Indonesia
NovelToon NovelToon

BERMAIN API DENGAN CINTA

BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 1_UMPAN 10 MILYAR

BERMAIN API DENGAN CINTA

BAB 1_UMPAN 10 MILYAR

Bagi Cinta, moralitas adalah kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang dengan isi rekening tebal. Di dunia yang serba pragmatis ini, moral tidak bisa digunakan untuk membayar sewa apartemen penthouse-nya di pusat kota, tidak bisa dipakai untuk melunasi tagihan perawatan kulit kelas atas, dan jelas tidak bisa membeli deretan tas desainer yang berjejer rapi di lemari pakaian khususnya.

Dunia adalah hutan belantara, dan dia menolak menjadi mangsa. Wajah cantiknya yang simetris, sepasang mata jeli yang pandai membaca riak emosi manusia, serta lekuk tubuh proporsional yang selalu dia rawat dengan ketat—itulah modal utamanya.

Cinta adalah seorang pemburu profesional. Pria-pria kaya yang bodoh dan gila hormat adalah mangsa empuk yang selalu berhasil dia kuras hartanya tanpa sisa.

Malam itu, Cinta memastikan penampilannya tanpa cela. Dia mengenakan silk slip dress berwarna hijau zamrud yang melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan siluet punggungnya yang terbuka hingga pinggang.

Potongan gaun itu berani namun tetap memancarkan kelas tinggi.

Di atas bahunya, tersampir sehelai blazer hitam berpotongan maskulin untuk meredam kesan terlalu sensual saat melangkah melewati lobi. Kakinya ditopang oleh stiletto Christian Louboutin dengan sol merah ikonik setinggi sebelas sentimeter, membuat setiap langkahnya di atas lantai marmer hotel bintang lima itu terdengar ritmis dan penuh percaya diri.

Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan bergelombang longgar, membingkai wajahnya yang dipulas riasan flawless dengan lipstik berwarna merah bata yang tegas. Dia tidak terlihat seperti seorang penipu; dia terlihat seperti seorang dewi yang siap menaklukkan malam.

Langkah kakinya membawa Cinta menuju area ruang VIP kafe hotel yang telah dipesan secara privat. Suasana di dalam ruangan itu begitu tenang, kontras dengan hiruk-pikuk kota Jakarta di luar dinding kaca besar. Di sudut ruangan, seorang wanita muda sudah duduk menunggunya.

"Sepuluh miliar," suara wanita itu memecah keheningan, bahkan sebelum Cinta sempat mendudukkan diri di kursi beludru di hadapannya.

Perempuan itu adalah Valen. Usianya baru dua puluh empat tahun, persis sebaya dengan Cinta. Namun, garis kehidupan mereka berbeda bak bumi dan langit. Valen terlahir dengan sendok emas di mulutnya, mewarisi seluruh kemegahan nama besar keluarganya.

Malam itu, Valen melipat kakinya anggun. Di balik kacamata hitam berbingkai besar yang menyembunyikan sebagian wajahnya, Valen memancarkan aura wanita kalangan elit yang mutlak.

Dengan gerakan jemari yang dihiasi cat kuku bernuansa nude, dia menggeser selembar cek bank swasta terkemuka ke atas meja marmer di antara mereka.

"Dua miliar sebagai uang muka yang bisa kamu cairkan besok pagi. Sisanya, delapan miliar lagi, akan langsung masuk ke rekeningmu begitu Maxim menandatangani surat cerai dan melepaskan saya secara resmi," lanjut Valen dengan nada suara yang sengaja ditekan, seolah takut dinding-dinding ruangan ini memiliki telinga.

Cinta tidak langsung menjawab. Dia melepas blazer hitamnya perlahan, menyampirkannya di sandaran kursi, lalu menatap angka nol yang berjejer panjang di atas kertas berharga tersebut. Jantungnya berdesir gembira, memompa adrenalin yang membuat darahnya berdesir hangat. Ini adalah angka terbesar sepanjang kariernya di dunia hitam ini.

