Indonesia
NovelToon NovelToon

My Ashford Side

#1

...Selamat membaca dan Semoga Suka. Cerita ini Murni Karangan Dan Hanya Fiktif belakang....

...***...

Malam di California tidak pernah benar-benar menjanjikan kedamaian, terutama di balik dinding beton setinggi lima belas meter yang diselimuti kawat berduri.

Tepat pukul 10:00 malam, jarum jam dinding berkarat di koridor utama Folsom Women’s Facility seolah membeku. Bau antiseptik yang tajam beradu dengan aroma lembap dari sel-sel bawah tanah, menciptakan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.

Suara tetesan air yang jatuh teratur dari langit-langit beton menjadi satu-satunya melodi sumbang yang menemani kesunyian yang mencekam.

Kegelapan koridor itu tiba-tiba dipecah oleh langkah kaki berat boot militer yang berdegum nyaring. Seorang sipir wanita bertubuh tegap dengan wajah dingin seperti batu granit berjalan menyusuri sel penjara, membawa tongkat besi yang sesekali ia pukulkan ke jeruji.

Langkah sipir itu berhenti di depan sebuah sel remang-remang. Matanya menatap jijik ke sudut ruangan yang gelap.

"Tahanan nomor XX026! Kau mendapatkan kunjungan!" teriak sipir penjara itu, suaranya menggema hebat di sepanjang lorong, membangunkan beberapa tahanan lain yang membalas dengan umpatan lirih.

KLEK! CEKLEK!

Sipir itu memutar kunci besi dengan kasar lalu menarik pintu sel hingga berderit nyaring. "Keluar!" teriaknya lagi.

Dari dalam kegelapan sel, seorang wanita dengan seragam tahanan bernomor XX026 melangkah lunglai. Gerakannya lambat, seolah-olah setiap pergerakan sendinya membawa beban berintal-intal besi invisibel.

Rambut kusamnya yang dulunya berkilau kini terurai berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang pucat dan tirus. Matanya redup, kehilangan seluruh binar kehidupan yang pernah dipujakan oleh jutaan pasang mata di negeri ini.

BUGH!

Tiba-tiba, sebuah dorongan keras mendarat tepat di punggung wanita itu. Kekuatan dorongan sipir membuat tubuhnya yang kurus oleng dan hampir tersungkur ke lantai semen yang dingin.

"Jalan yang benar!" bentak sipir wanita itu tanpa rasa iba sedikit pun. "Jangan kau pikir karena kau anak mantan presiden kau bisa dapat perlakuan khusus di sini! Ayahmu mati dibunuh ibumu sendiri. Kau dipenjara karena percobaan pembunuhan terhadap kakak dan adikmu sendiri. Keluarga kalian benar-benar membuatku takjub—kalian adalah kotoran paling menjijikkan yang pernah masuk ke tempat ini!"

Wanita bertato nomor XX026 itu tidak membalas. Ia hanya menarik napas panjang yang terasa menyiksa di dadanya, lalu kembali melangkah lunglai menyusuri koridor panjang yang remang.

Hinaan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-harinya selama bertahun-tahun. Nama besar keluarganya yang dulu dipuja-puja kini berubah menjadi kutukan paling mengerikan yang mengikat kakinya dengan rantai tak kasat mata.

Mereka tiba di depan pintu besi tebal menuju ruang kunjungan malam. Sipir penjara membukakan pintu tersebut, lalu tanpa keraguan sedikit pun, kembali mendorong tahanan itu hingga masuk ke dalam.

"20 menit! 20 menit!" teriak sipir penjara itu tegas, memperingatkan batas waktu sebelum memukulkan pintu hingga tertutup rapat.

Brak!

Suara dentuman pintu yang terkunci dari luar meninggalkan gema panjang yang perlahan menghilang.

Suasana di dalam ruang kunjungan terasa sangat kontras. Ruangan itu hanya diterangi satu lampu gantung bersinar redup yang berayun pelan, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding.

Tahanan bernomor XX026 itu perlahan mendongakkan kepalanya, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan pendar cahaya. Kening wanita itu serta-merta berkerut erat ketika matanya menangkap sesosok figur yang sangat asing di tempat kumuh ini.

Seorang laki-laki duduk dengan manis di kursi kayu di balik meja pembatas. Pria itu mengenakan setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap yang begitu rapi tanpa lipatan, dengan rambut pirang yang tersisir rapi ke belakang. Penampilannya memancarkan kemewahan dan ketenangan yang terasa begitu janggal di tengah tempat yang menebarkan bau penderitaan ini.

Laki-laki itu tersenyum manis—sebuah senyuman yang terlalu sempurna, seolah telah dilatih ribuan kali di depan cermin.

"Silakan duduk, Nona La Bonna De Luca," ucap laki-laki itu dengan suara bariton yang tenang namun berwibawa. Ia mengulurkan tangannya yang bersih dan terawat melewati meja pembatas, mengajak berjabat tangan. "Perkenalkan, aku Dorris. Detektif swasta yang akan membantumu dan ibumu bebas dari hukuman."

La Bonna De Luca—nama yang dahulu melambangkan kemewahan, kecantikan, dan kekuasaan—hanya menatap tangan yang terulur itu selama beberapa detik. Dengan ragu dan gerakan kaku, La Bonna sempat menyambut uluran tangan itu singkat sebelum akhirnya wanita tahanan dengan nomor XX026 itu dengan cepat menarik kembali tangannya.

Ia memeluk dirinya sendiri, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu yang dingin, lalu menatap pria di hadapannya dengan tatapan penuh rasa curiga dan kelelahan yang mendalam.

