Matahari pagi menyiram Istana Kediaman Awan Merah dengan sinar keemasan yang hangat. Di tengah taman istana yang megah, sesosok pemuda berpotongan jubah sutra putih longgar tampak sedang berlari-lari kecil mengejar seekor kupu-kupu biru. Senyumnya terkembang lebar, polos, dan tampak sangat bahagia tanpa beban.
Dia adalah Mu Xuanyuan, Pangeran Ke-14 Kekaisaran Tianming.
"Tangkap! Ah, sedikit lagi... Haha! Kupu-kupunya terbang lebih tinggi!" gelak tawa Xuanyuan menggelegar di area taman. Ketampanan wajahnya sungguh luar biasa mata tajam namun bening bagai danau jernih, hidung mancung yang terpahat sempurna, serta kulit seputih pualam.
Namun, tawa kekanak-kanakan yang keluar dari mulutnya selalu berhasil menghancurkan kesan keagungan tersebut dalam sekejap. Bagi seluruh penghuni istana, Mu Xuanyuan hanyalah sebuah produk gagal. Di usianya yang sudah menginjak dua puluh tahun, pangeran tampan ini tidak bisa membangkitkan Dantian untuk berkultivasi, tidak paham politik, dan memiliki akal yang dianggap gila atau bodoh.
Di balik semak-semak tak jauh dari sana, dua orang pria berpakaian serba hitam menyilangkan tangan di dada. Mereka adalah pengawal pribadi Xuanyuan: Feng Wuchen yang berwajah dingin kaku bagai es, dan Gu Juechen yang memasang wajah lelah.
"Wuchen," bisik Juechen pelan sambil memijat pelipisnya. "Apakah hari ini majikan kita benar-benar harus pura-pura menangkap kupu-kupu selama dua jam penuh?"
"Itu demi menjaga penyamaran," jawab Feng Wuchen datar tanpa mengedipkan mata. "Seorang Immortal Emperor Puncak yang menyamar sebagai pangeran idiot harus bertindak totalitas."
Juechen menghela napas panjang. Sungguh ironis. Jika orang-orang di Kekaisaran Tianming mengetahui kebenarannya, mereka pasti akan jantungan massal. Pangeran Ke-14 yang mereka ejek setiap hari ini sebenarnya adalah keberadaan paling mengerikan di seluruh benua. Di dalam jiwanya tersembunyi kekuatan tingkat ranah Immortal Emperor Puncak sebuah pencapaian legendaries yang bahkan tidak bisa diimpikan oleh Leluhur Agung Kekaisaran.
Tak hanya itu, jika Xuanyuan mengibaskan tangannya, sebuah Ruang Dimensi Portabel raksasa akan terbuka. Di dalamnya membentang pegunungan yang terbuat dari kristal spiritual, lautan mutiara malam, perhiasan giok langka, serta ribuan hektar tanaman obat kuno dan buah-buahan abadi yang bisa memicu perang antar-benua hanya untuk selembar daunnya.
"Hahaha! Lihat Juechen, Wuchen! Aku hampir menangkapnya!" seru Xuanyuan dari kejauhan sambil melambaikan tangan dengan wajah jahil.
Namun, suasana ceria itu mendadak rusak oleh suara langkah kaki yang berat dan penuh nada keangkuhan.
Tap. Tap. Tap.
Sesosok pria muda berbalut jubah kemewahan berwarna ungu gelap melangkah masuk ke taman, diiringi oleh empat orang pengawal berwajah seram.
Dia adalah Lu Cangqiong, Pangeran Ke-3 Kekaisaran Tianming. Dari 21 bersaudara di istana ini, Lu Cangqiong adalah salah satu yang paling membenci dan paling sering merendahkan Xuanyuan.
"Cih, sungguh pemandangan yang menjijikkan di pagi hari," cibir Lu Cangqiong seraya menghentikan langkahnya. Matanya memandang Xuanyuan dengan penuh penghinaan.
"Adik Ke-14 milikku yang tak berguna... Di saat kakak-kakakmu bertaruh nyawa berlatih kultivasi dan memikirkan masa depan kekaisaran, kau malah bermain dengan serangga seperti bocah berumur lima tahun."
Xuanyuan menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Lu Cangqiong, lalu memasang senyum paling lebar dan polos yang pernah ada.
