Indonesia
NovelToon NovelToon

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Bab 1: Gerbang Reruntuhan Awan

Kabut tebal membungkus lereng Lembah Bintang Kelabu saat matahari mulai terbenam di ufuk barat. Angin dingin berembus kencang, membawa aroma tanah basah dan desis energi Qi yang samar namun pekat.

Kaelen menggenggam erat gagang pedang besi berkarat di pinggangnya. Langkah kakinya menyusuri batu-batu tajam reruntuhan kuil kuno yang telah hancur ribuan tahun lalu. Di depannya, struktur gerbang raksasa dari batu hitam berdiri megah, meskipun separuhnya telah tertutup lumut darah.

"Tempat ini... getaran energinya terlalu menekan," bisik Lyra dari samping. Jemarinya yang lentik memegang botol racun alkimia dengan siaga. "Kaelen, rumor bahwa Faksi Tengkorak Darah sudah mengirim pengintai ke sini mungkin bukan sekadar gertakan."

Kaelen tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menatap ukiran rumit di atas ambang gerbang—ukiran naga tanpa mata, simbol dari Mazhab Pedang Purba yang telah hilang dari sejarah.

"Jika kita berbalik sekarang, kita tidak akan pernah tahu mengapa Pedang Berkarat ini terus bergetar setiap kali mendekati reruntuhan ini," kata Kaelen dengan suara berat. "Lagipula, Vance tidak akan membiarkan kita keluar dari perbatasan ini hidup-hidup."

Tiba-tiba, suara retakan keras terdengar dari balik dinding kuil. Bau amis darah menyengat udara seketika. Sesuai dugaan mereka, bayangan-bayangan hitam mulai bermunculan dari balik kabut.

Suasana di dalam aula reruntuhan kuil kuno yang diselimuti kabut aura mistis terasa begitu mencekam. Gelombang tekanan dari Perebutan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit dan Pengkhianatan Faksi Sekte Kuno mendatangkan keheningan luar biasa bagi Kaelen dan Lyra.

Tanpa diduga, Kaelen terjebak dalam perundingan alot dengan pimpinan faksi oposisi lokal. Situasi ini memaksa mereka untuk mengubah strategi bertahan secara drastis demi menyelamatkan misi keseluruhan.

"Biarkan mereka datang. Kita akan akhiri permainan ini malam ini juga," kata Kaelen sambil mengepalkan tangan erat-erat.

Langkah demi langkah kaki mereka menyusuri lorong sunyi, bersiap menyambut babak baru pertarungan yang jauh lebih menantang di depan.

Kabut yang sebelumnya hanya menyelimuti lereng, kini merayap masuk ke dalam reruntuhan, menyatu dengan kegelapan abadi di sana. Dari balik tirai putih itu, bayangan-bayangan hitam yang disebutkan Lyra mulai membentuk wujud. Bukan sekadar ilusi, melainkan entitas semi-fisik yang tercipta dari kondensasi Qi gelap, memancarkan aura dingin yang mengikis vitalitas. Mereka adalah para penjaga—atau lebih tepatnya, korban—dari ilmu hitam Faksi Tengkorak Darah, jiwa-jiwa yang terperangkap dalam bentuk tidak wajar, ditugaskan untuk menjaga gerbang ke kedalaman yang lebih mengerikan. Mata mereka, jika bisa disebut mata, berpendar merah menyala dalam kegelapan, menatap Kaelen dan Lyra dengan kebencian purba.

Kaelen menarik Pedang Besi Berkarat dari sarungnya. Bilah yang seharusnya tumpul itu kini memancarkan aura keabu-abuan yang aneh, seolah setiap karatnya adalah mata rantai yang menghubungkan ke dimensi lain. Sebuah getaran halus merambat dari gagangnya—bukan getaran ketakutan, melainkan semacam desakan, nafsu yang terpendam, keinginan untuk berinteraksi dengan energi di sekitarnya.

"Mereka datang lebih cepat dari yang kuduga, Lyra," gumam Kaelen. Suaranya tenang, namun terselip ketegasan baja. "Strategi kita harus dieksekusi sekarang."

Lyra di sampingnya mengangguk. Jemarinya yang lentik sudah siap; botol-botol kecil berisi racun alkimia yang disuling dari bunga-bunga beracun lembah terlarang tersemat di antara jari-jarinya. Aura hijau gelap mulai melingkari telapak tangannya, siap melepaskan jurus "Tangan Pemurni Racun Api" miliknya.

