Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Pekerja Super

Bab 1 — Pekerjaan Musim Panas

Surabaya, awal musim kemarau.

Pukul sebelas lewat dua puluh malam.

Adrian Wijaya berdiri di depan sebuah gudang logistik dengan pakaian yang sudah basah oleh keringat.

Kedua tangannya masih memegang kardus besar. Telapak tangannya terasa panas meski sejak siang dia sudah mengenakan sarung tangan kerja.

Hari itu seharusnya menjadi hari terakhirnya.

Seharusnya.

“Adrian!”

Suara mandor terdengar dari dalam gudang.

Adrian berhenti dan menoleh.

“Masih ada satu truk. Bantu sampai selesai.”

Adrian melirik jam di ponselnya.

Sudah pukul sebelas lewat dua puluh.

“Pak, bukannya jam kerja sudah selesai?”

Mandor mengangkat bahu.

“Kalau mau dapat uang tambahan, lanjut.”

“Kalau saya nggak lanjut?”

“Besok belum tentu saya kasih jadwal.”

Adrian terdiam.

Dia tahu betul maksud ucapan itu.

Kalau menolak, pekerjaannya bisa saja diberikan kepada orang lain.

Akhirnya Adrian menghela napas.

“Baiklah.”

Dia kembali masuk ke gudang.

 

Dua jam kemudian, truk terakhir akhirnya selesai dibongkar.

Adrian duduk di pinggir gudang sambil meneguk air mineral.

Tubuhnya benar-benar lelah.

Dia mengambil ponsel dan membuka aplikasi perbankan.

Begitu melihat saldo rekeningnya, Adrian hanya bisa tersenyum pahit.

“Cuma segini?”

Sudah hampir dua bulan dia bekerja serabutan selama liburan.

Dia pernah menjadi pelayan restoran, mengantar barang, membantu di gudang, bahkan menjaga stan di sebuah acara.

Semua pekerjaan itu melelahkan.

Namun uang yang terkumpul tetap tidak seberapa.

Padahal Adrian sedang menabung untuk membeli laptop.

Bukan untuk sekadar bergaya.

Sebentar lagi dia mulai kuliah dan membutuhkan laptop yang cukup bagus untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Masalahnya, laptop yang dia incar harganya jauh di atas kemampuan keuangannya sekarang.

“Kalau begini terus, kapan bisa terkumpul?”

Adrian memasukkan ponselnya ke saku.

Dia berdiri, mengambil tas, lalu berjalan keluar dari halaman gudang.

“Besok cari pekerjaan lain saja.”

Setidaknya dia tidak perlu lagi berurusan dengan mandor yang suka meminta lembur tanpa kejelasan bayaran.

Malam itu jalanan masih cukup ramai.

Adrian berjalan menyusuri trotoar sambil memikirkan pekerjaan apa yang bisa memberinya penghasilan lebih besar.

Tiba-tiba—

TING!

Adrian berhenti.

Dia menoleh ke belakang.

Tidak ada apa-apa.

“Suara apa tadi?”

Beberapa detik kemudian—

TING!

Kali ini suara itu terdengar lebih jelas.

Bukan berasal dari ponselnya.

Bukan pula dari lingkungan sekitar.

Suara itu seolah-olah muncul langsung di dalam kepalanya.

Adrian mengernyit.

“Jangan-jangan aku terlalu capek.”

Tiba-tiba sebuah layar transparan muncul di depan matanya.

Adrian refleks mundur selangkah.

“Apa...?”

Layar itu melayang di udara.

Warnanya biru transparan dan hanya bisa dilihat oleh Adrian.

Beberapa tulisan muncul satu per satu.

[Pemeriksaan selesai.]

[Kondisi pengguna memenuhi persyaratan.]

[Sistem Pekerja Super berhasil diaktifkan.]

Adrian berdiri terpaku.

“Pekerja Super?”

Dia melihat ke kanan dan kiri.

Seorang pengendara motor melewatinya tanpa menoleh.

Orang-orang di trotoar juga berjalan seperti biasa.

Tidak ada seorang pun yang memperhatikan layar aneh di hadapannya.

Adrian perlahan mengangkat tangan.

Jarinya menyentuh layar.

Tidak ada benda fisik yang terasa di ujung jarinya, tetapi layar tersebut langsung merespons gerakannya.

[Selamat datang.]

