Syuhhh!
Angin siang berhembus cukup kencang menyapu permukaan danau yang tenang di pinggiran kota.
Amir duduk bersila di atas rerumputan yang agak basah.
Matanya yang lelah terus menatap pelampung pancing di tengah danau dengan penuh harap.
"Kapan hidupku bisa sedikit lebih mudah."
Amir bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil menghela napas panjang.
"Aku sudah menjadi kurir pengantar barang dari jam enam pagi sampai jam sebelas malam setiap hari."
"Gajiku seluruhnya kuberikan pada Siska untuk kebutuhan rumah."
"Tapi Ibu Mertua dan Rendy tetap saja memanggilku sampah tak berguna setiap kali aku pulang."
Amir menggenggam gagang pancingnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sudah tiga tahun ia menikah dengan Siska.
Sebagai anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa, ia tahu diri dan selalu mengalah.
Ia rela direndahkan dan disuruh-suruh layaknya pembantu di rumah mertuanya sendiri.
Tapi sehebat apapun ia berusaha, di mata Bu Rina dan Rendy, ia hanyalah parasit miskin.
Hari ini adalah satu-satunya hari liburnya dalam sebulan terakhir.
Amir memutuskan pergi memancing di danau dekat rumah mertuanya untuk mencari sedikit ketenangan.
Ia juga berharap bisa membawa pulang ikan yang besar agar Bu Rina berhenti mengomel tentang lauk pauk yang kurang hari ini.
Tiba-tiba, pelampung pancingnya tersentak keras ke bawah permukaan air.
Bloop!
Mata Amir terbelalak kaget.
"Tarikan yang sangat kuat, ini pasti ikan besar!"
Amir langsung berdiri dari posisi duduknya dan menarik joran pancingnya dengan sekuat tenaga.
Sringgg!
Tali pancingnya berbunyi nyaring menahan beban yang luar biasa dari dalam air.
Ujung joran melengkung tajam hampir membentuk huruf U.
"Ya ampun, berat sekali tarikannya."
"Jangan-jangan ini ikan raja yang sering dibicarakan orang-orang di sekitar danau ini."
Amir bergumam dengan nafas terengah-engah sambil terus menggulung reel pancingnya.
Otot-otot di lengannya menonjol keluar menahan perlawanan ikan misterius di dalam air.
Air danau bergejolak hebat di titik tali pancingnya tenggelam.
Sedikit demi sedikit, sisik keemasan yang berkilau mulai terlihat menembus permukaan air.
"Benar, itu ikan raja berukuran raksasa!"
"Kalau aku berhasil membawa ini pulang, Ibu Mertua pasti akan senang dan Siska bisa makan enak malam ini."
Amir tersenyum lebar melihat hasil tangkapannya sudah semakin dekat ke tepian.
Ia memajukan tubuhnya ke bibir danau dan bersiap meraih jaring serok di tanah.
Namun, di saat konsentrasinya sepenuhnya terfokus pada ikan di depannya, ia tidak mendengar suara langkah kaki dari arah belakang.
Bugh!
"Rasakan ini dasar sampah!"
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di punggung Amir.
Tendangan itu begitu tiba-tiba dan bertenaga.
Amir yang sedang kehilangan keseimbangan karena menarik pancing langsung terdorong ke depan.
Byurrr!
Air danau yang dingin langsung menyambut tubuh Amir.
Ia melepaskan pancingannya dan berusaha menggapai permukaan air.
Namun entah mengapa kakinya kram akibat tendangan keras tadi dan terkejutnya suhu air.
Blub blub blub.
Amir mulai tenggelam semakin dalam ke dasar danau.
Paru-parunya terasa terbakar karena kehabisan nafas.
"Apakah aku akan mati di sini?"
"Siapa yang menendangku dari belakang?"
Pandangan Amir mulai menggelap secara perlahan.
