tamparan keras memecah udara koridor.

Yessika memegang pipinya yang mendadak panas. Ia terpaku, matanya terbelalak tak percaya.

Vanessa berdiri tegak di hadapannya dengan tangan yang masih melayang di udara, matanya memancarkan kilat kejam.

"Kau benar-benar murahan, Yessika," ucap Vanessa tajam sambil menunjuk wajah Yessika. Setiap kata diucapkannya dengan penekanan dingin.

"Bahkan kata 'sampah' terlalu mulia untuk wanita sepertimu."

"Kau... kau berani menamparku?!" jerit Yessika, wajahnya memerah karena murka. Tangannya terangkat, hendak membalas menampar Vanessa.

Namun sebelum tangannya mendarat, Yessika melirik ke ujung tangga. Langkah kaki Jordan dan beberapa tamu penting terdengar mulai mendekati koridor.

Seketika, ekspresi murka di wajah Yessika berganti menjadi kepanikan yang luar biasa. Sebuah senyuman iblis terukir sangat tipis di bibirnya sebelum ia dengan sengaja melempar tubuhnya sendiri ke belakang, meluncur jatuh menyusuri anak tangga batu pualam.

"Aaakh! Kak Vanessa, ampun! Jangan dorong aku! Ampun!" jerit Yessika histeris, suaranya menggelegar memenuhi seluruh aula.

Duk! Duk! Duk!

Tubuh Yessika terguling hingga dasar tangga, mengerang kesakitan dengan gaun mewahnya yang melilit kacau.

"Yessika!"

Jordan berhamburan lari dari arah aula, mengabaikan para tamu VIP yang ikut terperanjat. Pria itu langsung berlutut, merengkuh tubuh Yessika yang gemetar dan menangis tersedu-sedu.

"Jordan... sakit..." isak Yessika sambil mencengkeram jas Jordan, dadanya naik turun seolah kehabisan napas.

"Aku... aku cuma minta maaf pada Kak Vanessa kalau gaun kita sama... tapi Kak Vanessa marah... dia menamparku dan mendorongku dari tangga..."

Jordan mendongak. Matanya yang merah menatap Vanessa yang berdiri di atas tangga dengan tatapan membunuh.

"Vanessa!" bentak Jordan, suaranya menggelegar hingga membuat seluruh aula mendadak hening. Pria itu menyerahkan Yessika pada pelayan dan melangkah naik menghampiri Vanessa dengan napas memburu.

"Kau sudah gila, hah?! Apa yang kau lakukan pada Yessika?!"

Vanessa menatap Jordan tanpa rasa takut. "Aku tidak mendorongnya. Dia jatuh sendiri."

Plak!

Jordan menampar wajah Vanessa tanpa ragu. Pukulan itu begitu keras hingga wajah Vanessa terlempar ke samping, rasa panas dan asin darah menjalar di bibir bagian dalamnya. Para tamu di bawah memekik tertahan.

"Masih berani kau berdusta?!" gertak Jordan, menunjuk wajah Vanessa dengan telunjuknya yang bergetar.

"Yessika baru saja sembuh! Dia tidak mungkin mengorbankan nyawanya sendiri! Kau iri padanya, kan?!"

Vanessa perlahan merapikan rambutnya yang berantakan, mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan.

Ia menatap Jordan dengan senyuman miring yang dingin.

"Iri? Pada wanita yang melemparkan dirinya sendiri ke lantai demi mencari perhatian pria wanita lain? Cukup konyol."

"Tutup mulutmu!" Jordan mencengkeram lengan Vanessa dengan sangat kuat, menyeretnya turun dari tangga secara kasar hingga Vanessa hampir tersandung.

Jordan menghempaskan Vanessa ke tengah-tengah lantai aula, tepat di hadapan Yessika dan ratusan mata tamu undangan yang menonton.

"Minta maaf padanya," perintah Jordan penuh keangkuhan. "Sekarang. Di hadapan semua orang."

Rasa panas membakar dada Vanessa. Dihina, diselingkuhi, ditampar, dan kini dipermalukan di depan umum. Rahangnya mengeras.

"Aku tidak akan pernah meminta maaf atas hal yang tidak kulakukan."

"Kau harus minta maaf!" bentak Jordan, langkahnya mendekat, menunduk menatap Vanessa bagai seorang raja menatap budak.

"Berlutut di kaki Yessika dan mohon ampun padanya! Jika kau melakukan itu, aku mungkin masih bersedia mempertimbangkan pernikahan kita!"

