Syuuu.
Angin siang kota Jakarta berhembus panas menerpa wajah Rizal yang tampak kusam.
Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu duduk termenung di salah satu bangku taman kota.
Matanya kosong menatap layar ponsel usang yang kacanya sudah retak di beberapa bagian.
"Saldo rekening... lima puluh ribu rupiah."
Rizal bergumam pelan dengan suara bergetar.
Hanya itu yang tersisa dari kerja kerasnya selama tiga tahun terakhir.
Drrt... Drrt... Drrt...
Ponsel di genggamannya tiba-tiba bergetar menampilkan nama kontak Bos Hendra.
"Halo, Pak Hendra?"
Rizal menjawab panggilan itu dengan cepat.
"Rizal, mulai besok kamu tidak perlu datang ke kantor lagi."
Suara berat dari seberang telepon itu langsung menghantam dada Rizal.
"Maksud Bapak apa? Saya dipecat?"
"Ya, perusahaan sedang efisiensi dan kerjamu belakangan ini sangat lambat."
"Tapi Pak, saya selalu lembur dan menyelesaikan semua tugas saya!"
"Itu tidak penting, intinya kamu saya pecat dan pesangonmu akan dipotong untuk ganti rugi laptop kantor yang sempat rusak bulan lalu."
Tut.
Panggilan diputuskan secara sepihak sebelum Rizal sempat membela diri.
Rizal meremas rambutnya yang berantakan dengan rasa frustrasi yang memuncak.
Dia adalah seorang yatim piatu yang harus berjuang hidup sendirian di kerasnya ibukota.
Kehilangan pekerjaan berarti dia tidak akan bisa membayar uang sewa kos bulan depan.
Drrt... Drrt...
Ponselnya kembali bergetar dan kali ini menampilkan nama Nadia.
Nadia adalah kekasih yang baru ia kenal tiga bulan lalu dari sebuah aplikasi kencan online.
Senyum tipis muncul di wajah Rizal karena dia merasa butuh tempat bersandar.
"Halo, Sayang?"
Rizal menyapa dengan nada yang dilembutkan.
"Jangan panggil aku sayang lagi, Rizal."
Suara dingin Nadia membuat senyum Rizal langsung luntur seketika.
"Ada apa, Nad? Kamu marah padaku?"
"Kita putus saja, aku sudah muak berhubungan dengan pria miskin sepertimu."
"Tunggu dulu Nad, kenapa tiba-tiba begini?"
Rizal berdiri dari bangku taman karena panik.
"Kamu pikir aku mau hidup susah dengan pegawai rendahan sepertimu?"
"Tapi Nad, aku selalu menuruti semua kemauanmu selama ini."
"Menuruti apanya? Beli tas bermerek saja kamu harus mencicil."
"Nad, aku tahu aku baru saja kehilangan pekerjaan, tapi tolong jangan tinggalkan aku sekarang."
Terdengar suara tawa meremehkan dari seberang telepon.
"Kehilangan pekerjaan? Wah, pas sekali kalau begitu."
"Maksudmu apa, Nad?"
"Kamu ingat uang seratus juta yang kamu transfer ke aku minggu lalu untuk modal usaha bersamaku?"
Tubuh Rizal langsung menegang mendengar pertanyaan itu.
Uang itu adalah seluruh tabungan masa depannya yang dia kumpulkan dengan susah payah.
Nadia membujuknya untuk berinvestasi di bisnis butik yang ternyata hanya akal-akalannya saja.
"Tentu saja aku ingat, itu tabunganku satu-satunya untuk masa depan kita."
"Lupakan saja soal masa depan kita, uang itu sudah aku pakai untuk liburan ke Bali dengan pacar baruku."
Brak!
Rizal tanpa sadar menendang tong sampah di dekatnya saking terkejutnya.
"Pacar baru? Kamu selingkuh dariku dan menipuku?!"
"Jangan sembarangan bicara ya, aku tidak menipumu."
"Lalu uangku bagaimana, Nadia?!"
"Anggap saja uang itu sebagai biaya kompensasi karena aku sudah membuang waktuku bersamamu selama tiga bulan ini."