Bayangan terdepan melesat, bergerak seperti hantu namun dengan kecepatan dan kekuatan fisik yang mengejutkan. Cakar-cakar mereka, yang terbuat dari Qi hitam pekat, mengoyak udara dengan suara siulan menyeramkan. Kaelen tidak gentar. Tubuhnya bergerak bagai angin puyuh, sebuah manifestasi dari "Teknik Jiwa Pedang Hampa" yang belum sempurna. Pedang berkarat itu berkelebat, bukan dengan jurus-jurus anggun yang diajarkan sekte-sekte besar, melainkan dengan gerakan efisien, brutal, dan mematikan. Setiap ayunan menghasilkan suara desingan rendah, dan setiap kali bilah itu mengenai bayangan, entitas gelap itu menjerit tanpa suara, buyar menjadi kepulan asap hitam yang segera diserap oleh bilah berkarat Kaelen. Ini adalah taktik yang telah mereka sepakati setelah perundingan alot yang memaksa Kaelen memilih jalan paling agresif: menerobos langsung, menyingkirkan semua penghalang tanpa ragu, dan menunjukkan bahwa mereka bukanlah mangsa yang mudah.

Lyra tidak tinggal diam. Dengan gerakan presisi seorang ahli alkimia, ia melemparkan botol-botol kecilnya. Cairan zamrud pekat di dalamnya meledak di tengah gerombolan bayangan, menciptakan semburan api hijau yang mematikan. Api alkimia itu membakar Qi gelap, membuat bayangan-bayangan itu menggeliat kesakitan sebelum lenyap. Namun, untuk setiap bayangan yang lenyap, dua bayangan lain muncul, lebih agresif dan lebih padat, seolah reruntuhan itu sendiri memuntahkan lebih banyak penjaga.

Tekanan di udara semakin berat, dan Kaelen bisa merasakan getaran pada pedangnya semakin kuat, seolah artefak di dalam reruntuhan itu memanggil—atau mungkin merespons—kehadirannya.

"Mereka ingin menghentikan kita masuk ke jantung reruntuhan, Lyra," ucapnya, suaranya kini lebih dingin dan tajam dari bilah pedangnya. "Tapi Jiwa Pedang Hampa-ku tidak akan diam. Pedang ini ingin melihat apa yang ada di baliknya."

Dengan setiap bayangan yang dienyahkan, jalan mereka semakin terbuka. Kaelen dan Lyra tidak berlama-lama di satu tempat. Mereka bergerak maju, menembus gelombang musuh, mendorong ke dalam gerbang raksasa yang kini sepenuhnya terbuka, menampakkan lorong panjang dan gelap di baliknya. Ini adalah "lorong sunyi" yang mereka antisipasi, namun sunyi bukanlah berarti aman. Dinding-dindingnya dihiasi ukiran kuno yang nyaris tak terlihat dalam kegelapan, dan udara di sini terasa jauh lebih pekat, sarat dengan energi purba yang menekan. Suara desiran langkah mereka dan deru napas sendiri menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan yang menyesakkan, membawa mereka lebih dalam ke jantung reruntuhan, menuju Jiwa Artefak Reruntuhan Langit yang dirumorkan, serta potensi pengkhianatan yang mengintai di setiap sudut. Di sinilah "babak baru pertarungan" yang Kaelen sebutkan akan benar-benar dimulai.

Lorong sunyi bukanlah sekadar jalan, melainkan sebuah koridor waktu yang membeku. Ukiran-ukiran di dinding, yang tadinya samar, kini tampak lebih jelas di beberapa titik, memancarkan kilau redup yang aneh—piktogram tentang perang kosmik dan ritual penyegelan kuno. Setiap garis dan lekukan seolah menyimpan gema dari era yang telah lama tiada. Udara di sini terasa lebih berat, mencekik, seperti bernapas dalam timbunan sejarah yang tak terhitung. Aroma metalik bercampur dengan bau lumut purba dan jejak energi Qi yang begitu pekat, sampai terasa seperti lapisan tipis yang menempel di kulit. Pedang besi berkarat Kaelen, yang selalu terasa dingin di genggamannya, kini berdenyut dengan ritme samar, memancarkan kehangatan aneh yang merayap ke lengannya, seolah bilah itu sendiri tengah menyesuaikan diri dengan aura purba reruntuhan.

Setiap langkah yang mereka ambil terasa seperti melanggar sumpah keheningan ribuan tahun. Gema langkah kaki mereka sendiri menjadi satu-satunya suara, namun Kaelen merasakan bisikan-bisikan tak kasat mata merayapi benaknya—bukan kata-kata, melainkan sensasi: sebuah kerinduan, kemarahan yang tertidur, dan janji akan kekuatan yang tak terhingga. Lyra berjalan di sampingnya, siluetnya yang ramping bergerak tanpa suara, sementara matanya yang tajam menyisir setiap bayangan dan setiap retakan di dinding. Aura misteriusnya seolah menjadi perisai tak kasat mata di tengah tekanan yang mengimpit, menjaga fokusnya tetap tajam, siap menghadapi bahaya yang bisa muncul kapan saja.

