Indonesia
NovelToon NovelToon

Pengulangan Sang Master

Bab 1

Langit di atas Puncak Wuji tidak lagi memiliki warna.

Bukan karena gelap. Bukan karena badai. Melainkan karena di ketinggian itu, konsep seperti "warna" sudah tidak relevan lagi bagi seseorang yang berdiri di sana.

Mo Tianxia duduk bersila di atas batu yang telah retak akibat tekanan energinya sendiri selama tiga ratus tahun terakhir. Di bawahnya, benua-benua bergerak seperti debu yang ditiup angin. Bintang-bintang yang biasa disembah para kultivator sebagai dewa hanyalah titik-titik kecil yang bisa ia padamkan dengan sekali kedipan mata, jika ia mau...

...Ia tidak mau. Ia tidak pernah benar-benar menginginkan apa pun lagi.

'Sudah berapa lama sejak terakhir kali sesuatu membuatku terkejut?' Pertanyaan itu muncul begitu saja, seperti biasa. Ia mencoba mengingat. Seribu tahun yang lalu, mungkin. Ketika seorang bocah dari klan kecil berhasil menciptakan teknik pedang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia telah memuji bocah itu. Bocah itu kini sudah menjadi debu selama enam ratus tahun.

Mo Tianxia menghela napas. Bukan napas yang dibutuhkan tubuhnya—tubuhnya sudah melampaui kebutuhan bernapas sejak lama—melainkan kebiasaan yang tersisa dari masa ketika ia masih seorang manusia biasa.

Ia telah menaklukkan Sembilan Benua. Ia telah memahami tiga ratus enam puluh lima Dao yang tercatat, dan menciptakan dua yang belum pernah tercatat.

Ia telah mengalahkan setiap makhluk yang berani menantangnya, dan mengampuni jauh lebih banyak makhluk yang tidak berani.

Absolute Realm.

Nama itu terdengar megah bagi siapa pun yang mendengarnya. Bagi Mo Tianxia, nama itu hanyalah label yang diberikan orang lain untuk sesuatu yang tidak lagi memiliki batas untuk dijelaskan. Ia telah mencapai titik di mana kematian pun enggan mendekatinya.

'Menarik,' pikirnya, dengan nada yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. 'Aku bahkan tidak bisa mati dengan wajar.'

Ia mengangkat tangannya. Telapak tangan itu—tangan yang pernah membelah lautan, meruntuhkan gunung, dan menghentikan waktu di satu wilayah selama tujuh hari penuh—kini hanya digunakan untuk menyentuh permukaan dadanya sendiri.

Di sana, jauh di dalam, tersimpan sesuatu yang tidak pernah ia sentuh selama seribu dua ratus tahun terakhir.

Jiwanya.

Tidak ada kultivator yang pernah dengan sengaja menghancurkan jiwanya sendiri. Itu bukan bunuh diri dalam arti biasa—jiwa seorang kultivator di level Mo Tianxia tidak bisa lenyap begitu saja, tidak bisa "mati" dalam pengertian yang dipahami manusia fana. Yang bisa terjadi hanyalah pembongkaran. Penghapusan seluruh yang telah dibangun. Kultivasi, koneksi terhadap Dao, seluruhnya.

Kecuali satu hal.

Ingatan.

Mo Tianxia telah mempelajari cara memisahkan ingatan dari kultivasi—sebuah teknik yang bahkan tidak memiliki nama, karena tidak ada seorang pun sebelum dirinya yang pernah membutuhkannya.

'Jika aku benar-benar ingin merasakan sesuatu yang baru,' pikirnya, 'aku harus berhenti menjadi diriku yang sekarang.'

Ia menutup mata.

Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Tidak ada gemetar di tangannya. Seseorang yang telah hidup selama lebih dari seribu tahun, yang telah melihat kerajaan berdiri dan runtuh, yang telah menyaksikan sahabat dan musuh sama-sama menjadi debu, tidak lagi memiliki ruang untuk gemetar.

Ia menekan telapak tangannya ke dadanya sendiri. Cahaya keemasan yang menandakan keberadaan Absolute Realm mulai retak seperti kaca.

Rasa sakit yang muncul bukanlah rasa sakit fisik. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih dalam—perasaan seperti seribu tahun kehidupan sedang dilipat menjadi satu titik, lalu dihancurkan.

Namun di tengah kehancuran itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama...

Mo Tianxia tersenyum.

'Akhirnya,' pikirnya, saat kesadarannya mulai memudar, 'sesuatu yang tidak bisa kuprediksi.'

...-----...

Ia membuka mata. Bukan di Puncak Wuji. Bukan di antara bintang-bintang yang biasa ia lewati begitu saja.

Ia membuka mata di tengah hutan, dengan tanah lembap di bawah punggungnya dan suara serangga malam yang begitu keras hingga terasa asing di telinganya.

