Pagi di kediaman besar keluarga Dirgantara selalu diawali dengan keheningan yang dingin. Rumah bergaya arsitektur modern-klasik yang berdiri megah di kawasan elit Jakarta Selatan itu tampak anggun dari luar, namun terasa membeku di dalam. Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat dinding kaca setinggi lima meter di ruang makan tak mampu melunakkan atmosfer kaku yang menyelimuti meja makan sepanjang tiga meter tersebut.
Di ujung meja, Exel Dirgantara duduk tegap. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu mengenakan kemeja putih yang tergulung rapi hingga siku, menyingkap jam tangan mewah yang melingkar elegan di pergelangan tangannya. Jemarinya yang panjang menari di atas layar tablet bisnis, sementara mata tajamnya yang berwarna cokelat gelap menatap tajam laporan keuangan tanpa berkedip. Tatapan itu—tatapan yang sering kali membuat para direktur berpengalaman gemetar di ruang rapat—kini terarah pada lembaran data angka.
Di seberangnya, Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadi Exel—berdiri tenang dengan setelan jas hitamnya yang rapi. Achmad adalah satu-satunya orang di luar keluarga yang diizinkan berdiri sedekat itu di jam sarapan. Wajahnya yang biasanya dihiasi senyum jenaka kini tampak sedikit menahan diri, memegang berkas tebal di tangannya.
"Exel," suara lembut terdengar dari arah pintu masuk ruang makan.
Seorang wanita paruh baya dengan anggun melangkah masuk. Maria Dirgantara, wanita yang tetap terlihat cantik di usianya yang menginjak lima puluh tahun, berjalan mendekati putra tunggalnya. Di belakangnya, Hendra Dirgantara, sang kepala keluarga, mengikuti dengan koran pagi di tangannya.
Exel langsung mematikan layar tabletnya. Tatapan matanya yang tadi sekeras baja perlahan melunak—sebuah perubahan yang hanya bisa disaksikan oleh dua orang di dunia ini: Mama dan Papanya. Bagi Exel, kedua orang tuanya adalah benteng terakhir dalam hidupnya.
"Pagi, Ma. Pagi, Pa," ucap Exel dengan nada suara yang jauh lebih hangat, meski sisa-sisa ketegangan masih tertinggal di wajahnya.
"Pagi, Sayang. Kamu sudah mau berangkat?" tanya Maria seraya duduk di sebelah Exel. Tangannya terulur mengelus bahu lebar putranya.
"Ada rapat penting jam delapan, Ma. Jadi harus lebih awal," jawab Exel singkat. Ia meraih cangkir porselen berisi black coffee tanpa gula yang sudah disiapkan maid, lalu menyesapnya perlahan.
Hendra melipat korannya dan menaruhnya di samping piring. Pria tua yang masih memiliki wibawa kuat itu menatap Exel dalam-dalam. Saling pandang antara ayah dan anak itu berlangsung beberapa detik sebelum Hendra akhirnya berdeham.
"Kertas yang dipegang Achmad... itu dokumen yang Papa minta kemarin?" tanya Hendra datar.
Achmad melirik Exel sebentar sebelum mengangguk pelan pada Hendra. "Iya, Tuan Besar. Dokumen kesepakatan dan profil keluarga Pramudya sudah siap."
Atmosfer di ruang makan yang tadinya tenang mendadak berubah keruh. Jemari Exel yang memegang cangkir kencang seketika mengetat hingga buku-buku jarinya memutih. Bau kopi yang pekat seolah menghilang, tergantikan oleh rasa pahit yang tiba-tiba memenuhi kerongkongannya.
"Papa sungguhan ingin melanjutkan omong kosong ini?" suara Exel terdengar dalam, dingin, dan penuh dengan penolakan yang tertahan.
"Exel, jaga bahasamuk," tegur Hendra tenang namun tegas. "Ini bukan omong kosong. Ini adalah amanat terakhir dari Kakek dan Nenekmu sebelum mereka meninggal. Wasiat yang sudah ditandatangani oleh dua keluarga besar belasan tahun lalu."