Di saat kesadarannya hampir sepenuhnya hilang, sebuah suara mekanis yang dingin tiba-tiba menggema di dalam kepalanya.
[Sistem Check-in Memancing Berhasil Diaktifkan]
[Mendeteksi Tuan dalam keadaan bahaya, melakukan pemulihan fisik darurat]
[Pemulihan selesai]
[Selamat, Tuan mendapatkan 100 Poin sebagai hadiah awal Sistem]
[Poin dapat digunakan di Toko Sistem untuk membeli berbagai barang dan kemampuan]
Mata Amir tiba-tiba terbuka lebar di dalam air.
Rasa sakit di punggung dan kakinya menghilang seketika.
Paru-parunya kembali terasa lega seolah ia bisa bernafas di bawah air.
"Suara apa itu tadi, apakah aku sedang berhalusinasi karena mau mati?"
"Sistem Check-in Memancing?"
Amir membatin kebingungan namun ia sadar bahwa ia harus segera naik ke atas.
Dengan tenaga yang entah datang dari mana, ia mengayunkan kaki dan tangannya berenang ke permukaan.
Brak!
Amir muncul dari permukaan air dan langsung merangkak naik ke daratan berlumpur.
Uhuk! Uhuk!
Ia terbatuk-batuk mengeluarkan sedikit air yang sempat tertelan.
Dengan pakaian basah kuyup yang menempel di tubuhnya, Amir menatap tajam ke arah dua orang yang berdiri tidak jauh darinya.
Mereka adalah Bu Rina, ibu mertuanya, dan Rendy, adik iparnya.
Rendy sedang melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum meremehkan.
"Wah wah wah, ternyata kau belum mati ya dasar kecoa air."
Rendy berkata dengan nada mengejek yang sangat kentara.
"Sayang sekali danau ini tidak cukup dalam untuk menenggelamkan parasit sepertimu."
Bu Rina menimpali dengan wajah jijik sambil menutupi hidungnya seolah Amir berbau busuk.
Mata Amir memerah menahan amarah yang sudah meledak di dadanya.
"Kalian yang menendangku dari belakang saat aku sedang memancing?"
"Apa salahku pada kalian sampai kalian ingin membunuhku!"
Amir berteriak keras menumpahkan emosinya yang tertahan selama ini.
Ia selalu bersabar, tapi percobaan pembunuhan sudah melewati batas kewarasannya.
"Berani sekali kau meninggikan suaramu pada ibuku, dasar gembel!"
Rendy melangkah maju dan menunjuk-nunjuk wajah Amir dengan arogan.
"Kau pikir kau siapa di rumah kami, hah?"
"Kau itu cuma numpang makan, numpang tidur, dan tidak menghasilkan uang sama sekali!"
"Aku bekerja setiap hari dari pagi sampai malam, gajiku selalu kuberikan pada Siska!"
"Kalian tidak berhak memanggilku parasit ketika kalian sendiri hanya menghabiskan uang hasil jerih payahku dan Siska."
Amir membalas ucapan Rendy tanpa rasa takut lagi.
Persetan dengan sopan santun, orang-orang di depannya ini baru saja mencoba merenggut nyawanya.
Bu Rina tertawa sinis mendengar pembelaan Amir.
"Gajimu yang cuma tiga juta sebulan itu kau sebut uang?"
"Uang segitu bahkan tidak cukup untuk biaya perawatan kulitku ke salon dalam sebulan."
"Kau sadar tidak kalau anakku Siska itu menderita hidup bersamamu."
"Dia itu cantik, pintar, dan berhak mendapatkan pria yang jauh lebih mapan darimu."
Bu Rina memberikan isyarat pada Rendy dengan matanya.
Rendy merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Srak!
Rendy melempar amplop itu tepat ke wajah Amir yang masih terduduk di tanah basah.
"Ambil itu dan tanda tangani sekarang juga."
"Mulai hari ini, kau harus pergi dari kehidupan kakakku."
