Udara bulan September di Oxfordshire selalu membawa aroma yang sama: tanah basah, daun maple yang membusuk secara perlahan, dan aroma jelaga tua yang menempel pada dinding-dinding batu bergaya Gotik.
Aurora Vance menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin yang seketika membuat tenggorokannya sedikit gatal. Ia membetulkan pegangan pada gagang kopernya sebuah koper kain berwarna biru tua yang rodanya sudah agak seret dan mengeluarkan suara berderit menggeledak setiap kali melintasi batu jalanan (cobblestone).
"Empat tahun, Rory. Cuma empat tahun," bisiknya pada diri sendiri.
Di hadapannya, gerbang besi tempa menjulang tinggi, membingkai pemandangan St. Jude’s College. Bangunan itu tampak lebih mirip kastil abad pertengahan daripada sebuah tempat belajar. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya dengan pakaian yang terawat baik. Beberapa mahasiswa baru diturunkan dari mobil sedan hitam berkilat oleh sopir pribadi, sementara yang lain tertawa-tawa sambil membawa tas kain bermerek mahal.
Rory menunduk sebentar, melirik sepatu sneakers putihnya yang sudah agak memudar di bagian ujung. Ia tidak minder. Untuk apa? Sepatu ini masih utuh, fungsinya masih sama dengan sepatu seharga lima ratus poundsterling milik gadis berkulit pucat yang baru saja melewatinya. Lagipula, beasiswa penuh yang mengover biaya kuliah dan asramanya tidak didapatkan dari cara berpakaian, melainkan dari nilai ujian masuknya yang berada di peringkat teratas nasional.
Ia melangkah menuju area registrasi di pelataran tengah (Quadrangle). Suasana di sana sangat riuh. Ratusan mahasiswa baru bergerombol, memegang peta kampus dan lembaran jadwal Freshers'Week pekan orientasi yang konon di St. Jude’s terkenal sangat menguras fisik dan mental.
"Nama dan nomor registrasi?"
Suara itu tidak datang dari meja pendaftaran, melainkan dari seorang mahasiswa senior yang berdiri di dekat jalur masuk dengan papan jalan di tangannya. Lelaki itu mengenakan jas almamater berwarna biru gelap dengan pin perak bertuliskan Senior Committee di dada kirinya.
Rory mendongak. "Aurora Vance. Nomor registrasi SV-8890."
Lelaki senior itu menyapu pandangannya dari ujung kepala sampai ujung kaki Rory, lalu mencoret sesuatu di papannya tanpa tersenyum sedikit pun. "Asrama St. Margaret, lantai tiga. Jangan buang waktu berlama-lama di kamar. Pengarahan perdana dimulai tepat pukul dua siang di Hall Utama. Keterlambatan satu detik saja berarti poin pelanggaran pertama."
"Terima kasih," jawab Rory singkat. Tanpa mengulur waktu, ia menyambar kunci kamarnya dari meja panitia dan segera berjalan cepat menuju blok asrama.
Kamar asramanya kecil namun bersih. Sebuah ranjang tunggal dengan kasur yang lumayan empuk, meja belajar dari kayu ek tua yang menghadap ke jendela, dan lemari dua pintu. Di ranjang sebelah, seorang gadis rambut keriting mengembang sedang sibuk membongkar isi koper yang meluap dengan baju-baju berwarna cerah.
"Oh! Hai!" Gadis itu langsung melompat berdiri, hampir saja menabrak lampu meja. "Kamu teman kamarku? Aku Gemma! Gemma Foster. Jurusan Seni Murni."
"Aurora. Panggil saja Rory. Jurusan Sains Data dan Biokimia," jawab Rory sambil meletakkan kopernya di sisi ranjang yang kosong.
Gemma membelalakkan mata. "Biokimia? Whoa, otak encer. Beda banget sama aku yang cuma bisa melukis. Btw, kamu udah lihat para panitia di luar? Gila, ya. Mereka kelihatan kayak model majalah tapi mukanya seperti algojo. Terutama cowok yang berdiri di dekat air mancur itu siapa namanya... Julian? Julian Radcliffe!"