"Nadia, kembalikan uangku! Itu hasil keringatku selama tiga tahun!"
"Cari saja uangmu di tempat sampah, dasar pria miskin yang gampang dibodohi."
"Nadia, kamu benar-benar kejam!"
"Terima kasih pujiannya, selamat menikmati hidup miskinmu ya."
Tut.
Sambungan telepon dimatikan begitu saja oleh Nadia.
Rizal kembali mencoba menghubungi nomor Nadia namun ternyata nomornya sudah diblokir.
Tubuh Rizal lemas dan dia kembali terduduk di bangku taman.
"Sialan... sialan... sialan!"
Rizal memaki angin dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Dia sudah bekerja sangat keras namun bosnya memecatnya tanpa alasan yang jelas.
Dia sudah mencintai dengan tulus namun kekasihnya menipunya hingga tak tersisa.
Dunia terasa begitu tidak adil bagi seorang yatim piatu sepertinya.
"Kenapa semua orang terus saja berbohong dan menipuku?"
Rizal bergumam dengan tatapan kosong melihat orang-orang yang berlalu lalang di taman.
"Seandainya saja ada keajaiban yang bisa membalikkan semua kebohongan ini."
Ting!
Tiba-tiba sebuah suara mekanis yang aneh berdenging nyaring di dalam kepala Rizal.
Rizal menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak ada siapa pun di dekatnya.
"Suara apa itu tadi?"
Ting!
[Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan sedang diinisialisasi...]
Rizal terlonjak kaget dan memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sedikit hangat.
"Sistem? Apa maksudnya ini?"
[Inisialisasi selesai. Selamat datang Tuan, Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan telah terikat pada jiwa Anda.]
Sebuah layar holografik berwarna biru transparan tiba-tiba muncul melayang di depan wajah Rizal.
Rizal mengusap matanya berkali-kali karena mengira dia sedang berhalusinasi akibat stres berat.
"Apakah aku sudah gila karena kehilangan pekerjaan dan ditipu?"
[Anda tidak gila Tuan. Saya adalah entitas sistem yang akan mengubah nasib Anda.]
Layar holografik itu menampilkan teks yang sesuai dengan suara mekanis di kepalanya.
"Lalu apa fungsi dari sistem ini?"
[Sistem ini akan mengubah setiap kebohongan, modus penipuan, hinaan, dan omong kosong yang diarahkan kepada Anda menjadi sebuah realitas yang sah dan permanen.]
Rizal menelan ludah membaca penjelasan singkat namun luar biasa tidak masuk akal itu.
"Mengubah penipuan menjadi kenyataan? Maksudnya bagaimana?"
[Jika seseorang mencoba menipu Anda dengan kebohongan, kebohongan itu akan dimanipulasi oleh sistem menjadi sebuah kebenaran yang menguntungkan Anda.]
Rizal masih mencerna informasi tersebut saat ponselnya kembali bergetar.
Kali ini sebuah pesan SMS masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Rizal membuka pesan itu dan membaca isinya.
"Selamat! Anda resmi terpilih sebagai pemenang Undian Bank Nasional dan berhak mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 10.000.000.000 Sepuluh Miliar Rupiah. Silakan transfer biaya pajak sebesar Rp 2.000.000 ke rekening ini untuk pencairan dana."
Rizal mendengus sinis melihat pesan penipuan klasik tersebut.
"Ini pasti penipuan bodoh yang sering dikirim secara acak."
Ting!
[Mendeteksi adanya modus penipuan yang ditujukan kepada Tuan.]
[Kebohongan: Anda memenangkan undian sebesar sepuluh miliar rupiah.]
[Memproses manipulasi realitas...]
Layar holografik di depan Rizal berkedip dengan cepat.
[Manipulasi berhasil. Kebohongan telah diubah menjadi kenyataan.]
Rizal mengerutkan keningnya tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Jadi... apakah ini berarti aku benar-benar mendapatkan sepuluh miliar?"
Ting!