"Kau itu bukan lawyer atau apapun itu, kau itu detektif," ucap Bonna dengan suara serak, nyaris berbisik namun tajam. "Lagipula, aku dan ibuku sudah terbukti bersalah di mata hukum dan publik. Aku juga tidak tahan kalau harus melewati proses persidangan lagi... menjadi bahan tontonan murah bagi media dan masyarakat lagi."

Dorris tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam dan terlatih memindai setiap inci tubuh tahanan di hadapannya. Ia memperhatikan wajah Bonna yang pucat—terdapat jejak memar kebiruan yang mulai menguning di sudut bibirnya. Tatapan Dorris turun ke leher wanita itu, di mana bekas cengkeraman jari terlihat jelas, lalu meluncur ke pergelangan tangannya yang lecet kehitaman akibat gesekan borgol atau benturan keras.

Keadaan La Bonna De Luca adalah gambaran nyata dari kejatuhan sebuah dinasti.

Dorris menyilangkan jarinya di atas meja, menatap Bonna dengan binar mata yang sulit diartikan. "Tapi aku bisa membuatmu dan ibumu bebas dari tempat ini tanpa perlu ikut persidangan lagi," kata Dorris pelan, penuh penekanan.

"Kau pasti merasa tidak tahan berada di sini, bukan?" lanjut Dorris. "Para tahanan lain pasti menyiksa kau dan ibumu setiap hari. Mengingat latar belakang kalian dulu... kalian adalah orang nomor satu di negara ini. Ayahmu terkenal sangat dermawan, memiliki jutaan pendukung politik yang setia... hingga kau, putri keduanya, menghancurkan karir hebat ayahmu sendiri dalam semalam. Kemudian kejahatan terselubung keluargamu terbongkar satu per satu. Kau pemantiknya, La Bonna... dan keluargamu habis terbakar hingga menjadi abu."

La Bonna menarik napas berat. Seraya memutar bola matanya jengah, ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Hatinya sudah terlalu kebas untuk meratapi masa lalu yang hancur.

"Sebenarnya apa maumu?" potong La Bonna dingin. "Kau ingin aku membayarmu? Aku tidak punya uang. Peninggalan ayahku semuanya jatuh ke tangan kakak dan adikku yang selamat. Kau tidak akan mendapatkan sepeser pun dariku, Detektif."

Dorris melipat tangannya di atas meja. Ia memiringkan tubuhnya, maju sedikit ke depan dengan kepala agak tertunduk, menatap penuh maksud langsung ke dalam manik mata La Bonna yang suram.

"Yang kuinginkan bukan uang," Dorris melemahkan suaranya, berbicara agak berbisik namun intonasinya begitu tegas sehingga La Bonna masih bisa mendengar setiap suku kata dengan sangat jelas. "Aku ingin kau mau melakukan sesuatu yang... mungkin nyawa taruhannya."

Dorris jeda sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara dan meresap ke dalam pikiran La Bonna.

"Tapi jika kau mau melakukannya," sambung Dorris lagi, "kau dan ibumu bisa bebas dari neraka ini saat ini juga."

Setelah mengucapkan kalimat bom tersebut, Dorris kembali memundurkan badannya. Ia bersandar rileks pada kursi kayu yang didudukinya sembari melipat kedua tangannya di depan dada, mengamati reaksi wanita di depannya dengan ketenangan seorang predator yang yakin mangsanya tidak punya pilihan lain.

"Aku tahu kau dan ibumu kerap diperlakukan dengan sangat tidak adil di tempat ini oleh orang-orang yang membenci keluargamu," lanjut Dorris dengan nada memprovokasi secara halus. "Kalau kau mau mengikuti perintahku, maka kau dan ibumu tidak perlu lagi tidur berdesak-desakan di sel yang bau dan lembap, tidak perlu diinjak-injak atau dihajar oleh tahanan lain setiap malam. Kau bisa menghirup udara bebas lagi... Dan ibumu tercinta itu tidak perlu menghabiskan masa tuanya yang berharga di dalam sel tahanan yang dingin ini."

Tawaran yang Dorris berikan memang terdengar sangat menggiurkan, bak oasis di tengah padang pasir yang mematikan. Namun, La Bonna De Luca bukan pemain baru dalam permainan kotor dunia manusia.

Lahir dan dibesarkan di tengah pusaran politik tingkat tinggi telah mengajarkannya satu hal mendasar: tidak ada bantuan yang gratis di dunia ini. Ia tahu betul, bayaran kebebasan yang sangat besar pasti membutuhkan usaha atau pengorbanan yang tak kalah berdarah-darah.

Di dalam benaknya, bayangan sang ibu yang semakin tua di sel sebelah sempat melintas. Namun, bayangan ancaman baru yang belum diketahui jauh lebih mengerikan. Bonna tidak tahu apa yang sebenarnya ingin detektif berjas rapi ini minta untuk ia lakukan, dan yang paling penting, Bonna juga tidak ingin tahu. Ia sudah cukup lelah menjadi bidak dalam permainan orang lain.

La Bonna menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah melepaskan sisa kehangatan terakhir yang ada dalam dirinya.

"Tawarkan saja kesempatan itu pada tahanan lain," ucap La Bonna datar, tanpa ada nada ragu sedikit pun. "Aku tidak tertarik."

Tanpa menunggu respon dari Dorris, La Bonna langsung berdiri dari kursinya. Kursi kayu itu berdecit nyaring menggesek lantai semen. Ia membalikkan badan dan berjalan lunglai namun mantap menuju pintu keluar ruang kunjungan.

KLEK!

Tepat pada saat itu, engsel pintu besi berbunyi. Sipir penjara wanita yang tadi membawanya membukakan pintu dari luar dengan wajah ketus. Waktu kunjungan telah berakhir.

20 menit yang menentukan itu telah terlewati, meninggalkan misteri di dalam ruangan remang yang perlahan kembali diselimuti kegelapan.

