Indonesia
NovelToon NovelToon

Dewa Alkemis Sembilan Benua

BAB 1: Kematian Sang Kaisar

"Yao Chen... mengapa?!"

Raungannya pecah di Puncak Nirwana. Di dalam kuali perunggu raksasa di hadapannya, Api Matahari Sembilan Langit yang berwarna emas kemerahan mengamuk liar, lepas kendali.

Lin Xuan, Kaisar Pil Jiwa Bintang, berlutut. Jubah putihnya banjir darah keemasan, dan sebilah pedang es transparan menembus punggungnya, menghancurkan jantungnya.

Yang menggenggam gagang pedang itu adalah Yao Chen, murid satu-satunya, anak yang ia pungut dan besarkan sendiri selama seratus tahun.

Yao Chen menatapnya tanpa sedikit pun penyesalan.

"Maaf, Guru. Tapi selama Guru masih hidup, aku akan selamanya menjadi bayangan—bayangan dari 'Dewa Alkemis'," bisiknya dingin. "Dan Resep Pil Keabadian itu terlalu berharga untuk sekadar jadi koleksi orang tua yang sudah tak berminat menguasai dunia lagi, seperti Guru."

Lin Xuan terbatuk darah. Tubuhnya mulai retak, dan energi jiwanya bocor ke udara.

"Dasar pengkhianat... tanpa aku, kau bahkan tidak bisa menyalakan api surgawi itu!"

Yao Chen menyeringai. "Untuk saat ini aku tak perlu bisa menyalakannya. Aku hanya perlu Guru mati."

Ia lalu mencabut pedangnya. Seketika, api di dalam kuali meledak dan menelan tubuh Lin Xuan sepenuhnya.

Pada detik terakhir sebelum kesadarannya lenyap, cahaya hitam dari cincin penyimpanannya melesat keluar, membungkus sisa jiwanya dan merobek ruang hampa.

Dalam kegelapan yang begitu pekat, hanya satu sumpah yang tersisa.

Yao Chen. Bahkan jika aku harus merangkak dari dasar Neraka Sembilan Mata Air, aku akan mencabikmu.

*****

Lima ratus tahun kemudian, Benua Tanah Merah, Wilayah Timur, Kota Awan Merah.

Rasa sakit yang merobek sumsum menjadi hal pertama yang menyambut Lin Xuan. Ia membuka mata dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi bajunya.

Bukan wangi dupa ribuan tahun. Yang pertama menusuk hidungnya justru bau ramuan gosong akibat direbus terlalu lama.

"Di mana... aku?"

Tiba-tiba ingatan asing menghantam kepalanya sekaligus. Ia memegangi pelipisnya dan mengerang kesakitan.

Tubuh ini juga bernama Lin Xuan. Seorang pemuda berusia enam belas tahun, Tuan Muda Keluarga Lin di Kota Awan Merah—salah satu wilayah di Benua Tanah Merah yang energinya begitu tipis hingga dianggap sekadar desa terpencil oleh Benua Atas.

Dan pemilik asli tubuh ini adalah seorang sampah sejati.

Tiga hari lalu, ia disergap saat ujian perburuan klan. Seseorang sengaja menembakkan jarum beracun ke punggungnya.

Racun itu tak membunuhnya seketika, melainkan menghancurkan seluruh meridiannya secara bertahap.

Bagi seorang kultivator, itu sudah termasuk kecacatan permanen, dan pemilik asli tubuh ini akhirnya mati dalam keputusasaan, membuka jalan bagi jiwa sang Kaisar Pil untuk bangkit kembali.

Lin Xuan menyeringai dingin. "Anak ini dibunuh perlahan oleh keluarganya sendiri, demi memperebutkan warisan. Hah, sungguh sebuah drama."

Ia akhirnya memejamkan mata, memeriksa tubuhnya dengan sisa Kekuatan Jiwa yang ia miliki.

"Meridian putus di delapan puluh titik. Racun Bubuk Peluruh Tulang... racun kelas rendahan yang diracik asal-asalan. Pantas saja efeknya pada tubuh pemuda ini butuh tiga hari untuk terlihat. Kalau aku yang membuatnya, tubuh pemuda ini sudah meleleh dalam tiga detik."