Ponsel Rizal berbunyi lagi, kali ini menandakan adanya notifikasi dari aplikasi mobile banking miliknya.
Rizal membuka aplikasi tersebut dengan tangan gemetar dan jantung yang berdebar kencang.
Matanya terbelalak lebar saat melihat angka yang tertera di layar ponselnya.
"Satu... dua... tiga... ada sepuluh nol di belakang angka sepuluh."
Rizal menghitung jumlah nol itu berkali-kali untuk memastikan matanya tidak salah.
Saldo rekeningnya yang awalnya hanya lima puluh ribu rupiah kini berubah menjadi Rp 10.000.050.000.
"Ya Tuhan... ini nyata! Uangnya benar-benar masuk ke rekeningku!"
Rizal melompat kegirangan hingga beberapa orang di taman menatapnya dengan aneh.
"Aku kaya! Aku benar-benar kaya sekarang!"
Rizal tidak peduli dengan tatapan orang-orang karena dia terlalu bahagia.
Semua rasa putus asa dan sedihnya menguap begitu saja digantikan oleh euforia yang meluap-luap.
[Tuan, harap tenang. Ini barulah permulaan dari kekuatan Sistem.]
Suara sistem kembali menenangkan Rizal yang masih kesulitan mengendalikan emosinya.
"Benar, ini baru permulaan."
Rizal menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri.
"Jika setiap penipuan bisa menjadi kenyataan, maka dunia ini adalah tambang emasku."
Rizal tersenyum miring membayangkan masa depannya yang cerah.
Dia teringat kembali pada Nadia yang baru saja menipunya habis-habisan.
"Nadia, kamu pikir kamu bisa menipuku dan lari begitu saja?"
Rizal bergumam dengan nada dingin sambil mencengkeram ponselnya.
"Aku akan membuatmu memohon di bawah kakiku karena sudah mencampakkan aku."
Rizal juga teringat pada Bos Hendra yang memecatnya dengan semena-mena.
"Dan untuk Pak Hendra, bersiaplah kehilangan segalanya karena sudah mencari masalah denganku."
Rizal kini bukan lagi pemuda miskin yang bisa diinjak-injak oleh siapa saja.
Dia memiliki kekuatan untuk mengubah segala bentuk niat buruk menjadi kekayaan tanpa batas.
"Mulai sekarang, aku yang akan memegang kendali atas hidupku sendiri."
Rizal melangkah pergi meninggalkan taman kota dengan dada membusung dan kepercayaan diri yang baru.
Langkah pertamanya adalah mencari tempat tinggal yang layak untuk seorang miliarder baru sepertinya.
Ting!
[Sebuah panggilan masuk terdeteksi dari nomor tidak dikenal.]
Rizal melihat layar ponselnya dan tersenyum penuh arti.
"Mari kita lihat penipuan macam apa lagi yang akan memberikan aku uang hari ini."
Rizal menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, dengan Bapak Rizal?"
Suara seorang pria yang terdengar sangat formal menyapa dari seberang telepon.
"Ya, ini dengan saya sendiri."
"Bapak, saya dari pihak kepolisian menginformasikan bahwa anak Bapak sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan."
Rizal hampir tertawa mendengarnya.
"Anak? Saya saja belum pernah menikah."
"Bapak harus segera mentransfer biaya operasi sebesar lima puluh juta rupiah ke rekening dokter, atau nyawa anak Bapak tidak akan tertolong!"
Ting!
[Mendeteksi adanya modus penipuan yang ditujukan kepada Tuan.]
[Kebohongan: Anak Anda mengalami kecelakaan dan butuh biaya operasi.]
[Memproses manipulasi realitas... Gagal.]
Rizal mengernyitkan dahi melihat peringatan berwarna merah di layar sistem.
"Kenapa gagal, Sistem?"
[Sistem tidak dapat menciptakan manusia dari ketiadaan Tuan, apalagi anak biologis yang tidak pernah Anda miliki.]
"Ah, jadi sistem ini ada batasannya juga ya."
[Namun, sistem akan memodifikasi realitas kebohongan ini menjadi bentuk aset yang relevan.]
