Indonesia
NovelToon NovelToon

JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

BAB 1: DAFTAR HITAM NOMOR SATU

Bagi Raina Callista, hidup adalah serangkaian jadwal yang harus berjalan presisi. Sepatu hitam mengkilap, kaus kaki tiga jari di atas mata kaki, dan catatannya yang tersusun rapi berdasarkan kode warna. Sebagai Wakil Ketua OSIS SMA Garuda, tugas utama Raina sederhana: memastikan seluruh siswa patuh pada aturan.

Namun, aturan itu dibuat bukan untuk Devan Adhitama.

Pagi baru saja merambat di lapangan sekolah ketika Raina mendapati Devan kapten tim basket kesayangan sekolah sedang berdiri santai di bawah tiang bendera. Seragamnya tidak dimasukkan, dasinya melar kelonggaran, dan earphone nirkabel menempel manis di telinganya.

"Devan Adhitama!" panggil Raina mantap, langkah kakinya berderak di atas kerikil halaman.

Devan melepas satu earphonenya, lalu melempar senyum lebar yang selalu membuat siswi-siswi kelas sepuluh histeris. Senyum yang bagi Raina tidak lebih dari cengiran pengacau.

"Selamat pagi, Bu Wakil. Awal hari yang indah untuk menghirup udara segar, kan?" ujar Devan santai, seolah ia tidak sedang melanggar tiga poin kedisiplinan sekaligus.

"Rapikan seragammu, lepas earphone, dan masuk ke kelas. Bel tinggal dua menit lagi," tegas Raina sambil mencabut pena merah dari saku seragamnya.

"Raina, Raina... tenang sedikit. Muka kamu kalau galak begitu cepat tua, lho," goda Devan. Tanpa merasa bersalah, ia malah mendekat, lalu dengan seenaknya menarik tali papan nama di dada Raina hingga gadis itu terperanjat. "Lagipula, bel kan belum berbunyi?"

Teeeet!

Suara bel nyaring memotong kalimat Devan. Cowok itu terkekeh geli melihat garis merah yang langsung digoreskan Raina di buku catatannya.

"Poin pelanggaran kesebelas bulan ini," kata Raina dingin, menatap mata Devan dengan tajam. "Kamu resmi menduduki peringkat pertama di daftar hitamku."

Devan bukannya takut, justru malah menunduk sedikit untuk sejajar dengan wajah Raina. "Suatu kehormatan bisa jadi nomor satu di hatimu, Raina."

Sebelum Raina sempat meledak, Devan sudah berbalik dan berlari santai menuju bangunan kelas sambil melambaikan tangan tanpa beban. Raina mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dia bersumpah, Devan Adhitama adalah makhluk paling nyebelin yang pernah diciptakan di muka bumi.

Raina menghabiskan seluruh jam istirahat pertamanya di perpustakaan. Bukan untuk bersantai, melainkan menyelesaikan laporan evaluasi kegiatan OSIS yang harus diserahkan kepada Pembina sore nanti. Lembar demi lembar kertas HVS putih bersih bertumpuk rapi di meja kayu tempat favoritnya—pojok kanan yang sunyi dan jauh dari lalu lalang siswa.

Tepat saat Raina hendak menancapkan klip kertas terakhir, bayangan tinggi mendadak menutupi cahaya dari jendela.

"Lho, beneran di sini. Pantes di kantin gak ada," suara familiar itu memecah keheningan perpustakaan.

Raina mendongak, matanya memicing seketika. Devan berdiri di sana membawa segelas iced americano dari kantin, lengkap dengan senyum tanpa dosanya.

"Gak boleh bawa minuman berasa ke perpustakaan, Devan," tegur Raina cepat, jarinya langsung menunjuk papan pengumuman di dinding.

"Cuma es kopi, Raina. Lagian penjaga perpus lagi ke toilet," jawab Devan santai. Ia bersandarkan badan ke pinggir meja Raina, meletakkan gelas plastiknya yang berembun tepat di samping tumpukan kertas laporan Raina.

"Pindahkan gelas itu. Sekarang," perintah Raina dengan nada penuh penekanan.

"Sensitif banget sih. Tenang aja, gak bakal spill—"

Belum sempat Devan menyelesaikan kalimatnya, seorang siswa kelas sepuluh berlari terburu-buru melintasi lorong rak buku dan memanggil nama Devan. Sikut Devan yang tersenggol secara tidak sengaja langsung menghantam gelas plastik di atas meja.

