Angin dingin menderu kencang menyapu dinding tebing curam Lembah Kematian, tempat yang tak ada seekor burung pun berani terbang melintas. Kabut kelabu yang pekat menyelimuti lembah itu sepanjang waktu, menyembunyikan bahaya yang mengintai di balik setiap rimbunan semak belukar berduri, celah-celah bebatuan yang tajam bagaikan bilah pisau, serta bayangan gelap yang sesekali bergerak pelan di balik rimbunan pepohonan tua yang batangnya tampak keriput dan menyeramkan. Tanah di lembah itu berwarna merah kecokelatan seakan telah direndam darah selama ribuan tahun. Udara yang terhirup terasa dingin dan menyengat, membawa bau busuk dan bau logam yang tajam, seakan tempat itu telah menjadi kuburan besar bagi siapa pun yang berani melangkah masuk tanpa kekuatan yang cukup untuk melindungi nyawanya sendiri.
Di atas hamparan batu tajam yang berlumuran darah segar, terbaring seorang pemuda berpakaian lusuh penuh luka menganga yang terus meneteskan cairan merah perlahan ke tanah yang sudah berwarna kemerahan. Pemuda itu mengenakan jubah berwarna biru pudar yang dulunya adalah seragam kebanggaan sekte. Kainnya kini robek di sana-sini, penuh noda darah dan debu. Wajahnya yang tampan dan tenang kini pucat pasi, penuh luka goresan dan noda darah yang mengering di sudut bibirnya. Ia adalah Lin Mo. Dulu nama Lin Mo adalah kebanggaan sekte dan harapan besar keluarga, pemuda yang dipuja dan diprediksi akan mencapai puncak tertinggi dalam jalan kultivasi di masa mendatang. Banyak orang memujinya, banyak orang mematuhinya, dan banyak orang menaruh harapan besar padanya. Namun hari ini, nama itu telah menjadi sampah yang dibuang ke tempat paling berbahaya di dunia, seakan tak pernah memiliki arti apa pun bagi siapa pun. Seakan semua pujian dan penghormatan yang dulu diberikan kepadanya hanyalah kepalsuan yang runtuh seketika saat kekuatannya dirampas dan nyawanya dianggap tak lagi berharga.
Darah merah terus menetes dari luka dalam di dada Lin Mo, jatuh membasahi tanah yang tampak haus akan cairan kehidupan itu. Racun yang diberikan oleh orang yang paling ia percayai sedang menyebar dengan cepat ke seluruh pembuluh darahnya, membakar daging dan tulang bagaikan api panas yang tak kunjung padam. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan seakan paru-parunya sedang diremas dan dibakar secara bersamaan. Pembuluh darah di seluruh tubuhnya tampak menonjol dan berwarna kehitaman, menandakan betapa berbahayanya racun yang merajalela di dalam sana. Napas Lin Mo terasa berat dan tersengal-sengal, seakan setiap helai napas yang diambilnya adalah sisa-sisa nyawa yang perlahan meninggalkan tubuhnya yang lemah dan penuh luka. Namun di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, sepasang matanya yang masih terbuka perlahan menatap ke atas, menembus kabut samar menuju puncak tebing tempat ia jatuh tak lama berselang. Di sana, berdiri dua sosok yang menatap ke bawah dengan wajah sedingin batu es, tanpa sedikit pun rasa iba atau penyesalan. Cahaya matahari yang menyinari kedua sosok itu seakan tak mampu menyentuh hati mereka yang telah membeku oleh keserakahan dan kejahatan.
Sosok pertama adalah wanita yang wajahnya cantik dan lembut, namun tatapan matanya kini tampak datar dan dingin, seakan orang yang terbaring sekarat di bawah sana hanyalah sebutir debu yang tak berarti baginya. Wanita itu adalah Xu Yao, tunangan Lin Mo yang telah dijagokan sejak kecil, wanita yang pernah berjanji akan mendampingi Lin Mo hingga ke ujung dunia, wanita yang pernah berkata bahwa tak ada harta maupun kekuatan yang mampu memisahkan mereka. Namun janji itu ternyata hanyalah kepulan asap yang hilang tertiup angin begitu saja saat kekuatan dan kekuasaan tampak lebih menarik untuk diraih.
Di samping Xu Yao berdiri sosok kedua, seorang pemuda berwajah tampan namun matanya menyimpan kesombongan dan kebusukan yang tak tersembunyikan. Ia adalah Lin Tian, kakak angkat Lin Mo yang selama ini tampak ramah dan penuh perhatian, namun sebenarnya telah menyimpan rasa iri dan kebencian yang mendalam sejak lama. Lin Tian selalu merasa hidup dalam bayang-bayang Lin Mo. Ia selalu merasa lebih rendah dan dipandang sebelah mata dibandingkan Lin Mo. Rasa iri itu perlahan tumbuh menjadi kebencian yang pekat, dan kesempatan yang dinantikannya akhirnya tiba saat ia berhasil bekerja sama dengan Xu Yao untuk meracuni Lin Mo secara diam-diam selama berbulan-bulan lamanya. Mereka berdua itulah yang diam-diam mencuri hak waris dan kekuatan darah Lin Mo, dan akhirnya melemparnya ke jurang maut agar tak ada satu pun saksi yang tersisa untuk mengungkap kejahatan keji mereka.
