Indonesia
NovelToon NovelToon

Penjaga Hati Nona Shanum

Kegagalan Misi Viper-1

Hujan gerimis membilas kaca tebal lantai dua bangunan tua yang terbengkalai di pinggiran perbatasan kota. Bau tanah basah bercampur aroma karat dan minyak senjata memenuhi udara dingin.

Di sudut ruangan yang gelap, Ardebaran—yang lebih dikenal di dunia hitam dengan kode Viper-1—duduk bersandar pada satu lututnya. Tubuhnya yang kokoh dan setinggi 183 sentimeter hampir menyatu sempurna dengan bayangan dinding beton yang lapuk.

Di hadapannya, senapan penembak jitu terpasang stabil di atas tripod pendek. Jari-jari tangan Aran yang terbungkus sarung tangan taktis hitam bergerak begitu luwes, melakukan penyesuaian akhir pada kenop kekop senapan.

"Jarak empat ratus lima puluh meter. Angin ke arah timur laut, empat knot. Kelembapan udara delapan puluh lima persen," gumam Aran pelan. Suaranya terdengar sangat tenang, sopan, dan teratur—tanpa ada sedikit pun getaran kecemasan.

Alat penerima sinyal terenkripsi di telinganya berbunyi bip dua kali sebelum sebuah suara berat dan penuh wibawa terdengar.

"Viper-1, posisi?" suara Lucas, pimpinan tertinggi organisasi sekaligus sosok yang membentuk Aran sejak kecil, mengisi frekuensi rahasia mereka.

Aran menyesuaikan posisi pandangannya pada lensa kekop. "Posisi aman, Pak Lucas. Target utama diprediksi melintasi titik penyergapan dalam dua menit."

"Ingat, Ardebaran. Jangan ada celah. Ini adalah operasi bersih," pesan Lucas. Nada suaranya menyimpan sedikit kecemasan terselubung—sebuah intuisi seorang veteran yang merasakan ada yang tidak beres dengan data intelijen lapangan malam ini.

"Baik, Pak. Semuanya berada di bawah kendali," sahut Aran tetap dengan bahasa yang sangat santai namun penuh penghormatan.

Bagi Aran, misi ini seharusnya menjadi prosedur standar. Tugasnya sederhana: mengeliminasi seorang informan pembelot yang membawa dokumen sensitif sebelum dokumen itu sampai ke tangan pihak kepolisian. Sebagai eksekutor terbaik Viper, Aran selalu mengeksekusi tugasnya dengan presisi matematis. Ia tidak melibatkan emosi, tidak pula membenci targetnya. Baginya, ini hanyalah urusan taktis.

Dari kejauhan, dua sorot lampu mobil membelah kegelapan jalanan sepi di bawah sana. Sebuah sedan hitam melaju dengan kecepatan sedang, dikawal oleh satu unit SUV di belakangnya.

"Target terlihat," bisik Aran. Jarinya perlahan menempel pada pelatuk senapan. Napasnya diatur sedemikian rupa, melambat hingga detak jantungnya berada di titik terendah demi menjaga kestabilan bidikan.

Kaca mobil sedan bagian belakang agak sedikit terbuka. Aran mengunci koordinat kepala target. Dalam hitungan detik, peluru 7.62mm akan menembus sasaran dan menyelesaikan operasi.

Tiga... dua...

Tiba-tiba, dari arah berlawanan di persimpangan jalan—titik yang seharusnya sudah dinyatakan bersih dan steril oleh tim intelijen lapangan—sebuah truk pengangkut alat berat melaju kencang tanpa lampu utama. Truk itu menghantam bagian depan sedan target dengan benturan keras yang menggema di tengah malam.

Brak!

Suara dentuman besi beradu membuat bidikan Aran terganggu seketika. Aran tidak terkejut oleh kecelakaan itu, melainkan oleh apa yang menyertainya.

Dua unit van tanpa tanda muncul dari semak-semak di pinggir jalan. Belasan orang bersenjata lengkap dengan pakaian serba hitam melompat keluar dan langsung memberondong sedan serta SUV pengawal dengan tembakan beruntun.