Rory membuka kopernya dan mulai menyusun pakaiannya yang tidak seberapa ke dalam lemari. "Aku tidak terlalu memperhatikan. Yang jelas, mereka bilang kita harus ada di Hall Utama jam dua tepat."
"Kamu dingin banget, Rory," tawa Gemma meledak. "Tapi serius, suasana di sini agak menakutkan. Katanya senior di St. Jude’s itu disiplinnya sangat keras. Kalau kita bikin masalah sedikit saja, nilai poin asrama kita bisa dipotong."
Rory hanya tersenyum tipis. "Selama kita ikuti aturannya, harusnya aman-aman saja."
Namun, perkataan Rory terbukti terlalu optimis.
Pukul 13.55, Hall Utama sudah dipadati oleh ratusan mahasiswa baru. Ruangan berarsitektur megah dengan langit-langit tinggi dan jendela kaca patri itu terasa sangat dingin. Di panggung depan, lima orang mahasiswa senior berdiri sejajar dengan postur tubuh tegap dan wajah tanpa ekspresi.
Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria tinggi tegap yang seketika menyedot perhatian seluruh ruangan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Julian Edward Radcliffe.
Pria itu mengenakan kemeja putih yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan rompi almamater gelap. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan rambut cokelat gelapnya tertata rapi namun terkesan alami. Ada keanggunan yang sangat alami dari cara berdirinya jenis keanggunan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang tumbuh di dalam istana atau rumah megah berhektar-hektar.
Namun, yang paling menonjol dari Julian adalah matanya. Tatapan hazel-nya dingin, seolah ia bisa membaca semua pikiran konyol para mahasiswa baru di hadapannya.
"Waktu menunjukkan pukul dua tepat," suara Julian menggelegar di dalam Hall. Suaranya berat, tenang, namun memiliki wibawa yang membuat seluruh bisik-bisik di ruangan itu langsung terhenti seketika. "Pintu utama telah dikunci. Bagi siapa pun yang berada di luar pintu saat ini, mereka telah gagal memenuhi standar kedisiplinan pertama St. Jude’s."
Beberapa mahasiswa baru saling berpandangan dengan cemas.
"Nama saya Julian Radcliffe, Ketua Panitia Pengawasan dan Kedisiplinan Pekan Orientasi," lanjutnya, melangkah pelan di sepanjang panggung. "Selama satu minggu ke depan, kami tidak peduli dari mana kalian berasal. Kami tidak peduli seberapa kaya orang tua kalian, atau berapa banyak gedung yang disumbangkan keluarga kalian untuk kampus ini. Di tempat ini, kalian semua sama: mahasiswa baru yang harus membuktikan bahwa kalian pantas menyandang almamater ini."
Julian berhenti melangkah. Matanya menyapu barisan depan, lalu perlahan bergeser ke arah tengah tepat di mana Rory berdiri.
Rory tidak menunduk seperti mahasiswa lain yang ketakutan. Ia menatap lurus ke panggung, memperhatikan cara senior itu membawakan dirinya. Bagi Rory, gertakan seperti ini sudah biasa. Di lingkungan tempat tinggalnya dulu, ia sudah kenyang melihat orang-orang yang berusaha mendominasi lewat nada suara.
Mata Julian menyipit sedikit ketika menyadari ada satu pasang mata yang menatapnya tanpa ada rasa gentar sedikit pun. Gadis itu dengan rambut cokelat tua terikat asal dan sweater abu-abu yang agak kebesaran menatapnya dengan raut wajah yang sangat datar. Bukan tatapan menantang yang childish, melainkan tatapan yang seolah berkata: Cepat selesaikan bicaramu, aku punya hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan.
Ada jeda dua detik sebelum Julian mengalihkan pandangannya kembali ke seluruh ruangan.
"Tugas pertama kalian telah dibagikan di meja masing-masing," sambung Julian, suaranya kembali dingin. "Setiap kelompok harus menyelesaikan pemetaan perpustakaan tua dan mengumpulkan analisis struktur bangunan sebelum pukul lima sore. Jika ada satu anggota kelompok yang terlambat atau mengumpulkan analisis yang asal-asalan, seluruh kelompok akan mendapat pengurangan nilai."
Suara desah kekecewaan dan keluhan langsung merayap di antara para mahasiswa baru. Tugas itu sangat berat untuk hari pertama.