Sementara itu, di kedalaman Lautan Jiwanya, Lin Xuan merasakan sesuatu berdenyut pelan. Tampak sebuah kuali kecil sehitam tinta, dengan ukiran sembilan naga berkarat yang seolah tertidur lelap.

"Kuali Naga Hitam. Haha, rupanya kau ikut juga." Sudut bibirnya terangkat. "Bagus. Bagus sekali. Dengan adanya dirimu, jalanku kembali ke puncak akan jauh lebih mudah."

Ceklek.

Pintu kayu terbuka. Seorang gadis berusia lima belas tahun berlari masuk dengan mata sembab. Xiao Ya, satu-satunya pelayan yang masih mau merawatnya setelah ia dianggap cacat.

"Tuan Muda, akhirnya Anda sadar." Ia bergegas ke sisi ranjang sambil membawa mangkuk berisi cairan cokelat pekat yang masih mengepul. "Syukurlah... Penatua Ketiga mengirim obat. Katanya ini bisa mengurangi nyeri di dada. Minum selagi hangat ya, Tuan Muda."

Lin Xuan tak langsung menjawab. Namun begitu tatapannya jatuh ke mangkuk obat itu, matanya seketika menajam.

Bahkan tanpa mencicipinya, ia sudah bisa melihat setiap unsur dari uap yang mengepul itu.

Akar Rumput Pahit, Daun Darah Besi... dan Serbuk Bunga Jarum Hitam.

Dua yang pertama hanyalah obat luka biasa. Sementara yang terakhir adalah zat pemicu energi Yang. Bagi orang sehat, itu hanya akan membuat tubuh terasa panas.

Namun bagi tubuh yang meridiannya telah hancur oleh racun Yin seperti Bubuk Peluruh Tulang, benturan energi itu akan membuat jantungnya meledak.

"Berhenti," gumamnya.

"Hm? Kenapa, Tuan Muda? Biar Xiao Ya suapi..."

Tepat saat sendok itu hampir menyentuh bibirnya, Lin Xuan menepisnya.

Prang!

Mangkuk itu pecah. Cairan cokelatnya tumpah ke karpet dan langsung mendesis, mengeluarkan asap hitam sambil melubangi karpet seperti air keras.

Xiao Ya terjatuh terduduk. Wajahnya seketika pucat pasi. "I-itu... racun?!"

"Jangan sentuh itu," ucap Lin Xuan serak sambil memaksakan diri duduk. "Penatua Ketiga ingin aku mati malam ini. Supaya anaknya bisa jadi pewaris."

"Apa? Beraninya Penatua Ketiga! Tuan Muda, kita harus segera melapor. Tapi... kakek Tuan Muda sedang menutup diri untuk berkultivasi. Selain Kepala Keluarga, tak ada yang bisa membantu kita. Ah, iya—tadi pagi ada Keluarga Zhao datang."

Lin Xuan menatap Xiao Ya. "Keluarga Zhao?"

Xiao Ya mengangguk panik. "Iya, Tuan Muda. Tuan Muda Zhao Tian bersama tetua mereka. Mereka sekarang ada di Aula Utama."

"Apa yang mereka lakukan, Xiao Ya?" tanya Lin Xuan dengan nada dingin.

"Yang aku dengar dari anggota keluarga lain, mereka ingin meminta tiga paviliun obat milik Keluarga Lin sebagai ganti rugi atas pembatalan pertunangan Tuan Muda dengan Nona Zhao Ningshuang. Katanya... Keluarga Zhao tak mungkin menikahkan putri jeniusnya dengan..." Xiao Ya menggigit bibir, tak berani melanjutkan kata "sampah" itu.

Lin Xuan tertawa pelan, lalu tawanya mengeras.

"Hahaha, mau membatalkan pertunangan sambil merampok? Keluarga Zhao ini pandai sekali memanfaatkan kesempatan."

Ia akhirnya turun dari ranjang.

"Tuan Muda, jangan banyak bergerak dulu. Meridian Anda masih hancur..."

"Yang hancur meridianku, bukan kakiku."

Ia berjalan tertatih ke meja di sudut ruangan, mengambil jepit perak milik Xiao Ya, dan tanpa ragu menusukkannya ke dua titik di dadanya—titik Hati dan Gerbang Kehidupan.

