Indonesia
NovelToon NovelToon

Terlahir Kembali: Mengubah Takdir Cinta Kita

Kembali Ke Masa Lalu

Napasnya memburu, seiring dengan matanya yang membelalak menatap langit-langit kamar bernuansa putih bersih. Bau khas antiseptik langsung menusuk indra penciumannya. Alexa Steviola terpaku. Ia mengenali ruangan ini. Ini adalah kamar rawat inap sebuah rumah sakit swasta yang pernah ia tempati tahun lalu atau lebih tepatnya, di kehidupan sebelumnya.

​Dada Alexa berombak kencang. Jemarinya yang gemetar pelan-pelan turun menyentuh bagian perutnya. Ada tonjolan besar di sana.

​Tubuhnya seketika bergetar hebat. Air mata menetes begitu saja membasahi pipinya yang pucat. Ia kembali. Tuhan benar-benar memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun tepat beberapa jam sebelum kematian mengenaskannya dalam kecelakaan mobil yang menghancurkan tubuh dan masa depannya. Kematian konyol yang dipicu oleh obsesi gilanya sendiri.

​Di kehidupan lalu, Alexa begitu memuja suaminya, Lucas Damarion Clinton. Ia terlalu percaya diri bahwa cinta mati yang ia miliki bisa melelehkan es di hati pria itu. Alexa bersikeras menggoda, menempel, dan menuntut perhatian tanpa henti, tanpa menyadari bahwa setiap tindakannya justru membuat Lucas merasa risih, muak, dan jijik.

​Hubungan mereka sejak awal memang beracun. Lucas sebenarnya adalah tunangan dari Catherine, bibi Alexa sendiri. Alexa yang dipenuhi rasa iri karena menganggap Catherine selalu merebut perhatian keluarga, nekat menjebak Lucas hingga malam malapetaka itu terjadi. Pernikahan terpaksa digelar karena Alexa hamil. Keluarga besar membencinya, mengutuknya sebagai perusak hubungan orang lain.

​Hati Alexa semakin hancur mengingat nasib malang bayi di dalam kandungannya di kehidupan lalu. Saat usianya menginjak delapan bulan, Alexa nekat terbang sendirian ke Sydney hanya karena mendengar kabar bahwa Catherine berada di sana untuk sesi pemotretan dan Lucas sedang ada tugas bisnis di kota yang sama. Dibakar cemburu buta, Alexa mengabaikan peringatan dokter. Akibatnya, fisiknya drop parah dan janin di dalam kandungannya meninggal di dalam rahim sebelum sempat melahirkan ke dunia.

​Alexa mengusap perutnya dengan penuh penyesalan dan kasih sayang. Kepalanya menggeleng pelan.

​"Maafkan Mama, Sayang..." bisiknya lirih dengan suara serak.

"Kali ini Mama berjanji... Mama tidak akan melakukan hal bodoh lagi. Mama akan lindungi kamu."

​Soal Lucas? Alexa menghela napas panjang, meresapi rasa sesak yang perlahan mengikis egonya. Ia harus tahu diri. Lucas tidak pernah menjadi miliknya. Pria itu adalah milik Catherine yang ia rebut secara paksa. Sudah sepantasnya ia melepas impian konyolnya. Kali ini, ia akan membuang jauh-jauh perasaannya pada Lucas. Ia hanya perlu fokus pada kesehatan diri sendiri dan bayi dalam kandungannya, lalu berpisah secara baik-baik jika waktunya tiba.

​Klek.

​Pintu kamar inap mendadak terbuka, ​sesosok pria tinggi berwajah tegas melangkah masuk. Kulitnya yang kecokelatan eksotis, dipadu dengan postur tubuh tegap berotot di balik kemeja formal yang tergulung hingga siku, memancarkan aura dominan yang sangat kuat. Pria yang mampu membuat wanita mana pun bertekuk lutut.

​Lucas Damarion Clinton.

​Alexa berdecih sangat pelan di dalam hati. Betapa beruntungnya Catherine dicintai oleh pria sesempurna ini. Namun detik berikutnya, Alexa langsung menetralkan ekspresi wajahnya. Tatapannya menatap lurus ke depan, kosong dan datar.

​Lucas menghentikan langkahnya di ujung tempat tidur. Alis tebalnya menyipit tajam. Ada sesuatu yang aneh. Biasanya, begitu ia melangkahkan kaki melewati pintu, Alexa akan langsung ngerocos tanpa henti. Wanita itu pasti akan mendesah manja, menanyakan alasan kenapa ia terlambat datang, berpura-pura kesakitan, atau melakukan segala cara untuk menarik perhatiannya.

