Indonesia
NovelToon NovelToon

TAKDIR DI BALIK SORBAN

BAB 1 — “AKU TIDAK MAU MENIKAH”

Dentum bass dari speaker mobil Hatchback merah milik Maya masih menyisakan getaran halus di daun telinga Aurel, bahkan setelah mesin kendaraan itu akhirnya dimatikan di bahu jalan. Jarum jam digital di dasbor menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit malam.

Jalanan komplek perumahan Arunika Barat sudah sepi. Hanya ada pendar kuning lampu jalan yang memantulkan bayangan dedaunan kering di atas kap mobil.

Aurel menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran jok berlapis kulit sintesis. Gaun santai tanpa lengan warna sage green yang ia kenakan sedikit kusut di bagian pinggang. Rambut bergelombang sebahu milik wanita itu sedikit berantakan setelah tiga jam menghabiskan waktu di gelaran indie music festival kampus, tapi matanya masih menyalakan sisa-sisa energi malam minggu.

"Asli,Rel, vokalisnya pas high note tadi agak maksa," celoteh Maya sembari mematikan audio player. Ia menoleh pada sahabatnya, mencopot kaca mata hitam yang sejak tadi hanya bertengger di atas kepalanya. "Tapi vibes-nya dapet sih. Kamu beneran nggak mau mampir makan ceker setan dulu tadi?"

Aurel terkekeh pelan. Tangannya meraih tas bahu bahan rajut yang tergeletak di bawah. "Bisa ngamuk Pak Hamdan kalau aku pulang lewat jam satu pagi, May. Ini aja HP-ku udah tiga kali getar pas di venue tadi, tapi sengaja nggak tak angkat."

"Ya elah, kamu kan udah 21 tahun, Rel. Tinggal nunggu sidang skripsi dua bulan lagi. Masa jam pulang masih di-track kayak anak SMA?"

Aurel tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata—sambil membuka pintu mobil.

"Thanks ya udah dianterin. Besok bimbingan jam sepuluh, jangan lupa bikin bab empatmu yang revisi."

"Duh, jangan ngingetin skripsi malam-malam begini, napa!" seru Maya dengan nada dramatis. "Ya udah, masuk sana. Kalau ada lampu melayang dari arah balkon, langsung lari ke rumahku."

Aurel tertawa singkat, mengibaskan tangan melambai sebelum menutup pintu mobil. Ia berdiri di pinggir trotoar, membiarkan angin malam Kota Arunika menyapu lehernya yang terbuka saat mobil Maya perlahan meluncur menjauh.

Saat berbalik menghadap pagar besi hitam menjulang tinggi di depannya, senyum di bibir Aurel perlahan pudar.

Rumah itu berdiri megah dengan arsitektur modern minimalis. Pilar-pilar betonnya kokoh, lampunya terang, tapi bagi Aurel, tempat itu selalu terasa seperti lemari es berukuran raksasa. Dingin. Sepi. Sejak ibunya meninggal empat tahun lalu, tidak ada lagi aroma masakan rumahan atau suara tawa yang menyambutnya di lorong depan. Yang ada hanya hamparan marmer mahal dan bayangan seorang pria yang selalu memandang dunia lewat kacamata efisiensi dan kontrol.

Aurel menempelkan sidik jarinya pada smart lock di pintu utama. Sinyal bip berbunyi pelan, menyisakan suara kait besi yang terbuka.

Ia melangkah masuk sejinjit mungkin, berniat melintasi ruang tamu tanpa menarik perhatian. Sepatu hak rendah tiga sentinya sudah ia lepas dan dipegang di tangan kiri.

Namun, langkahnya terhenti tepat di batas ruang keluarga.

Lampu gantung kristal di tengah ruangan menyala terang benderang—hal yang tak biasa untuk jam hampir tengah malam. Dan di atas sofa kulit berwarna cokelat tua, seorang pria paruh baya berkemeja putih yang lengan bajunya tergulung rapi hingga siku sedang duduk tenang.

Hamdan Nathan.

Di atas meja kaca di depannya, cangkir keramik putih menyisakan uap tipis yang hampir habis. Tak ada berkas pekerjaan, tak ada laptop yang terbuka. Pria itu hanya duduk menatap lurus ke arah pintu masuk.

Aurel menarik napas dalam-dalam, menyiapkan mental untuk amunisi teguran yang sudah sangat ia hafal luar kepala: Jam berapa ini? Kamu ini perempuan. Mau jadi apa kalau kelayapan terus?

Aurel memberanikan diri melangkah mendekat, memasang raut wajah sesantai mungkin. "Ayah belum tidur? Biasanya jam sepuluh udah di kamar."

Hamdan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis menatap wajah putrinya beberapa detik. Tak ada amarah yang meledak di matanya. Tidak ada nada suara tinggi. Justru ketenangan itu yang membuat bulu kuduk Aurel mendadak merinding.

"Duduk sebentar, Aurel," suara Hamdan terdengar berat, datar, dan jernih.

Aurel mengerutkan kening. Tangannya meremas tali tas rajutnya sedikit lebih kencang. "Aku capek banget, Yah. Mau mandi terus tidur. Kalau soal skripsi atau rencana magang, besok pagi aja dibahasnya."

