Pukul 05.30 WIB. Halaman kampus masih sepi dan berkabut tebal. Embun pagi masih turun, udara dingin menusuk sampai ke tulang. Gue sudah berdiri sejak jam 5 di depan gedung rektorat sendirian, nungguin tim.
Gue Selvi, ketua kelompok KKN Desa Kalijati. Di samping gue ada enam ransel besar dan satu koper pink. Isinya logistik lengkap, beras, mie instan, telur, obat-obatan, dan map program kerja yang gue print semalam sampai jam 1 pagi.
Tim KKN kami harusnya bertujuh. Ada gue sebagai ketua, Maya sahabat gue yang peka sama hal gaib, Sinta yang paling cantik dan paling ribet, Riko yang sok pemberani dan bawa kamera terus, Bima yang pendiam tapi paling kuat, Farhan yang tukang ngelawak tapi sebenarnya penakut, dan satu lagi Arif yang pinter dan pendiam.
Tapi pagi ini Arif gak datang. Tadi malam dia chat di grup, "Sel, gue demam tinggi, gak bisa ikut berangkat pagi ini. Gue nyusul 2 hari lagi ya langsung ke lokasi." Jadi yang berangkat hari ini cuma berenam dulu.
Maya datang jam 05.45 dengan tas carrier besar. Wajahnya pucat banget, mata sembab seperti habis nangis. Dia langsung narik tangan gue ke pojok. "Sel, sumpah semalam gue mimpi buruk banget. Gue mimpi kita bertujuh lewat gapura desa yang lapuk banget, tulisannya selamat datang. Di bawah gapura itu udah ada banyak orang berdiri nungguin kita, tapi pas kita deket, wajah mereka kosong, hitam, tidak ada mata hidung mulut. Mereka manggil nama kita satu persatu, Sel. Termasuk nama Arif yang belum dateng."
Gue langsung merinding, bulu kuduk gue berdiri semua. Tapi gue coba nenangin Maya, "Udahlah May, itu cuma mimpi karena kamu kecapekan."
Sinta datang jam 05.55 naik ojek, bawa koper pink beroda, bukan ransel. "Gue nggak mau kulit gue rusak ya di desa, gue bawa skincare 1 koper." Riko, Bima, Farhan datang jam 06.00 naik motor. Riko dengan kamera DSLR di leher, siap jadi konten.
Pak Dosen datang jam 06.10. Beliau kasih arahan, "Desa Kalijati itu desa tertinggal di perbatasan hutan jati. Sinyal susah, listrik cuma pakai genset sampai jam 9 malam. Warganya ramah, tapi ingat, jangan keluar malam lewat jam 9 dan jangan pernah masuk ke hutan belakang balai desa. Itu pesan dari kepala desanya. Oh iya, mana satu lagi? Harusnya 7 kan?"
"Arif nyusul 2 hari lagi pak, sakit," jawab gue.
Kami angguk.
Mobil bak terbuka yang kita sewa datang. Supirnya Pak Jono, orang tua pendiam. Begitu gue bilang "Pak, ke Desa Kalijati ya", muka Pak Jono langsung pucat, tangannya gemetar. "Nduk, yakin ke desa itu? Desa itu sudah kosong, sudah 20 tahun tidak ada orang. Semua penghuninya sudah tidak ada kena wabah dulu. Tidak ada yang berani kesana."
Farhan ketawa, dikira bercanda.
Jam 06.15 mobil jalan. Keluar kota, jalan aspal mulus berubah jadi jalan berlubang, lalu jadi tanah berbatu. Sinyal HP hilang. Hutan jati kiri kanan makin lebat, gelap, dan sunyi.
Jam 12.00 siang, mobil berhenti mendadak di tengah jalan tanah becek. Pak Jono pucat, "Saya sampai sini saja nduk, di depan itu gapuranya. Saya tidak berani masuk, maaf."
Kami turun bingung. Seratus meter di depan ada gapura kayu lapuk besar bertuliskan SELAMAT DATANG DI DESA KALIJATI. Catnya pudar, lumut tebal, hampir roboh. Di sekitarnya banyak nisan tua miring, berjamur, kuburan tua.
Di bawah gapura itu sudah ada enam orang warga berdiri berbaris rapi menunggu kami. Seorang nenek tua di depan, lima orang di belakang. Mereka diam, senyumnya aneh, terlalu lebar.
Padahal kami tidak pernah kasih tau jam berapa sampai, dan tidak ada sinyal untuk telepon. Kok mereka bisa tau kami sampai jam 12 tepat?
Maya mencengkram lengan gue keras, "Sel, lihat bayangan mereka. Kita ada bayangannya, mereka tidak ada."
Gue lihat ke tanah. Bayangan kami berenam jelas ada karena matahari di atas. Tapi enam orang di bawah gapura itu tidak punya bayangan sama sekali.
Angin hutan tiba-tiba berhenti total. Suara jangkrik dan burung hilang. Sunyi mencekam.
Nenek di depan mengangkat tangan pelan melambai, "Akhirnya kalian datang juga. Sudah kami tunggu dari tadi. Ayo masuk anak-anak, sudah kami siapkan tempat. Harusnya bertujuh kan? Satu lagi mana?"
