Indonesia
NovelToon NovelToon

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Episode 1

Bab 1: Malam yang Salah

Nyeri itu menyambut Kirana bahkan sebelum ia membuka mata.

Paha bagian dalamnya terasa ngilu. Pinggangnya seakan baru dilipat semalaman, sementara kulit di bawah tulang selangkanya perih saat bergesekan dengan selimut hotel. Ketika ia berusaha bergeser, sebuah lengan berat yang melingkar di perutnya ikut bergerak, menarik tubuh telanjangnya semakin rapat ke dada hangat di belakangnya.

Napas Kirana terhenti.

Aroma kayu bercampur sisa sampanye memenuhi indra penciumannya. Bukan wangi kamar hotel. Bukan pula parfum Galih atau Chandra yang semalam memaksanya menenggak gelas demi gelas di lounge.

Ini aroma seorang laki-laki.

Dan laki-laki itu sedang tidur di ranjang yang sama dengannya.

Kirana membuka mata lebar-lebar. Cahaya pagi Singapura menerobos celah tirai, membelah kamar suite di kawasan Marina menjadi garis-garis keemasan. Gaun hitamnya tergeletak di dekat sofa. Sepatu haknya terpisah jauh, satu di bawah meja, satu lagi di dekat pintu kamar mandi.

Potongan ingatan semalam menghantam tanpa aba-aba.

Tangan Galih yang terus mengisi gelasnya meski ia sudah menolak. Chandra yang tertawa saat pintu ruang privat dikunci. Panas alkohol menjalar dari tenggorokannya ke seluruh tubuh. Kepalanya yang berat, tetapi kesadarannya tetap cukup utuh untuk mengenali bahaya. Naluri yang akhirnya memaksanya menendang tulang kering Galih, meraih tas, lalu berlari keluar.

Setelah itu, Kirana ingat bersandar pada dinding koridor lounge. Ingat seorang pria tinggi berbaju hitam berhenti di hadapannya. Ingat sepasang mata gelap di balik kacamata tipis yang menatapnya tanpa menyentuh.

“Butuh bantuan?” suara pria itu rendah.

Kirana seharusnya meminta petugas keamanan. Seharusnya menelepon keluarganya. Seharusnya melakukan seratus hal lain yang lebih masuk akal.

Namun ketika mendengar suara Galih memanggil namanya dari ujung koridor, ia justru mencengkeram kerah pria asing itu.

“Cium aku.”

Pria itu tidak langsung bergerak. Tatapannya turun ke bibir Kirana, lalu kembali menatap matanya.

“Kamu sadar dengan apa yang kamu minta?”

Di belakang mereka, langkah tergesa dan suara Galih terdengar makin dekat. Tubuh Kirana gemetar, bukan hanya karena panas yang mencurigakan di bawah kulitnya. Ia mengenali rasa takut. Mengenali cara dua laki-laki itu saling bertukar pandang sebelum Chandra menutup pintu ruang privat.

“Tolong,” bisiknya kali ini. “Jangan biarkan mereka bawa aku.”

Sorot mata pria asing itu berubah. Ia melepas jasnya, menyampirkannya ke bahu Kirana, lalu berdiri di antara tubuhnya dan koridor.

Saat Galih muncul, pria itu cukup berkata, “Dia bersama saya.”

Tidak keras. Tidak mengancam. Namun Galih berhenti seketika, memucat seolah mengenali sesuatu yang Kirana sendiri tidak pahami. Chandra menarik lengannya dan keduanya pergi tanpa berani membantah.

Seharusnya Kirana merasa aman setelah itu. Seharusnya ia meminta pria tersebut mengantar ke lobi. Namun panas di tubuhnya justru semakin liar, dan satu-satunya hal yang terasa menenangkan adalah aroma kayu dari jas yang memeluk bahunya.

Kirana menjawab dengan menariknya lebih dekat dan menempelkan bibir mereka.