Aran membelalakkan mata di balik lensa kekop. Itu bukan pasukan keamanan target, bukan pula polisi.

"Pak Lucas," ujar Aran cepat melalui jaringan radio, suaranya tetap sopan namun intonasinya menajam. "Ada gangguan skala besar di lapangan. Pasukan tambahan bersenjata menyerbu target. Ini bukan skenario yang ada dalam laporan intelijen."

Hening sejenak di saluran radio sebelum suara Lucas terdengar menegang. "Apa maksudmu? Tim intelijen menyatakan jalur itu lima puluh persen aman dan bebas dari faksi luar!"

"Informasi intelijen itu salah total, Pak," sahut Aran dingin seraya mengamati kekacauan di bawah. "Atau lebih tepatnya... disabotase."

Belum sempat Lucas membalas, jaringan komunikasi radio Aran mendadak mengalami gangguan frekuensi yang sangat kuat. Suara noise keras menggantikan vokal Lucas, sebelum akhirnya mati total.

Aran segera menyadari situasi sebenarnya. Ini bukanlah kegagalan perhitungan taktis di pihak target, melainkan sebuah jebakan matang yang dirancang dari dalam organisasinya sendiri. Faksi internal Viper yang berniat menggulingkan pengaruh Lucas telah sengaja memberikan data intelijen palsu kepada Aran.

Tujuannya jelas: membuat Aran terjepit di lokasi eksekusi, mengkambinghitamkan dirinya atas kegagalan misi, sekaligus menghabisi Viper-1 secara permanen di lapangan.

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa namun berusaha ditahan terdengar naik dari tangga beton di belakang ruangan terbengkalai tempat Aran berada.

Aran tidak panik. Dengan gerakan yang luar biasa tenang dan taktis, ia melepas kuncian senapan jitu, membiarkan senjata berat itu tergeletak, lalu menarik dua pucuk pistol berperedam suara dari sarung di pinggangnya.

"Permisi..." gumam Aran pelan pada kegelapan di belakangnya.

Pintu papan ruangan mendadak didobrak. Tiga orang eksekutor bertopeng—menggunakan seragam taktis tanpa logo organisasi—masuk seraya mengarahkan senapan serbu ke arah sudut ruangan. Mereka tidak datang untuk menyelamatkan Aran; mereka datang untuk memastikan Aran tidak keluar dari bangunan ini hidup-hidup.

Pft! Pft!

Sebelum ketiga penyusup itu sempat menekan pelatuk, Aran telah bergerak. Ia menggeser tubuhnya ke samping dengan kelincahan yang mengerikan. Dua tembakan presisi dilepaskan Aran dari jarak dekat. Dua peluru menembus tepat di celah pelindung leher dua eksekutor pertama. Keduanya roboh seketika ke lantai beton tanpa sempat mengerang.

Namun, eksekutor ketiga yang berdiri di belakang menyapu ruangan dengan tembakan beruntun.

Trrrtt!

Aran berguling di balik pilar beton pendukung. Beberapa butir peluru meretakkan struktur semen di atas kepalanya, menyemburkan serpihan batu tajam. Satu tembakan meluncur liar, menyambar bahu kiri Aran dan menembus rusuk sampingnya.

Rasa panas yang membakar menjalar seketika di tubuh Aran. Darah segar berwarna merah pekat mulai membasahi kemeja hitam taktisnya. Aran meringis pelan, tetapi matanya tetap sekering es. Tidak ada rasa takut, tidak ada emosi berlebihan. Hanya kalkulasi bertahan hidup yang tersisa di otak dinginnya.

Aran melirik ke belakang. Ruangan tempatnya terjepit tidak memiliki jalan keluar lain. Tangga utama telah dikuasai oleh sisa tim sabotase yang mulai terdengar merangsek naik, sementara di belakang Aran hanya ada jendela beton tanpa kaca yang mengarah langsung ke jurang di tepi sungai deras.

Tembakan dari eksekutor ketiga terus memberondong dinding pilar, menahan Aran agar tidak bisa membalas.