"Ini bukan soal skripsi."

Hamdan membetulkan posisi duduknya, menyilangkan tangan di atas paha. Isyarat bahwa pembicaraan ini bukan sesuatu yang bisa ditawar atau ditunda.

Aurel menahan napas, lalu memutar bola matanya pelan sebelum akhirnya menarik kursi kayu di dekat meja makan dan duduk berhadapan dengan ayahnya—menjaga jarak aman tiga meter di antara mereka.

"Ada apa sih?" tanya Aurel, berusaha menyembunyikan getaran gelisah di suaranya dengan nada ketus.

Hamdan memandangi jemari tangannya sendiri sejenak sebelum menatap lurus ke netra cokelat terang milik putrinya. Netra yang sangat mirip dengan almarhumah istrinya.

"Acara lamaran dan akad nikahmu akan dilaksanakan bulan depan. Setelah sidang skripsimu selesai."

Kalimat itu meluncur begitu saja. Tanpa pembukaan, tanpa nada ragu, tanpa jeda.

Ruangan itu seketika hening. Suara denting jam dinding di lorong terdengar berkali-kali lipat lebih keras.

Aurel terkekeh. Sebuah tawa renyah yang sedikit dipaksakan keluar dari tenggorokannya. "Lucu banget, Yah. Becandaannya dapet sepuluh dari sepuluh. Aku bahkan nggak lagi dekat sama siapa-siapa sekarang. Dito cuma temen kampus, dan aku—"

"Ayah tidak sedang bercanda, Aurel Nathania."

Tawa Aurel terhenti seketika.

Raut wajah Hamdan sama sekali tidak menunjukkan jejak kelakar. Tatapannya dingin, padat, dan penuh kepastian yang tak tergoyahkan.

Darah Aurel mendadak terasa mendidih. Rasa lelah akibat berdiri berjam-jam di acara musik menguap begitu saja, berganti dengan gelombang kekesalan yang membakar dadanya.

"Maksud Ayah apa sih?!" suara Aurel naik satu oktav. Ia berdiri dari kursinya, membuat kaki kursi berdecit keras bergesekan dengan marmer. "Menikah? Sama siapa?! Ayah bahkan nggak pernah nanya aku mau nikah kapan atau mau hidup kayak gimana! Tiba-tiba pulang malam begini Ayah bilang aku mau dinikahin bulan depan?!"

"Duduk, Aurel."

"Nggak mau!" Aurel bersedekap, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. "Ini hidupku, Yah! Aku baru 21 tahun! Aku baru mau lulus! Aku punya rencana jalan-jalan ke Bali sama Maya, aku mau cari kerja di Jakarta, aku mau—"

"Laki-laki itu bernama Muhammad Rasyid Al-Faruqi."

Nama itu terlempar ke udara, menghentikan kalimat Aurel di tengah jalan.

Aurel mengerutkan dahi, kepalanya mencoba memproses deretan kata asing tersebut. "Siapa?"

"Putra dari Kiai Abdul Faruqi," lanjut Hamdan tanpa mengubah intonasi suaranya. "Dia seorang pengajar di Pesantren Al-Faruqi. Keluarga mereka sudah setuju. Kesepakatan ini sudah kami buat sejak bulan lalu."

Aurel menatap ayahnya seolah pria di depannya telah berubah menjadi alien.

Pesantren? Kiai? Ustadz?

Dunia yang baru saja disebutkan ayahnya terasa ribuan kilometer jauhnya dari kehidupan Aurel. Kehidupan Aurel adalah tentang musik indie, kafe bernuansa industrial, tenggat waktu desain grafis, celana jins robek di lutut, dan nongkrong hingga larut malam bersama teman-temannya.

Dan ayahnya baru saja mengatakan bahwa ia diserahkan kepada seorang pria dari balik tembok pesantren?

"Ayah udah gila ya?" bisik Aurel. Matanya mulai memanas, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang tak tertampung. "Ayah mau numbalin aku ke anak kiai cuma demi bisnis Ayah? Atau demi koneksi? Atau karena Ayah udah capek ngeliat aku di rumah ini dan mau buang aku ke tempat yang penuh aturan?!"

"Jaga bicaramu, Aurel!"

Untuk pertama kalinya malam itu, suara Hamdan meninggi. Pria itu berdiri dari sofanya, menatap putrinya dengan pandangan menajam.

"Ayah melakukan ini untuk kebaikanmu! Kamu makin hari makin tidak terkontrol. Pulang malam setiap hari, bergaul tanpa batas, tidak punya arah hidup yang jelas! Kamu pikir Ayah tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana?"

"Aku nggak pernah bikin kriminal!" teriak Aurel, air mata kemarahan akhirnya menetes melintasi pipinya. "Aku cuma menikmati hidupku! Aku bukan anak kecil yang harus Ayah kurung atau Ayah serahin ke orang lain buat 'dijinakkan'!"

"Rasyid adalah pria yang baik. Dia berpendidikan, punya kepribadian yang matang, dan keluarga mereka adalah keluarga yang dihormati. Dia bisa membimbingmu!"