"Lin Mo... maafkanlah aku... sesungguhnya aku tak berniat berbuat sekejam ini padamu..." suara Xu Yao terdengar samar tertiup angin yang menderu, nada bicaranya terdengar lemah dan penuh kepalsuan yang menyakitkan hati jauh lebih tajam daripada luka di tubuhnya. "Kekuatan darahmu itu seharusnya milik Lin Tian... dan aku... aku membutuhkan kekuatan itu agar bisa berdiri sejajar dengannya... Jadi pergilah dengan tenang... Jangan menungguku lagi... Mulai hari ini, tak ada lagi Xu Yao yang mengenal Lin Mo..."
Lin Tian yang berdiri di samping Xu Yao tersenyum bangga, lalu tertawa dingin seakan mendengar hal yang paling lucu di dunia. Suara tawanya terdengar tajam dan penuh penghinaan yang menusuk hingga ke tulang sumsum.
"Adikku yang bodoh dan naif! Kau memang terlalu lemah hatinya dan terlalu polos pikirannya untuk menguasai kekuatan besar yang mengalir di dalam tubuhmu. Kau percaya kepada semua orang yang tersenyum di hadapanmu tanpa pernah menyadari apa yang tersembunyi di balik senyuman palsu itu. Dunia ini bukan tempat untuk orang sepertimu. Dunia ini milik orang yang kuat dan tak berhati lembut. Kebaikan hatimu justru menjadi alasan yang tepat untuk membuangmu. Matalah kau di bawah sana dan lupakanlah semua yang pernah kau miliki. Mulai saat ini, nama Lin Mo sudah mati dan dikubur bersama tubuh busukmu. Yang hidup dan bersinar terang di langit sekte mulai hari ini hanyalah namaku! Dan Xu Yao... wanita yang pernah kau cintai dengan segenap hatimu itu... akan menjadi milikku sepenuhnya!"
Xu Yao berdiri di samping Lin Tian tanpa menolak sedikit pun. Ia bahkan tersenyum tipis dan merangkul lengan Lin Tian dengan penuh keakrapan, seakan tak pernah ada janji yang diucapkannya kepada Lin Mo di bawah sinar rembulan yang dulu menjadi saksi kesetiaan mereka. Pemandangan itu menyakiti hati Lin Mo jauh lebih dalam daripada luka-luka yang menganga di sekujur tubuhnya. Pengkhianatan dari dua orang yang paling dipercaya dan dicintai seumur hidup ternyata jauh lebih menyakitkan daripada racun yang sedang mematikan tubuhnya perlahan-lahan.
Dua sosok itu akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan tebing tanpa menoleh sekali pun, seakan apa yang baru saja mereka lakukan hanyalah membuang sebutir debu yang tak berharga dari ujung jubah mereka. Langkah kaki mereka menjauh perlahan hingga bayangan mereka hilang tertutup kabut dan dinding tebing yang menjulang tinggi. Tinggallah Lin Mo sendirian di dasar lembah yang sunyi dan mengerikan, terbaring di atas batu tajam yang terus menekan luka di punggungnya.
Lin Mo tidak menangis. Ia tidak mengerang kesakitan. Air matanya tak menetes satu pun. Yang keluar dari bibirnya yang berdarah hanyalah suara lemah namun penuh tekad yang tak akan pernah patah seumur hidupnya. Suara itu terdengar pelan namun tegas di tengah deru angin yang menderu kencang seakan ikut menyaksikan janji sucinya.
"Aku tidak akan mati... Aku Lin Mo tidak akan mati di sini..." ucap Lin Mo perlahan, setiap kata terucap dengan teguh dan tak tergoyahkan meskipun rasa sakit terus menyergap kesadarannya. "Kalian semua yang telah mengkhianati, meracuni, dan mencampakkanku seperti sampah yang tak berharga... tunggulah saat aku kembali mendaki puncak tebing tempat kalian berdiri dengan angkuhnya hari ini. Saat itu tiba... aku akan kembali dengan kekuatan yang tak mampu kalian bayangkan... Aku akan membuat kalian berlutut di hadapanku dan menyesali perbuatan kalian dengan air mata darah. Dan penyesalan itu akan menjadi hukuman yang kalian tanggung seumur hidup, tak akan pernah terhapus hingga nyawa kalian tercabut dari tubuh yang hina itu!"
Seketika setelah janji itu terucap, secercah cahaya keemasan samar-samar muncul dari luka menganga di dada Lin Mo. Cahaya itu bukan milik racun yang sedang menyebar. Cahaya itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri — sesuatu yang tersembunyi sejak kelahirannya, terkunci rapat dan tak pernah terbangun sebelumnya, dan baru kini menyala perlahan saat nyawanya berada di ambang pintu kematian. Cahaya itu perlahan menyelimuti seluruh tubuh Lin Mo, mengalir lembut namun luar biasa kuat menyusuri setiap pembuluh darah dan celah tulang, menetralkan racun yang merajalela, menyembuhkan luka yang menganga, dan membakar segala kelemahan yang membelenggunya selama ini. Rasa sakit yang luar biasa perlahan digantikan oleh rasa hangat yang nyaman dan kekuatan yang terus mengalir deras bagaikan sungai yang tak pernah kering. Cahaya keemasan itu semakin terang dan pekat, membentuk siluet samar sosok naga raksasa yang melayang di belakang tubuh Lin Mo sejenak sebelum menyatu kembali ke dalam darah dan dagingnya.