Biasanya, dia harus menyusun skenario rumit selama berbulan-bulan hanya untuk menguras beberapa ratus juta dari pengusaha paruh baya yang haus belaian. Kali ini, sepuluh miliar disodorkan begitu saja di atas meja.

Cinta mengangkat cangkir teh kamomil yang baru saja disajikan oleh pelayan. Dia menyesapnya perlahan, mempertahankan gerakan elegan yang sudah dia latih bertahun-tahun di depan cermin. Dia harus tetap terlihat tenang, tidak boleh menunjukkan katamakan yang menjalar di kepalanya.

"Hanya membuat Tuan Maxim setuju untuk bercerai?" Cinta meletakkan kembali cangkirnya dengan denting halus yang memutus kesunyian.

"Kudengar suamimu adalah penguasa tunggal bisnis properti di negeri ini. Gurita bisnisnya menggenggam lini-lini paling basah, dan kekayaannya tidak berseri. Di luar sana, ribuan wanita mengantre hanya untuk menatap matanya. Mengapa kamu begitu putus asa ingin bercerai dari pria yang dianggap sempurna oleh seluruh negeri ini?"

Valen terdiam sesaat. Tangan kirinya bergerak menyentuh kacamata hitamnya, lalu perlahan melepasnya. Begitu kacamata itu tersingkir, Cinta menahan napas sejenak.

Di balik riasan tebal dan concealer mahal yang menutupi kulitnya, Cinta bisa melihat binar mata Valen yang redup, layu, dan dipenuhi oleh trauma yang mendalam.

Kantung matanya hitam, dan ada ketakutan konstan yang tersirat setiap kali wanita kaya itu berkedip.

"Dua tahun, Cinta. Dua tahun aku terjebak dalam pernikahan bisnis ini, dan setiap detiknya terasa seperti berjalan di atas bara api neraka," suara Valen mulai bergetar, tangannya yang diletakkan di atas meja tampak gemetar sebelum akhirnya dia kepalkan kuat-kuat untuk menahan tangis yang hampir pecah.

"Kekayaan Maxim tidak ada artinya bagiku. Uang melimpah itu tidak bisa membeli kewarasanku. Dia pria posesif yang gila kendali. Aku tidak punya privasi sama sekali. Seluruh ponselku disadap, setiap langkahku dikawal oleh pengawal pribadinya yang sebenarnya adalah mata-mata. Aku terus diawasi seolah-olah aku adalah seorang tawanan kriminal di rumahku sendiri."

Valen mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Cinta dengan tatapan memohon yang amat sangat, seolah Cinta adalah satu-satunya pelampung di tengah badai laut yang siap menenggelamkannya.

"Jika aku meminta cerai secara terang-terangan atau melarikan diri, dia tidak akan ragu untuk menggerakkan seluruh kekuasaannya demi menghancurkan bisnis keluargaku hingga rata dengan tanah. Dia tipe pria yang menganggap penolakan sebagai penghinaan. Dia akan menghancurkanku hanya untuk memberi pelajaran bahwa tidak ada yang boleh pergi darinya," bisik Valen, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Aku tidak peduli lagi soal status, soal harta gono-gini, atau hubungan bisnis keluarga kami. Aku hanya ingin bebas. Aku ingin keluar dari rumah itu hidup-hidup. Dan satu-satunya cara adalah membuat Maxim bosan dan berpaling secara sukarela. Buat dia terobsesi kepadamu, Cinta. Alihkan seluruh kegilaan dan rasa kepemilikannya dariku, agar dia sendiri yang mendepakku dari hidupnya karena menemukan mainan baru."

Valen kemudian membuka tas Hermes miliknya, mengeluarkan sebuah dokumen tipis, dan meletakkannya di samping cek. Di halaman depan dokumen itu, terdapat sebuah foto berukuran besar.

Cinta melirik foto tersebut. Pria di dalam foto itu adalah Maxim. Di usianya yang baru dua puluh enam tahun, dia sudah memiliki segalanya. Wajahnya luar biasa tampan dengan struktur simetris, rahangnya tegas seolah dipahat dari batu pualam, dan sepasang mata hitamnya memancarkan aura dominan yang sangat dingin, tajam, dan menusuk.