"Eh? Kakak Ke-3!" Xuanyuan berlari mendekat dengan wajah berbinar. "Kakak Ke-3 datang bermain denganku? Kupu-kupu biru ini sangat cepat! Kakak kan hebat, bisakah Kakak menangkapnya untukku?"
"Jauhkan wajah bodohmu itu dariku!" bentak Lu Cangqiong seraya mengibaskan lengannya kasar.
Sebuah gelombang energi Ranah Pendekar Spirit terpancar dari kibasan tangan Lu Cangqiong, menciptakan angin kencang yang disengaja untuk menghempaskan Xuanyuan hingga terjungkal ke tanah.
Brak!
Xuanyuan jatuh terduduk di atas rumput. Bajunya sedikit kotor oleh tanah. Di belakangnya, mata Feng Wuchen dan Gu Juechen memancarkan kilatan pembunuh yang sangat pekat selama sekejap mata.
Tangan Feng Wuchen sudah memegang gagang pedangnya, siap memenggal kepala Pangeran Ke-3 dalam hitungan milidetik. Namun, satu sentilan jari tak terlihat dari Xuanyuan dari balik punggungnya memberi sinyal mutlak: Tahan.
"Aduh... pantatku sakit," gumam Xuanyuan sambil mengelus bagian belakangnya, masih dengan wajah agak bingung tanpa rasa dendam.
Lu Cangqiong tertawa terbahak-bahak melihat respon Xuanyuan. "Lihat dirimu. Benar-benar sampah tanpa kultivasi. Menyedihkan! Wajah tampanmu itu sama sekali tidak ada gunanya jika otakmu kosong dan tubuhmu lemah. Kau adalah noda terbesar di dalam garis keturunan Kekaisaran Tianming!"
"Pangeran Ke-3," Gu Juechen melangkah maju dengan wajah dingin, mencoba menahan emosinya. "Pangeran Ke-14 tidak melakukan kesalahan apa pun. Mohon Anda menjaga sikap."
"Diam kau, anjing pengawal!" gertak Lu Cangqiong. "Kalian berdua sama bodohnya karena mau melayani pangeran gila ini. Ingat posisi kalian!"
Setelah memuaskan ego dan harga dirinya dengan menghina sang adik, Lu Cangqiong meludahi tanah di dekat kaki Xuanyuan.
"Minggir dari jalanku. Ayah Baginda Raja memanggil para pangeran berbakat ke Balai Agung. Orang gila sepertimu sebaiknya mengurung diri saja di kamar sebelum membuat malu keluarga kerajaan!"
Dengan langkah angkuh, Lu Cangqiong berlalu meninggalkan taman bersama para pengawalnya.
Begitu sosok Lu Cangqiong benar-benar menghilang di balik gerbang taman, suasana di sekitar Xuanyuan mendadak berubah secara drastis.
Rasa bingung dan wajah bodoh di paras tampan Xuanyuan menghilang tanpa bekas. Ia bangkit berdiri perlahan, membersihkan debu di jubah sutranya dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang.
Matanya yang tadinya polos kini memancarkan aura kedalaman alam semesta yang tak terukur—dingin, bijaksana, dan sangat dominan.
"Yang Mulia," Feng Wuchen mendekat dan berlutut dengan satu kaki. "Pangeran Ke-3 sudah keterlaluan. Jika Anda memberi izin, hamba bisa membuat kematiannya terlihat seperti kecelakaan kultivasi malam ini."
Xuanyuan tersenyum tipis—kali ini senyuman tipis yang sangat menawan namun penuh intrik. "Tidak perlu, Wuchen. Biarkan si menyedihkan Cangqiong bermain-main dengan kesombongan kecilnya.
Berpura-pura menjadi orang bodoh di depan orang yang merasa dirinya paling pintar adalah hiburan terbaik di dunia ini."
Xuanyuan mengibaskan tangannya pelan. Sebuah celah spasial tak terlihat terbuka sekejap di udara. Sebuah buah berwarna merah berkilau seperti kristal muncul di genggamannya.
Itu adalah Buah Teratai Surga, buah langka yang mampu menaikkan umur seseorang hingga seratus tahun dan meningkatkan ranah kultivasi secara drastis—yang di dalam ruang dimensinya hanya ia jadikan cemilan buah sehari-hari.
