"Wulan, kenapa kau sebodoh itu? Apa kau kira pangeran ini menyukaimu? Jika kau bukan putri sah keluarga Ardani, apakah pangeran ini akan lebih memperhatikanmu?"
"Wulan! Bukankah cukup kau membunuh Nalendra?! Sakit sekali rasanya terkubur reruntuhan, menahan gerbang seorang diri. Kenapa bukan kau yang mati?"
"Apa gunanya kau? Pantas saja dia begitu memikirkanmu. Meski tak ada sejengkal pun tubuhnya yang tersisa, dia tetap ingin melindungi hidupmu. Mengapa kau pantas menerima semua itu?"
"Nona Ketujuh sungguh naif. Yang Mulia Pangeran Cendana telah berkomitmen seumur hidup untuk adikku. Adikku tak perlu memikirkannya. Dengan temperamen keras kepala dan manja sepertimu, bagaimana mungkin Yang Mulia menyukaimu?"
"Wulan, dengarkan kakakmu, berhentilah bersikap keras kepala. Jika kakakmu pergi kelak, kau harus hidup sendiri."
Udaranya sangat dingin hingga seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali. Air Danau Rinai yang membekukan mengalir menutupi kepalanya, bercampur pecahan es halus, meresap masuk ke hidungnya. Bau samar darah memenuhi mulutnya, dan di kejauhan terdengar teriakan putus asa para pelayan yang memanggil namanya. Kaki dan tangannya menendang sekuat tenaga, tetapi baju basah yang menempel itu menyeretnya semakin dalam menuju dasar danau yang gelap.
Kesadaran gadis yang mengambang di air dingin itu perlahan kabur. Anggota tubuhnya yang berjuang tanpa hasil mulai kaku dan lelah, tenggelam sedikit demi sedikit meski ia masih setengah sadar. Kegelapan tanpa ujung menyapu tubuhnya dan menelannya dalam sekejap, sebelum sisa-sisa dingin yang terakhir pun ikut lenyap.
---
Seperti mimpi maupun kenyataan, semua pemandangan masa lalu melintas di depan mata bagai kilat. Gadis yang meringkuk di atas pembaringan mengerutkan kening, menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah, membekaskan warna menyilaukan di wajah pucatnya. Air mata yang besar terus berjatuhan tanpa suara, membasahi bantal sutra di bawah pelipisnya, seolah duka bertahun-tahun hendak tumpah sekaligus dari tubuh kecil yang tak kuasa menahannya.
"Nona! Nona, bangunlah, wuwu—Nona!" Pelayan itu, yang setengah berbaring di sisi pembaringan, memegang tangan ramping tuannya dan menangis dengan air mata berderai.
Saat kesadaran yang kabur berangsur kembali, Wulan Ardani samar-samar mendengar tangis teredam itu. Ia ingin membuka mata, tetapi rasa sakit seperti tusukan jarum menjalar di sekujur tubuhnya; kelopak matanya terasa ditimpa beban yang berat. Pikirannya penuh kebingungan, sesak oleh suara-suara yang belum sepenuhnya hilang dari telinganya. Setelah beberapa kali berjuang tanpa hasil, ia membiarkan dirinya kembali tertidur lelap. Di ambang kesadaran itu, aroma obat pahit mengambang samar di udara, bercampur harum kayu cendana dari pembakar dupa di pojok ruangan — aroma-aroma yang familier, aroma kamar lamanya, sama sekali bukan aroma air laut yang menelannya.
Entah berapa lama kemudian, Wulan tiba-tiba gemetar dalam tidurnya, lalu membuka mata. Namun rasa sakit dari belakang kepalanya membuatnya tak kuasa menahan desahan, "Ah—"
Mendengar suaranya sendiri, ia terkejut. Hampir tanpa sadar ia menunduk dan melihat selimut sutra menutupi tubuhnya. Apakah... ia belum mati?
"Nona! Nona, kau sudah bangun!" Suara seorang gadis yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya menyadarkannya kembali.
Wulan menoleh ke arah sumber suara dan benar-benar tercengang saat melihatnya.
...Intan?!
Ia menggosok matanya karena tak percaya. Gadis menangis yang berlutut di depannya jelas merupakan gadis kecil yang telah bersamanya selama lebih dari sepuluh tahun, tetapi ia tampak jauh lebih muda dari terakhir kali ia melihatnya. Sanggul pelayan di kepalanya masih rapi, pipinya tembam dengan sisa-sisa air mata, dan seragam pelayan yang dikenakannya masih baru, belum tersentuh derita bertahun-tahun yang selalu ia ingat.