"Aku nggak butuh dibimbing!" Aurel menyapu air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia menatap ayahnya dengan tatapan paling menantang yang bisa ia berikan. "Kalau Ayah sebegitu kebeletnya pengin ada pernikahan di rumah ini, kenapa nggak Ayah aja yang nikah lagi?! Lagian Ayah kan yang kesepian sejak Ibu meninggal, bukan aku!"

PLAK!

Suara hantaman telapak tangan Hamdan pada meja kaca bergema keras di ruangan itu. Cangkir keramik bergetar hebat, menyisakan cipratan teh di atas permukaan kaca.

Hamdan berdiri kaku. Wajahnya memerah, dadanya kempas-kempis. Tangannya yang melayang di udara gemetar pelan.

Aurel terdiam. Tubuhnya membeku.

Ini pertama kalinya dalam 21 tahun hidupnya, ayahnya meluapkan emosi sefisik itu di depannya, meski telapak tangan itu tidak mendarat di pipinya.

Suasana ruangan mendadak menjadi sangat pekat.

Hamdan memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menguasai dirinya kembali. Ketika ia membuka mata, dingin yang kaku telah kembali menyelimuti wajahnya.

"Keputusan Ayah sudah bulat, Aurel," kata Hamdan dengan suara rendah yang berbahaya. "Tanggal sudah ditentukan. Keluarga Faruqi akan datang pekan depan untuk silaturahmi resmi. Kamu mau kooperatif atau tidak, pernikahan ini akan tetap berlangsung."

Hamdan membalikkan badan, berjalan melintasi ruang tamu menuju arah kamarnya di lantai bawah tanpa memandang putrinya lagi.

"Selamat malam."

Pintu kamar utama tertutup dengan bunyi berdentang pelan.

Aurel berdiri sendirian di tengah ruang keluarga yang luas dan dingin. Tangannya yang memegang sepatu terasa sangat dingin. Tangisannya tidak pecah dalam raungan, melainkan tertahan di tenggorokan, menjadi rasa sesak yang menghimpit dada.

Ia menatap pintu kamar ayahnya dengan tatapan penuh kebencian dan kekecewaan yang mendalam.

"Aku nggak akan pernah mau," bisik Aurel pada kegelapan ruangan. "Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah sudi."

BAB 2 — “USTADZ ITU?”

Sinar matahari pagi yang menembus sela-sela tirai kamar tidak mampu mengusir hawa dingin yang mengendap di benak Aurel. Sepanjang malam, ia hampir tidak memejamkan mata. Bayangan raut wajah ayahnya yang kaku dan dengung kata pesantren terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Dengan mata sembap dan kepala serasa dihantam godam, Aurel duduk bersila di atas tempat tidur berselimut putih milik-nya. Laptop layar lipatnya menyala terang di atas paha.

Jemarinya bergerak cepat melintasi papan ketik.

M-u-h-a-m-m-a-d R-a-s-y-i-d A-l F-a-r-u-q-i.

Ikon pencarian berputar selama selusin detik sebelum akhirnya menampilkan ratusan ribu hasil. Aurel menahan napas, menatap barisan tautan artikel, kanal YouTube, hingga unggahan media sosial yang memuat nama tersebut.

"Beneran ustadz..." bisik Aurel dengan nada ketus yang menyisakan rasa tak percaya.

Ia mengklik salah satu video dengan jumlah tayangan paling tinggi. Judulnya sederhana: Kajian Kitab Adabul Alim wal Muta’allim — Ustadz Muhammad Rasyid Al-Faruqi.

Layar laptop memperlihatkan sebuah ruang majelis yang lapang dengan pilar-pilar kayu jati berukir. Puluhan pemuda bersarung dan berpeci putih duduk bersila dalam barisan rapi. Di depan mereka, duduk seorang pria muda di balik meja kayu rendah.

Pria itu mengenakan baju koko putih bersih berpotongan simpel dan peci hitam polos. Sorban kain warna putih gading terlipat rapi menyilang di bahu kirinya.

Aurel memajukan wajahnya, memicingkan mata menatap layar.

Rasyid—pria di video itu—memiliki rahang yang tegas namun dibingkai oleh raut wajah yang sangat tenang. Kulitnya bersih, matanya teduh, dan ada garis tipis senyum yang tampak samar saat ia berbicara. Suaranya halus, teratur, tanpa intonasi meledak-ledak seperti pendakwah yang sering Aurel lihat secara tidak sengaja di televisi.

"...karena sejatinya, ilmu yang membimbing kita bukan ilmu yang membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan ilmu yang membuat kita semakin paham betapa kecilnya diri kita di hadapan Sang Pencipta," ujar Rasyid dalam video tersebut. Ia mengutip sebuah bait syair Arab dengan tajwid yang sangat fasih sebelum menutup bukunya pelan.

Aurel menghentikan (pause) video tepat di wajah Rasyid yang sedang menatap ke arah kamera.

"Tenang banget. Alim banget. Terlalu sempurna buat ukuran manusia biasa," gumam Aurel seraya menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Ia mengacak rambutnya frustrasi. "Fix! Ini tipe-tipe orang yang kalau ketemu aku bakalan langsung pingsan liat bajuku, atau langsung ngasih pencerahan tiga jam tanpa henti!"