Exel meletakkan cangkirnya ke piring alas dengan bunyi dentang nyaring yang memecah kesunyian. "Wasiat dari belasan tahun lalu yang sama sekali tidak masuk akal! Kita ada di zaman modern, Pa. Kenapa aku harus menikahi seorang gadis yang bahkan belum genap lulus sekolah? Aku bukan alat transaksi bisnis, dan aku tidak butuh pernikahan politik!"
"Ini bukan soal transaksi bisnis, Exel!" potong Hendra, suaranya kini meninggi. "Keluarga Pramudya adalah sahabat terbaik Kakekmu. Ketika perusahaan kita dihantam krisis besar puluhan tahun lalu, mereka yang mempertaruhkan segalanya untuk membantu kita. Janji ini dibuat atas dasar kehormatan!"
"Kehormatan?" Exel terkekeh sinis, sebuah tawa dingin tanpa rasa humor yang membuat Achmad hanya bisa menghela napas pelan di sudut ruangan. "Lalu bagaimana dengan hidupku? Aku tidak mau menikahi orang asing. Aku tidak butuh wanita dalam hidupku."
Karena semua wanita pada akhirnya hanya akan pergi dan meninggalkan luka, batin Exel menjerit sengit.
Memori kelam itu kembali berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Lima tahun lalu, saat ia memberikan seluruh hatinya pada wanita yang ia kira akan menjadi pendamping hidupnya, wanita itu memilih pergi begitu saja saat Exel berada di titik terendahnya. Kepergian yang menyisakan pengkhianatan mendalam, menempanya menjadi pria tanpa perasaan, dingin, dan menolak membuka hati untuk siapa pun. Sejak hari itu, Exel bersumpah tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun masuk ke dalam dunianya lagi.
"Exel..."
Sebuah sentuhan lembut di punggung tangannya menghentikan badai emosi di kepala Exel. Ia menoleh dan menemukan mamanya menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ma..." desis Exel, merasa kebas saat melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata sang ibu.
"Mama mohon, Nak," suara Maria bergetar, sarat akan keputusasaan dan rasa bersalah. "Mama tahu kamu terluka di masa lalu. Mama tahu betapa beratnya kamu bangkit dari masa-masa sulit itu. Tapi tolong... jangan tutup dirimu selamanya. Kakek dan Nenekmu sangat menyayangi kamu. Mendiang Nenek sebelum memejamkan mata hanya ingin melihat cucu tunggalnya bahagia dengan putri dari keluarga Pramudya."
"Tapi Ma, bahagia tidak bisa dipaksa lewat perjodohan," sela Exel pelan, suaranya melunak signifikan, kehilangan seluruh ketajamannya.
"Cobalah dulu, Sayang. Hanya itu yang Mama minta," Maria menggenggam erat kedua tangan Exel, menyatukan jemarinya. "Keluarga Pramudya orang baik-baik. Gadis itu... dia anak yang baik. Mama tidak minta kamu langsung mencintainya besok. Mama cuma minta kamu menerima perjodohan ini demi menghormati keputusan Kakek dan Nenek. Kalau kamu sangat menyayangi Mama dan Papa... tolong kabulkan permintaan ini. Ini mungkin permintaan terakhir Mama yang paling besar."
Mata Exel terpaku pada raut wajah ibunya. Ia bisa menolak ribuan direktur, mematikan karier kompetitor bisnisnya dalam semalam, atau menatap musuhnya dengan pandangan membunuh. Namun, di hadapan air mata wanita yang telah melahirkannya ini, seluruh pertahanannya hancur berkeping-keping.
Exel memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya terasa sesak oleh pergulatan batin yang membakar. Rasa trauma, kemarahan, serta kepatuhan bercampur menjadi satu adonan yang menyiksa.
Achmad yang memperhatikan dari samping hanya bisa membuang napas halus. Ia sangat tahu trauma berat yang dipikul sang sahabat. Namun ia juga tahu, Exel tidak akan pernah sanggup melukai perasaan Maria.
Setelah beberapa detik yang terasa bagai keabadian, Exel membuka matanya kembali. Tatapannya kini kosong, namun pasrah.
"Baik," ucap Exel dengan suara serak. "Aku terima."