Tiba-tiba, Kaelen mengangkat tangan, menghentikan langkah mereka. Otot-ototnya menegang, dan pedang di tangannya bergetar hebat, bukan lagi dengan denyutan samar, melainkan getaran peringatan yang mendesak.

"Ada yang tidak beres," bisiknya, suaranya serak dan tegang. "Energi di sini... seperti ada yang mengawasi kita."

Lyra mengangguk, sudah merasakan sensasi serupa. Dari celah-celah halus di antara ukiran dinding, sekelebat cahaya violet mulai memancar—tipis pada awalnya, lalu memadat menjadi untaian energi yang nyaris tak terlihat. Untaian-untaian itu merayap di sepanjang lorong, melingkari mereka berdua, membentuk pola geometris rumit di udara, siap menjerat. Ini bukan bayangan gelap yang brutal, melainkan perangkap magis kuno, dirancang dengan kecerdasan yang mematikan.

"Formasi Penjara Kuno," desis Lyra, matanya menyipit saat ia membaca pola energi yang terbentuk. "Sangat jarang. Konon, formasi ini bisa mengunci jiwa, bukan hanya raga. Sentuhan sekecil apa pun akan mengaktifkannya sepenuhnya."

Udara di sekitar mereka berdesir, dan cahaya violet semakin terang, memancarkan tekanan yang membuat napas terasa sesak. Kaelen tidak menunggu. Ia tahu bahwa dalam situasi seperti ini, keraguan adalah kematian.

"Teknik Jiwa Pedang Hampa!" serunya, suaranya memantul di dinding lorong, mengoyak keheningan.

Pedang besinya berputar di tangannya, bukan untuk menyerang secara fisik, melainkan untuk memanipulasi energi. Aura pedang yang biasanya berpusar ke luar kini ditarik ke dalam, menciptakan sebuah pusaran hampa yang menyedot energi di sekitarnya.

Jaring energi violet itu, alih-alih menjerat, kini mulai sedikit melengkung, tertarik ke arah pedang berkarat Kaelen. Itu adalah langkah berisiko, menguji batas kemampuan pedang dan penguasaan Kaelen atasnya, mengikis jaring itu sedikit demi sedikit tanpa menyentuhnya secara langsung. Di saat yang sama, Lyra bertindak. Ia mengeluarkan sebotol bubuk berkilau yang terbuat dari bahan-bahan alkimia langka.

"Ini akan mengganggu resonansinya!"

Tanpa ragu, ia melemparkannya ke dinding terdekat. Bubuk itu meledak dalam semburan cahaya perak yang memukau, menciptakan gelombang kejut energi yang berbenturan dengan formasi, melemahkannya dari luar. Formasi Penjara Kuno itu berkedip-kedip, menolak untuk menyerah, tetapi kombinasi serangan presisi Kaelen dan gangguan dari Lyra mulai membuahkan hasil. Retakan halus muncul pada pola energi, dan sebagian dari jaring itu mulai memudar, membuka celah tipis.

"Terus maju!" Kaelen menggeram, mendorong energi Jiwa Pedang Hampa-nya hingga batas, merasakan setiap urat di tubuhnya menegang.

Mereka menerobos celah itu, melangkah ke bagian lorong yang sedikit lebih lebar, meninggalkan formasi penjara yang kini berjuang untuk memperbaiki dirinya sendiri di belakang mereka. Getaran pada pedang Kaelen kini tidak lagi samar; itu adalah panggilan yang jelas, sebuah tarikan magnetis yang menariknya lebih dalam dan lebih mendesak.

Jiwa Artefak Reruntuhan Langit, target utama mereka, terasa semakin dekat, memancarkan aura kekuatan yang tak terlukiskan, bercampur dengan bisikan-bisikan kuno yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang peka. Namun, di balik panggilan yang menggoda itu, Kaelen merasakan sesuatu yang lain—sebuah bayangan dingin, janji pengkhianatan yang semakin mendekat, seperti predator yang mengintai mangsanya dari kegelapan.

Bab 2: Desis Bayangan Darah

Bayangan-bayangan itu bergerak secepat kilat. Enam prajurit berpakaian serba hitam melompat dari dahan pohon mati, mengacungkan belati beracun yang berkilat kebiruan.

"Hati-hati, itu Pasukan Bayangan Vance!" teriak Lyra seraya melemparkan serbuk alkimia hijau ke udara.