Vanessa terkekeh pelan. Sebuah tawa tanpa rasa humor yang membuat orang-orang di sekitar mereka merinding.

"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tanya Vanessa datar, menatap lurus ke dalam mata Jordan.

"Bagaimana kalau aku lebih memilih mati daripada harus menundukkan kepalaku pada wanita murahan itu?"

Mata Jordan menyipit tegang. Keangkuhannya merasa tercoreng hebat oleh perlawanan Vanessa yang tak pernah terjadi sebelumnya.

"Jika kau tidak mau berlutut..." suara Jordan terdengar sangat dingin, "...maka detik ini juga, pertunangan kita batal. Dan kau akan keluar dari gedung ini tanpa membawa nama besar Carlton maupun Grey!"

Yessika yang berada di belakang Jordan tersenyum puas di balik tangis palsunya.

Vanessa menegakkan punggungnya. "Kalau begitu, batalkan saja. Aku..."

"Jangan harap kau bisa lolos begitu mudah setelah melukai adikmu sendiri, Vanessa!" potong Jordan cepat.

Ia menyeringai kejam, lalu melambaikan tangannya ke arah para pengawal berbadan tegap di sudut aula.

"Pengawal! Tahan dia!"

Dua orang pengawal bertubuh kekar langsung maju dan mencengkeram kedua bahu Vanessa.

"Lepaskan aku! Jordan, lepaskan!" jerit Vanessa berusaha memberontak, namun tenaga manusianya tidak sebanding.

"Kau butuh diajari cara bersikap sopan, Vanessa," bisik Jordan kejam di depan wajahnya. "Tekan dia ke lantai. Paksa dia bersujud di kaki Yessika!"

"Tidak! Lepaskan!"

Dua pengawal itu menendang bagian belakang lutut Vanessa secara kasar.

Brak!

Lutut Vanessa menghantam lantai marmer yang dingin dengan keras. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, tetapi yang lebih membakar adalah penghinaan yang menatapnya dari segala arah.

Dua tangan kekar mencengkeram tengkuk dan bahunya, menekan kepalanya ke bawah, memaksanya menyentuh ujung sepatu Yessika.

Darah menetes dari bibir Vanessa, jatuh membasahi marmer putih di bawahnya.

Di tengah paksaan dan tawa puas yang tertahan dari Yessika, Vanessa memejamkan matanya rapat-rapat.

Setiap inci rasa sakit, setiap tetes darah, dan setiap tatapan merendahkan malam ini... tercetak abadi di dalam memorinya.

"Lakukan sesukamu, Jordan," batin Vanessa, air matanya menetes bukan karena kesakitan, melainkan karena dendam yang kini membakar seluruh jiwanya.

"Tekan lututku sesukamu malam ini. Karena saat aku berdiri nanti... aku akan memastikan kau, Yessika, dan seluruh keluarga Carlton berlutut di bawah kakiku!"

Bab 3

"Ingat kata-kataku, Vanessa!" Jordan melepehkan kata-katanya penuh kebencian sambil menatap Vanessa yang masih bersimpuh di lantai marmer. Bahunya terangkat memeluk Yessika yang terus meringis kesakitan.

"Kalau sampai ada apa-apa dengan Yessika... aku akan membuat perhitungan yang jauh lebih berat dari sekadar mempermalukanmu malam ini!"

Tanpa menunggu sahutan, Jordan mengangkat tubuh Yessika ke dalam gendongannya.

"Ayo, Yessika. Aku bawa kamu ke rumah sakit sekarang."

"Terima kasih, Jordan..." bisik Yessika dengan nada amat lemah, melirik sinis ke arah Vanessa dari balik pundak Jordan sebelum pintu aula utama tertutup rapat.

Para tamu undangan perlahan membubarkan diri dengan bisik-bisik yang merendahkan. Vanessa perlahan memegang tepi meja, menggunakan sisa tenaganya untuk berdiri kembali.

Kakinya bergetar hebat, lututnya memar dan memerah, tetapi matanya tetap kering. Ia mengusap sisa darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu melangkah keluar dari aula pesta yang telah menjadi panggung pembantaian martabatnya.

Saat menyusuri koridor VIP yang sepi, sebuah suara berat menghentikan langkahnya.

"Vanessa."

Pria paruh baya dengan setelan jas amat megah melangkah mendekat. Arthur Carlton, ayah Jordan sekaligus pemimpin tertinggi Carlton Group saat ini.

