Membasahi jaket usangnya, rintik air malam itu turun perlahan. Kenzo berdiri mematung di pinggir trotoar.
Gemilang kota metropolitan malam ini tertutup awan hitam pekat. Di hadapan pria itu, lampu neon dari gedung pencakar langit berpadu dengan layar iklan raksasa. Memancarkan gemerlap yang seolah menertawakan ketidakberdayaan ia.
Siska, wanita yang berdiri di depannya, menatap dengan pandangan yang tidak lagi sama. Dingin. Kosong. Nyaris tanpa penyesalan.
"Kamu harus mengerti, Ken," tutur Siska, suaranya terdengar datar. "Kita sudah bukan anak sekolahan lagi. Pikirkan saja. Kamu tidak punya apa-apa."
Dia merapikan rambutnya yang sedikit basah karena rintik hujan. Tatapannya terarah ke seberang jalan, seolah enggan melihat wajah Kenzo lebih lama lagi.
"Tidak punya uang, tidak punya koneksi ... bahkan kamu tidak punya nama keluarga," lanjut Siska.
Kenzo hanya terdiam. Menatap mantan kekasihnya itu dengan dada yang terasa sesak oleh rasa tidak berdaya yang begitu nyata. Wanita yang selama ini menemani dirinya di masa-masa sulit, kini bersiap melangkah pergi demi kehidupan yang lebih menjanjikan.
Sebuah mobil hitam mewah menepi tepat di seberang jalan. Kaca mobil itu turun setengah, menampilkan sosok pria dengan setelan mahal.
Pria di dalam mobil itu tersenyum meremehkan. Sebuah senyuman tajam yang langsung menegaskan jurang pemisah di antara mereka.
Dia memiliki segala yang tidak dimiliki Kenzo. Kekayaan, masa depan yang mapan, dan sebuah marga besar yang sangat dihormati di kota ini.
Siska melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya begitu mantap, seolah setiap jengkal jarak yang ia buat adalah pembebasan dari masa lalu yang suram. Pintu mobil tertutup dengan bunyi pelan yang solid.
Melesat pergi dengan cepat, kendaraan mewah itu meninggalkan cipratan air genangan. Membasahi sepatu kets Kenzo yang sudah mulai berlubang di bagian depannya.
Dingin merayap naik dari ujung kaki hingga ke kepalanya.
Dia melangkah pergi tanpa arah tujuan yang pasti. Menyusuri trotoar jalanan yang mulai sepi dari pejalan kaki lainnya.
Nama keluarga. Di kota metropolitan ini, nama di belakang namamu menentukan seluruh jalan hidupmu.
Mereka yang lahir dengan marga besar menguasai korporasi, hukum, hingga institusi penting.
Sementara dia? Dia hanya Kenzo. Tanpa embel-embel, tanpa sejarah, tanpa nama belakang yang bisa dibanggakan.
Seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh panti asuhan kecil di sudut kota. Memulai hidup dengan tangan kosong, dan dipaksa menerima kenyataan bahwa ia mungkin akan berakhir dengan tangan kosong pula.
Langkahnya membawa ia melewati sebuah gang sempit yang diapit oleh dua gedung komersial tinggi.
Kota ini selalu sibuk. Orang-orang berlalu-lalang dengan payung dan ponsel di tangan masing-masing, tenggelam dalam urusan pribadi mereka yang tiada habisnya.
Mereka mengabaikan apa pun yang tidak menghasilkan keuntungan finansial bagi mereka.
Namun, dari sudut matanya yang lelah, Kenzo menangkap sesuatu yang ganjil di ujung gang itu.
Langkahnya terhenti seketika. Matanya melebar, menatap ke arah kegelapan gang yang temaram.
Dua sosok pria berdiri berhadapan di sana. Salah satu pria yang mengenakan jas rapi tampak mengangkat pria lainnya hanya dengan menggunakan satu tangan saja.
Cengkeraman tangannya berada di leher korban. Ia mengangkat tubuh seberat puluhan kilogram itu ke udara seolah hanya mengangkat sebuah boneka kain tanpa bobot.
Tidak ada yang normal dari pemandangan mengerikan itu. Udara di sekitar pria berjas itu tampak beriak lambat, membiaskan cahaya lampu jalan dengan cara yang tidak masuk akal.
