Aroma kayu manis dan dupa cendana mendesak masuk ke dalam indera penciumannya bersamaan dengan rasa pening yang menusuk pelipis. Ye Xinyue terbatuk kecil, matanya berkedip beberapa kali berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya remang yang menerobos dari tirai sutra berwarna merah tua.
Di dalam hatinya, Xinyue hanya bisa mengutuk nasib. Aku baru saja menyelesaikan revisi bab empat pukul tiga pagi! Harusnya aku cuma tertidur di atas laptop, bukan malah pingsan dan bermimpi seaneh ini!
Namun, rasa dingin yang menjalar dari lantai kayu berukir dan kelembutan selimut sutra yang membungkus tubuhnya terasa terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur. Xinyue mencoba duduk, tetapi rasa lemas yang luar biasa menahan gerakannya. Ia mengamati jemari tangannya—ramping, halus, tanpa bekas kapalan akibat terlalu sering mengetik di atas kibor. Pakaian yang melilit tubuhnya pun berupa gaun berlapis-lapis dengan sulaman benang emas yang rumit.
"Yang Mulia Selir Ye! Anda sudah sadar?"
Suara pekikan lembut membuat Xinyue menoleh. Seorang gadis muda berpakaian pelayan istana berlari mendekat sambil membawa mangkuk porselen berisi air hangat. Wajah gadis itu tampak cemas, mata sembabnya menunjukkan bahwa ia telah menangis cukup lama.
"Di mana... ini?" tanya Xinyue. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—bernada lembut, agak serak, dan penuh kelemahan.
"Anda berada di Kediaman Fenghua, Yang Mulia. Hamba, Mingzhu, sangat takut sewaktu Anda pingsan di taman kemarin setelah terjatuh dari jembatan," ujar pelayan itu seraya menyodorkan sapu tangan basah untuk menyapu keringat di dahi Xinyue.
Xinyue terpaku. Kediaman Fenghua? Selir Ye? Mingzhu?
Nama-nama itu memicu gelombang ingatan asing yang langsung menghantam kepalanya. Bukan hanya memori milik pemilik tubuh asli—seorang gadis bangsawan muda dari klan Ye yang pemalu dan sering diabaikan—tetapi juga potongan-potongan adegan dari sebuah cerita yang sangat familiar.
The Tyrant of Tianyu.
Itu adalah judul webtoon 21+ bergenre fantasy historical romance yang sengaja ia baca di sela-sela waktu senggang demi menjaga kewarasannya di tengah gempuran skripsi. Cerita itu terkenal karena intrik istananya yang berdarah, adegan romansa yang intens, dan karakter utamanya yang merupakan seorang Kaisar tiran tanpa ampun.
Dan tubuh yang kini dihuninya... adalah milik Ye Xinyue, Selir ke-20 Kaisar Tianyu.
Dalam ingatan Xinyue tentang alur webtoon tersebut, Selir ke-20 hanyalah tokoh sampingan yang tak berarti. Ia masuk ke istana hanya untuk memenuhi kuota aliansi politik keluarga, tidak pernah dilirik oleh Kaisar, dan tragisnya, mati diracun oleh selir lain pada pertengahan cerita karena menjadi kambing hitam dalam persaingan kekuasaan.
Tunggu sebentar, batin Xinyue, matanya melebar seketika. Aku mati di kehidupan nyataku karena kelelahan menggarap skripsi, dan sekarang aku masuk ke dalam cerita ini hanya untuk mati lagi di tangan para selir yang cemburu?! Tidak akan! Jangan harap!
Xinyue mengepalkan tangannya di bawah selimut sutra. Ia bersumpah pada dirinya sendiri. Di dunia asalnya, ia bertaruh nyawa demi mendapatkan gelar sarjana hukum. Sekarang, di dunia ini, ia akan menggunakan seluruh kecerdikan dan taktik hukumnya hanya untuk satu hal: bertahan hidup sampai bab terakhir.