Aran menarik napas panjang, menahan rasa sakit yang menusuk di rusuk kirinya. Ia memeriksa sisa amunisi di magazine pistolnya dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.

"Taktik yang cukup rapi," bisik Aran pada dirinya sendiri dengan nada sopan yang getir. "Sayangnya, saya belum berniat mati malam ini."

Aran mendadak keluar dari balik pilar, melepaskan satu tembakan balasan yang mengunci dahi eksekutor ketiga sebelum pria itu sempat mengarahkan moncong senjatanya kembali. Eksekutor itu tumbang seketika.

Namun dari balik pintu tangga, empat penyerang tambahan muncul dengan senjata terangkat.

Aran tahu ia kalah jumlah dan tidak memiliki posisi berlindung yang menguntungkan lagi. Senjata mereka terkunci pada tubuhnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya akan dilubangi oleh puluhan peluru.

Tanpa ragu sedikit pun, Aran berbalik menghadapi jendela besar yang menganga menuju kegelapan malam. Di bawah sana, sekitar tiga puluh meter melayang di bawah jurang, arus Sungai Al-Ikhlas mengalir sangat deras akibat guyuran hujan deras di hulu.

Sebelum menyeberangi batas ambang jendela, Aran sempat menoleh sedikit ke arah para penyerangnya. Wajahnya yang berdarah tetap menampilkan ketenangan yang sopan.

"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan-tuan," ujar Aran datar.

Aran mendorong tubuhnya kuat-kuat ke udara, melemparkan dirinya menembus kegelapan malam.

Suara tembakan membabi buta dari dalam gedung pecah mengudara, namun peluru-peluru itu hanya menyambar angin malam yang dingin. Tubuh Ardebaran melayang jatuh bebas sebelum akhirnya dihantam oleh pekat dan dinginnya air sungai yang menggelegar di dasar jurang.

Air sungai yang dingin langsung menelan tubuh Aran yang terluka parah. Kegelapan merayap cepat menyelimuti kesadarannya saat arus air membawa tubuhnya hanyut jauh melintasi batas kota, menuju takdir baru yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya.

Pondok Pesantren Al-Ikhlas

Kabut tipis menyelimuti permukaan Sungai Al-Ikhlas yang mengalir di belakang kompleks pesantren saat fajar menyingsing. Udara dingin menembus kulit, membawa aroma tanah basah dan daun bambu yang tertimpa embun. Suara gema shalawat dari pengeras suara masjid sayup-sayup terdengar, menandakan waktu Subuh telah dekat.

Di tepi sungai yang berbatu, Mubin—santri remaja berusia belasan tahun—berjalan memeluk ember plastiknya dengan tubuh sedikit menggigil. Tugas piket Subuh mengharuskan dirinya membersihkan area wudhu luar. Namun langkah kaki Mubin terhenti seketika. Matanya melotot menatap sebuah bayangan hitam besar yang terdampar di antara celah bebatuan dan perakaran pohon sarindai.

"A-apaan itu?" gumam Mubin gemetar.

Ia melangkah perlahan dengan jantung berdebar kencang. Saat jaraknya tinggal beberapa meter, Mubin menjerit pelan seraya membuang embernya. Seorang pria jangkung terbaring tengkurap. Kemeja hitamnya robek-robek, dan air sungai di sekitarnya ternoda warna merah pekat yang terus mengalir dari tubuh pria itu.

"Tolong! Ada orang sekarat! Ning Layla! Pak Kyai!" teriak Mubin panik seraya berlari kencang kembali ke kompleks pesantren.

Tiga puluh menit kemudian, suasana di dalam ruangan Klinik kecil milik Pesantren Al-Ikhlas terasa sangat tegang. Baunya dipenuhi campuran aroma antiseptik, minyak kayu putih, dan bau anyir darah yang menyengat.