Kriuk.
Xuanyuan mengunyah buah ajaib itu dengan santai. "Lagi pula, jika aku membunuhnya sekarang, siapa lagi yang akan menghiburku di istana yang membosankan ini?"
Gu Juechen hanya bisa menghela napas seraya menggelengkan kepala. Majikannya ini memang luar biasa santai. Memiliki kekayaan tak terbatas dan kekuatan yang bisa menghancurkan seluruh benua dalam sekali tepukan tangan, tapi malah menikmati peran sebagai "Pangeran Bodoh".
"Bagaimana dengan laporan bisnis hari ini, Juechen?" tanya Xuanyuan seraya melangkah menuju gazebo taman.
Gu Juechen segera bersiap melapor. "Semua berjalan lancar, Yang Mulia. Kakak Han Xingzhou melaporkan bahwa Balai Lelang Xingzhou minggu ini berhasil mendapatkan keuntungan bersih lima ratus ribu batu kristal kelas tinggi dari penjualan Eliksir Pemurni Jiwa yang Anda berikan. Lalu, Komandan Po Jun juga memberi kabar bahwa Tentara Bayaran Po Jun telah berhasil menguasai jalur perdagangan selatan. Sekarang, lebih dari delapan puluh persen kekuatan militer independen di benua secara tidak langsung berada di bawah genggaman Anda."
"Bagus," puji Xuanyuan pelan. "Jaga agar identitasku tetap tersembunyi. Aku belum ingin kerepotan mengurus benua ini."
Namun, sebelum Gu Juechen sempat menjawab, sebuah aroma wangi bunga peony yang sangat menyengat dan elegan mendadak berembus tertiup angin. Sebuah suara halus, sedikit berat, namun sangat menggoda terdengar melayang dari atas dinding taman.
"Oho~ Siapa yang menyangka, Pangeran Ke-14 yang katanya gila dan lemah ternyata sedang asyik menikmati buah langka di balik taman istana?"
Mendengar suara itu, tubuh Xuanyuan mendadak kaku sejenak.
Wajah berwibawanya langsung luntur berganti dengan ekspresi sedikit panik.
Di atas tembok taman, berdiri seorang pria tampan berbalut pakaian sutra merah menyala dengan kipas lipat emas di tangannya. Matanya memancarkan pesona flamboyan yang mampu membuat wanita maupun pria bertekuk lutut. Dia adalah Leng Yan—pemilik rumah bordil terbesar dan paling megah di benua, seorang pria kuat yang sangat terobsesi pada segala hal yang indah.
Dan bagi Leng Yan, Mu Xuanyuan adalah keindahan tertinggi di dunia ini.
"Leng Yan..." gumam Xuanyuan dengan sudut mata berkedut.
"Pangeranku yang sangat tampan!" seru Leng Yan dengan nada puitis dramatis, mengibaskan kipasnya seraya menatap Xuanyuan dengan mata berbinar-binar penuh pemujaan.
"Ah, betapa tampannya wajahmu saat sedang terkejut! Senyuman bodohmu di depan Pangeran Ke-3 tadi sungguh menggemaskan, tapi tatapan mata dinginmu barusan... Khh! Jantungku hampir berhenti berdetak karena terpesona!"
"Kakak Bodoh! Turun dari sana sekarang juga!"
Plak!
Sebelum Leng Yan sempat melanjutkan kalimat godaan flamboyannya, sebuah tembakan batu kecil meluncur tepat dan menghantam belakang kepalanya dengan keras. Seorang gadis berambut pendek dengan pakaian tempur ringkas—Leng Shuang, adik kembar Leng Yan—muncul di samping tembok dengan wajah merah padam karena menahan malu.
"Aduh! Shuang'er, kenapa kau memukul kakakmu yang rupawan ini?!" ringis Leng Yan sambil mengelus kepalanya.
"Bisakah kau berhenti menjadi orang aneh yang menggoda pangeran orang lain?!" bentak Leng Shuang penuh emosi, memasang wajah facepalm.
"Kau ini pemilik rumah bordil ternama! Jaga gengsimu!"