[Sistem Pekerja Super menyediakan berbagai pekerjaan khusus dengan bayaran sesuai tingkat kesulitan.]

[Setiap pekerjaan yang berhasil diselesaikan akan memberikan kompensasi serta hadiah tambahan.]

Adrian membaca tulisan itu sekali lagi.

Kemudian dia tertawa kecil.

“Ini serius?”

Dia sudah membaca banyak cerita tentang sistem seperti ini.

Namun semuanya hanya cerita.

Tidak pernah terpikir olehnya bahwa suatu hari dia akan mengalami hal seperti ini sendiri.

Adrian mencoba bertanya.

“Kalau begitu, apa yang bisa kamu lakukan?”

Layar berubah.

Sebuah kolom pencarian muncul.

[Masukkan jenis pekerjaan yang diinginkan.]

Adrian berpikir sebentar.

Kemudian mengetik:

Pekerjaan sementara dengan bayaran tinggi.

Hasil pencarian langsung muncul.

[Petugas keamanan acara — Rp700.000/hari]

[Pengantar barang jarak jauh — Rp1.500.000/hari]

[Asisten teknisi lapangan — Rp2.000.000/hari]

Adrian membaca satu per satu.

“Lumayan.”

Namun dia belum puas.

Dia mengubah pencarian.

Bayaran minimal Rp10.000.000 per hari.

Daftar pekerjaan langsung berkurang drastis.

Beberapa detik kemudian, hanya tersisa tiga pilihan.

[Pengawal pribadi — Rp12.000.000/hari]

[Teknisi lapangan di lokasi terpencil — Rp20.000.000/hari]

[Personel pendukung proyek keamanan — Rp30.000.000/hari]

Adrian mengangkat alis.

“Yang terakhir menarik.”

Dia membuka detail pekerjaannya.

Namun baru beberapa detik membaca persyaratannya, Adrian langsung menutupnya.

Dibutuhkan pengalaman di bidang keamanan.

Dia tidak memiliki pengalaman seperti itu.

Adrian kembali ke halaman utama.

“Berarti pekerjaan dengan bayaran tinggi memang tidak mudah.”

Dia hampir menyerah.

Namun sebuah tulisan berwarna merah tiba-tiba muncul di bagian bawah layar.

[Pekerjaan Khusus Tersedia.]

Adrian menatap tulisan itu.

“Apa itu?”

Dia menekannya.

Layar berubah.

Tidak banyak informasi yang ditampilkan.

Hanya sebuah kontrak singkat.

 

PROJECT BLACK HORIZON

Durasi: 72 jam.

Lokasi: Negara asing.

Posisi: Staf pendukung keamanan.

Persyaratan khusus: Tidak diperlukan pengalaman tempur.

Kompensasi: Rp500.000.000.

Fasilitas: Transportasi, makanan, dan tempat tinggal disediakan.

Bonus penyelesaian: Kemampuan Prediksi Krisis Dasar]

 

Adrian terdiam.

Setengah miliar.

Untuk tiga hari.

Dia membaca kembali informasi tersebut.

Tidak salah.

Memang Rp500 juta.

Namun lokasi pekerjaan berada di negara asing dan posisinya berkaitan dengan keamanan.

Jelas bukan pekerjaan biasa.

“Lima ratus juta untuk tiga hari...”

Adrian mengusap dagunya.

Kalau menerima pekerjaan itu, target tabungannya bukan hanya tercapai.

Dia bahkan bisa membeli laptop yang diinginkannya dan masih memiliki banyak uang tersisa.

Tetapi ada satu masalah.

“Kenapa mereka mau membayar sebesar ini untuk orang tanpa pengalaman?”

Adrian menatap layar dengan hati-hati.

Sistem memberikan jawaban.

[Karena tingkat kesulitan pekerjaan tinggi.]

[Risiko menjadi tanggung jawab pengguna.]

Adrian kembali terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak sistem muncul, dia sadar bahwa ini bukan sekadar keberuntungan.

Pekerjaan itu pasti berbahaya.

Sangat berbahaya.

Namun justru karena itulah bayarannya begitu besar.

Adrian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Dia menatap jalanan di depannya.

Kalau menolak, besok dia kembali mencari pekerjaan dengan bayaran ratusan ribu rupiah per hari.

Kalau menerima...

Hidupnya mungkin berubah.