Kenzo menahan napasnya dalam-dalam. Jantungnya mulai berdegup kencang, memompa ketakutan yang hebat ke seluruh tubuhnya.
Anehnya, seseorang dengan payung biru berjalan santai melewati depan gang itu tanpa menoleh sedikit pun.
Seolah kejadian brutal di depan mata tersebut ditutupi oleh sebuah tabir pelindung yang tidak kasat mata bagi orang awam.
'Dunia macam apa yang sebenarnya kutinggali ini?' batin Kenzo, keringat dingin mulai bercampur dengan sisa rintik hujan di pelipisnya.
Sebelum pria berjas itu sempat menoleh ke arahnya, Kenzo segera menundukkan kepala. Ia mempercepat langkah kakinya, berjalan secepat mungkin meninggalkan area gang tersebut.
Naluri bertahannya berteriak kencang, menyuruhnya lari sejauh mungkin dari bahaya misterius itu.
Dia menyadari ada sesuatu yang jauh lebih gelap bersembunyi di balik wajah modern kota metropolitan ini. Sebuah hierarki kekuasaan mutlak yang bahkan tidak pernah ia bayangkan dalam mimpi terburuknya.
Setengah jam kemudian, Kenzo akhirnya tiba di kamar sewanya yang sangat sempit. Udara pengap dan bau lembap langsung menyambutnya begitu pintu kayu usang itu dibuka.
Lampu neon di langit-langit kamar berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala dengan stabil, memancarkan cahaya putih yang agak redup.
Sambil menghela napas panjang, ia melepaskan jaketnya yang basah kuyup akibat rintik hujan malam ini. Melempar benda basah itu ke sudut ruangan dengan gerakan lesu.
Dia menjatuhkan diri di atas kasur tipis yang langsung berderit nyaring, menahan berat tubuhnya yang terasa sangat lelah lahir dan batin.
Tatapan Kenzo kosong, mengarah lurus pada langit-langit kamar yang dipenuhi noda rembesan air hujan yang sudah menguning.
Perasaan tidak berdaya yang luar biasa merayap naik, terasa begitu mencekik dadanya hingga ia sulit untuk bernapas dengan lega.
Dicampakkan begitu saja karena hierarki sosial yang kejam, lalu baru saja menyaksikan betapa kecilnya ia di hadapan monster mengerikan yang bersembunyi dalam wujud manusia.
Semua kehinaan itu menumpuk dalam satu malam yang sama.
"Apakah aku memang ditakdirkan berada di dasar dunia ini selamanya?" bisiknya pada kesunyian kamar yang dingin.
Tentu saja, tidak ada yang menjawab pertanyaan putus asa itu. Hanya suara detak jam dinding usang yang terus berjalan menemani kesendiriannya.
Ia memejamkan mata dengan perlahan. Berniat menyerah pada rasa lelah yang luar biasa hebat, membiarkan kegelapan malam membawanya pergi sejenak dari kenyataan hidup yang pahit.
Namun, tepat ketika kelopak matanya tertutup sempurna ...
Sebuah suara dentingan mekanis yang sangat tajam dan jernih bergema langsung di dalam kepalanya, memecah kesunyian malam.
[DING!]
Kenzo tersentak hebat. Kelopak matanya terbuka lebar seketika.
Ruangan kamarnya yang semula remang-remang mendadak disinari oleh cahaya emas yang sangat terang benderang. Cahaya menyilaukan itu jelas tidak berasal dari lampu neon yang berkedip di atasnya.
Melayang tepat di depan wajahnya, sebuah layar transparan berwarna emas murni muncul secara misterius.
Barisan teks bercahaya mulai terukir dengan rapi di sana, memancarkan aura magis yang membuat jantung ia berdebar kencang.
[Sistem Diaktifkan.]
[Fungsi Utama: Gacha & Penyimpanan Tak Terbatas.]
[Jatah Jaminan 100% Hari Ini: 3/3.]
Kenzo terpaku membeku di atas kasurnya. Napasnya memburu dengan sangat cepat saat menatap tulisan bercahaya emas yang melayang di udara tipis itu.