Ia mencoba menggerakkan tangan. Gerakan itu lambat. Canggung. Lemah. '...Apa ini?'

Ia mencoba menyalurkan Qi ke seluruh tubuhnya, sebuah gerakan yang biasanya tidak membutuhkan pemikiran sama sekali—semudah bernapas, bahkan lebih mudah. Namun yang ia rasakan hanyalah aliran energi yang sangat tipis, hampir tidak terasa, bergerak melalui jalur yang begitu sempit hingga terasa menyakitkan.

Body Tempering Realm.

Tahap pertama.

Mo Tianxia—atau lebih tepatnya, kesadaran yang dulu bernama Mo Tianxia—terdiam di dalam tubuh bayi yang baru saja lahir.

Tidak ada kekuatan.

Tidak ada status.

Tidak ada nama.

Hanya ingatan dari seribu dua ratus tahun kehidupan, terkunci di dalam tubuh yang bahkan belum bisa membuka matanya dengan sempurna.

Untuk pertama kalinya sejak ia mencapai Foundation Establishment Realm—ribuan tahun yang lalu—Mo Tianxia merasakan sesuatu yang hampir terlupakan.

Ketidakpastian.

Dan anehnya, ia tidak membencinya.

Bab 2

Mo Feng bukan pemburu yang beruntung.

Sudah tiga hari ia menyusuri Hutan Qingluo tanpa hasil. Jebakannya kosong. Jejak kelinci hutan yang biasa ia ikuti tiba-tiba menghilang begitu saja, seolah seluruh hewan di hutan itu sepakat untuk bersembunyi dari dirinya.

"Kalau begini terus," gumamnya sambil mengusap keringat di dahinya, "Su Wan pasti akan mengomel lagi malam ini."

Ia baru saja hendak berbalik untuk pulang dengan tangan kosong ketika suara tangisan bayi terdengar dari balik semak-semak.

Mo Feng membeku.

Di tengah hutan sedalam ini? Tidak ada desa dalam jarak sepuluh li. Tidak ada jalan setapak yang cukup lebar untuk dilalui gerobak. Suara itu jelas suara manusia, bukan hewan—ia sudah cukup lama tinggal di hutan untuk membedakannya.

Dengan hati-hati, ia mendekati sumber suara. Di antara akar pohon besar yang menonjol dari tanah, terbungkus dalam kain putih polos tanpa lambang keluarga atau sekte mana pun, seorang bayi laki-laki menangis dengan wajah memerah.

Mo Feng berlutut di sampingnya, ragu untuk sesaat. 'Anak siapa ini? Kenapa dibuang di tempat seperti ini?'

Ia melihat sekeliling. Tidak ada jejak kaki lain. Tidak ada tanda-tanda seseorang baru saja lewat. Seolah-olah bayi ini muncul begitu saja dari dalam tanah.

Bayi itu berhenti menangis tepat saat Mo Feng mengangkatnya. Matanya—sepasang mata hitam yang seharusnya belum bisa fokus pada usia sedini itu—menatap lurus ke wajah Mo Feng.

Mo Feng merasakan sesuatu yang aneh. Bukan rasa takut. Bukan juga firasat buruk. Melainkan perasaan seperti sedang ditatap oleh seseorang yang jauh lebih tua darinya, meski yang ia gendong hanyalah bayi berusia beberapa hari.

Ia menggelengkan kepala, mengusir pikiran anehnya sendiri.

"Baiklah," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Sepertinya aku pulang dengan tangan tidak kosong hari ini."

...-----...

Su Wan yang sedang mencuci didalam gubuk hampir menjatuhkan panci yang sedang ia cuci ketika suaminya masuk ke dalam gubuk sambil menggendong sesuatu yang jelas bukan hasil buruan. "Mo Feng, a-apa itu—"

"Aku menemukannya di hutan," Mo Feng menjelaskan cepat, seolah takut istrinya akan langsung menyuruhnya mengembalikan bayi itu. "Sendirian. Tidak ada siapa pun di sekitarnya."

Su Wan mendekat, mengamati wajah kecil yang kini tertidur tenang di pelukan suaminya.

Mereka sudah menikah delapan tahun. Tidak pernah dikaruniai anak, meski keduanya sudah mencoba berbagai cara—dari tabib desa hingga jimat yang dijual pedagang keliling yang belum tentu asli.

Su Wan mengulurkan tangan, menyentuh pipi bayi itu dengan lembut. Bayi itu membuka matanya sedikit, lalu menggenggam jari Su Wan dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran bayi baru lahir.

Air mata mengalir di pipi Su Wan sebelum ia sempat menahannya.

"Kita rawat dia," katanya, suaranya bergetar namun tegas. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."

Mo Feng tersenyum lega. Ia sebenarnya sudah memutuskan hal yang sama sejak pertama kali mengangkat bayi itu dari tanah hutan, hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.

"Kita perlu memberinya nama," kata Mo Feng.