Amir memungut amplop tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar.
Ia membuka segelnya dan menarik selembar kertas bergaris rapi dari dalamnya.
Matanya langsung tertuju pada tulisan besar di bagian paling atas kertas tersebut.
"Surat Cerai?"
Amir bergumam tidak percaya sambil menatap nanar tulisan tersebut.
"Ya, itu surat cerai yang sudah disiapkan ibuku."
"Kakakku tidak pantas hidup menderita dengan pria miskin yang cuma bisa mancing di danau kotor seperti ini."
Rendy tertawa puas melihat ekspresi terkejut di wajah Amir.
"Ibu, apa-apaan ini, apakah Siska tahu soal surat ini?"
"Siska tidak pernah bilang padaku kalau dia ingin bercerai."
Amir menuntut penjelasan dari ibu mertuanya.
Walaupun ia sangat membenci mertuanya, ia masih memiliki perasaan pada istrinya.
"Tentu saja Siska sudah tahu, walau dia awalnya ragu, tapi aku yang memaksanya menyetujui ini."
"Asal kau tahu saja, aku sudah menjodohkan Siska dengan Nak Kevin."
"Nak Kevin itu anak pengusaha properti kaya raya, pewaris tunggal keluarga Dirgantara."
"Bulan depan Nak Kevin akan membelikan Siska mobil mewah seharga satu miliar."
"Sedangkan kau, jangankan mobil, membelikan Siska baju bagus saja kau harus mencicil!"
Bu Rina meluapkan semua hinaannya tanpa menahan diri.
Kata-katanya seperti belati tajam yang menusuk harga diri Amir sebagai seorang pria.
Amir terdiam menatap kertas di tangannya.
Ia teringat betapa lelahnya ia bekerja setiap hari demi memberikan Siska kehidupan yang lebih baik.
Ia rela makan mie instan setiap siang agar uangnya bisa ditabung untuk merenovasi kamar mereka.
Tapi apa balasannya sekarang.
Istrinya diam-diam menyetujui perjodohan dengan pria kaya dari belakangnya.
"Siska akan menikah dengan pria kaya dan kalian membuangku begitu saja seperti sampah."
Amir bergumam lirih dengan senyum getir yang terlukis di bibirnya.
"Tentu saja kami membuangmu, untuk apa menyimpan barang rongsokan di rumah."
"Cepat tanda tangani surat itu, kemasi barang-barang murahmu, dan pergi dari rumahku hari ini juga."
"Aku tidak sudi melihat wajah melaratmu itu sedetik pun lebih lama."
Bu Rina menyilangkan tangannya menunggu Amir menandatangani surat tersebut.
Amir perlahan bangkit berdiri.
Air menetes dari ujung rambutnya.
Namun kali ini, tatapan matanya tidak lagi memancarkan keputusasaan atau kesedihan.
Tatapan itu kini sedingin es dan setajam pisau.
Ia menyadari bahwa mengabdi pada keluarga ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Di saat bersamaan, suara sistem kembali terngiang di benaknya.
[Misi Pemula Tersedia]
[Tanda tangani surat cerai dan putuskan hubungan dengan keluarga beracun ini]
[Hadiah Misi: 500 Poin dan Satu Kail Keberuntungan Tingkat Rendah]
Amir tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Rendy dan Bu Rina sedikit merinding.
"Baiklah kalau itu mau kalian."
"Aku akan menandatangani surat ini sekarang juga."
"Tapi ingat baik-baik perkataanku hari ini."
"Suatu saat nanti, kalian akan berlutut di depanku dan memohon agar aku kembali, tapi saat itu tiba, aku tidak akan peduli."
Amir menatap tajam bergantian ke arah Rendy dan Bu Rina.
Ia tidak sabar untuk mengeksplorasi Sistem yang baru saja didapatkannya dan membalikkan keadaan.
Kehidupannya sebagai menantu sampah telah berakhir hari ini.