Bahkan hanya melalui selembar foto mati, aura bahaya dan intimidasi dari pria itu terasa pekat hingga membuat bulu kuduk Cinta meremang sesaat. Pria ini jelas bukan tipe pria hidung belang biasa yang bisa ditaklukkan hanya dengan kedipan mata atau belahan dada rendah. Ada kegelapan yang dalam di balik tatapan itu.

Namun, rasa jemawa dan ketamakan di dalam hati Cinta jauh lebih besar daripada sinyal bahaya yang dikirimkan oleh otaknya. Selama ini, dia belum pernah gagal. Pria berkuasa, pejabat korup, hingga pengusaha dingin, semuanya berakhir berlutut di bawah kakinya jika diberikan umpan psikologis yang tepat.

Di mata Cinta, pria sekuat dan sekejam apa pun pasti memiliki celah kelemahan tersembunyi yang bisa dieksploitasi. Dan sepuluh miliar terlalu indah untuk dilewatkan hanya karena rasa takut yang belum terbukti.

Cinta menarik lembaran cek tersebut dengan ujung jemarinya yang lentik, melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam tas jinjing pesta kecilnya yang bermerek Chanel.

Dia kemudian menatap Valen, menyunggingkan senyum kemenangan terbaiknya—sebuah senyuman penuh pesona yang biasa dia gunakan untuk mengunci mangsanya.

"Dalam tiga bulan, saya akan menaklukan Tuan Maxim dan membuat dia menceraikan Anda," ujar Cinta dengan nada suara yang penuh keyakinan mutlak.

Valen mengembuskan napas panjang, tampak seolah sebuah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari bahunya. Namun, jika Cinta lebih jeli malam itu, dia akan menyadari ada kilat rasa bersalah sekaligus kelegaan yang aneh di mata Valen.

Cinta bangkit berdiri, mengenakan kembali blazer-nya, lalu melangkah keluar dari ruang VIP dengan kepala tegak. Di atas sepatu stiletto sebelas sentimeternya, dia merasa berada di puncak dunia.

Dia mengira malam ini adalah awal dari keberuntungan dan kesuksesan finansial terbesarnya sebagai seorang penipu ulung. Dia berjalan menyusuri koridor hotel yang mewah dengan senyum yang terus mengembang, membayangkan apa saja yang bisa dia beli dengan uang sepuluh miliar rupiah.

...----------------...

Cinta sama sekali tidak pernah tahu, bahwa uang sepuluh miliar itu bukanlah upah untuk seorang pemburu yang hebat. Uang itu adalah harga tebusan yang dibayar Valen untuk membeli kebebasannya sendiri, dengan cara menumbalkan Cinta ke dalam sebuah sangkar emas yang tak memiliki pintu keluar. Sebuah sangkar milik pria posesif berbahaya, yang kekuasaannya bisa melumat habis seluruh hidup Cinta dalam sekejap mata tanpa meninggalkan jejak. Permainan api telah dinyalakan, dan Cinta melangkah masuk ke dalamnya dengan senyuman lebar.

_BERMAIN API DENGAN CINTA_ BAB 2 _UMPAN YANG SALAH SASARAN

_BERMAIN API DENGAN CINTA_

BAB 2 _UMPAN YANG SALAH SASARAN

Dentum bas dari musik techno malam itu seolah bergetar selaras dengan detak jantung Cinta yang dipenuhi euforia. Di salah satu sofa VIP klub malam paling eksklusif di Jakarta Selatan, Cinta tertawa lepas bersama tiga orang temannya. Gelas-gelas kristal berisi sampanye mahal berdenting berkali-kali di bawah tembakan lampu neon berwarna ungu dan merah kebiruan. Malam ini adalah malam perayaan. Di dalam tas Chanel-nya, cek senilai dua miliar rupiah sudah aman tersimpan. Langkah pertamanya menuju angka sepuluh miliar telah terbuka lebar. Bagi Cinta, menaklukkan pria hanyalah soal waktu dan teknik, dan dia merasa malam ini dialah ratu di tempat ini.