Bukankah Intan mati demi menyelamatkannya tiga tahun lalu?
"Nona, Nona, ada apa denganmu?" Intan merasa cemas melihat kebingungan di mata tuannya.
"Intan...?" Wulan menatap hampa.
"Ya! Hamba ini memang Intan!" Intan menyeka air mata di sudut matanya dan mengangguk putus asa.
Wulan menatapnya kosong, lalu tiba-tiba menyingkap selimut dan duduk. Ia memandangi dekorasi ruangan yang terasa akrab sekaligus asing. Taplak meja rias bersulam bunga, gorden sutra berwarna perak, hingga seikat bunga kering yang menggantung di dekat jendela — semuanya masih berada di tempatnya, seolah waktu tidak pernah berjalan di ruangan ini. Ini jelas kamar tidurnya sebelum ia berangkat meninggalkan rumah!
Apa yang terjadi? Wulan benar-benar bingung menghadapi apa yang terhampar di depannya. Ia jelas mati dibuang ke tengah laut, tetapi ketika terbangun, bukan hanya tubuhnya kering tanpa bekas luka, ia bahkan menyaksikan orang yang mati demi menyelamatkannya itu hidup kembali di hadapannya. Kepalanya terasa dipukul palu; logika menolak apa yang dilihatnya, tetapi kenyataan di depan matanya tak bisa dibantah. Jantungnya berdegup tidak keruan, bertubi-tubi seperti genderang sebelum pertempuran, dan rasa sakit di ubun-ubunnya berdenyut mengikuti irama itu.
Pikirannya kacau, dan rasa sakit di kepalanya semakin jelas. Wulan tak tahan dan menarik napas dalam-dalam. Mungkinkah ia sedang bermimpi, dan mimpi yang menyiksa itu tak kunjung usai? Pandangannya tiba-tiba gelap. Ia memejamkan mata karena tak nyaman dan membiarkan dirinya jatuh ke belakang.
Alih-alih jatuh ke bantal yang empuk, sebuah lengan yang agak ramping memeluk bahunya. "Wulan!"
Tubuh Wulan bergetar mendengar suara yang dikenalnya itu. Ia tiba-tiba membuka mata dan menatap sepasang mata cokelat muda yang penuh kekhawatiran.
"...Kakak Waskita?" Ia linglung, seakan tak percaya.
"Ya." Waskita menatapnya cemas, meletakkan mangkuk obat di tangannya yang lain ke atas meja di sisi pembaringan, lalu dengan hati-hati menyentuh kepalanya. "Wulan, apakah kepalamu masih sakit?"
"Kau... benar-benar Kakak Waskita?"
Waskita tertegun sejenak, lalu mengerutkan kening. "Wulan, ada apa denganmu? Apa kau tidak mengenaliku?"
Wulan kembali menatap Intan dengan tatapan kosong. "...Intan?"
"Nona, ini aku, Intan." Intan berlutut di sisi pembaringan. Melihat tuannya seolah kehilangan jiwa, ia hampir menangis. "Nona, jangan menakuti Intan! Intan akan memanggilkan tabib istana sekarang juga!" Sambil berkata begitu, ia menyeka air matanya dan berlari keluar dengan tergesa-gesa, nyaris tersandung ambang pintu karena gugup, hingga bunyi langkah kakinya menjauh hilang di ujung koridor.
Wulan masih termangu, tak mampu sadar untuk waktu yang lama.
Waskita menyentuh pipi pucatnya dengan sedih dan berbisik dengan suara tertekan penuh rasa tak berdaya. "Wulan, jika kau benar-benar tak ingin menikah, bisakah kau pergi memohon kepada Pangeran Senja? Biar kakak yang menemanimu menghadap Sultan, asal kau selamat. Kakak tidak tahan melihatmu kembali celaka."
"Menikah?" Wulan mengulanginya dengan hampa, seolah kata itu berasal dari bahasa yang sudah lama tidak ia kenal.
"Akan ada jalan. Kakak bisa membantumu mencari jalan. Tetapi kau harus berjanji tidak akan lagi melakukan hal berbahaya seperti menceburkan diri ke air. Kali ini pun kau nyaris kehilangan nyawamu, dan itu sudah cukup untuk membuat kakak kehilangan akal sehat."