Atau justru menjadi jauh lebih rumit.

Adrian tersenyum tipis.

“Kalau cuma takut, kapan bisa maju?”

Dia kembali menatap layar.

Sebuah pertanyaan muncul.

[Apakah Anda menerima kontrak Project Black Horizon?]

Di bawahnya terdapat dua pilihan.

[TERIMA]

[TOLAK]

Adrian mengangkat jarinya.

Kali ini dia tidak ragu.

Tek.

[Kontrak diterima.]

Layar langsung berubah.

[Persiapan keberangkatan dimulai.]

[Waktu menuju lokasi: 16 jam 42 menit.]

Senyum Adrian langsung menghilang.

“...Tunggu.”

Dia membaca angka itu sekali lagi.

“Enam belas jam?”

Adrian menatap pakaian yang dikenakannya.

Kemudian melihat tas kecil di tangannya.

Dia bahkan belum menyiapkan pakaian.

Belum tahu harus pergi ke negara mana.

Dan yang paling penting—

Dia bahkan belum tahu pekerjaan apa yang sebenarnya akan dia lakukan.

Adrian mengusap wajah.

“Sepertinya aku baru saja membuat keputusan yang agak gila.”

Layar kembali menampilkan satu kalimat.

[Selamat datang di dunia pekerjaan khusus.]

Adrian menatap tulisan itu.

Tanpa dia sadari, keputusan malam itu akan menjadi awal dari kehidupan yang sama sekali berbeda.

Dan pekerjaan tiga hari dengan bayaran Rp500 juta itu hanyalah kontrak pertamanya.

Bab 2 — Keberangkatan

Adrian menatap layar sistem yang masih terbuka di hadapannya.

[Kontrak Project Black Horizon berhasil diterima.]

[Waktu menuju keberangkatan: 16 jam 42 menit.]

Adrian menghela napas.

“Cepat juga.”

Dia tidak menyangka sistem akan langsung mengatur keberangkatannya.

Namun setidaknya satu masalah sudah selesai.

Transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar selama menjalankan kontrak akan disediakan oleh pihak yang merekrutnya.

Adrian hanya perlu menyiapkan dirinya sendiri.

Dia menutup layar.

“Kalau begitu, pulang dulu.”

 

Malam itu, Adrian tidak banyak membuang waktu.

Begitu sampai di rumah, dia langsung mengambil tas besar yang biasa digunakan untuk bepergian.

Pakaian.

Perlengkapan mandi.

Charger.

Power bank.

Beberapa obat ringan.

Dan tentu saja makanan.

Adrian memasukkan semuanya satu per satu.

Dia tidak tahu seperti apa kondisi tempat yang akan didatanginya nanti. Daripada menyesal karena tidak membawa sesuatu yang dibutuhkan, lebih baik bersiap sedikit berlebihan.

Setelah selesai, Adrian menatap tas yang sudah penuh.

“Cukup.”

Dia mengangkatnya.

Berat.

Tapi masih bisa dibawa.

Baru setelah semuanya siap, Adrian teringat satu orang yang belum dia beri tahu.

Ibunya.

Adrian mengambil ponsel dan membuka percakapan yang paling sering muncul di daftar pesan.

Dia berpikir beberapa saat sebelum mulai mengetik.

> Bu, Adrian dapat pekerjaan sementara. Besok harus pergi ke luar negeri beberapa hari.

Dia berhenti.

Kemudian menghapus kalimat itu.

“Kalau bilang luar negeri, pasti langsung ditanya macam-macam.”

Adrian mengetik ulang.

> Bu, Adrian dapat pekerjaan sementara di perusahaan luar. Tempat tinggal dan makan ditanggung. Kerjanya cuma beberapa hari, setelah itu Adrian pulang.

Kali ini dia tidak menghapusnya.

Dia mengirim pesan tersebut.

Tidak sampai satu menit, balasan masuk.

> Hati-hati. Jangan lupa makan. Kalau sudah sampai, kabari Ibu.

Adrian tersenyum.

Rasa bersalah langsung muncul.

“Maaf, Bu.”

Dia tidak mungkin menjelaskan bahwa pekerjaan sementaranya berada di wilayah yang sedang mengalami konflik.

Kalau ibunya tahu, jangan-jangan tiket pesawatnya malah dibatalkan sebelum dia berangkat.