"Paman Arthur," sapa Vanessa datar.

Arthur menghela napas panjang, memasang wajah penuh simpati.

"Paman sudah mendengar kekacauan di aula tadi. Jordan benar-benar keterlaluan! Paman minta maaf atas perlakuan kasarnya padamu. Nanti, saat anak nakal itu pulang, Paman sendiri yang akan menegurnya."

Vanessa menatap pria tua di hadapannya. Teguran? Vanessa tersenyum sinis di dalam hati. Ia sangat tahu tabiat Arthur. Pria ini tidak akan pernah tega memberikan hukuman berarti pada Jordan, anak kesayangannya yang digadang-gadang menjadi penerus tunggal.

Namun, Vanessa tidak lagi berniat menjadi mangsa yang pasrah.

Vanessa menundukkan kepalanya, membiarkan tubuhnya gemetar perlahan. Suaranya berubah menjadi amat melas, sarat akan keputusasaan dan rasa sakit yang mendalam.

"Tidak usah, Paman..." bisik Vanessa dengan napas tersengal pelan, seolah-olah hatinya telah hancur berkeping-keping. "Sepertinya... aku tidak sanggup lagi."

Dahi Arthur berkerut. "Maksudmu apa, Vanessa?"

"Jordan tidak menginginkanku. Dia hanya mencintai Yessika," ucap Vanessa seraya menatap Arthur dengan mata yang berkaca-kaca, memperlihatkan keputusasaan yang begitu meyakinkan.

"Lebih baik... kita batalkan saja pertunangan ini, Paman. Aku akan mundur. Biarkan Jordan mempublikasikan hubungannya dengan Yessika."

"Apa?!" Wajah Arthur seketika pucat pasi. Kepanikan yang sangat nyata mendadak menyapu raut wajahnya yang tadinya tenang. "Jangan bicara sembarangan, Vanessa! Membatalkan pertunangan? Tidak, tidak bisa! Jangan ambil keputusan gegabah hanya karena emosi sesaat!"

Vanessa menyunggingkan senyum getir yang dipaksakan. "Kenapa tidak bisa, Paman? Bukankah aku hanya beban untuk Jordan? Untuk apa mempertahankan pernikahan tanpa rasa cinta?"

"Vanessa, dengarkan Paman..."

"Atau..." Vanessa memotong kalimat Arthur, menatap pria tua itu dengan tatapan yang mendadak sangat dalam dan tajam, "...Paman takut dengan klausul perjanjian lama itu?"

Langkah Arthur terhenti. Seluruh persendiannya seolah mengeras. "Kau... kau tahu soal itu?"

"Tentu saja aku tahu, Paman Arthur," bisik Vanessa pelan, melangkah satu tapak lebih dekat. "Perjanjian antara Kakekku dan Kakek Michael Carlton puluhan tahun lalu. Kakekku yang mendanai seratus persen modal awal berdiri Carlton Group. Dan apa isi klausul utamanya?"

Napas Arthur mulai terdengar berat.

"Siapa pun yang menikahiku secara sah, dialah yang berhak menjadi penerus utama keluarga Carlton," lanjut Vanessa dingin. "Dan jika keluarga Carlton atau aku membatalkan perjodohan ini secara sepihak... maka delapan puluh persen saham Carlton Group wajib diserahkan padaku sebagai ganti rugi."

Vanessa memiringkan kepalanya, menatap Arthur yang kini dipenuhi keringat dingin.

"Tapi, kalau aku menikah dengan penerus Carlton, aku hanya akan memegang tiga puluh persen hak suara," sambung Vanessa dengan nada polos yang mematikan. "Jadi... Paman yakin ingin membiarkan aku terus ditindas oleh Jordan? Aku tidak keberatan menerima delapan puluh persen saham itu besok pagi."

"Vanessa..." suara Arthur bergetar hebat.

Rahasianya yang disimpan paling rapat, rahasia yang hanya diketahui olehnya, mendiang ibu Vanessa, dan pengacara keluarga, kini dilayangkan tepat di hadapan wajahnya sebagai ancaman.

"Pikirkan baik-baik, Paman," kata Vanessa lembut sambil berbalik melangkah pergi.

"Aku akan menunggu keputusan Paman di kediaman utama."

****

Dua jam kemudian, di Kediaman Utama Keluarga Carlton.

Brak!

Suara dorongan pintu aula leluhur bergema keras di seluruh penjuru rumah.