Ledakan asap beracun meletus seketika, membuat tiga pembunuh bayaran terbatuk-batuk dan kehilangan pijakan. Kaelen memanfaatkan celah itu tanpa ragu. Ia mencabut pedangnya. Meski tampak berkarat dan tak berseri, saat Qi dalam tubuh Kaelen dikumpulkan, pedang itu memancarkan pendar emas keperakan yang membakar udara.

"Jurus Pedang Hampa: Tebasan Gelombang Pertama!"

Cahaya pedang membelah malam. Suara benturan logam bergema keras di tengah reruntuhan, memecah keheningan lembah yang mencekam.

Bukan suara baja beradu baja, melainkan desisan energi yang merobek udara. Tebasan Gelombang Pertama milik Kaelen bukanlah sekadar ayunan pedang, melainkan gelombang energi Qi murni yang meliuk-liuk, membelah bayangan di hadapannya. Dua pembunuh bayaran yang tersisa, yang masih berdiri tegak setelah asap beracun Lyra, terhuyung mundur. Belati mereka, yang sebelumnya memancarkan aura kematian, kini bergetar di tangan, seolah tak mampu menahan tekanan spiritual dari pedang berkarat itu. Salah satu dari mereka, yang jubahnya sobek di bagian dada, mengeluarkan erangan tertahan saat gelombang energi itu menyapu, membuat tulang rusuknya berderak nyeri dan memaksanya berlutut. Yang lain, lebih cekatan, melesat ke samping untuk menghindari serangan langsung, namun tetap tak luput dari sapuan kejut yang membuat pendengarannya berdenging dan pandangannya mengabur sesaat.

Lyra tak menyia-nyiakan momen itu. Sementara Kaelen mengarahkan pedangnya pada pembunuh yang berlutut, Lyra, dengan gerak cekatan seorang penari kematian, melemparkan sepasang jarum perak yang berkilauan. Jarum itu melesat tanpa suara, menembus titik vital di leher pembunuh tersebut. Tubuh pria itu kejang sesaat, lalu roboh tak bernyawa dengan belati beracun yang terlepas dari genggaman. Mata Lyra yang tajam kemudian beralih pada pembunuh terakhir yang masih limbung. Tangannya bergerak lagi, kali ini bukan serbuk, melainkan sebuah bola kecil berwarna ungu pekat yang dilemparkannya. Bola itu pecah di udara, memancarkan kabut tebal berbau amis yang menyengat. Pembunuh itu terbatuk hebat, matanya memerah, dan air mata mengalir deras. Ia mencoba melarikan diri, namun kabut itu seperti memiliki kehidupan sendiri, melilit kakinya dan membuatnya tersandung.

Tanpa perlu diperintah, Kaelen maju selangkah. Pedang besinya bersinar lebih terang, memotong kabut ungu Lyra dan menerangi wajah panik sang pembunuh.

"Siapa yang mengirimmu?" suara Kaelen berat, dipenuhi aura dingin yang menekan.

Pembunuh itu terbatuk lagi, air liurnya bercampur darah, seolah racun dalam kabut Lyra mulai bekerja. "Liliyana..." bisiknya susah payah, suaranya tercekat.

Ia mencoba merogoh sesuatu dari balik jubahnya, mungkin sebuah pisau tersembunyi, tapi Kaelen lebih cepat. Sebuah tebasan horizontal yang cepat—bukan untuk membunuh, melainkan untuk melucuti—menghantam pergelangan tangannya. Sengatan listrik yang melumpuhkan membuat benda yang hendak diraihnya jatuh ke tanah. Itu adalah sebuah liontin kecil berbentuk sayap kelelawar, diukir dengan simbol aneh yang belum pernah Kaelen lihat.

"Liliyana?" Lyra mengulang nama itu, matanya menyipit. "Pengkhianat dari Sekte Bulan Darah? Jadi dia akhirnya menunjukkan wajahnya."

Ia mendekat, mengabaikan tubuh-tubuh tak bernyawa lainnya, dan menendang liontin itu agar lebih dekat. "Liontin ini... itu adalah lambang faksi rahasia di dalam Sekte Bulan Darah, faksi yang dikenal suka memburu artefak kuno untuk kepentingan pribadi, bukan untuk sekte. Mereka disebut 'Para Pemburu Jiwa'."

Lyra memandangi pembunuh yang kini terhuyung dan ambruk, napasnya terengah-engah. Racun Lyra tidak membunuh dengan cepat, melainkan menyiksa, melumpuhkan, dan memeras informasi. "Dia mencari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit, Kaelen. Dia tahu kita juga menuju ke sana."

Kaelen menatap liontin itu, lalu ke arah kegelapan hutan yang kembali menyelimuti. Pikirannya berpacu, menghubungkan potongan-potongan teka-teki. "Jiwa Artefak Reruntuhan Langit... Jadi ini bukan sekadar perampokan biasa, Lyra. Ini adalah perburuan. Mereka tahu tentang keberadaan kita, atau setidaknya tentang niat kita untuk mencapai reruntuhan itu."