Xuanyuan yang menyaksikan adegan itu hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Kehidupan penyamarannya yang damai tampaknya akan menjadi jauh lebih rumit dan penuh kekonyolan dari yang ia bayangkan.
Aroma wangi bunga peony yang ditinggalkan Leng Yan masih tercium samar di udara, tetapi kegaduhan di atas tembok taman telah mereda.
Leng Shuang dengan paksa menyeret kakak kembarnya yang flamboyan itu pergi sebelum para pengawal istana bagian luar menyadari keberadaan mereka.
Di dalam gazebo, Mu Xuanyuan mendesah pelan. Ia melemparkan sisa biji Buah Teratai Surga ke udara, yang langsung lenyap ditelan celah dimensi tipis sebelum menyentuh tanah.
"Pria itu..." gumam Xuanyuan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana bisa seorang pakar ranah Immortal King yang menguasai jaringan informasi terbesar di benua memiliki kepribadian seajaib itu?"
Gu Juechen yang berdiri di sampingnya terkekeh pelan.
"Bagi Tuan Leng Yan, estetika dan ketampanan Yang Mulia berada di atas segalanya. Konon katanya, alasan utama beliau mendirikan Rumah Bordil Paviliun Redup hanyalah untuk mengumpulkan segala macam hal indah di dunia dan Anda adalah pusat dari perhatiannya."
"Tolong ingatkan aku untuk tidak pernah bertamu ke tempatnya tanpa menyamar," sahut Xuanyuan terkekeh.
"Aku lebih rela bertarung melawan puluhan monster tingkat akhir daripada harus mendengarkan puisi godaannya selama satu jam."
Feng Wuchen, yang dari tadi tetap diam bagai patung batu, akhirnya membuka suara.
"Yang Mulia, pangeran lain sudah mulai berkumpul di Aula Agung. Pangeran Ke-3 pasti akan memanaskan suasana dan menggunakan ketidakhadiran Anda untuk memprovokasi Baginda Raja."
"Biarkan saja," balas Xuanyuan santai. Ia melangkahkan kaki menuju kediamannya yang tampak sederhana bahkan terkesan sedikit terabaikan dibanding kediaman pangeran-pangeran lainnya.
"Justru semakin mereka menganggapku tidak ada, semakin bebas aku bergerak. Mari kita masuk. Ada beberapa hal yang harus aku periksa."
Begitu pintu jati tebal kamar pribadinya tertutup rapat dan dipasangi matriks pelindung kedap suara oleh Feng Wuchen, Xuanyuan menjentikkan jarinya.
Wusss!
Setitik cahaya keemasan terpancar dari dadanya, membesar hingga membentuk pusaran riak air di udara.
Celah menuju Ruang Dimensi Portabel miliknya terbuka lebar. Tanpa ragu, Xuanyuan melangkah masuk, diikuri oleh Feng Wuchen dan Gu Juechen.
Pemandangan di dalam ruang dimensi itu sungguh di luar nalar manusia fana.
Berbeda dengan dunia luar yang dibatasi oleh hukum alam biasa, dunia di dalam dimensi ini membentang tanpa batas di bawah langit bernuansa ungu keemasan.
Di sebelah kiri, tampak gundukan perbukitan yang bukan terbuat dari tanah, melainkan tumpukan jutaan keping emas murni, kristal spiritual tingkat tertinggi yang memancarkan cahaya biru terang, serta batuan giok surgawi yang tak ternilai harganya. Mutiara malam berukuran sebesar kepala manusia berserakan di tepi danau yang airnya terdiri dari Cairan Spiritual Murni.
Di sebelah kanan, terhampar kebun abadi yang ditanami berbagai jenis obat-obatan legenda. Rumput Jiwa Sembilan Daun, Bunga Teratai Api Abadi, hingga Pohon Buah Ginseng Darah tumbuh dengan suburnya. Udara di dalam dimensi ini sangat pekat dengan energi spiritual begitu pekat hingga bernapas di sini saja sudah cukup untuk membuat seorang kultivator biasa naik ranah secara instan.
"Ah... udara di sini selalu menyegarkan," ujar Xuanyuan seraya merentangkan kedua tangannya.
Ia berjalan mendekati sebuah kolam kecil yang dipenuhi mutiara hitam spiritual. Dengan santai, ia mencelupkan tangannya dan mengambil sebutir mutiara langka yang sanggup memicu perang antar-kerajaan hanya untuk memilikinya, lalu melemparkannya naik-turun seperti bola mainan.