Ardebaran terbaring di atas ranjang periksa beralas kain putih. Di sampingnya, Ning Layla—seorang dokter muda berbalut pakaian muslimah bersahaja yang dilapisi jas putih medis—sedang bergerak cepat namun cekatan. Di sebelah Layla, berdiri Kyai Syahuri dengan jubah dan peci putihnya, mengamati dengan raut wajah teduh meski matanya memancarkan kecemasan murni.

"Luka di bahu kirinya hanya lintasan peluru, tapi yang di rusuk samping... proyektilnya masih tertanam di dalam," ujar Ning Layla dengan nada suara yang terkontrol, berusaha menekan kepanikan di dalam dadanya saat menggunting sisa kemeja hitam Aran.

"Apakah bisa dioperasi di sini, Layla? Kalau harus dibawa ke rumah sakit kota, jaraknya satu jam perjalanan. Kondisinya sangat lemah," tanya Kyai Syahuri lembut.

"Pendarahan internalnya terlalu deras, Bah. Kita tidak punya waktu," sahut Layla tegas seraya menyiapkan nampan berisi peralatan bedah minor, kassa steril, dan cairan alkohol. Tangannya yang terbungkus sarung tangan medis tidak gemetar sedikit pun. "Fasilitas anestesi kita terbatas. Saya hanya bisa memberikan anestesi lokal di sekitar jaringan luka, tapi saat mencabut pelurunya... dia akan merasakan sakit yang luar biasa."

Kyai Syahuri menangkupkan kedua tangannya, mulai merapalkan doa-doa keselamatan dengan suara pelan yang amat merdu.

Layla menyiramkan cairan disinfektan ke atas luka tembak Aran, lalu memegang bilah pinset bedah panjang. Tepat saat ujung besi steril itu menyentuh jaringan luka di rusuk Aran, sebuah respons instingtif mendadak terjadi.

Greb!

Mata Aran terbuka lebar menatap Layla tajam, sekering es, dan memancarkan aura membunuh yang mengerikan. Tanpa ada jeda satu detik pun, tangan kanan Aran yang bebas meluncur secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Ning Layla dengan kuncian taktis yang sanggup mematahkan tulang dalam sekali putar.

Layla menahan napas, terkejut oleh kecepatan dan kekuatan cengkeraman tersebut. Namun, alih-alih berteriak atau mundur ketakutan seperti kebanyakan orang saat diancam, mata bening Layla menatap lurus ke dalam iris mata Aran yang kelam.

"Tenanglah, Tuan," ucap Layla pelan. Suaranya begitu lembut, tenang, dan tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. "Anda berada di tempat yang aman. Saya sedang mencoba menyelamatkan nyawa Anda."

Aran terpaku. Selama hidupnya di dunia hitam, setiap kali ia menatap mata orang lain saat situasinya terdesak, yang ia temukan hanyalah ketakutan, kebencian, atau niat membunuh balik. Namun wanita di hadapannya ini—seorang dokter muda berhijab—menatapnya murni dengan kepedulian dan ketenangan seorang penyembuh.

Pandangan Aran bergeser ke samping. Kyai Syahuri perlahan meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas dahi Aran yang membasah oleh peluh dingin.

"Bismillah, Nak... Kamu aman di sini," bisik Kyai Syahuri dengan senyuman yang begitu teduh.

Cengkeraman jemari Aran di pergelangan tangan Layla perlahan mengendur. Otot-otot tubuhnya yang tegang mendadak melunak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai Pembunuh bayaran, Aran membiarkan pertahanannya ditembus oleh rasa percaya pada orang asing.

"Maaf..." gumam Aran pelan dengan nada suaranya yang sopan dan dingin.

"Tidak apa-apa. Tahan sebentar," sahut Layla seraya kembali memfokuskan pandangannya pada luka.

Proses pencabutan proyektil berlangsung menegangkan. Tanpa bius total, rasa sakit yang membakar merayap menembus setiap saraf di rusuk Aran saat bilah pinset merogoh jaringan dagingnya. Peluh dingin mengucur deras dari pelipis Aran, dan rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Namun, Aran tidak mengerang sedikit pun. Ia hanya menarik dan menghembuskan napas secara teratur—sebuah ketahanan fisik yang membingungkan bagi Layla.