​Namun kali ini, Alexa hanya diam. Bibir wanita itu terkunci rapat, seolah keberadaan Lucas di dalam ruangan sama sekali tidak mempengaruhi atmosfer di sekitarnya.

​Lucas berdeham pelan, memecah kesunyian yang membendung di antara mereka. Suaranya berat dan dingin.

​"Bagaimana keadaanmu?" tanya Lucas singkat.

​Alexa mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Lucas, lalu kembali menatap jemarinya yang saling bertaut di atas perut.

​"Sudah lebih baik," jawab Alexa dengan nada suara yang teratur, tenang, dan tanpa intonasi manja yang biasa ia buat-buat.

"Dokter menyuruhku istirahat, besok sudah boleh pulang."

​Lucas memiringkan kepalanya sedikit. Sikap acuh tak acuh Alexa terasa begitu asing. Pria itu menarik kursi di samping tempat tidur dan duduk dengan gerakan santai namun tetap terkesan mengintimidasi.

​"Kamu tidak ingin bertanya kenapa aku baru datang?" pancing Lucas, mengamati setiap celah reaksi di wajah istrinya.

​Alexa menggeleng pelan. "Tidak. Aku tahu kamu sibuk dengan urusan pekerjaanmu."

"​Dan mungkin urusan Catherine," tambah Alexa dalam hati, namun ia memilih menyimpannya sendiri. Tidak ada gunanya memunculkan pertengkaran yang hanya akan menguras energinya.

​Lucas menyilangkan kakinya. "Dokter bilang tekanan darahmu sempat naik tadi pagi. Apa yang membuatmu stres?"

​"Hanya kelelahan biasa," balas Alexa datar.

"Kurang tidur."

​"Bukan karena berita tentang Catherine?" tanya Lucas langsung pada intinya, menatap Alexa dengan pandangan menguji.

​Di kehidupan sebelumnya, setiap kali nama Catherine disebut, Alexa akan langsung meledak-ledak, menangis, atau melemparkan barang-barang di sekitarnya. Namun sekarang, reaksi Alexa benar-benar di luar dugaan.

​Alexa menatap mata abu-abu gelap milik suaminya tanpa ada sedikit pun kilatan emosi.

"Kenapa harus karena Bibi Catherine? Dia punya kehidupannya sendiri, dan aku punya kehidupanku."

​Lucas bungkam sejenak. Mata tajamnya menyelusuri raut wajah Alexa, mencari tanda-tanda kebohongan atau drama baru yang sedang direncanakan wanita itu. Namun yang ia temukan hanyalah kelelahan yang mendalam dan ketenangan yang tidak biasa.

​"Kamu berubah, Alexa," ujar Lucas pelan. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

​"Orang bisa berubah kapan saja, Lucas," sahut Alexa tenang.

"Lagipula, bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu selalu risih kalau aku terlalu banyak bicara atau menuntut perhatianmu. Sekarang aku hanya mencoba memberikan apa yang kamu sukai. Ketenangan."

​Lucas mengerutkan dahi. Ada rasa ketidaknyamanan yang aneh berdesir di dadanya mendengarkan ucapan itu. Ketenangan ini justru terasa asing dan menekan.

​"Aku datang ke sini untuk memastikan kamu dan bayi itu baik-baik saja," kata Lucas, mengalihkan pembicaraan dengan nada datar khas dirinya.

"Besok aku ada jadwal terbang ke luar kota untuk beberapa hari."

​Jika ini adalah Alexa yang dulu, ia pasti sudah berteriak melarang, mengancam akan menyakiti dirinya sendiri, atau bersumpah akan menyusul ke mana pun Lucas pergi. Namun Alexa yang sekarang hanya mengangguk pelan.

​"Baiklah. Hati-hati di jalan. Semoga urusan pekerjaanmu lancar," balas Alexa tulus tanpa embel-embel cemburu.

​Lucas menatap Alexa cukup lama, seolah sedang berhadapan dengan orang asing yang menggunakan tubuh istrinya.

"Kamu tidak menanyakan ke mana aku pergi?"

​"Apakah itu penting?" Alexa balik bertanya dengan senyum tipis yang terkesan formal.

"Lagipula, itu urusan pekerjaanmu. Aku tidak mau mencampuri hal-hal yang tidak seharusnya aku campuri lagi."

​Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Lucas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, merasa kepalanya sedikit berdenyut menghadapi perubahan drastis wanita di hadapannya.

​"Soal keluarga..." Lucas membuka suara lagi, memilih topik lain.