"Berlutut!" bentak Arthur. Suaranya menggelegar, memecah kesunyian malam. Di tangannya, ia memegang sebatang rotan ukir tebal milik mendiang ayahnya.

Jordan yang baru saja kembali dari rumah sakit terpaku, terkejut luar biasa melihat ayahnya berdiri di hadapan altar leluhur dengan wajah merah padam karena murka.

"Ayah? Ada apa ini?!" seru Jordan heran. "Kenapa Ayah memintaku berlutut di aula leluhur?!"

"Aku bilang berlutut, Anak Bodoh!"

Cetas!

Cambukan rotan itu mendarat keras di punggung Jordan. Pria itu meringis kesakitan, terhuyung jatuh hingga kedua lututnya menghantam lantai kayu aula leluhur.

"Ayah! Apa-apaan ini?!" teriak Jordan membela diri, memegangi punggungnya yang panas membakar.

"Aku baru saja pulang dari rumah sakit! Yessika terluka parah karena didorong Vanessa! Kenapa justru aku yang dihukum?!"

Arthur maju, mencengkeram kerah jas Jordan dan menatapnya penuh kebencian.

"Jawab jujur padaku, Jordan! Apa kau benar-benar berselingkuh dengan Yessika di belakang Vanessa?!"

Tubuh Jordan mendadak kaku. Matanya berkedip cepat, raut wajahnya menunjukkan kegugupan yang amat jelas.

"K-kami... kami tidak berselingkuh! Aku cuma kasihan padanya! Yessika itu adik Vanessa, dia butuh perlindungan..."

Cetas!

Satu sabetan rotan kembali mendarat di bahu Jordan.

"Jaga mulutmu!" bentak Arthur penuh penghinaan.

"Jika Yessika bukan siapa-siapa bagimu, berhenti menempel padanya seperti pria gatal! Kau mempermalukan nama besar Carlton di hadapan seluruh relasi bisnis kita malam ini!"

"Ayah tidak tahu apa-apa!" protes Jordan dengan napas memburu, meremas jemarinya. "Vanessa yang keterlaluan! Dia wanita ular, Ayah!"

"Cukup!" bentak Arthur. "Kau tetap di sini! Berlutut sampai besok pagi dan renungkan kebodohanmu!"

Arthur melempar rotannya secara kasar ke lantai, lalu berjalan keluar dari aula leluhur menuju ruang tamu utama. Jordan yang menahan kesakitan di punggungnya melirik ke arah pintu yang terbuka.

Di ruang tamu, Vanessa sedang duduk dengan anggun di atas sofa kulit. Ia menyeruput teh hangatnya dengan sangat tenang, sama sekali tak terganggu oleh suara jeritan atau cambukan rotan yang baru saja terjadi.

Mata Jordan menyipit penuh kemarahan dan rasa percaya diri yang arogan. Pria itu mendesis dari dalam aula leluhur, memanggil Vanessa dengan nada memerintah.

"Vanessa! Sini kau!" panggil Jordan, suaranya lantang penuh keangkuhan. "Maju ke sini!"

Vanessa perlahan menurunkan cangkir tehnya, menoleh menatap Jordan dari kejauhan tanpa ekspresi.

"Kau lihat kan apa yang dilakukan Ayah padaku?!" gertak Jordan, menunjuk punggungnya. "Kau tahu betul betapa Ayah menyayangimu! Pergi ke kamar Ayah sekarang, bujuk dia untuk membatalkan hukuman konyol ini!"

Jordan menyunggingkan senyum miring, merasa yakin Vanessa masih menjadi wanita penurut yang akan melakukan apa saja demi dirinya.

"Cepat bujuk Ayah! Kalau kau melakukannya, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk tidak terlalu keras padamu soal kejadian Yessika tadi!"

Vanessa menatap Jordan selama beberapa detik. Tak ada rasa kasihan, tak ada kekhawatiran, hanya ada tatapan menatap seekor serangga yang menyedihkan.

Vanessa lalu berdiri dari duduknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badan dan melangkah tenang menuju tangga lantai dua, menuju kamarnya.

"Hei! Vanessa! Kau dengar aku tidak?!" teriak Jordan panik saat melihat Vanessa mengabaikannya.

"Vanessa! Kembali ke sini! Kau berani mengabaikanku?!"

Namun, Vanessa tetap melangkah stabil. Dia mengabaikan teriakan putus asa Jordan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!