Kling!

Bunyi proyektil timah panas bernoda darah yang dijatuhkan ke atas nampan stainless steel bergema di ruangan sunyi itu. Layla dengan cepat menjahit pembuluh darah yang robek, membersihkan luka, lalu membungkus dada Aran dengan perban steril.

Setelah seluruh proses selesai, Layla menarik napas lega. Ia mengusap dahinya seraya melepas sarung tangan medis.

Aran berbaring lemah, mengamati setiap gerak-gerik wanita itu. Di dalam dadanya yang biasa terasa hampa dan dingin, timbul sebuah rasa kagum yang tak biasa. Aran tahu pasti bahwa luka yang ada di tubuhnya adalah luka tembak—sebuah bukti tak terbantahkan bahwa ia terlibat dalam dunia yang berbahaya dan berdarah. Di luar sana, siapa pun yang melihat luka ini akan langsung melapor ke polisi atau memandangnya sebagai penjahat yang menjijikkan.

Namun wanita ini, juga pria tua di sampingnya, sama sekali tidak menanyakan identitasnya. Mereka tidak menghakiminya, tidak mempermasalahkan latar belakangnya yang dipenuhi kegelapan, dan merawatnya dengan ketulusan yang luar biasa murni.

"Pendarahannya sudah berhenti," ujar Layla seraya membetulkan selimut linen di atas tubuh Aran. Gerakannya begitu lemah lembut dan penuh kehati-hatian, seolah Aran adalah barang pecah belah yang harus dijaga. "Anda butuh istirahat total. Jangan banyak bergerak dulu agar jahitan di rusuk Anda tidak lepas."

Aran menatap wajah Layla yang tampak lelah namun memancarkan ketenangan yang hangat. Ada sesuatu pada diri Layla—sikapnya yang sopan, keteguhan hatinya saat membedah, dan kelembutan jiwanya yang tanpa prasangka—yang perlahan menarik perhatian batin Aran. Seorang pria skeptis yang tidak percaya pada kebaikan dunia, kini dipaksa menyaksikan kebaikan nyata berwujud seorang wanita.

Aran menganggukkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sangat bersahaja.

"Terima kasih banyak atas bantuannya, Dok... dan Bapak," kata Aran dengan intonasi suara yang amat sopan dan teratur, meski staminanya berada di titik terendah. "Saya telah menyusahkan kalian berdua."

Kyai Syahuri terkekeh pelan, mengelus janggut putihnya yang rapi. "Tidak ada yang disusahkan dalam menolong sesama manusia, Nak. Siapa pun kamu, dari mana pun asalmu, pintu rumah ini terbuka untukmu."

Layla tersenyum kecil melihat kesopanan pria misterius itu. Muka dingin dan tubuh kekarnya tampak kontras dengan kesantunan bahasa yang diucapkannya.

"Saya buatkan teh hangat manis untuk menambah energi Anda," ucap Layla lembut sebelum membalikkan badan dan melangkah keluar ruangan.

Aran mengiringi langkah Layla dengan pandangan matanya sampai pintu kayu itu tertutup rapat. Di dalam keheningan klinik yang perlahan diterangi cahaya mentari pagi, Aran memejamkan mata. Rasa sakit di tubuhnya masih menari-nari, namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam pelarian dan darah, hati Aran merasakan sebentuk kedamaian yang asing.

Shanum Al-Makthoum

Aroma daun teh hangat bercampur gula batu menyeruak pelan di dalam ruangan klinik. Cahaya fajar yang menerobos masuk lewat celah jendela kayu membias di atas meja tempat secangkir teh panas diletakkan.

Aran berbaring telentang, menatap langit-langit kayu ruangan yang berukir sederhana. Setiap tarikan napas masih menyisakan rasa panas di rusuk kirinya, namun fokus pikiran Aran teralih sepenuhnya pada bayangan dokter muda yang baru saja melangkah keluar.