"Ibu menelepon tadi siang. Dia bertanya tentang tentangmu."

​Alexa terkekeh pelan, sebuah tawa kecil tanpa rasa humor. "Ibumu hanya peduli pada bayi ini, bukan padaku. Kamu tidak perlu berpura-pura, Lucas. Aku tahu persis bagaimana pandangan keluargamu terhadapku."

​"Alexa—"

​"Aku tidak menyalahkan mereka," potong Alexa cepat sebelum Lucas sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Aku sadar posisi. Cara kita menikah memang salah dari awal. Aku tidak mengharapkan mereka untuk menyukaiku. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot menjadi perantara atau berpura-pura menjaga perasaanku di depan mereka."

​Lucas menatap jemari Alexa yang terus mengelus perutnya dengan lembut. Kasih sayang yang dipancarkan wanita itu terhadap bayinya terasa sangat nyata, berbeda dengan sikap dingin yang ditunjukkan kepadanya.

​"Bayi itu butuh keluarga yang utuh," kata Lucas pelan.

​"Bayi ini hanya membutuhkan kasih sayang dari orang yang benar-benar menginginkannya," ralat Alexa. Matanya menatap tajam ke arah Lucas.

"Dan aku akan memastikan dia mendapatkan itu dariku. Sepenuhnya."

​"Maksudmu aku tidak menginginkannya?" suara Lucas memberat, ada nada ketidaksukaan yang tersirat di sana.

​"Apakah kamu pernah menginginkannya?" balik tanya Alexa dengan wajah polos.

"Kamu menikahi ku karena terpaksa, Lucas. Karena skandal yang kubuat dan janin yang ada di dalam perutku ini. Kalau bukan karena anak ini, kamu mungkin sudah menikah dengan Bibi Catherine sekarang."

​Lucas mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Kata-kata Alexa menghantamnya dengan kebenaran yang telanjang, namun cara Alexa mengucapkannya tanpa rasa marah, tanpa nada menuduh, hanya seperti menyampaikan fakta sederhana membuatnya merasa sangat terpojok.

​"Itu masa lalu," desis Lucas pendek.

​"Dan masa lalu itu yang membentuk hari ini," sambung Alexa santai.

"Tapi kamu tidak perlu khawatir lagi. Aku tidak akan membebani mu lebih jauh. Setelah bayi ini lahir dan kondisiku pulih..." Alexa menggantungkan kalimatnya sebentar, menatap lurus ke dalam iris mata suaminya.

"Kita bisa bicara tentang perceraian."

​Ruangan itu mendadak menjadi sangat hening. Udara di sekitar mereka seolah membeku.

​Mata Lucas melebar sedikit, terkejut dengan kata yang baru saja keluar dari mulut wanita yang sebelumnya rela melakukan apa saja asal bisa terikat dengannya.

​"Apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Lucas dengan suara yang sangat rendah dan berbahaya.

​"Perceraian," ulang Alexa tenang, tanpa ada ragu sedikit pun di suaranya.

"Aku akan mengembalikan kebebasanmu. Kamu bisa kembali pada Bibi Catherine jika kamu mau. Aku tidak akan menghalangi kalian lagi. Aku sudah cukup lelah berpura-pura bahwa pernikahan ini memiliki masa depan."

​"Kamu sedang emosional, Alexa. Jangan bicara sembarangan!" tegas Lucas, rahangnya mengetat.

​"Aku justru sedang sangat sadar, Lucas," balas Alexa pelan.

"Selama ini aku terlalu percaya diri. Aku pikir jika aku terus berusaha, kamu akan melihatku. Tapi aku salah. Cinta tidak bisa dipaksa. Aku sudah lelah menggoda pria yang bahkan jijik hanya untuk sekadar menatapku."

​"Aku tidak pernah bilang aku jijik padamu," sanggah Lucas cepat.

​"Tapi sikapmu menyatakannya dengan sangat jelas," pangkas Alexa halus.

"Sudahlah, tidak perlu diperdebatkan. Fokusku sekarang hanya melahirkan bayi ini dengan selamat. Soal dokumen perceraian, kita bisa mengurusnya nanti."

​Lucas berdiri dari kursinya secara mendadak. Tingginya yang menjulang memberikan bayangan intimidasi di atas tempat tidur Alexa, namun Alexa sama sekali tidak bergeming. Ia tidak lagi gemetar atau takut seperti dulu.

​"Istirahatlah," ujar Lucas dingin, mencoba mengendalikan emosi aneh yang tiba-tiba bergejolak di dadanya.

"Jangan memikirkan hal-hal konyol yang bisa membahayakan anak itu."