"Tuan Muda!" Xiao Ya menjerit, mengira tuannya hendak bunuh diri saat menyaksikan apa yang dilakukannya.

Detik berikutnya, Lin Xuan membungkuk dan memuntahkan gumpalan darah hitam kental yang berbau busuk.

Begitu darah itu keluar, warna cerah kembali ke wajahnya. Napasnya kini terasa jauh lebih teratur.

Ia membuang jepit yang kini menghitam terkena racun, lalu mengambil jubah abu-abunya.

"Xiao Ya, ayo ke Aula Utama."

"T-tunggu, Tuan Muda. Kalau kita ke sana, Tuan Muda Zhao Tian bisa membunuh Anda. Ia sudah berada di Kondensasi Qi Tingkat 5."

Lin Xuan menoleh dan tersenyum tipis.

"Membunuhku?"

Sorot matanya berubah. Seketika, aura kaisar yang telah tertidur lima ratus tahun itu menyala kembali.

"Energiku memang belum pulih. Tubuh ini memang sangat lemah. Tapi untuk menginjak seekor serangga... aku bahkan tak perlu mengangkat tangan atau kakiku."

BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia

Aula Utama Keluarga Lin saat ini begitu tegang hingga terasa mencekik.

Di kursi utama, Penatua Ketiga, Lin Hai, duduk dengan wajah yang dibuat terlihat prihatin. Sementara di seberangnya, dua orang duduk santai sambil menyeruput teh.

Mereka adalah Tetua Zhao Kuang, dan seorang pemuda berjubah sutra biru dengan dagu terangkat angkuh, Tuan Muda Zhao Tian.

"Penatua Lin Hai, kami tak punya banyak waktu," ujar Zhao Kuang. Ia meletakkan cangkirnya agak keras hingga meja kayu itu berderak. "Lin Xuan sekarang sudah menjadi orang cacat. Pertunangannya dengan Nona Ningshuang akan menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Karena itu, pertunangan ini harus dibatalkan. Dan sebagai ganti rugi atas nama baik Nona Ningshuang, aku ingin kalian menyerahkan tiga Paviliun Obat di Jalan Selatan."

Lin Hai menghela napas panjang, memasang wajah paling sedih yang bisa ia buat.

"Tapi... Tetua Zhao. Tiga paviliun itu adalah tulang punggung ekonomi Keluarga Lin. Saya memahami penyesalan Keluarga Zhao atas pertunangan ini. Sebagai Pemimpin sementara Keluarga Lin, saya harus memutuskan dan menanggung malu ini."

Dalam hati, Lin Hai justru tertawa. Rencananya berjalan sempurna. Begitu stempel perjanjian mendarat, aset utama Keluarga Lin akan lenyap, dan kesalahannya bisa ia lemparkan ke Lin Xuan yang sebentar lagi mati akibat racun yang telah ia berikan. Sementara itu, putranya akan naik menjadi pewaris tanpa hambatan.

Tangannya sudah merogoh jubah, mengeluarkan stempel keluarga yang telah ia siapkan.

Zhao Tian menyeringai. "Ayo cepat, Penatua Ketiga. Jangan buang-buang waktu. Mengurusi masalah orang cacat seperti Lin Xuan hanya akan menyeret Keluarga Lin ke dalam masalah besar."

Tepat saat stempel itu hampir menyentuh kertas perjanjian...

BRAKK!

Pintu aula tiba-tiba ditendang hingga terbuka lebar.

Semua orang tersentak.

Di ambang pintu, sinar matahari sore menerobos masuk. Berdiri seorang pemuda kurus berjubah abu-abu yang usang. Wajahnya pucat, namun punggungnya tegak.

Lin Hai melotot.

"X-Xuan'er?!"

Tidak mungkin, batinnya menjerit. Jantungnya seharusnya sudah meledak lima menit lalu—apa sebenarnya yang terjadi?

Xiao Ya mengintip dari balik jubah Lin Xuan, gemetar, mencengkeram ujung bajunya erat-erat.

Lin Xuan melangkah masuk. Suaranya serak, namun terdengar jelas ke seluruh aula.

"Melihat tatapan Paman Ketiga, sepertinya kau kecewa aku belum mati."