"Ada pertanyaan?" tanya Julian.
Rory mengangkat tangannya tanpa ragu.
Seluruh pandangan di Hall Utama mendadak tertuju padanya. Gemma yang berdiri di samping Rory meremas lengan jaket Rory dengan panik, berbisik, "Rory, kamu gila ya?"
Julian menatap gadis itu. "Ya. Yang di tengah. Sebutkan nama dan jurusanmu."
"Aurora Vance. Biokimia," suara Rory terdengar jernih dan berartikulasi jelas, memantul di dinding-dinding batu Hall. "Saya mau konfirmasi mengenai format analisis. Apakah laporan harus ditulis tangan sesuai format standar kampus tahun 1920 seperti yang tertera di panduan, atau diperbolehkan menggunakan format digital untuk menghemat waktu pengolahan data?"
Beberapa senior di panggung menaikkan alis mereka. Pertanyaan itu sangat teknis untuk seorang mahasiswa baru yang baru tiba dua jam lalu.
Julian menatap Rory dengan cermat. Ada kilat ketertarikan yang sangat tipis di balik mata hazel-nya, namun wajahnya tetap tidak tersenyum.
"Panduan diciptakan bukan untuk dipertanyakan, Miss Vance," jawab Julian datar. "Tulis tangan. Tiga lembar kertas parchment. Jika kamu merasa menghemat waktu itu penting, maka latihlah jemarimu untuk menulis lebih cepat. Bukan mencari jalan pintas."
Rory tidak menunjukkan raut wajah kesal. Ia hanya mengangguk pelan. "Diterima. Terima kasih atas penjelasannya, Senior Radcliffe."
Rory kembali berdiri tegap, langsung mengeluarkan pulpen dari saku celananya dan mencatat instruksi tersebut di buku kecilnya. Sama sekali tidak ada aura tersinggung atau baper dari sikapnya.
Di atas panggung, Julian memperhatikan gerakan tangan gadis itu saat mencatat. Untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, sudut bibir Julian terangkat sangat tipis hampir tak terlihat sebelum ia kembali menetralkan ekspresinya.
Gadis yang menarik, batin Julian. Dan sangat realistis.
Hari pertama baru saja dimulai, dan roda takdir di antara dua dunia yang bertolak belakang itu resmi berputar.
Hujan gerimis khas Oxfordshire yang tadinya hanya rintik halus kini berubah menjadi curahan air yang konsisten menimpa genteng-genteng batu St. Jude’s College. Bau tanah basah menguap, bercampur dengan aroma kertas tua yang menyeruak begitu Rory melangkah masuk ke dalam Perpustakaan Coldwell.
Perpustakaan itu lebih mirip katedral abad pertengahan daripada ruangan belajar. Rak-rak kayu ek berwarna cokelat gelap menjulang hingga ke langit-langit berukir, menampung ribuan jilid buku bertulang kulit yang tampak belum tersentuh selama berpuluh-puluh tahun.
"Buku panduan bilang kita harus cari peta denah tahun 1920 di Sayap Barat," bisik Gemma sambil merapatkan jaket rajutnya. Nafasnya mengembun tipis di udara dingin perpustakaan. "Rory, kamu yakin kita sanggup selesaikan tiga lembar analisis ini sebelum jam lima? Ini baru jam tiga lewat sedikit, dan tanganku rasanya mau mati rasa."
"Kurangi mengeluh, perbanyak jalan," balaskan Rory tenang. Matanya sibuk memindai abjad di papan penunjuk rak. "Kalau kita selesaikan tugas ini tepat waktu, kita punya waktu satu jam untuk mengeringkan pakaian sebelum pengarahan malam."
Gemma mendesah, tapi ia tetap menguntit di belakang Rory. "Tapi serius deh, Julian Radcliffe itu beneran manusia atau patung pualam sih? Mukanya ganteng banget, tapi omongannya pedas kayak cabai rawit. 'Latihlah jemarimu untuk menulis lebih cepat,' ceramahnya. Ugh, rasanya mau tak lempar pakai kamus Latin!"
Rory terkekeh tipis suara tawa langka yang membuat Gemma menoleh kaget.