Mulai detik ini, hidupnya akan berubah sepenuhnya.
Amir menadahkan tangannya meminta pena kepada Rendy.
Rendy mendecak kesal lalu melemparkan sebuah pena murahan ke arah dada Amir.
Amir menangkap pena itu dengan sigap dan langsung membubuhkan tanda tangannya di atas materai.
Srek srek srek.
"Ini yang kalian inginkan, ambil saja Siska dan kekayaannya."
"Mulai detik ini, aku tidak punya urusan lagi dengan keluarga benalu ini."
Amir melemparkan kembali surat itu tepat ke wajah Rendy.
Kertas itu melayang dan jatuh ke atas genangan lumpur di dekat sepatu Rendy.
"Berani-beraninya kau melempar surat ini ke wajahku!"
Rendy berteriak marah sambil memungut surat itu dengan tergesa-gesa.
Ia berusaha membersihkan noda lumpur di ujung kertas agar tanda tangannya tidak rusak.
Bu Rina mendengus kasar melihat kelakuan Amir yang tiba-tiba menjadi berani.
"Gaya bicaramu selangit untuk ukuran pengemis yang baru saja diusir."
"Cepat kembali ke rumah dan kemasi barang rongsokanmu."
"Jangan sampai aku menyuruh satpam komplek untuk menyeretmu keluar dengan paksa."
Bu Rina mengibaskan tangannya dengan ekspresi jijik di wajah tuanya.
Amir membalikkan badan tanpa membalas ucapan ibu mertuanya lagi.
Ia berjalan menjauhi tepian danau dengan langkah tegap meski pakaiannya masih basah kuyup.
Tidak ada lagi rasa sedih atau penyesalan di dalam hatinya yang tersisa.
Hanya ada rasa lega yang luar biasa seolah sebuah rantai besi yang membelenggu lehernya telah terlepas.
Tap tap tap.
Suara langkah kakinya menggema di sepanjang jalan setapak menuju kawasan perumahan elite tersebut.
Sesampainya di rumah mewah bercat putih itu, Amir langsung menuju ke kamar kecil di dekat dapur.
Itu bukan kamar utama, melainkan kamar pelayan yang disulap menjadi kamar tidurnya selama tiga tahun terakhir.
Siska tidur di kamar utama di lantai dua, sementara ia selalu diusir ke bawah dengan alasan Siska tidak tahan dengkurannya.
Amir menarik sebuah koper lusuh dari bawah ranjang kayunya yang keras.
Sret.
Debu tipis beterbangan saat koper itu dibuka dari resletingnya yang sudah sedikit macet.
Ia hanya memasukkan beberapa potong pakaian murah dan dokumen penting miliknya.
Semua barang berharga seperti jam tangan atau pakaian bagus sudah ia jual untuk biaya pengobatan Siska tahun lalu.
Dan ironisnya, istrinya itu seolah lupa akan pengorbanan yang telah ia berikan.
"Cepat sedikit, jangan sampai kau mencuri barang-barang berharga di rumah ini!"
Suara cempreng Bu Rina terdengar menggelegar dari ambang pintu kamar.
Rendy berdiri di belakang ibunya sambil mengawasi setiap gerak-gerik Amir dengan tatapan curiga.
Amir menutup resleting kopernya dengan kasar lalu berdiri menghadap mereka.
"Kalian bisa memeriksa koperku kalau kalian memang curiga aku mengambil sesuatu."
"Aku tidak sudi membawa satu jarum pun yang dibeli menggunakan uang haram kesombongan kalian."
Amir mendorong kopernya ke arah Rendy dengan tatapan menantang.
Rendy yang tidak mau kalah gengsi langsung menendang koper itu menjauh.
"Bawa saja koper sampahmu itu pergi dari sini sekarang juga."
"Dan jangan pernah menampakkan wajah miskinmu itu di depan rumah ini lagi sampai kapan pun."