Ia menghela napas, Qi di pedangnya meredup, kembali menjadi besi berkarat biasa. "Liliyana... Aku pernah mendengar namanya dalam desas-desus. Seorang kultivator kejam yang terkenal akan metode liciknya dalam memburu artefak, bahkan jika itu berarti mengkhianati sektenya sendiri. Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan dia?" Kaelen menunjuk pada pembunuh yang kini mengerang kesakitan, tergeletak tak berdaya dengan tubuh gemetar.

"Kita tidak punya waktu untuk menginterogasinya lebih jauh, Kaelen. Racun saya tidak akan memberinya banyak waktu lagi, dan kita tidak bisa membuang-buang waktu di sini," jawab Lyra, matanya bergerak waspada ke sekeliling. "Faksi 'Pemburu Jiwa' ini sangat licik. Jika Liliyana mengirim Pasukan Bayangan Vance, itu berarti dia sangat serius. Dia tidak akan mengirimkan mereka tanpa rencana cadangan."

Ia menoleh ke arah Kaelen dengan ekspresi serius. "Kita harus bergerak. Keberadaan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit terlalu penting untuk jatuh ke tangan orang seperti dia. Jika dia berhasil menguasai artefak itu, bukan hanya Sekte Bulan Darah yang akan menghadapi kekacauan, tapi seluruh wilayah ini bisa terancam."

Sebuah desiran angin dingin melintas, membawa serta aroma darah dan tanah basah. Ancaman baru telah terungkap, dan perjalanan menuju reruntuhan kuno kini terasa jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Mereka tidak lagi hanya menghindari bahaya, tetapi kini berlomba melawan waktu dan musuh yang kejam.

Kaelen mengnoduk, sorot matanya mengeras. Tidak ada waktu untuk keraguan. "Benar. Kita tinggalkan dia. Kematiannya hanya akan menjadi peringatan bagi yang lain, atau setidaknya membuat mereka berpikir dua kali. Racunmu akan melakukan sisanya."

Lyra mengamati pembunuh yang kejang-kejang di tanah, lalu dengan gerakan cepat dan tanpa suara, menekan titik vital di lehernya. Desahan terakhir terlepas dari bibirnya yang membiru, dan tubuh itu diam, kejang-kejangnya mereda.

"Dia tidak akan menderita lagi, dan kita tidak meninggalkan jejak yang tidak perlu," gumam Lyra dengan ekspresi datar. "Mari, Kaelen. Setiap detik berharga."

Mereka bergegas melintasi rerimbunan, meninggalkan mayat-mayat itu di bawah naungan rembulan yang samar, ditelan oleh keheningan hutan yang dingin.

Hutan yang sebelumnya terasa sunyi kini dipenuhi desiran angin yang seolah membawa bisikan ancaman. Kaelen berjalan di depan, Pedang Besi Berkarat miliknya terasa dingin di sisi pinggulnya, namun keberadaannya memberi ketenangan yang aneh di tengah kekalutan. Indra kultivatornya diperketat; setiap bayangan, setiap patahan ranting, dan setiap aroma lembap di udara menjadi potensi bahaya.

Lyra mengikutinya dengan langkah ringan, nyaris tanpa suara. Matanya yang tajam menyisir setiap detail, mencari tanda-tanda jebakan atau pengintai yang tersembunyi. Mereka bergerak bukan hanya dengan kecepatan fisik, tetapi juga dengan kecepatan pikiran, memetakan rute dan mengantisipasi setiap kemungkinan serangan susulan. Aura gelap yang ditinggalkan oleh Pemburu Jiwa masih terasa menguar, meracuni atmosfer malam.

"Liliyana tidak pernah bergerak tanpa perhitungan," Kaelen memecah keheningan dengan suara rendah, nyaris berbisik. "Faksi 'Pemburu Jiwa' itu terkenal dengan taktik kotor dan jaringan informan mereka. Mereka pasti sudah lama mengincar Jiwa Artefak Reruntuhan Langit ini."

"Dan mereka tahu kita mengejarnya," sambung Lyra. "Itu berarti ada mata-mata di antara kita, atau seseorang yang tidak sengaja membocorkan informasi. Tapi siapa, dan bagaimana?"

Ia berhenti sejenak, meneliti jejak kaki samar di tanah yang baru mereka lewati. "Jejak kaki ini... bukan dari Pasukan Bayangan Vance. Terlalu ringan, terlalu anggun. Milik seorang wanita, dan dia terburu-buru."