"Dia cuma menjalankan tugasnya, Gem. Senior kedisiplinan memang dibayar atau dalam hal ini, diberi poin reputasi untuk kelihatan galak. Kalau dia tersenyum ramah, dua ratus mahasiswa baru tadi bakal menyepelekan dia."
"Tetap saja! Dia menyebalkan," gumam Gemma.
Langkah Rory terhenti di depan rak berlabel B-12: Arsitektur & Denah Bersejarah. Tangannya yang agak memerah karena udara dingin meraba jajaran buku tebal di rak setinggi dada. Posisinya yang dicari ada di rak paling atas, sedikit di luar jangkauan tingginya.
Rory berjinjit, mengulurkan jemarinya untuk menggapai sampul buku tebal bertuliskan St. Jude’s Architectural Expansion (1915 -1925). Ujung jarinya baru saja menyentuh sudut buku saat sebuah tangan lain berkulit bersih dengan jemari panjang yang ramping terulur dari belakang bahunya dan mengambil buku itu dengan sangat mudah.
Aroma lembut campuran kayu cendana dan sabun maskulin yang bersih langsung merayap ke indra penciuman Rory.
Rory berbalik dengan cepat.
Julian Radcliffe berdiri begitu dekat. Pria itu sudah melepas jas almamaternya, kini hanya mengenakan kemeja putih bersetrika rapi dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawah yang kokoh dan garis vena yang samar. Jam tangan antik berantai perak melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Mencari ini, Miss Vance?" suara Julian terdengar rendah, memantul samar di antara rak-rak buku yang sunyi.
Rory tidak mundur selangkah pun, meskipun jarak mereka hanya sekitar dua jengkal. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata hazel yang dalam itu.
"Ya. Terima kasih sudah mengambilkan," kata Rory datar, mengulurkan tangannya untuk meminta buku tersebut. "Saya akan menggunakannya untuk tugas kelompok kami."
Julian tidak langsung menyerahkan buku itu. Ia memegang ujung buku dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi bertengger santai di dalam saku celana kain hitamnya. Tatapannya meneliti wajah Rory rambut cokelatnya yang sedikit lembap karena gerimis di luar, serta ekspresi wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terintimidasi.
"Biokimia dan Sains Data," kata Julian pelan, seolah mengingat catatan di papannya tadi siang. "Kenapa mengambil jurusan itu kalau kamu punya ketertarikan pada arsitektur bangunan tua?"
"Saya tidak tertarik pada arsitekturnya, Senior Radcliffe. Saya tertarik pada fakta bahwa jika saya tidak menyelesaikan analisis ini sebelum jam lima, Anda akan memotong poin asrama kami," jawab Rory tanpa jeda. "Jadi, boleh saya minta bukunya?"
Di belakang Rory, Gemma menahan nafasnya rapat-rapat. Gadis itu sudah siap-siap melarikan diri kalau-kalau Julian murka.
Namun, alih-alih marah, sudut bibir Julian justru terangkat sangat tipis. Sebuah senyum samar yang hampir tak terlihat, namun cukup untuk mengubah aura dingin di wajahnya menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagi kesehatan jantung siapapun yang melihatnya.
"Gunakan dengan hati-hati. Buku ini diterbitkan terbatas," ujar Julian. Ia mengulurkan buku itu, jari-jarinya sempat bersentuhan sebentar dengan jemari Rory saat penyerahan.
Sentuhan itu singkat, tidak sampai dua detik, tapi kulit jari Julian terasa hangat bertolak belakang dengan tangan Rory yang dingin. Rory merasakan sedikit sengatan aneh di dadanya, namun ia dengan cepat menepis perasaan itu.
"Terima kasih," ulang Rory lurus.
Julian mengangguk pelan. Sebelum ia berbalik pergi, matanya melirik ke arah kertas parchment yang dipegang Rory. "Pastikan tulisan tanganmu bisa dibaca. Saya yang akan memeriksa laporan kelompokmu nanti sore."
Julian melangkah pergi, langkah kakinya hampir tak bersuara di atas karpet tebal perpustakaan.
Begitu sosok Julian menghilang di balik deretan rak, Gemma langsung mencengkeram lengan sweater Rory dan memekik tanpa suara.