Amir meraih gagang kopernya dan berjalan melewati mereka berdua tanpa menoleh lagi.
Brak!
Suara pintu depan yang dibanting dengan keras menjadi tanda perpisahan Amir dengan rumah neraka tersebut.
Amir menyeret kopernya di sepanjang trotoar jalanan kota yang mulai memanas oleh terik matahari siang.
Perutnya berbunyi pelan meminta diisi karena ia memang belum sarapan sejak pagi tadi.
Ia memutuskan untuk duduk di sebuah halte bus yang sepi untuk beristirahat sejenak mengatur napas.
"Sekarang aku sudah resmi bercerai dan menjadi gelandangan sungguhan."
"Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya dengan sistem aneh ini."
Amir bergumam sendiri sambil menatap jalanan aspal yang lengang.
Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin itu kembali menggema jelas di dalam kepalanya.
[Selamat, Tuan telah menyelesaikan Misi Pemula dengan sangat baik]
[Hadiah 500 Poin dan Satu Kail Keberuntungan Tingkat Rendah telah ditambahkan ke dalam inventaris Tuan]
Mata Amir berbinar terang mendengar suara pemberitahuan tersebut.
"Jadi ini bukan halusinasi semata, Sistem ini benar-benar nyata ada di tubuhku!"
"Sistem, bisakah kau menjelaskan bagaimana cara kerjamu secara detail?"
Amir bertanya di dalam hatinya dengan penuh rasa penasaran yang menggebu-gebu.
Sebuah panel layar transparan berwarna biru muda tiba-tiba muncul melayang di depan wajahnya.
Amir sedikit terkejut dan memundurkan tubuhnya bersandar ke sandaran bangku halte.
Namun ia segera sadar bahwa beberapa orang yang lewat dengan sepeda motor tidak bereaksi sama sekali melihat layar itu.
"Sepertinya layar ajaib ini hanya bisa dilihat olehku saja."
Amir kembali fokus membaca deretan teks yang muncul berurutan di layar transparan tersebut.
[Sistem Check-in Memancing dirancang untuk membantu Tuan menjadi dewa pemancing di seluruh alam semesta]
[Tuan bisa melakukan Check-in harian di lokasi memancing mana pun untuk mendapatkan Poin atau Item misterius secara acak]
[Poin bisa didapatkan dari Check-in, menyelesaikan misi, atau menukarkan ikan hasil tangkapan kepada Sistem dengan harga yang sesuai]
[Poin dapat digunakan di Toko Sistem untuk membeli Umpan, Kail, Joran, Keterampilan magis, hingga ditukar dengan Mata Uang Dunia Nyata]
Nafas Amir menjadi sedikit lebih cepat dan memburu saat membaca kalimat terakhir di layar.
"Mata uang dunia nyata?"
"Sistem, bisakah aku menukarkan Poin milikku dengan uang Rupiah sekarang juga ke rekeningku?"
Amir langsung menanyakan hal yang paling krusial bagi kelangsungan perut dan hidupnya saat ini.
[Tentu saja bisa, Tuan]
[Nilai tukar saat ini adalah 1 Poin sama dengan 10.000 Rupiah dan bebas pajak]
[Apakah Tuan ingin melakukan penukaran Poin sekarang?]
Amir melakukan perhitungan matematika sederhana di kepalanya dengan cepat.
Saat ini ia memiliki total 600 Poin, yaitu 100 Poin awal dan 500 Poin hadiah dari misi pemula.
Jika ia menukarkan semuanya, ia akan mendapatkan uang tunai sebesar enam juta Rupiah.
Jumlah itu memang cukup untuk bertahan hidup selama sebulan dan menyewa kamar kos yang sangat layak.
Tapi Amir bukanlah pria yang bodoh dan serakah akan kenikmatan sesaat.
"Tunggu dulu, jika aku tukarkan semuanya, aku tidak punya modal poin untuk membeli peralatan memancing dari Sistem."