......................

Happy reading 🌷

#2

Pagi harinya, suasana kantin Penjara Wanita Lembaga Pemasyarakatan Utama tampak riuh. Uap tipis dari bubur gandum yang terlalu encer dan aroma karbol pembersih lantai yang menyengat berbaur menjadi udara berat yang harus dihirup ratusan tahanan setiap hari.

Suara benturan sendok, dentang nampan, serta gelak tawa kasar bersahut-sahut menembus dinding-dinding beton yang lembap. Di tempat ini, hidup diukur dari seberapa pintar seseorang menjaga jarak dari masalah, atau seberapa cepat seseorang bisa memukul sebelum dipukul.

Bonna berjalan pelan menyusuri deretan meja panjang, kedua tangannya memegang nampan kaleng berisi porsi sarapan minimalisnya. Rambutnya yang bergelombang diikat seadanya, dan matanya melirik tajam ke sekeliling, mencari sudut yang relatif aman dari kerumunan kelompok tahanan yang agresif. Namun, keamanan di tempat ini hanyalah ilusi.

PRANKK!!!

Suara nampan jatuh menghantam lantai semen terdengar nyaring, memotong keriuhan kantin selama semangkuk detik. Nampan milik Bonna terlepas dari genggamannya, terpelanting beberapa kaki ke depan.

Jatah makanan siangnya—bubur hambar, sepotong roti keras, dan secangkir air teh tawar—terbuang dan berceceran kotor di lantai yang berdebu.

Sebuah kaki melangkah mundur dengan santai.

"Ups, aku tidak sengaja. Kau tahu aku ini mantan model, jadi kakiku ini panjang," ucap seorang wanita berambut blonde yang dicepol asal-asalan. Ia menyibakkan poni tipisnya, lalu tersenyum mengejek tepat ke arah La Bonna. Matanya yang tajam dilapisi kebencian yang terang-terangan.

Bonna menarik napas panjang. Dadanya naik turun menahan gumpalan amarah yang membakar tenggorokannya. Ia tahu persis itu bukan ketidaksengajaan.

Tahanan nomor XX200 itu—seorang narapidana kasus penganiayaan berat dan pencucian uang—sengaja menyandung kaki La Bonna.

Sejak hari pertama Bonna melangkah masuk ke dalam sel dengan gaun mahal yang sudah tercabik-cabik oleh pemeriksaan petugas, tahanan nomor XX200 itu tidak pernah menyukainya. Bagi para kriminal kawakan di sini, gadis dari keluarga kaya seperti La Bonna adalah sasaran empuk untuk dilampiaskan kekesalan.

Mengabaikan senyum culas wanita blonde itu, La Bonna berjongkok sebentar, memungut nampan kosongnya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mengeluh pada wanita itu hanya akan memberinya kepuasan.

La Bonna tahu diri; ia tidak mungkin memakan jatah makanannya yang telah jatuh dan kotor di lantai kantin yang diinjak ratusan pasang sepatu bot.

Dengan kepala terangkat dan rahang terkunci rapat, La Bonna memutar tubuhnya. Ia berniat untuk kembali mengantri di depan loket pembagian makanan. Ia berdiri di barisan paling belakang, menunggu gilirannya dengan kesabaran yang tipis.

Suasana kantin yang sempat hening kini kembali riuh, disertai bisik-bisik yang tertuju padanya. Namun, saat gilirannya akhirnya tiba dan La Bonna menyodorkan nampan kosongnya ke celah terali besi pembatas, petugas makanan berpakaian seragam abu-abu tidak menggerakkan centongnya.

"Kau sudah dapat bagianmu, kau tidak bisa meminta makanan lagi," ucap si petugas makanan yang mengenakan masker bening dari plastik itu.

Suaranya datar, dingin, dan penuh kebosanan.

"Apa kau tidak melihat makananku telah jatuh? Aku belum makan sama sekali," kata La Bonna. Suaranya tertahan, mencoba menuntut hak paling dasar di tempat terkutuk ini.

Petugas itu mendengus kecil, menatap La Bona dari balik maskernya dengan tatapan malas. "Mau kau sudah makan ataupun belum, itu bukan urusan kami. Kau sudah dapat jatahmu dan kau tidak bisa memintanya lagi. Kalau kami memberikanmu makanan lagi, yang lain juga akan protes hingga meminta makanan lagi. Semua orang hanya dapat satu kali jatah makanan, tidak peduli makanan itu masuk ke perutmu atau jatuh ke lantai."

Belum sempat La Bonna membalas, seorang tahanan wanita tua berwajah keriput yang duduk di meja dekat pembagian makanan ikut mencetuskan suara.

"Kalau dia bisa ambil makanan dua kali, kami juga ingin ambil dua kali! Porsi sedikit seperti ini tidak cukup untuk perut kami! Kalian harus adil!" teriak tahanan tua itu, menggebrak meja kayu hingga cangkirnya bergetar.

Beberapa tahanan lain mulai bersorak menyetujui, menciptakan gelombang seruan pembangkangan kecil yang membuat para sipir di sudut kantin mulai memegang tongkat pemukul mereka.

La Bona merasakan darahnya berdesir hebat. Amarah memuncak di ubun-ubunnya. Tangannya mencekram kuat pinggiran nampan makanan miliknya yang kosong hingga buku-buku jarinya memutih dan memucat. Ia merasa begitu terhina, begitu konyol, dihancurkan oleh sistem dan manusia-manusia jahat yang berkerumun di sekitarnya.

Namun, sebelum amarah itu meledak dalam bentuk makian, pergelangan tangan La Bonna tiba-tiba saja disentuh oleh seseorang. Sentuhan itu lembut, hangat, dan terasa teramat asing di tengah dinginnya jeruji besi.