Lin Hai buru-buru mengubah ekspresinya. "Apa-apaan omonganmu itu, Xuan'er! Paman justru sangat senang kau sudah sembuh dan bisa berjalan! Kembalilah ke kamar, di sini sedang ada urusan orang dewasa!"

"Urusan orang dewasa?" Lin Xuan melirik kertas di atas meja, lalu menatap Zhao Tian. "Kulihat ada dua pengemis yang sedang meminta-minta paviliun obatku. Sejak kapan pengemis diundang ke rapat keluarga?"

Wajah Zhao Tian seketika merah padam.

"Apa maksud ucapanmu, anjing cacat?! Berani-beraninya kau menyebut kami pengemis!" Ia menggebrak meja hingga hancur. "Kau kira kau masih jenius nomor satu itu? Sadarlah! Ningshuang sekarang sudah menjadi murid inti Sekte Pedang Awan. Sementara kau? Kau bahkan tak pantas membawakan sepatunya sekarang!"

Lin Xuan berhenti dua meter di depannya.

"Zhao Ningshuang? Wanita yang menumpang naik lewat nama Keluarga Lin-ku, lalu membuang keluargaku begitu saja setelah berada di atas? Bahkan kalau ia berlutut memohon dengan telanjang di depanku, aku tidak akan meliriknya sedikit pun."

Ia melangkah maju setengah langkah lagi.

"Tapi datang ke rumahku, mencoba merampok paviliunku dengan alasan pembatalan pertunangan? Itu sama saja kalian mencari mati."

"Hahaha, cari mati?!" Zhao Tian tertawa. "Bagus. Hari ini biar aku yang mewakili kakekmu untuk mengajarimu sopan santun!"

Dalam hati, Lin Hai bersorak. Hajar dia. Hajar sampai mati.

Zhao Tian mengumpulkan Qi. Tangan kanannya seketika menyala merah membara. Tinju Raungan Harimau Api, teknik andalan Keluarga Zhao.

"Mati kau, sampah!"

Ia melesat, mengarahkan tinjunya lurus ke jantung Lin Xuan.

Xiao Ya memejamkan mata. Tetua Zhao Kuang tersenyum penuh kemenangan, sementara Penatua Ketiga Lin Hai menahan napas.

Lin Xuan sama sekali tidak mengelak.

Di mata sang Kaisar Pil, gerakan Zhao Tian penuh kelemahan.

Membakar Qi menggunakan Pil Api Bertanduk murahan. Paru-paru kirinya penuh dengan kerak racun api yang tersumbat. Bodoh sekali.

Dalam sepersekian detik, Lin Xuan menggerakkan sisa Kekuatan Jiwanya—bukan Qi, melainkan kekuatan mental murni.

Jari kirinya menyentil pelan cangkir teh setengah penuh di meja sebelahnya.

Cling.

Air teh muncrat ke udara. Bersamaan dengan itu, abu Dupa Cendana Ungu yang mengepul di sudut ruangan tertarik oleh Kekuatan Jiwanya dan bercampur ke dalam percikan air tersebut.

Kabut tipis yang tak kasat mata itu terhirup langsung oleh Zhao Tian, yang saat itu sedang menarik napas dalam-dalam untuk memaksimalkan pukulannya.

Srettt.

Api di kepalan tangan Zhao Tian seketika padam, bagai lilin yang tersiram air.

Wajah angkuhnya berubah keunguan, matanya melotot tajam.

Tinju yang tadi menggelegar itu terhenti satu inci di depan hidung Lin Xuan. Tak mampu mengenainya sama sekali.

"Uhuk...!"

Bukannya berhasil memukul, Zhao Tian justru memuntahkan darah hitam kental dalam jumlah banyak.

Bruk!

Lututnya menghantam lantai keras-keras, tepat di depan kaki Lin Xuan. Ia berlutut, mencengkeram dadanya, tak sanggup menggerakkan satu jari pun. Qi-nya sendiri berbalik menyerang organ dalamnya.

Keheningan pun menyelimuti ruangan.

Rahang Lin Hai mengeras. Cangkir di tangan Tetua Zhao Kuang terjatuh dan pecah. Xiao Ya membuka matanya perlahan, tak percaya dengan apa yang disaksikannya.

Seorang jenius Kondensasi Qi Tingkat 5, yang hendak membunuh orang cacat tanpa Qi, justru memuntahkan darah dan berlutut di hadapannya?

