Matahari bersinar terik menyengat kulit di Pasar Loak Jatinegara siang itu. Udara terasa pengap bercampur dengan bau debu dari barang-barang usang yang menumpuk di sepanjang jalan.
Lalu lalang pengunjung membuat suasana pasar sangat bising dan sesak. Suara klakson kendaraan dari jalan raya ikut menambah pusing kepala siapa saja yang mendengarnya.
Saka berjalan gontai di belakang dua temannya sambil membawa dua tas belanjaan besar yang sangat berat. Peluh bercucuran membasahi kaus lusuhnya yang warnanya sudah pudar dan kusam.
"Woi Saka, jalan yang bener dong lo, lambat banget kayak keong." Suara Rio terdengar nyaring dari depan.
Pemuda kaya dengan kemeja merek ternama itu menatap Saka dengan tatapan jijik. Di sebelahnya ada Kevin yang langsung ikut menertawakan Saka dengan keras.
"Maklum Bos Rio, dia kan belum makan dari kemarin mikirin utang ibunya." Kevin menyahut sambil menunjuk wajah Saka yang pucat.
"Iya tuh, dasar gembel nyusahin orang aja bisanya." Tambah Kevin dengan nada suara yang sangat merendahkan.
Saka hanya menunduk dan menguatkan pegangannya pada tali tas belanjaan itu. Hatinya perih mendengar ibunya yang sedang terbaring sakit di rumah sakit dibawa-bawa dalam hinaan mereka.
Sudah seminggu ibunya koma dan tagihan rumah sakit terus membengkak tanpa ampun. Jika hari ini Saka tidak menyetor uang, pihak rumah sakit mengancam akan menghentikan perawatan ibunya.
"Maaf Bos, tasnya lumayan berat jadi agak susah jalannya." Saka memaksakan sebuah senyuman bodoh di wajahnya.
Dia sengaja merendahkan dirinya agar Rio mau memberinya upah lima ratus ribu seperti yang dijanjikan. Harga dirinya sudah mati sejak lama tergilas oleh kejamnya kemiskinan yang mencekik keluarganya.
"Alah alasan aja lo miskin, udah untung gue ajak jalan-jalan ke sini." Rio mendengus kesal sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena kepanasan.
"Harusnya lo sujud syukur gue kasih kerjaan bawa tas begini, lumayan kan buat nambah beli obat ibu lo yang penyakitan itu." Kata Rio lagi tanpa perasaan sedikitpun.
Tangan Saka terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih menahan amarah. Dia ingin sekali memukul wajah sombong Rio saat itu juga sampai hancur.
"Sabar Saka, sabar, lo butuh uang lima ratus ribu dari dia hari ini." Saka membatin dalam hati mencoba menenangkan gejolak di dadanya.
"Iya Bos Rio, terima kasih banyak sudah berbaik hati sama saya hari ini." Saka membalas dengan nada yang sengaja dibuat sangat merendah.
Mereka bertiga kemudian berhenti di depan sebuah lapak pedagang barang antik yang digelar di atas karpet usang. Lapak itu penuh dengan berbagai macam pernak-pernik kuno yang terlihat kotor.
Rio tampak tertarik dengan sebuah keramik guci kecil berwarna biru yang dipajang di tengah karpet. Dia mengambil guci itu dan memutarnya dengan gaya sok tahu.
"Pak, guci ini berapa harganya." Tanya Rio sambil menunjuk barang tersebut dengan dagunya dengan sombong.
"Wah kebetulan sekali Tuan muda, itu barang peninggalan Dinasti Ming yang sangat langka." Pedagang tua itu mulai mempromosikan barangnya dengan semangat.
"Saya dapat barang ini langsung dari kolektor rahasia di luar kota." Lanjut pedagang itu merangkai kebohongan yang sangat rapi.
"Harganya cuma sepuluh juta saja khusus untuk Tuan muda yang tampan ini." Ucap pedagang itu dengan senyum lebar yang penuh kelicikan.
Kevin langsung bertepuk tangan memuji bosnya. "Gila Bos, sepuluh juta mah kecil banget buat lo, beli aja Bos buat nambah koleksi di rumah."
"Iya Bos, guci ini kelihatan mewah banget cocok ditaruh di ruang tamu rumah lo." Tambah Kevin yang terus menerus menjilat tanpa henti.
Saka menatap guci biru itu dengan pandangan kosong tanpa minat. Namun tiba-tiba pandangannya berubah menjadi sangat kabur sejenak seperti orang pusing.
Kepalanya berdenyut nyeri selama beberapa detik sebelum akhirnya menghilang. Suara mekanik yang sangat dingin tiba-tiba menggema di dalam kepalanya.