Satu ciuman berubah menjadi pintu lift yang tertutup. Di dalam kamar, pria itu memberinya air dan menunggu sampai langkahnya kembali stabil. Ia meminta Kirana menyebut nama, tanggal, dan tempat mereka berada, lalu bertanya apakah ia ingin menelepon seseorang. Kirana menjawab semuanya dengan benar. Ia menolak telepon, menarik pria itu mendekat, dan menyatakan keinginannya sekali lagi tanpa keraguan.

Baru setelah itu, kartu kamar jatuh di lantai dan telapak tangan besar menopang pinggangnya ketika lututnya kehilangan tenaga.

Di sela napas yang kacau, pria itu berulang kali bertanya apakah ia yakin. Kirana, dengan kepala berputar dan tubuh yang terbakar oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan, berkali-kali mengangguk dan menariknya kembali.

Ia juga ingat saat pria itu berhenti begitu melihat bercak merah tipis di seprai. Wajah yang semula keras berubah tegang.

“Pertama kali?”

Kirana terlalu malu untuk menjawab. Ia hanya menutup wajah dengan kedua tangan.

Pria itu mencium ruas-ruas jarinya, jauh lebih lembut dari seluruh sentuhan sebelumnya.

“Saya juga.”

Astaga.

Wajah Kirana panas sampai ke telinga. Ia mengangkat lengan laki-laki itu perlahan, menahannya agar tidak jatuh keras ke kasur, lalu menyelinap keluar dari pelukan.

Gerakannya membuat selimut melorot. Ia buru-buru menarik kain itu menutupi dada, tetapi tetap sempat melihat bekas kemerahan di pinggangnya. Malu dan panik saling berkejaran hingga ujung jarinya gemetar.

Laki-laki di sampingnya masih tertidur miring. Dalam cahaya pagi, wajahnya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan seluruh prinsip hidup Kirana dalam satu malam. Rambut hitamnya sedikit berantakan. Kacamata yang semalam membuatnya tampak dingin terletak di nakas. Sebuah tahi lalat merah kecil tampak jelas di dekat tulang selangkanya.

Terlalu tampan. Terlalu berbahaya.

Kirana memalingkan wajah.

Ia menemukan ponselnya di dalam tas. Ada sembilan panggilan dari Winda, tiga belas pesan dari Mama, dan satu pesan Galih yang membuat isi perutnya bergolak.

Jangan lebay. Tadi cuma bercanda.

Kirana memblokir nomor itu tanpa membalas. Ia mengenakan gaunnya secepat mungkin, meringis saat tubuhnya memprotes setiap gerakan. Di depan cermin kamar mandi, ia hampir tidak mengenali gadis berambut kusut dengan bibir bengkak dan jejak kebiruan di leher itu.

Apa yang harus ia katakan jika pria itu bangun?

Terima kasih?

Maaf?

Tolong anggap saya tidak pernah ada?

Tidak. Ia tidak sanggup menghadapi percakapan apa pun.

Kirana membuka dompet. Di antara uang rupiah dan kartu-kartunya terselip selembar uang seratus dolar Singapura. Ia menatapnya beberapa detik, lalu meletakkannya di atas nakas. Dari meja kerja, ia mengambil secarik kertas hotel dan menulis dengan tangan yang masih gemetar.

Anggap saja ini bayaran. Lupakan aku.

Uang itu ia gunakan untuk menindih catatan.

Keputusan bodoh, mungkin. Namun pagi itu Kirana hanya ingin memberi garis akhir pada malam yang salah. Tidak ada nama, tidak ada nomor telepon, tidak ada tanggung jawab, tidak ada kesempatan kedua.

Ia memandang pria yang masih tertidur untuk terakhir kali.

Lalu pergi tanpa menoleh lagi.

***

Enam minggu kemudian.

“Kalau Prof. Hartono sampai benar-benar pensiun, gue bakal nangis di depan ruang dekan.”