"Rory! Kamu gila, kamu gila, kamu gila!" bisik Gemma heboh dengan mata membelalak. "Kamu baru saja membalas omongan Julian Radcliffe tanpa berkedip! Dan... dan tadi itu apa?! Dia senyum! Aku bersumpah demi kuas lukisku, dia senyum tipis banget ke kamu!"
"Dia cuma bilang buku itu terbatas, Gem. Dan dia senyum karena menganggap kita sibuk mengejar tenggat waktu," balas Rory tenang, meski ia merapikan lembar kertasnya dengan sedikit lebih cepat dari biasanya. "Ayo. Jangan buang waktu. Kita punya analisis yang harus ditulis."
Dua jam berikutnya berlalu dalam kesibukan yang intens. Di sebuah meja kayu panjang dekat jendela besar yang diterpa bintik-bintik air hujan, Rory dan Gemma bekerja keras.
Rory terbukti sangat efisien. Jemarinya menari di atas kertas parchment dengan pena bulu bertinta hitam, mencatat koordinat bangunan, rasio ketahanan dinding batu, serta pembagian tata ruang Sayap Barat tanpa perlu membaca ulang buku berkali-kali. Otaknya menyerap informasi seperti spons.
Tepat pukul 16.50, sepuluh menit sebelum tenggat waktu, Rory menepuk kertasnya yang sudah kering dan rapi.
"Selesai," gumam Rory.
"Tangan aku lumpuh," ratap Gemma, menyandarkan kepalanya di atas meja. "Tapi serius, Rory, tulisan tanganmu rapi banget kayak cetakan mesin. Kalau Senior Julian masih nyari kesalahan dari laporan ini, fix dia ada dendam pribadi sama kamu."
"Dia tidak kenal aku, bagaimana bisa dendam?" tanya Rory logis sambil membereskan alat tulisnya.
Mereka berdua berjalan menuju meja pengumpulan panitia di area lobi perpustakaan. Di sana, beberapa kelompok mahasiswa baru nampak panik karena laporan mereka belum selesai, sementara beberapa senior berdiri mengawasi dengan jam genggam di tangan.
Di antara para senior itu, berdiri Leo Thorne pria tinggi dengan rambut pirang ikal dan wajah yang jauh lebih ramah daripada Julian. Leo adalah wakil ketua panitia.
"Kelompok 12?" tanya Leo ramah saat Rory menyerahkan berkasnya.
"Ya. Aurora Vance dan Gemma Foster," jawab Rory.
Leo menerima kertas itu dan sekilas melirik isinya. Matanya membelalak kagum. "Wah... rapi sekali. Kalian bahkan menyertakan perhitungan proporsi sudut bangunan? Impresif."
"Terima kasih, Senior," ujar Gemma sambil tersenyum manis.
Leo membalas senyuman Gemma dengan tatapan hangat yang bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya. "Sama-sama. Nama kamu Gemma, kan? Dari jurusan Seni Murni?"
"Iya!" jawab Gemma agak tersipu.
Sebelum percakapan itu berlanjut, sebuah bayangan tinggi melangkah mendekati meja. Julian muncul dari ruang arsip di belakang Leo. Pria itu menyapu pandangannya ke arah berkas di tangan Leo, lalu menatap Rory.
"Sudah selesai, Miss Vance?" tanya Julian dingin.
"Tepat waktu, Senior Radcliffe," jawab Rory tegas.
Julian mengambil berkas dari tangan Leo, membaliknya perlahan, memindai setiap baris tulisan tangan Rory yang rapi dan terstruktur sempurna. Tidak ada coretan, tidak ada noda tinta, dan analisisnya sangat tajam.
"Lumayan," kata Julian singkat. Kata yang terkesan hemat, tapi keluar dari mulut Julian, itu adalah sebuah pujian tinggi. "Kalian boleh kembali ke asrama untuk persiapan sesi malam."
"Terima kasih," kata Rory. Ia memberi anggukan sopan, lalu menarik tangan Gemma yang masih bertatap mata dengan Leo. "Ayo, Gem."
Saat Rory berbalik dan melangkah keluar dari pintu kaca perpustakaan menuju pelataran yang basah, ia bisa merasakan sepasang mata hazel menyapu punggungnya hingga ia menghilang di balik belokan lorong.