[Memproses modifikasi realitas...]
[Modifikasi berhasil. Sebuah Rumah Sakit swasta di pusat kota Jakarta kini resmi menjadi milik Anda sebagai bentuk realisasi dari 'biaya operasi rumah sakit'.]
Rizal mematung di tengah trotoar jalan saat membaca notifikasi tersebut.
"Halo Bapak? Halo? Apa Bapak masih di sana? Cepat transfer uangnya!"
Suara penipu dari telepon menyadarkan Rizal dari keterkejutannya.
"Hei penipu bodoh, terima kasih banyak ya."
"Hah? Apa maksud Bapak?"
"Terima kasih karena sudah memberikanku sebuah rumah sakit gratis hari ini."
Tut.
Rizal langsung mematikan telepon dan tertawa lepas.
"Ini sungguh gila, aku tidak hanya mendapatkan uang tunai tapi juga aset sebesar rumah sakit!"
Rizal mempercepat langkahnya menuju jalan raya untuk mencari taksi.
Dia tidak sabar untuk segera melihat rumah sakit baru yang kini menjadi miliknya itu.
Hari ini, kehidupan seorang Rizal telah berubah untuk selamanya.
Dia akan membuktikan kepada semua orang yang pernah menghinanya bahwa mereka telah salah memilih lawan.
Ciiiit.
Sebuah taksi biru berhenti tepat di depan pelataran lobi utama Rumah Sakit Medika Sentosa.
Rizal turun dari taksi dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu terakhir dari dompetnya kepada sang sopir.
Pemuda itu kini berdiri di depan gedung megah berlantai lima belas yang menjulang tinggi menantang langit Jakarta.
Dia menatap layar ponselnya yang retak untuk memeriksa kotak masuk emailnya.
[Sistem telah mentransfer kepemilikan seratus persen saham Rumah Sakit Medika Sentosa atas nama Anda.]
[Semua dokumen legalitas, sertifikat, dan akta notaris telah diatur secara otomatis dan aman.]
Senyum percaya diri mulai mengembang di wajah Rizal yang biasanya selalu terlihat lelah.
Rumah sakit swasta elit yang melayani kalangan atas ini sekarang benar-benar miliknya seutuhnya.
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki Rizal berayun pelan memasuki lobi utama yang berlapis marmer mengkilap.
Pakaian kasualnya yang kusam dan sepatu ketsnya yang sudah mengelupas tampak sangat kontras dengan suasana mewah di sekitarnya.
Beberapa perawat dan pengunjung sempat meliriknya dengan tatapan meremehkan.
Rizal mengabaikan mereka dan berniat langsung menuju meja resepsionis untuk mencari ruang direktur.
"Rizal? Sedang apa gembel sepertimu di sini?"
Sebuah suara melengking yang sangat familiar tiba-tiba menghentikan langkah pemuda itu.
Rizal menoleh perlahan dan matanya langsung menyipit tajam.
Nadia berdiri tidak jauh darinya dengan mengenakan gaun merah mencolok dan tas tangan bermerek yang baru.
Wanita yang baru saja menipunya beberapa jam lalu itu sedang menggandeng lengan seorang pria berdandan necis.
"Wah, dunia ini ternyata sempit sekali ya, Nadia."
Rizal menjawab dengan nada datar tanpa menunjukkan emosi sedih sedikit pun.
Nadia mendengus kasar dan menatap Rizal dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan jijik.
"Kamu mengikutiku sampai ke sini ya? Dasar pria menyedihkan!"
"Mengikutimu? Jangan terlalu percaya diri, aku punya urusan sendiri di sini."
Pria necis di sebelah Nadia tiba-tiba tertawa kecil dan menepuk bahu kekasih barunya itu.
"Sayang, inikah mantan pacarmu yang miskin dan bodoh itu?"
Nadia langsung bersandar manja di bahu pria itu sambil tersenyum merendahkan.
"Iya Mas Raka, dia ini pria yang uang tabungannya aku pakai untuk liburan kita ke Bali besok."
Raka, pria necis itu, menatap Rizal dengan dagu terangkat tinggi.