'Gacha? Penyimpanan tak terbatas?' gumamnya dalam hati, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi di depan matanya sendiri dengan sisa kesadarannya.
Layar emas itu berkedip perlahan, seolah sedang menunggu respons atau perintah pertama dari sang pemilik baru yang terpilih.
Kenzo menelan ludah dengan susah payah. Rasa takut yang sejak tadi menghantuinya perlahan mulai terkikis, berganti dengan rasa penasaran yang membakar seluruh jiwanya.
Dia perlahan mengangkat tangannya yang gemetar, mencoba menjangkau layar holografik yang bersinar terang di hadapannya.
Kenzo menahan napas. Ia mengerjapkan matanya berulang kali.
Mencoba mengusir halusinasi dari rasa lelah, pemuda itu tetap mendapati layar emas melayang di depan wajahnya.
Dia mengulurkan tangan. Ujung jarinya menyentuh permukaan bercahaya tersebut.
Riak gelombang tipis muncul di udara, disusul rasa dingin yang menjalar di kulitnya. Kejadian ini nyata.
Mata Kenzo membaca baris teks mekanis. Hanya ada dua menu dasar: Gacha dan Penyimpanan Tak Terbatas.
Saat jarinya menyentuh pilihan pertama, daftar probabilitas langsung terpampang jelas di hadapannya.
Bronze dengan peluang 75%. Silver sebesar 24,9%.
Gold yang hanya 0,1%. Serta Platinum dengan peluang nyaris mustahil, yaitu 0,0000001%.
Kenzo berbisik lirih. "Satu banding sepuluh juta."
Tatapannya lalu terhenti pada tulisan paling bawah. `[Jatah Jaminan 100% Hari Ini: 3/3]`.
'Artinya batas ini akan kembali penuh besok,' pikirnya. Sebuah kepastian berharga di tengah ketidakpastian.
BRAK!
Gedoran keras mendadak menghantam pintu kayu kamar sewanya hingga bergetar hebat.
"Buka pintunya, Kenzo! Aku tahu kau di dalam!"
Kenzo tersentak. Suara berat itu sangat ia kenali. Bimo.
Dia adalah penagih utang sewaan yang terkenal kejam. Kenzo memang sudah menunggak sewa selama 2 bulan.
BRAK!
Pintu kamar yang lapuk itu jebol. Engselnya patah, menyisakan celah lebar.
Pria berbadan gempal dengan jaket kulit kusam melangkah masuk. Tangannya memegang sebatang besi.
"Waktunya habis, Bocah. Bayar sekarang atau kau tidur di selokan dengan kaki patah," ancam Bimo.
Kenzo melangkah mundur. Otaknya berpikir cepat, mencari jalan keluar dari situasi terjepit ini.
Dia melirik layar emas yang anehnya tidak bisa dilihat oleh Bimo.
'Haruskah aku pakai jaminan seratus persen?' pikirnya ragu.
Tidak. Limit 3 kali sehari ini terlalu berharga untuk dihadiahkan pada preman pasar seperti Bimo.
Ia menolak membuang kartu as miliknya. Jari Kenzo segera menekan pilihan lain. `[Tarik 1x Biasa]`.
Cahaya emas berputar cepat di depan matanya, lalu meredup menjadi warna perunggu yang kusam.
`[Gacha Selesai. Kualitas: Bronze.]`
`[Hadiah telah dipindahkan ke Penyimpanan Tak Terbatas.]`
Sambil terus mundur ke sudut gelap kamarnya, Kenzo membuka menu penyimpanan dan memilih opsi keluarkan.
Tanpa suara, partikel cahaya berkumpul di balik telapak tangannya. Sebuah benda fisik memadat.
Kenzo meraba benda itu. Bukan pisau atau pistol. Hanya segulung kawat tipis dengan cincin besi di ujungnya.
"Mundur ke pojokan tidak akan menyelamatkanmu!" teriak Bimo sambil mengayunkan besi berkarat itu.
Kenzo tidak bergerak. Di dalam ruangan remang-remang ini, kawat transparan itu sama sekali tidak kelihatan.
Dia memasukkan jari telunjuknya ke dalam cincin logam di kedua ujung kawat, lalu menariknya kencang.