Di dalam dadanya yang lapang, sepercik rasa hangat yang sudah lama mati mendadak membara kembali. Kelembutan Ning Layla, ketenangannya saat memegang pisau bedah di tengah ancaman bahaya, serta sorot matanya yang bersih tanpa menghakimi, telah menyentuh celah terdalam jiwa Aran.

Namun, rasa kagum itu hanya bertahan beberapa detik sebelum Aran menarik napas panjang dan menepisnya dengan kasar.

Sadarlah, Ardebaran, batin Aran memperingatkan dirinya sendiri.

Mata Aran dipejamkan rapat-rapat. Gambaran jemari Layla yang lembut dan bersih berbenturan secara kontras dengan ingatan akan tangan kirinya sendiri—tangan yang pernah menggenggam pemicu senapan jitu, menumpahkan darah di lorong-lorong kelam, dan mematikan nyawa tanpa keraguan.

Ia memandang telapak tangannya sendiri yang dipenuhi bekas luka dan kapalan keras. Layla adalah sosok anak manusia yang bertumbuh di lingkungan suci, dibesarkan dengan doa-doa, dan mendedikasikan hidupnya untuk menyembuhkan sesama. Sementara dirinya? Aran adalah serpihan dosa berjalan, seorang eksekutor dari kedalaman dunia hitam yang bahkan tak tahu bagaimana cara berdoa.

Membayangkan dirinya berada di samping wanita sesuci Layla merasa seperti menodai lembaran kain putih dengan jelaga hitam. Aran terkekeh pelan—sebuah terkekeh dingin dan garing yang menertawakan dirinya sendiri. Ia tahu pasti batas dirinya. Pria seperti dia tidak berhak mengharapkan kehangatan, apalagi dari seseorang seperti Ning Layla.

Pintu kamar mandi luar terdengar terbuka, disusul langkah kaki kaku Mubin yang masuk membawa baskom berisi air hangat dan handuk bersih. Remaja itu masih tampak sedikit ragu dan takut untuk mendekat, matanya berkali-kali melirik ke arah dada Aran yang terbebat kassa tebal.

"P-permisi, Mas..." sapa Mubin gagap, membungkukkan badannya secara berlebihan. "Saya mau antar handuk hangat. Disuruh Ning Layla buat usap keringat Mas."

Aran memiringkan kepalanya sedikit. Sikap dingin dan tenangnya kembali terpasang sempurna bagai perisai baja.

"Terima kasih banyak, Kang Mubin," sahut Aran dengan suara berat, teratur, dan sangat sopan. "Maaf sudah merepotkanmu sejak Subuh tadi."

Mubin mengerjap. Ia membayangkan pria berotot kekar dengan luka tembak ini akan bersuara kasar layaknya preman pasar. Namun, bahasa tubuh dan cara bicara Aran yang begitu santun justru membuat Mubin kehilangan rasa takutnya.

"Nggak apa-apa, Mas. Mas hebat banget pas dicabut pelurunya tadi nggak teriak sama sekali. Kalau saya sih pasti udah pingsan sepuluh kali," ujar Mubin polos seraya meletakkan baskom di atas meja kecil.

Aran menyunggingkan senyum tipis yang berjarak. "Rasa sakit itu hanya sinyal di otak, Kang. Kalau di kendalikan dengn baik, dia pasti akan hilang sendiri."

"Waduh... omongannya berat banget kayak kitab gundul," gumam Mubin terkagum-kagum sebelum pamit keluar ruangan.

Memasuki pukul sembilan pagi, suasana di area depan Pesantren Al-Ikhlas mendadak sedikit riuh. Suara derum mesin mobil mewah memecah ketenangan halaman pesantren yang teduh oleh pohon-pohon beringin tua.

Sebuah SUV hitam berkilat berhenti tepat di depan kediaman Kyai Syahuri. Dua orang pengawal bersafari hitam keluar lebih dulu untuk membukakan pintu penumpang belakang.

Dari dalam mobil, melangkah keluar seorang wanita muda dengan anggun. Ia mengenakan setelan formal modern berwarna krem yang dipadu dengan jilbab pashmina kain sutra yang tertata sangat rapi. Langkah kakinya tegas, dagunya terangkat sedikit, dan matanya memancarkan ketajaman seorang pimpinan korporat.