Bagi Aurel, pria seperti Rasyid adalah kutub yang sama sekali berseberangan dengannya. Rasyid adalah gambaran keteraturan, dogma, dan kehidupan bertembok tinggi. Sedangkan Aurel adalah kebebasan yang acak, suara musik keras, dan keputusan spontan.

Bagaimana bisa ayahnya berpikir dua manusia ini bisa disatukan dalam satu atap?

Ponsel Aurel di samping laptop berdering nyaring. Nama Maya tertera di layarnya.

Aurel menggeser tombol hijau dan menempelkan benda itu ke telinganya. "May..."

"Rel! Kamu beneran nggak papa?!" suara Maya di ujung telepon langsung menyambar tanpa jeda. "Kemarin malam pas masuk rumah raut mukamu aneh banget. Kamu dipukulin sama Pak Hamdan?!"

"Nggak," jawab Aurel lesu. "Lebih parah dari itu."

"Hah? Maksudmu?"

"Aku dijodohin."

Hening sejenak di saluran telepon. Lalu, terdengar suara batuk tersedak dari Maya. "Kamu... bercanda kan, Rel? Ini bukan prank April Mop terlambat kan?"

"Aku serius, Maya Larasati," Aurel mendesah berat. "Sama ustadz. Anak kiai punya pesantren besar di Arunika Timur."

"Demi apa?!" teriak Maya histeris, membuat Aurel menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinga. "Aurel Nathania... mau dinikahin sama ustadz?! Kamu yang kalau denger azan kadang masih sibuk milih lipstik?!"

"Maya, please, jangan bikin aku tambah stres," ringis Aurel. "Ayah bilang pertemuan kelurga resminya nanti sore. Hari ini! Katanya mereka mau makan malam di restoran."

"Terus kamu mau gimana? Nurut gitu aja?"

Aurel mengepalkan tangannya di atas seprai. "Nggak akan. Aku bakal bikin acara makan malam ini gagal. Aku bakal tunjukin ke ustadz itu kalau dia salah besar kalau mau nikah sama cewek kayak aku."

Pukul lima sore, sebuah restoran bergaya Jawa klasik di pinggiran Kota Arunika tampak tenang. Gemericik air kolam dan alunan musik gamelan pelan melengkapi aroma rempah-rempah yang menusuk hidung.

Hamdan Nathan duduk di sudut ruangan VIP bersama Aurel. Pria paruh baya itu mengenakan batik tulis lengan panjang berwarna gelap yang anggun. Tatapannya dingin, namun ada riak kegelisahan yang coba ia sembunyikan.

Di sebelahnya, Aurel duduk dengan posisi tubuh yang disengaja terkesan tak acuh.

Aurel sengaja memilih pakaian yang tahu betul akan membuat ayahnya geram: kaus putih polos berpotongan agak longgar yang dipadu dengan jaket denim oversized, celana jins hitam yang sedikit koyak di bagian lutut, dan sepatu kets putih yang sudah agak kusam. Rambut bergelombangnya dibiarkan terurai liar tanpa riasan tebal—hanya lipstik nude yang tipis.

Hamdan melirik pakaian putrinya, membuang napas berat, namun memilih tidak memulainya dengan pertengkaran. "Jaga sikapmu nanti, Aurel. Kiai Abdul adalah orang yang sangat dihormati."

"Ayah yang minta aku datang," balas Aurel tanpa menoleh. "Ini aku. Mau terima atau nggak, terserah."

Sebelum Hamdan sempat membalas, pintu kayu ruang VIP bergeser terbuka.

Seorang pria sepuh bertubuh tegap dengan busana serba putih masuk terlebih dahulu. Wajahnya dihiasi janggut putih tipis, dan matanya memancarkan kehangatan yang instan. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya berkerudung hijau tua tersenyum ramah.

Dan di barisan paling belakang, melangkah masuk pria yang gambar wajahnya sempat dipandangi Aurel tadi pagi di laptop.

Muhammad Rasyid Al-Faruqi.

Aslinya, Rasyid terlihat lebih tinggi dari yang Aurel bayangkan. Ia mengenakan kemeja koko bahan katun halus berwarna krem lembut, celana kain hitam berpotongan rapi, serta peci hitam. Tidak ada sorban di bahunya hari ini, namun pembawaannya yang tenang membuat atmosfer ruangan itu mendadak berubah hening.

"Assalamu’alaikum, Pak Hamdan," sapa Kiai Abdul Faruqi dengan suara bass yang mantap namun hangat.

"Wa'alaikumsalam Warahmatullah... Kiai Abdul, Ibu Nur, mari silakan duduk," Hamdan berdiri dengan cepat, menyalami Kiai Abdul dan Rasyid dengan sangat hormat.

Aurel terpaksa berdiri. Ketika Kiai Abdul dan Ibunya menatapnya, Aurel mengangguk pelan dan menyalami wanita paruh baya bernama Nur Aini tersebut. Nur Aini menggenggam jemari Aurel dengan hangat, menatap matanya dengan kelembutan yang membuat benteng pertahanan Aurel sedikit goyah.

"Ini Aurel ya? Cantik sekali, Masya Allah..." bisik Nur Aini tulus.

Aurel hanya bisa tersenyum kaku. "Makasih, Bu."

Lalu, giliran Rasyid yang berdiri di hadapannya.