Saat Bimo mengayunkan besi ke kepalanya, Kenzo dengan cepat menekuk lutut dan menghindar ke samping.
Gerakan kasar Bimo membuatnya condong ke depan. Kehilangan keseimbangan.
Melihat celah itu, Kenzo melompat ke belakang Bimo. Ia melingkarkan kawat transparan ke leher si penagih utang.
Dengan satu sentakan kuat, Kenzo menarik kedua tangannya hingga menyilang.
"Urgh—!"
Bimo tersedak hebat. Besi di tangannya terjatuh ke lantai kayu dengan bunyi nyaring.
Kawat tipis itu menjepit kulit lehernya erat-erat. Darah mulai merembes perlahan akibat gesekan tajam.
Panik, Bimo mencoba meraba lehernya. Namun tangannya yang besar tidak mampu menyentuh kawat yang tak kasat mata itu.
"Satu gerakan lagi, kawat ini akan memutus tenggorokanmu," bisik Kenzo dengan suara dingin tepat di telinga Bimo.
Ia menekan punggung Bimo dengan lututnya, memaksa pria besar itu berlutut tanpa daya di lantai.
Tubuh gempal Bimo bergetar hebat. Rasa sakit dan ketakutan yang mencekam membuatnya tidak bisa berpikir jernih lagi.
"A-ampun! Lepas! Aku pergi!" rintih Bimo dengan napas yang tersengal-sengal.
Kenzo melepaskan cengkeramannya lalu menendang pantat pria itu ke arah luar.
Bimo tersungkur di pintu, terbatuk-batuk sebelum akhirnya lari terbirit-birit menuruni tangga rumah sewa.
Suasana kembali sepi. Hanya menyisakan rintik hujan yang terdengar dari jendela kamar yang terbuka.
Kenzo berdiri diam. Ia menatap kawat tipis yang masih melilit di jemarinya.
Sebuah senyum kecil perlahan terukir di wajahnya
Rintik air di luar belum juga reda. Hawa dingin perlahan merayap masuk melalui celah-celah jendela kamar sewa yang lapuk.
Ia duduk bersila di atas kasur tipisnya. Pandangan ia lurus tertuju pada engsel pintu yang kini bengkok mengenaskan.
Bimo memang sudah lari tunggang langgang. Namun, preman jalanan sepertinya tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak begitu saja.
'Dia pasti kembali,' gumam Kenzo dalam hati. '... Dengan membawa anggotanya.'
Ia menunduk, mengamati gulungan kawat di genggamannya. Benda perunggu ini tampak sangat biasa, tipis seperti sehelai rambut.
Namun, kawat ini tidak meregang sedikit pun saat ditarik. Sisi-sisinya terasa sangat tajam, siap mengoyak apa saja.
"Aku cuma punya kawat ini," bisik Kenzo. Ia menjentikkan kawat itu hingga berdengung pelan. "Sementara Bimo memiliki anggota, ini tidak seimbang."
Berbekal otot saja jelas mustahil menang jika Bimo membawa gerombolan. Ia harus menyelesaikan pertarungan sebelum mereka sempat menyentuhnya.
Lampu neon kamar segera ia padamkan. Ruangan kini hanya diterangi samar-samar oleh pendar lampu jalan di luar jendela.
Mulai merakit perangkap, ia mengaitkan ujung cincin logam pertama pada paku beton berkarat di kusen jendela.
Ia menarik kawat tipis itu menyilang, membelah ruangan sempit tersebut, lalu mengikat cincin kedua pada laci lemari baju yang berat.
Sangat teliti. Ia mengatur ketinggian kawat tepat di posisi leher pria dewasa.
Dalam kegelapan, kawat itu benar-benar lenyap. Tidak ada pantulan cahaya, tidak ada petunjuk visual apa pun.
Kenzo lalu mundur ke sudut paling gelap di kamarnya. Tangan kanan ia menggenggam patahan kayu kaki kursi.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang mencekam. Sunyi menguasai malam, hingga waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.
Ketukan langkah kaki yang berat terdengar menaiki tangga kayu. Suaranya terdengar penuh arogansi, bukan hanya satu orang.
BRAK!