"Juechen, bagaimana persiapan lelang rahasia bulan depan di Balai Lelang Xingzhou?" tanya Xuanyuan.
Gu Juechen melangkah maju sambil mengeluarkan sebuah gulungan bambu keemasan.
"Semua berjalan sesuai rencana, Yang Mulia. Kakak Han Xingzhou telah menyebarkan rumor tentang lelang 'Eliksir Pemurni Darah Naga'. Seluruh sekte besar dan keluarga kekaisaran dari benua tetangga dipastikan akan hadir."
"Bagus. Berikan sepuluh butir Buah Kristal Es dari kebun ini kepada Xingzhou untuk dijadikan barang penutup lelang," kata Xuanyuan santai, seolah-olah ia hanya membagikan buah apel biasa.
"Kumpulkan hasilnya untuk memperkuat jaringan intelijen Tentara Bayaran Po Jun."
"Dua puluh butir Buah Kristal Es?!" Gu Juechen menelan ludah.
"Yang Mulia, satu buah saja sudah cukup untuk membuat para tetua Sekte Pedang Suci bertarung sampai mati. Jika Anda mengeluarkan sepuluh sekaligus, pasar eliksir di seluruh benua bisa gempar!"
"Biarkan saja gempar," Xuanyuan tersenyum tipis, senyuman seorang penguasa abadi yang tak tertandingi.
"Semakin kekacauan terjadi di luar, semakin aman posisi kita di dalam. Lagipula, pohon buah itu di sini berbuah setiap tiga hari sekali. Jika tidak dibagikan, kebunku akan penuh sesak."
Feng Wuchen yang biasanya kaku pun hanya bisa menahan napas. Hanya pangeran mereka yang bisa menganggap harta karun tingkat dewa sebagai sampah yang memenuhi kebun.
Saat mereka bertiga sedang memetik beberapa buah obat untuk dijadikan stok bahan eliksir rahasia, pusaran dimensi mendadak bergetar pelan. Sinyal dari matriks pelindung di kamar luar menandakan ada seseorang yang mendekati kediaman Pangeran Ke-14.
"Seseorang datang," gumam Feng Wuchen, matanya berkilat waspada.
"Aura ini... kenapa dia datang lagi ," ujar Xuanyuan sambil tersenyum kelelahan.
"Aroma bunga peony lagi. Pria flamboyan itu benar-benar tidak kenal menyerah."
Dengan sekali kuisan tangan, Xuanyuan menyegel kembali ruang dimensinya. Dalam sekejap mata, ketiga pria itu sudah kembali berdiri di dalam kamar tidur sederhana yang agak berdebu. Xuanyuan dengan cepat mengacak-acak rambut hitamnya yang rapi, melonggarkan jubahnya, dan langsung duduk di lantai sambil memegang sebuah mainan kayu berbentuk burung—kembali ke mode "Pangeran Gila"
Brak!
Pintu kamar terbuka tanpa mengetuk. Namun, yang melangkah masuk bukan hanya Leng Yan, melainkan juga Leng Shuang yang tampak sibuk memegang gagang pedangnya dengan wajah gusar.
"Ooh~ Pangeranku yang manis, sedang apa kau di dalam kamar sendirian?" suara mendayu-dayu Leng Yan bergema. Pria berdada bidang berbalut jubah sutra merah itu mengibaskan kipas emasnya, menatap Xuanyuan dengan pandangan penuh minat.
"Aku membawakanmu kue teratai terbaik dari Rumah Bordil Paviliun Redup. Khusus dibuat untuk memanjakan lidah tampanmu itu!"
Xuanyuan memiringkan kepalanya, memegang burung kayu itu di depan matanya sambil tertawa kekanak-kanakan.
"Terbang! Burung kayu bisa terbang! Eh? Orang cantik pakaian merah datang lagi! Burung, lihat, ada orang cantik!"
Leng Shuang yang berdiri di pintu mengelus dadanya, menahan rasa malu yang amat sangat.
"Kakak! Lihat kan? Dia benar-benar pangeran yang hilang akal! Untuk apa kau terus-terusan mengganggunya?!"