Untuk pertama kalinya, pandangan mata mereka bertemu secara langsung. Rasyid tidak menyalami tangan Aurel; pria itu hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada sembari menundukkan kepala sedikit.

"Assalamu'alaikum, Mbak Aurel," sapa Rasyid pelan.

Suaranya persis seperti di video—tenang, jernih, dan seperti tidak memiliki riak emosi berlebih.

"Wa'alaikumsalam," jawab Aurel pendek, sengaja menatap Rasyid dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai, berharap pria itu merasa risih.

Namun Rasyid tidak menyorotkan tatapan terganggu. Ia hanya mengangguk pelan lalu duduk di sebelah ayahnya, tepat di seberang meja dari posisi duduk Aurel.

Makan malam dimulai dengan percakapan hangat antara Hamdan dan Kiai Abdul. Mereka membicarakan kenangan lama, perkembangan kota, hingga urusan pesantren. Nur Aini sesekali menanyakan kuliah Aurel dengan nada ramah, yang dijawab Aurel dengan kalimat-kalimat singkat namun tetap sopan—ia masih memiliki tata krama untuk tidak bersikap kasar pada orang tua.

Namun sepanjang waktu itu, Aurel bisa merasakan bahwa Rasyid hampir tidak menyentuh makanan berlebih dan lebih banyak mendengarkan. Pria itu tidak pernah menatap Aurel secara terang-terangan, namun juga tidak terlihat menghindari keadaannya.

Hingga akhirnya, Kiai Abdul berdehem pelan, menghentikan denting sendok di atas piring.

"Pak Hamdan, Aurel..." Kiai Abdul membuka suara. "Maksud kedatangan kami malam ini tentu bukan sekadar makan malam bersama. Kita semua tahu ada niat baik yang ingin kita sambung antara dua keluarga ini."

Aurel mengepalkan tangannya di bawah meja. Ini dia, batinnya. Ia bersiap untuk membuka suara, menyusun kata-kata penolakan paling tajam yang sudah ia siapkan sejak siang.

Namun, sebelum Aurel sempat mengatupkan bibirnya untuk bicara, Rasyid tiba-tiba mengangkat tangannya pelan.

"Bapak... Bah..." Rasyid memotong dengan lembut. Pria muda itu menatap ayahnya, lalu beralih menatap Hamdan, sebelum akhirnya untuk pertama kali mengarahkan pandangannya lurus ke dalam netra Aurel.

"Bolehkah Rasyid bicara sebentar dengan Mbak Aurel? Hanya berdua, di luar ruangan ini?" tanya Rasyid.

Hamdan sempat ragu, namun Kiai Abdul tersenyum dan mengangguk. "Tentu, Le. Bicaralah. Kalian yang akan menjalani, kalian yang harus saling mengenal."

Aurel mengerutkan kening. Ia mendengus pelan, lalu berdiri dari kursinya. "Boleh. Lagian ruangan ini rasanya makin panas."

Aurel melangkah keluar dari ruangan VIP lebih dulu tanpa menunggu Rasyid.

Sisi luar restoran adalah sebuah selasar kayu yang menghadap ke kolam ikan koi dengan taman bambu buatan. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma tanah basah bekas siraman tanaman.

Aurel bersedekap, bersandar pada pilar kayu selasar, menatap riak air kolam. Terdengar langkah kaki beratap halus mendekat, lalu berhenti sekitar satu meter di sampingnya. Rasyid tidak berdiri terlalu dekat, memberi jarak yang cukup luas di antara mereka.

"Kamu mau ceramah di sini?" tembak Aurel langsung tanpa basa-basi. Suaranya dingin dan penuh defensif. "Mau ngomong kalau baju yang aku pakai ini nggak sopan? Atau mau jelasin soal dosa anak yang bantah orang tua?"

Rasyid diam sejenak. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah ikan-ikan koi yang berenang di bawah pendar lampu taman.

"Saya tidak punya hak untuk menghakimi pakaian atau hidup Mbak Aurel," suara Rasyid terdengar mengalun rata, tidak bersaing dengan angin malam. "Dan saya datang ke sini bukan untuk memberikan ceramah."

Aurel menoleh, menatap samping wajah Rasyid dengan alis terangkat. "Trus mau apa? Pamer kalau kamu ustadz muda yang penurut sama orang tua?"

Rasyid memutar tubuhnya sedikit, kini benar-benar menghadap Aurel. Di bawah pendar lampu taman yang remang, mata cokelat gelap milik Rasyid terlihat sangat jujur. Tidak ada kesombongan, tidak ada nada menggurui.

"Saya tahu perjodohan ini bukan sesuatu yang Mbak Aurel inginkan," ujar Rasyid pelan. "Saya bisa melihatnya dari cara Mbak duduk, cara Mbak menatap, dan... baju yang Mbak pilih hari ini."

Aurel tersentak pelan. Ternyata pria ini sadar.

"Terus kalau udah tahu, kenapa kamu nggak nolak?" tantang Aurel. "Kamu kan anak kiai. Kamu punya posisi. Kamu bisa dibilang 'nggak' sama ayahmu, kan?"

Rasyid menarik napas pelan, membiarkan udara malam mengisi dadanya sebelum menjawab.