Pintu yang memang sudah rusak itu hancur berantakan ditendang dari luar. Tiga bayangan besar berdiri di sana.
"Hancurkan kakinya! Biar aku yang merobek mulutnya!" teriak Bimo dengan parang pendek di genggamannya.
Satu preman berbadan raksasa di sebelah kanan Bimo langsung merangsek maju. Ia mengayunkan tongkat pemukul dengan beringas.
Langkah besarnya terhenti mendadak. Seolah ada tembok tidak terlihat yang menahan tubuhnya di udara.
SRING!
"AAARGHHH!"
Jeritan menyayat malam terdengar nyaring. Pria itu terpelanting ke belakang, kedua tangannya langsung membekap leher sendiri.
Darah segar menyembur deras dari sela jarinya. Momentum serbuan cepatnya membuat kawat tipis itu menggorok lehernya sendiri.
Ia tersungkur ke lantai kayu, meronta-meronta dengan napas yang mulai tersendat.
Bimo dan satu preman lainnya mematung. Wajah mereka pucat pasi, dipenuhi kengerian luar biasa.
"A-apa yang terjadi?!" gagap Bimo, kakinya gemetar saat melangkah mundur.
"Itulah akibatnya jika berlari dalam gelap tanpa mata," sahut Kenzo dari kegelapan sudut kamar.
Preman kedua yang naik pitam mencoba memutar dari arah kiri. Namun, Kenzo bergerak lebih cepat.
Sambil tersenyum tipis, ia menarik laci lemarinya dengan sentakan kuat. Sudut dan ketegangan kawat seketika bergeser tajam.
SRET!
Ujung kawat yang bergeser itu menyabet lengan preman kedua. Jaket tebalnya robek, menyisakan luka sayat yang mengucurkan darah.
Pria itu menjerit kesakitan, menjatuhkan senjatanya, lalu memegangi lengannya yang terluka parah.
Kini menyisakan Bimo yang berdiri gemetar. Senjata yang tidak kasat mata adalah teror paling mematikan bagi ototnya.
"Kau... kau memakai ilmu hitam?!" teriak Bimo dengan suara yang serak karena takut.
Kenzo mengabaikan pertanyaan itu. Layar System dengan tulisan jaminan 100% masih melayang redup di sudut matanya.
'Aku tidak butuh itu sekarang,' batin ia tenang. Otaknya terbukti jauh lebih berguna.
"Aku memang tidak punya uang untuk bayar sewa," ucap Kenzo lirih. "Tapi kalian sudah merusak pintuku malam ini."
Ia menunjuk ke lantai dengan patahan kayu di tangannya. "Tinggalkan dompet kalian di sana, atau keluar dalam keadaan mati."
Bimo menelan ludah dengan susah payah. Melihat kedua temannya yang terkapar, ia tidak punya pilihan lain.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku celananya lalu melemparkan dompet kulitnya ke lantai kayu.
Dua temannya yang terluka melakukan hal yang sama sebelum mereka semua merangkak panik keluar kamar.
Langkah kaki mereka terdengar tergesa-gesa menuruni tangga, menjauh, lalu hilang di balik gemuruh hujan malam.
Kenzo melangkah maju untuk memungut tiga dompet di lantai. Isi lembaran uang di dalamnya cukup banyak.
Uang ini lebih dari cukup untuk menyewa tempat baru yang layak dan membeli beberapa potong pakaian hangat.
Ia menatap kawat tipis yang kini menyisakan noda merah di bagian tengahnya. 'Alat dari Gacha ini benar-benar mematikan jika dipakai dengan benar.'
Tiba-tiba, suara denting mekanis yang familier berdengung di dalam kepalanya.
[DING!]
[Peringatan: Jatah Jaminan 100% Hari Ini (3/3) akan di-reset dalam 2 jam.]
Mata Kenzo menyipit membaca baris teks emas itu. Dua jam lagi jaminan kepastian ini akan hangus cuma-cuma.
'Tidak ada alasan untuk menyia-nyiakannya,' pikir ia seraya menekan tombol di layar virtual tersebut.
Cahaya keemasan yang jauh lebih pekat mulai memancar kuat, menerangi sudut kamarnya yang gelap gulita.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!