Di dalam sanubari dan kesadaran Lin Mo, tiba-tiba terdengar suara berat dan bergema bagaikan guntur yang membelah langit luas, suara kuno yang seakan telah tertidur ribuan tahun dan kini kembali menyapa dunia dengan wibawa yang tak tertandingi.
"Roh yang teguh... darah yang tak tunduk... Kau telah membangkitkan aku dari tidur panjang ribuan tahun... Anak manusia yang bernama Lin Mo... Darah kuno yang mengalir di tubuhmu ternyata belum mati... Terimalah warisanku... terimalah kekuatan Naga Abadi... dan bangkitlah untuk menuntut apa yang telah dirampas darimu... Biarlah langit dan bumi menyaksikan... bahwa keturunan Darah Naga tak akan pernah tunduk kepada siapa pun..."
Lin Mo merasakan sesuatu yang luar biasa terjadi di dalam dirinya. Sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah secara mendasar. Pembuluh darah yang rusak pulih kembali menjadi jauh lebih kuat dan kokoh. Tulang-tulangnya yang rapuh karena racun kini tampak bercahaya dan sekeras logam tertinggi. Energi yang mengalir di dalam tubuhnya kini bukan lagi energi biasa yang dipelajari di sekte. Itu adalah energi murni kuno yang berasal dari masa-masa awal penciptaan dunia, energi yang tak dimiliki oleh siapa pun di zaman ini. Cahaya keemasan itu semakin terang benderang hingga menyelimuti seluruh lembah yang gelap dan suram, mengusir kabut kelabu yang selama ini menutupinya, membuat lembah maut itu seketika tampak bersinar keemasan bagaikan surga yang tersembunyi.
Dan di saat itu juga, di dalam tubuh Lin Mo yang hampir binasa, ada sesuatu yang baru saja lahir kembali dari kematian dengan wibawa yang cukup untuk menggetarkan seluruh dunia. Lin Mo perlahan menutup matanya. Namun kali ini bukan untuk selamanya. Ia menutup matanya untuk menyatukan jiwa dan kekuatan yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya. Napasnya yang tersengal-sengal perlahan menjadi tenang, dalam, dan kuat. Cahaya keemasan di tubuhnya perlahan meredup kembali menyembunyi di dalam aliran darahnya, menyatu dengan setiap jengkal daging dan darahnya, menunggu saat yang tepat untuk memancarkan sinarnya kembali ke langit luas.
Lin Mo tetap terbaring di sana untuk waktu yang lama. Namun tubuhnya kini tak lagi tampak sekarat. Luka-lukanya perlahan menutup sempurna tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Wajahnya yang pucat kini kembali bercahaya dan tampak semakin tegas dan berwibawa. Saat ia akhirnya membuka kedua matanya perlahan, sepasang mata itu kini memancarkan cahaya keemasan yang samar namun tajam dan dalam, seakan mampu menembus segala kegelapan dan melihat jauh ke masa depan. Lin Mo berdiri perlahan, kakinya yang semula lemah kini menapak kokoh di atas batu tajam yang tak lagi melukainya. Ia menatap ke arah puncak tebing tempat ia jatuh, menatap ke arah tempat di mana dua orang pengkhianat itu berdiri menatapnya dengan penghinaan tak lama berselang.
"Aku kembali..." ucap Lin Mo pelan namun tegas, suaranya bergema lembut namun penuh kekuatan yang tak terlihat. "Tunggulah aku... Lin Tian... Xu Yao... dan semua orang yang pernah menghinaku... Saat aku kembali mendaki tebing itu kelak... dunia yang kalian kenal akan berubah. Dan saat itu tiba... jangan pernah memohon belas kasihan kepadaku... Karena belas kasihan itu telah kalian kubur sendiri di dasar lembah ini bersama nyawaku yang kalian kira telah binasa."
Lin Mo melangkah perlahan menembus kabut tebal yang kini tak lagi menghalangi pandangannya. Di hadapannya terbentang jalan panjang yang penuh bahaya dan tantangan. Namun Lin Mo tak lagi takut. Di dalam dadanya kini mengalir darah Naga Abadi. Di dalam jiwanya kini bersemayam kekuatan kuno yang tak tertandingi. Dan di pundaknya kini terbebani janji yang harus ditepati secepat mungkin. Pengkhianatan itu baru permulaan. Perjalanan pembalasan dendam yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan tak ada satu pun makhluk di langit maupun di bumi yang mampu menghentikan langkah kaki Lin Mo yang telah bangkit dari kematian dengan kekuatan dewa purba yang terbangun kembali.
Lin Mo melangkah perlahan menembus kabut tebal yang menyelimuti Lembah Kematian. Udara dingin yang sedetik lalu terasa menyengat hingga ke tulang, kini seakan tak lagi mampu menyentuh kulitnya. Setiap langkah kakinya yang menapak di tanah berlumuran darah dan bebatuan tajam terasa ringan namun kokoh, seakan ada kekuatan tak kasat mata yang melindunginya dari segala bahaya yang mengintai di setiap sudut lembah mengerikan itu. Cahaya keemasan samar yang sempat menyelimuti tubuhnya kini telah menyatu sempurna ke dalam aliran darahnya, menyembunyikan wibawa luar biasa itu dari pandangan siapa pun yang tak pantas melihatnya. Namun Lin Mo sendiri dapat merasakannya dengan sangat jelas — kekuatan yang kini mengalir di dalam dadanya jauh melampaui apa pun yang pernah diketahui atau dipelajarinya selama bertahun-tahun di sekte. Kekuatan itu bukanlah seni bela diri biasa yang dipelajari dari buku atau diajarkan oleh guru. Itu adalah kekuatan yang lahir bersama langit dan bumi, kekuatan yang telah ada sejak zaman purba ketika para dewa dan makhluk suci masih berjalan di atas dunia ini.