La Bonna menoleh cepat ke sampingnya dan tersentak menyadari siapa yang berdiri di sana. Ibunya.

Wanita yang pernah menghiasi sampul majalah bisnis dan sosialita itu kini mengenakan pakaian tahanan longgar yang kusam. Namun wajahnya, meski tirus dan pucat, menyimpan kepasrahan yang mendalam. Ibunya menghampiri La Bona sembari menyodorkan nampan makanannya sendiri yang masih utuh ke arah Putrinya.

"Kau bisa makan milik Mommy, Bonna. Mommy tidak lapar," bisik sang ibu, matanya menatap La Bonna dengan rasa bersalah yang teramat sangat.

Tindakan itu tidak terlewatkan oleh mata-mata licik di kantin. Tiba-tiba para tahanan lain ikut riuh melihat adegan sentimental tersebut. Bagi mereka, penderitaan orang lain adalah satu-satunya hiburan gratis di tempat ini. Mereka langsung menjadikan La Bona dan ibunya sebagai bahan tontonan dan hidangan hinaan.

"Wah, sungguh keluarga yang sangat harmonis! Seorang ibu menolong anaknya yang kelaparan!" teriak si tahanan nomor XX200 dari tempat duduknya.

Wanita blonde itu kembali berdiri, mengangkat tangannya seolah sedang memberikan tepuk tangan teatrikal. Kebencian di matanya makin menyala.

"Dengar semuanya!" teriak tahanan XX200 itu lagi, membuat suasana kantin kian memanas. "Kalau kau tidak membunuh suamimu, dan putri keduamu tidak mencoba membunuh kakak dan adiknya sendiri, kalian tidak akan mendekam di sini! Sungguh keluarga yang lucu! Di televisi terlihat harmonis dan sempurna, tapi di belakang layar saling bunuh satu sama lain!"

Tawa riuh memecah kantin. Kata-kata itu menghantam La Bonna tepat di dadanya, membuka luka berdarah yang berusaha ia kubur rapat-rapat.

La Bonna tidak tahan lagi. Batas kesabarannya runtuh menjadi kepingan abu.

Dengan gerakan kasar dan penuh kebencian, La Bonna menepis tangan sang Mommy. BRAK!

Untung saja nampan makanan yang dipegang ibunya tidak ikut jatuh ke lantai; sang ibu berhasil menahannya walau tubuhnya terdorong ke belakang.

Tanpa memikirkan akibatnya, La Bonna memutar tubuh. Dengan langkah lebar dan napas memburu, ia menghampiri tahanan nomor XX200 yang masih tertawa mengejek.

Nampan kosong di tangannya ia genggam erat-erat hingga terasa menyatu dengan tulang tangannya. Sebelum wanita blonde itu menyadari bahaya yang mengancamnya, La Bona langsung mengayunkan nampan kaleng itu sejauh dan sekeras mungkin.

PANGGG!!

Suara logam menghantam tulang tengkorak terdengar begitu nyaring. Nampan itu mendarat telak di samping kepala tahanan nomor XX200.

Wanita itu menjerit kesakitan, terhuyung ke belakang, dan menabrak meja kayu sebelum jatuh tersungkur ke lantai. Darah segar mulai merembes dari pelipisnya.

Namun, tindakan nekad Bonna adalah memicu ledakan di dalam sarang lebah.

Melihat rekan mereka tumbang, beberapa tahanan lain yang duduk di sekitar meja itu langsung berdiri dengan wajah beringas. Kebencian kelompok meletus seketika.

Dua orang tahanan wanita bertubuh kekar melompat menerjang La Bonna. Mereka mendorong La Bonna dengan kekuatan penuh hingga tubuh gadis itu melayang dan menghantam lantai semen yang keras.

"Gadis sialan!"

Sebelum La Bonna sempat bangkit, tendangan pertama mendarat keras di perutnya. Udara keluar berhamburan dari paru-parunya. Disusul tendangan kedua, ketiga, dan dorongan-dorongan brutal.

Tubuhnya dikerumuni, diinjak-injak, dan dipukuli tanpa ampun oleh tahanan lain yang memanfaatkan kekacauan itu untuk meluapkan amarah mereka sendiri.

"Bonna! Bonna!"

Ibu La Bonna berteriak histeris. Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, wanita tua itu menerobos kerumunan, mencoba melempar tubuhnya di atas tubuh La Bonna untuk melindunginya dari injakan sepatu-sepatu keras.

Namun dua orang melawan belasan orang yang kalap adalah hal yang mustahil. Sang ibu ditarik, didorong, dan dipukul hingga tersungkur di samping anaknya.

La Bona dikeroyok hingga tidak berdaya. Pandangannya mulai mengabur, dipenuhi warna merah dan rasa sakit yang menjalar di setiap jengkal tubuhnya.

Di tengah suara makian dan pukulan yang tak henti-hentinya mendarat, ia hanya bisa mendengar suara ibunya yang menjerit pasrah, berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan sipir penjara yang akhirnya berlari mendekat sambil meniup peluit pemecah kerusuhan.

***

Beberapa jam kemudian. Bau antiseptik dan alkohol yang menyengat menggantikan bau busuk kantin.

Tubuh Bonna terbaring kaku di atas selimut tipis ruang medis lapas. Banyak luka lebam membiru melingkupi tubuhnya, termasuk di wajahnya. Mata kirinya membengkak hingga hampir tertutup, pipinya memar keunguan, sudut bibirnya robek, dan hidungnya yang tadi mengeluarkan banyak darah kini disumbat dengan kasa steril. Setiap kali ia bernapas, rusuknya terasa seperti ditusuk jarum-jarum halus.

Dokter lapas baru saja selesai membersihkan luka-lukanya. Sang mommy berdiri tak jauh di depan ranjang tempat La Bonna dibaringkan, menatap putrinya dengan bibir bergetar.

