...Ranah Kultivasi Umum...
***
Lembah Gunung Hijau, Sekte Pedang Mendalam.
Sore hari ini, matahari menggantung rendah di ufuk barat, menumpahkan warna merah darah yang pekat dan menyapu seluruh lembah Sekte Pedang Mendalam.
Angin gunung berembus kencang, membawa hawa dingin yang menggigit tulang, namun tak mampu mengusir rasa panas yang membakar pundak.
"Ukhhh... kuatkan dirimu Huo Li!" rintihnya pelan dengan napas tersengal kepada dirinya sendiri.
Kaki remaja berusia tujuh belas tahun itu gemetar menapaki jalan setapak lembah yang curam dan dipenuhi batuan tajam.
Di atas pundaknya yang kurus, sebongkah besar kayu gelondongan yang baru saja ia tebang dari hutan atas terpikul berat, menekan tubuhnya hingga nyaris membungkuk menyentuh tanah.
Huo Li mengenakan jubah abu-abu kusam yang kebesaran, seragam khas murid pelayan Sekte Pedang Mendalam.
Di balik peluh, debu, dan noda tanah, remaja itu memiliki raut wajah yang luar biasa tampan. Alisnya setajam pedang, hidungnya mancung, dan rambut hitam panjangnya diikat seadanya.
Namun, ketampanan itu tertutupi oleh kenyataan pahit. Di sekujur lengan, leher, dan pergelangan kaki yang mengintip dari balik jubah, memar biru keunguan dan luka gores baru tampak menghiasi kulitnya.
Srek.
Di pinggangnya, tersampir sebuah pedang tua bersarung usang. Itu adalah peninggalan mendiang ayahnya, harta satu-satunya yang ia jaga bagaikan nyawanya sendiri.
Nasib seolah tak pernah berpihak pada Huo Li. Setelah kedua orang tuanya tiada, ia sempat mengecap sedikit keberuntungan saat Nenek Hai, seorang Tetua sekte yang baik hati memungutnya. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Nenek Hai tewas mengenaskan dalam sebuah konflik berdarah saat Huo Li berusia tiga belas tahun.
Tanpa pelindung, ia langsung terperosok ke dasar jurang hierarki sekte, menjadi samsak, hidup yang bisa diinjak siapa saja.
Huo Li menyeka keringat yang merembes deras di dahinya menggunakan lengan jubah yang kasar. Matanya menatap penuh harap ke arah halaman belakang kediaman Tetua Bai di dasar lembah.
'Yah! Sedikit lagi...' batin Huo Li, memaksakan senyum tipis.
'Setelah aku menyelesaikan pembuatan kandang ayam spiritual ini, Tetua Bai berjanji akan mempromosikanku menjadi murid luar.'
Janji manis itulah satu-satunya bahan bakar yang menjaga kewarasannya. Di usianya yang sekarang, ia baru menyentuh Ranah Pembentukan Fondasi tahap akhir.
Tubuhnya telah melewati penempaan fisik dan pembukaan 9 meridian utama, namun ia belum mampu membentuk dantian. Energi spiritual yang susah payah ia kumpulkan hanya numpang lewat, terbuang sia-sia kembali ke udara.
Tanpa herbal spiritual atau pil esensi, menjadi kultivator sejati hanyalah angan-angan kosong bagi seorang pelayan miskin sepertinya.
Dalam kepolosan harapannya tentang masa depan, bahaya justru mengintai dari balik tikungan batu di depan.
BUAGHH!
"AGHGHHH!"
Sebuah tendangan keras dan tiba-tiba menghantam tulang rusuk Huo Li dari arah titik butanya.
Trak!
Trak!
Kekuatan hantaman itu membuat keseimbangannya hancur.
Kayu gelondongan di pundaknya terlepas, menggelinding dan hancur berantakan ke dasar jurang.
"Ukh..."
Huo Li terhuyung, napasnya tercekat seketika karena nyeri yang menusuk dada.
Belum sempat ia menyeimbangkan tubuh, embusan angin kencang menyambar pelipisnya. Mengandalkan insting bertarung yang terasah murni karena sering dipukuli, Huo Li menyilangkan kedua lengan untuk menangkis.
BUM!