Gadis itu segera mengintrospeksi perilakunya. Ia tahu betul bahwa perubahan drastis pada sikapnya bisa memicu kecurigaan. Orang-orang di istana ini sangat sensitif terhadap hal-hal gaib atau tuduhan kesurupan. Ia harus tetap bertindak seperti Ye Xinyue yang asli lemah lembut, tenang, dan sedikit penakut namun dengan isi kepala yang sama sekali berbeda. Ia harus memainkan peran ini dengan sempurna.
"Mingzhu," panggil Xinyue dengan nada suara semirip mungkin dengan ingatan pemilik tubuh asli. "Apakah... Apakah ada orang lain yang datang menjengukku?"
Mingzhu menundukkan kepalanya, tampak serba salah. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Selain tabib istana yang tadi pagi memeriksa keadaan Anda, tidak ada selir lain yang berkunjung. Dan... Yang Mulia Kaisar juga tidak memberikan pesan apa pun."
Mendengar hal itu, bukannya sedih, hati Xinyue justru bersorak gembira. Bagus! Luar biasa! Ini adalah skenario terbaik yang bisa kuinginkan!
Dalam cerita aslinya, Kaisar Tianyu Zhao Fengting adalah pria yang sangat berbahaya. Wajahnya memang tampan seperti dewa, tetapi hatinya sedingin es dan pikirannya dipenuhi taktik perang. Barang siapa yang menarik perhatiannya, baik secara positif maupun negatif, biasanya tidak akan berakhir baik jika tidak memiliki peran utama dalam takdirnya.
Rencana hidup Xinyue kini sangat jelas dan terstruktur.
Pertama, ia harus menjadi selir paling tidak berguna dan paling transparan di seluruh Istana Tianyu. Tidak boleh ada prestasi, tidak boleh ada drama.
Kedua, ia akan menghindari setiap pertemuan dengan Kaisar. Jika ada acara istana, ia harus duduk di sudut paling gelap dan berpura-pura tidak enak badan.
Ketiga, ia tidak boleh ikut campur dalam perang dingin antar-selir. Biarkan para selir berpangkat tinggi saling sikut merebutkan takhta dan cinta Kaisar.
Keempat, ia harus menikmati fasilitas istana sejauh yang ia bisa tanpa membangkitkan kecurigaan. Makanan enak, tempat tinggal mewah, dan tidak ada tenggat waktu revisi dari dosen pembimbing.
"Yang Mulia, mengapa Anda tersenyum seperti itu?" tanya Mingzhu bingung melihat selirnya yang baru saja bangun pingsan malah memperlihatkan senyuman tipis yang agak misterius.
Xinyue dengan cepat mengubah mimik wajahnya menjadi sedikit lesu kembali, mengibaskan tangannya pelan. "Tidak ada apa-apa, Mingzhu. Aku hanya merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk bernapas. Mulai hari ini, aku hanya ingin hidup tenang di kediaman ini. Jangan biarkan siapa pun mengganggu istirahatku, dan tidak usah repot-repot mengirimkan surat atau hadiah ke kediaman selir lainnya."
Mingzhu mengangguk patuh, meski tampak agak heran dengan perubahan sudut pandang junjungannya yang biasanya selalu ingin mencari perhatian di antara para selir lain. "Baik, Yang Mulia. Hamba akan menyiapkan bubur hangat untuk Anda."
Setelah pelayannya keluar dari kamar, Xinyue menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang kayu yang diukir indah. Ia menghela napas panjang, menatap ke arah langit-langit kamar yang dihiasi lukisan awan dan naga.
Aroma dupa cendana masih menyerbak halus di sekelilingnya, menegaskan bahwa hidup barunya telah dimulai. Jalur cerita The Tyrant of Tianyu mungkin dipenuhi dengan pengkhianatan, pertumpahan darah, dan intrik politik yang mematikan, tetapi Ye Xinyue sudah mantap dengan jalannya sendiri.
Kaisar tiran? Silakan nikmati takdirmu dengan sang pemeran utama. Para selir jahat? Silakan saling jatuhkan sesuka hati kalian. Aku, Selir ke-20, hanya akan menjadi penonton setia di barisan paling belakang sambil menikmati teh dan kue istana.