Efek alkohol mulai mengambil alih kesadaran Cinta setelah gelas keempatnya tandas. Kepalanya terasa sedikit berputar, namun keberaniannya justru meningkat berkali-kali lipat. Pandangannya yang agak kabur mulai mengedar ke seluruh penjuru klub, mencari hiburan visual. Saat itulah, matanya menangkap siluet seorang pria di sudut bar yang temaram.

Pria itu duduk sendirian, memegang gelas whiskey dengan jemari yang kokoh. Potret wajahnya tertutup sebagian oleh bayangan, namun struktur rahangnya yang tegas dan bahunya yang lebar langsung menarik perhatian Cinta. Pria itu mengenakan kemeja hitam premium dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan sedikit tulang selangkanya, dilapisi oleh setelan jas yang tampak sangat mahal. Di mata Cinta yang sudah terpengaruh alkohol, kombinasi ketampanan yang luar biasa, pakaian necis, dan fakta bahwa pria itu duduk sendirian di klub mewah ini hanya mengarah pada satu kesimpulan: dia adalah seorang pria penghibur kelas atas atau gigolo baru yang sedang menunggu pelanggan kaya.

"Tunggu sebentar, ya," bisik Cinta pada teman-temannya dengan senyum nakal yang tersungging di bibir.

Dengan langkah yang sedikit limbung namun diusahakan tetap anggun di atas stiletto Louboutin-nya, Cinta berjalan menghampiri meja bar tersebut. Efek alkohol menghapus seluruh kewaspadaan yang biasanya dia miliki sebagai penipu ulung. Tanpa permisi, Cinta langsung memutari kursi pria itu, dan dengan gerakan berani yang spontan, dia mendudukkan dirinya tepat di atas pangkuan pria asing tersebut.

Pria itu tidak bergerak menjauh. Tubuhnya terasa kokoh seperti dinding batu, memancarkan aroma maskulin yang mahal—perpaduan antara wangi kayu cendana, tembakau premium, dan wangi maskulin yang pekat. Cinta menatap wajah pria itu dari jarak dekat. Kulitnya bersih, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang mata hitamnya menatap Cinta dengan tatapan yang sangat dalam, dingin, sekaligus menyimpan kilat berbahaya yang tidak disadari oleh Cinta yang sedang mabuk.

Jemari lentik Cinta yang berhias cat kuku merah bata bergerak maju, meraih ujung dasi sutra hitam yang melingkar di leher pria itu, lalu menariknya sedikit agar wajah mereka semakin merapat.

"Adik tampan... kamu baru ya di sini? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya," bisik Cinta tepat di depan bibir pria itu, suaranya sengaja dibuat mendayu dengan napas yang beraroma sampanye. "Bagaimana kalau malam ini kamu temani Kakak? Kakak baru saja dapat rezeki nomplok. Aku akan memberimu tip besar kalau kamu bisa membuat Kakak senang malam ini."

Pria itu tidak menjawab. Dia hanya menaikkan satu alisnya, sementara sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang sarat akan intrik. Pria itu sebenarnya adalah Maxim. Dia baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis tertutup di ruang privat klub tersebut dan sedang beristirahat sejenak di bar.

Maxim tentu saja langsung mengenali wanita berbaju hijau zamrud ini. Pengawalnya sudah melaporkan pertemuan istrinya, Valen, dengan seorang penipu wanita bernama Cinta beberapa jam yang lalu.

Maxim tahu persis apa misi wanita ini. Namun, dia tidak menyangka bahwa sang pemburu akan mengantarkan dirinya sendiri langsung ke dalam pelukannya dengan cara sekonyol ini.

Sebelum Maxim bersuara, Cinta sudah kehilangan kesabaran. Digerakkan oleh keberanian akibat mabuk, Cinta menarik dasi hitam itu lebih kuat, memperpendek jarak yang tersisa, dan langsung menempelkan bibirnya ke atas bibir Maxim.