​"Aku paham," sahut Alexa pelan.

"Terima kasih sudah menjenguk."

​Lucas menatap Alexa untuk terakhir kalinya sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu. Langkah kakinya terasa lebih berat dari biasanya. Ketika tangannya menyentuh gagang pintu, ia sempat berhenti sejenak, berharap Alexa akan memanggil namanya atau memintanya untuk tetap tinggal seperti yang selalu wanita itu lakukan.

​Namun hingga pintu itu terbuka dan tertutup kembali, tidak ada suara apa pun dari dalam kamar.

​Di dalam ruangan, Alexa menghela napas lega saat sosok Lucas menghilang dari pandangannya. Ia menyandarkan kepalanya pada bantal yang empuk dan memejamkan mata. Ada rasa hampa di dadanya karena harus mengikis perasaan cinta yang telah tumbuh bertahun-tahun, namun rasa lega jauh lebih mendominasi.

​Ia mengusap perutnya lagi dengan lembut, menyalurkan kehangatan seorang ibu.

​"Kita pasti bisa melewati ini, Sayang," bisik Alexa pelan pada janinnya.

"Mama tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu lagi. Terutama rasa egois Mama sendiri."

​Di luar kamar, Lucas berdiri membatu di koridor rumah sakit yang lengang. Tangannya masih mengepal erat di dalam saku celananya. Pikiran pria itu kacau. Sikap pendiam Alexa, tatapannya yang dingin, dan keputusannya untuk melepaskan hubungan ini seharusnya menjadi hal yang paling ia inginkan sejak dulu.

​Namun entah mengapa, ada perasaan janggal dan tidak terima yang mulai merayap pelan di dalam hatinya. Penolakan dari wanita yang dulu sangat memujanya itu meninggalkan rasa dahaga yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bersambung...

Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

Saat Kita Bercerai Nanti

Keheningan menyelimuti ruangan bernuansa putih itu setelah langkah kaki Lucas menghilang di balik pintu. Alexa menyandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal, menatap kosong ke sudut kamar rawat inap yang begitu luas. Tidak ada bunga di atas meja, tidak ada keranjang buah dari kerabat, dan tidak ada satu pun orang yang menemaninya. Ia benar-benar sendirian.

​Dulu, Alexa akan menganggap hal ini bukan masalah besar. Dikehidupan sebelumnya, ia begitu sombong dan egois. Baginya, dibenci seluruh dunia atau tidak memiliki satu pun teman bukanlah hal yang perlu dipusingkan selagi ia bisa memiliki Lucas di sisinya. Namun kini, penyesalan menyusup pelan menghantam dadanya. Betapa dungunya ia di masa lalu, mengisolasi diri dari dunia hanya demi mengejar pria yang hatinya terikat pada orang lain.

​Duk.

​Sebuah tendangan kecil dari dalam perutnya memecah lamunan Alexa. Ia meringis sebentar sambil memegangi bagian kanan perutnya, lalu diiringi tawa kecil yang lolos dari bibirnya.

​"Aww... Kaget ya, Sayang?" bisik Alexa lirih, mengusap lembut tonjolan di perutnya.

"Maafkan Mama, ya. Kamu pasti ikut sedih melihat Mama yang tidak punya teman begini."

​Janin di dalam kandungannya seolah merespons dengan gerakan halus. Alexa tersenyum tipis. Mulai saat ini, ia harus menarik diri dari semua lingkaran beracun ini. Ia tidak perlu lagi mengemis perhatian dari keluarganya yang sudah terlanjur membencinya, apalagi dari keluarga Lucas yang menganggapnya sebagai benalu.

​Setelah bayi ini lahir dan perceraian diproses, Alexa memutuskan untuk pergi jauh. Mungkin ke sebuah desa terpencil di Swiss. Ia pernah membaca bahwa negara itu sangat indah dikelilingi pegunungan Alpen, padang rumput hijau, dan pemandangan menakjubkan yang tampak seperti di dunia dongeng. Tempat yang sempurna untuk membesarkan anaknya dalam kedamaian.

​Namun, tinggal di luar negeri butuh biaya besar. Alexa mulai memutar otak. Ia harus mandiri dan menyiapkan dana darurat mulai sekarang.

​Barang-barang branded, pikirnya teringat sesuatu. Dulu ia sangat konsumtif, membeli bermacam-macam tas, perhiasan, dan pakaian perancang ternama hanya demi gengsi. Jika ia menjual semua koleksi itu secara diam-diam, hasilnya pasti lebih dari cukup untuk modal hidupnya di Swiss nanti.