"Ilmu iblis apa yang kau pakai?!" Tetua Zhao Kuang akhirnya tersadar dan meraung, Qi Tingkat 8-nya meledak dari tubuhnya. "Kau...!"

"Coba saja sentuh dia, dan ia akan mati," ucap Lin Xuan dingin bagai es.

Zhao Kuang seketika terhenti.

Lin Xuan menghela napas pelan. "Dia terkena penyimpangan Qi. Fondasi apinya sudah membusuk karena kebanyakan menelan pil murahan," katanya datar. "Kalau kau alirkan Qi-mu yang berbeda aliran ke tubuhnya sekarang, paru-parunya akan meledak. Kau mau jadi pembunuh Tuan Muda-mu sendiri? Silakan saja."

Keringat dingin mengucur di dahi Zhao Kuang. Ia tak berani mengambil risiko itu.

Lin Xuan menunduk, menatap Zhao Tian yang masih berlutut dan merintih di bawahnya.

"Membatalkan pertunangan?"

Ia mengulurkan tangan ke belakang tanpa menoleh. "Xiao Ya, ambilkan kertas dan kuas."

Xiao Ya yang masih terguncang langsung berlari membawakan kuas dan kertas. Lin Xuan menuliskan beberapa baris dengan goresan tajam.

Selesai, ia melemparkan kertas itu ke wajah Zhao Tian.

"Baca baik-baik. Ini bukan surat persetujuan pembatalan pertunangan dari kalian."

"Ini surat pembatalanku sendiri. Aku, Lin Xuan, yang menolak Zhao Ningshuang. Mulai saat ini, ia tak pantas lagi menginjakkan kaki di gerbang Keluarga Lin-ku."

Suasana aula membeku seketika.

Lin Xuan menatap Tetua Zhao Kuang.

"Sekarang bawa sampahmu ini dan enyahlah dari rumahku. Sebelum aku berubah pikiran dan membakar kalian jadi abu di sini."

Wajah Zhao Kuang memerah menahan malu dan amarah. Namun nyawa Zhao Tian lebih penting baginya. Ia menarik dan mengangkat tubuh Zhao Tian.

"Keluarga Lin... kalian harus membayar mahal untuk ini!" desisnya penuh dendam, lalu melangkah pergi.

Aula kembali sunyi.

Lin Xuan perlahan membalikkan badan, menatap Lin Hai yang gemetar di kursinya. Pemuda tanpa Qi ini auranya seratus kali lebih mengerikan daripada Kepala Keluarga mereka saat ini.

"Dan kau, Paman Ketiga."

Lin Hai tersentak.

"Obat dengan Serbuk Bunga Jarum Hitam tadi? Simpan saja untuk anakmu sendiri. Kalau kau berani main licik lagi padaku atau orang-orangku..." Lin Xuan melangkah maju selangkah, suaranya pelan namun menusuk jiwa. "...jangan harap kau bisa hidup tenang."

Lin Hai tak sanggup berkata apa-apa. Kakinya melemas seperti tersiram air es.

Lin Xuan tak menunggu jawaban. Ia berbalik dan melangkah keluar dari aula.

Begitu ia berbelok di koridor dan yakin tak ada yang melihat, tubuhnya limbung keras. Ia menabrak pilar untuk menahan diri. Wajahnya kembali pucat pasi, dan darah segar menetes dari sudut bibirnya.

Menggerakkan Kekuatan Jiwa dengan tubuh tanpa Qi seperti ini bebannya terlalu berat.

Aku harus segera berkultivasi. Kuali Naga Hitam harus segera kubangkitkan, atau tubuh ini tak akan mampu bertahan lama.

Ia mengusap darah di bibirnya, matanya menatap langit senja di luar.

Perjalanan kembali ke puncak baru saja dimulai.

BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali

Begitu pintu Halaman Bambu Hijau tertutup, punggung Lin Xuan yang tegak di aula tadi langsung ambruk.

Uhuk!

Darah segar menetes dari sudut bibirnya.

"Tuan Muda!" Xiao Ya langsung panik memapahnya ke ranjang. Wajahnya masih pucat karena kejadian di aula. "Tuan Muda, apakah yang dilakukan tadi itu benar ilmu iblis? Saya pernah dengar di pasar, ada yang melakukan hal seperti itu. dan keesokan nya dia langsung mati!"