Di meja panitia, Leo menyenggol lengan Julian sambil terkekeh. "Cewek yang bawa berkas tadi... cerdas banget. Dan temannya yang jurusan Seni Murni itu manis juga."
Julian tidak langsung menjawab. Matanya masih menatap pintu keluar yang kosong, sebelum ia memasukkan laporan Rory ke dalam map khusus.
"Dia bukan cuma cerdas, Leo," gumam Julian pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dia tahu apa yang dia lakukan."
Hujan malam di Oxfordshire membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Lampu-lampu minyak dan lentera bergaya Victorian di sepanjang lorong kampus St. Jude’s menyala, memancarkan pendar kuning temaram yang memantul di atas jalanan batu yang basah.
Di dalam Hall Utama, suasana jauh dari kata hangat. Dua ratus mahasiswa baru duduk berjejer di atas bangku-bangku kayu panjang. Sesi malam ini ditutupi dengan evaluasi aturan kedisiplinan dan pembagian jadwal mentoring individu.
Rory duduk tegap dengan kedua tangan saling bertaut di atas paha. Ia mengenakan sweater rajut abu-abu milik ibunya yang sedikit kebesaran dan memiliki beberapa helai benang terlepas di bagian lengan serta celana jins gelap yang sudah mulai memudar warna di bagian lutut. Di sekelilingnya, mahasiswi-mahasiswi lain tampak sibuk memoles lipstik atau mengeluhkan mantel cashmere mereka yang terkena cipratan air hujan.
"Kalian lihat sepatu cewek yang duduk di baris dua itu?" bisik seorang mahasiswi berambut pirang di barisan belakang Rory. Suaranya sengaja ditahan, tapi masih cukup jelas terdengar. "Sepatunya aus banget. Apa kampus ini sekarang menerima siapa saja tanpa seleksi latar belakang?"
Gemma, yang duduk di sebelah Rory, langsung menegang. Wajahnya memerah karena marah, dan ia hampir saja berbalik untuk menegur gadis itu.
Namun, Rory menahan lengan Gemma dengan lembut. "Biarkan saja, Gem. Energi kamu terlalu berharga untuk dilayani."
"Tapi dia keterlaluan, Rory!" bisik Gemma gemas. "Mereka cuma menang uang orang tua, sementara kamu ada di sini karena otakmu."
Rory hanya tersenyum sangat tipis, menggeleng pelan. "Uang mereka yang bayar fasilitasku di sini. Secara tidak langsung, aku harus berterima kasih pada orang tua mereka."
Gemma melotot, tak percaya dengan respon Rory yang terlalu santai dan sangat logis itu, lalu mendesah pasrah. "Kamu benar-benar tak tersentuh, ya."
Di depan panggung, Julian Radcliffe berdiri mendengarkan laporan dari beberapa panitia senior. Meskipun jaraknya lumayan jauh dari barisan Rory, mata hazel-nya yang tajam sempat menyapu ke arah dua mahasiswi yang berbisik-bisik tadi, lalu beralih ke ekspresi tenang Rory. Tidak ada luapan emosi di wajah Rory gadis itu benar-benar mengabaikan sindiran di sekitarnya dengan sangat alami.
Julian menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tertuju pada sweater abu-abu Rory yang sederhana. Bagi seseorang yang tumbuh di lingkungan kelas atas di mana setiap orang dinilai dari merek jam tangan atau garis keturunan melihat seseorang yang begitu percaya diri tanpa perlu memamerkan apa pun adalah hal yang sangat jarang terjadi.
"Perhatian semuanya," suara Julian kembali menggelegar melalui pengeras suara, memotong semua bisik-bisik di ruangan. "Sesi evaluasi malam ini ditutup. Lembar jadwal mentoring individual untuk minggu depan telah ditempel di papan pengumuman lorong tengah. Kalian dibebaskan kembali ke asrama masing-masing."
Ketegangan di ruangan seketika mencair. Suara gesekan bangku kayu dan helaan napas lega terdengar bersahut-sahutan.
Saat mahasiswa mulai berhamburan keluar, Leo Thorne melangkah mendekati meja panitia sambil membawa tumpukan dokumen. "Julian, anak-anak mau kumpul sebentar di lounge senior untuk coffee break. Kamu ikut?"