Leng Yan tidak mengindahkan omelan adiknya. Ia melangkah mendekati Xuanyuan, merendahkan tubuhnya hingga wajah mereka yang sama-sama memikat hanya berjarak beberapa senti. Leng Yan menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Xuanyuan.
"Orang gila?" bisik Leng Yan dengan nada suara yang tiba-tiba berubah—menjadi sangat dalam, berat, dan penuh aura penekanan seorang pakar tingkat tinggi.
"Orang gila tidak akan memiliki ketenangan mata seindah ini saat ditatap oleh pakar Immortal King. Pangeran Ke-14... sampai kapan kau akan terus memakai topeng menggemaskan ini di hadapanku?"
Atmosfer di dalam kamar mendadak membeku. Feng Wuchen sudah siap menarik pedangnya dari sarung, sementara Gu Juechen mengambil posisi untuk mengunci pergerakan Leng Shuang.
Namun, Mu Xuanyuan hanya mengedipkan matanya polos. Ia lalu mengangkat tangan kirinya yang kotor oleh debu kayu, dan dengan tanpa dosa menempelkan telapak tangannya tepat di pipi mulus Leng Yan.
"Orang cantik... ada lalat di hidungmu! Haha!" seru Xuanyuan ceria sambil mengusap hidung Leng Yan hingga terpoles noda hitam.
Leng Yan tertegun sejenak. Keanggunan dan kehebatannya runtuh seketika saat menyadari pipi dan hidungnya kini kotor oleh noda debu.
"KAKAK BODOH! KAN SUDAH KUBILANG JANGAN MENGGODA PANGERAN GILA!" teriak Leng Shuang yang langsung melangkah maju, menjambak belakang kerah jubah merah Leng Yan dan menyeretnya keluar dari kamar secara paksa.
"Ayo pulang! Kau membuat malu nama Paviliun Redup!"
"T-tunggu! Shuang'er! Sentuhan tangannya barusan sungguh hangat! Dia memegang pipiku! Pangeran tampanku memegang pipiku!" jerit Leng Yan dramatis saat tubuhnya diseret keluar menuruni tangga.
Pintu kamar kembali tertutup rapat.
Xuanyuan menyapu noda debu di tangannya dengan kain lap, lalu menghembuskan napas lega seraya bersandar di kursi kayunya. Senyum polosnya memudar, berganti menjadi cengkeraman penuh intrik saat ia menatap ke arah jendela.
"Hampir saja," gumam Xuanyuan santai. "Pria itu memiliki insting yang sangat tajam. Tapi... bermain penyamaran seperti ini ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang kubayangkan."
Suara lengkingan dan jeritan dramatis Leng Yan yang diseret paksa oleh adik kembarnya perlahan memudar di kejauhan lorong istana. Keheningan kembali melingkupi kediaman Pangeran Ke-14.
Feng Wuchen menyarungkan kembali pedangnya yang sempat terangkat beberapa inci, sementara Gu Juechen menggeleng-gelengkan kepala seraya menghela napas panjang.
"Tuan Leng Yan dari Paviliun Redup itu benar-benar ancaman bagi ketenangan jiwa," gumam Gu Juechen sambil merapikan letak meja kayu yang sempat bergeser.
"Sensor spiritualnya sangat tajam. Jika Yang Mulia tidak bertindak cepat memoles hidungnya dengan noda hitam tadi, dia mungkin akan terus menekan hingga aura kekuatan Anda terpancing."
Mu Xuanyuan terkekeh pelan, melangkah santai menuju cermin perunggu di sudut ruangan. Ia menatap pantulan wajahnya paras tampan rupawan dengan sepasang mata jernih yang memikat, meski rambutnya sengaja diacak-acak sedikit untuk menjaga kesan "pangeran kurang akal".
"Leng Yan bukan orang bodoh," ujar Xuanyuan tenang. Aura seorang Immortal Emperor Puncak samar-samar berdesir di sekeliling tubuhnya sebelum kembali menguap tanpa bekas.
"Dia menguasai jaringan informasi rahasia di lima benua. Intuisi pengamatannya dibentuk dari beribu-ribu intrik dunia bawah. Namun justru karena dia sangat pintar, dia akan lebih mudah terkecoh oleh tindakan yang paling konyol."