"Sistem, buka halaman Toko Sistem sekarang juga."
Layar biru itu berkedip sekilas lalu berubah menampilkan deretan gambar barang dengan harga poin di bawahnya.
Ada Umpan Cacing Wangi seharga 10 Poin per bungkus yang menjamin tangkapan kecil.
Ada Joran Bambu Hitam lentur seharga 200 Poin yang tidak akan patah.
Dan ada juga berbagai macam keterampilan pasif seperti Mata Elang yang harganya mencapai puluhan ribu Poin.
Amir kemudian mengalihkan pandangannya pada menu Inventaris di pojok atas layar.
Ia melihat ikon sebuah kail berwarna perak yang bersinar redup dengan aura magis.
[Kail Keberuntungan Tingkat Rendah]
[Deskripsi: Kail pancing yang telah diberkati dengan sedikit keberuntungan magis dari dewi laut]
[Efek: Meningkatkan peluang mendapatkan ikan langka atau item berharga sebesar dua puluh persen saat memancing di perairan mana pun]
[Daya Tahan: 10 kali lemparan penggunaan]
Amir tersenyum sangat puas melihat efek kail gratisan tersebut.
"Dengan kail ini, aku tidak perlu menghabiskan poin untuk beli joran mahal dulu."
"Aku bisa menggunakan joran murahan milikku yang kutinggalkan di danau tadi, semoga saja belum diambil orang lewat."
"Sistem, tukarkan 100 Poin dengan satu juta Rupiah dan transfer langsung ke rekening bank pribadiku."
[Terkonfirmasi]
[Menukarkan 100 Poin, sisa saldo Poin Tuan saat ini adalah 500 Poin]
Ting!
Ponsel butut di saku celana Amir berbunyi nyaring menandakan ada pesan singkat masuk.
Ia segera merogoh sakunya dan membuka layar ponsel yang pelindung kacanya sudah retak di beberapa bagian.
Pesan notifikasi dari bank menyatakan bahwa ada transfer masuk sebesar satu juta Rupiah tanpa nama pengirim.
Tangan Amir sedikit gemetar memegang ponselnya melihat angka nol yang banyak itu.
"Ini benar-benar uang sungguhan yang bisa kugunakan!"
"Aku bisa menjadi orang kaya raya hanya dengan duduk memancing!"
Amir tertawa lepas di halte yang sepi itu bagaikan orang gila.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ia merasakan beban yang sangat berat terangkat sepenuhnya dari pundaknya.
Ia bangkit berdiri dan meraih gagang kopernya dengan penuh semangat yang membara.
"Pertama-tama, aku harus makan siang dan menyewa kamar kos yang murah untuk menyimpan barang-barangku ini."
"Setelah itu, aku akan kembali ke danau dan menguji seberapa hebat Kail Keberuntungan ini bekerja."
Satu jam kemudian, Amir sudah selesai memindahkan barangnya ke sebuah kos sederhana berdinding batako di pinggiran kota.
Ia juga telah mandi dan berganti pakaian kering berupa kaos oblong putih serta celana pendek selutut.
Kini ia kembali berdiri di tepi danau, namun di sisi yang agak jauh dari lokasi ia ditendang pagi tadi.
Beruntung, joran pancing miliknya yang jatuh masih tersangkut aman di semak-semak dekat bibir danau dan tidak ada yang memungutnya.
Angin sore mulai berhembus cukup sejuk membawa aroma air tawar yang khas dan bau tanah basah.
Amir mengambil Kail Keberuntungan Tingkat Rendah dari menu inventaris Sistemnya.
Wush.
Kail perak itu muncul secara misterius dan berkilat di telapak tangannya seolah keluar dari udara kosong.
"Sangat ringan dan ujungnya sangat tajam, kualitas materialnya jauh di atas kail baja di toko pancing biasa."