"Namaku Raka, aku adalah pengusaha muda dan pemilik beberapa showroom mobil mewah di Jakarta."
"Aku tidak bertanya siapa namamu dan apa pekerjaanmu."
Rizal membalas ucapan Raka dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Wajah Raka sedikit memerah karena merasa diremehkan oleh pria berpakaian lusuh di depannya.
"Berani sekali kamu bersikap sombong di depanku, dasar gelandangan."
"Lalu aku harus bersikap bagaimana pada orang yang menampung barang bekasku?"
Plak!
Nadia memukul udara dengan tangannya karena tidak terima disebut barang bekas.
"Jaga mulutmu Rizal! Kamu itu cuma pecundang yang baru dipecat dari pekerjaan rendahanmu!"
"Dan kamu adalah penipu yang memakan uang hasil keringat orang lain."
"Uang seratus juta itu bukan apa-apa bagi Mas Raka, dia bisa memberiku sepuluh kali lipat dalam sehari!"
Nadia terus memamerkan Raka untuk menjatuhkan harga diri Rizal.
Raka yang merasa dibanggakan kembali membusungkan dadanya dengan sombong.
"Tentu saja, uang seratus juta itu hanya uang jajan sehari-hariku."
Ting!
[Mendeteksi adanya kebohongan yang diucapkan di sekitar Tuan.]
[Kebohongan: Uang seratus juta adalah uang jajan sehari-hari Raka. Faktanya, dia sedang terlilit hutang pinjaman online.]
Suara mekanis sistem tiba-tiba bergema di dalam kepala Rizal.
Rizal hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar fakta yang dibongkar oleh sistemnya.
"Uang jajan sehari-hari ya? Hebat sekali Tuan Raka ini."
"Tentu saja, lagipula orang miskin sepertimu mau apa ke rumah sakit elit ini?"
Raka menunjuk dada Rizal dengan jari telunjuknya.
"Jangan-jangan kamu mau melamar jadi petugas kebersihan ya di sini?"
"Aku datang ke sini untuk memeriksa aset milikku."
Mendengar jawaban Rizal, Nadia dan Raka langsung tertawa terbahak-bahak hingga menarik perhatian orang-orang di lobi.
"Aset milikmu? Kamu bilang rumah sakit ini aset milikmu?"
Nadia memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Rizal, kamu pasti sudah gila karena aku putuskan dan aku ambil uangmu."
Raka menggelengkan kepalanya dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat.
"Sayang, sepertinya mantanmu ini butuh dirawat di bangsal kejiwaan."
"Mas Raka benar, orang miskin ini sudah kehilangan akal sehatnya."
"Biar aku beritahu kamu sesuatu anak muda, aku ini kenal dekat dengan Direktur rumah sakit ini."
Raka menepuk dadanya sendiri dengan penuh kebanggaan.
"Aku bisa menyuruh Direktur Gunawan untuk melemparmu keluar dari sini sekarang juga!"
Ting!
[Mendeteksi adanya kebohongan yang diarahkan kepada Tuan.]
[Kebohongan: Raka kenal dekat dengan Direktur Gunawan dan bisa menyuruhnya.]
[Memproses manipulasi realitas...]
[Manipulasi berhasil. Direktur Gunawan saat ini sedang turun ke lobi untuk menemui Anda sebagai pemilik sah rumah sakit.]
Rizal tersenyum lebar mendengar notifikasi dari sistem tersebut.
Sistemnya benar-benar pintar dalam memanfaatkan kebohongan musuh untuk mempermalukan mereka sendiri.
"Oh ya? Kamu kenal dekat dengan Direktur Gunawan?"
"Tentu saja! Kami sering bermain golf bersama setiap akhir pekan!"
Raka berbohong dengan sangat lancar tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kalau begitu, mari kita buktikan seberapa dekat kamu dengannya."
Rizal melipat tangannya di dada sambil menatap ke arah lift VIP yang baru saja terbuka.
Seorang pria paruh baya mengenakan jas dokter yang sangat rapi berjalan tergesa-gesa keluar dari lift.