Awalnya, Maxim terkejut dengan serangan mendadak itu. Tubuhnya sempat menegang selama satu detik. Namun, sedetik kemudian, seringai tipis muncul di benaknya. Jika wanita ini ingin bermain api, maka Maxim akan menyalakan apinya lebih besar. Maxim tidak melawan. Alih-alih mendorong Cinta menjauh, tangan kekarnya yang besar justru bergerak cepat mencengkeram pinggang ramping Cinta, menguncinya agar tidak bisa bergerak.

Maxim membalas ciuman Cinta. Dan tidak seperti ciuman main-main yang awalnya dimulai oleh Cinta, ciuman Maxim jauh lebih dalam, agresif, dan menuntut. Pria itu mendominasi total, menyesap bibir Cinta seolah-olah sedang mengklaim apa yang sudah menjadi hak miliknya, membuat kesadaran Cinta semakin melayang tinggi sebelum akhirnya segalanya menjadi gelap.

Keesokan paginya, sinar matahari yang menusuk celah tirai jendela kamar hotel mewah membuat kelopak mata Cinta terbuka dengan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya. Dia melenguh pelan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang berserakan.

Namun, begitu dia menyingkap selimut putih beludru yang menutupi tubuhnya, jantung Cinta seolah berhenti berdetak. Dia sama sekali tidak mengenakan busana. Dengan panik, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar suite yang luar biasa luas tersebut. Di atas lantai karpet rajut yang mahal, gaun sutra hijau zamrudnya tergeletak mengenaskan, berceceran bersama pakaian dalam dan blazer-nya.

Pada saat yang sama, telinganya menangkap suara gemericik air dari shower yang menyala di balik pintu kaca kamar mandi yang buram. Seseorang sedang mandi di sana.

Ingatan malam lalu berputar cepat di kepalanya seperti potongan film rusak. Bar, pria tampan, gigolo, pangkuan, dasi, dan... ciuman panas yang memabukkan. Sial! Cinta merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa seorang penipu profesional sepertinya bisa hilang kendali dan tidur dengan seorang pria penghibur di malam pertama kontrak besarnya berjalan? Ini benar-benar merusak reputasinya.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Cinta melompat dari tempat tidur. Mengabaikan rasa pening yang mendera kepalanya, dia bergerak secepat kilat memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia memakai kembali pakaian dalam dan gaun hijaunya dengan tangan yang sedikit gemetar karena panik. Beruntung, tas Chanel miliknya tergeletak aman di atas meja rias, lengkap dengan cek dua miliar di dalamnya.

Cinta membuka dompetnya dengan tergesa-gesa. Dia menarik beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dari sana. Totalnya ada dua juta rupiah. Dengan napas yang memburu, dia meletakkan seonggok uang tunai tersebut di atas meja nakas tepat di samping tempat tidur, di bawah sebuah vas bunga kecil.

"Ini bayarannya. Kurasa ini sudah lebih dari cukup untuk ukuran gigolo baru," gumam Cinta berbisik pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya bahwa dia masih memegang kendali atas situasi ini.

Sambil menenteng sepatu stiletto Louboutin-nya di tangan agar tidak menimbulkan suara langkah kaki, Cinta mengendap-endap menuju pintu keluar kamar suite tersebut. Dia membuka pintu dengan hati-hati, lalu menyelinap keluar dan pergi begitu saja, menyusuri koridor hotel dengan terburu-buru. Cinta mengembuskan napas lega begitu berhasil masuk ke dalam lift, merasa telah berhasil meloloskan diri dari kesalahan semalam.

Dia sama sekali tidak menyadari, bahwa di dalam kamar mandi, suara shower baru saja mati. Maxim melangkah keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya, membiarkan tetesan air membasahi dada bidangnya. Tatapan matanya langsung tertuju pada kasur yang sudah kosong, lalu beralih pada tumpukan uang dua juta rupiah yang ditinggalkan di atas meja nakas.

Maxim mengambil uang tersebut, menatapnya sesaat, lalu terkekeh rendah—sebuah kekehan dingin yang akan membuat siapa pun yang mendengarnya merinding. Wanita itu benar-benar mengira dia bisa pergi begitu saja setelah menyalakan obsesi di dalam diri seorang Maxim.