Mendengar kata menceburkan diri dan menikah, pikiran Wulan akhirnya jernih. Tujuh tahun — tiga hari — angka-angka itu bertabrakan di kepalanya bagai pedang yang saling beradu. Ia tertegun sesaat, seakan tiba-tiba teringat sesuatu, wajahnya langsung pucat. Tujuh tahun. Tiga hari menjelang pernikahan yang ditetapkan dekret Sultan. Jika benar ia kembali ke titik itu, maka segalanya belum terjadi — Nenek Utari masih kuat berjalan, para kakaknya masih utuh, dan orang-orang yang kelak mempertaruhkan nyawanya demi dirinya masih hidup. Dengan penuh semangat ia meraih tangan Waskita dan berkata berulang kali, "Cermin! Kakak Waskita, berikan aku cermin itu!"
Waskita tertegun, tak mengerti maksudnya, tetapi tetap mengambilkan cermin perak dari meja rias.
Wulan buru-buru mengambilnya dan menatap ke dalam.
Bruk—
Cermin perak itu jatuh dari genggamannya dan menggelinding ke lantai dengan suara benturan yang tumpul.
Wulan tampak kaget. Orang yang ada di cermin jelas-jelas dirinya, tetapi jelas bukan dirinya!
Ia ingat betul: ketika berusia dua puluh dua tahun, ia tewas ditenggelamkan di laut, namun bayangan yang terpantul di cermin perak itu jelas tampak seperti anak berusia lima belas tahun. Lima belas tahun — usia di mana segalanya baru saja dimulai, usia di mana ia masih percaya bahwa mengejar Pangeran Cendana adalah jalan keluar dari pernikahan yang dibencinya.
Apakah ia telah kembali ke tujuh tahun yang lalu?!
"Wulan!" Waskita melihat ekspresinya dan sangat ketakutan sehingga segera memegang tangannya. "Ada apa denganmu?"
"Kakak Waskita." Wulan melihat ekspresi cemas dan penuh kasih yang tak bisa ia abaikan. Ia berbalik dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan kakaknya, matanya tak kuasa menahan rasa panas, suaranya tercekat oleh isak tangis. Seluruh pengalaman hidup yang belum sempat ia nikmati, seluruh penyesalan yang menumpuk selama bertahun-tahun, semuanya luruh dalam pelukan hangat itu. Ia pernah kehilangan pelukan ini satu kali — dan waktu itu, ia bahkan tidak sempat mengucapkan permisi, tidak sempat membalas satu pun kebaikan yang pernah diberikan kepadanya.
Waskita tertegun sejenak, dan kasih di matanya semakin kuat. Ia menepuk punggung Wulan dengan lembut sambil menghibur, "Sudah, tidak apa-apa. Wulan jangan takut. Kakakmu ada di sini."
Wulan menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang menggenang di matanya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di ambang pintu. Adipati Pramana yang tampak kuyu bergegas masuk sambil menopang Nenek Utari yang terhuyung-huyung di sampingnya. Cahaya lentera lorong masuk bersama mereka, membawa udara malam yang dingin dan aroma embun dari pepohonan jati di halaman. Begitu Nenek Utari melihat penampilan Wulan yang pucat dan lemah, ia tak kuasa menahan tangis dan berkata dengan pilu, "Wuri, biarkan nenek melihat, bagian mana yang tidak enak badan?"
Waskita buru-buru menyingkir dan memberi ruang bagi Nenek Utari.
Nenek Utari meneliti Wulan dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu mengambil saputangan bersulam untuk menyeka air matanya sendiri, menggenggam tangan Wulan erat-erat, dan berkata dengan suara yang bergetar, "Anakku yang baik, nenek tahu hatimu sedang menderita. Tetapi sebesar apa pun sakit yang kau rasakan, kau tidak boleh melakukan ini pada dirimu sendiri. Jika kau sampai kenapa-kenapa, bagaimana nenek bisa terus hidup, dan bagaimana nenek menjelaskan kepada ibumu yang sudah meninggal?" Air mata sang nenek menetes di punggung tangan Wulan yang digenggamnya erat, dan Wulan bisa merasakan genggaman itu bergetar — betapa takutnya sang nenek kehilangan dia untuk kedua kalinya.
"Nenek, Wuri sadar Wuri salah." Wulan merasakan kehangatan dari telapak tangan itu, dan matanya tak kuasa memerah. Orang-orang yang satu per satu ia anggap telah tiada kini tampak hidup kembali di hadapannya, membuat hatinya tak mampu menahan perasaan campur aduk. Betapa murahnya ia dulu menilai genggaman sederhana seperti ini. Kini, ketika orang-orang yang ia cintai bisa lagi ia lihat dan ia sentuh, ia tidak mau membuang walau satu detik saja dari setiap genggaman itu.