"Ohhh, sekarang kau berani menangkis, ya? Dasar sampah!"
Suara melengking penuh ejekan itu merobek udara. Huo Li mendongak, menahan perih di lengannya. Di hadapannya berdiri Tuo Gu, murid luar bertubuh gempal yang dibalut pakaian mewah.
Di belakangnya, empat orang kaki tangan berdiri menyeringai, memblokir satu-satunya jalan menuju gerbang kediaman Tetua Bai.
"Ughh... Tuan Muda Tuo Gu..." Suara Huo Li terdengar getir dan memohon.
"Tolong, untuk hari ini saja, jangan ganggu aku. Ada hal penting yang harus aku selesaikan..."
"Memangnya kami peduli?" potong Tuo Gu dingin.
Tap.
Salah satu antek Tuo Gu melesat maju dengan kecepatan yang didorong energi spiritual. Tinjuannya mengarah tepat ke ulu hati Huo Li. Sadar dirinya kalah cepat, Huo Li mengeraskan otot perutnya, bersiap menerima rasa sakit.
Namun, itu hanyalah umpan.
Begitu fokus pertahanan Huo Li terpusat di perut, keempat pengikut Tuo Gu merangsek dari berbagai sisi. Tendangan dan pukulan mendarat bertubi-tubi tanpa ampun di punggung, wajah, dan kaki Huo Li.
BUAGHH!
BUAK!
"Ughhh!" Huo Li terjerembap ke atas tanah berbatu. Mulutnya memuntahkan seteguk darah segar yang menodai bebatuan.
Sambil meringkuk menahan organ dalamnya yang seolah remuk, ia mendongak dengan mata memerah. "Kenapa... kenapa kalian terus menyiksaku?!"
Tuo Gu melangkah maju, menatap Huo Li dengan tatapan jijik sebelum meludah ke tanah.
Cuih!
"Jaga wajahmu itu, sialan!" bentaknya, kilat cemburu memancar jelas dari matanya.
"Berani-beraninya pelayan sampah sepertimu menarik perhatian wanita-wanita di sekte ini. Wajahmu itu terlalu bagus untuk ukuran seonggok sampah! Kau tidak pantas hidup dengan wajah itu!"
Huo Li tertegun. Alasan dangkal dan konyol semacam itu yang membuatnya menderita selama ini? Padahal ia selalu menunduk dan menghindar setiap kali berpapasan dengan murid wanita.
Trang!
Krk...
Tuo Gu menginjak pedang usang peninggalan ayah Huo Li yang terlempar dari pinggangnya, mematahkannya menjadi dua bagian.
Melihat satu-satunya pusaka keluarganya hancur, kewarasan Huo Li terputus. Kemarahan yang bertahun-tahun terpendam meledak ruah.
"SIALAN KAU!"
Mengabaikan rusuknya yang mungkin sudah patah, Huo Li menerjang maju dengan sisa tenaga. Tangan kanannya melayangkan tinju putus asa yang membelah udara.
"Oh, si pelayan ini sudah berani menggigit?!" Tuo Gu mundur selangkah, matanya membelalak kaget bercampur murka.
"Tangkap dia! Ikat dan buat dia berharap dia tidak pernah dilahirkan!" perintah Tuo Gu kepada 4 pengikutnya.
"Hahaha! Baik, Kakak Gu!" teriak keempat pengikutnya serempak.
Jauh di atas tebing yang mengawasi lembah tersebut, berdiri seorang pria paruh baya berjubah putih bersih. Lambang pedang emas di dadanya menunjukkan otoritas mutlak.
Tetua Bai menatap datar ke bawah sana, menyaksikan dengan jelas bagaimana Huo Li dikeroyok, ditendang, dan diinjak-injak bagai binatang. Namun, tidak ada sedikit pun niat di matanya untuk menghentikan kekejaman itu.
Promosi menjadi murid luar? Itu hanyalah bualan kosong agar si pelayan yatim piatu mau bekerja keras membuat kandang ayam tanpa bayaran.
"Huh, perkelahian anak-anak," gumam Tetua Bai dingin.
"Jika kau bahkan tidak bisa bertahan dari hal sepele ini, kau memang tidak layak bernapas di sekte ini."
Ia membalikkan badan dan pergi, meninggalkan Huo Li sendirian di tangan para penyiksanya.