Dengan tekad yang membara di balik kelembutan parasnya, Ye Xinyue bersiap memulai hari pertamanya sebagai tokoh sampingan yang bertekad menolak takdir kematian.
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah kisi-kisi jendela kayu Kediaman Fenghua, membiaskan garis-garis cahaya ke emas di atas lantai porselen. Ye Xinyue berdiri di depan cermin perunggu berukir burung phoenix, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna hijau muda yang sederhana.
Di dalam hatinya, Xinyue tidak berhenti berdecak mengagumi ketenangan tempat ini. Tanpa alarm ponsel pukul enam pagi, tanpa revisi bab lima yang harus dikirim sebelum siang, dan tanpa dosen yang mendadak minta bimbingan. Tempat ini rasanya bagaikan surga penangkaran untuk jiwa yang hancur akibat skripsi!
Namun, Xinyue sadar betul bahwa surga ini dikelilingi oleh tembok istana yang penuh dengan duri beracun. Hari ini adalah hari pertamanya benar-benar melangkah keluar dari tempat tidur setelah masa pemulihan. Berdasarkan alur cerita dalam webtoon yang diingatnya, dunia Tianyu bukanlah sekadar kerajaan biasa. Kerajaan ini berdiri di atas pilar kekuatan militer yang ditakuti, dikelilingi oleh klan-klan bangsawan berpengaruh yang saling menjatuhkan demi memperebutkan takhta dan pengaruh.
"Yang Mulia Selir Ye," panggil Mingzhu lembut seraya memasangkan jepit rambut dari perak dengan hiasan batu giok kecil di sanggul Xinyue. "Apakah Anda benar-benar yakin tidak ingin mengenakan gaun sutra merah sulam benang emas dari pemberian Ibunda Ratu? Hari ini adalah jadwal penyesuaian catatan harian di Paviliun Anggrek. Semua selir akan berkumpul di sana."
Xinyue menggelengkan kepalanya perlahan, menjaga agar ekspresi wajahnya tetap tenang dan lembut sesuai dengan pembawaan pemilik tubuh asli. "Tidak perlu, Mingzhu. Gaun ini sudah sangat nyaman. Lagi pula, warna yang terlalu mencolok hanya akan membuat mataku lelah."
Dan yang paling penting, tambah Xinyue dalam hati, warna mencolok adalah magnet kematian di dunia ini! Gaun merah? Sulaman emas? Itu sama saja seperti memasang target panah di punggungku dan berteriak pada para selir senior: 'Ayo racuni aku sekarang!'
Xinyue melangkahkan kakinya keluar dari Kediaman Fenghua. Udara pagi Kerajaan Tianyu terasa begitu segar, membawa aroma bunga melati dan tanah basah. Dari jalan setapak berkerikil putih yang dilaluinya, Xinyue bisa melihat megahnya arsitektur Istana Tianyu. Atap-atap bangunan berujung runcing dengan ukiran naga meliuk, tembok-tembok tinggi berwarna merah tua yang kokoh, serta taman-taman luas yang dipenuhi tanaman langka.
Semuanya tampak persis seperti panel-panel artistik yang pernah ia lihat di layar ponselnya. Bedanya, kali ini ia berada di dalam lukisan itu secara langsung.
Saat menyusuri koridor panjang menuju Paviliun Anggrek, Xinyue mengamati sekeliling dengan cermat. Langkah kakinya sengaja diperlambat, dibuat sehalus dan sekecil mungkin agar tidak menarik perhatian para penjaga istana yang berdiri tegap dengan zirah besi yang mengkilap. Senjata-senjata tajam di pinggang para pengawal itu mengilatkan cahaya matahari, menjadi pengingat dingin bahwa tiran yang memimpin kerajaan ini tidak segan-segan menumpahkan darah.
Selamat datang di Kerajaan Tianyu, Xinyue, batinnya pahit. Dunia di mana nyawa manusia kadang hanya seharga selembar kertas titah kaisar.