​Jemarinya kemudian meraba nakas di samping tempat tidur, mengambil dompet miliknya. Di dalam sana, terselip sebuah kartu hitam tanpa limit atas nama Lucas. Alexa menatap kartu itu dengan tatapan rumit.

​Ia ingat betul bagaimana cara ia mendapatkan kartu ini di kehidupan lalu. Saat itu, ia mengancam Lucas dengan kejam.

“Jika kamu tidak memberikan kartu ini padaku, aku akan memastikan Catherine menderita!” gertaknya waktu itu. Lucas yang panik dan takut terjadi sesuatu pada wanita yang dicintainya, langsung melemparkan kartu itu tanpa banyak bicara.

​Alexa menghela napas panjang. "Pria itu sangat mencintai Bibi Catherine... Dia rela memberikan apa saja asal wanita itu aman."

​Alexa menyematkan kartu itu di meja. Ia tidak berhak menggunakannya lagi. Kartu itu adalah simbol dari sifat serakah dan manipulatif nya di masa lalu. Ia akan mengembalikannya pada Lucas nanti.

​Mengambil ponselnya dari atas meja, Alexa membuka layar kunci dengan sisa harapan tipis. Ia berharap ada setidaknya satu notifikasi masuk entah ucapan menanyakan kabar atau sekadar pesan singkat. Namun layar itu bersih. Hanya ada penunjuk waktu dan beberapa pemberitahuan aplikasi yang tidak penting.

​Nyatanya, memang benar-benar tidak ada yang peduli.

​Dada Alexa terasa sesak. Air matanya menetes satu per satu, jatuh membasahi layar ponsel yang dingin. Ia menangis tanpa suara, meratapi nasib malangnya yang sebenarnya merupakan buah dari perbuatannya sendiri.

​Klek.

​Pintu kamar mendadak terbuka kembali. Alexa terkejut, bergegas mengusap air matanya kasar dengan jemarinya.

​Lucas berdiri di ambang pintu. Pria itu ternyata belum sepenuhnya pergi. Di tangannya ada sebuah kantung kertas kecil berisi obat dari apotek rumah sakit. Langkah kakinya terhenti saat melihat mata Alexa yang memerah dan basah.

​"Kamu menangis?" tanya Lucas singkat, suaranya terdengar datar namun ada nada kebingungan di sana.

​Alexa memalingkan wajahnya ke arah jendela, mencoba menetralkan suaranya. "Tidak. Hanya mataku kemasukan debu."

​Lucas berjalan mendekat, meletakkan kantung obat di atas nakas. Matanya yang tajam melirik kartu hitam miliknya yang tergeletak begitu saja di samping tempat tidur.

​"Kenapa kartuku ada di luar dompetmu?" tanyanya, mengalihkan pandangan kembali pada Alexa.

​"Aku berniat mengembalikannya padamu," jawab Alexa serak. Ia mengambil kartu itu dan menyodorkannya pada Lucas.

"Ambil kembali. Aku tidak membutuhkannya lagi."

​Lucas tidak menerima kartu itu. Tangannya tetap berada di dalam saku celananya, alisnya menyatu.

"Kenapa? Bukankah kamu yang bersikeras memintanya dulu? Kenapa sekarang dikembalikan?"

​"Karena aku tidak berhak memegangnya," balas Alexa jujur.

"Dulu aku memaksamu memberikannya dengan cara yang licik. Sekarang aku sadar, aku tidak pantas menggunakan uangmu untuk hal-hal yang tidak penting."

​"Itu kartu milik istriku. Kamu berhak menggunakannya untuk kebutuhanmu dan bayi itu," tegas Lucas pendek.

​Alexa tersenyum getir. "Status istri ini hanya sementara, Lucas. Tidak usah berpura-pura. Aku tahu kamu memberikan kartu ini dulu hanya karena takut aku menyakiti Bibi Catherine, kan?"

​Lucas diam. Pria itu tidak menyangkal, namun raut wajahnya terlihat semakin mengeras. Keheningan di antara mereka terasa sangat menekan.

​"Ambil saja," desak Alexa pelan, meletakkan kartu itu tepat di dekat tangan Lucas.

"Aku masih punya tabunganku sendiri dari hasil menjual beberapa barang milikku nanti. Aku tidak akan merepotkan mu lagi."

​"Menjual barang-barangmu?" Lucas menatapnya heran.

"Untuk apa kamu melakukan itu? Apa uang bulanan yang kuberikan kurang?"

​"Tidak kurang. Hanya saja..." Alexa menghentikan ucapannya sejenak, mengelus perutnya yang terasa hangat.