Setelah melihat bahwa tubuh Wulan masih sedikit lemah namun sudah tidak dalam bahaya, raut dingin di wajah Adipati Pramana perlahan surut. Ia melangkah maju dan berdiri di depan pembaringan, menatap Wulan dengan kecewa bercampur kesal. "Sekarang dekret Sultan sudah dikeluarkan, dan semua orang tahu kau menceburkan diri ke air untuk menolak dekret itu. Wuri, Wuri, kenapa kau sebodoh ini? Kau jelas-jelas ingin seluruh keluarga kehilangan tempat pemakaman!" Wajah Adipati yang biasanya tegar itu tampak bertambah tua beberapa tahun, seolah putri kecilnya nyaris membuat jantungnya berhenti sebelum waktunya. Uban di pelipisnya terasa lebih banyak daripada ingatan Wulan, dan tangan yang biasa menggenggam kendali kini hanya meremas ujung jubah dengan gelisah.
"Cukup." Nenek Utari melotot kepada putranya dengan tidak senang sambil bersandar pada tongkatnya. "Wuri baru saja sadar, apa lagi yang kau bicarakan!"
"Ibu, Ibu memang selalu tahu cara melindunginya. Kali ini ia nyaris membuat kesalahan besar. Jika tidak diberi pelajaran, langkah berikutnya ia mungkin berani pergi menghadap ke langit!" Adipati Pramana menatap dingin.
Wulan mundur seakan ketakutan, bersembunyi takut-takut di balik Nenek Utari, lalu mengangkat bahu dan menundukkan kepala mengakui kesalahannya dengan jujur. "Ayah, Wuri tahu Wuri salah." Bulu matanya berkaca-kaca, tetapi di balik pandangan yang turun itu ia mengamati reaksi ayahnya dengan tenang — kebiasaan lama yang kini terasa absurd, seperti memakai kostum dari kehidupan yang sudah usai.
"Kau tahu kau salah. Kau selalu berkata kau tahu kau salah. Kapan kau benar-benar tahu kau salah, Nak?" Adipati Pramana menatap putri bungsunya dengan penyesalan dan ketidakberdayaan.
Putri bungsunya dimanjakan sejak kecil. Ia tidak hanya tumbuh manja dan egois, tetapi juga memiliki temperamen yang sesuka hati. Adipati khawatir cepat atau lambat, putri kecilnya ini akan sangat menderita karenanya. Almarhumah isterinya dulu pernah berbisik padanya, gadis kecil ini hatinya terlalu lunak untuk dunia yang tajam — jagalah ia, jangan biarkan kelembutannya menjadi pintu bagi musibah.
"Ayah, Wuri benar-benar tahu Wuri salah." Mata Wulan masih merah karena menangis, tetapi kini ia menatap sang ayah dengan sendu dan menyedihkan. Kata-kata teguran yang hendak keluar pun tersangkut di tenggorokan Adipati, tak sanggup lagi diucapkan.
"Sudahlah, ayah macam apa kau ini? Ia tidak peduli dengan keadaan tubuh putrinya, malah menceramahi tiada henti begitu menangkap sesuatu." Nenek Utari memarahinya dengan marah, lalu berbalik menggenggam tangan Wulan lagi. "Sayangku, cucu nenek, jangan menangis, patuhlah."
Wulan mengingat dengan jelas bagaimana ia menceburkan diri. Tiga hari sebelum pernikahannya dengan Nalendra, ia dihasut oleh sepupunya, Aryati, putri dari rumah keluarga kedua, untuk melompat ke Danau Rinai di halaman belakang Puri Ardani. Saat itu ia masih muda dan naif, percaya bahwa cara mati-matian itu akan membuat Pangeran Cendana akhirnya menoleh kepadanya.
Udara awal musim dingin sangat dingin, dan Kota Pelantar berada di utara hingga terbentuk lapisan es tipis di permukaan Danau Rinai. Napas membeku menjadi kabut putih, dan pepohonan di tepi halaman bertelanjang kering, seakan ikut menahan napas menyaksikan kegilaan gadis itu. Ia menyesal begitu menceburkan diri. Ia berteriak minta tolong tetapi tak ada yang datang; Aryati telah menyiapkan diri, mengevakuasi semua dayang dan pelayan di sekitar danau.
Jika kakak keenamnya, Waskita, tidak memperhatikan gerak-geriknya sedari awal dan langsung menyelam menolongnya, hari itu ia benar-benar akan tewas kaku di dasar Danau Rinai. Sampai hari ini, detak jantungnya sendiri di bawah air masih sesekali terngiang kembali di telinganya, menuntunnya terbangun dengan napas tersengal di tengah malam.
Memikirkan hal ini, mata hitam cerah Wulan yang biasanya tenang berubah sedikit dingin. Sepupu itu telah meninggalkan kesan yang begitu dalam pada gambaran kehidupan lampaunya. Kali ini tidak akan ada panggung kedua. Apa pun langkah yang disiapkan Aryati, Wulan akan memastikan gadis itu kehabisan pintu.