"Tetapi Yang Mulia," interupsi Feng Wuchen dengan suara berat khasnya, "tatapan mata Pemilik Rumah Bordil itu saat menatap Anda... terasa sangat mengganggu. Apakah hamba perlu memberi sedikit peringatan agar dia tidak bertindak terlalu jauh?"
Xuanyuan melambaikan tangannya santai. "Tidak perlu, Wuchen. Biarkan saja si flamboyan itu bermain dengan imajinasinya. Selama dia tidak mengganggu jaringan bisnis Balai Lelang Xingzhou dan Pasukan Bayaran Po Jun, dia adalah sekutu yang menarik. Lagi pula..." Xuanyuan menyeringai tipis, "...melihat adiknya menyeretnya seperti karung beras adalah hiburan gratis yang cukup menghibur."
Belum sempat Gu Juechen membalas ucapan majikannya, dari luar kediaman mendadak terdengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan bising. Langkah kaki itu tidak berasal dari satu atau dua orang, melainkan rombongan pengawal berzirah berat.
Brak!
Pintu gerbang luar Kediaman Awan Merah didobrak dengan kasar.
Suara benturan besi dan kayu menggemakan keheningan pagi di taman istana.
"Pangeran Ke-14! Keluar kau sekarang!" sebuah teriakan lantang bermuatan energi spiritual mengguncang udara.
Xuanyuan mengedipkan matanya, lalu dalam sekejap mata memundurkan bahunya, memasang raut wajah bingung, dan mengembalikan ekspresi "pangeran lugu" yang menjadi ciri khas penyamarannya.
"Ah, tampaknya hiburan kita yang sebenarnya sudah tiba," bisik Xuanyuan pelan pada kedua pengawalnya sebelum melangkah keluar kamar dengan tawa ceria yang agak dipaksakan.
Di halaman taman, Lu Cangqiong—Pangeran Ke-3 Kekaisaran Tianming berdiri gagah dengan jubah ungu gelapnya yang mewah. Di sampingnya berdiri delapan pengawal berbadan tegap dengan pedang terhunus di pinggang. Tak hanya itu, di belakang Lu Cangqiong tampak pula Pangeran Ke-5 dan Pangeran Ke-7 yang ikut hadir dengan wajah penuh cemoohan.
"Ada apa ini? Wah, Kakak Ke-3 datang lagi! Kakak Ke-5 dan Kakak Ke-7 juga ada!" seru Xuanyuan gembira sambil menepuk-nepuk tangannya seperti anak kecil.
"Apakah kalian membawa burung kayu baru untukku?"
Lu Cangqiong meludah ke tanah, menatap Xuanyuan dengan pandangan jijik yang sangat tajam.
"Tutup mulutmu, idiot!" bentak Lu Cangqiong kasar.
"Baginda Raja baru saja menyelesaikan rapat agung di Aula Utama. Ayahanda sangat kecewa karena di antara seluruh 21 pangeran dan putri, hanya kau si sampah Pangeran Ke-14 yang tidak hadir untuk memberi hormat dan menunjukkan hasil kemajuan kultivasi!"
Pangeran Ke-5 melangkah maju sambil terkekeh sinis.
"Kakak Ke-3, untuk apa menanyakan kemajuan kultivasi pada si gila ini? Dia bahkan tidak bisa merasakan aliran Qi di udara. Di matanya, batu spiritual mungkin hanya dikira batu kali untuk dilemparkan ke sungai!"
Tawa ejekan meledak di antara para pangeran dan pengawal kerajaan.
Feng Wuchen dan Gu Juechen yang berdiri beberapa langkah di belakang Xuanyuan mengepal erat jemari mereka. Rahang Feng Wuchen mengeras. Betapa mudahnya bagi mereka berdua untuk meratakan Lu Cangqiong dan rombongannya menjadi debu dalam satu kedipan mata jika saja sang majikan memberi perintah. Namun, Mu Xuanyuan justru melangkah semakin mendekati Pangeran Ke-3 dengan wajah polos tanpa dosa.
"Tapi Kakak Ke-3... aku tadi sedang menangkap kupu-kupu biru di taman!" ujar Xuanyuan seraya memiringkan kepalanya.