Suara Winda menyeret Kirana kembali ke ruang kuliah bertingkat Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara. Di luar, matahari Depok baru pukul sembilan tetapi panasnya sudah menempel di kaca. Puluhan mahasiswa memenuhi bangku, menebak-nebak siapa dosen pengganti untuk mata kuliah Analisis Keuangan semester ini.

Kirana menaruh tablet di meja. “Beliau cuma cuti penelitian, Win. Bukan pensiun.”

“Sama aja. Katanya penggantinya galak. Lulusan luar negeri. Masih muda.” Winda mendekatkan wajahnya. “Kalau ganteng, gue rela dikasih tugas tiap minggu.”

“Nanti gue rekam ucapan lo.”

“Silakan. Buat bukti sejarah.”

Kirana menggeleng sambil tersenyum tipis. Pagi pertama semester ganjil seharusnya terasa seperti tombol mulai ulang. Enam minggu cukup lama untuk mengubur satu malam memalukan di negeri orang.

Setidaknya itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.

Ia sudah memblokir Galih dan Chandra, menjalani pemeriksaan kesehatan, lalu menyimpan hasilnya jauh di dasar laci. Tidak ada kehamilan. Tidak ada infeksi. Tidak ada konsekuensi yang bisa mengejarnya pulang.

Winda mengeluarkan roti dari tas dan menyobek bungkusnya pelan-pelan. “Lo kenapa pucat? Masih kepikiran kejadian Singapura?”

Kirana menoleh cepat. “Kejadian apa?”

“Galih yang kurang ajar itu. Lo nggak pernah cerita lengkap.”

“Nggak ada yang perlu diceritain.” Ia membuka tablet hanya agar memiliki sesuatu untuk ditatap. “Gue berhasil pulang. Selesai.”

Winda menahan bungkus roti di udara. Tatapan usilnya lenyap. “Kalau dia ganggu lagi, bilang. Bokap gue mungkin masih nyicil rumah sampai dua belas tahun ke depan, tapi urusan gebuk anak orang, gue bisa gratis.”

Kirana tertawa kecil meski tenggorokannya terasa sempit. “Preman Bekasi.”

“Sahabat siaga.”

Hanya mimpi-mimpi pendek tentang telapak tangan panas di pinggangnya dan suara rendah yang bertanya, “Yakin?”

Kirana mencubit ujung jarinya sendiri.

Lupakan.

Pintu ruang kuliah terbuka.

Obrolan yang memenuhi ruangan surut dalam hitungan detik.

Seorang pria tinggi melangkah masuk membawa laptop tipis dan setumpuk berkas. Kemeja putihnya digulung sampai siku, celana hitamnya jatuh rapi, dan kacamata berbingkai emas bertengger di wajah yang terlalu ia kenal.

Kirana tidak mendengar Winda mengembuskan peluit kecil di sampingnya.

Ia tidak mendengar kursi bergeser atau bisikan para mahasiswi di baris depan.

Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri, keras dan kacau, saat pria itu meletakkan barang-barangnya di meja dosen.

Tahi lalat merah di dekat tulang selangka itu tersembunyi di balik kerah. Namun aroma kayunya, meski samar dan terhalang jarak beberapa meter, seolah kembali menempel di kulit Kirana.

Astaga.

Dosen pengganti itu lelaki yang tidur dengannya di Singapura.

Jari Kirana kehilangan tenaga. Stylus di tangannya jatuh dan membentur lantai.

Pria di depan kelas mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada keterkejutan di mata gelap itu. Tidak ada tanda bahwa ia baru saja melihat perempuan yang meninggalkan uang di samping ranjangnya. Ia hanya menatap Kirana sesaat, tenang sekali, lalu mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan.

“Selamat pagi.”

“Pagi, Prof,” jawab kelas hampir serempak.

“Nama saya Arya Danuwangsa. Selama satu semester ke depan, saya akan menggantikan Prof. Hartono.” Ia menulis namanya di papan dengan gerakan rapi. “Saya tidak peduli seberapa tinggi nilai kalian semester lalu. Di kelas saya, semua orang mulai dari nol.”