"Saya sempat keberatan ketika Bah Abdul pertama kali menyampaikan hal ini," pengakuan Rasyid membuat Aurel terbelalak kaget. Rasyid melanjutkan, "Karena saya tahu, kita hidup di dunia yang sangat berbeda. Memaksa dua orang yang tidak saling mengenal untuk bersatu hanya akan melahirkan luka jika tidak didasari kesiapan."

"Nah! Itu tahu!" potong Aurel cepat. "Terus kenapa kamu ada di sini sekarang?!"

Rasyid menatap Aurel tanpa berkedip. Ada sebuah keseriusan yang dalam di matanya.

"Karena Bah Abdul memohon pada saya. Ada janji dan amanah masa lalu yang beliau pegang teguh terhadap keluarga Mbak Aurel. Sesuatu yang tidak bisa saya abaikan begitu saja sebagai seorang anak."

Aurel mendengus remeh. "Jadi kamu cuma anak berbakti yang rela ngorbanin hidupmu demi janji orang tua? Dangkal banget."

"Mungkin," Rasyid tidak membantah tuduhan itu. "Tapi saya di sini bukan untuk mengorbankan hidup siapa pun. Termasuk hidup Mbak Aurel."

Rasyid jeda sejenak. Ia melangkah satu tapak lebih mendekat, namun tetap menjaga jarak aman.

"Mbak Aurel..." panggil Rasyid dengan nada yang sangat lembut, membuat amarah Aurel yang membubung tinggi mendadak tertahan di udara. "Kalau Mbak Aurel bener-bener merasa pernikahan ini adalah sebuah kejahatan buat hidup Mbak... katakan sekarang pada saya."

Aurel menatap pria di depannya dengan dahi berkerut bingung. "Maksudmu?"

"Katakan bahwa Mbak sangat menolaknya. Biar saya yang akan melangkah ke dalam ruangan itu, dan saya yang akan memberitahu Bah Abdul serta Pak Hamdan bahwa pernikahan ini batalkan. Saya yang akan menanggung semua kemarahan Pak Hamdan dan rasa kecewa keluarga saya."

Aurel terpaku. Angin malam terasa berhenti bertiup di sekitar mereka.

Mata wanita itu membelalak tak percaya. Pria yang baru saja ia labeli sebagai 'ustadz penurut' dan 'simbol pengekangan' justru menawarkan sebuah jalan keluar. Jalan keluar yang menaruh seluruh beban kesalahan di pundaknya sendiri demi membebaskan Aurel.

"Kamu... bercanda kan?" bisik Aurel. Suaranya tiba-tiba kehilangan ketajaman yang sejak tadi ia bangun.

"Saya tidak pernah bercanda untuk hal seperti ini," jawab Rasyid tenang. "Pernikahan bukan penjara. Jika Mbak Aurel merasa ini adalah awal dari kehancuran hidup Mbak, saya tidak akan menjadi orang yang mengunci pintunya."

Aurel menatap Rasyid dalam-dalam. Mencari jejak kepalsuan, manipulasi, atau trik psikologis di wajah pria itu. Namun ia tidak menemukan apa-apa selain kejujuran yang polos dan ketenangan yang justru membalikkan seluruh pertahanan dirinya.

Lidah Aurel mendadak terasa kelu.

Kata 'batalkan' yang sejak tadi sore bergema riuh di dalam dadanya, kini menyangkut di tenggorokan, enggan untuk diucapkan.

BAB 3 — “JADI KITA SAMA-SAMA TERPAKSA?”

Suara gemericik air kolam di selasar restoran malam itu perlahan mengisi keheningan yang membentang di antara mereka. Angin berembus pelan, membawa keharuman samar kayu cendana dan tanah basah.

Aurel masih berdiri kaku, menatap wajah Rasyid yang berada sejangkauan lengan darinya. Pria itu menunggunya bicara dengan kesabaran yang rasanya nyaris tidak masuk akal. Tidak ada desakan di matanya, tidak ada intonasi terburu-buru, apalagi gesture defensif.

Aurel menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya lewat bibir yang agak gemetar. "Kamu... beneran bakal ngomong gitu ke Ayah? Kamu tahu kan Ayahku kayak gimana? Dia bisa ngamuk, Rasyid. Dia bisa aja batalin kerja sama atau bahkan mutus hubungan sama keluargamu."

"Saya tahu risiko itu," jawab Rasyid tenang. Kedua tangannya tertaut rapi di depan tubuhnya. "Tapi Pak Hamdan adalah orang yang berilmu dan bijaksana dalam berbisnis. Beliau mungkin akan marah pada awalnya, tapi beliau pasti paham bahwa pernikahan yang dibangun atas dasar paksaan salah satu pihak tidak akan pernah membawa keberkahan."

Aurel menyipitkan mata. Ia memiringkan kepalanya sedikit, meneliti garis wajah pria berpeci hitam itu dengan rasa curiga yang masih menyisa di dasar hatinya.

"Kenapa?" tanya Aurel pelan, hampir berupa bisikan. "Kenapa kamu mau pasang badan buat cewek yang baru kamu temu sepuluh menit lalu? Cewek yang bahkan nggak pantes masuk ke standar keluarga ustadz kayak kamu?"