Saat Lin Mo berjalan menyusuri jalan sempit yang berkelok di antara tebing-tebing batu yang menjulang tinggi, ia mulai menyadari perubahan-perubahan luar biasa yang terjadi pada tubuh dan kesadarannya. Pandangan matanya kini mampu menembus kegelapan pekat seakan diterangi cahaya terang benderang. Jarak yang dulunya tampak jauh dan samar, kini terlihat begitu dekat dan jernih hingga Lin Mo mampu melihat urat-urat daun yang tumbuh di dinding tebing tinggi sekalipun. Pendengarannya pun menjadi tajam luar biasa. Suara tetesan air dari celah batu, derap langkah binatang buas yang berjarak berlipat-lipat jauh, bahkan detak jantung makhluk-makhluk kecil yang bersembunyi di balik tanah, semuanya terdengar jelas dan teratur bagaikan bunyi yang berdentang di telinganya sendiri. Dan yang paling luar biasa, Lin Mo dapat merasakan aliran energi di sekelilingnya. Ia dapat merasakan kekuatan yang tersimpan di dalam bebatuan, di dalam air yang mengalir, di dalam pepohonan tua, dan di dalam udara yang berhembus menyapu wajahnya. Semua itu kini seakan menjadi bagian dari dirinya sendiri, seakan alam semesta telah membukakan pintu rahasianya lebar-lebar di hadapan Lin Mo yang baru saja mewarisi darah Naga Abadi.
Lin Mo berhenti sejenak di tepi sungai kecil yang airnya tampak keruh dan berbau menyengat karena racun yang menyebar ke seluruh lembah. Ia menatap bayangannya sendiri di permukaan air yang tenang. Wajahnya masih sama — wajah yang dulu sering dipandang rendah dan disepelekan oleh banyak orang karena terlihat terlalu lembut dan pendiam. Namun kini, di balik wajah yang tenang itu, sepasang matanya menyimpan kedalaman yang tak terukur dan cahaya keemasan samar yang sesekali melintas di bawah pelupuk matanya, mengingatkannya pada kekuatan luar biasa yang kini mengalir di dalam pembuluh darahnya. Lin Mo perlahan mengangkat kedua tangannya. Dengan sekejap mata, air sungai yang keruh dan beracun itu tiba-tiba bergerak naik melawan hukum alam, membentuk pilar air yang melayang di udara tepat di hadapan telapak tangannya. Cahaya keemasan samar menyelimuti pilar air itu, dan dalam sekejap, segala kotoran dan racun yang terkandung di dalam air itu terpisah keluar dan jatuh kembali ke sungai, menyisakan air yang jernih dan murni bagaikan air mata air yang baru saja muncul dari dalam tanah.
Lin Mo tertegun sejenak melihat apa yang baru saja dilakukannya. Ia sama sekali belum berlatih atau mempelajari cara menggunakan kekuatan itu. Namun begitu ia menginginkannya, kekuatan itu langsung merespons seketika, patuh dan tak tertahankan. Seakan-akan tubuhnya telah terbiasa dengan kekuatan tersebut sejak ribuan tahun yang lalu, dan kini hanya menunggu waktu agar kembali teringat dan digunakan sesuai kehendak hatinya.
"Ini... kekuatan apa yang begitu dahsyat?" gumam Lin Mo pelan suaranya terdengar rendah namun penuh kekaguman sekaligus tekad yang semakin kuat. "Suara itu berkata... ia adalah Naga Abadi... bahwa darah kuno di tubuhku ternyata belum mati... Jadi selama ini, kekuatan yang mengalir di dalam tubuhku bukanlah milik keluarga Lin maupun milik sekte..."
Lin Mo perlahan menyadari satu hal besar yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Selama ini, semua orang mengira kekuatan yang dimilikinya berasal dari warisan keluarga dan ajaran sekte. Mereka mengira bahwa racun yang merusak inti sari kekuatannya beberapa bulan lalu telah merampas segalanya dan membuatnya menjadi orang biasa yang tak berdaya. Namun ternyata, kekuatan yang sesungguhnya telah tersembunyi jauh lebih dalam, terkunci rapat di dalam darahnya sendiri, menunggu saat yang tepat untuk terbangun kembali. Dan saat itu tiba tepat ketika nyawanya berada di ambang pintu kematian, di saat semua orang mengira ia telah binasa dan tak akan pernah kembali.
"Lin Tian... Xu Yao... Kalian kira telah merampas segalanya dariku..." ucap Lin Mo perlahan menatap jauh ke arah puncak tebing yang samar terlihat di kejauhan. "Kalian kira telah merampas masa depanku dan membuatku hancur tak berdaya. Namun kalian sama sekali tidak tahu... bahwa apa yang kalian ambil hanyalah sebutir debu saja dibandingkan dengan apa yang kini mengalir di dalam tubuhku. Kalian telah membukakan pintu bagi kekuatan yang kalian sendiri tak akan pernah mampu hadapi. Tunggulah... tunggulah saat aku kembali berdiri di hadapan kalian..."