Lyra menunjuk pada bekas pijakan yang hampir tak kasatmata, sebuah pola yang hanya bisa dikenali oleh ahli penjejak. "Dia bergerak lebih dulu, Kaelen. Liliyana sendiri."

Kaelen berjongkok, mengamati dengan saksama. "Sepatu bot khusus kultivator, seringan bulu, dan meninggalkan jejak minim. Dia tidak ingin ada yang tahu bahwa dia sudah berada di sini, di garis depan perburuan ini."

Detik berikutnya, sebuah desis halus menarik perhatian mereka. Kaelen sigap menarik Lyra mundur, Pedang Besi Berkaratnya sudah terhunus, memancarkan aura kegelapan yang samar. Dari balik semak belukar yang rimbun, muncullah dua sosok lain yang berbalut jubah hitam dengan lambang faksi 'Pemburu Jiwa' yang sama. Kali ini, mereka jauh lebih waspada. Mata mereka memancarkan keganasan yang berbeda, dipersenjatai belati bermata ganda yang berkilat di bawah cahaya rembulan. Mereka bukan sekadar preman, melainkan pembunuh terlatih dengan aura Qi yang jauh lebih pekat dan berbahaya, membawa serta aroma darah yang samar.

"Mereka bukan pengintai," bisik Lyra dengan nada tegang. "Mereka adalah pembunuh yang dikirim untuk membersihkan jejak, dan mungkin juga menguji kita. Liliyana tidak meninggalkan apa pun secara kebetulan."

Kaelen tidak menjawab. Ia merasakan gelombang Qi yang tidak menyenangkan berdesir dari belati-belati itu, yang telah diolesi semacam racun untuk membuat udara di sekitarnya terasa menusuk.

Tanpa peringatan, salah satu pembunuh melesat maju, mengincar tenggorokan Lyra dengan kecepatan mematikan—sebuah serangan yang diperhitungkan untuk membungkamnya secara permanen. Namun, sebelum serangan itu mencapai sasaran, Kaelen sudah bergerak. Pedang Besi Berkaratnya berkelebat bagai kilat hitam. Bukan sabetan biasa, Kaelen melepaskan Teknik Jiwa Pedang Hampa level rendah, menciptakan gelombang tekanan Qi yang tak terlihat untuk membengkokkan lintasan belati itu sesaat sebelum mengenai Lyra, sekaligus mendorong sang pembunuh mundur dengan kekuatan tak terduga hingga menabrak batang pohon.

Pembunuh kedua, yang tidak menyangka Kaelen memiliki kecepatan dan teknik seperti itu, terkesiap sesaat. Kaelen memanfaatkan celah tersebut, melesat maju seperti bayangan. Pedang berkarat itu kini terasa ringan di tangannya, seolah beresonansi dengan jiwa. Ia tidak berniat membunuh, setidaknya belum, melainkan memberikan peringatan agar Liliyana tahu mereka tidak akan mudah dihentikan.

Dengan gerakan memutar yang anggun namun mematikan, ia menangkis serangan belati kedua, membalikkannya, dan menghantam titik tekanan di pergelangan tangan sang pembunuh dengan ujung gagang pedangnya. Belati beracun terlepas, jatuh ke tanah dengan bunyi denting tipis.

Kedua pembunuh itu kini terhuyung; satu menahan nyeri di lengan, sementara yang lain terbatuk-batuk akibat Qi dalam tubuh mereka bergejolak tidak stabil karena serangan Qi hampa Kaelen. Mata mereka dipenuhi keheranan dan ketakutan. Mereka sadar, saat itu juga, bahwa mereka tidak sedang menghadapi kultivator biasa.

Bab 3: Siasat di Balik Segel

Setelah mengatasi serangan mendadak Pasukan Bayangan, Kaelen dan Lyra melangkah lebih dalam ke inti reruntuhan. Di tengah ruangan berbentuk lingkaran, terdapat sebuah altar batu apung yang melayang beberapa senti di atas lantai.

Di atas altar tersebut, sebuah bola kristal berisi energi merah menyala terus berputar lambat.

"Artefak Jiwa Naga..." gumam Lyra dengan mata melebar. "Ternyata legenda itu nyata."

Namun, sebelum Kaelen sempat melangkah mendekat, sebuah gelombang tekanan gaib yang dahsyat menghantam dada mereka dari arah lorong samping. Suara tawa dingin bergema di dalam ruangan batu tersebut.

"Menakjubkan... Tikus-tikus kecil Sekte Awan Bintang ternyata bisa membantuku membuka segel ini," ujar sebuah suara berat yang familiar. Vance perlahan muncul dari kegelapan.