Winda menyenggol lengan Kirana. “Gila. Aura direktur, bukan dosen.”

Kirana tidak mampu menjawab.

Arya membuka daftar hadir. Suaranya datar saat menyebut nama demi nama. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan. Yang lain menjawab singkat. Semakin dekat urutan abjad pada namanya, semakin dingin telapak tangan Kirana.

Mungkin dia tidak ingat.

Mungkin malam itu terlalu gelap.

Mungkin ia sudah sering bangun bersama perempuan asing sehingga wajah Kirana tidak berarti apa-apa.

Pikiran terakhir itu seharusnya melegakan. Anehnya, ada sesuatu yang menusuk kecil di dadanya.

“Kirana Anindya Saraswati.”

Seluruh darah di tubuhnya seperti berhenti mengalir.

“Hadir,” jawabnya pelan.

Arya tidak melanjutkan ke nama berikutnya.

Ia mengangkat kepala dari daftar hadir. Pandangannya menyapu seisi kelas, lalu berhenti tepat di wajah Kirana. Perlahan, sangat tipis, sudut bibirnya terangkat.

“Kirana Anindya Saraswati,” ulangnya, seolah sedang memastikan nama itu tersimpan baik-baik. “Silakan berdiri.”

Episode 2

Bab 2: Dosen atau Direktur?

“Kirana Anindya Saraswati,” ulangnya, seolah sedang memastikan nama itu tersimpan baik-baik. “Silakan berdiri.”

Kirana mencengkeram ujung meja sebelum memaksa kedua kakinya bergerak. Puluhan pasang mata beralih kepadanya. Winda bahkan berhenti mengunyah roti.

“Hadir, Prof,” ucap Kirana, kali ini lebih jelas.

Arya menatapnya selama dua detik yang terasa seperti dua jam. “Saya dengar. Saya hanya ingin memastikan mahasiswa di kelas ini berdiri saat memperkenalkan diri pada pertemuan pertama.”

Beberapa mahasiswa yang tadi menjawab sambil duduk saling pandang. Satu demi satu, mereka ikut berdiri ketika nama berikutnya dipanggil.

Kirana perlahan duduk kembali.

Jadi, bukan hanya dia.

Namun ketika Arya menunduk pada daftar hadir, senyum tipis itu masih ada. Kecil sekali, tetapi cukup untuk membuat tengkuk Kirana panas.

Dia ingat.

Sepanjang perkuliahan, Arya bertingkah seolah mereka benar-benar baru bertemu. Ia menjelaskan kontrak belajar, sistem penilaian, dan standar tugas dengan suara datar. Tidak ada satu kata pun tentang Singapura. Tidak ada lirikan genit. Justru sikap profesionalnya membuat Kirana semakin tidak tenang.

Pria yang sama pernah mencium jemarinya di atas seprai kusut.

Sekarang ia berdiri di depan grafik arus kas, menjelaskan analisis risiko seolah tidak pernah melihat seluruh bagian tubuhnya.

“Kira.” Winda berbisik tanpa mengalihkan pandangan dari slide. “Lo kenal dia?”

“Nggak.”

“Jawaban lo kecepetan.”

“Dengerin kuliah.”

“Gue dengerin. Tapi Prof. Arya dari tadi empat kali lihat ke sini.”

Kirana pura-pura mencatat lebih cepat.

Di akhir kelas, Arya menampilkan kode QR di layar. “Silakan masuk ke grup WhatsApp mata kuliah. Semua pengumuman dan materi akan dikirim di sana. Jangan menghubungi saya untuk hal yang tidak berkaitan dengan akademik.”

Ponsel terangkat serentak. Kirana memindai kode itu dengan perasaan seperti sedang menyerahkan alamat rumah kepada pencuri.

“Satu lagi.” Arya menutup laptop. “Kirana, tetap di kelas. Saya perlu bicara tentang tugas semester lalu yang belum tercatat di sistem.”