Jantung gue berdegup kencang. Kok nenek itu tau harusnya kami bertujuh? Padahal kami gak pernah bilang ada Arif yang nyusul.
Langkah kaki gue terasa berat untuk masuk ke desa itu.
Gapura kayu itu masih berderit terbuka sendiri. Tidak ada angin, tidak ada yang mendorong. Kayu lapuk itu bergerak pelan seperti ada tangan tak terlihat yang membukakannya untuk kami.
Nenek tua di depan masih melambai. Senyumnya lebar, tapi matanya kosong tidak berkedip.
"Ayok masuk, anak-anak. Sudah kami tunggu dari tadi," ucapnya lagi. Suaranya pelan tapi jelas terdengar padahal jarak kami masih seratus meter.
Kami berenam saling pandang. Tas di punggung terasa semakin berat. Kaki gue seperti dilem ke tanah, tidak mau melangkah.
Farhan yang tadi banyak bercanda sekarang diam pucat. Riko yang biasanya paling berani, tangannya gemetar memegang kamera sampai hampir jatuh. Sinta sudah mau nangis, memeluk lengan Maya erat-erat.
"Gimana Sel? Kita masuk nggak?" bisik Bima pelan ke gue. Sebagai ketua, semua mata tertuju ke gue.
Gue menarik nafas panjang. Kalau kita balik sekarang, kita tidak punya kendaraan, Pak Jono sudah pergi dengan mobil bak nya, dan KKN kami akan gagal. Pak Dosen pasti marah. Gue coba beranikan diri.
"Assalamualaikum, Nek. Kami dari KKN Universitas," sapa gue dengan suara yang gue paksa ramah, sambil melangkah pelan mendekati gapura.
Semakin dekat, semakin jelas keanehan mereka. Enam warga itu pakai baju yang sangat lusuh, seperti baju lama tahun 80-an. Kulit mereka pucat abu-abu. Dan yang paling jelas, mereka tidak punya bayangan. Matahari jam 12 siang tepat di atas kepala, tapi tanah di bawah kaki mereka kosong, tidak ada bayangan hitam sama sekali, padahal bayangan kami panjang dan jelas.
Nenek itu mengangguk, "Waalaikumsalam. Saya Nek Jum. Ini warga Desa Kalijati. Balai desa sudah kami siapkan untuk kalian tinggal."
Nenek itu berbalik, jalan duluan. Lima orang di belakangnya mengikuti tanpa suara, langkah kaki mereka tidak menimbulkan bunyi di tanah becek.
Kami terpaksa mengikuti.
Melewati gapura, hawa langsung berubah. Di luar gapura tadi panas terik, tapi begitu masuk desa, udara langsung dingin menusuk, seperti masuk ke dalam kulkas. Kabut tipis turun menutupi jalan desa.
Desa Kalijati sepi. Rumah-rumah kayu berjejer di kiri kanan jalan, tapi semua pintunya tertutup rapat, jendelanya gelap. Tidak ada suara ayam, tidak ada anak kecil bermain, tidak ada suara orang masak. Hanya sunyi.
"Kok sepi banget ya Nek? Warga lain kemana?" tanya Maya mencoba ramah.
Nek Jum tidak menoleh, tetap jalan, "Warga lain sudah di dalam rumah. Mereka malu ada pendatang. Nanti malam mereka keluar."
Jawaban yang aneh. Siang-siang malu, malam baru keluar?
Setelah jalan lima menit, kami sampai di sebuah bangunan paling besar di tengah desa. Bangunan kayu panggung yang agak besar, dengan tulisan BALAI DESA KALIJATI yang sudah miring.
"Pintu tidak dikunci, masuk saja. Barang kalian sudah ada di dalam," kata Nek Jum.
Kami kaget. "Barang? Barang apa Nek?"
Nek Jum tersenyum lebar lagi, "Tas kalian yang di kampus tadi."
Gue merinding seketika. Tas yang tadi pagi ada di kampus? Bagaimana bisa ada di dalam balai desa ini padahal kami bawa sendiri?
Nek Jum dan lima warga itu pergi begitu saja, menghilang di balik kabut tanpa pamit.
Kami dorong pintu balai desa. Pintu kayu itu terbuka dengan bunyi berderit panjang.
Di dalam balai desa yang gelap dan berdebu, ada enam ranjang kayu berjejer. Dan di atas setiap ranjang, sudah ada ransel dan koper kami, tersusun rapi. Persis seperti yang kami bawa.
Tapi di ransel gue, ada yang aneh. Ritsletingnya terbuka, dan di dalamnya ada tanah basah dan bunga kamboja yang masih segar.
Dan di dinding balai desa, ada foto hitam putih besar. Foto enam orang. Wajahnya persis seperti kami berenam. Tapi foto itu terlihat sangat tua, sobek-sobek, dan di pojok bawahnya ada tulisan tahun: 1978.
Tahun 1978? Foto itu diambil 48 tahun lalu, sebelum kami lahir. Tapi kenapa wajahnya adalah wajah kami?