"Dua juta?" Maxim menggumamkan kata itu dengan nada geli, melemparkan uang itu kembali ke meja. "Mari kita lihat, seberapa mahal harga yang harus kamu bayar untuk keluar dari sangkarku nanti, Cinta."

BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 3_ JEJAK MASA LALU YANG TERLUPA

BERMAIN API DENGAN CINTA

BAB 3_ JEJAK MASA LALU YANG TERLUPA

Keesokan harinya, efek alkohol di kepala Cinta sudah sepenuhnya hilang, menyisakan tekad bulat untuk memulai misi utamanya. Karena malam itu dia terlalu mabuk dan lampu klub sangat temaram, ingatan tentang wajah pria yang dia sangka gigolo itu benar-benar terhapus bersih dari otaknya.

Cinta menganggap insiden semalam sebagai angin lalu yang tidak penting. Fokus utamanya sekarang hanya satu: mendekati dan menaklukkan Tuan Maxim, suami Nyonya Valen, demi mendapatkan delapan miliar rupiah sisanya.

Berbekal dokumen palsu dengan kualifikasi mumpuni yang biasa dia gunakan untuk mengelabui target, Cinta melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit milik Kencana Property Group. Hari ini dia mendaftar sebagai sekretaris pribadi sang CEO.

Penampilannya beralih dari gaun malam seksi menjadi setelan profesional yang tetap memikat: blazer hitam dengan potongan pas badan, rok pensil yang mempertegas lekuk pinggulnya, serta kemeja putih dengan dua kancing teratas yang sengaja dibiarkan terbuka, memberikan kesan elegan yang menawan.

Setelah melewati beberapa tahap penyaringan cepat—di mana para staf personalia tampak anehnya langsung meloloskannya tanpa banyak bertanya—Cinta akhirnya diantar menuju lantai teratas. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat pintu ruangan CEO yang megah itu terbuka.

Di balik meja eksekutif berbahan kayu mahoni yang luas, seorang pria sedang duduk membelakanginya, menatap pemandangan kota Jakarta dari dinding kaca besar.

"Selamat pagi, Tuan Maxim. Saya Cinta, pelamar untuk posisi sekretaris pribadi Anda," ucap Cinta dengan suara yang paling manis, sopan, dan profesional yang bisa dia tiru.

Kursi besar itu berputar perlahan. Ketika wajah sang CEO sepenuhnya menghadap ke arahnya, Cinta sedikit terpaku dalam hati. Pria di hadapannya luar biasa tampan. Sepasang mata hitam yang tajam, rahang kokoh seolah dipahat, dan aura dominan yang sangat dingin.

Cinta tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya. Jadi ini Tuan Maxim. Sempurna. Pria sepertimu adalah makanan empukku. Cinta sama sekali tidak menyadari bahwa pria berkuasa di hadapannya ini adalah pria yang dia kira "gigolo" yang dia tiduri semalam dan dia tinggali uang dua juta rupiah.

Namun, ada satu hal yang membuat Cinta sedikit heran. Tatapan mata Maxim padanya terasa sangat intens, tidak seperti tatapan seorang CEO yang baru pertama kali melihat pelamar asing. Ada riak emosi yang tertahan di balik mata hitam itu.

Maxim menumpukan kedua tangannya di atas meja, menatap Cinta dengan seringai tipis yang misterius. Di bawah meja, di dalam laci pribadinya, Maxim sengaja menyimpan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu yang ditinggalkan Cinta di hotel semalam.

Dia tahu wanita di hadapannya ini tidak mengenali wajahnya karena mabuk. Dan kenyataan itu, entah mengapa, menggores harga dirinya.

"Kamu memiliki latar belakang yang sangat mengesankan, Nona Cinta," suara Maxim terdengar berat dan dalam, membuat bulu kuduk Cinta meremang tanpa alasan. "Tapi katakan padaku... apakah kamu tipe orang yang mudah melupakan sesuatu? Atau seseorang?"