Crrash!

BAB 2: KOPI TERMAHAL DI DUNIA

Crrash!

Cairan hitam pekat membanjiri meja kayu dalam hitungan detik. Es batu berhamburan, dan yang paling mengerikan: genangan kopi itu dengan cepat meresap ke dalam tumpukan berkas OSIS Raina yang dikerjakan berturut-turut selama tiga hari.

Keheningan melingkupi tempat itu. Devan tertegun, menatap genangan kopi lalu menatap wajah Raina yang mendadak pucat, sebelum perlahan berubah merah padam.

"Devan... Adhitama..." bisik Raina dengan suara gemetar menahan amarah yang meledak di dadanya.

"Raina, s-sorry! Gw beneran gak sengaja!" Devan panik. Ia buru-burung menarik beberapa lembar tisu dari kantongnya dan mencoba mengusap kertas-kertas yang kini sudah berubah warna menjadi cokelat tua dan basah kuyup. Tulisannya luntur total.

"Jangan disentuh!" teriak Raina pendek, membuat beberapa siswa di perpustakaan menoleh. Raina menarik napas panjang, berusaha keras agar air mata frustrasinya tidak jatuh di depan cowok paling nyebelin ini. "Kamu tahu berapa jam aku bikin laporan ini?"

"Nanti gw ganti kertasnya! Gw print-in lagi, suwer!" Devan mengangkat dua jarinya, mukanya mendadak pucat melihat kilatan amarah murni di mata Raina.

"Bukan cuma kertasnya, Devan! Data dan rekapannya ada di situ!" Raina berdiri, merapikan barang-barangnya dengan gerakan kasar. Ia menatap Devan tajam. "Kamu harus ganti rugi. Dan aku gak mau ganti rugi cuma pakai kata maaf."

"Mau ganti rugi apa? Uang jajan gw seminggu? Beliin es kopi se-karton?" Devan mencoba mencairkan suasana, walau ketakutan jelas terlihat di wajahnya.

Raina mengemas tasnya, lalu menatap Devan dari atas ke bawah. "Ketik ulang seluruh laporan ini sampai rapi, rekap ulang semua datanya dari awal, dan serahkan ke aku sebelum jam lima sore. Kalau tidak, aku pastikan poin pelanggaranmu penuh dan kamu dicoret dari tim basket."

Tanpa menunggu jawaban Devan yang melotot tak percaya, Raina melangkah pergi meninggalkannya sendirian di tengah genangan kopi.

BAB 3: RAJA PRANK VS RATU DISIPLIN

Kantin SMA Garuda jam istirahat kedua selalu berubah menjadi arena pacuan kuda. Suara piring berdentang, riuh tawa siswa, dan aroma soto ayam menyatu di udara. Di tengah keramaian itu, Raina duduk di pojok ruang dengan laptop terbuka. Matanya menatap tajam layar monitor, memeriksa ulang lembar demi lembar laporan yang diketik Devan kemarin sore.

"Gimana, Bu Wakil? Rapi, kan? Bahkan gw pakai font Times New Roman ukuran 12, space 1.5 sesuai standar anak OSIS," Devan mendadak muncul dari belakang, membawa piring berisi tahu isi hangat dan langsung duduk tepat di depan Raina.

Raina tidak mendongak. Tangannya lincah menekan tombol scroll. "Ngetiknya sih rapi. Tapi kenapa di bagian catatan kaki ada tulisan 'Raina galak seperti induk macan'?"

Devan tertawa lepas, hampir tersedak tahu isi yang baru digigitnya. "Ups, kelepasan. Itu kan fakta lapangan, Na."

"Devan," Raina menutup laptopnya dengan suara klak yang cukup keras. "Tugas itu penembus dosamu kemarin. Bukan ajang buat bikin prank baru."

"Elah, bercanda sikit biar gak tegang," Devan memajukan badannya, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatap Raina jahil. "Lagian, kamu tuh terlalu lurus. Sekali-kali melenceng dikit napa? Biar ada warnanya itu hidup."

Hidupku udah penuh warna tanpa kamu racuni," balas Raina dingin. Ia menarik napas panjang, mencoba mempertahankan benteng kesabarannya yang terus digempur. "Dan ingat, kamu masih punya utang poin kedisiplinan. Kalau hari ini kamu bikin ulah lagi

BAB 3: RAJA PRANK VS RATU DISIPLIN

"Awas!"