Gelombang tekanan gaib itu mengempas Kaelen dan Lyra, membuat napas mereka tercekat. Kaelen segera mengayunkan Pedang Sampah, memancarkan aura es tipis sebagai pertahanan insting. Di sampingnya, Lyra mengatupkan gigi, mengaktifkan perisai spiritual transparan yang bergetar menahan tekanan.

Vance muncul sepenuhnya dari bayangan, jubah hitamnya berkibar pelan seolah ditiup angin tak kasat mata. Wajahnya yang keriput dihiasi senyum licik, dan matanya memancarkan cahaya kejahatan yang akrab. Namun, ada kilatan aneh di kedalamannya—sesuatu yang lebih dari sekadar kesenangan seorang musuh yang berhasil.

"Vance!" geram Kaelen, siap menerjang. "Apa maumu dengan Artefak Jiwa Naga ini?!"

Vance hanya tertawa, tawa kering dan meremehkan yang mengisi setiap sudut ruangan. "Oh, betapa bodohnya kalian, anak-anak Sekte Awan Bintang. Kalian selalu melihat permukaan, bukan esensi." Ia melangkah perlahan mendekati altar batu apung, tatapannya terfokus pada bola kristal merah yang berputar. Namun, tak ada keserakahan di matanya, hanya semacam kepuasan yang dingin.

"Aku datang bukan untuk mengambil 'mainan berkilau' itu," lanjutnya, suaranya kini terdengar seperti bisikan beracun yang menguar di antara dinding batu kuno. "Kalianlah yang telah menyelesaikan pekerjaan yang tak sanggup kulakukan sendiri."

Kaelen dan Lyra saling pandang dengan bingung. Kata-kata Vance terdengar ganjil, tak sesuai dengan perilakunya yang biasa mengincar kekuatan.

"Apa maksudmu?" tanya Lyra, suaranya sedikit bergetar.

Senyum Vance melebar, menunjukkan deretan giginya. "Maksudku, kalian para 'pahlawan' yang sok suci ini telah dengan bodohnya merusak segel yang menahan teror purba di dalamnya." Jari telunjuknya menunjuk langsung ke arah bola kristal merah. "Artefak Jiwa Naga? Itu hanya nama manis yang diberikan oleh leluhur bodoh kalian untuk menyembunyikan kebenaran. Itu bukan jiwa naga, melainkan penjara."

Saat Vance mengucapkan kata terakhir, bola kristal merah di atas altar tiba-tiba berdenyut. Energi merah yang tadinya tampak stabil kini bergejolak, memancarkan gelombang panas yang membakar dan dingin yang menusuk secara bersamaan. Desir aneh terdengar, seolah ada sesuatu yang menggesek dari dalam.

"Kalian pikir Pasukan Bayangan yang kalian kalahkan itu adalah milikku?" Vance menggelengkan kepala, tawa sinisnya kembali menggelegar. "Mereka adalah pelayan setia dari entitas yang terkunci di dalam sini—para penjaga yang ditugaskan untuk memastikan tak ada makhluk hidup yang bisa mencapai inti ini dan secara tak sengaja melemahkan penjaranya. Dan kalian, dengan segala keberanian dan kebodohan kalian, telah menghancurkan mereka, membuka jalan bagi kehancuran."

Bola kristal itu bergetar hebat. Retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaannya, memancarkan cahaya merah yang kini tampak lebih pekat, lebih gelap, dan dipenuhi kebencian primordial. Suara geraman dalam, yang tak menyerupai naga manapun, mulai terdengar dari dalam kristal, memenuhi ruangan dengan vibrasi yang menyesakkan jiwa.

Wajah Vance kini tak lagi tersenyum. Ada ketegangan yang nyata di rautnya, seolah ia sedang mengamati bom waktu yang baru saja diaktifkan. "Aku mencoba menghentikan kalian. Aku mencoba mengendalikan sisa-sisa Pasukan Bayangan itu untuk menghalangi jalan kalian," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi kalian terlalu gigih. Dan sekarang, monster purba itu bukan naga, melainkan sesuatu yang jauh lebih tua dan jahat dari yang bisa kalian bayangkan akan dilepaskan."

Retakan di kristal melebar. Energi merah di dalamnya berputar semakin gila, membentuk siluet mengerikan yang tak jelas, seperti gumpalan bayangan yang meronta. Udara di sekitar mereka menjadi tebal, berbau belerang dan kematian. Kaelen dan Lyra merasakan inti jiwa mereka bergetar ketakutan, bukan lagi karena ancaman Vance, melainkan karena horor tak terlukiskan yang kini sedang mengoyak selubung penjaranya.