"Lihat siapa yang datang," sebuah suara bernada tinggi dan sedikit menyindir terdengar ketika Xinyue tiba di halaman Paviliun Anggrek.
Seorang wanita berpakaian mewah dengan gaun berlapis-lapis berwarna ungu tua berdiri di dekat kolam teratai. Di sampingnya, dua selir lain tampak terkikik pelan sambil mengibaskan kipas lipat mereka. Itu adalah Selir Liang, selir peringkat ke-12 yang terkenal dengan wataknya yang suka merendahkan selir-selir berpangkat rendah.
"Kudengar Selir Ye jatuh ke kolam dan pingsan berhari-hari. Aku kira kepalamu terbentur batu sampai lupa cara berjalan ke sini," ujar Selir Liang dengan senyum miring, menatap gaun hijau sederhana yang dikenakan Xinyue dari atas sampai bawah dengan pandangan meremehkan.
Xinyue menarik napas pelan. Sabar, Xinyue, sabar. Ini baru ujian kecil. Jangan keluarkan argumen hukummu, jangan gunakan pasal-pasal pencemaran nama baik. Pakai strategi terbaik: pura-pura bodoh dan penakut.
Xinyue segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyatukan kedua tangannya di depan dada, dan membuat tubuhnya sedikit gemetar seolah-olah ia sangat terintimidasi.
"Maafkan hamba, Kakak Selir Liang," ucap Xinyue dengan suara bergetar yang dibuat-buat, persis seperti watak asli Ye Xinyue yang penakut. "Hamba baru saja sembuh dan tubuh hamba masih terasa lemah. Hamba tidak bermaksud membuat Kakak Selir menunggu atau terganggu."
melihat reaksi Xinyue yang langsung mengalah dan tampak ketakutan, Selir Liang bersedekap dengan wajah puas. Rasa ingin menyerangnya mendadak hilang karena menganggap Xinyue terlalu lemah dan tidak berpotensi menjadi ancaman.
"Hmph! Memang dasar tidak berguna. Sudah berpangkat rendah, penakut pula. Lebih baik kamu duduk di pojok sana dan jangan banyak bicara," cibir Selir Liang seraya berbalik dan berjalan meninggalkan Xinyue bersama para pengikutnya.
Begitu Selir Liang membelakanginya, sudut bibir Xinyue terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat puas. Berhasil! Sempurna! Menjadi penakut di mata musuh adalah perlindungan terbaik. Biarkan mereka menganggapku sampah tidak berguna, yang penting aku selamat!
Xinyue berjalan menuju sudut paling belakang Paviliun Anggrek, tempat di mana terdapat sebuah bangku kayu di bawah naungan pohon bambu yang rindang. Di sana, ia bisa melihat seluruh suasana paviliun tanpa perlu terlibat dalam percakapan apa pun. Pelayan paviliun menyajikan kue beras dan teh hangat di mejanya.
Xinyue menyesap tehnya perlahan, menikmati rasa pahit manis yang menenangkan di lidahnya, seraya matanya terus bergerilya mengamati situasi.
Dari tempat duduknya, ia bisa melihat peta kekuatan istana yang sebenarnya. Di tengah ruangan, para selir tingkat tinggi sedang saling melempar senyuman manis yang beracun, bertukar kata-kata pujian yang sebenarnya berisi sindiran tajam tentang kekuasaan klan keluarga masing-masing. Ini adalah arena perang tanpa pedang, di mana satu kesalahan kecil dalam berucap bisa berujung pada hukuman pengasingan atau bahkan hukuman mati.
Kerajaan ini indah di luar, tapi busuk di dalam, pikir Xinyue seraya mengunyah kue berasnya dengan nikmat. Semua orang di sini bertaruh nyawa demi mendapatkan lirikan dari Kaisar Tianyu. Padahal, Kaisar itu sendiri adalah seorang sosiopat tampan yang bisa memenggal kepala orang sambil tersenyum.