Sebelum Raina sempat menyelesaikan ancamannya, Devan berdiri mendadak dan menunjuk ke arah bahu kiri Raina dengan raut wajah panik luar biasa. "Raina! Ada ulat bulu gede banget di bahu kamu!"

"Hah?! Mana?!"

Raina yang secara refleks paling benci serangga langsung melonjak berdiri dari kursinya. Ia mengibas-ibaskan bahunya dengan panik, memutar badan, dan hampir saja menjatuhkan laptopnya sendiri. Beberapa siswa di kantin mulai menoleh ke arah mereka.

"Mana, Devan?! Ambilin!" seru Raina dengan suara yang mulai mencicit ketakutan.

Devan terkekeh pelan, lalu mengambil sesuatu yang hinggap di bahu Raina sebuah mainan ulat plastik berwarna hijau menyala. Ia mengayun-ayunkan mainan itu di depan mata Raina sambil tertawa puas.

"Kena tipu! Katanya Ratu Disiplin, masa sama ulat plastik aja takut?" Devan tertawa sampai memegang perutnya.

Raina membeku. Paniknya menghilang seketika, berganti dengan rasa malu yang membakar pipinya dan amarah yang siap meledak. Seluruh kantin kini memperhatikan mereka, beberapa teman seangkatan Devan bahkan ikut bersorak dan tertawa.

Raina mengepalkan tangannya rapat-rapat. Tanpa menguarkan sepatah kata pun, ia meraih spidol permanen hitam dari dalam tasnya, membuka tutupnya, dan menggoreskan tanda silang besar di papan nama dada Devan.

Poin pelanggaran kedua belas," kata Raina dengan suara sangat pelan namun penuh penekanan, menatap Devan tanpa kedip. "Mengganggu ketertiban umum dan melakukan pelecehan verbal."

Tawa Devan terhenti seketika. Ia menunduk menatap papan namanya yang kini ternoda garis hitam pekat.

"Besok jam tujuh pagi, kamu berdiri di depan gerbang menyambut siswa baru pakai atribut lengkap," lanjut Raina sambil memasukkan laptop ke dalam tasnya. "Satu menit terlambat, aku laporkan langsung ke Guru BK."

Raina berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kantin dengan tegak, sementara Devan hanya bisa melongo menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh. Untuk pertama kalinya, Devan sadar bahwa mempermainkan Raina bukanlah hal yang bisa ia menangkan dengan mudah.

BAB 4: TRAGEDI BASKET DAN KACAMATA

Jam pelajaran olahraga jam terakhir adalah waktu yang paling dihindari Raina. Di saat kelas lain menikmati segarnya angin sore di lapangan, Raina harus bertahan di pinggir lapangan basket sambil mencatat kehadiran dan nilai praktik teman-temannya.

Di tengah lapangan, Devan sedang berada di puncaknya. Mengenakan jersi basket nomor punggung 07, gerakan cowok itu lincah memutar, melempar bola, dan mencetak angka demi angka. Sorak-sorai siswi di tribun membumbung tinggi setiap kali Devan melakukan lay-up. Raina hanya menghembuskan napas lelah, matanya tetap fokus pada lembar penilaian di atas papan jalan.

"Raina! Tahan bolanya!"

Suara teriak Pak Doni, guru olahraga, terdengar tiba-tiba.

Raina mendongak kaget. Sebelum otaknya sempat memproses apa yang terjadi, sebuah bola basket yang terlempar kencang akibat pass Devan yang terpesong menghantam tepat di bagian muka Raina.

Brak!

Dunia Raina serasa berputar. Hidungnya nyeri luar biasa, dan pandangannya langsung berubah menjadi buram dan kabur. Suara keributan memenuhi lapangan, disusul derap langkah terburu-buru yang mendekat ke arahnya.

"Raina! Ya ampun, sori! Kamu gak apa-apa?!" Suara panik Devan terdengar sangat dekat.

Raina terduduk di tanah, tangannya meraba-raba rumput di sekitarnya. "Kacamata... kacamataku mana...?"

"Ini, ini kacamatanya!" Devan memungut benda tersebut, namun raut wajahnya makin pucat saat melihat gagang kacamata itu sudah patah dua dan salah satu kacanya retak seribu. "Aduh, Raina... kacamatanya patah."

Raina mengambil bingkai patah itu dari tangan Devan dengan mata memicing berusaha fokus. Tanpa kacamata minus liternya, wajah Devan di depannya hanya terlihat seperti gumpalan samar berwarna cokelat dan putih.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!