Waskita, kakak keenam yang paling mencintainya sejak kecil, tidak hanya kehilangan nyawanya di kehidupan lampau karena kekeraskepalaan dan kesengajaannya, bahkan meninggal tanpa tubuh yang utuh. Pada akhirnya, ia bahkan tidak diizinkan masuk ke dalam silsilah keluarga Ardani. Nama yang dulu ditulis dengan tinta emas itu lenyap seketika, seolah orang itu tidak pernah lahir di rumah besar tersebut.
Di kehidupan sebelumnya, Wulan dilindungi dengan baik oleh keluarga dan kakak-kakaknya. Ia bukan hanya cuek terhadap urusan duniawi, tetapi juga menolak mendengarkan nasihat siapa pun. Meski Waskita dan Nenek Utari berulang kali memperingatkannya agar tidak terlalu dekat dengan gadis dari rumah keluarga kedua, saat itu ia hanya mengira kakak dan neneknya memandang rendah gadis selir itu. Ia tidak menyadari bahwa di balik senyum manis sepupunya tersimpan racun yang menunggu waktu. Baru setelah Nalendra tiada dan keluarganya berantakan, ia benar-benar melihat wajah asli sepupu ini.
Benar saja, kerabat terdekatlah yang paling menyakitkan, karena orang seperti itu tahu di mana letak pisau yang paling perih. Wulan mengingat dengan jelas hinaan yang diberikan Aryati kepadanya. Kini, karena diberi kesempatan untuk memulai dari awal lagi, ia tidak akan pernah membiarkan Aryati menggunakan dirinya sebagai tameng sekali lagi.
"Nona Ketujuh, sehebat apa pun kau tidak menyukai pangeran itu, kau tidak boleh menceburkan diri ke air untuk mencari mati. Jika orang lain mengetahuinya, bagaimana mereka akan memandang keluarga Ardani kita?" Suara wanita yang tajam terdengar dari ambang pintu. Langkahnya ringan namun terukur, dan harum bunga kemuning yang mengikutinya masuk lebih dulu ke dalam ruangan.
Benar juga pepatah: bicara tentang setan, setan datang. Baru saja Wulan memikirkan sepupu itu, ia mendengar suaranya yang datang dari pintu di kejauhan.
Tangan di balik lengan bajunya mengepal tanpa disadari. Wulan menundukkan bulu matanya dan dengan tenang menyembunyikan tatapan suram di matanya.
Skandal kabur dari pernikahan ini sudah lama diredam oleh Adipati Pramana. Kecuali beberapa orang di dalam keluarga, tak seorang pun mengetahuinya. Tetapi Wulan tahu, sepupu inilah yang membuat berita "Nona Ketujuh rela melompat ke air demi menghindari pernikahan" tersebar ke seluruh Kota Pelantar hanya dalam tiga hari, hingga menjadi bahan tertawaan orang-orang di ibu kota setelah jamuan makan, sementara Wulan sendiri menjadi bulan-bulanan di setiap perbincangan. Dari kedai teh sampai ke pasar, cerita itu dimutakhir dengan warna-warni yang makin tidak karuan, dan tak satu pun versi yang menggambarkan Wulan sebagai korban.
Waskita segera mengerutkan kening mendengar kata-kata Aryati. Saat ini, jika kata-kata itu didengar dan dimanfaatkan oleh orang yang punya maksud buruk, pasti akan menjadi masalah besar bagi Wulan. Keningnya mengerut semakin dalam; sejak tadi ia memperhatikan bagaimana sepupunya memilih kata seperti pedagang memilih barang dagangan.
"Wulan tidak mengerti maksud kata sepupu." Wulan menyimpan ketidakpedulian di matanya, memiringkan kepala dan tersenyum. "Akhir-akhir ini Kota Pelantar sering turun hujan dan salju, jalan bersalju di tepi Danau Rinai licin. Wulan tidak sengaja jatuh ke danau. Mengapa sepupu mengira Wulan melompat ke air untuk lari dari pernikahan? Kalau memang Wulan berniat kabur, pasti Wulan memilih cara yang jauh lebih rapi daripada menceburkan diri di musim sedingin ini."
Begitu kata-kata itu keluar, bukan hanya Aryati yang tercengang, Waskita, Adipati Pramana, dan Nenek Utari pun memandangnya heran, seakan tak percaya kata-kata itu keluar dari mulut gadis yang biasanya cengeng dan manja itu.