Beberapa saat kemudian, di ujung tebing yang menjorok langsung ke arah sungai pegunungan berarus deras, pemandangan berubah menjadi jauh lebih kejam.
Huo Li telah diikat kuat dengan tambang kasar, digantung terbalik dengan kepala menjuntai hanya beberapa jengkal dari tepi jurang. Mulutnya disumpal paksa dengan kain kotor.
"Uffff! Ufff!" Huo Li meronta, urat-urat di lehernya menonjol, tetapi ikatan itu terlalu kuat.
"Kikiki, lihat dia! Kau persis seperti babi guling yang siap dibakar!" ejek Wei Yu sambil menusuk-nusuk perut Huo Li dengan ranting.
Tuo Gu berjalan mendekat, menyeringai sadis melihat wajah Huo Li yang memerah pekat akibat aliran darah yang menumpuk di kepala.
"Buka celana kalian," perintah Tuo Gu santai.
"Dengan senang hati, Kakak Gu!" balas keemlat pengikutnya serempak.
Cuurrrr!
Tanpa belas kasihan, air seni yang pesing dan hangat disiramkan langsung ke wajah Huo Li. Cairan menjijikkan itu masuk ke mata, hidung, dan merembes ke kain penyumbat mulutnya.
‘BAJINGAAAAAN!’
Jeritan batin Huo Li menggelegar. Matanya melebar hingga pembuluh darahnya pecah, menatap mereka dengan kebencian absolut.
Trrkk... Trk...
Giginya bergemeretak hingga gusinya berdarah. Jika ia memiliki kekuatan, ia bersumpah akan mencabik-cabik daging dan meminum darah mereka detik ini juga!
Tawa kelima pemuda itu menggelegar, sangat menikmati kekuasaan mereka untuk menghancurkan martabat seseorang hingga tak tersisa.
Qiu Dong, salah satu antek bertubuh kekar, melangkah maju sambil memainkan belati.
"Kakak Tuo, biar aku yang menyelesaikannya."
Tuo Gu melambaikan tangan dengan bosan.
"Lakukan. Melihat wajahnya membuatku muak."
Qiu Dong menyeringai lebar. Dengan satu tebasan kilat, ia memotong tali tambang utama.
"Bersiaplah ke neraka... pelayan sampah!" ucap Qiu Dong terkekeh.
SRET!
Seketika, gravitasi menarik tubuh Huo Li ke bawah. Dengan kepala pusing yang luar biasa dan mata yang perih, pandangannya kabur. Hal terakhir yang terekam di matanya adalah siluet kelima bajingan itu yang berbalik pergi sambil tertawa lepas.
BYUUUUR!
Tubuh Huo Li menghantam air pegunungan sedingin es purba dengan sangat keras.
Dinginnya air langsung menusuk tulang, menyentak kesadarannya yang nyaris pudar. Dalam posisi terikat, ia terseret pusaran arus liar sungai berbatu.
Air es masuk paksa ke paru-parunya. Napasnya putus.
"Kuff!"
Di tengah kegelapan sungai, batas antara hidup dan mati menipis. Jiwa Huo Li menjerit menolak takdir ini.
'Sialan! Aku tidak mau mati seperti ini!'
'Aku tidak akan pernah memaafkan mereka!'
Saat kesadarannya perlahan tertelan kegelapan absolut sungai...
TRENGGG!
Sebuah resonansi aura yang teramat agung dan purba tiba-tiba membelah ruang di atas permukaan sungai.
Waktu membeku.
"...."
Derasnya arus air terhenti seketika, daun jatuh yang hendak menyentuh permukaan air tertahan saat itu juga.
Dari robekan dimensi itu, melangkah keluar seorang pria dengan pakaian kebesaran biru, merah, dan emas.
Sebuah selendang sutra pusaka melayang anggun di sekitar bahunya, dan di dahinya, sebuah mata ketiga berwarna biru jernih memancarkan otoritas mutlak atas alam semesta.
"Ketemu... Kaisar... dari... masa..." gumam pria itu santai.
Dengan satu jentikan jari, tubuh Huo Li yang tak sadarkan diri ditarik keluar dari pusaran air.
"Hmm..."