"Aku ingin belajar mandiri. Aku ingin menyiapkan masa depanku dan anak ini sendirian."

​"Aku ayahnya, Alexa. Kamu tidak perlu bertindak seolah-olah kamu hidup sendirian di dunia ini!" kata Lucas dengan nada suara yang sedikit meninggi, merasa tersinggung dengan kepasrahan istrinya.

​Alexa menatap mata Lucas dalam-dalam. "Tapi kenyataannya memang begitu, bukan? Aku sendirian di kamar ini. Tidak ada teman, tidak ada keluarga. Dan kamu... kamu ada di sini hanya karena rasa tanggung jawab atas janin ini, bukan karena menginginkanku."

​Lucas membuka mulutnya untuk membalas, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Tatapan Alexa yang begitu jujur dan tanpa dendam justru membuat dada pria itu terasa terhimpit.

​"Aku sudah memutuskan," lanjut Alexa dengan suara yang sangat tenang.

"Setelah anak ini lahir, aku akan pergi jauh. Sangat jauh dari sini."

​"Ke mana?" tanya Lucas cepat.

​"Suatu tempat yang tenang. Mungkin ke sebuah desa di Swiss," gumam Alexa pelan, matanya menerawang membayangkan pegunungan yang indah.

"Di sana sangat indah dan damai. Cocok untuk membesarkan anak tanpa ada bayang-bayang masa lalu yang kelam."

​"Swiss?" Lucas terkekeh dingin, meski matanya menyiratkan ketidaksetujuan yang kuat.

"Kamu sedang bermimpi? Kamu pikir membesarkan anak sendirian di negara orang itu mudah?"

​"Mungkin sulit, tapi itu jauh lebih baik daripada tinggal di sini dan terus menjadi pengganggu dalam kehidupanmu dan Bibi Catherine," jawab Alexa tanpa ragu.

​Lucas melangkah maju satu tindak, mengikis jarak di antara mereka. Aura dominannya terpancar kuat, menatap Alexa yang duduk pasrah di atas ranjang.

​"Aku tidak pernah mengizinkanmu membawa anakku pergi ke luar negeri!" ucap Lucas dingin dan tegas.

​Alexa menatap suaminya dengan senyum tipis. "Kamu bisa menjenguknya kapan saja kamu mau, Lucas. Aku tidak akan melarang mu bertemu dengannya. Tapi untuk tinggal bersama... kita berdua tahu itu tidak mungkin."

​"Alexa—"

​"Tolong, Lucas," potong Alexa pelan, suaranya terdengar sangat lelah.

"Bisakah kita tidak berdebat hari ini? Aku hanya ingin istirahat. Kepala dan perutku terasa agak nyeri."

​Mendengar keluhan itu, raut wajah Lucas seketika berubah ragu. Pria itu mengepalkan tangannya, menahan amarah dan kebingungan yang berkecamuk di dadanya. Ia menatap Alexa cukup lama, melihat wajah pucat wanita itu yang tampak sangat rapuh.

​"Tidur dan istirahatlah," ujar Lucas akhirnya dengan suara yang melunak, meski tetap irit bicara.

"Jangan memikirkan hal-hal aneh lagi."

​"Terima kasih," bisik Alexa, lalu perlahan membaringkan tubuhnya dan memunggungi Lucas.

​Lucas berdiri di sana selama beberapa menit, memperhatikan helaan napas Alexa yang mulai teratur. Pria itu melihat kartu hitam yang tergeletak di atas meja nakas, lalu beralih menatap punggung istrinya. Ada perasaan tidak rela yang mendalam yang tiba-tiba muncul di benaknya.

​Dulu ia sangat ingin bebas dari Alexa. Namun kini, saat wanita itu benar-benar berniat membuang perasaannya dan bersiap pergi dari hidupnya, Lucas justru merasa ada sesuatu yang berharga sedang terlepas dari genggamannya.

Bersambung...

Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.🥰

Alexa Lembut Lucas Panik!

Kecerahan sinar matahari pagi yang menerobos celah tirai membangunkan Alexa dari tidur lelapnya. Begitu kelopak matanya terbuka, hal pertama yang ia lakukan adalah mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

​Kosong. Tidak ada sosok Lucas di sana.

​Alexa menarik napas lega. Pria itu pasti sudah pergi menuju bandara untuk terbang ke Sydney. Jika mengingat linimasa kehidupan sebelumnya, hari inilah momen di mana ia nekat menyusul Lucas karena terbakar cemburu memikirkan keberadaan Catherine di kota yang sama. Kejadian tragis yang berujung pada pendarahan hebat dan gugurnya bayi dalam kandungannya.