Julian melirik jam tangan peraknya. "Kalian duluan saja. Saya mau memeriksa kelengkapan kunci ruang arsip dulu."
"Siap. Jangan kemalaman, kawan. Hari pertama ini lumayan menguras tenaga," kata Leo sambil menepuk bahu Julian, lalu matanya melirik ke arah Gemma yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Leo tersenyum tipis sebelum akhirnya menyusul rombongan senior lain.
Rory berjalan di lorong penghubung menuju arah asrama. Namun, langkahnya terhenti saat menyadari tas kain tempatnya menyimpan buku catatan kecilnya terasa jauh lebih ringan. Ia meraba bagian dalam tasnya dengan panik.
"Astaga, bukuku..." gumam Rory.
Buku catatan kecil bersampul cokelat itu adalah hal paling berharga yang dibawanya dari rumah. Di dalamnya terdapat coretan rumus biokimia, jadwal pengeluaran mingguan yang sangat ketat, serta nomor kontak darurat adiknya, Ethan.
"Gem, kamu balik ke kamar duluan saja," ujar Rory pada Gemma. "Bukuku ketinggalan di area perpustakaan tua tadi."
"Mau aku antarkan?" tanya Gemma khawatir.
"Tidak usah, lorong asrama sudah mau dikunci jam sembilan. Kamu masuk duluan, aku cuma sebentar," jawab Rory cepat, lalu berbalik dan berjalan cepat memotong lorong yang mulai sepi.
Suasana perpustakaan tua di malam hari terasa jauh lebih remang. Hanya ada beberapa lampu dinding bertiang besi yang menyala. Rory menyusuri jalur yang ia lewati tadi sore, memindai meja-meja kayu tempat ia dan Gemma mengerjakan laporan.
Di sana, di meja paling ujung dekat jendela besar yang diterpa gerimis, buku catatan cokelatnya tergeletak rapi.
Rory menghela napas lega. Ia melangkah mendekat dan menyambar buku itu. Namun, saat ia berbalik hendak pergi, sebuah sosok tinggi muncul dari balik pilar batu.
Julian Radcliffe.
Julian memegang sebuah lentera kecil di tangan kirinya, membiarkan cahaya kekuningan menerangi separuh wajahnya yang tegas. Ia tampak sedikit terkejut melihat Rory masih berada di sana.
"Miss Vance? Kenapa belum kembali ke asrama St. Margaret?" tanya Julian, nada suaranya kembali ke mode senior kedisiplinan yang tegas. "Ini sudah pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Jam malam mahasiswa baru dimulai sepuluh menit lagi."
Rory menunjukkan buku catatan cokelatnya. "Buku saya tertinggal, Senior Radcliffe. Saya langsung kembali sekarang."
Julian menatap buku di tangan Rory, lalu menatap wajah gadis itu. Udara di lorong itu sangat dingin, membuat napas mereka berdua membentuk uap halus setiap kali berbicara.
"Satu pelanggaran jam malam akan berdampak pada poin kelompokmu," kata Julian pelan. Ia tidak membentak, tapi nada bicaranya memiliki bobot ketegasan yang tak bisa dibantah.
Rory merapatkan sweater abu-abunya. "Saya tahu peraturannya. Dan saya masih punya waktu sembilan menit untuk berjalan menuju asrama. Itu lebih dari cukup kalau saya berjalan cepat."
Julian menaikkan satu alisnya. "Jalan setapak menuju asrama St. Margaret tergenang air karena drainase yang tersumbat di area taman. Kalau kamu lewat jalur biasa, kamu akan terlambat atau sepatu ausmu itu akan makin basah kuyup."
Rory sedikit tersentak ketika Julian menyebut 'sepatu aus'. Ia melirik sepatunya sebentar, lalu kembali menatap Julian dengan mata jernih tanpa rasa malu sedikit pun.
"Sepatu ini masih sangat layak pakai, Senior. Dan sedikit air hujan tidak akan membuat saya runtuh," balaskan Rory tenang. "Tapi kalau ada jalur alternatif yang lebih cepat, saya akan sangat berterima kasih jika Anda mau memberitahukannya."