Xinyue mengingat kembali adegan di webtoon. Kaisar Zhao Fengting tidak pernah benar-benar mencintai selir-selirnya. Bagi pria itu, wanita-wanita di istana belakang ini hanyalah bidak catur politik untuk menjaga keseimbangan kekuatan para pejabat di balairung istana. Siapa pun yang terlalu menonjol atau berusaha memanipulasinya pasti akan disingkirkan tanpa belas kasihan.
Maka dari itu, aturan utamaku di Kerajaan Tianyu ini sangat jelas, tekad Xinyue semakin mantap di dalam hatinya. Jadilah selir yang transparan. Jangan sampai namaku pernah diucap oleh Kaisar, jangan sampai wajahku pernah diingat olehnya. Aku hanya ingin menikmati teh ini, makan kue gratis setiap hari, dan menonton drama istana ini dari jarak aman sampai bab terakhir berakhir!
Namun, tepat saat Xinyue baru saja hendak mengambil potongan kue beras keduanya, embusan angin kencang mendadak bertiup melintasi paviliun. Suasana yang tadinya bising oleh celoteh para selir mendadak hening seketika. Suara langkah kaki yang berat, teratur, dan bergema dari arah koridor utama membuat seluruh orang di dalam paviliun menahan napas.
Keheningan yang mencekam itu jatuh seperti tirai besi, menandakan kedatangan seseorang yang paling ditakuti di seluruh negeri.
Xinyue membeku dengan kue beras yang masih berada di antara jarinya, hatinya mendadak berdesir cemas. Tunggu... suasana ini... kenapa rasanya ada yang salah?
Keheningan yang mendadak melingkupi Paviliun Anggrek membuat bulu kuduk Ye Xinyue meremang. Suara tawa dan celoteh manja para selir menguap dalam sekejap, digantikan oleh gesekan kain sutra yang tergesa-gesa saat mereka semua berlutut serentak di atas lantai batu cold-marble.
Dari balik kerindangan pohon bambu di sudut terbelakang, Xinyue secara refleks ikut menurunkan tubuhnya. Ia meletakkan kue berasnya yang belum sempat digigit kembali ke atas piring porselen, lalu bersimpuh rapat, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya hampir menyentuh permukaan tanah yang dingin.
Jantungku... kenapa berdetak semenggebu ini? batin Xinyue, matanya menatap tajam ke arah ujung sepatu kainnya sendiri. Jangan bilang kalau pria itu benar-benar datang ke sini? Di alur webtoon aslinya, Kaisar tidak pernah mengunjungi Paviliun Anggrek pada jam-jam seperti ini! Ini tidak sesuai dengan naskah!
Langkah kaki itu semakin dekat. Bunyi sol sepatu bot berhias benang emas yang menginjak permukaan batu terdengar berirama—lambat, berwibawa, dan memancarkan aura dominasi yang menekan paru-paru siapa pun di sekitarnya. Di belakangnya, terdengar gemerincing zirah besi dari puluhan pengawal pribadi yang berjalan dengan kedisiplinan militer tingkat tinggi.
"Kami menyambut kedatangan Yang Mulia Kaisar! Semoga Yang Mulia Panjang Umur Ribuan Tahun!"
Gema suara puluhan selir dan pelayan bersahutan memenuhi paviliun. Xinyue hanya menyuarakan kalimat itu dengan komat-kamit tanpa bersuara, berusaha tetap tidak mencolok.
Zhao Fengting—Kaisar Tianyu, sang tiran dingin yang ditakuti seluruh benua—melangkah masuk ke Paviliun Anggrek.
Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam pekat dengan sulaman naga bermata merah dari benang sutra emas. Wajahnya pahatan sempurna dewa perang: rahang yang tegas, hidung mancung yang tajam, dan sepasang mata berwarna kelam bagaikan dasar jurang yang paling dalam. Tidak ada senyum di bibirnya. Setiap jengkal keberadaannya hanya memancarkan satu pesan yang jelas: kepatuhan absolut atau kematian.