"Kupu-kupunya sangat cantik! Bukankah menangkap kupu-kupu lebih menyenangkan daripada duduk diam mendengarkan para tetua berpidato?"
"Kupu-kupu?!" wajah Lu Cangqiong memerah karena marah. Rasa terhina merayapi dadanya melihat betapa santainya si pangeran bodoh ini merespons kemarahannya.
"Kau benar-benar memalu-malukan nama besar keluarga Kekaisaran Tianming! Kakak Pertama sibuk mengurus perbatasan, aku sibuk menerobos ranah Pendekar Spirit, sedangkan kau malah sibuk mengurusi serangga!"
Dengan gerakan cepat yang dipenuhi niat mempermalukan, Lu Cangqiong mengangkat tangan kanannya. Energi Qi berwarna merah menyala terkumpul di telapak tangannya. Ia bermaksud melancarkan tamparan berenergi ke wajah Xuanyuan bukan untuk membunuh, tetapi cukup untuk membuat sang pangeran tersungkur dan babak bunur di tanah di depan para pengawal.
"Hari ini, sebagai Kakak Ke-3, aku akan mengajarimu cara bersikap sopan!" gertak Lu Cangqiong seraya mengayunkan telapak tangannya yang membara.
Ayunan tangan itu melesat cepat membelah udara menuju pipi Mu Xuanyuan.
Namun, di mata Mu Xuanyuan yang merupakan seorang Immortal Emperor Puncak, pergerakan Lu Cangqiong terasa begitu lambat—bagaikan seekor siput yang merayap di atas lumpur.
Xuanyuan tidak membalas dengan kekuatan. Dengan kecerdikan dan akting luar biasa, ia sengaja melangkah agak sempoyongan ke depan seraya berpura-pura hendak mengambil sesuatu di tanah.
"Eh, ada semut merah!" seru Xuanyuan mendadak sambil membungkukkan tubuhnya.
Wusss!
Tamparan bertenaga Qi milik Lu Cangqiong meleset total, melintas persis beberapa milimeter di atas kepala Xuanyuan. Karena Lu Cangqiong mengerahkan tenaga cukup besar dan tidak menyangka pukulannya akan luput, tubuh Pangeran Ke-3 itu kehilangan keseimbangan.
Brak! Gedebuk!
Lu Cangqiong tersandung kakinya sendiri dan terperosok jatuh ke dalam semak-semak berduri di tepi kolam taman, wajahnya menabrak lumpur hitam dengan keras.
Suasana taman seketika menjadi hening mencekam.
Pangeran Ke-5, Pangeran Ke-7, dan seluruh pengawal kerajaan mematung dengan mata melotot tak percaya. Pangeran Ke-3 yang agung dan sakti baru saja jatuh terjerembap ke dalam lumpur hanya karena si pangeran bodoh mendadak membungkuk menghindari pukulannya secara tidak sengaja.
"Kakak Ke-3!" Xuanyuan langsung berbalik dengan raut wajah panik yang teramat sangat, namun matanya berkilat penuh kejahilan. Ia berlutut di tepi semak-semak dan memegang tangan Lu Cangqiong yang kotor.
"Wah! Kenapa Kakak Ke-3 malah tidur di semak berduri? Lumpur di wajah Kakak baunya aneh sekali! Mari kubantu bangun!"
Dengan berpura-pura berniat baik menarik tubuh Lu Cangqiong, Xuanyuan secara diam-diam menyalurkan sekelumit kecil—hanya seperseribu persen—energi berat tak terlihat ke pundak Lu Cangqiong.
"A-aduh! Kenapa tubuhku berat sekali?!" pekik Lu Cangqiong yang berusaha bangkit, tetapi mendadak merasa seolah-olah ada gunung raksasa yang menindih punggungnya. Punggungnya kembali terhempas makin dalam ke lumpur hitam kolam.
"Kakak Ke-3! Jangan main lumpur terus, nanti bajumu kotor!" celetuk Xuanyuan dengan senyum paling polos di dunia, memegang pundak kakaknya yang kini basah kuyup oleh lumpur busuk.
"BANGSAT KAU, MU XUANYUAN!" raung Lu Cangqiong dengan wajah penuh lumpur dan daun-daun kering yang menempel di rambutnya, matanya menyala merah penuh murka.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!