Pria itu diikuti oleh beberapa staf administrasi dan kepala keamanan di belakangnya.
"Lihat itu sayang, Direktur Gunawan kebetulan sedang turun ke lobi."
Nadia menunjuk rombongan dokter tersebut dengan mata berbinar.
"Mas Raka, cepat suruh dia mengusir gembel ini dari hadapanku."
Raka sebenarnya mulai berkeringat dingin karena dia sama sekali tidak mengenal Direktur Gunawan secara pribadi.
Namun demi menjaga gengsinya di depan Nadia, Raka memberanikan diri melangkah maju.
"Selamat siang, Direktur Gunawan!"
Raka menyapa dengan suara lantang sambil mengulurkan tangannya.
Direktur Gunawan yang sedang berjalan terburu-buru itu hanya melirik Raka sekilas tanpa menghentikan langkahnya.
Beliau benar-benar mengabaikan uluran tangan Raka dan terus berjalan melewatinyanya begitu saja.
Tangan Raka menggantung di udara dengan wajah yang perlahan memerah menahan malu.
Nadia mengerutkan keningnya melihat kejadian canggung tersebut.
"Mas Raka, kok dia mengabaikanmu?"
"Mungkin... mungkin dia sedang buru-buru sayang, wajar saja orang sibuk."
Raka mencoba mengelak dengan alasan yang dibuat-buat.
Namun pandangan Raka dan Nadia tiba-tiba membeku saat melihat ke mana arah tujuan Direktur Gunawan.
Pria paruh baya nomor satu di rumah sakit itu berhenti tepat di hadapan Rizal.
Bruk.
Direktur Gunawan menundukkan kepalanya hingga sembilan puluh derajat di depan Rizal yang berpakaian lusuh.
"Selamat datang di Rumah Sakit Medika Sentosa, Tuan Rizal."
Suara Direktur Gunawan terdengar sangat hormat dan sedikit gemetar karena gugup.
"Saya dr. Gunawan, Direktur Utama yang akan melayani semua kebutuhan Anda mulai hari ini."
Seluruh lobi rumah sakit seketika menjadi sunyi senyap.
Para perawat, dokter jaga, dan pengunjung yang tadinya meremehkan Rizal kini membelalakkan mata tidak percaya.
Nadia mundur satu langkah dengan mulut terbuka lebar hingga hampir menyentuh lantai.
"A-apa yang terjadi? Direktur Gunawan... menunduk pada Rizal?"
Nadia bergumam dengan suara bergetar dan tatapan kosong.
Raka yang berdiri di dekatnya juga menelan ludah dengan susah payah karena jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Direktur Gunawan, Anda pasti salah orang!"
Nadia tiba-tiba berteriak histeris dan berlari menghampiri sang direktur.
"Pria ini namanya Rizal, dia itu cuma pengangguran miskin yang baru saja dipecat!"
Direktur Gunawan langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Nadia dengan pandangan sangat tajam.
"Jaga ucapan Anda Nona! Tuan Rizal adalah pemilik sah dari seluruh saham rumah sakit ini!"
Duarr!
Pernyataan Direktur Gunawan bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di atas kepala Nadia dan Raka.
"Pemilik... saham? Seratus persen?"
Kaki Nadia seketika terasa lemas seperti jeli dan dia hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada kursi tunggu.
"Ini tidak mungkin, ini pasti bohong! Kemarin dia masih menangis memohon padaku!"
Nadia terus menggelengkan kepalanya menolak realitas yang ada di depan matanya.
Rizal melangkah maju dengan aura intimidasi yang membuat Raka perlahan mundur ketakutan.
"Bagaimana Tuan Raka? Katanya kamu kenal dekat dengan bawahanku ini?"
Rizal bertanya dengan nada mengejek yang sangat kentara.
"S-saya... saya..."
Raka tergagap tidak bisa mengucapkan satu kata pun untuk membalas.
Rizal menoleh ke arah Direktur Gunawan yang masih berdiri tegap di sampingnya.
"Dokter Gunawan, apakah pria bernama Raka ini adalah kenalan Anda?"