Adrian mematikan layar ponsel.

“Setelah pulang nanti, aku jelaskan.”

 

Keesokan harinya, Adrian menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempersiapkan keberangkatan.

Dokumen perjalanan sudah tersedia di dalam sistem.

Tiket elektronik juga sudah masuk ke perangkatnya.

Bahkan hotel dan kendaraan dari bandara menuju lokasi sudah tercantum dalam informasi perjalanan.

Semuanya terlalu mudah.

Justru itu yang membuat Adrian sedikit waspada.

“Semoga nggak ada kejutan.”

Malam tiba.

Adrian berangkat menuju bandara.

 

Ruang tunggu penerbangan internasional cukup ramai.

Adrian duduk di sudut ruangan sambil memeriksa informasi Project Black Horizon sekali lagi.

Layar sistem muncul tanpa suara.

[PROJECT BLACK HORIZON]

Durasi: 72 jam.

Lokasi: Kota Darsen, Negara Varelia.

Posisi: Staf pendukung keamanan.

Persyaratan: Tidak membutuhkan pengalaman tempur.

Adrian menggulir layar.

Kali ini informasi yang muncul lebih lengkap.

[Wilayah operasi saat ini berada dalam kondisi tidak stabil.]

[Beberapa kelompok bersenjata aktif di sekitar area operasi.]

[Unit yang merekrut pengguna membutuhkan tambahan personel untuk menjaga perimeter luar.]

Adrian mengusap dagunya.

“Jadi tugasku sebenarnya cuma menjaga perimeter?”

[Benar.]

“Dan tidak perlu pengalaman tempur?”

[Benar.]

Adrian mengangguk pelan.

“Kalau begitu, seharusnya tidak terlalu sulit.”

Sistem tidak memberikan jawaban.

Adrian menatap layar.

“Kok diam?”

Beberapa detik kemudian muncul satu kalimat.

[Informasi lengkap akan diberikan setelah pengguna tiba di lokasi.]

Adrian menghela napas.

“Sudah kuduga.”

Dia mematikan sistem.

Tidak lama kemudian, pengumuman keberangkatan terdengar.

Penumpang diminta menuju gerbang pemeriksaan.

Adrian berdiri dan mengangkat tasnya.

Sebelum berjalan, dia sempat melihat ponselnya sekali lagi.

Tidak ada pesan baru dari ibunya.

Adrian tersenyum kecil.

“Kalau sudah sampai, aku kabari.”

Dia memasukkan ponsel ke saku.

Lalu berjalan menuju gerbang.

 

Beberapa saat kemudian, Adrian melewati pemeriksaan terakhir.

Begitu kakinya memasuki lorong menuju pesawat—

TING!

Suara sistem terdengar.

Layar transparan muncul di depan matanya.

[Pengguna telah resmi memulai perjalanan menuju lokasi kontrak.]

Adrian berhenti.

Matanya langsung tertuju pada pemberitahuan berikutnya.

[Syarat aktivasi Paket Pemula telah terpenuhi.]

Adrian tersenyum.

“Nah, ini yang dari tadi kutunggu.”

Layar berubah.

[Paket Pemula sedang dibuka.]

Satu demi satu hadiah muncul.

[Selamat! Pengguna memperoleh kemampuan: Mastery Senjata Api.]

Adrian membeku.

“...Apa?”

Belum sempat dia mencerna hadiah pertama, pemberitahuan berikutnya muncul.

[Pengguna memperoleh peningkatan fisik: Basic Super Serum.]

[Pengguna memperoleh kemampuan tempur: Survival Combat.]

Adrian mulai serius.

Kemudian hadiah terakhir muncul.

[Pengguna memperoleh ruang penyimpanan khusus: Infinite Supply.]

[Ruang penyimpanan dapat digunakan untuk menyimpan perlengkapan yang diizinkan sistem.]

Adrian menatap layar tanpa berkedip.

Kemampuan menguasai senjata api.

Peningkatan fisik.

Kemampuan bertarung.

Ruang penyimpanan khusus.

“Ini baru namanya paket pemula.”

Senyum muncul di wajahnya.

Setidaknya sekarang dia memiliki sedikit modal untuk menghadapi pekerjaan pertamanya.

Namun sebelum Adrian sempat mencoba apa pun—

Tubuhnya tiba-tiba terasa panas.

“Hm?”