Belum sempat Lin Mo melanjutkan ucapannya, suara gemuruh dahsyat tiba-tiba terdengar dari arah hutan belantara yang lebat di sebelahnya. Tanah di bawah kakinya ikut bergetar hebat seakan ada gempa bumi yang datang tiba-tiba. Pepohonan besar berguncang hebat dan dedaunan berjatuhan berhamburan ke segala arah. Dari balik rimbunan pepohonan tua yang gelap, tiba-tiba melesat keluar sesosok bayangan besar berwarna kelabu tua yang melesat dengan kecepatan luar biasa menuju ke arah Lin Mo. Itu adalah Binatang Iblis Tingkat Tinggi yang telah lama bersemayam di Lembah Kematian, makhluk buas yang kejam dan kuat luar biasa, yang keberadaannya saja cukup untuk membuat siapa pun yang melintas di lembah itu ketakutan dan melarikan diri secepat mungkin.
Binatang itu melompat tinggi ke udara lalu menerjang ke bawah dengan mulut yang terbuka lebar memperlihatkan taring-taring tajam yang berkilauan. Napas yang keluar dari mulutnya berbau busuk dan panas, disertai gelombang kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batu-batu besar berkeping-keping. Binatang itu melancarkan serangan dengan penuh niat membunuh, seakan ingin melahap hidup-hidup pemuda yang melintas di wilayah kekuasaannya tanpa rasa takut sedikit pun.
Namun di mata Lin Mo, serangan yang tampak mengerikan dan mematikan itu justru terlihat lambat dan penuh celah. Karena penglihatan dan kesadarannya kini telah ditingkatkan berkali-kali lipat oleh kekuatan Naga Abadi yang mengalir di dalam dirinya, setiap gerakan binatang buas itu terlihat begitu jelas dan terukur bagaikan air yang mengalir tenang. Lin Mo tidak mundur. Ia tidak berusaha melarikan diri. Ia bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Hanya sepasang matanya yang menatap tajam ke arah binatang besar itu yang sedang meluncur jatuh tepat ke arahnya dengan kecepatan penuh.
Saat taring-taring tajam itu hampir menyentuh wajahnya, Lin Mo akhirnya mengangkat satu tangan ke depan dan menangkis serangan itu dengan telapak tangannya yang terbuka. Tidak ada teriakan, tidak ada gerakan yang berlebihan. Hanya satu gerakan sederhana yang dilakukan dengan tenang dan mantap.
Terdengar suara dentuman keras yang memekakkan telinga. Cahaya keemasan memancar keluar dari telapak tangan Lin Mo membentuk perisai tak kasat mata yang menahan serangan dahsyat binatang itu seketika. Tubuh besar binatang buas itu terpental mundur seketika bagaikan daun kering yang diterjang badai. Ia berguling-guling di tanah hingga menabrak belasan pohon besar yang tumbang berantakan sebelum akhirnya berhenti dengan napas yang terengah-engah dan mata yang melotot penuh rasa takut yang luar biasa. Binatang itu menatap pemuda yang berdiri tenang di kejauhan, dan seketika itu juga, ia merasakan tekanan yang begitu berat dan mengerikan datang dari sosok pemuda itu — tekanan yang seakan berasal dari penguasa tertinggi di antara semua makhluk hidup. Binatang itu gemetar hebat sekujur tubuhnya. Ia merasakan aura keagungan dan kekuasaan Naga yang tak tertandingi, aura yang membuatnya merasa kecil dan tak berdaya bagaikan seekor semut di hadapan gunung yang menjulang tinggi.
Lin Mo melangkah perlahan mendekati binatang besar itu. Setiap langkah kakinya jatuh dengan tenang namun tekanan yang ditimbulkannya semakin berat menindih tubuh binatang itu hingga ia tak mampu bergerak sedikit pun. Binatang buas yang kejam dan buas itu kini hanya bisa bergetar ketakutan, menatap pemuda yang mendekat dengan tatapan yang tenang namun menggetarkan jiwanya.
"Kau ingin membunuhku?" tanya Lin Mo pelan suaranya rendah namun terdengar jelas di telinga binatang itu seakan berdenting bagaikan guntur. "Namun kekuatanmu belum cukup untuk itu. Bahkan seluruh kekuatan yang kau miliki tak berarti apa-apa di hadapan kekuatan yang kini bersamaku."
Binatang itu seakan mengerti maksud ucapan Lin Mo. Ia menundukkan kepalanya yang besar dan mengerikan itu ke tanah dengan penuh ketundukan dan rasa hormat yang mendalam. Aura keagungan Naga yang memancar dari tubuh Lin Mo telah menaklukkan jiwa buasnya seketika tanpa perlu pertarungan yang panjang dan melelahkan.
Lin Mo berhenti tepat di hadapan binatang itu. Ia menatap mata binatang buas itu dengan pandangan yang tenang namun tegas.
"Aku tidak akan melukaimu," ucap Lin Mo perlahan. "Namun mulai hari ini, kau akan menemaniku keluar dari lembah ini. Kau akan menjadi saksi perjalananku. Dan kelak, kau akan melihat dengan matamu sendiri bagaimana dunia yang telah mencampakkanku akhirnya tunduk dan gemetar ketakutan menyambut kedatanganku."