​Tangan Alexa perlahan bergerak mengelus perutnya yang membuncit.

​Duk! Duk!

​Sebuah tendangan keras bertubi-tubi mendarat dari dalam sana, membuat Alexa meringis sekaligus tertawa kecil secara bersamaan. Bayinya sangat aktif pagi ini.

​"Pelan-pelan, Sayang... Mama tahu kamu juga lega kita tidak jadi pergi ke Sydney," bisik Alexa lirih, mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.

​Klek.

​Pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar inap mendadak terbuka. Alexa terkejut setengah mati. Senyuman manis dan tawa kecil di bibirnya seketika pudar begitu iris mata birunya bertabrakan langsung dengan mata abu-abu gelap milik seorang pria.

​Lucas keluar dari kamar mandi. Pria itu masih mengenakan setelan kemeja formal yang berbeda, hanya saja gulungan lengannya kini sudah dirapikan.

"​Bukankah seharusnya dia sudah pergi dari tadi? Kenapa dia masih di sini?" batin Alexa bingung.

​Di sisi lain, Lucas sempat membeku di tempatnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat senyum tulus dan mendengar tawa kecil dari bibir istrinya, sebuah pemandangan indah yang mendadak hilang tanpa sisa begitu Alexa menyadari keberadaannya. Lucas mengamati perubahan raut wajah Alexa yang langsung kembali datar dan dingin.

​Lucas melangkah pelan lalu duduk di sofa tunggal yang berada di dekat ranjang tempat tidur. Kehadiran pria berpunggung tegap itu seketika memancarkan aura dominan yang membuat Alexa merasa sangat tidak nyaman.

​Alexa menggeser tubuhnya sedikit, memalingkan pandangan ke arah jemarinya. Ia menggigit bibir bawahnya ragu, menahan keinginan untuk bertanya kenapa pria itu belum berangkat.

​Lucas mengangkat wajahnya, menatap dalam-dalam ke arah Alexa. Ada yang benar-benar salah dengan wanita ini. Tatapan matanya yang dulu selalu penuh godaan, binar cacing kepanasan yang mencari perhatian, atau intonasi manja yang menjengkelkan semuanya lenyap. Alexa yang sekarang memilih bungkam, mengabaikan keberadaannya, dan terang-terangan menunjukkan gestur tidak nyaman.

​Apakah wanita ini marah karena ia berencana pergi ke Sydney? Namun, raut wajah Alexa sama sekali tidak menunjukkan emosi kemarahan. Wanita itu hanya tampak tenang dan terus mengelus perutnya berulang kali.

​Jujur saja, Lucas sangat membenci suasana seperti ini.

​"Kamu sudah bangun?" tanya Lucas memecah kesunyian. Suaranya berat dan teratur.

​Alexa mengangguk pelan tanpa menatap mata suaminya. "Sudah. Kenapa kamu belum berangkat ke bandara?"

​"Penerbanganku ditunda," jawab Lucas singkat. Pria itu berbohong. Penerbangannya sebenarnya terjadwal dua jam lagi, namun ia memilih membatalkan jet pribadinya dan memindahkan jadwal keberangkatan karena kepalanya terus dipenuhi bayang-bayang perubahan sikap Alexa.

​"Oh," sahut Alexa pendek.

"Berarti kamu harus segera siap-siap agar tidak terlambat nanti."

​Lucas mengerutkan dahi. "Kamu tidak menanyakan dengan siapa aku pergi ke sana?"

​Alexa mendongak sejenak, menatap Lucas dengan raut polos. "Untuk apa? Itu urusan pekerjaanmu. Aku tidak perlu tahu."

​"Catherine ada di sana," potong Lucas cepat, sengaja menyebutkan nama wanita itu untuk memancing reaksi Alexa yang sebenarnya.

​Ruangan itu mendadak hening. Alexa diam sejenak, lalu menghela napas pelan.

​"Ya, aku tahu Bibi Catherine sedang ada pemotretan di Sydney," balas Alexa santai, tanpa ada sedikit pun kening berkerut atau nada ketus di suaranya.

"Semoga pekerjaannya lancar, dan semoga urusan bisnismu juga berjalan baik."

​Lucas memajukan posisi duduknya, menumpukan kedua siku di atas lutut seraya menatap tajam istrinya.

"Kamu tidak marah?"

​"Kenapa aku harus marah?" Alexa balik bertanya dengan intonasi yang begitu tenang.

"Kalian berdua adalah orang dewasa. Jika kalian ingin bertemu di sana, itu adalah hak kalian. Aku tidak punya kapasitas lagi untuk melarang."