Maria menghela napas lega, senyum haru langsung terbit di wajahnya yang cemas. "Benarkah, Exel? Kamu serius?"
"Ya," lanjut Exel kaku. "Tapi ada syaratnya. Jika dalam waktu enam bulan kami tidak cocok dan pernikahan ini hanya membawa masalah, aku berhak mengakhiri segalanya tanpa campur tangan siapa pun. Dan Papa tidak boleh memaksa lagi."
Hendra menatap putranya sejenak, lalu mengangguk mantap. "Setuju. Enam bulan. Itu lebih dari cukup."
Exel berdiri dari kursinya, merapikan jasnya dengan sekali usakan kencang. Ia memandang Achmad. "Achmad, atur ulang jadwalku. Kita berangkat sekarang."
"Baik, Bos," jawab Achmad sigap. Sebelum melangkah mengekor Exel, Achmad sempat membungkuk sopan pada Hendra dan Maria. "Saya permisi dulu, Tuan, Nyonya."
Saat berjalan melewati lorong menuju garasi, Achmad memajukan langkahnya hingga sejajar dengan Exel. Dengan cengiran khasnya yang mulai muncul, ia menepuk pelan bahu bosnya itu.
"Sengklek juga ya pikiran lu, Cel. Terima perjodohan demi Mama, tapi mukanya kek mau melayat begitu," celeduk Achmad santai, menghilangkan formalitas mode asistennya karena kini hanya ada mereka berdua.
Exel menghentikan langkahnya tepat di depan mobil Rolls-Royce hitamnya, lalu menoleh lambat-lambat. Tatapan matanya menusuk tajam, seolah bisa melubangi dahi Achmad saat itu juga.
"Lu mau gua potong gaji atau gua lempar ke anak perusahaan di Papua?" ancam Exel dingin tanpa nada bercanda.
Achmad tertawa pelan seraya mengangkat kedua tangannya membentuk tanda damai. "Eits, santai Pak CEO! Jangan kejam-kejam begitu sama asisten pribadi tercinta yang selalu membereskan kekacauanmu. Gua cuma mau bilang, siapa tahu gadis pilihan kakek lu ini beda dari trauma masa lalu lu. Siapa tahu dia malah bisa bikin hidup lu yang lempeng kayak garis kuburan ini jadi agak berwarna."
"Gua gak butuh warna," tukas Exel kaku sambil membuka pintu mobil. "Gua cuma butuh perjodohan ini selesai secepatnya."
Sementara itu, di sudut lain kota Jakarta, suasana yang sama sekali berbeda terpancar di sebuah kediaman megah berarsitektur tropis milik keluarga Pramudya. Jika rumah Exel terasa bagaikan istana es yang hening, maka rumah ini terasa bagaikan pasar kaget di pagi hari.
"ALEXA! AYO BANGUN! SUDAH JAM BERAPA INI, SAYANG?!"
Suara lengkingan nyaring terdengar dari arah lantai dua. Ibu Sarah, wanita paruh baya berpenampilan anggun namun memiliki suara super mantap, berdiri di depan pintu kamar anak gadisnya sambil memegang sodet kayu.
Di dalam kamar berornamen serba pastel pink dan dipenuhi boneka beruang, sebuah gulungan selimut tebal bergerak-gerak gelisah. Dari dalam gulungan itu, muncul seikat rambut cokelat bergelombang yang berantakan, disusul oleh wajah mungil dengan pipi kemerahan yang menggemaskan.
"Aaaaa, Mamaaa! Lima menit lagiii! Alexa masih ngantuk banget!" jerit gadis itu dengan suara cempreng khasnya yang melengking hingga menembus langit-langit kamar.
Gadis itu adalah Alexa Pramudya. Murid kelas tiga SMA yang memiliki paras cantik bak bidadari mungil, lengkap dengan mata bulat berbinar dan bibir tipis yang jarang sekali berhenti berbicara. Namun, di balik penampilannya yang seperti boneka porselen, Alexa adalah definisi hidup dari kata 'heboh'.