Rasyid tersenyum tipis—sebuah kurva amat samar di sudut bibirnya yang membuat raut kaku di wajahnya mendadak melunak.

"Sederhana," ujar Rasyid. "Kerana kebebasan Mbak Aurel bukan hak saya untuk merenggutnya. Jika Mbak menolak, maka keberadaan saya di sini hanya akan menjadi beban. Dan saya tidak ingin menjadi alasan seseorang merasa terperangkap dalam hidupnya sendiri."

Aurel terdiam. Kalimat itu menamparnya tepat di dada. Sejak semalam, ia mengutuk ayahnya, mengutuk Rasyid, dan mengutuk seluruh dunia yang seolah bersekongkol menata masa depannya tanpa izin. Ia mengira Rasyid adalah sosok predator berkedok agama yang siap memenjarakannya dalam aturan.

Namun sekarang, pria yang sama justru menawarkan kunci menuju kebebasannya secara cuma-cuma.

Aurel membuang muka ke arah kolam ikan koi. Jemari tangannya meremas tepi jaket denim oversized-nya yang melonggar. Otaknya bekerja keras mempertimbangkan segala kemungkinan.

Jika ia menerima tawaran Rasyid... jika Rasyid masuk ke dalam dan menggagalkan perjodohan ini... apa yang akan terjadi selanjutnya?

Hamdan akan murka besar. Ayahnya tidak hanya akan menyalahkan Rasyid, tapi juga akan melipatgandakan pengawasannya pada Aurel. Ayahnya bisa saja memotong uang saku, membatalkan izin wisuda, atau bahkan menjodohkannya lagi dengan pria pilihan lain—mungkin pengusaha kolega ayahnya yang jauh lebih tua, jauh lebih dominan, dan tidak akan pernah peduli pada perasaan Aurel.

Sedangkan di depan mata Aurel saat ini... ada Rasyid. Seorang pria yang mau mendengarkan dan menawarkan jalan keluar.

"Jadi..." Aurel menoleh kembali, menatap mata Rasyid dengan sorot tajam yang penuh tanya. "Kita ini sama-sama terpaksa?"

Rasyid mengangguk pelan tanpa ragu. "Bisa dikatakan begitu. Saya menjalankan keinginan Bah Abdul sebagai bentuk bakti, dan Mbak Aurel berada di sini karena tekanan dari Pak Hamdan."

Aurel terkekeh hampa, menyisir rambut bergelombangnya yang tertiup angin ke belakang telinga. "Konyol banget ya. Dua orang dewasa, sama-sama punya otak, tapi harus berdiri di sini gara-gara urusan orang tua yang kita sendiri nggak paham dasarnya apa."

"Mungkin konyol bagi Mbak Aurel," Rasyid menanggapi tanpa nada tersinggung. "Tapi bagi orang tua kita, mungkin ada alasan yang belum sempat mereka jelaskan."

"Alasan apa?" Aurel bersedekap, memasang wajah menantang. "Paling juga janji masa lalu, atau bisnis, atau Ayahku yang cuma pengin ada orang yang bisa 'menjinakkan' aku. Ayahku selalu mikir aku ini masalah, Rasyid. Dia pikir dengan menaruh aku di samping ustadz, aku mendadak bakal berubah jadi cewek santun yang cuma sibuk di dapur dan ngaji."

Rasyid mendengarkan seluruh kekesalan itu tanpa memotong. Ketika Aurel menghentikan kalimatnya karena napas yang memburu, Rasyid hanya mengangguk pelan.

"Pak Hamdan mungkin punya harapan seperti itu," sahut Rasyid. "Tapi saya tidak."

Aurel mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Saya sudah sampaikan pada Bah Abdul dan Pak Hamdan sebelum kita bertemu malam ini," Rasyid memajukan langkahnya setengah tindak, membuat jarak di antara mereka sedikit terkikis meski tetap bersahaja. "Jika pernikahan ini benar-benar terjadi, saya punya satu syarat yang tidak bisa diganggu gugat."

"Syarat apa?"

"Mbak Aurel tidak boleh dipaksa menjadi orang lain."

Aurel menahan napasnya seketika. "Kamu... ngomong gitu ke Ayahku?"

"Saya katakan pada beliau," Rasyid menatap lurus ke netra cokelat terang milik Aurel, "bahwa saya tidak akan pernah menikahi seorang perempuan hanya untuk mengubahnya secara paksa menjadi figur yang diinginkan orang lain. Perubahan hanya berharga jika datang dari kesadaran hati, bukan dari tekanan hukum maupun ikatan pernikahan."

Keheningan kembali menyelimuti selasar restoran. Hanya ada alunan gamelan sayup-sayup dari dalam bangunan utama yang mengisi celah di antara mereka.

Aurel merasa seluruh pertahanan yang telah ia bangun sejak semalam mulai goyah, gumpalan es amarahnya melumer perlahan. Pria di depannya ini membingungkan. Ia bukan tipe pria pemaksa seperti ayahnya, juga bukan tipe pria yang sibuk menggurui.

"Kalau kamu nggak berniat mengubahtuku..." Aurel menelan saliva, suaranya kini terdengar lebih rapuh dari yang ia harapkan, "...lalu untuk apa kamu mau nikah sama aku, Rasyid? Buat apa kita jalanin pernikahan kalau dari awal udah terpaksa?"