"Kenapa kau tidak menerima saja makanan yang Mommy berikan?" kata sang Ibu dengan suara gemetar, tertahan oleh isak tangis.

La Bona memejamkan matanya, enggan menatap wanita itu.

"Andai kau menerima makanannya, kau tidak mungkin mendapatkan masalah dengan tahanan lain... dan wajahmu tidak akan terluka seperti ini," kata sang ibu kembali. Mata ibu La Bonna basah.

Air mata mengalir tanpa henti membasahi pipinya yang kusam, menyaksikan keadaan putrinya yang mengenaskan.

Beberapa detik kemudian, La Bonna membuka matanya yang penuh luka. Ia melirik sinis ke arah ibunya.

Di dalam hati La Bonna, rasa sakit di tubuhnya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa mual yang meluap setiap kali ia melihat ibunya menangis. Ia benci melihat sang Mommy menangis. Bagi La Bona, tangisan itu bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan simbol kelemahan dan kepalsuan yang melingkupi hidup mereka selama puluhan tahun.

"Bisakah kau diam?" ucap Bonna, suaranya parau dan terputus-putus karena bibirnya yang bengkak. "Yang bisa kau lakukan sejak dulu hanya menangis dan menangis. Aku muak melihatmu menangis."

Dokter yang mengobati La Bonna menghentikan kegiatannya, merapikan peralatan medisnya, lalu perlahan mundur menuju pintu. Ia menyadari ketegangan dingin di antara ibu dan anak itu, memberi La Bonna dan ibunya privasi untuk bicara selagi mereka memiliki beberapa menit tersisa sebelum bel pertanda kembali ke sel masing-masing dibunyikan.

Pintu medis tertutup pelan.

Suasana menjadi begitu sunyi, hanya diselingi napas berat La Bona dan isakan pelan sang ibu.

"Bonna... apa kau masih marah dengan Mommy?" tanya sang ibu sekali lagi. Langkah kakinya mendekat secara ragu-ragu. Tangannya terulur, berniat untuk menyentuh jemari La Bonna yang memar.

Namun dengan cepat dan kasar, La Bonna menarik tangannya menghindar, menolak sentuhan itu seolah-olah kulit ibunya mengandung racun.

La Bonna mengatupkan rahangnya, lalu memaksakan tubuhnya untuk duduk walau rasa nyeri menjalar hebat di punggungnya. Ia menatap ibunya tepat di manik mata dengan tatapan yang sarat akan kepahitan bertahun-tahun.

"Jangan bersikap seolah kita keluarga yang harmonis di sini," bisik La Bonna dengan nada dingin yang menusuk tulang.

"Sejak dulu yang Mom lakukan hanya menangis. Mom tidak pernah mau berkorban untuk melindungiku dari Daddy! Selalu aku yang menjadi sasaran kemarahannya, selalu aku yang harus menanggung siksaannya!" Suara La Bonna mulai naik, tertahan oleh rasa panas di dadanya.

"Tapi di saat Laura yang dalam bahaya... Mommy menolongnya. Mom bahkan membunuh laki-laki sialan itu untuknya! Kenapa? Kenapa dia? Tapi dulu saat aku butuh Mommy untuk melindungiku, Mommy hanya bisa menangis dan menanam kebencian di kepalaku untuk Laura dan ibunya yang seorang pelacur itu!"

Setiap kata yang keluar dari mulut La Bonna seperti belati yang menghantam dada sang ibu. Wanita itu tertunduk dalam, air matanya menetes makin deras ke lantai ruang medis, tak mampu membela diri karena ia tahu semua ucapan putrinya adalah kebenaran yang teramat menyakitkan.

La Bonna tidak menurunkan pandangannya. Tanpa menunggu jawaban, ia memutar kakinya ke tepi ranjang medis, lalu berdiri dengan payah. Ia mengabaikan rasa pusing yang menghantam kepalanya. Ia berjalan hendak keluar dari ruang medis.

Namun, saat melangkah melewati ibunya, sudut mata La Bona yang melotot memperhatikan sesuatu. Ada lebam kebiruan yang tebal di pergelangan tangan sang mommy, serta memar kemerahan di pipinya.

La Bonna tahu betul, sang mommy pasti mendapatkan lebam itu saat wanita tua itu nekat melempar tubuhnya ke tengah kerumunan untuk menyelamatkan dirinya dari pengeroyokan liar di kantin tadi.

Dada La Bona berdenyut aneh. Ada kilatan emosi terlarang yang coba ia tekan kuat-kuat: rasa kasihan, dan rasa bersalah. Tapi dengan cepat ia mengeras hati kembali.

BRAK.

Pintu ruang medis terbuka kasar dari luar. Dua orang sipir berbadan tegap berdiri di ambang pintu dengan tongkat di pinggang mereka.

"Waktu habis! Isabella La Bonna, kau membuat keributan besar di kantin. Ikut kami sekarang!" tegas salah satu petugas.

Beberapa detik kemudian, petugas itu mencengkeram lengan La Bonna dan membawanya menuju koridor gelap. La Bonna diseret ke ruang isolasi—hukuman standar bagi siapa pun yang memicu pertumpahan darah di area umum penjara.

***

Langkah kaki sepatu bot sipir bergetar di koridor bawah tanah yang dingin. Pintu besi tebal berdecit nyaring saat dibuka, mengungkap sebuah ruangan sempit di ujung lorong.

Ruang isolasi sangat sempit, jauh lebih sempit dan pengap dari sel biasa tempat La Bona mendekam bersama rekan satu selnya. Di ruangan itu hanya ada sebuah pembuangan air kecil di sudut dan lantai semen tanpa alas sama sekali. Begitu tubuh La Bona didorong masuk dan pintu besi tebal itu ditutup rapat dengan dentuman keras BAM!, seluruh warna dunia seolah sirnah.