Namun, Wulan tidak peduli dengan raut wajah mereka. Ia hanya tersenyum lembut dan melanjutkan, "Orang-orang di Puri Ardani banyak jumlahnya, jadi sepupu sebaiknya berhati-hati dalam berkata dan bertindak."
"Kau... bukankah kau tidak ingin menikah dengan Pangeran Senja?" Aryati menatapnya bingung, seakan tak bisa menerima perubahan yang begitu mendadak.
"Oh?" Wulan mengangkat alisnya sambil tersenyum. "Sejak kapan aku mengatakan aku tidak ingin menikahi Nalendra?"
"Bukankah kau menyukai Pangeran Cendana?!" Mata Aryati berkilat curiga, dan tanpa sadar ia sedikit meninggikan suaranya.
Senyuman di wajah Wulan tiba-tiba memudar. Ia sedikit menyipitkan matanya, nadanya menjadi dingin dan tajam. "Sepupu, tolong jangan bicara omong kosong. Sekarang Nalendra dan aku akan segera menikah. Menurut sepupu, kenapa aku bisa menyukai Pangeran Cendana?"
"Kau..." Aryati tiba-tiba bergidik saat bertemu dengan tatapan tajam itu. Tanpa sadar ia menutup mulutnya dan tidak berani berkata apa-apa lagi.
Mengapa gadis Nona Ketujuh di hadapannya ini menjadi sedikit berbeda setelah jatuh ke air? Nona Ketujuh sebelumnya jelas tidak berkepribadian seperti ini. Biasanya ia hanya perlu membisikkan beberapa patah kata di telinganya, dan Nona Ketujuh akan mengikutinya tanpa ragu. Kuncinya sederhana: puji sedikit, hasut sedikit, lalu sorotkan bayang-bayang Pangeran Cendana. Selama ini kuncinya tidak pernah gagal.
Seperti saat jatuh ke air kali ini, ia hanya berbisik, "Yang Mulia Pangeran Cendana pasti akan tersentuh melihat kau rela mati demi dirinya." Lalu Nona Ketujuh pun menceburkan diri dengan patuh.
Sayangnya, semua itu gagal membunuh gadis ini. Aryati benar-benar tidak tahu apakah ia harus menyebutnya takdir, atau perlindungan Waskita yang terlalu ketat. Yang pasti, rencana yang sudah ia susun rapi itu kini runtuh berantakan di depan matanya.
Wulan tidak melewatkan keengganan dan penyesalan di matanya. Tebakannya benar. Sepupunya itu sama sekali tidak ingin ia berakting dalam drama yang menyedihkan — Aryati hanya ingin ia mati!
"Sepupu, Wulan masih ada urusan dengan sepupu." Meski kata-katanya demikian, nada bicara Wulan sama sekali tidak menunjukkan rasa sungkan, melainkan penuh kesejukan yang menindas.
"Apa?" Aryati berkata tanpa sadar, menatap Wulan yang seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin dan menindas.
"Setelah keluar dari pintu ini, aku tidak mau dan tidak ingin mendengar gosip apa pun tentangku." Wulan menatapnya dengan senyuman tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Apa maksudmu?" Aryati tak kuasa menciut di bawah tatapan yang nyaris menusuk itu. Ia punya firasat aneh, seolah Wulan mengetahui semua pikiran yang bersembunyi di hatinya.
Wulan mengerutkan bibirnya dan berkata dengan tegas, "Tidak ada arti apa-apa. Sepupu sendiri lebih tahu apa maksudku."
Bola mata Aryati tiba-tiba menyusut. Wulan benar-benar tahu niatnya untuk menyebarkan masalah ini.
Tak satu pun orang yang hadir itu bodoh. Adipati Pramana dan yang lain dengan cepat menebak seluruh cerita dari percakapan keduanya. Hampir seketika, wajah Adipati berubah dingin.
"Wuri, jangan khawatir. Jika ada anggota keluarga yang berani membocorkan masalah ini, ayah pasti akan memenggal kepala orang itu." Adipati Pramana memandang Wulan, tetapi kata-katanya jelas ditujukan kepada Aryati.
Aryati mendengar maksud di balik kata-kata itu dan langsung menggigil.
"Sepupu, sebaiknya kau tidak terlalu banyak ikut campur dalam urusan Wuri." Waskita berdiri di depan dan menghalangi pandangan Aryati kepada Wulan tanpa jejak sedikit pun.
"Benar kata Waskita." Nenek Utari berdiri dengan tongkatnya dan memandang Aryati dengan acuh tak acuh. "Tangan keluarga kedua mungkin terlalu panjang. Jaga baik-baik."