Rasyid tidak langsung menjawab. Ia menundukkan pandangannya sejenak, menatap lantai kayu selasar tempat bayangan mereka berdua jatuh berdampingan di bawah pendar lampu taman.

Ketika Rasyid kembali mendongak, tatapannya menyatukan ketenangan dan keteguhan yang sangat kontras.

"Untuk mencoba mengenalmu," jawab Rasyid singkat.

Aurel tertegun. "Cuma... untuk itu?"

"Apakah itu belum cukup?" Rasyid balik bertanya halus. "Mengenal seseorang yang datang dari dunia yang sama sekali berbeda dengan saya. Belajar memahami bagaimana sudut pandangmu, apa yang membuatmu bahagia, apa yang membuatmu takut. Dan jika memang takdir menetapkan kita berjalan bersama, saya hanya ingin menjadi teman perjalanan yang aman buat kamu."

Aurel mengepalkan tangannya di samping paha. "Aku nggak gampang nurut, Rasyid. Aku suka jalan-jalan, aku suka nongkrong sama temen-temenku sampai malam, aku suka dengerin musik keras, dan aku benci banget kalau ada yang ngatur-ngatur hidupku."

"Saya tahu," Rasyid mengangguk perlahan. "Saya sudah melihat bagaimana cara Mbak membela diri malam ini. Dan saya tidak berniat melarang hal-hal yang menjadi bagian dari dirimu, selama itu tidak melanggar batasan kebaikan dan tidak merugikan siapapun."

"Termasuk kalau aku nggak bisa jadi istri sempurna yang pinter masak atau hafal kitab?" tembak Aurel lagi.

Rasyid tersenyum tipis—kali ini senyum itu terlihat lebih jelas dan hangat di matanya. "Saya mencari seorang istri, Mbak Aurel. Bukan mencari juru masak atau murid pesantren."

Kalimat sederhana itu membuat tenggorokan Aurel terasa tersekat. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya, sebuah perasaan terikat yang tidak pernah ia rasakan saat berada di dekat ayahnya sendiri.

Selama bertahun-tahun sejak ibunya meninggal, Aurel selalu merasa dinilai. Ayahnya menilainya dari nilai akademik, dari jam pulang malamnya, dari pakaian yang ia kenakan. Namun dalam beberapa menit percakapan di selasar malam ini, pria yang baru ia temui justru menjadi orang pertama yang tidak memandangnya sebagai sebuah masalah yang harus diperbaiki.

Aurel membuang napas panjang, menatap langit malam Kota Arunika yang tidak berbintang.

"Jadi..." Aurel kembali menatap Rasyid, menyilangkan tangannya di dada. "Keputusannya ada di aku?"

"Sepenuhnya di tangan Mbak Aurel," tegas Rasyid. "Jika Mbak menggelengkan kepala sekarang, saya akan masuk dan menyelesaikan semuanya. Mbak tidak perlu takut pada amarah Pak Hamdan, karena saya yang akan menanggungnya."

Aurel menatap Rasyid lama sekali. Ia membayangkan kembali pilihan hidupnya. Lari dari pernikahan ini dan terus berhadapan dengan perang dingin yang tak pernah usai bersama ayahnya... atau melangkah ke dalam dunia baru yang asing bersama pria tenang di depannya ini.

Pria yang berjanji tidak akan merenggut kebebasannya.

Aurel mengembuskan napas berat, lalu bibirnya mengukir senyum kecil yang agak sarkas.

"Kamu gila ya, Ustadz," ujar Aurel pelan. "Kamu beneran mau ambil risiko nikah sama cewek pemberontak kayak aku?"

Rasyid tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Aurel dengan binar tenang yang tak tergoyahkan.

Aurel berbalik, memunggungi Rasyid dan mulai melangkah pelan menuju pintu ruang VIP. Di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.

"Aku nggak janji bakal jadi istri yang baik," kata Aurel dengan suara cukup keras agar terdengar di antara desir angin. "Tapi... kalau kamu beneran nggak akan ngatur-ngatur hidupku... aku ikut alur permainan orang tua kita."

Rasyid yang berdiri beberapa meter di belakangnya tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia tidak melompat kegirangan, tidak pula mendesah lega. Pria itu hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada, mengangguk pelan dengan rasa hormat yang mendalam.

"Terima kasih sudah memberi kesempatan ini, Mbak Aurel," bisik Rasyid pelan.

Aurel mendorong pintu kayu ruang VIP dan melangkah masuk kembali ke dalam ruangan berhawa dingin tempat dua ayah mereka sedang menunggu dengan cemas. Saat duduk kembali di kursinya, Aurel melirik ayahnya yang menatapnya penuh selidik.

Aurel tidak mengatakan apa-apa pada Hamdan. Ia hanya mengambil gelas air putihnya dan meminumnya hingga kandas.

Beberapa saat kemudian, Rasyid melangkah masuk dengan tenang, kembali mengambil tempat duduknya di seberang Aurel. Pria itu menatap ayahnya, Kiai Abdul, lalu mengangguk singkat.

Sebuah sinyal pelan yang mengubah seluruh arah takdir hidup mereka berdua.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!