"Tidak ada lima menit lima menitan!" Ibu Sarah melangkah masuk, menyibak selimut Alexa tanpa ampun. "Hari ini kamu harus bangun lebih awal. Papa mau bicara hal sangat penting sebelum kamu berangkat sekolah!"
"Bicara apa sih, Ma? Soal Alexa yang ketahuan beli boba tiga gelas sehari kemarin? Kan udah Alexa jelaskan, yang dua gelas itu punya Rin sama Safi!" oceh Alexa panjang lebar tanpa jeda sambil mendudukkan dirinya kaku di atas kasur, matanya masih terpejam setengah.
"Bukan soal boba, Alexa! Ini soal masa depan kamu!" tegas Sarah gemas sambil menarik tangan mungil anaknya agar berdiri. "Cepat mandi! Kalau dalam sepuluh menit kamu belum turun ke meja makan, Mama sita uang jajanmu seminggu!"
Kata 'sita uang jajan' bekerja bagaikan sihir instan. Mata bulat Alexa seketika terbuka lebar. "EHH! Jangan dong Mama cantikku tersayang! Ini Alexa langsung terbang ke kamar mandi!"
Dengan gerakan serabutan, Alexa meloncat dari tempat tidur, hampir tersandung karpet berbulu miliknya sendiri, lalu berlari kencang menuju kamar mandi sambil terus berceloteh tidak jelas.
Limabelas menit kemudian, Alexa sudah rapi dengan seragam SMA-nya. Rok abu-abu di atas lutut sedikit, kemeja putih bersih, dan rambut panjangnya yang dikuncir kuda acak-acakan. Ia menuruni tangga dengan melompat dua anak tangga sekaligus, membuat para pelayan di rumah itu mengurut dada cemas.
"Pagi Papaku yang tampan tiada tara!" sapa Alexa heboh seraya mendaratkan kecupan manis di pipi pria paruh baya yang sedang menikmati teh hangatnya di meja makan.
Surya Pramudya, ayah Alexa, hanya bisa tertawa terkekeh melihat tingkah anak gadis semata kecantikannya itu. "Pagi, Bidadari Kecil Papa. Duduk dulu, makan rotimu."
Alexa duduk manis di kursinya, meraih selembar roti tawar dan mengoleskan selai cokelat dengan tebal. "Ma, Pa, memangnya ada hal penting apa sih sampai Mama teriak-teriak kek pakai toa masjid pagi-pagi gini? Padahal suara Alexa yang cempreng ini aja udah cukup buat bangunin tetangga sebelah tahu!"
Sarah yang baru duduk di samping suaminya hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini, kalau ngomong gak ada titik komanya sama sekali. Coba tenang dulu."
Surya meletakkan cangkir tehnya, menatap anak gadisnya dengan tatapan penuh kasih sayang sekaligus kecemasan. "Alexa... Papa dan Mama mau bicarakan hal serius soal janji keluarga kita."
"Janji keluarga? Janji apaan, Pa? Kita mau liburan ke Korea ya? Asikkk! Nanti Alexa mau minta beliin album baru idol kesukaan Alexa!" seru Alexa antusias, matanya berbinar-binar gembira.
"Bukan liburan, Alexa," potong Surya lembut namun pelan. "Ini soal perjodohan."
Uhuk!
Alexa yang baru saja menggigit rotinya seketika tersedak hebat. Wajahnya memerah. Dengan sigap Sarah menyodorkan segelas air putih yang langsung ditenggak habis oleh Alexa dalam sekali teguk.
"APA?! PERJODOHAN?!" jerit Alexa dengan suara cemprengnya yang naik dua oktaf, membuat vas bunga kecil di tengah meja makan seolah bergetar. "Pa! Ma! Alexa ini masih SMA! Masih anak sekolah! Kenapa udah mau dijodohin aja?! Alexa belum mau nikah! Alexa masih mau main sama teman-teman, mau kuliah, mau ngejar cita-cita!"
"Dengar dulu penjelasan Papa, Sayang," ujar Surya menenangkan, memegang tangan kecil Alexa yang mulai gemetar panik. "Ini adalah amanat mendiang Kakekmu. Dulu, Kakek dan sahabat karibnya—Kakek dari keluarga Dirgantara—membuat janji untuk menyatukan keluarga kita melalui pernikahan cucu-cucu mereka."