Maya tiba-tiba menjerit pelan sambil menunjuk ke pojok ruangan. Di pojok balai desa yang gelap, ada sesajen. Nasi kuning, ayam panggang, dan enam gelas teh yang masih mengepul panas.
Seolah-olah seseorang baru saja menyiapkan makan siang untuk kami, dan tahu persis kami akan sampai jam ini.
Riko mengangkat kameranya, mencoba memfoto sesajen itu. Tapi di layar kameranya, sesajen itu tidak terlihat. Yang terlihat di layar kamera hanya meja kosong berdebu.
"Sel..." bisik Sinta dengan air mata sudah mengalir, "Gue mau pulang. Gue nggak mau KKN di sini."
Gue ingin bilang iya, gue juga mau pulang. Tapi pintu balai desa di belakang kami tiba-tiba tertutup sendiri dengan keras. Banting. Terkunci dari luar.
Dan dari luar jendela, kami mendengar suara banyak orang berjalan mengelilingi balai desa. Banyak langkah kaki. Padahal tadi desa sepi.
Mereka sudah mengepung kami.
BRAKK!
Pintu balai desa tertutup keras. Kami berenam loncat kaget.
Riko langsung lari ke pintu, mengguncang gagang pintu kayu yang sudah berkarat. "Terkunci! Terkunci dari luar!"
Bima ikut membantu, menendang dan mendorong dengan bahu, tapi pintu itu tidak bergerak sama sekali, seperti ada yang menahannya dari luar dengan kekuatan besar.
Suara langkah kaki di luar semakin banyak. Bukan satu dua orang, tapi puluhan. Tap... tap... tap... mengelilingi balai desa. Mengitari kami.
Sinta sudah nangis kejer di pojok, memeluk Maya. "Gue mau pulang, Sel. Gue mau pulang sekarang!"
Gue coba tetap tenang sebagai ketua. Gue ambil HP dari saku, tidak ada sinyal sama sekali. Nol. Jam di HP menunjukkan pukul 12.30 siang, tapi di dalam balai desa ini gelap seperti sudah jam 7 malam. Kabut dari luar masuk melalui celah-celah dinding kayu.
Maya berbisik dengan suara gemetar, matanya melotot melihat ke arah sesajen di pojok, "Sel, itu... itu bukan sesajen buat kita. Itu sesajen buat mereka. Lihat."
Kami semua melihat ke pojok. Enam gelas teh yang tadi mengepul panas, sekarang airnya berubah menjadi merah kental seperti darah. Nasi kuning di piring berubah menjadi tanah basah yang ada belatungnya bergerak-gerak. Ayam panggangnya berubah menjadi bangkai tikus yang membusuk.
Bau busuk menyengat langsung memenuhi ruangan.
"Jangan ada yang sentuh!" teriak gue.
Tiba-tiba, foto hitam putih besar di dinding bergerak. Foto enam orang yang wajahnya mirip kami itu, mata mereka di foto mulai mengeluarkan air mata darah. Darah itu mengalir dari bingkai foto menetes ke lantai.
Dan foto itu tersenyum. Senyum mereka semakin lebar, melampaui batas wajah.
KREKKK... KREKKK...
Lantai kayu balai desa berderit. Dari bawah kolong papan kayu, muncul tangan-tangan pucat, kurus, kotor penuh tanah. Banyak sekali tangan yang mencoba meraih kaki kami.
"AAAKH!" Sinta menjerit, kakinya ditarik oleh tangan dari bawah lantai.
Riko dengan cepat menarik Sinta. Bima menginjak tangan-tangan itu, tapi tangan itu tidak hancur, malah semakin banyak muncul.
Farhan yang penakut tiba-tiba berani, dia ambil senter dari tasnya dan menyorot ke bawah lantai. Saat cahaya senter mengenai tangan-tangan itu, tangan itu menghilang dengan suara jeritan melengking.
"CAHAYA! MEREKA TAKUT CAHAYA!" teriak Farhan.
Kami semua langsung nyalakan senter HP.
Tangan-tangan itu mundur ke bawah lantai, hilang.
Tapi teror belum selesai. Dari luar jendela, wajah Nek Jum menempel di kaca. Wajahnya sekarang tidak seperti nenek-nenek. Kulitnya mengelupas, matanya hitam semua, senyumnya robek sampai ke telinga.
Dia mengetuk kaca pelan dengan kukunya yang panjang, "Tok... tok... tok... Anak-anak, waktunya makan malam. Keluarlah. Kami sudah menunggu 20 tahun."
Jam di dinding balai desa yang tadi mati, tiba-tiba berdetak. Jarumnya berputar cepat, berputar balik, dan berhenti tepat di jam 9 malam.
Padahal tadi masih jam 12 siang.
Listrik genset padam. Balai desa gelap total. Hanya cahaya senter kami.
Dan di kegelapan itu, kami baru sadar, di dalam balai desa ini bukan cuma kami berenam.
Ada bayangan-bayangan hitam lain berdiri di sudut-sudut ruangan. Diam mengamati kami. Jumlahnya puluhan. Dan satu per satu, mata mereka menyala merah di dalam gelap.
Malam pertama kami di Desa Kalijati baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!