Winda menoleh begitu cepat sampai rambutnya mencambuk bahu Kirana. “Katanya nggak kenal?”

“Memang nggak.”

“Terus kenapa cuma lo?”

“Mungkin sistemnya bermasalah.”

Winda menyipitkan mata. “Atau hidup lo yang bermasalah.”

“Keluar sana.”

“Gue tunggu di koridor. Kalau lima belas menit lagi lo nggak keluar, gue dobrak pintunya.”

Setelah mahasiswa terakhir pergi, ruang kuliah mendadak terasa terlalu luas dan terlalu sunyi. Arya tetap di depan, memasukkan laptop ke dalam tas. Kirana menunggu beberapa langkah dari meja dosen, sengaja menjaga jarak.

“Tugas saya yang mana, Prof?” tanyanya.

“Tidak ada.”

Kirana mengangkat wajah. “Apa?”

“Nilai kamu lengkap. A.”

“Lalu kenapa saya ditahan?”

Arya memasang kembali kacamatanya. Kaca bening itu sama sekali tidak menyembunyikan cara ia memandang Kirana dari ujung kepala sampai kaki.

“Untuk memastikan kamu tidak kabur lagi.”

Jantung Kirana menghantam tulang rusuk.

“Saya nggak paham maksud Prof.”

“Yakin?”

Arya melangkah mendekat. Kirana mundur refleks, tetapi hanya satu langkah. Ia menolak terlihat takut.

“Kalau pembicaraan ini bukan soal akademik, saya mau keluar.”

“Silakan.”

Jawaban mudah itu membuatnya curiga. Kirana membalikkan badan, berjalan ke pintu, lalu mendengar langkah Arya menyusul dengan tenang.

Mereka keluar ke koridor. Winda yang menunggu di dekat jendela langsung berdiri tegak, pura-pura sibuk dengan ponsel.

“Mbak Kirana.”

Kirana berhenti. Ia menoleh dengan rahang kaku. “Ya, Prof?”

Arya berdiri cukup dekat untuk menurunkan suara tanpa didengar orang lain. Aroma kayunya menyusup di antara hawa pengap koridor.

“Kita pernah bertemu, kan?”

Pupil Kirana melebar.

“Saya rasa Prof salah orang.”

“Mungkin.” Tatapannya turun sekilas ke bibir Kirana. “Tapi saya jarang lupa pada orang yang meninggalkan uang untuk saya.”

Kirana menggenggam tali tasnya sampai buku jarinya memutih.

“Itu salah paham.”

“Bagus. Berarti kita perlu waktu untuk meluruskannya.” Arya mengeluarkan ponsel. “Nomor WhatsApp pribadi kamu.”

“Sudah ada di grup kelas.”

“Saya tidak bertanya nomor yang ada di grup.”

“Prof. Arya sendiri bilang mahasiswa tidak boleh menghubungi untuk urusan nonakademik.”

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu seperti rasa puas di mata pria itu. “Pintar. Sayangnya, saya yang akan menghubungi kamu.”

Winda mengintip dari balik ponselnya dengan wajah terang-terangan ingin tahu. Kirana tidak punya ruang untuk berdebat tanpa membuatnya semakin curiga. Ia menyebutkan nomor dengan suara pelan.

Ponselnya langsung bergetar.

Pesan dari nomor baru masuk.

Jangan blokir saya, Rana.

Napas Kirana tersangkut. Tidak ada seorang pun yang pernah memanggilnya Rana.

Ketika ia mengangkat wajah, Arya sudah berjalan pergi.

“Oke.” Winda mendekat dengan kedua tangan bersedekap. “Sekarang jelaskan kenapa dosen baru superganteng itu punya nomor pribadi lo dan memandang lo kayak mau nagih utang.”

“Dia cuma mau bahas tugas.”

“Tugas apaan sampai kuping lo merah?”

Kirana memasukkan ponsel ke tas. “Panas.”

“Koridor ini pakai AC.”

“Win, gue lapar.”

“Pengalihan lo jelek banget.”