"Kita urus sisanya di tempat lain."
JRENGG!
Dalam kedipan mata, ruang melipat sendirinya.
Kedua sosok itu lenyap tanpa jejak, meninggalkan sungai yang kembali bergemuruh menabrak bebatuan, seolah keajaiban tadi tak pernah terjadi.
"Ughhh..."
Huo Li melenguh pelan. Kelopak matanya yang terasa seberat timah perlahan terbuka.
"Di mana ini?" ujarnya kebingungan.
Pada awalnya, hanya kegelapan pekat yang tertangkap oleh pandangannya. Namun, rasa dingin menusuk dari air sungai es yang sebelumnya mengoyak paru-parunya kini telah sirna.
Sebagai gantinya, kehangatan yang lembut dan menenangkan mengalir meresap ke setiap pori-pori kulitnya, menyembuhkan otot-ototnya yang robek dan 9 jalur meridian utamanya yang memar.
Huo Li memiringkan kepalanya dengan lemah. Di dekatnya, lidah api dari kayu bakar berderak memecah keheningan, menerangi dinding-dinding gua kecil yang lembap.
Di seberang api unggun, seorang pria misterius duduk bersila dengan santai. Siluetnya tampak biasa, namun jubah kebesarannya yang berwarna biru, merah, dan emas sama sekali tak tersentuh debu.
Menyadari napas Huo Li yang mulai teratur, pria itu menatapnya.
"Kau sudah sadar?" tanyanya, suaranya tenang namun memiliki gema yang aneh di telinga Huo Li.
Huo Li tersentak.
"Huh?!"
Jantungnya berdegup kencang saat menyadari kehadiran sosok asing ini. Mengingat kengerian saat ia tenggelam dengan tubuh terikat dan paru-paru dipenuhi air, pikirannya mulai melantur liar.
"Apakah..."
"Apakah Anda Dewa Kematian?" tanya Huo Li parau. Ia yakin dirinya telah mati, dan gua yang remang ini adalah gerbang menuju dunia bawah.
Pria itu terdiam sejenak sebelum sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman penuh wibawa. "Dewa Kematian?" Pria itu terkekeh pelan. "Haha... Kau lucu sekali. Dewa Kematian tidak setampan diriku."
Pria itu kemudian menatap Huo Li dengan pandangan menyelidik. Kedua mata biru jernihnya seolah mampu menelanjangi rahasia, membaca setiap memar di tubuh dan luka di jiwa remaja di depannya. "Lalu, siapa namamu?" tanyanya sekadar basa-basi.
Huo Li tidak langsung menjawab. Ingatan beberapa saat lalu, saat ia dipukuli, digantung terbalik, dikencingi, dan dihina oleh Tuo Gu serta antek-anteknya, berputar bagai pusaran berdarah di kepalanya.
Kret...
Kepalan tangannya perlahan mengerat di atas tanah berdebu.
'Aku... masih hidup?'
'Ini bukan dunia bawah? Ataupun neraka?''
Sentuhan kehangatan di tubuhnya menyadarkan Huo Li pada satu kenyataan mutlak: ia masih bernapas. Luka dalam yang menyiksanya dan bau pesing yang menjijikkan telah lenyap sepenuhnya tanpa bekas.
Orang asing ini tidak hanya menyelamatkannya dari ambang kematian, tetapi juga memulihkan tubuhnya hingga ke kondisi prima yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di dalam dadanya, rasa dendam yang seluas samudra kembali berkobar, membuat napasnya memburu.
"Hei, Bocah. Siapa namamu?" ulang pria misterius itu, kali ini dengan nada yang sedikit lebih dalam, menarik Huo Li dari lamunan gelapnya.
Huo Li tersentak sadar. Ia buru-buru bangkit dan bersujud rendah, menyentuhkan dahinya ke tanah dengan tulus.
"Nama saya... Huo Li."
"Paman? Saya harus memanggil Sang Penyelamat dengan sebutan apa?"
Pria itu tersenyum tipis yang misterius, matanya memancarkan kilau misterius yang tak terbaca. "Panggil saja aku... Penguasa Agung Sembilan Semesta." ujar Pria Misterius dengan senyuman penuh arti.