Binatang itu seakan mengangguk patuh. Ia berdiri perlahan dan merendahkan punggung besarnya ke tanah seakan mempersilakan Lin Mo untuk menaiki punggungnya. Lin Mo menatapnya sejenak, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia melangkah maju dan duduk di atas punggung binatang buas itu. Seketika itu juga, binatang itu berdiri tegak dan melesat membawa Lin Mo melintasi hutan belantara dengan kecepatan luar biasa, menembus kabut tebal dan kegelapan pekat, menuju jalan keluar dari Lembah Kematian yang selama ini tak ada satu pun orang yang berani harapkan untuk kembali hidup-hidup.
Di atas punggung binatang buas yang melesat cepat menembus lembah, Lin Mo menatap ke depan dengan pandangan yang tajam dan tak tergoyahkan. Di hadapannya masih terbentang jalan yang sangat panjang dan penuh bahaya. Ia tahu bahwa kekuatan yang dimilikinya saat ini baru permulaan. Ia masih harus memahami cara mengendalikannya, masih harus menempa jiwanya agar seimbang dengan kekuatan besar yang dipunyainya. Dan di luar sana, di puncak gunung tempat sekte berada, masih menantinya dua orang pengkhianat yang sedang bersukacita mengira ia telah binasa. Masih menantinya dunia yang penuh kebencian, keserakahan, dan kejahatan yang harus dibersihkan.
Namun Lin Mo tidak merasa takut sedikit pun. Di dalam dadanya kini mengalir darah Naga Abadi. Di dalam jiwanya kini bersemayam kekuatan purba yang tak tertandingi. Dan di pundaknya kini terbebani janji suci yang harus ditepati.
"Lin Tian... Xu Yao... Tunggulah kedatanganku..." ucap Lin Mo pelan di tengah hembusan angin yang menerpa wajahnya. "Aku tidak akan datang sendirian dengan tangan kosong. Aku akan datang membawa kekuatan yang tak mampu kalian pahami. Dan saat aku kembali berdiri di hadapan kalian... penyesalanlah yang akan menjadi hukuman abadi bagi kalian berdua."
Binatang buas itu melesat semakin cepat meninggalkan bagian terdalam lembah. Cahaya keemasan samar sesekali memancar dari tubuh Lin Mo yang duduk tenang di atas punggung binatang itu, menyinari jalan di hadapannya yang gelap dan berbahaya. Dan jauh di atas puncak tebing yang menjulang tinggi, langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah mendung seketika. Angin kencang berhembus menderu seakan-akan alam semesta sendiri sedang bersiap menyambut kedatangan seseorang yang baru saja bangkit dari kematian dan akan kembali untuk menuntut haknya yang telah dirampas dengan keji.
Binatang buas berwarna kelabu tua itu melesat cepat menembus kabut tebal Lembah Kematian. Tubuhnya yang besar dan tegap membelah semak belukar dan bebatuan tajam seakan tak menemukan rintangan apa pun di hadapannya. Di atas punggungnya, Lin Mo duduk tenang tanpa sedikit pun terguncang meskipun kecepatan yang dibawa sungguh luar biasa. Angin kencang yang menerpa wajahnya tak lagi terasa menyakitkan atau menyengat. Justru sebaliknya, angin itu seakan menyapa dan melingkar lembut di sekeliling tubuhnya, seakan mengakui kehadiran sosok yang kini mengalirkan darah Naga Abadi di dalam nadinya. Lin Mo menatap lurus ke depan, sepasang matanya yang jernih namun memancarkan cahaya keemasan samar mampu menembus kegelapan pekat dan kabut yang tak tertembus oleh pandangan makhluk biasa. Di dalam hatinya, tak ada rasa takut atau ragu. Yang ada hanyalah tekad yang semakin mengeras bagaikan logam yang ditempa berkali-kali hingga mencapai kekokohan yang tak tergoyahkan.
Selama perjalanan itu, Lin Mo terus memejamkan mata sebagian, membiarkan kesadarannya menyatu dengan kekuatan yang kini mengalir deras di dalam tubuhnya. Ia mulai memahami bahwa kekuatan yang diwarisinya itu bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari dari buku atau diajarkan oleh seseorang. Kekuatan itu adalah bagian dari hakikat keberadaannya sendiri yang terkunci rapat sejak lahir. Setiap kali Lin Mo menginginkannya, energi murni dari alam semesta seakan langsung merespons seketika, mengalir masuk ke dalam pembuluh darahnya, menyempurnakan setiap jengkal daging dan tulangnya, serta membentuk fondasi kekuatan yang jauh lebih kokoh dibandingkan apa pun yang pernah ia pelajari selama bertahun-tahun di sekte. Lin Mo menyadari bahwa apa yang dimilikinya saat ini hanyalah permulaan. Di dalam darahnya masih tersembunyi kekuatan yang jauh lebih dahsyat dan luar biasa, yang baru akan terbangun perlahan seiring bertambahnya kekuatan dan kedewasaan jiwanya.