Vance menatap Kaelen dengan sorot mata yang tak pernah Kaelen lihat sebelumnya: bukan permusuhan, melainkan semacam desakan putus asa. "Kita punya masalah yang jauh lebih besar sekarang, anak-anak. Dan jika kita tidak menghentikannya, reruntuhan ini, bahkan dunia ini, akan tahu arti sebenarnya dari kepunahan."

Bola kristal itu pecah dengan suara dentuman dahsyat, melepaskan gelombang kejut energi merah pekat yang langsung menyapu Kaelen dan Lyra. Tubuh mereka terpelanting bagai boneka kain, menghantam dinding batu dengan keras hingga rasa sakit menusuk hingga ke tulang. Namun, lebih dari itu, gelombang energi tersebut bagai badai memori dan emosi purba yang mendera kesadaran mereka. Ribuan bayangan penderitaan, jutaan jeritan keputusasaan, dan bisikan kekosongan yang tak terhingga berkelebat di benak mereka, mengancam untuk merobek akal sehat. Itu bukan hanya serangan fisik, melainkan serbuan ke inti jiwa.

Saat Kaelen dan Lyra mengerang, berusaha menolak invasi mengerikan di pikiran mereka, sebuah pekikan nyaring—lebih mirip lolongan kesakitan yang tak tertahankan—membelah udara. Itu adalah suara Vance. Mereka mendongak, dan pandangan yang kabur menangkap pemandangan yang membuat darah membeku. Dari punggung Vance, sebuah tentakel bayangan hitam pekat, berdenyut dengan energi yang sama seperti yang baru saja menghantam mereka, mencuat keluar dengan paksa. Tentakel itu menggeliat seolah ditarik dari dalam dirinya oleh kekuatan tak kasat mata, menyisakan luka menganga yang mengucurkan kegelapan alih-alih darah.

"Tidak... tidak mungkin... aku sudah menguncinya..." Vance berbisik parau. Tubuhnya ambruk ke tanah, seluruh kekuatannya terkuras habis. Wajahnya pucat pasi, namun di matanya tak ada lagi kilatan kekejaman atau ketegangan yang Kaelen kenal. Yang ada hanyalah kehampaan, keputusasaan, dan kelelahan yang mendalam, seolah topeng yang dikenakannya selama ini baru saja hancur.

Dari celah retakan yang menganga pada altar, sesuatu yang tak berbentuk namun memancarkan aura kegelapan purba kini sepenuhnya merangkak keluar. Bukan naga, bukan pula iblis dalam bayangan biasa. Ia adalah ketiadaan yang mengambil bentuk—gumpalan bayangan yang tak memiliki mata namun memancarkan tatapan mengamati, tak memiliki mulut namun suaranya menggema di setiap sudut jiwa. Ukurannya raksasa, mengisi seluruh rongga gua dengan kehadirannya yang menindas. Permukaannya beriak, seolah terbuat dari mimpi buruk yang paling pekat, dan dari intinya terpancar pusaran energi merah gelap yang sama, kini jauh lebih kuat dan mengancam.

"Hanya pion... yang lemah... dan bodoh..." Suara berat itu menggelegar, namun bukan berasal dari gumpalan bayangan itu sendiri, melainkan dari udara di sekitar mereka, dari dinding, hingga dari dalam pikiran mereka. Itu adalah suara yang tak memiliki sumber, namun merasuki segalanya.

Gumpalan bayangan raksasa itu mengulurkan salah satu tentakelnya yang tak berbentuk ke arah Vance yang terkapar. Tentakel bayangan yang baru saja lepas dari punggung Vance kini melayang di udara, bergetar. Dengan gerakan keji, entitas purba itu menarik tentakel tersebut kembali ke dalam dirinya, seolah menyerap kembali bagian dari esensinya. Sebuah dengungan kepuasan yang mengerikan menggema.

Kaelen, meski tubuhnya nyeri tak terperi, kini mengerti. Gelombang energi yang menyapu mereka telah mengungkap sebuah kebenaran yang kejam. Vance bukanlah dalang utama. Ia hanyalah boneka sebuah wadah sebuah benteng yang, entah bagaimana, selama ini berusaha menahan monster purba ini dari dalam. Setiap Pasukan Bayangan yang mereka lawan, setiap jebakan yang mereka lewati, mungkin bukan upaya Vance untuk menghancurkan mereka, melainkan usahanya yang putus asa untuk memperlambat, untuk menahan, dan untuk mencegah kehancuran yang kini terhampar di depan mata. Mereka tidak mengalahkan musuh, melainkan justru membebaskan malapetaka yang jauh lebih besar.

"Kalian... telah membuka pintu neraka," bisik Vance, suaranya nyaris tak terdengar, sementara matanya menatap kosong ke arah entitas yang kini memandang mereka dengan tatapan tanpa wajah. "Dan sekarang... tak ada yang bisa menghentikannya."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!