Mata Huo Li membelalak lebar. Rasa kagum bercampur ngeri seketika merayap di tulang punggungnya.
"Anda... kultivator agung?!" tanya Huo Li serius. Dalam benaknya, wilayah semesta adalah sesuatu yang baru di telinga-nya. Entah apa yang dimaksud paman tersebut, Huo Li mengartikannya sepintas bahwasanya semesta adalah langit.
'Apakah paman ini kultivator agung yang menguasai sebuah daratan suci melayang yang sering kudengar dari rumor itu?!'
Melihat ekspresi tegang Huo Li, pria itu langsung menepisnya dengan lambaian tangan santai. "Hahaha, aku hanya bercanda! Panggil aku seperti sebelumnya saja."
Mendengar itu, bahu Huo Li sedikit rileks. Ia mengulangi rasa terima kasihnya dengan sikap yang sangat formal. "Terima kasih, Paman!"
Pria Misterius itu hanya mengangguk pelan.
"...."
Suasana di dalam gua mendadak berubah hening.
Api unggun di antara mereka bergoyang tertiup angin yang tak terlihat, memantulkan bayangan panjang yang menari di dinding batu.
Pria itu memperbaiki posisi duduknya. Wajah nakalnya kini menguap, digantikan oleh keseriusan mutlak yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
"Bocah," panggil pria itu. "Apakah kau ingin merubah nasibmu?"
DEG!
Pertanyaan itu bergaung keras, seolah diucapkan langsung ke dalam jantung Huo Li.
'Merubah nasib?'
Kata-kata itu adalah impian terbesarnya sejak Nenek Hai tiada. Berhenti menjadi samsak hidup, menciptakan dantian, dan berhenti menjadi kasta terendah.
Huo Li memaksakan senyum getir, mencoba menutupi badai di dadanya. "Ahaha... Paman, mengapa Anda bertanya seperti itu? Seolah-olah Anda mengetahui segalanya tentang diriku..." Ia menjeda kalimatnya, lalu menatap api unggun dengan tekad yang mulai menyala.
Huo Li tidak bodoh. Pria di depannya ini pastinya bukan kultivator sembarangan. 'Paman ini bilang dia adalah Penguasa Agung Sembilan Semesta. Dia adalah kultivator agung.' batinnya mempertegas.
Huo Li terdiam agak lama. Dalam akhir pemikirannya yang dalam. Ini adalah tali keselamatan satu-satunya dalam hidupnya yang membusuk.
Pria misterius itu tidak mengganggu ketika Huo Li hanyut dalam lamunan panjangnya, ia hanya tersenyum tipis melihatnya.
"Aku... aku mau merubah nasibku, Paman!" tegas Huo Li.
Pria itu mengangguk pelan. Tatapan matanya menembus kedalaman jiwa Huo Li, melihat jalinan takdir dan garis waktu masa depan pemuda itu.
Dengan suara berat yang menggetarkan fondasi gua, pria itu kembali melontarkan pertanyaan: "Jika kau memang mau merubah nasibmu... Apakah kau memiliki keberanian untuk meruntuhkan langit di atasmu?"
Napas Huo Li tercekat. Ia menatap wajah Paman misterius ini dengan tidak percaya. "P-Paman... Paman pasti... bercanda, kan? Meruntuhkan langit... itu mustahil!" ujar Huo Li terbata-bata.
Bagi seorang pemuda yang bahkan belum memiliki dantian di Ranah Pembentukan Fondasi, langit adalah simbol kekuasaan absolut.
Mengapa langit harus diruntuhkan?
Dan siapa seseorang yang dapat melakukannya?
"Hmm... Kau benar," pria itu tersenyum tipis. Hal ini mengingatkannya pada memori masa lalu.
Melihat respons santai itu, ketakutan Huo Li sedikit mereda. "Tapi, Paman... sepertinya Paman adalah seorang kultivator yang sangat kuat..."
"Tentu saja," balas pria itu lugas. "Kau juga sangat kuat."
Mendengarnya, Huo Li mendengus jujur, menyadari kepolosannya.
"Paman, wajahmu tampak biasa saja ketika mengatakannya. Aku hanyalah seorang praktisi lemah... tapi, terima kasih atas pujiannya." Huo Li tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri.
"...." Pria itu tidak membalas.