"Ya, Aryati akan menurut." Aryati mengertakkan gigi dan menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah penuh ketidakpuasannya. Jari-jarinya mencengkeram lipatan rok hingga memutih. Hari ini boleh ia pulang dengan tangan kosong; besok pagi, papan caturnya akan kembali terpasang — kali ini dengan jarak yang lebih rapat dan senyum yang lebih tebal. "Karena Nona Ketujuh dalam keadaan sehat, Aryati bisa merasa tenang. Untuk masalah ini, Aryati pamit dulu agar tidak mengganggu istirahat Nona Ketujuh."
Setelah mengantar Nenek Utari dan Adipati Pramana keluar hingga langkah mereka hilang di ujung koridor, Waskita berbalik dan duduk kembali di kursi bundar dari kayu jati di depan pembaringan. Ruangan yang barusan ramai kini kembali hening, hanya terdengar gemerisik api obor yang menyala redup di dinding. Seberkas cahaya jingga jatuh di wajah Wulan yang masih pucat, dan untuk sesaat Waskita merasa seperti baru saja menyaksikan keajaiban — adiknya yang nyaris mati kini bisa duduk dan berbicara kembali. Ia menghela napas panjang, merapikan kalimat yang hendak diucapkannya.
"Wulan, apakah kau benar-benar ingin menikah?" Waskita menatap raut wajah adik bungsunya, ragu-ragu sejenak, lalu melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di dadanya. Ia bukan tidak tahu bahwa perjodohan itu adalah dekret Sultan yang tak bisa ditolak, tetapi ia masih ingin mendengar jawaban dari mulut Wulan sendiri — apakah adiknya menikah karena terpaksa, atau karena memang menginginkannya. Ia tidak tega melihat Wulan menjalani hidup dengan pria yang dijauhi semua orang, jika itu dilakukan karena keterpaksaan.
Saat nama Nalendra disebut, bulu mata Wulan berkedip, lalu ia mengangguk tanpa ragu dan menatap kakaknya dengan sungguh-sungguh. "Kakak Waskita, aku sudah menemukan jawabannya. Aku benar-benar ingin menikah. Aku ingin menikah dengan Nalendra." Di dalam hatinya, kata-kata itu bukan sekadar jawaban — ia adalah sumpah yang ia ucapkan pada diri sendiri, sumpah untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah merenggut segalanya.
Waskita sedikit mengernyit mendengar jawaban itu, tetapi tak lama kemudian wajahnya rileks. Ia mengacak rambut Wulan dengan penuh kasih sambil tersenyum, "Tidak apa-apa, asal Wulan bahagia." Meski hatinya masih bertanya-tanya mengapa adiknya berubah begitu cepat, ia memilih untuk percaya. Selama adiknya tersenyum seperti ini, ia tidak akan menanyakan hal lain.
Saat langit mulai gelap, Waskita menemaninya menghabiskan makan malam dengan saksama. Sepanjang makan, ia mengamati setiap suapan yang masuk ke mulut adiknya, memastikan tidak ada satu pun yang terlewat, seolah ketakutan dua hari yang lalu membuat ia tak ingin kehilangan adiknya lagi. Wulan tahu, kakaknya selalu begitu — diam-diam memperhatikan, diam-diam berkorban, tanpa pernah mengharap balasan.
"Kakak Waskita, pergilah istirahat. Aku baik-baik saja." Wulan melihat kelelahan yang mengendap di kerut alis kakaknya, lalu mendesaknya kembali ke kamar. Selama dua hari ia tak sadarkan diri, kakaknya pasti menjaganya tanpa tidur nyenyak, menempuh setiap langkah dengan perasaan cemas yang tak bisa ia bayangkan. Bayangan itu kembali menyengat dadanya — di kehidupan lampau, kakak inilah yang mengorbankan nyawanya demi membereskan kekacauan yang ia tinggalkan. Air matanya nyaris tumpah, tetapi ia menahannya.
"Baiklah, biarkan Intan menutup jendela sebelum tidur. Hati-hati jangan masuk angin di malam hari." Waskita melihat adiknya dalam keadaan baik dan berpikir tidak ada masalah serius, lalu mengangguk mengikuti keinginannya, menyentuh bagian belakang rambut Wulan, dan bangkit pergi. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh, lalu berbisik, "Besok pagi kakak datang lagi. Jangan takut." Baru setelah itu langkahnya menjauh.