Su Wan berpikir sejenak, masih tidak melepaskan pandangannya dari wajah kecil itu.

"Tianxia," gumamnya akhirnya. "Mo Tianxia."

"Kenapa nama itu?" Tanya Mo Feng.

Su Wan tersenyum, meski ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti mengapa nama itu muncul begitu saja di benaknya.

"Entahlah," katanya. "Rasanya... cocok untuknya."

Di dalam pelukan itu, kesadaran yang telah hidup lebih dari seribu tahun mendengar nama barunya untuk pertama kali.

'Mo Tianxia,' pikirnya. 'Penguasa Dunia.'

Ia hampir tertawa jika tubuhnya mampu melakukannya. 'Ironis sekali.'

Bab 3

Tiga tahun berlalu di gubuk kecil di tepi Hutan Qingluo.

Desa Qingluo bukan tempat yang istimewa. Penduduknya sebagian besar petani dan pemburu, hidup dari hasil ladang gandum dan buruan hutan yang semakin hari semakin sulit didapat. Tidak ada kultivator yang tinggal di sana. Tidak ada sekte yang mengawasi wilayah itu secara langsung. Hanya kehidupan sederhana yang berjalan sesuai musim.

Bagi penduduk desa, Mo Tianxia adalah anak yang tenang. Terlalu tenang, menurut sebagian dari mereka.

Anak-anak seusianya menangis ketika terjatuh. Mo Tianxia hanya melihat lukanya, mengukur seberapa dalam, lalu berdiri kembali tanpa suara.

Anak-anak seusianya takut pada gelap. Mo Tianxia justru sering duduk di depan gubuk pada malam hari, menatap bintang-bintang dengan ekspresi yang sulit dibaca oleh orang dewasa sekalipun.

Su Wan pernah bertanya suatu malam, "Tianxia, kenapa kau suka menatap langit?"

Mo Tianxia kecil menoleh, tersenyum kecil—senyuman yang menurut Su Wan terlihat terlalu dewasa untuk anak seusianya.

"Karena langit tidak berubah, Ibu," jawabnya. "Aku suka hal-hal yang tidak berubah."

Su Wan tidak sepenuhnya mengerti maksud jawaban itu, tetapi ia membiarkannya. Anaknya memang berbeda. Namun ia berbeda dengan cara yang baik—tidak pernah rewel, selalu membantu sebisanya, dan memiliki kesabaran yang jarang dimiliki anak-anak lain.

Yang tidak diketahui Su Wan, dan tidak akan pernah ia ketahui, adalah bahwa di balik mata anak kecil itu tersimpan ingatan tentang seribu dua ratus tahun kehidupan.

'Aneh,' pikir Mo Tianxia, mengamati tangannya sendiri yang masih terlalu kecil untuk memegang pisau dapur dengan benar. 'Aku pernah menggenggam pedang yang bisa membelah gunung. Sekarang aku bahkan kesulitan memegang sendok.'

Ia tidak merasa kesal karenanya. Ia hanya merasa... geli. Seperti menonton lelucon yang hanya bisa ia mengerti sendiri.

Selama tiga tahun ini, ia sengaja tidak menunjukkan apa pun yang mencurigakan. Ia bergerak selambat anak seusianya. Ia berbicara sesederhana anak seusianya, meski kadang ia harus menahan diri agar tidak menggunakan kosakata yang terlalu rumit untuk anak berusia tiga tahun.

Namun ada satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Matanya.

Ketika Mo Tianxia mengamati sesuatu—cara api membakar kayu, cara air mengalir di sungai kecil dekat desa, cara burung terbang melawan arah angin—matanya berubah. Tidak ada rasa takjub kekanak-kanakan di sana. Yang ada hanyalah analisis yang tenang, seolah ia sedang membaca ulang sesuatu yang sudah ia pahami sejak lama.

Chen—seorang tabib tua yang sesekali mampir ke desa untuk mengobati penduduk—pernah memperhatikan hal ini ketika mengunjungi keluarga Mo Feng.

Ia menatap mata bocah kecil itu cukup lama, lalu menggelengkan kepala sendiri.

"Bukan apa-apa," gumamnya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Hanya anak yang cerdas."

Ia tidak tahu betapa dekatnya ia dengan kebenaran—dan betapa jauhnya juga.

Mo Tianxia mendengar gumaman itu dari seberang ruangan. Ia hanya tersenyum kecil, kembali menundukkan kepala ke arah mainan kayu sederhana yang sedang ia mainkan, berpura-pura tidak mendengar apa pun.

'Sedikit lagi,' pikirnya. 'Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi.'

Ribuan tahun kesabaran seorang kultivator di puncak dunia, kini digunakan untuk menunggu tubuhnya sendiri tumbuh cukup besar untuk memegang pedang kayu dengan benar.

Namun entah kenapa, ia tidak keberatan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!