​"Alexa," panggil Lucas dengan nada memperingatkan.

"Jangan berpura-pura. Biasanya kamu akan mengamuk jika tahu aku berada di kota yang sama dengannya."

​"Itu Alexa yang dulu, Lucas," jawab Alexa pelan tapi tegas. Matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam.

"Aku yang dulu memang bodoh dan egois. Tapi aku yang sekarang sudah sadar. Aku tidak akan memaksakan seseorang untuk tinggal jika hatinya ada di tempat lain."

​Lucas menggertakkan giginya. Jawaban Alexa terasa seperti tamparan tak kasat mata di wajahnya. Pria itu berdiri dari sofa dan melangkah mendekati ranjang.

​"Apa yang sebenarnya kamu inginkan sekarang?" tanya Lucas dingin, menatap lurus ke dalam iris biru Alexa.

​"Aku hanya ingin melahirkan bayi ini dengan selamat," sahut Alexa sambil mengusap perutnya yang kembali bergerak.

"Aku ingin hidup tenang tanpa membuat masalah lagi untukmu atau Bibi Catherine. Hanya itu."

​"Dan perceraian yang kamu sebutkan kemarin?" cecar Lucas.

​"Itu solusi terbaik untuk kita berdua," balas Alexa tanpa ragu.

"Kamu bisa kembali pada wanita yang kamu cintai tanpa harus merasa bersalah atau terbebani oleh keberadaanku. Bukankah dari awal pernikahan ini memang tidak pernah kamu inginkan?"

​Lucas membisu. Kata-kata itu sepenuhnya benar, namun mendengarnya keluar dari bibir Alexa secara langsung membuat dadanya terasa sesak oleh kejengkelan yang aneh.

​"Bagaimana dengan anak ini?" suara Lucas terdengar makin rendah.

"Kamu pikir anak ini tidak butuh sosok ayah?"

​"Dia akan tetap memiliki ayah," kata Alexa lembut.

"Kamu boleh mengunjunginya kapan saja. Aku tidak akan pernah menjauhkanmu darinya. Tapi untuk tetap bersama dalam sebuah pernikahan tanpa cinta... itu hanya akan menyakiti kita bertiga di masa depan."

​Lucas menatap jari-jari Alexa yang melingkari perutnya yang besar. Gerakan mengelus yang perlahan itu membuktikan betapa wanita ini mengutamakan keselamatan janinnya di atas segalanya.

​"Aku tidak pernah berniat menceraikanmu setelah anak ini lahir," cetus Lucas tiba-tiba.

​Alexa sedikit terkejut, namun dengan cepat menetralkan ekspresinya kembali. Ia menyunggingkan senyum tipis yang penuh kepasrahan.

​"Kamu tidak perlu mengorbankan perasaanmu demi rasa tanggung jawab, Lucas," bisik Alexa.

"Aku sudah melepaskan mu. Jadi, tolong lepaskan aku juga."

​Kalimat itu terucap begitu tulus hingga membuat Lucas kehilangan kata-kata. Pria yang biasanya selalu memegang kendali atas segala hal itu kini merasa benar-benar tak berdaya menghadapi ketenangan wanita di hadapannya.

​"Penerbanganmu sebentar lagi," ingat Alexa pelan, memecah kecanggungan di antara mereka.

"Sebaiknya kamu pergi sekarang agar tidak tertinggal."

​Lucas menatap Alexa cukup lama. Ada dorongan aneh di dalam hatinya untuk tetap tinggal di kamar ini, namun gengsi dan kebingungan yang berkecamuk membuat langkah kakinya perlahan berbalik.

​"Aku akan menyuruh sekretarisku mengawasi kebutuhanmu di sini selama aku di Sydney," kata Lucas kaku di dekat pintu.

​"Tidak perlu merepotkan sekretarismu, Lucas. Perawat di sini sangat baik," tolak Alexa halus.

"Hati-hati di jalan."

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Lucas melangkah keluar dari kamar inap dan menutup pintu rapat-rapat.

​Di luar ruangan, Lucas menyandarkan punggungnya pada dinding koridor. Napasnya terengah halus. Dada pria itu bergemuruh hebat. Tatapan mata biru Alexa yang dulunya selalu memancarkan obsesi, kini benar-benar bersih dan menyisa ketenangan yang asing.

​Lucas mengepalkan tangannya erat-erat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, pria itu merasa panik karena kehilangan sesuatu yang belum pernah ia sadari betapa berharganya keberadaan hal tersebut.

Bersambung...

Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!