Amir segera mengikat kail itu ke ujung senar pancingnya dengan ikatan simpul ganda yang sangat kuat.
Sebagai umpan, ia menggunakan pelet murah sisa yang ia bawa di dalam kotak perkakasnya pagi tadi.
"Mari kita lihat keajaiban dan keberuntungan apa yang bisa kau berikan padaku sore ini."
Syuut!
Amir melempar kailnya jauh menukik ke tengah danau dengan ayunan tangan yang mulus.
Plup.
Pelampung pancing berwarna merah menyala mengapung dengan tenang di atas ketenangan air.
Amir kembali duduk bersila menanti dengan penuh kesabaran seperti pemancing profesional.
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan matahari sudah mulai condong turun ke ufuk barat.
Sudah hampir tiga puluh menit lamanya pelampungnya tidak bergerak atau bergoyang sama sekali.
"Apakah aku salah memilih tempat lemparan."
"Danau ini memang sejak dulu terkenal sangat sulit untuk mendapatkan ikan berukuran besar."
Amir mulai bergumam dengan sedikit keraguan yang merayap di hatinya.
Namun baru saja ia berniat untuk menarik jorannya dan berpindah mencari tempat yang lebih dalam.
Pelampung merah di tengah danau tiba-tiba tersentak dengan sangat kasar ke bawah.
Blub blub blub!
Pelampung itu langsung tenggelam sepenuhnya ke dalam air tanpa jeda sedikit pun untuk mengambang lagi.
Zzzzzrrrrt!
Reel pancing Amir berputar liar tak terkendali mengeluarkan suara gesekan gir yang memekakkan telinga.
Senar pancing nilonnya menegang kaku hingga mengeluarkan suara siulan saat membelah hembusan angin.
"Akhirnya dapat!"
Amir berteriak kegirangan sambil mencengkeram jorannya kuat-kuat dengan kedua tangan.
Tenaga tarikan dari dalam air ini sangatlah brutal dan liar.
Ini jauh lebih kuat dan bertenaga daripada tarikan ikan yang ia dapatkan pagi tadi sebelum ditendang oleh Rendy.
Tubuh Amir sampai terseret beberapa sentimeter ke depan menyapu rumput menuju bibir danau.
"Kuat sekali, ini pasti bukan jenis ikan konsumsi biasa!"
"Aku tidak boleh gegabah, senar pancingku yang murah ini bisa putus kalau dipaksakan menahan beban."
Amir memutar otak menggunakan teknik tarik ulur yang sering ia pelajari dari menonton video memancing di internet.
Saat ikan itu menarik kuat berlawanan arah, ia mengulur sedikit senar agar ketegangannya tidak terputus.
Namun saat tarikan ikan itu mulai melemah, ia menggulung reel dengan kecepatan penuh tanpa ampun.
Pertarungan sengit antara otot manusia dan insting makhluk misterius di dalam air berlangsung selama sepuluh menit penuh.
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahi dan leher Amir.
Tiba-tiba, permukaan air di tengah danau bergolak hebat dan sesuatu melompat keluar memecah ketenangan air.
Byar!
Air memercik deras ke segala arah memantulkan cahaya matahari sore yang mulai menguning keemasan.
Mata Amir terbelalak sangat lebar melihat sosok makhluk yang berontak di ujung kail peraknya.
Itu adalah seekor ikan Arwana Super Red yang ukurannya sebesar lengan pria dewasa!
Sisiknya yang lebar memancarkan warna merah menyala yang sangat indah, mahal, dan elegan.
"Arwana Super Red hidup liar di danau pemancingan umum ini?"
"Ini sangat mustahil, ikan hias semahal dan serapuh ini tidak mungkin bertahan hidup di perairan umum yang kotor seperti ini!"
Amir bergumam takjub bercampur tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Namun fakta yang berontak ada di depan matanya dan ikan itu kembali masuk ke dalam air melanjutkan perlawanannya.