Tak ada suara. Tak ada cahaya. Dark total.

Tempat itu begitu kedap dan sunyi hingga suara napasnya sendiri terdengar begitu keras. Bahkan, La Bona bisa mendengar suara telinganya berdenging nyaring—sebuah fenomena aneh yang terjadi ketika manusia diletakkan di dalam kegelapan dan kesunyian yang terlalu ekstrem.

La Bonna terduduk lemah di lantai semen yang dingin, menyandarkan punggungnya yang penuh luka memar ke dinding batu. Dalam kegelapan mutlak itu, kepalanya tidak bisa berhenti berputar.

Ia berpikir dalam diam. Bayangan wajah-wajah beringas para tahanan di kantin tadi melintas di benaknya.

Tahanan nomor XX200, tahanan tua berkeriput, dan puluhan pasang mata lainnya yang penuh dengan rasa lapar akan penderitaan orang lain. Mereka sangat membenci La Bonna dan ibunya—membenci nama besar keluarga mereka yang runtuh, membenci kemewahan masa lalu yang pernah mereka miliki, dan membenci fakta bahwa keluarga yang dulunya dipuja kini merayap di kotoran yang sama dengan mereka.

Namun, di tengah kebencian itu, pikiran La Bonna perlahan teralihkan pada bayangan memar di tubuh sang ibu.

Memar di pergelangan tangan dan pipi Mommy-nya.

La Bona mengepalkan tangannya di atas lutut. Ya, La Bona memang membenci sang ibu. Ia benci setengah mati karena sang ibu rela mengorbankan segalanya—bahkan masuk ke dalam neraka penjara ini—demi menolong Laura, sosok yang paling La Bona benci dan cemburui di dunia ini.

Tapi membenci ibunya adalah hak pribadinya. Bukan berarti La Bonna tidak masalah jika sang ibu disakiti oleh orang lain. Ia tidak bisa menerima ibunya diperlakukan buruk, dihina, dipukuli, bahkan oleh tahanan penjara yang berengsek atau sipir-sipir korup yang merasa diri mereka dewa.

Rasa tidak terima itu membakar dadanya dari dalam, perlahan mengikis kepasrahan yang selama ini mengurungnya.

Di tempat sepi ini, di dalam kegelapan ruang isolasi yang mencekat leher, La Bonna merenung sendiri. Kesunyian ekstrim itu secara perlahan membuat La Bonna teringat kembali dengan tawaran yang diberikan oleh Detektif Dorris beberapa waktu lalu.

Wajah detektif itu, senyum tipisnya yang misterius, dan berkas perjanjian yang disodorkannya seolah terpampang di kegelapan udara di depannya.

Memang, La Bonna sudah bisa menebak sejak awal kalau tawaran yang detektif itu berikan tidak mungkin akan mudah dilakukan. Tidak ada hal gratis di dunia ini, apalagi yang datang dari seorang polisi atau agen pemerintah. Imbalan dari tawaran itu sangat fantastis: Kebebasan sepenuhnya dari penjara.

Jadi, apa pun tugas yang harus La Bonna lakukan nanti di luar sana, pasti sangatlah berat, berbahaya, dan mungkin akan merenggut nyawanya.

Namun, La Bonna menghembuskan napas panjang lewat hidungnya yang masih terasa nyeri.

Apakah tugas berbahaya dari Detektif Dorris itu lebih berat dari menjalani sisa hidup bertahun-tahun di dalam penjara terisolasi ini? Hidup tanpa kemewahan yang dulu selalu Isabella La Bonna punya? Hidup menjadi mangsa empuk yang disiksa secara sengaja oleh tahanan-tahanan liar dan juga sipir penjara yang sadis?

Jawaban itu mendadak menjadi begitu jelas di dalam benaknya.

Tidak.

Lebih baik mati di luar sana karena nekat mengambil risiko dan bertarung, dibandingkan harus mati perlahan di dalam lapas busuk ini karena dianiaya oleh tahanan lain seperti binatang pembawa sial.

Setidaknya, jika ia mati di luar sana... La Bonna bisa mati sambil menghirup udara segar sebagai manusia bebas.

La Bonna menyandarkan kepalanya ke dinding semen yang dingin. Di dalam kegelapan ruang isolasi yang tak bertepi, sudut bibirnya yang robek dan berdarah perlahan terangkat sedikit, membentuk sebuah ukiran senyum tipis yang berbahaya. Keputusan-nya sudah bulat.

#3

Dua minggu telah berlalu sejak malam berdarah di kantin dan dinginnya ruang isolasi yang mencekik.

Sore ini, atmosfer Ruang Kunjungan Utama terasa kelam dan dipenuhi bau disinfektan yang menyengat. Ruangan itu disekat oleh dinding tebal berpanel kaca transparan kedap suara, menciptakan jarak tak kasat mata antara dunia luar yang bebas dan dunia terkutuk di dalam sel.

Dua orang duduk berhadapan di balik kaca tebal tersebut, saling tatap dengan sepasang gagang telepon hitam sebagai satu-satunya sarana penyambung lidah.

Detektif Dorris Gate tersenyum tipis saat sosok La Bonna De Luca muncul dari balik pintu besi.

Hari ini, detektif itu datang lagi untuk mengunjungi La Bonna. Pria berjas rapi itu sama sekali tidak tampak terkejut melihat keadaan La Bonna yang babak belur. Wajah wanita itu kini dihiasi memar kebiruan di pipi, sudut bibir yang pecah memerah, dan mata kiri yang masih membengkak. Pemandangan itu berbanding terbalik dengan rupa cantik sempurna yang dimiliki La Bonna pada pertemuan terakhir mereka dua minggu lalu.