Kirana menarik lengan sahabatnya menuju tangga. Ia baru mengembuskan napas ketika mereka sampai di lantai bawah, tanpa sadar bahwa dari ujung koridor atas, Arya masih memperhatikannya pergi.

***

Pintu sedan hitam menutup, meredam bising kampus.

Rian menoleh dari kursi pengemudi. “Ke kantor pusat, Pak? Rapat direksi dimulai empat puluh menit lagi.”

Arya melepas kacamata tanpa lensa koreksi itu dan membuka tablet. Di layar, agenda Danuwangsa Group memenuhi sisa harinya, mulai dari akuisisi perusahaan logistik sampai laporan investasi kampus.

“Ke SCBD,” jawabnya. “Minta tim legal menyelesaikan berkasnya sebelum saya tiba.”

“Baik, Pak.” Rian menjalankan mobil, lalu melirik lewat kaca tengah. “Kalau boleh tahu, bagaimana kelas pertama Direktur Danuwangsa sebagai dosen pengganti?”

“Berisik.”

“Mahasiswanya?”

“Satu orang.”

Rian menahan senyum. Ia tahu atasannya mengambil jadwal Prof. Hartono bukan karena UN kekurangan tenaga pengajar. Sebagai penyandang dana terbesar kampus, Arya bahkan bisa meminta satu gedung baru diberi namanya. Namun selama enam minggu terakhir, pria yang biasanya menganggap waktu sebagai aset termahal itu justru memindahkan tiga rapat direksi demi satu kelas.

Arya membuka dompet kulitnya.

Di balik kartu hitam tersimpan selembar uang Singapura yang sudah dirapikan, bersama secarik catatan hotel.

Anggap saja ini bayaran. Lupakan aku.

Rahangnya mengeras tipis.

Seumur hidup, perempuan tidak pernah bisa berdiri terlalu dekat dengannya tanpa membuat perutnya mual. Namun malam itu Kirana jatuh ke pelukannya, menciumnya, dan untuk pertama kalinya dalam hampir dua puluh tahun, tubuh Arya tidak menolak.

Gadis itu mengambil pengalaman pertama mereka, meninggalkan uang, lalu menghilang.

“Rian.”

“Ya, Pak?”

Arya melipat kembali catatan itu dengan hati-hati.

“Kosongkan jadwal saya setiap Selasa dan Kamis pagi sampai semester berakhir.”

Rian menatap jalan agar ekspresinya aman. “Untuk mengajar?”

“Untuk memastikan seorang mahasiswi berhenti lari.”

Episode 3

Bab 3: Lari Pagi

“Untuk memastikan seorang mahasiswi berhenti lari.”

Sayangnya, pada pukul setengah enam keesokan harinya, Kirana justru benar-benar berlari.

Ia memacu langkah di jogging track belakang apartemen, membiarkan udara pagi Depok mengusir sisa kantuk dan kekesalan. Semalam, nomor baru itu mengirim satu pesan lagi.

Besok jangan terlambat sarapan.

Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan kenapa seorang dosen mengurusi perut mahasiswinya. Kirana membaca pesan itu enam kali, menyimpan nomor tersebut dengan nama Dosen Menyebalkan, lalu membalik ponsel agar tidak tergoda membalas.

“Aneh,” gumamnya sambil menambah kecepatan.

“Apa yang aneh?”

Suara rendah di tikungan membuat Kirana menoleh. Ujung sepatunya menginjak garis pembatas, tubuhnya oleng, lalu menabrak dada seseorang.

Sebuah lengan langsung melingkari pinggangnya.

Kirana mengenali aroma kayu itu bahkan sebelum mendongak.

Arya mengenakan kaus olahraga hitam dan celana jogger senada. Tanpa kemeja rapi dan meja dosen sebagai pembatas, bahunya tampak lebih lebar. Rambutnya basah oleh keringat. Kacamata emas tetap bertengger di hidung, anehnya tidak bergeser sedikit pun ketika menahan berat tubuh Kirana.