Keheningan kembali merayap, hanya ditemani suara retakan kayu bakar.
Huo Li mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mengumpulkan seluruh sisa keberanian dalam hidupnya, ia langsung berlutut tegak dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Paman..." suara Huo Li bergetar menahan harap. "Bisakah aku menjadi... Murid Paman?"
Pria itu terdiam. Bukan karena terkejut, melainkan karena pria itu menyadari efek kupu-kupu: Jika ia mengiyakan permintaan itu sekarang, maka garis waktu dunia ini akan berbeda atau malah membuat garis waktu baru. Hal ini tentunya tidak ia inginkan.
"Tidak. Aku tidak bisa menjadi gurumu," ucap pria itu datar namun mutlak.
Jawaban itu menghujam ulu hati Huo Li. Kepalanya tetap tertunduk, namun matanya memejam erat.
'Benar saja...' batinnya getir. 'Paman ini hanyalah dewa penolong yang kebetulan lewat. Mengangkat seorang pelayan sampah menjadi murid? Itu hanya mimpiku.'
Huo Li mengambil keputusan pahit di dalam hatinya. Ia harus pergi meninggalkan Sekte Pedang Mendalam secepatnya. Ia harus mencari cara sendiri untuk menjadi kuat... setidaknya, cukup kuat agar wajahnya tidak lagi dikencingi oleh orang seperti Tuo Gu!
Sebelum kekecewaan Huo Li berubah menjadi keputusasaan, suara pria itu kembali terdengar.
"Tapi... Jika kau berjanji suatu saat nanti kau mampu meruntuhkan langit, kau akan kuangkat menjadi muridku."
Huo Li tertegun. Ia mendongak, otaknya bekerja keras mencerna teka-teki absurd itu. Apakah Paman ini serius? Ataukah ini sekadar cara halus untuk menolaknya selamanya?
"Kau tampaknya cukup bingung, ya," ujar pria itu melihat kerutan dalam di dahi Huo Li. "Terimalah ini."
SRET!
Sebuah lempengan hitam pekat berbahan logam tak dikenal dilemparkan dengan santai. Dengan refleks canggung, Huo Li menangkapnya.
Lempengan itu dipenuhi aksara kuno berlekuk rumit yang membuat matanya pusing. Teksturnya sangat dingin, kuno, dan anehnya, terasa memiliki bobot sebuah gunung raksasa yang ditekan ke dalam ukuran genggaman tangan.
"Paman, benda apa ini?" tanya Huo Li penasaran.
Seketika atmosfer di dalam gua mendadak runtuh. Tekanan udara anjlok drastis ke titik yang mencekik.
"Apa itu?" ujar Pria itu mengulangi. Nada suaranya berubah menjadi teramat agung dan purba, seakan-akan jika ia mengucapkan nama benda ini secara sembarangan... sesuatu akan murka dan menghancurkan lini masa waktu dunia ini.
Tangan pria itu terangkat perlahan. Sepasang mata birunya yang jernih tiba-tiba meledakkan cahaya seterang bintang fajar.
WUSH!
[Tatanan Surga! Dunia ini milikku! Ruang dan Waktu adalah Dao-ku! Menunduklah di bawah hukumku...]
Drashhh!!!
Saat itu juga, waktu dunia ini berhenti dalam sekejap dan sebuah Tatanan Surga tercipta melindungi pria tersebut dan Huo Li. Ruang berdiameter 10 meter mengisolasi mereka sepenuhnya dari dunia yang ruang dan waktunya telah berhenti total.
"...!"
'Ini... mengerikan!' batin Huo Li tersentak. Suara desau angin malam di luar gua lenyap seketika, tergantikan oleh kesunyian yang hampa. Insting bertahan hidup Huo Li menjerit; ia sadar paman ini sedang melakukan sesuatu yang berada diluar pemahamannya.
Pria itu menatap lempengan di tangan Huo Li lekat-lekat. "Lempengan yang kau pegang itu... berisi Teknik Kultivasi Dewa... [Penipu Langit]."
DTENGTENGGGG!
DRENGTENGGG!