"Berdiri," suara Zhao Fengting terdengar dalam, berat, dan bergema halus, namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Para selir perlahan berdiri dengan gerakan seanggun mungkin. Selir-selir berpangkat tinggi yang berada di barisan depan—termasuk Selir Liang—segera memamerkan senyuman manis terbaik mereka, berusaha menarik perhatian mata sang Kaisar dengan kedipan mata yang lembut atau sedikit gestur gaun yang menyapu lantai.
Namun, Xinyue yang berada jauh di sudut belakang tetap mempertahankan posisinya: menundukkan kepala, membelakangi kerumunan sebanyak mungkin, dan meminimalisir keberadaannya.
Jangan lihat ke sini. Jangan pernah menoleh ke sudut ini, doa Xinyue dalam hati, jemarinya meremas kain gaun hijau mudanya dengan cemas. Aku ini cuma Selir ke-20. Peringkat paling buncit. Di mata hukum istana, aku cuma angka pajangan untuk melengkapi dokumen diplomasi dengan klan Ye!
Xinyue mengingat kembali detail statusnya di dunia ini yang sempat ia renungkan dari ingatan pemilik tubuh asli. Ye Xinyue dimasukkan ke dalam istana ini hanya karena klan Ye adalah keluarga bangsawan minor di wilayah perbatasan yang perlu diikat kesetiaannya. Gelar "Selir ke-20" bukanlah sebuah kehormatan, melainkan piala formalitas yang bahkan tidak pernah disentuh oleh Kaisar.
Dalam cerita webtoon The Tyrant of Tianyu, bab-bab awal sepenuhnya berfokus pada perebutan pengaruh antara Selir Agung dari klan Utama dengan Kaisar. Selir ke-20 sama sekali tidak pernah memiliki adegan percakapan pribadi dengan Zhao Fengting. Nama "Ye Xinyue" hanya muncul sekali sebagai laporan baris tunggal di meja kerja Kaisar saat ia ditemukan tewas beracun di pertengahan bab.
Itu adalah takdir yang sempurna untuk dihindari! batin Xinyue mantap. Menjadi nomor 20 berarti aku tidak punya beban politik yang besar. Aku tidak punya anak yang diperebutkan untuk tahta, tidak punya pengaruh di balairung istana, dan tidak punya daya tarik yang bisa membuat selir-selir jahat itu menganggapku musuh utama.
Di tengah pemikirannya, suara Kasim Agung menggelegar membacakan maksud kedatangan Kaisar. Ternyata, Zhao Fengting hanya lewat di area Paviliun Anggrek setelah selesai memeriksa pasukan pengawal istana di lapangan latihan barat, dan menyempatkan diri secara acak untuk memantau ketertiban istana belakang.
"Kalian boleh melanjutkan kegiatan kalian," ujar Zhao Fengting datar. Tangannya terlipat di belakang punggung saat ia berdiri di tengah-tengah paviliun.
Para selir senior langsung berlomba-lomba mengajukan diri untuk melayani sang Kaisar. Selir Liang dengan percaya diri melangkah maju satu langkah, tersenyum anggun.
"Yang Mulia, udara pagi ini sangat menyegarkan. Hamba baru saja menyeduh teh bunga mekar yang sangat langka dari wilayah selatan. Apabila Yang Mulia berkenan, hamba akan sangat terhormat jika dapat menyajikan teh ini untuk Anda di paviliun utama," tutur Selir Liang dengan nada suara yang dibuat-buat semanis madu.
Zhao Fengting melirik Selir Liang sekilas. Pandangannya begitu dingin dan hampa, sampai-sampai Selir Liang mendadak menelan ludah dan menundukkan kepalanya kembali karena getaran intimidasi yang tak tertahankan.
"Tidak perlu," jawab Kaisar singkat.
Xinyue dari tempat tersembunyinya meringis pelan. Aduh, Kasihan sekali Selir Liang. Tapi ya bagaimanapun juga, mendekati tiran seperti dia tanpa persiapan matang itu sama saja seperti menyodorkan leher ke pedang eksekusi.