Rasa hangat muncul dari dalam tubuhnya.

Awalnya hanya seperti aliran udara panas.

Namun dalam beberapa detik, sensasinya semakin kuat.

Dari dada, rasa hangat itu menyebar ke bahu, kedua lengan, punggung, lalu turun hingga ke kaki.

Adrian mengepalkan tangannya.

Otot-ototnya terasa menegang.

Napasnya menjadi lebih dalam.

[Peningkatan fisik sedang berlangsung.]

[Mohon tetap tenang.]

Adrian menarik napas perlahan.

“Aku tenang.”

Meski sebenarnya jantungnya berdetak jauh lebih cepat.

Beberapa detik kemudian, rasa panas itu perlahan menghilang.

Adrian membuka dan menutup telapak tangannya.

Tidak ada perubahan yang terlihat.

Namun tubuhnya terasa berbeda.

Lebih ringan.

Lebih kuat.

Dan yang paling aneh...

Dia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya baru saja mendapatkan energi baru.

Adrian menatap layar sistem.

“Jadi ini efek hadiah tadi?”

[Peningkatan fisik berhasil.]

[Kemampuan telah terintegrasi.]

Adrian tersenyum.

Pesawat sudah menunggu di ujung lorong.

Dia memasukkan kedua tangan ke saku jaket.

“Baiklah.”

Adrian melangkah menuju pesawat.

“Kalau begitu, mari kita lihat sebenarnya pekerjaan seperti apa yang sudah menungguku.”

Di balik kaca besar bandara, pesawat perlahan bersiap untuk lepas landas.

Adrian tidak tahu apa yang akan terjadi setelah dia tiba di Darsen.

Namun satu hal sudah berubah.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak lagi berangkat mencari pekerjaan.

Dia berangkat menuju kehidupan yang sama sekali berbeda.

Bab 3 — Celana Pendek dan Sandal Jepit

Pesawat sudah terbang selama beberapa jam.

Adrian duduk santai di kursinya sambil memandang keluar jendela.

Sejak meninggalkan Indonesia, dia sudah beberapa kali membuka panel sistem untuk memastikan semua kemampuan yang diberikan kepadanya benar-benar berfungsi.

Mastery Senjata Api.

Survival Combat.

Keduanya sudah terintegrasi sepenuhnya.

Adrian tidak perlu mempelajarinya dari awal. Pengetahuan dan naluri yang berkaitan dengan kedua kemampuan tersebut sudah menjadi bagian dari dirinya.

Dia hanya perlu membiasakan diri dengan perubahan itu.

Adrian melirik pakaiannya.

Celana pendek.

Sandal jepit.

Jaket tipis.

Tas besar yang penuh makanan.

Dia tersenyum kecil.

“Kalau dipikir-pikir, penampilanku memang nggak cocok buat pekerjaan seperti ini.”

Namun dia tidak berniat mengganti semuanya.

Selama nyaman, itu sudah cukup.

Adrian kembali memandang ke luar jendela.

Beberapa jam lagi, dia akan tiba di Darsen.

Di sanalah kontrak pertamanya benar-benar dimulai.

 

Pesawat akhirnya mendarat.

Begitu Adrian keluar dari terminal bandara, udara panas langsung menyambutnya.

Udara di Darsen kering dan penuh debu.

Di kejauhan, terdengar suara ledakan.

BOOM!....

Adrian berhenti sebentar.

Beberapa penumpang lain hanya melirik sekilas sebelum kembali berjalan.

Sepertinya suara seperti itu bukan sesuatu yang mengejutkan bagi penduduk kota ini.

Adrian memandang sekeliling.

Bangunan-bangunan tua berdiri di sepanjang jalan.

Sebagian terlihat rusak.

Kendaraan melintas tanpa aturan yang jelas.

Beberapa orang bersenjata berdiri di sudut jalan.

Tidak ada suasana seperti kota yang baru dikunjungi wisatawan.

Adrian menarik napas.

“Tempat ini benar-benar kacau.”

Dia mengikuti petunjuk sistem menuju titik penjemputan.

Begitu keluar dari area bandara, Adrian melihat sekelompok orang berkumpul di sebuah lapangan.

Jumlahnya sekitar belasan.

Sebagian besar merupakan pria bertubuh besar dengan pakaian lapangan dan perlengkapan keamanan.