Tak lama kemudian, bayangan tebing tinggi yang menjadi batas keluar-masuk Lembah Kematian mulai tampak samar di kejauhan. Cahaya matahari pagi yang keemasan menyelinap menembus celah-celah bebatuan, menyinari puncak tebing yang menjulang tinggi menembus awan. Di atas tebing itulah tempat ia berdiri sehari sebelumnya, mendengar pengakuan pengkhianatan yang begitu kejam dari dua orang yang paling ia percayai seumur hidupnya. Dan kini, setelah melewati maut dan bangkit kembali dengan kekuatan dewa purba, Lin Mo kembali mendaki tebing itu — bukan lagi sebagai orang yang lemah dan tak berdaya yang dibuang begitu saja, melainkan sebagai seseorang yang patut ditakuti dan disegani oleh siapa pun yang melihatnya.
Binatang buas itu akhirnya berhenti tepat di bawah dinding tebing yang curam dan tinggi. Ia menundukkan kepalanya besar dengan penuh rasa hormat seakan menyadari bahwa perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai dari tempat ini. Lin Mo melompat turun dari punggung binatang itu dengan gerakan ringan dan tenang. Ia menatap ke arah puncak tebing yang samar terlihat di atas sana, lalu menoleh ke arah binatang buas yang menatapnya dengan tatapan tunduk dan setia.
"Tetaplah menunggu di sini untuk sementara waktu," ucap Lin Mo pelan namun tegas. "Aku harus naik ke atas sendirian. Dan saat aku kembali, barulah kita melanjutkan perjalanan yang jauh lebih panjang."
Binatang itu seakan mengerti maksud ucapannya. Ia mengangguk perlahan lalu mundur perlahan kembali menyusup ke dalam bayangan hutan belantara yang rimbun, siap menunggu perintah tuannya kapan pun diperlukan. Lin Mo menarik napas panjang sekali, menyerap energi murni dari alam yang segar dan jernih ke dalam dadanya, lalu melangkah maju menuju dinding tebing yang curam itu. Tanpa menggunakan tangannya, tanpa menapakkan kaki ke batu-batu yang menonjol, tubuh Lin Mo perlahan melayang naik ke atas dengan tenang dan mantap seakan kakinya menapak pada tanah yang datar dan kokoh. Cahaya keemasan samar melingkar di kakinya, menopang tubuhnya yang melesat naik dengan kecepatan yang tak dapat dilihat oleh mata biasa. Dalam sekejap mata, sosoknya telah menghilang di puncak tebing yang tinggi menjulang itu.
Sesampainya di puncak tebing, Lin Mo mendarat dengan lembut di atas tanah yang sama tempat ia berdiri sehari sebelumnya. Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa pakaiannya yang sederhana namun kini tampak berkilauan samar diterpa cahaya matahari. Lin Mo berdiri di sana sendirian, menatap ke arah kompleks bangunan Sekte Cahaya yang tampak megah dan bersih di kejauhan. Di tempat itulah ia dibesarkan. Di tempat itulah ia pernah hidup, berharap, dan dipercaya. Dan di tempat itulah pula ia dikhianati, dirampas haknya, dan akhirnya dibuang ke lembah maut seakan tak pernah berarti apa-apa.
Belum lama berdiri di sana, empat orang murid penjaga yang sedang berpatroli di area itu tiba-tiba melihat kehadiran Lin Mo. Mereka saling berpandangan sejenak, wajah mereka berubah menjadi pucat pasi seketika bagaikan melihat hantu yang kembali dari kuburnya. Mereka yang menyaksikan sendiri bagaimana Lin Mo dilempar jatuh ke jurang sedalam itu tak mungkin masih hidup. Namun kenyataannya, pemuda yang seharusnya sudah binasa itu kini berdiri tegak di hadapan mereka, dengan wajah yang tenang dan tubuh yang utuh tanpa luka sedikit pun.
Salah seorang dari mereka yang paling berani akhirnya melangkah maju sambil menunjuk Lin Mo dengan tangan gemetar. Wajahnya tampak bercampur antara takut dan tak percaya, namun rasa sombong yang tertanam di hatinya masih mendorongnya untuk melontarkan kata-kata kasar dan penghinaan seperti yang biasa mereka lakukan selama ini.
"Sialan... Apakah kau hantu atau manusia? Bagaimana mungkin kau masih hidup?! Kau seharusnya sudah hancur berkeping-keping di dasar lembah itu!" bentak pemuda itu dengan suara bergetar namun tetap berusaha tampak garang. "Berani sekali kau muncul kembali di sini! Apakah kau datang untuk memohon belas kasihan kepada kami agar kami tidak melemparmu untuk kedua kalinya? Dengarkan baik-baik ya, anjing yang selamat dari maut! Di sini tak ada tempat bagi sampah sepertimu! Pergilah sebelum kami melaporkan kedatanganmu kepada Lin Tian dan membiarkan dia menghancurkanmu hingga tak bersisa!"
Tiga orang lainnya ikut menertawakan dan melontarkan makian kasar seakan apa yang baru saja mereka katakan adalah hal yang paling benar dan wajar. Mereka sama sekali tidak menyadari perubahan besar yang telah terjadi pada diri pemuda yang berdiri tenang di hadapan mereka itu. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa aura yang dipancarkan oleh Lin Mo saat ini, meskipun ditekan sekuat tenaga, tetaplah begitu berat dan menindih hingga membuat napas mereka terasa sesak dan keringat dingin mulai menetes di punggung mereka.