[Sistem Mata Dewa Fengshui berhasil diaktifkan kembali setelah masa pemulihan.]
[Sistem telah mengikat jiwa master secara permanen.]
[Mendeteksi objek di sekitar radius pandangan master.]
[Guci Keramik Biru: Barang tiruan modern buatan pabrik lokal di pinggiran kota.]
[Bahan: Tanah liat campuran semen kualitas rendah. Nilai sebenarnya: Lima puluh ribu rupiah.]
Saka terkejut setengah mati mendengar rentetan suara aneh itu. "Suara apa ini, sistem, apakah aku mulai berhalusinasi karena kelaparan." Batin Saka dengan jantung berdebar kencang.
Dia mengucek matanya dengan cepat lalu menatap guci itu lagi. Kini di atas guci itu muncul sebuah layar transparan kecil berisi tulisan yang sama persis dengan suara tadi.
Saka menelan ludah melihat keajaiban yang ada di depan matanya saat ini. Rio langsung mengeluarkan dompet tebalnya dan menghitung uang tunai lembaran seratus ribuan.
"Gue ambil gucinya, sepuluh juta kan, nih uangnya pas." Ucap Rio sambil melempar segepok uang ke atas karpet pedagang itu.
"Luar biasa Bos Rio, insting lo soal barang antik memang tidak ada duanya di kota ini." Puji Kevin yang kembali menjilat bosnya itu.
Pedagang itu gemetar kesenangan menerima uang sepuluh juta untuk barang murahannya. Saka hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan dua orang di depannya ini.
Sepuluh juta melayang sia-sia untuk sebuah barang rongsokan seharga lima puluh ribu rupiah. Tapi Saka memilih diam dan terus memainkan perannya sebagai orang bodoh.
"Wah Bos Rio memang hebat sekali, guci itu pasti sangat berharga nilainya." Saka ikut memuji dengan nada yang terdengar sangat polos dan tulus.
Rio menoleh ke arah Saka lalu tersenyum sangat sombong. "Makanya lo belajar sama gue Ka, biar mata lo kebuka mana barang bagus mana barang rongsok."
"Iya Bos, saya mah apa atuh cuma orang bodoh yang nggak ngerti apa-apa soal barang antik." Saka membalas sambil nyengir lebar menutupi rasa gelinya.
Pandangan Saka kemudian beralih menyapu barang-barang lain di lapak tersebut dengan sengaja. Matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah piring kayu kusam yang tergeletak sembarangan di sudut karpet.
Piring itu tertutup tanah dan debu hingga bentuk aslinya hampir tidak terlihat sama sekali. Namun mata Saka menangkap sesuatu yang sangat luar biasa dari piring tersebut.
Sebuah pendaran cahaya keemasan yang sangat menyilaukan memancar kuat dari piring kusam itu. Cahaya itu berputar-putar membentuk pola aliran energi mistis yang terasa sangat hangat.
[Benda Pusaka Terdeteksi oleh Sistem.]
[Piring Kayu Gaharu Berdarah: Benda ritual kuno peninggalan kerajaan masa lalu yang sangat sakral.]
[Status: Mengandung energi Qi yang sangat murni dan membawa keberuntungan mutlak bagi pemiliknya.]
[Nilai estimasi di pasar lelang: Tiga Miliar Rupiah.]
Napas Saka seakan berhenti sejenak melihat rentetan tulisan di layar transparan itu. "Tiga miliar, ini gila, apakah sistem ini benar-benar nyata." Batinnya berteriak histeris tak percaya.
Tangan Saka gemetar hebat menahan gejolak emosi di dadanya yang bergemuruh. Jika ini benar, uang tiga miliar bisa langsung melunasi operasi ibunya hari ini juga dan mengubah hidupnya selamanya.
Saka harus mendapatkan barang itu sekarang juga bagaimanapun caranya. Tapi dia tidak boleh terlihat terlalu menginginkannya agar harganya tidak dinaikkan oleh pedagang licik di depannya ini.
Saka berjalan perlahan mendekati sudut lapak itu dengan gaya acuh tak acuh. Dia berjongkok santai lalu mengambil piring kayu kusam itu dengan tangan kanannya.
"Pak, piring butut ini buat tempat makan kucing saya di rumah boleh nggak." Tanya Saka dengan wajah yang sengaja dibuat memelas seperti pengemis.
Pedagang tua itu melirik sekilas ke arah tangan Saka lalu langsung mencibir. "Itu barang rongsokan dari gudang saya, nggak tau kayu apaan, seratus ribu deh ambil aja sana."