“Prof. Arya?”

“Pagi, Rana.”

Telapak tangannya terasa panas menembus kain tipis di pinggang Kirana. Posisi itu terlalu mirip dengan satu potongan malam di Singapura. Kirana buru-buru berdiri tegak dan melepaskan diri.

“Kenapa Prof ada di sini?”

“Lari pagi.”

“Di apartemen saya?”

“Jogging track ini fasilitas umum.” Arya memandang jalur yang kosong. “Atau kamu membeli seluruh kompleksnya?”

“Bukan begitu.”

“Berarti saya boleh lari di sini.”

Kirana menatapnya curiga. “Rumah Prof dekat?”

“Sekarang, cukup dekat.”

Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun. Arya mulai berjalan dan Kirana, entah kenapa, ikut bergerak di sampingnya.

“Kamu tidur nyenyak?” tanyanya.

“Sangat.”

“Padahal kamu membaca pesan saya enam kali.”

Kirana berhenti. “Prof bisa lihat itu?”

“Pesan terakhir menunjukkan centang biru. Saya menebak sisanya.”

“Tebakannya salah.”

“Kalau begitu, kenapa wajahmu marah sejak tadi?”

“Ini wajah normal saya.”

Arya mengeluarkan suara tawa rendah. Sangat singkat, tetapi cukup membuat Kirana sadar ia belum pernah melihat pria itu benar-benar tertawa.

Mereka kembali berlari. Kirana sengaja mempercepat langkah, hanya untuk mendapati Arya mengimbanginya tanpa kesulitan.

“Soal uang itu,” kata Kirana setelah satu putaran. “Saya minta maaf kalau Prof merasa tersinggung.”

“Kalau?”

“Baik. Saya minta maaf karena sudah menyinggung Prof. Saya panik.”

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Kamu pikir satu permintaan maaf cukup untuk melunasi semuanya?”

Kirana menginjak rem langkah. “Melunasi apa? Kita sama-sama setuju malam itu.”

“Benar.” Arya ikut berhenti, berdiri di depannya. “Tapi hanya satu orang yang kabur pagi-pagi dan meninggalkan bayaran.”

“Saya nggak minta Prof mengejar.”

“Saya juga tidak meminta kamu mencium saya.”

Pipi Kirana menyala. Seorang ibu yang berjalan dengan anjing kecil melintas di dekat mereka. Kirana menunggu sampai perempuan itu menjauh sebelum mendesis, “Jangan bahas itu di tempat umum.”

Arya membungkuk sedikit, menurunkan suara di dekat telinganya. “Kalau begitu, beri saya tempat pribadi.”

Kirana mundur begitu cepat hingga hampir tersandung lagi.

“Mimpi.”

Ia berbalik dan berlari menuju gedung apartemen. Kali ini Arya tidak mengejar. Suara pria itu hanya menyusul dari belakang.

“Sarapan, Rana. Jangan cuma minum kopi.”

Kirana mengangkat tangan tanpa menoleh. Ia tidak tahu gerakan itu berarti baik, diam, atau pergi sana. Yang jelas, bibirnya nyaris membentuk senyum dan itu lebih mengganggu daripada pesan apa pun.

Begitu sampai di lobi, senyum itu lenyap.

Gilang berdiri di depan pintu masuk dengan tas olahraga tersampir di bahu dan dua kantong besar di tangan. Aroma bubur ayam, roti bakar, dan kopi susu memenuhi ruangan.

“Pagi, Kirana!” serunya. “Pas banget. Aku bawain sarapan.”

Kirana menatap kantong-kantong itu. “Buat satu RT?”

“Biar kamu bisa pilih. Ada bubur tanpa daun bawang, nasi uduk, roti, sama buah.”

“Gilang, aku sudah pernah bilang, nggak usah bawain apa-apa.”

“Santai aja. Kebetulan lewat.”

Petugas keamanan di meja depan menahan senyum. Kirana menekan pelipis. “Kos kamu berlawanan arah dari sini.”