Lin Mo berdiri diam di tempatnya. Ia tidak melangkah maju. Ia tidak pula melontarkan satu kata pun hingga makian-makian kasar itu akhirnya mereda sendiri. Saat keempat pemuda itu selesai berbicara dan menatapnya dengan tatapan penuh penghinaan, barulah Lin Mo perlahan membuka bibirnya. Suaranya rendah namun terdengar jelas dan tegas di telinga setiap orang yang hadir, seakan suara itu berdenting di udara dan menekan langsung ke dada mereka.
"Kalian masih belum paham dengan keadaan yang sebenarnya," ucap Lin Mo pelan namun setiap kata terasa berat bagaikan gunung kecil yang menindih dada mereka. "Kalian menghinaku karena kalian mengira aku telah kembali untuk memohon belas kasihan. Kalian salah besar. Aku kembali bukan untuk meminta sesuatu dari kalian. Aku kembali untuk menuntut apa yang telah dirampas dariku. Dan jika kalian tidak menyingkir dari hadapanku saat ini juga... maka kalian akan menanggung akibatnya sendiri."
Keempat murid itu mendengar ucapan itu seketika meledak dalam tawa yang penuh penghinaan dan kemarahan. Mereka merasa semakin disepelekan dan merasa bahwa pemuda yang berdiri di hadapan mereka itu pasti telah gila karena terjatuh dari tebing dan selamat secara ajaib. Salah seorang dari mereka yang bertubuh besar dan kuat akhirnya melangkah maju dengan wajah merah padam menahan amarah. Ia mengepalkan tangannya erat-erat sambil menatap Lin Mo dengan tatapan penuh niat membunuh.
"Anak gila yang tak tahu diri! Berani sekali kau bicara dengan nada setinggi itu kepada kami! Karena kau sudah kembali hidup-hidup, maka hari ini kami akan memastikan bahwa kau tak akan pernah bisa melangkah pergi dari sini! Kami akan mematahkan kedua kakimu dan menyeretmu kembali ke hadapan Lin Tian agar dia melihat betapa hinanya nasibmu yang berusaha tampak sombong!" bentak pemuda itu sambil melesat maju mengayunkan kepalan tangannya yang diselimuti energi kekuatan yang cukup kuat untuk menghancurkan batu yang keras.
Ketiga orang lainnya berdiri di belakang sambil tertawa dan menunggu-nunggu saat di mana pemuda itu akan jatuh tergeletak berdarah di tanah. Namun apa yang terjadi sesaat kemudian sama sekali di luar dugaan mereka semua. Saat kepalan tangan itu hampir menyentuh dada Lin Mo, pemuda itu hanya melirik sekilas dengan tatapan yang dingin dan datar. Seketika itu juga, gelombang kekuatan yang dahsyat meledak keluar dari tubuh Lin Mo tanpa ia menyentuh lawannya sedikit pun.
Suara dentuman keras terdengar memekakkan telinga. Keempat murid itu terpental mundur secara bersamaan bagaikan ditabrak oleh gunung yang meluncur deras. Mereka terlempar jauh hingga menabrak tanah dan berguling-guling sebelum akhirnya berhenti dengan napas terengah-engah, wajah pucat pasi, dan mulut yang mengeluarkan darah segar. Keempat orang itu menatap pemuda yang masih berdiri tegak di tempat yang sama dengan mata terbelalak penuh ketakutan yang luar biasa. Mereka sama sekali tidak melihat bagaimana cara pemuda itu melakukannya. Mereka bahkan tidak merasakan adanya pergerakan apa pun dari tubuh pemuda itu. Namun mereka terpental seakan ditabrak oleh kekuatan yang tak terbayangkan.
Lin Mo melangkah perlahan mendekati mereka yang terbaring lemah di tanah. Setiap langkah kakinya jatuh dengan tenang namun tekanan yang ditimbulkannya semakin berat menindih dada keempat orang itu hingga mereka tak mampu bergerak sedikit pun. Lin Mo berhenti tepat di hadapan mereka, menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang jernih namun dingin dan menggetarkan jiwa.
"Aku tidak melukaimu karena kalian hanyalah orang yang tidak tahu apa-apa," ucap Lin Mo pelan namun tegas suaranya terdengar berat dan menekan ke dalam hati mereka. "Namun sampaikanlah pesanku kepada Lin Tian dan Xu Yao. Katakan bahwa Lin Mo telah kembali. Katakan bahwa apa yang mereka rampas dariku... kelak akan kutuntut kembali seribu kali lipat lebih banyak. Dan saat aku datang menuntut pembalasan itu... jangan pernah memohon belas kasihan kepadaku."
Lin Mo melangkah melewati sisi mereka dan terus berjalan lurus menuju gerbang utama Sekte Cahaya yang kini tampak megah dan penuh kesibukan di kejauhan. Keempat murid itu masih terbaring di tanah dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuh mereka. Mereka menatap punggung pemuda yang berjalan menjauh itu dengan pandangan penuh ketakutan yang tak mampu mereka sembunyikan. Di dalam hati mereka, satu hal kini telah mereka pahami dengan sangat jelas. Pemuda yang mereka hina dan anggap sampah itu kini telah berubah menjadi seseorang yang jauh lebih kuat dan jauh lebih mengerikan daripada siapa pun yang pernah mereka temui seumur hidup. Dan kedatangannya hari ini hanyalah awal dari badai besar yang akan menghancurkan segala kesombongan dan kejahatan yang bersembunyi di balik kemegahan Sekte Cahaya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!