Dialah Shanum Al-Maktoum.

Bagi Shanum, Pesantren Al-Ikhlas bukan sekadar lembaga pendidikan. Di sinilah, sepuluh tahun lalu sebelum ia melanjutkan studi bisnisnya ke luar negeri, ia menghabiskan masa remajanya mendalami ilmu agama di bawah bimbingan langsung Kyai Syahuri. Tempat ini adalah oasis pribadinya, satu-satunya tempat di mana ia bisa melupakan sejenak beban berat sebagai CEO Al-Maktoum Group.

"Assalamu’alaikum, Bah," sapa Shanum lembut saat melihat Kyai Syahuri melangkah keluar dari teras rumah.

Aura kaku dan dingin khas pimpinan perusahaan yang melekat pada Shanum luluh seketika. Ia membungkuk hormat dan mencium tangan guru spiritualnya dengan penuh takzim.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Nak Shanum," jawab Kyai Syahuri dengan senyum hangat yang merekah luas. "Alhamdulillah... Nak Shanum bisa menyempatkan waktu datang ke sini di tengah kesibukan Ibu Kota Jakarta."

"Shanum rindu dengan suasana di sini, Bah. Lagi pula, ada beberapa hal terkait amanah Almarhumah Ibu yang ingin Shanum konsultasikan," tutur Shanum.

Meski tutur katanya santun, raut lelah di wajah cantiknya tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Garis-garis ketegangan akibat persaingan bisnis dan tekanan politik di Jakarta terukir tipis di sekitar matanya.

Kyai Syahuri mengangguk paham. "Mari masuk dulu, Nak. Layla sedang di klinik belakang, nanti Abah panggilkan untuk menemani."

Saat melangkah menyusuri selasar kayu menuju ruang tamu dalam, pandangan mata Shanum yang tajam tak sengaja melirik ke arah lorong samping yang menghubungkan kediaman Kyai dengan klinik pesantren. Ia melihat dua orang pengawal pribadi ayahnya yang bertugas di daerah perbatasan tampak berdiri berjaga di kejauhan dengan wajah tegang.

Shanum menghentikan langkahnya sejenak. "Bah... apakah sedang ada tamu khusus di klinik?"

Kyai Syahuri menghentikan langkahnya, menoleh pelan lalu tersenyum teduh. "Bukan tamu, Nak. Hanya seorang Pria yang terdampar di sungai tadi Subuh. Tubuhnya terluka parah, jadi Layla dan Abah merawatnya di sana."

Shanum mengernyitkan alisnya tipis. Sebagai seorang wanita yang terbiasa berpikir rasional dan penuh kewaspadaan tinggi, naluri bisnis dan keamanannya langsung terpicu. Seseorang terdampar dengan luka parah di area perbatasan bukanlah hal yang bisa dianggap sepele.

"Terluka parah?" gumam Shanum pelan, nada suaranya berubah sedikit kritis. "Apakah Abah sudah tahu pasti siapa dia? Zaman sekarang sangat berbahaya menampung orang asing tanpa identitas yang jelas, Bah."

Kyai Syahuri terkekeh pelan, menepuk bahu Shanum dengan penuh kasih sayang. "Pintu pesantren ini dibentuk untuk memberi perlindungan, Shanum, bukan untuk memeriksa dan mengadili perjalanan hidup seseorang. Selama dia membutuhkan pertolongan, dia adalah tamu Allah."

Shanum menghembuskan napas pelan, menyadari keilahian cara pandang gurunya yang tak pernah berubah. Namun di dalam hatinya, rasa penasaran dan kecurigaan khas seorang pimpinan korporat mulai tumbuh. Shanum melirik sekali lagi ke arah lorong klinik yang remang, tak menyadari bahwa di balik pintu kayu ruangan itu, seorang pria dingin berdarah dingin sedang mengamati gerak-gerik dan langkah kakinya dengan ketajaman analisis taktis dari jarak jauh.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!