"Aku tidak peduli dari mana asalmu atau siapa yang membuangmu, tapi kau akan menjadi batu loncatan pertamaku menuju kekayaan mutlak!"
Amir mengerahkan seluruh sisa tenaganya di kedua lengan dan menarik jorannya kuat-kuat ke atas.
Dengan satu hentakan bertenaga, ikan Arwana berharga fantastis itu terlempar ke udara dan mendarat mulus di atas rumput basah.
Gubrak glupak glupak.
Ikan eksotis itu menggelepar hebat memukulkan ekornya di atas tanah berlumpur.
Amir langsung melompat maju dan menekan tubuh ikan itu dengan sehelai kain basah agar sisiknya yang berharga tidak tergores batu.
Napas Amir terengah-engah kehabisan oksigen tapi senyum sangat lebar terlukis jelas di wajahnya.
Ding!
Suara sistem berbunyi merdu dan menenangkan di dalam telinganya.
[Selamat, Tuan berhasil memancing Ikan Arwana Super Red Mutan dari kedalaman]
[Nilai kelangkaan spesies: Sangat Tinggi]
[Apakah Tuan ingin menukarkan ikan ini ke Sistem secara langsung seharga 10.000 Poin, atau menyimpannya hidup-hidup di Kolam Ruang Sistem?]
Amir tertegun kaku mendengar tawaran harga dari Sistem.
"10.000 Poin itu sama saja dengan seratus juta Rupiah tunai."
"Ini benar-benar gila dan tidak masuk akal, hanya dalam waktu setengah jam duduk memancing aku mendapatkan uang sebanyak itu."
Amir menatap lekat-lekat mata ikan Arwana yang kini mulai tenang dan bernapas berat di dalam pelukan kainnya.
"Sistem, apa sebenarnya maksudnya dari fitur Kolam Ruang Sistem itu?"
Amir bertanya untuk memastikan ia tidak salah dalam mengambil keputusan finansial pertamanya.
[Kolam Ruang Sistem adalah dimensi penyimpanan air khusus untuk menampung tangkapan ikan hidup milik Tuan]
[Ikan yang disimpan di sana tidak akan mati kehabisan oksigen dan nilai jual mutasinya akan terus meningkat seiring berjalannya waktu]
Amir menganggukkan kepalanya perlahan tanda mengerti setelah mendengar penjelasan sistematis tersebut.
Jika ia menjualnya di pasar ikan dunia nyata, ia tidak punya koneksi ke jaringan kolektor ikan hias kelas atas.
Menjualnya ke toko ikan biasa pinggir jalan hanya akan membuat harganya ditekan habis-habisan oleh tengkulak.
Menukarkannya ke Sistem adalah pilihan paling aman, tapi ia tidak butuh uang seratus juta detik ini juga karena ia masih punya satu juta di rekeningnya.
"Simpan ikan Arwana ini di dalam Kolam Ruang Sistem."
"Aku akan membiarkannya berevolusi dan tumbuh menjadi lebih mahal lagi sebelum kujual."
Amir memberikan perintah dengan nada mantap di dalam hatinya.
Dalam sekejap mata, ikan Arwana besar di pelukannya menghilang tanpa meninggalkan jejak air sedikit pun.
Amir berdiri perlahan sambil membersihkan sisa kotoran lumpur di tangannya.
Ia menatap matahari yang mulai tenggelam di ujung danau dengan perasaan penuh harapan baru.
Dendam kesumat pada mantan istri dan keluarga mertuanya masih membara panas di dalam dadanya.
Tapi sekarang, ia sudah memegang senjata terkuat di dunia untuk menghancurkan kesombongan mereka hingga berkeping-keping.
"Tunggu saja pembalasanku yang sesungguhnya, Siska, Rendy, dan Bu Rina."
Amir tersenyum sangat dingin dan mulai membereskan peralatan memancingnya untuk pulang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!