Tepat setelah isi dari nama benda itu diucapkan, ruang di luar Tatanan Surga bergetar hebat. Suara guruh samar terdengar saling menyusul di langit malam yang tadinya cerah. Seolah ada sebuah Mata Kosmis tak kasat mata yang sedang murka karena tabunya ditantang.
GRENTENGTENG!
BRENGTENGTENG!
'Hmm... bahkan setelah kubekukan ruang dan waktu, kau masih bisa mengendus keberadaan klonku,' batin pria itu santai, menatap tembus ke arah langit-langit gua. Kemudian, ia kembali menatap Huo Li, menyudahi keheningan magis tersebut. 'Baiklah, hanya dengan klonku tidak akan cukup untuk bertahan dari amarahmu.'
Pria itu berdiri. "Bocah. Berjanjilah kepadaku. Runtuhkan langit dunia ini dan kau akan tahu alasan aku membantu mu." Ujarnya menegaskan melanjutkan, "Begitu kau meruntuhkan langit dunia ini, kau akan ku angkat menjadi muridku."
WUSH!
Bersamaan dengan itu, sebuah benda lain melayang ke pangkuan Huo Li. Sebuah kantong kecil berwarna emas yang disulam dengan benang bercahaya.
"Kantong itu bernama..., sebut saja kantong keberuntungan. Jagalah dengan baik, jangan sampai kau menghilangkannya. Jika itu sampai hilang... kau sendiri yang akan kesulitan nantinya." ucap pria itu dengan senyum tipis penuh arti.
Tatapannya perlahan melembut, namun kata-katanya setajam pisau bedah yang membedah kepribadian Huo Li yang masih tersembunyi. "Aku tidak menyarankanmu untuk membalas dendam dengan tergesa-gesa. Namun, Bocah, ingat pesanku ini..." Pria itu menatap lurus ke dalam jiwa pemuda itu. "Jika kau pada akhirnya berniat membalaskan dendammu... pastikan dendam itu tidak menelan kewarasanmu. Jadilah sekejam yang kau mau pada musuhmu, tapi jangan pernah menjadi iblis buta yang membantai mereka yang tak bersalah."
Zzt...
Pria di depan Huo Li tiba-tiba menghilang. Tidak ada gejolak energi, tidak ada distorsi udara, bahkan tidak ada embusan angin sedikit pun. Ia lenyap seolah eksistensinya terhapus dari realitas. Ruang di seberang api unggun mendadak kosong, menyisakan keheningan malam yang kembali mencekam.
Huo Li mematung. Matanya menatap kosong ke arah dinding gua yang lembap, tempat di mana pria misterius itu baru saja berdiri. Napasnya tertahan. Keberadaan sosok itu terasa begitu surealis, seolah-olah hanya ilusi manis yang diciptakan oleh benaknya yang sekarat di dasar sungai es.
"Ke mana Paman aneh itu pergi? Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih dengan layak," gumam Huo Li pelan. "Terimakasih, Paman." ujar Huo Li menangkupkan kedua tangannya hormat dengan sedikit kebingungan di dalam kepalanya. "Pesan yang Paman sampaikan. Akan kuingat dengan baik. Meruntuhkan langit... aku berjanji akan melakukannya, Paman."
Pandangannya kemudian turun, tertuju pada lempengan hitam pekat berbahan logam tak dikenal yang tergeletak di telapak tangannya. Benda itu sedingin es, namun memancarkan aura kuno yang menekan jiwa. Namun, tepat saat matanya terpaku pada aksara rumit di permukaannya, sebuah keanehan yang mengerikan merayap di dalam kepalanya.
Zrt...
Sesuatu... sebuah kekuatan tak kasat mata memasuki memorinya secara paksa, mengoyak ingatan yang baru saja terbentuk, lalu menghapus dan memutarbalikkan persepsinya tanpa ampun.
'Tunggu... Apa nama benda ini sebelumnya?' Huo Li memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat.
Sebuah ingatan baru, yang terasa sangat dipaksakan namun segera dilegalkan oleh hukum dunia, tertanam di dalam kepalanya. "Ahh... Aku ingat! Lempengan Dewa Surgawi," ucap Huo Li lirih. Tanpa secercah keraguan pun, ia langsung mempercayai ingatan baru tersebut.