Mereka tampak seperti calon anggota baru.

Kemudian salah seorang dari mereka memperhatikan Adrian.

Tatapannya berhenti pada celana pendek dan sandal jepit yang dikenakan Adrian.

“Lihat itu.”

Pria di sebelahnya ikut menoleh.

“Dia serius datang ke sini seperti itu?”

Tawa kecil terdengar.

Beberapa orang mulai memperhatikan Adrian.

Namun Adrian tidak peduli.

Dia justru mengamati lingkungan sekitar.

Bangunan.

Kendaraan.

Jalan keluar.

Posisi orang-orang.

Semuanya secara otomatis menarik perhatiannya.

Kemampuan Survival Combat membuatnya jauh lebih peka terhadap lingkungan.

Adrian bahkan tanpa sadar sudah mengetahui beberapa tempat yang paling aman jika terjadi keadaan darurat.

“Lumayan.”

Dia baru saja selesai mengamati sekitar ketika suara mesin kendaraan terdengar.

Screeech!

Sebuah pikap tua berhenti mendadak di depan kelompok tersebut.

Bodinya penuh bekas benturan dan lubang peluru.

Tiga orang turun dari kendaraan.

Mereka mengenakan perlengkapan tempur.

Pria yang berjalan paling depan memiliki bekas luka panjang di wajahnya dan satu mata yang tertutup.

Dia memandang semua orang dengan tatapan dingin.

“Kalian peserta baru?”

Tidak ada yang menjawab.

Dia melanjutkan.

“Nama saya Raka. Saya pemimpin regu dari unit keamanan Black Fox.”

Raka menunjuk bagian belakang kendaraan.

“Naik. Kita berangkat sekarang.”

Dia memandang satu per satu peserta.

Sampai akhirnya matanya berhenti pada Adrian.

Raka mengernyit.

Tatapannya turun ke celana pendek.

Kemudian ke sandal jepit.

Lalu kembali ke wajah Adrian.

“Kau.”

Adrian menunjuk dirinya sendiri.

“Saya?”

“Ini bukan tempat liburan.”

“Saya tahu.”

“Lalu kenapa berpakaian seperti itu?”

Adrian melihat pakaiannya sendiri.

“Nyaman.”

Beberapa orang langsung tertawa.

Raka menghela napas panjang.

Entah tidak ingin berdebat atau memang tidak peduli, dia akhirnya mengibaskan tangan.

“Naik.”

“Siap.”

Adrian mengangkat tas besarnya.

Dia menaiki bagian belakang pikap.

Di sana sudah ada beberapa peserta lain.

Begitu Adrian duduk, seorang pria berkulit gelap dengan tato di lengannya memperhatikannya.

Tatapannya berpindah dari wajah Adrian ke sandal jepitnya.

“Kau datang dari mana?”

“Indonesia.”

Pria itu tertawa kecil.

“Pertama kali ke daerah seperti ini?”

“Iya.”

“Dan kau cuma membawa tas itu?”

Adrian menepuk tas besar di sampingnya.

“Ada makanan.”

“Makanan?”

“Iya.”

Beberapa orang tertawa.

Salah seorang pria menggeleng.

“Tempat seperti ini bisa saja jadi tempat terakhir dalam hidupmu, tapi kau malah memikirkan makanan.”

Adrian tersenyum santai.

“Kalau lapar, tetap saja lapar.”

Jawaban itu membuat beberapa orang kembali tertawa.

Mereka jelas menganggap Adrian hanya pemuda biasa yang tidak tahu apa-apa.

Adrian tidak berusaha menjelaskan.

Dia hanya duduk sambil memegang tasnya.

Raka menutup pintu belakang.

“Pegangan!”

Mesin kendaraan meraung.

Pikap itu langsung melaju meninggalkan bandara.

Adrian bersandar sambil memperhatikan pemandangan Kota Darsen.

Semakin jauh mereka pergi, semakin jelas kondisi kota tersebut.

Bangunan yang rusak.

Jalanan penuh debu.

Pos pemeriksaan bersenjata.

Dan sesekali suara tembakan dari kejauhan.

Adrian menyipitkan mata.

Kontrak pertamanya baru saja dimulai.

Namun melihat keadaan di sekelilingnya, dia merasa tiga hari ke depan mungkin tidak akan sesederhana yang tertulis di kontrak.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!