"Aduh Pak kemahalan, saya cuma punya uang dua puluh ribu sisa buat ongkos angkot pulang nanti sore." Saka menawar memelas sambil menunjukkan dua lembar uang sepuluh ribuan yang lecek dari sakunya.
Rio yang melihat tingkah Saka itu langsung tertawa keras sambil memegangi perutnya. "
Bwahahaha,
woi Saka lo ngapain beli piring rombeng begitu, kurang kerjaan banget lo."
"Buat makan kucing Bos, kasihan kucing garong saya di rumah makannya cuma pakai alas koran bekas." Jawab Saka dengan wajah polos tanpa dosa seolah dia sangat bodoh.
"Gila ya lo, dua puluh ribu mending buat lo makan siang woi, dasar gembel nggak punya otak." Kevin ikut menimpali sambil menggelengkan kepalanya merasa heran.
"Udah kasih aja Pak dua puluh ribu, kasihan nih kacung saya otaknya makin miring mikirin utang." Ucap Rio sengaja merendahkan Saka di depan umum agar dia terlihat hebat.
Pedagang itu mendecak kesal lalu merampas uang lecek dari tangan Saka dengan kasar. "Yaudah sana ambil cepat, bikin sempit lapak saya saja barang rongsok begitu."
Saka langsung memasukkan piring kayu itu ke dalam tas kresek kecilnya dengan hati-hati. Hatinya bersorak kegirangan hingga rasanya dia ingin melompat tinggi saat itu juga.
"Terima kasih Pak, kucing saya pasti senang sekali pakai piring bagus ini." Ucap Saka sambil membungkuk berkali-kali untuk menutupi senyum licik di bibirnya.
"Udah ayo balik, panas banget di sini gue mau ngadem di kafe cari minum." Perintah Rio sambil berjalan mendahului mereka dengan gaya angkuh.
Saka kembali mengangkat dua tas belanjaan besar milik Rio ke atas bahunya. Anehnya beban di tangannya terasa sangat ringan sekarang karena hatinya dipenuhi harapan baru yang sangat besar.
"Kalian boleh tertawa puas sekarang, Rio, Kevin." Batin Saka sambil menatap punggung kedua orang itu dengan tajam.
"Tunggu saja sampai waktu lelang tiba nanti, aku akan memastikan kalian menangis darah melihat piring rombeng ini." Lanjutnya dalam hati sambil menyeringai tipis.
Saka kembali memasang wajah bodoh andalannya dan berlari kecil menyusul Rio menjauh dari pasar. Tidak ada satupun orang yang sadar bahwa hari ini, sang Raja Fengshui akhirnya telah terbangun dari tidurnya yang panjang.
Matahari mulai turun ke ufuk barat saat Saka selesai memasukkan semua barang belanjaan ke dalam bagasi mobil Rio. Keringat dingin mengalir di dahinya karena kelelahan namun dia tetap mempertahankan senyum polos di wajahnya.
"Nih upah lo hari ini lima ratus ribu sesuai janji gue tadi siang." Ucap Rio sambil menjatuhkan lima lembar uang seratus ribuan ke aspal tepat di depan kaki Saka.
Kevin yang berdiri di sebelah bosnya langsung tertawa terbahak-bahak melihat hal itu. "Pungut buruan gembel, kapan lagi lo bisa pegang uang warna merah begini banyak."
Hati Saka mendidih mendapat perlakuan seperti binatang jalanan ini. Namun dia sadar ini belum saatnya untuk melawan jadi dia perlahan menunduk dan memungut uang tersebut.
"Terima kasih banyak Bos Rio atas kebaikannya hari ini." Jawab Saka dengan nada merendah sambil menyimpan uang itu ke dalam sakunya dengan hati-hati.
"Yaudah sana lo minggir, gue mau pulang pamerin guci antik ini ke bokap gue." Usir Rio sambil masuk ke kursi kemudi mobil sport mewahnya.
Brumm.
Suara mesin mobil menderu kencang dan langsung melesat pergi meninggalkan kepulan asap di wajah Saka.
Saka terbatuk pelan sambil mengusap wajahnya yang terkena debu jalanan. Tatapan matanya yang tadi terlihat bodoh kini berubah menjadi sangat tajam dan sedingin es.
"Tunggu saja tanggal mainnya Rio, aku akan buat kamu menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini." Batin Saka sambil memegang erat tas kresek kecil berisi piring kayunya.
Saka bergegas berjalan menuju halte bus untuk segera pergi ke rumah sakit. Dia harus menyetorkan uang lima ratus ribu ini agar ibunya tidak diusir dari ruang perawatan hari ini.