Nama Penipu Langit yang diucapkan sang paman misterius beberapa saat lalu telah menguap sepenuhnya, terhapus oleh kehendak agung yang menolak tabu tersebut diingat oleh manusia fana.
.....
Sementara itu, di kejauhan yang tak terbayangkan... di luar batas zona realitas tempat hukum ruang, waktu, dan kehidupan hancur menjadi ketiadaan yang absolut.
Batas Hitam Semesta, Lautan Kekacauan Nomor Tujuh.
Pria bermata biru itu berjalan santai melintasi kehampaan. Jubah kebesarannya yang berwarna biru, merah, dan emas berkibar anggun meski tak ada angin yang berembus.
Tap. Tap.
Setiap langkah kakinya di atas ketiadaan memaksakan hukum-hukum baru yang menundukkan realitas di sekitarnya.
Sebuah senyum tipis penuh ironi terukir di wajahnya. "Dewa Surgawi? Itu sangat berlawanan dengan gelarmu sebelumnya... Namun, itu tidak buruk juga..." gumam pria itu dengan nada mengejek.
Ia menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh ke samping kanan melihat sosok pria berambut putih yang sedang tersegel dalam rantai pengekangan yang menguarkan energi kekacauan tidak terbendung sebelum akhirnya ketiga matanya, termasuk mata vertikal di dahinya bergetar pelan saat menatap sebuah eksistensi raksasa yang menaungi ruang hampa.
Itu adalah entitas abstrak, sebuah manifestasi kosmis yang ukurannya jauh melampaui ukuran sebuah alam semesta. Entitas itu memancarkan tekanan Dao Langit Absolut, menatap sang pria dengan kemurkaan tak bersuara yang mampu memusnahkan triliunan jiwa dalam satu kedipan.
"Sayangnya aku tidak bisa berlama-lama di sana... Bukan begitu, Kaisar Langit?" tantang pria itu, sama sekali tidak gentar menghadapi wujud murni dari kehendak Dao Langit Absolut.
Ia tahu, ingatan Huo Li telah dimanipulasi secara otomatis oleh Dao Langit Absolut. Kaisar Langit tidak akan pernah mengizinkan nama teknik yang mampu mengancam otoritasnya diingat oleh makhluk di bawahnya. Namun, sang pria tersenyum.
"Dao Langit Absolut boleh merubah namanya, tetapi esensi sejati dari teknik penentang dewa itu tidak akan pernah bisa diubah."
Entitas raksasa itu tetap diam, namun tekanannya semakin mencekik.
"Baiklah. Waktunya aku kembali, aku harus memurnikan Alam Astral Abadi, dengan begitu aku akan menguasai tepat sepuluh alam semesta, dan mempersiapkan 'hal itu'..." ujar pria itu penuh arti dengan suara yang bergema seperti lonceng penciptaan.
Tepat sebelum pria itu pergi, ia merasakan denyutan pada mata vertikal di dahinya, "Hmm... ada seorang manusia fana yang menginginkan dirinya kembali ke masa lalu menggunakan tujuh bola dewa naga?"
"Luar biasa. Bagaimana bisa tujuh bola dewa naga bisa ada di satu planet kecil di Alam Kuburan Para Peri Abadi? Kabulkan permintaannya, Shenlong. Tapi tidak ke tubuh aslinya."
Dari jarak miliaran tahun cahaya, Naga Hijau Raksasa mematuhi perintahnya. "Baik, Yang Mulia."
.....
Kembali ke dalam gua kecil yang remang-remang. Huo Li masih duduk bersila, mengusap permukaan Lempengan Dewa Surgawi dengan ibu jarinya.
"Bagaimana cara menggunakannya?" gumam remaja itu kebingungan. "Apakah aku perlu meneteskan darahku ke atas lempengan ini?"
Tepat saat pertanyaan itu terlintas, sebuah resonansi aneh terjadi.
Drrrt... Drrrt!
Lempengan hitam di tangannya bergetar hebat.
Cyuuuttt...
Benda itu tiba-tiba terlepas dari genggamannya, melayang di udara, dan meledakkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.
JLEB!
Tanpa memberi Huo Li kesempatan untuk menghindar, lempengan itu melesat secepat kilat dan menembus langsung ke bagian tengah dahinya!
"AGGGGGHHHHHH! ARGHHHHHHH!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!