Dorris mengangkat gagang teleponnya. Saat La Bonna menempelkan gagang telepon di sisinya, suara bernada santai sang detektif terdengar dari balik pengeras suara.

"Aku mengunjungimu lagi karena aku punya firasat kalau kau akan menerima tawaranku. Apa firasatku benar?" tanya Dorris langsung pada intinya, tanpa basa-basi sedikit pun.

La Bonna berdecih pelan. Tatapan matanya penuh dengan kepahitan yang pekat. Dua minggu terakhir di ruang isolasi yang gelap dan sempit, ia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap detik yang berlalu di dalam kegelapan itu hanya diisi oleh suara denging di telinga dan ingatan akan luka-luka di tubuh ibunya.

"Apa pun tawaranmu itu akan aku terima, tapi dengan syarat," kata La Bonna dingin. Ia membusungkan dada, membalas tatapan tajam sang detektif. "Aku tidak mau melakukannya hari ini. Aku ingin kau sewakan kamar hotel paling nyaman untukku beristirahat malam ini. Besok baru kau boleh perintah aku sesukamu. Deal?"

Dorris mengamati wajah La Bonna sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan penuh kemenangan. Pria itu mengulurkan tangannya ke arah kaca tebal, menempelkan telapak tangannya seolah-olah sedang menembus rintangan besi dan kaca untuk menjabat tangan La Bonna.

"Deal!" ucap Dorris mantap sambil tersenyum lebar.

Ia lalu melanjutkan dengan nada mengejek yang halus, "Lagipula, kau tidak bisa melakukan apa yang kuperintahkan dengan tubuh penuh lebam seperti itu. Mengirimmu dalam keadaan cacat hanya akan merusak rencana."

Dorris menoleh ke arah sipir penjara yang berdiri tegap di samping pintu, menjaga La Bonna. "Kau bisa ikut dengan sipir itu. Dia akan membantumu mengemas barang-barangmu... dan juga barang-barang ibumu."

La Bonna patuh saja. Ia meletakkan gagang telepon dan berbalik melangkah mengikuti sipir penjara tersebut. Namun, baru dua detik berjalan, La Bonna mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik lagi ke arah kaca, menyambar kembali gagang telepon hitam itu, dan menatap Dorris dengan mata menyipit.

"Ah, ada satu lagi yang ingin kuminta," kata La Bonna.

Dorris mengangkat alisnya, menempelkan kembali gagang telepon ke telinganya. "Katakan."

"Aku tidak mau satu mobil dengan ibuku. Kau bisa pulangkan dia ke rumah kakakku atau ke rumah adikku," ujar La Bonna tegas tanpa ada sedikit pun keraguan di suaranya. "Kau pasti tahu di mana alamat mereka, kan? Itu tidak sulit untukmu."

Dorris mengamati ketegangan di rahang La Bonna. Menyadari keputusan dingin wanita itu, sang detektif menganggukkan kepala memberikan persetujuan. Setelah mendapatkan kepastian itu, La Bonna memutus sambungan telepon untuk terakhir kalinya dan pergi meninggalkan ruang kunjungan bersama sipir penjara.

°°

Dua menit kemudian, setelah langkah kaki La Bonna benar-benar menghilang di balik lorong, pintu ruang kunjungan sisi tahanan kembali terbuka. Seorang wanita lain melangkah masuk untuk bertemu dengan Dorris.

Tahanan itu adalah tahanan nomor XX200.

Si mantan model berambut blonde yang dicepol acak-acakan—sosok yang selama ini selalu saja mengusik ketenangan dan memprovokasi La Bonna di dalam penjara—duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan La Bonna. Di bilik ini, sipir penjara yang mengawalnya membalikkan badan, berpura-pura buta dan tuli.

Dorris merogoh saku jasnya, mengeluarkan satu bungkus plastik klip kecil yang berisi beberapa butir pil ekstasi.

Tanpa memedulikan kaca pembatas, ia memanfaatkan celah kecil tempat lewat dokumen di bagian bawah. Dorris menyelipkan plastik kecil itu langsung ke telapak tangan tahanan nomor XX200.

"Ini bayaran untuk kerja kerasmu," bisik Dorris dari balik celah, suaranya pelan namun sarat akan manipulasi.

Kening wanita berambut blonde itu berkerut seketika saat melihat isi plastik di genggamannya. Ia memandang Dorris dengan raut wajah penuh kekecewaan dan ketidakpuasan.

"Sedikit sekali," cetus tahanan nomor XX200 itu dengan suara bersungut-sungut. "Ini tidak sebanding dengan kerja kerasku! Gadis De Luca itu hampir mematahkan leherku dan membuat wajahku memar!"

Dorris mencondongkan tubuhnya ke depan. Mata sang detektif memancarkan kilatan ancaman yang teramat dingin.

"Hei," bisik Dorris lagi, suaranya tajam menusuk. "Ini sudah cukup untuk membuatmu terbang selama seminggu penuh. Kalau kau ingin lebih, gunakan keahlianmu mengangkang untuk para sipir penjara di sini. Mungkin mereka akan membiarkanmu memakai hasil penyitaan... jika kau cukup hebat membuat mereka puas."

Sebelum tahanan nomor XX200 sempat membalas atau memaki, Dorris memberikan dorongan kasar pada lengan wanita itu melalui celah kaca, memintanya angkat kaki dari hadapannya.

Sipir penjara yang berjaga langsung menarik bahu sang mantan model dan menyeretnya keluar dari ruangan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di area parkir luar Lembaga Pemasyarakatan Utama yang berdebu, suasana terasa mencekat.