Karena tidak berniat berinteraksi sama sekali, Xinyue perlahan-lahan mundur setengah langkah, bermaksud mengikis tubuhnya lebih dalam ke balik bayangan pohon bambu agar ia bisa menyelinap pergi begitu Kaisar berbalik. Tangannya dengan sangat hati-hati mencoba menggapai piring kue berasnya yang tertinggal di atas meja kecil di sampingnya, berniat membawanya kabur untuk dimakan di kamar.
Namun, takdir tampaknya memiliki rasa humor yang sangat buruk.
Saat jari-jari lentik Xinyue baru saja menyentuh pinggiran porselen piring tersebut, sebuah ranting bambu kering di atasnya mendadak patah dan jatuh tepat mengenai cangkir tehnya.
Prak!
Suara cangkir porselen yang bergeser tajam dan beradu dengan meja batu mungkin terdengar sangat pelan di tengah riuhnya bisik-bisik para pelayan. Namun bagi seorang pria dengan kemampuan bela diri tingkat tinggi dan pendengaran sekritis Zhao Fengting, suara itu terdengar seperti ledakan kecil di tengah keheningan.
Xinyue membeku seketika. Jantungnya rasanya melompat keluar dari dada.
Kepala sang Kaisar berputar perlahan. Mata kelamnya yang tajam menembus celah-celah dedaunan bambu, langsung terkunci tepat pada sosok gadis bergaun hijau muda yang sedang membungkuk kaku di sudut paling belakang paviliun.
Seluruh selir di ruangan itu mendadak menoleh mengikuti arah pandangan Kaisar. Selir Liang membelalakkan matanya dengan tatapan penuh kebencian dan keheranan, sementara para pelayan menahan napas cemas.
Zhao Fengting memiringkan kepalanya sedikit, menatap sosok asing yang berusaha menyembunyikan dirinya dengan begitu gigih. Pria itu melangkah perlahan bukan menuju Selir Liang atau selir-selir berpangkat tinggi yang berdiri anggun di tengah, melainkan lurus berjalan menuju sudut pohon bambu tempat Xinyue berada.
Setiap langkah bot Kaisar yang mendekat terasa seperti ketukan lonceng kematian di telinga Xinyue.
Tidak, tidak, tidak! Kenapa dia jalan ke sini?! Xinyue berteriak histeris di dalam hatinya, sementara tubuh luarnya hanya bisa gemetar ketakutan, menundukkan kepala sejajar dengan lantai. Aku cuma mau ambil kue! Aku tidak berniat menarik perhatianmu, wahai Yang Mulia Tiran! Harusnya kau pergi saja dan mengejar pemeran utama wanita!
Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di depan meja kecil Xinyue. Bayangan tubuh tinggi besar sang Kaisar jatuh sepenuhnya menutupi tubuh kecil Xinyue, menghalangi seluruh sinar matahari pagi.
Aroma tegas dari kayu gaharu dan darah samar yang seolah melekat pada jubah Kaisar memenuhi indera penciuman Xinyue, membuatnya semakin tidak berani bernapas.
Zhao Fengting melirik piring porselen berisi kue beras yang setengah dimakan, lalu menatap puncak kepala gadis yang bersimpuh di bawah kakinya dengan tubuh bergetar hebat itu.
"Siapa nama selir ini?" tanya Zhao Fengting dengan suara dingin, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Xinyue.
Kasim Agung yang berdiri di belakangnya tertegun sejenak, tergesa-gesa membuka gulungan catatan istana belakang sebelum menjawab dengan nada gugup, "Melaporkan kepada Yang Mulia... Ini adalah... Selir ke-20, Ye Xinyue dari klan Ye."
Zhao Fengting mengulangi nama itu di dalam hatinya dengan pelan, pandangannya menyipit penuh kecurigaan saat mendapati betapa gigihnya selir ini berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Selir ke-20..." gumam sang Kaisar datar, sebuah nada asing yang belum pernah terdengar sebelumnya terbersit dalam suaranya.
Xinyue mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas lantai porselen yang dingin, meratapi nasibnya yang kini berantakan hanya dalam hitungan detik. Aturan pertamanya untuk tidak pernah diperhatikan oleh Kaisar... baru saja hancur berkeping-keping di hari pertama.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!