"Saya sama sekali tidak mengenal pria ini, Tuan Rizal."
"Lalu, apakah rumah sakit elit saya ini mengizinkan orang-orang berisik untuk berkeliaran di lobi?"
Direktur Gunawan adalah orang yang cerdas, beliau langsung mengerti maksud dari bos barunya itu.
"Tentu saja tidak Tuan, kami sangat menjaga kenyamanan di sini."
Direktur Gunawan memberi isyarat tangan kepada kepala keamanan yang berdiri di belakangnya.
"Petugas, tolong seret kedua orang ini keluar dari area rumah sakit sekarang juga."
"Baik, Pak Direktur!"
Tiga orang satpam bertubuh besar langsung maju dan mencengkeram lengan Raka serta Nadia.
"Lepaskan aku! Berani-beraninya kalian menyentuhku!"
Nadia meronta-ronta dengan histeris saat tubuhnya diseret paksa menuju pintu keluar.
"Rizal! Kamu pasti menggunakan ilmu hitam kan?! Ini tidak mungkin!"
Raka juga mencoba melawan namun tenaganya bukan tandingan para petugas keamanan.
"Tunggu, saya ini pengusaha kaya! Kalian tidak bisa memperlakukan saya seperti ini!"
"Simpan saja omong kosongmu untuk melunasi hutang pinjaman onlinemu, Raka."
Rizal membalas teriakan Raka dengan senyum miring yang mematikan.
Mata Raka melotot lebar saat rahasia terbesarnya tiba-tiba dibongkar di depan umum.
Keduanya akhirnya dilempar keluar dari pintu kaca otomatis hingga jatuh tersungkur di aspal pelataran rumah sakit.
Rizal hanya menonton pemandangan itu dari dalam lobi dengan perasaan yang sangat puas.
"Ini baru permulaan, Nadia."
Rizal membatin di dalam hatinya.
"Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan Rizal."
Direktur Gunawan kembali membungkuk hormat untuk meminta maaf.
"Tidak masalah, kerja yang bagus Dokter Gunawan."
"Mari Tuan, saya akan mengantar Anda ke ruangan VVIP khusus untuk pemilik di lantai paling atas."
Rizal mengangguk pelan dan mulai berjalan mengikuti sang direktur menuju lift khusus.
"Oh ya Tuan, ada satu hal penting yang harus saya laporkan kepada Anda."
Direktur Gunawan berbicara saat mereka sudah berada di dalam lift yang bergerak naik.
"Hal penting apa itu?"
"Saat ini di ruang rawat VVIP lantai empat, sedang dirawat Tuan Besar dari Keluarga Wijaya."
Rizal mengerutkan keningnya karena merasa asing dengan nama tersebut.
"Siapa itu Keluarga Wijaya?"
"Mereka adalah salah satu konglomerat terbesar di Jakarta, Tuan."
Direktur Gunawan menjelaskan dengan nada yang sedikit berhati-hati.
"Cucu perempuan beliau, Nona Clara Wijaya, saat ini sedang berada di sini dan keadaannya cukup tegang."
"Tegang? Memangnya ada masalah apa?"
"Tuan Besar Wijaya didiagnosis menderita penyakit langka yang sangat sulit disembuhkan, dan Nona Clara berjanji akan memberikan apapun kepada siapa saja yang bisa menyelamatkan kakeknya."
Rizal menyentuh dagunya perlahan saat mendengar informasi berharga tersebut.
Ting!
[Misi Sampingan Terbuka: Sembuhkan Tuan Besar Wijaya melalui manipulasi sistem.]
[Hadiah: Membuka fungsi baru sistem dan koneksi emas di dunia bisnis Jakarta.]
Rizal tersenyum penuh arti melihat panel biru yang baru saja muncul di depan wajahnya.
"Sepertinya hari pertamaku menjadi pemilik rumah sakit akan sangat sibuk."
Rizal menatap pantulan dirinya di pintu lift kaca yang perlahan terbuka menuju lantai eksekutif.
Kehidupannya yang baru benar-benar telah dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!