Cinta mengerutkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan yang melenceng dari konteks wawancara kerja ini. Namun dia tetap menjaga senyum manisnya. "Saya memiliki ingatan yang sangat tajam untuk hal-hal yang penting, Tuan Maxim. Terutama untuk pekerjaan saya."

Maxim terkekeh rendah, namun kekehan itu terdengar getir di telinga pria itu sendiri. Hal-hal yang penting, batin Maxim mengejek. Delapan tahun yang lalu, di sebuah SMA swasta elit, mereka adalah teman satu kelas. Dulu, Maxim hanyalah remaja pendiam, pengamat dari sudut kelas yang selalu memperhatikan Cinta dari kejauhan.

Sejak SMA, Cinta sudah menjadi pusat perhatian karena kecantikannya, namun dia juga terkenal dengan reputasinya sebagai wanita materialistis yang suka memanfaatkan pria kaya. Cinta kerap bergonta-ganti pacar, mendekati anak-anak dari keluarga kaya hanya untuk menguras uang mereka, lalu mendepak mereka begitu saja. Semua orang tahu tabiat Cinta, tapi pesonanya terlalu mematikan. Dan Maxim, mencintai wanita manipulatif itu dalam diam.

Maxim mengingat satu momen yang paling membekas. Hari itu, Cinta disudutkan oleh sekelompok siswi di toilet wanita karena dituduh merebut pacar ketua geng mereka.

Mereka menyiram tubuh Cinta dengan seember air kotor. Ketika geng itu pergi dan meninggalkan Cinta yang basah kuyup di lantai toilet, Maxim adalah orang pertama yang masuk ke sana. Tanpa suara, Maxim melepas jaket sekolahnya dan menyampirkannya ke bahu Cinta untuk melindunginya dari dingin dan rasa malu.

Namun saat itu, Cinta yang penuh harga diri tinggi hanya menyambar jaket tersebut tanpa sudi menatap wajah siswa pendiam yang menolongnya. Cinta pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Dia sama sekali tidak pernah mengingat wajah atau nama pria yang menolongnya hari itu.

Dan malam semalam, wanita ini kembali mengulanginya. Dia tidur di pelukannya, lalu mengira dirinya seorang gigolo murahan dan pergi begitu saja. Sadar bahwa Cinta sama sekali tidak mengingatnya—baik sebagai teman SMA maupun pria semalam—cukup melukai harga diri Maxim yang sekarang sudah menjadi pria paling berkuasa.

"Jika kamu mau uang... aku akan memberikannya, Nona Cinta. Jauh lebih banyak dari apa yang bisa kamu bayangkan," gumam Maxim pelan.

Suara itu sangat rendah, namun dalam keheningan ruangan yang luas tersebut, kalimat itu masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Cinta. Cinta mengerutkan alisnya samar. Jantungnya sempat berdesir aneh.

Kenapa tiba-tiba pria ini membahas tentang uang di tengah wawancara kerja profesional? pikir Cinta kebingungan.

Namun, karena nada suara Maxim sangat pelan, Cinta segera menepis pikiran buruknya. Dia mengira dirinya mungkin hanya salah dengar akibat sisa pening malam sebelumnya.

Sebelum Cinta sempat menganalisis lebih jauh, Maxim kembali bersuara dengan nada perintah yang mutlak dan menggelegar.

"Kamu melamar sebagai sekretarisku? Diterima. Kamu bisa mulai bekerja detik ini juga," ujar Maxim dengan seringai dominan yang mengerikan. "Mari kita lihat, seberapa baik kamu bisa 'melayani' semua kebutuhan pekerjaan saya, Nona Cinta."

Cinta menyunggingkan senyum kemenangan terbaiknya, mengunci rapat kebingungannya tadi. Dia mengira umpan pertamanya langsung berhasil tanpa tahu bahwa dialah yang sebenarnya sedang berjalan masuk ke dalam jebakan singa.

Permainan baru saja dimulai, dan Cinta tidak tahu bahwa target yang ingin dia taklukkan adalah iblis masa lalu yang siap mengurungnya selamanya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!