Perjalanan dengan bus memakan waktu hampir satu jam karena jalanan kota yang macet parah di sore hari. Saka akhirnya tiba di koridor Rumah Sakit Harapan yang bau obatnya selalu membuat perutnya bergejolak mual.
Saka segera melunasi tunggakan harian di kasir dan bergegas menuju ruang rawat inap kelas tiga. Di sana terbaring seorang wanita paruh baya yang sangat kurus dengan berbagai selang menempel di tubuhnya.
"Ibu, Saka datang bawa uang hari ini, ibu jangan khawatir ya." Bisik Saka pelan di telinga ibunya yang masih tertidur dalam koma.
Tangan Saka menggenggam tangan ibunya yang terasa sangat dingin dan rapuh. Air mata nyaris menetes dari sudut matanya namun dia buru-buru menghapusnya dengan kasar menggunakan lengan bajunya.
"Saka janji Bu, dalam beberapa hari ini hidup kita akan berubah drastis." Ucap Saka dalam hati dengan tekad yang sudah bulat tak tergoyahkan.
Setelah memastikan kondisi ibunya stabil Saka langsung pamit pulang ke kamar kosnya yang sempit. Dia harus segera memeriksa benda pusaka yang dibelinya tadi siang dengan lebih teliti.
Ceklek.
Saka membuka pintu kamar kosnya yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu dengan pelan.
Kamar itu sangat berantakan dengan tumpukan buku-buku kuno peninggalan ayahnya yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Ayah Saka dulunya adalah seorang ahli Fengshui yang bangkrut karena ditipu habis-habisan oleh rekan bisnisnya sendiri.
Saka duduk bersila di atas kasur lipatnya yang sudah tipis dan mengeluarkan piring kayu itu dari kresek. Benda itu benar-benar terlihat seperti rongsokan berdebu yang pantas dibuang ke tempat sampah.
"Mencoba analisis ulang barang ini sekarang juga." Perintah Saka di dalam kepalanya dengan rasa penasaran yang membuncah.
Tiba-tiba pandangan matanya kembali mengabur dan layar transparan kecil muncul melayang tepat di depannya.
[Memindai ulang Piring Kayu Gaharu Berdarah.]
[Benda ini tertutup oleh lapisan segel debu alami yang mengunci energi Qi di dalamnya selama ratusan tahun.]
[Saran tindakan untuk Master, basuh benda ini dengan air bersih yang mengalir selama lima menit untuk melunturkan kotoran fisiknya.]
[Setelah itu usap perlahan menggunakan kain berbahan katun murni untuk memunculkan warna asli kayu Gaharu Berdarah.]
Saka mengangguk paham dan langsung membawa piring itu ke kamar mandi kecil di ujung lorong kosannya. Dia membuka keran air dan membiarkan air mengalir membasahi seluruh permukaan piring kayu tersebut.
Syuuuur.
Suara air keran memecah keheningan saat Saka mulai menggosok permukaan piring itu dengan jari-jarinya.
Perlahan tapi pasti lapisan debu tebal dan tanah kering yang menempel mulai luntur terbawa air. Warna cokelat kusam pada piring itu perlahan memudar dan digantikan oleh sesuatu yang sangat mengejutkan mata.
Sebuah warna merah gelap yang sangat elegan mulai terlihat dari balik serat-serat kayunya yang kokoh. Kayu itu seolah memancarkan kilau alami meskipun belum dikeringkan sepenuhnya oleh tangan Saka.
Setelah lima menit berlalu Saka mematikan keran air dan berlari kembali ke kamarnya dengan tergesa-gesa. Dia mengambil kaus katun bekas yang bersih dari lemarinya dan mulai mengusap piring itu perlahan.
Sret sret.
Saka menggosoknya dengan penuh kehati-hatian seolah sedang merawat bayi yang sangat rapuh.
Begitu piring itu benar-benar kering dan bersih energi keemasan yang tadi dilihatnya di pasar kembali memancar. Kali ini cahayanya jauh lebih terang dan terasa sangat menenangkan saat hawa hangatnya menyentuh kulit Saka.
"Gila, ini benar-benar luar biasa indah, pantas saja harganya bisa mencapai tiga miliar rupiah." Gumam Saka dengan mata terbelalak kagum melihat mahakarya yang kini ada di tangannya.
Piring itu memiliki ukiran naga kecil di bagian pinggirnya yang terlihat sangat hidup dan bernyawa. Aromanya juga berubah menjadi sangat wangi khas kayu gaharu yang mampu menenangkan pikiran siapapun yang menghirupnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!