“Aku habis latihan.”

“Lapangan kampus juga berlawanan arah.”

Gilang terkekeh, sama sekali tidak merasa tertangkap basah. “Yang penting niatnya, kan?”

Pintu lift terbuka. Winda keluar dengan kaus tidur longgar dan sandal jepit, tampaknya berniat mengambil paket.

Matanya langsung membesar melihat makanan.

“Ya ampun. Kira, hidup lo diberkati. Pagi-pagi sudah ada katering berjalan.”

“Ambil semuanya kalau lo mau.”

“Serius?”

“Winda,” tegur Kirana.

Winda mengatupkan bibir, tetapi tangannya sudah menerima satu kantong dari Gilang.

“Aku cuma mau nganter,” kata Gilang. “Nanti siang aku jemput ke kampus, ya?”

“Nggak perlu. Aku sama Winda.”

“Motor aku lebih cepat.”

“Aku bilang nggak perlu.” Suara Kirana tetap datar, tetapi tegas. “Dan setelah ini jangan tunggu di depan apartemen lagi. Aku nggak nyaman.”

Senyum Gilang turun sedikit. Sebelum ia sempat menjawab, pintu lobi kembali terbuka.

Arya masuk dengan langkah tenang. Keringat masih membasahi lehernya, tetapi tatapannya telah berubah dingin saat melihat Gilang berdiri terlalu dekat dengan Kirana.

“Pagi, Prof,” sapa Gilang, mendadak sopan.

Arya mengangguk tipis. Matanya beralih ke kantong sarapan di tangan Winda, lalu pada Kirana.

“Ternyata kamu memang tidak akan melewatkan sarapan.”

Kirana menangkap nada halus yang tidak disadari dua orang lain. “Itu bukan punya saya.”

“Belum,” sahut Gilang cepat. “Tapi saya bawakan khusus untuk Kirana.”

Rahang Arya mengeras nyaris tak terlihat.

“Mahasiswa UN punya banyak waktu luang rupanya.”

Gilang terkekeh canggung. “Sebelum kelas saja, Prof.”

“Bagus.” Arya menatap jam tangannya. “Gunakan sisanya untuk membaca materi pekan ini. Saya tidak suka mahasiswa yang sibuk mengejar hal lain lalu tertinggal di kelas.”

Winda menunduk, bahunya bergetar menahan tawa.

Gilang berpamitan beberapa menit kemudian. Ia tetap meninggalkan makanan, tetapi langkahnya tidak lagi seringan saat datang.

Begitu pintu menutup, Winda menatap Kirana, lalu Arya, lalu tumpukan sarapan di tangannya.

“Kira, lo laris banget,” katanya. “Ini baru jam enam pagi dan antreannya sudah dua.”

“Nggak ada antrean,” balas Kirana.

Arya menggeser tatapan ke arahnya. Mata gelap itu tenang, tetapi hawa di sekelilingnya terasa beberapa derajat lebih dingin.

“Pastikan memang tidak ada,” ucapnya pelan.

Ia berjalan menuju lift, meninggalkan Kirana di antara rasa jengkel, malu, dan detak jantung yang tidak tahu aturan.

“Dia barusan cemburu, ya?” bisik Winda.

“Dia barusan mengingatkan mahasiswa supaya belajar.”

“Sambil menatap Gilang kayak mau menghapus namanya dari sistem akademik?”

Kirana merebut kantong bubur dari tangan sahabatnya. “Lo kebanyakan nonton sinetron.”

“Dan lo kebanyakan menyangkal.” Winda menunjuk lift dengan dagu. “Prof. Arya tinggal di sini sejak kapan?”

Sendok plastik di tangan Kirana berhenti. Itu pertanyaan yang sama sekali belum terpikir olehnya.

Namun sebelum pintu lift menutup, Arya memandang Gilang yang masih terlihat di balik kaca lobi.

Tatapannya tidak lagi menyerupai seorang dosen.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!