La Bonna membuang wajahnya ke arah lain saat sang ibu berontak dan memaksa ingin bertemu dengannya. Wanita tua itu menolak keras saat diarahkan menuju kendaraan yang berbeda, matanya bergerak liar mencari keberadaan putri bungsunya.

"Aku ingin bertemu putriku! Apa yang kalian lakukan padanya?!" jerit sang ibu histeris, menepis tangan dua petugas yang memegang lengannya. "Apa yang kalian minta darinya sampai kalian memberikannya imbalan pembebasan kami?! Kalian itu siapa?! Apa kalian anak buah mendiang suamiku?!"

Mata sang ibu akhirnya menangkap sosok La Bonna yang sedang berjalan menuju sebuah sedan hitam mewah.

"Bonna! Jangan pergi, Sayang! Jangan pergi, Nak!" teriak sang ibu, suaranya parau dan pecah oleh air mata. "Jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali lagi, Nak! Bonna!!"

La Bonna memejamkan matanya rapat-rapat di samping mobil. Ia mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras mengabaikan teriakan sang ibu yang memanggil namanya berulang kali.

Pintu mobil sedan dibuka dari dalam. Dorris Gate yang baru keluar dari gedung penjara melangkah santai dan masuk ke kabin belakang. La Bonna ikut masuk dan duduk di sebelah sang detektif. Pintu ditutup rapat, memotong sebagian besar suara jeritan di luar.

Dorris yang duduk di sebelah La Bonna tampak cukup menikmati drama ibu dan anak ini. Namun, ia menyadari bahwa waktu terus berjalan dan ia tidak punya banyak waktu luang. Ada hal-hal yang jauh lebih besar dan penting yang harus ia urus setelah ini.

"Jalan," perintah Dorris dingin pada sang supir.

Mesin sedan menderu pelan. Mobil melaju mulus meninggalkan pelataran lapas, bergerak menjauhi sang ibu yang masih berdiri pingsan-tidak-pingsan sembari meneriaki nama La Bonna di tengah kepulan debu jalanan.

Tiba-tiba, suara Dorris memecah kesunyian di dalam kabin mobil yang beraroma kulit mahal.

"Sayang sekali aku tidak bisa melihat drama ibu dan anak ini lebih lanjut," ucap Dorris sembari membetulkan lengan jasnya. Ia menatap La Bonna dari samping dengan senyum miring yang menyimpan misteri. "Kau seharusnya memberi salam perpisahan pada ibumu. Mungkin kau tidak bisa bertemu dengannya lagi setelah ini."

La Bonna membuka matanya pelan. Ia melirik sinis ke arah Dorris yang berada di sampingnya.

"Sudah kuduga kau akan menyuruhku melakukan hal yang mengancam nyawaku," kata La Bonna dengan nada suara yang teramat dingin. "Tugas apa yang harus aku lakukan nanti?"

Dorris hanya tersenyum tipis dan menyandarkan punggungnya ke jok. "Kau akan tahu nanti."

°°°

Mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah berbintang lima di pusat kota. Sesuai dengan kesepakatan mereka, Dorris memberikan La Bonna waktu satu malam untuk memulihkan diri sebelum tugas berdarah itu dimulai.

Begitu melangkahkan kaki ke dalam suite hotel yang luas, hal pertama yang La Bonna lakukan adalah mengunci pintu rapat-rapat. Ia tidak menyentuh makanan mewah yang disajikan di meja, tidak pula menyentuh kasur empuk yang sudah Berbulan-bulan tak dirasakannya.

La Bonna berjalan lurus menuju kamar mandi berdinding marmer.

Di dalam kamar mandi yang terang benderang oleh lampu hangat, La Bonna berdiri di depan cermin besar. Ia melepas pakaian tahanan kusam yang melekat di tubuhnya, membiarkan kain kotor itu jatuh bertumpuk di lantai.

La Bonna menatap dirinya di cermin. Hal utama yang ingin dilakukannya setelah sampai di apartemen suite ini adalah memotong rambutnya yang panjang hingga mencapai pinggang itu.

Sebelum mengambil gunting stainless steel yang terletak di dekat wastafel, ia mengamati tubuh telanjangnya di depan cermin. Tubuh indahnya yang dulu mulus tanpa cela kini dipenuhi lebam keunguan dan memar kehitaman—bekas pengeroyokan brutal dua minggu lalu di kantin penjara.

Luka-luka itu memetakan penderitaan, rasa hina, dan dendam yang membara di bawah kulitnya.

Ia kemudian menyambar gunting tajam tersebut dan melanjutkan niatnya: menggunting rambutnya.

Sret! Sret!

Satu genggam demi satu genggam, ia memotong rambut hitamnya secara kasar.

Rumpun-rumpun rambut itu jatuh menumpuk berceceran di lantai kamar mandi marmer yang putih. Suara gunting yang mengatap rambut bergema konsisten di dalam ruangan yang sunyi. La Bonna memotongnya tanpa keraguan, seolah-olah sedang membuang seluruh masa lalu dan kelemahan yang pernah melekat pada dirinya.

Setelah guratan terakhir selesai, La Bonna meletakkan gunting itu kembali ke pinggir wastafel. Ia mengangkat wajahnya dan menatap pantulannya kembali di dalam cermin.

Rambutnya kini sudah sangat pendek sebahu. Potongan acak-acakan itu justru membingkai rahang tegas dan matanya yang tajam dengan sangat sempurna. Lebam di wajahnya dan rambut sebahunya membuat rupa La Bonna De Luca tampak berbahaya, liar, dan tak lagi mudah dihancurkan.

Ia membusungkan dada, menyapu bersih sisa-sisa air mata dari masa lalunya.

Besok, permainan nekat bersama Detektif Dorris Gate akan dimulai, dan La Bonna sudah siap menjadi pemain paling beracun di dalamnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!