Lin Xuan pengen ketawa mendengar ocehan pelayanan nya ini, tapi dadanya masih sakit.

"Xiao Ya, imajinasimu kebanyakan mendengarkan tukang cerita di pasar," katanya sambil duduk bersila. "Itu bukan ilmu iblis. Cuma trik kecil. Tapi kau benar, tubuh ini sudah di ambang batasnya."

Kekuatan Jiwa yang ia gunakan buat ngerjain Zhao Tian tadi memang menguras habis tenaganya. Sisa racun di meridiannya mulai berontak lagi. Kalau dibiarkan terus, meridiannya akan membusuk secara permanen.

Ia merogoh saku jubahnya, mengambil isinya ke telapak tangannya

Sepuluh keping Koin Tembaga Spiritual. Itu seluruh harta Lin Xuan yang dimiliki saat ini.

"Xiao Ya, dengerin baik-baik."

"Ya, Tuan Muda!"

"Bawa ini ke pasar pinggiran. Jangan ke paviliun keluarga kita, Paman Ketiga pasti akan mengusirmu. Belikan tiga batang Rumput Darah Ayam, dua kelopak Bunga Api Liar, sepotong Akar Tembaga Berkarat. Sisanya belikan arang kayu keras yang paling panas."

Xiao Ya melongo.

"Hah? Tuan Muda, Rumput Darah Ayam dan Bunga Api Liar, itu kan bahan makanan kuda tanduk kita. Sementara Akar Tembaga Berkarat malah beracun! Tuan Muda mau ngapain membeli bahan sampah seperti itu?"

"Buat ku jadikan obat."

"Obat? Apa tidak salah, Tuan Muda!"

"Belikan saja Xiao Ya, jangan banyak tanya. Terus nanti siapin aku bak mandi kayu terbesar, isi air sampai penuh dan panasin sampai mendidih."

Nada suaranya Tuannya tidak bisa dibantah. Xiao Ya yang masih bingung akhirnya mengangguk dan berlari keluar dengan keranjang bambu.

Begitu sendirian, Lin Xuan memejamkan matanya. Kesadarannya masuk ke Lautan Jiwa.

Di tengah kegelapan, Kuali Naga Hitam melayang diam. Karatnya tebal dan tidak bergerak sama sekali.

Seperti dugaanku, batinnya. Mau membangunkannya membutuhkan Qi murni. Tapi untuk saat ini ia tidak memiliki Qi sama sekali, karena meridiannya putus di 80 titik. Sementara untuk memperbaiki meridian itu membutuhkan pil, dan membuat pil membutuhkan kuali dan Qi.

Semua alkemis lain kalau di posisi ini pasti putus asa, dan menjadi cacat seumur hidup.

Tapi Lin Xuan bukan alkemis biasa.

"Kalau tidak punya kuali... tubuhku saja yang menjadi kualinya."

Ada satu catatan terlarang dari Era Primordial yang pernah ia baca: Teknik Tungku Daging Sembilan Kesengsaraan. Manusia tidak dipakai sebagai wadah kultivasi, tapi sebagai kuali hidup.

Tidak ada yang berani mencobanya, karena teknik ini bisa membuat jiwa hancur menjadi debu.

Tapi bagi Lin Xuan yang pernah merasakan sakit di jantung nya. Rasa sakit fisik hanya seperti digigit semut.

Satu jam kemudian, Xiao Ya kembali dengan napas ngos-ngosan. Keranjang yang berisi bahan sampah itu dan sekantong arang hitam ada di punggungnya. Ia langsung menyalakan api di ruang pemandian, mengisi bak kayu besar sampai penuh.

Airnya mulai menggelembung dan uap panas mulai memenuhi ruangan.

"Kau bsia keluar, Xiao Ya." kata Lin Xuan.

"Tapi Tuan Muda, airnya sangat mendidih! Nanti kulit Tuan Muda bisa melepuh!"

"Tidak apa apa. Apapun yang kau dengar nanti dari dalam, jangan mencoba masuk sebelum aku panggil."

Satu kata itu bikin Xiao Ya mundur dengan gemetar dan menutup pintu.