"Keluarga... Dirgantara?" beo Alexa, dahinya berkerut mencoba mengingat-ingat. "Dirgantara yang punya perusahaan raksasa itu? Yang sering masuk TV?"
"Iya, Nak," jawab Sarah lembut. "Calon suamimu adalah Exel Dirgantara. Dia sudah dewasa, sangat sukses, dan berasal dari keluarga yang sangat terpandang."
"Tapi Ma! Umur dia pasti jauh lebih tua dari Alexa! Jangan-jangan dia bapak-bapak berkumis tebal yang galak?!" racau Alexa panik, membayangkan sosok pria tua mengerikan dengan wajah ditekuk. "Alexa gak mau dijodohin sama om-om!"
Surya tertawa kecil mendengar imajinasi liar putrinya. "Dia bukan om-om, Alexa. Dia pria muda yang sangat tampan dan cerdas. Memang umurnya dua puluh delapan tahun, tapi dia orang yang sangat bertanggung jawab."
"Tua sepuluh tahun dari Alexa!" sahut Alexa tidak terima, memanyunkan bibirnya hingga beberapa sentimeter ke depan. "Pa, please... batalin ya? Masa Alexa yang imut, lucu, dan manis tiada tara gini harus menikah muda? Nanti apa kata Rin, Safi, sama Melati kalau tahu aku dijodohin?!"
"Gak bisa dibatalkan, Alexa," tegas Sarah dengan nada yang tak terbantahkan. "Keluarga Dirgantara sudah sangat banyak membantu keluarga kita dulu. Menolak janji ini sama saja menodai nama baik mendiang Kakekmu. Lagipula, pertemuan keluarga pertama akan diadakan besok malam."
"BESOK MALAM?!" Alexa menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan, merosotkan tubuh mungilnya di atas kursi seolah-olah tulang-tulangnya baru saja diloloskan. "Dunia mau kiamat ya Allah... Kenapa hidup Alexa yang tenang ini tiba-tiba berubah jadi drama sinetron Indosiar?!"
"Sudah, jangan berlebihan begitu," kata Sarah gemas sambil mencubit pelan pipi tembam Alexa. "Sekarang habiskan sarapanmu, lalu berangkat sekolah. Sopir sudah menunggu di depan."
Alexa menghela napas berat yang terdengar sangat mendramatisir. Ia mengunyah rotinya tanpa selera lagi. Otak kecilnya berputar cepat, mencoba mencerna kenyataan pahit bahwa masa remajanya yang indah kini terancam oleh sebuah ikatan bernama perjodohan dengan pria bernama Exel Dirgantara.
Awas aja ya yang namanya Exel itu! Kalau dia berani jahat atau kaku sama aku, aku bakal bikin hidup dia gak tenang pakai suara cemprengku ini! batin Alexa bersumpah serapah sendiri.
Tanpa Alexa tahu, pria yang baru saja ia kutuki di dalam hati itu adalah sosok dingin yang membenci kebisingan melebihi apa pun di dunia ini. Dan takdir telah memutuskan untuk mempertemukan dua kutub yang saling bertolak belakang itu dalam satu pusaran drama yang sama.
Pagi itu, lalu lintas kota Jakarta seperti biasa: padat dan merayap. Di dalam mobil sedan hitamnya yang terparkir kaku di tengah kemacetan, Exel Dirgantara memijat pangkal hidungnya. Napasnya terengah halus, menahan kekesalan yang mulai membakar dada.
"Gua heran, kenapa jam segini jalanan bisa seramai ini," gumam Exel dingin.
Achmad, yang duduk di kursi pengemudi, hanya menyeringai kecil. "Ya namanya juga jam berangkat sekolah sama kantor, Cel. Mau sampai kapan lu mau nyumpahin kemacetan?"
Belum sempat Exel membalas, tiba-tiba dari arah samping kiri, sebuah sepeda motor matic berwarna merah menyala memotong jalan mobil mewah mereka dengan sangat ceroboh!
CITTTT!