Julian diam selama beberapa detik. Ada keheningan yang cukup panjang di antara mereka, hanya diisi oleh suara rinai hujan yang mengetuk kaca jendela tua di samping mereka.
Julian mendesah pelan sebuah desahan halus yang hampir tidak terdengar. Ia memindahkan lentera ke tangan kanannya.
"Ikut saya," kata Julian singkat.
Tanpa menunggu jawaban Rory, Julian berbalik dan melangkah menuju lorong samping yang biasanya hanya diakses oleh para staf dan pengurus kampus. Rory sempat ragu sejenak, namun keputusannya untuk bertindak logis menang. Ia mengikuti langkah tegap Julian dari belakang.
Jalur pintas itu melewati koridor dalam bergaya Gotik yang terhindar dari terpaan hujan. Di sepanjang jalan, tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya ada suara langkah sepatu kulit Julian yang mantap dan ketukan pelan sepatu kets Rory.
Namun, di tengah kesunyian itu, rasa canggung yang aneh mulai menyelinap.
Julian sengaja memelankan ritme langkah kakinya agar Rory yang memiliki kaki lebih pendek dengannya tidak perlu setengah berlari untuk menyamai kecepatannya. Rory menyadari hal itu. Pria di depannya ini mungkin bersikap dingin dan kaku di depan publik, tapi tindakan kecilnya menunjukkan perhatian pada detail yang sangat tajam.
"Kenapa Biokimia?" tiba-tiba Julian membuka suara, tanpa menoleh ke belakang.
Rory agak terkejut dengan pertanyaan itu. "Pilihan yang paling rasional untuk prospek kerja di industri farmasi atau riset medis."
"Bukan karena passion?"
"Passion tidak membayarkan tagihan listrik atau obat-obatan keluarga, Senior Radcliffe," jawab Rory jujur, polos, dan tanpa hiasan kata-kata puitis. "Realitas butuh kepastian, bukan cuma ketertarikan."
Langkah Julian sempat tertahan sejenak sebelum ia kembali berjalan. Jawaban Rory menghantamnya dengan cara yang tak terduga. Di dunianya, semua orang bicara tentang 'panggilan jiwa', 'warisan keluarga', atau 'reputasi'.
Jarang sekali ia mendengar seseorang berbicara tentang bertahan hidup dengan kejujuran semurni itu.
"Keluargamu bergantung padamu?" tanya Julian lagi, suaranya melunak sedikit.
"Saya bergantung pada diri saya sendiri," perjelas Rory. "Dan saya tidak berniat mengecewakan siapapun yang sudah membantu saya sampai di sini."
Mereka sampai di ujung koridor. Di hadapan mereka adalah pintu samping yang langsung mengarah ke halaman dalam asrama St. Margaret kering, terlindung dari hujan, dan hanya berjarak beberapa meter dari pintu masuk utama.
Julian membukakan pintu kayu berat itu untuk Rory.
Jam di menara kampus berdentang tepat delapan kali, menandakan pukul delapan lewat lima puluh lima menit. Masih ada sisa lima menit sebelum jam malam.
Rory berdiri di ambang pintu, menatap Julian. "Terima kasih, Senior Radcliffe. Bantuan Anda sangat efisien."
Julian menatap Rory dengan cermat di bawah pendar redup lampu dinding. Ada kilat kehangatan yang asing menelusuri dadanya, namun ia menahannya rapat-rapat.
"Kembalilah ke kamarmu, Miss Vance," kata Julian dingin, namun matanya menatap lembut. "Dan besok pagi, pastikan kamu tidak terlambat untuk apel jam enam."
"Tentu," jawab Rory.
Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam gedung asrama. Saat pintu kayu itu perlahan tertutup, Rory sempat menoleh sebentar dan mendapati Julian masih berdiri di sana, memegang lenteranya di tengah kegelapan lorong, memastikan gadis itu masuk dengan aman.
Di dalam kamar asrama yang hangat, Rory meletakkan buku catatannya di atas meja.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya bukan karena takut ditilang poin kedisiplinan, melainkan karena tatapan mata hazel yang terasa terngiang-ngiang di benaknya.
Julian Radcliffe, batin Rory sambil menatap bayangan dirinya di kaca jendela yang basah. Pria itu tidak sedingin yang diperlihatkannya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!