Lin Xuan melepaskan jubahnya. Tubuhnya kurus dan pucat, bahkan penuh urat hitam yang merambat di meridian yang mulai membusuk.

Tanpa ragu, ia melompat masuk ke dalam bak yang airnya mendidih.

Ssssst!

Kulitnya langsung memerah. Rasa terbakar menyapu seluruh tubuhnya. Tapi Lin Xuan cuma menggertakkan gigi dan duduk bersila di dalamnya.

Ia kemudian memasukan semua Rumput Darah Ayam dan Bunga Api Liar ke dalam bak. Air langsung berubah merah darah dan kental. Bau karat langsung menyengat. Terakhir, ia mematahkan Akar Tembaga Berkarat dan menelan getahnya.

Duar!

Tubuhnya meledak seperti gunung berapi meletus dari dalam.

Energi liar dari rumput dan bunga itu menerobos pori-porinya, mengamuk di pembuluh darah. Getah Akar Tembaga meledak di perutnya, mengeras dan mencoba merobek organnya.

Tungku Daging, Putaran Pertama, Kupas tulang dan rebus meridian.

Ia pakai teknik kuno itu. Ia kunci semua energi buas itu di dalam tubuh, tidak boleh keluar. Ia paksa energi itu untuk menabrak sisa racun Bubuk Peluruh Tulang yang mengendap di 80 titik meridian yang putus.

Ini bukan penyembuhan. Ini adalah perang di dalam tubuhnya sendiri.

Energi Yang melawan Energi Yin, tempat perangnya adalah meridian Lin Xuan. Rasanya seperti jutaan jarum panas ditusukkan ke saraf lalu ditarik paksa. Darah menetes dari hidung, telinga, dan matanya, dan bercampur dengan air bak yang mendidih.

Kalau konsentrasinya terputus sedetik saja, tubuhnya akan meledak.

Tapi Lin Xuan adalah Kaisar Pil. Ia atur Kekuatan Jiwanya. Ia paksa energi liar itu tidak cuma membakar racun, tapi melelehkannya jadi sesuatu untuk menyambung kembali meridiannya.

Krak... krak...

Suara retakan halus terdengar dari dalam tubuhnya. Meridian yang busuk itu terbakar habis, lalu tumbuh lagi. Yang baru ini berbeda. Lebih lebar, dan lebih keras, luarnya mengkilap seperti dilapisi tembaga.

Di luar, Xiao Ya berlutut sambil menangis, mendengar rintihan tertahan tuannya dari celah pintu.

Di dalam, air merah darah itu perlahan berubah hitam pekat, bau busuk menyengat, itu semua kotoran dan racun yang dipaksa keluar dari pori-pori Lin Xuan.

Saat meridian ke-80 tersambung, angin di atas Halaman Bambu Hijau berputar.

Energi Spiritual dari seluruh Kota Awan Merah tertarik, menembus atap dan masuk ke ubun-ubun Lin Xuan dengan kecepatan mengerikan.

BOOM!

Gelombang udara meledak. Bak kayu raksasa itu hancur jadi kepingan. Air hitam berbau busuk muncrat ke seluruh dinding.

Akhirnya Kondensasi Qi Tingkat 1.

Belum berhenti. Meridian barunya jauh lebih besar dari orang normal. Ia menyedot Qi terus menerus.

BOOM!

Kondensasi Qi Tingkat 2.

Lin Xuan langsung menghentikannya. Ia tahu, naik tingkat terlalu cepat akan membuat pondasinya rapuh. Tingkat 2 sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

Ia membuka matanya. Mata hitamnya berkilat seperti bintang.

Ia berdiri di tengah puing bak mandi. Tubuh kurus yang tadi pucat kini berubah. Otot dan kulitnya tidak pucat lagi tapi berkilau sehat seperti giok.

Ia mengepalkan tangannya dan udara di sekitarnya berderak pelan.

"Tidak buruk," gumamnya dengan senyum miring. "Meridiannya bukan cuma sembuh, tapi ditempa jadi Tembaga. Ketahanan tubuhku sekarang di atas kultivator Tingkat 2."

Ia meraih handuk, menutupi tubuhnya, dan menatap pintu.

"Paman Ketiga, Keluarga Zhao... kalian pikir jenius sudah jatuh? Sayang sekali. Kalian baru saja membangunkan monster."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!