---
Setelah meninggalkan Puri Ardani dan berjalan pulang ke halaman keluarganya, amarah yang selama ini Aryati tahan akhirnya meledak. Mengapa! Gadis itu berasal dari latar belakang yang lebih baik, memperoleh segala kemudahan tanpa usaha, bahkan beruntung dipertunangkan dengan Pangeran Senja. Siapa yang menyangka Pangeran Senja — yang kedudukannya jauh lebih berharga daripada pangeran dan putri biasa, yang selalu dingin dan menjaga jarak, yang tak memedulikan siapa pun — justru menerima perjodohan dengan gadis ketujuh keluarga Ardani yang manja dan sesuka hati itu! Padahal ia, Aryati, yang selama ini mengagumi Pangeran Senja dari kejauhan, tidak pernah sekali pun mendapat kesempatan sedekat itu.
Aryati berharap bisa menggigit gigi peraknya hingga berkeping-keping. Keduanya sama-sama gadis dari keluarga Ardani, tetapi nasibnya bagai langit dan bumi! Hanya karena ayahnya hanyalah putra dari seorang selir, ia tidak pernah diizinkan tampil di panggung yang sama dengan Wulan. Sepanjang hidupnya, ia harus hidup dalam bayang-bayang nama gadis itu — belajar yang sama, bersolek yang sama, tetapi tak pernah sekalipun diperhitungkan.
Sama-sama gadis keluarga Ardani, tetapi ketika orang menyebut nama itu, yang teringat hanyalah Wulan Ardani — tak seorang pun tahu bahwa di kamar kedua keluarga itu masih ada Aryati. Bagaimana ia bisa berdamai dengan itu! Tatapan tajam muncul di matanya, dan Aryati mencibir dalam hati. Betapa pun berharganya status putri sah, sayangnya gadis itu berstatus tetapi tidak punya otak. Ia hanyalah gadis bodoh yang tak punya perasaan, dan kenaifannya itu kelak akan membawanya masuk ke dalam lubang. Apa pun hasil akhirnya, ia benar-benar harus menunggu dan melihat.
---
Sementara itu, di dalam kamar, Wulan mengenakan jubah bulu rubah biru langit, setengah bersandar di pembaringan, menatap ke luar jendela dengan bingung. Bulan yang nyaris purnama menggantung di langit yang membiru, memantulkan cahaya ke dedaunan pohon di halaman Puri Ardani. Baru sekarang ia benar-benar menerima kenyataan bahwa ia dilahirkan kembali, tetapi setelah dipikir-pikir, hatinya masih sulit percaya. Ia mengulurkan tangan dan mencubit lengannya dengan kuat. Rasa sakit yang menjalar dari tubuhnya nyaris membuatnya menangis.
"Sst—sakit!" Setelah beberapa saat, Wulan menyeka sudut matanya yang berkaca-kaca dan sepenuhnya menerima kenyataan. Ternyata apa yang dialaminya hari ini memang bukan mimpi, dan ia benar-benar berdiri lagi di titik tujuh tahun sebelum segala tragedi itu. Tiga hari lagi pernikahannya. Tiga hari lagi ia akan bertemu kembali dengan pria yang di dunia lain ia benci tetapi yang sebenarnya paling tulus padanya. Tangannya yang masih dingin perlahan mengepal, membulatkan tekad.
Setelah melamun beberapa saat, ia tiba-tiba merasakan sesuatu — semacam kehadiran asing yang membuat bulu kuduknya berdiri. Setelah sadar, ia menoleh ke arah pintu, dan tanpa diduga bertemu dengan sepasang mata elang yang dalam dan tajam.
Itu adalah sepasang mata elang yang sangat indah. Pupilnya dalam dan gelap, garis luarnya tegas dan dalam, dan sudut matanya yang sedikit terangkat tampak panjang dan berkelok-kelok. Sekilas, ia terasa seperti jatuh ke mata air pegunungan yang belum pernah dilihat ombaknya selama sepuluh ribu tahun — tenang, dalam, dan entah mengapa membuat jantungnya berdesir.
Itu dia...
Jantung Wulan tiba-tiba bergetar, dan dadanya merasakan sedikit nyeri yang tak terkendali. Sosok yang sudah sepuluh tahun tidak ia lihat itu kini berdiri di ambang pintu kamarnya, lebih hidup daripada bayangan yang selama ini menghantui tidurnya. Ia tidak tahu harus menangis, tertawa, atau hanya berdiri membeku.
Nalendra — Pangeran Senja, panglima yang memegang pasukan besar Bala Senja di Kesultanan Tirtaloka, saudara angkat Sultan Kanaka yang paling dicintai meski berbeda nama keluarga, dan juga... calon suaminya. Pria yang di kehidupan lampau ia tolak, ia hinakan, dan pada akhirnya ia berutang nyawa. Wulan menarik napas perlahan, menyusun senyum di wajahnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!