Achmad menginjak rem secara mendadak. Kepala Exel sempat terhentak ke depan sebelum akhirnya ia kembali tegap dengan wajah yang sangat merah padam. Mata cokelat gelapnya berkilat penuh amarah.
Di luar, pengendara motor matic itu—seorang gadis mungil dengan seragam SMA dan helm bogo berbentuk telinga beruang—menghentikan motornya tepat di depan kap mobil Exel. Gadis itu melepas kaca helmnya, lalu menoleh ke belakang sambil berkacak pinggang.
"WOI! BISA NYETIR GAK SIH?! MAIN REM MENDADAK AJA! UNTUNG GAK SAYA TABRAK!" jerit gadis itu dari balik helmnya. Suara cemprengnya bahkan sanggup menembus kaca kedap suara mobil Rolls-Royce milik Exel.
Exel membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan aura membunuh yang begitu pekat. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang membayangi tubuh mungil gadis di atas motor tersebut.
"Kamu yang memotong jalan sembarangan," ucap Exel dengan suara datar, dingin, dan sangat menakutkan. "Punya mata tidak?"
Gadis itu—yang tak lain adalah Alexa—mendongak. Saat menatap wajah Exel yang tampan namun sekeras batu es itu, bukannya takut, Alexa justru makin meradang karena merasa diremehkan oleh postur tubuh pria di depannya.
"Ehh! Mas-mas Es Batu! Jelas-jelas kamu yang hampir nabrak saya dari belakang! Udah tinggi, kaku, muka kaya kanebo kering lagi! Gak ada ramah-ramahnya sama anak sekolah!" cerocos Alexa tanpa jeda dengan suara cempreng khasnya yang bikin telinga berdengung.
Exel mengepalkan tangannya. Kanebo kering? Es batu? Pria ini belum pernah dihina seumur hidupnya oleh seorang budak SMA!
"Jaga bicaramu, Bocah Cempreng," balas Exel kaku, matanya menatap tajam. "Kalau motor mu lecet, saya bisa beli sepuluh motor seperti itu sekarang juga. Jangan cari masalah di jalanan."
"Ih! Dasar Pria Beruang Es sombong! Muka seram kaya mau mangsa orang! Hih, amit-amit!" Alexa menjulurkan lidahnya dengan sangat kekanak-kanakan, lalu segera menggas motornya meninggalkan lokasi sebelum Exel sempat membalas lagi.
Achmad yang akhirnya keluar dari mobil hanya bisa menahan tawa sampai perutnya kaku. "Anjir, Cel... baru kali ini gua lihat ada cewek SMA berani ngatain lu 'kanebo kering' di depan muka lu langsung!"
"Diam lu, Achmad," potong Exel tajam, menatap kepulan asap motor Alexa yang makin menjauh. "Cewek aneh. Bikin merinding."
Sementara itu di kantin SMA, suasana mendadak riuh rendah.
"KORBAN BEGAL MUKA ES BATU!" teriak Alexa heboh sambil menggebrak meja kantin, membuat tiga sahabatnya yang sedang menikmati es teh hampir tersedak bersamaan.
"Aiyo, Alexa! Kau ni dah kenape? Datang-datang terus teriak macam nak kiamat!" tegur Safi dengan logat Melayu khasnya yang kental, sambil mengusap dadanya yang terkejut.
"Tau nih, makin pagi makin cempreng aja itu suara. Untung gendang telingaku buatan Jepang, jadi kuat," sahut Rin Mashita seraya menyesap jusnya tenang, menampakkan paras cantiknya yang oriental.
Melati, gadis berdarah Arab-Indo dengan mata indahnya yang lebar, ikut memiringkan kepala. "Ada apa sih, Ca? Kamu ditembak kakak kelas lagi?"
"Bukan!" Alexa duduk dengan menyebalkan, merebut es teh milik Melati lalu meminumnya sampai kandas. "Tadi di jalan, aku hampir ditabrak sama cowok aneh! Muka kaku, tinggi kaya tiang listrik, tatapannya itu loh... seram banget kaya mau makan orang hidup-hidup! Pokoknya dia itu Pria Beruang Es paling menyebalkan se-dunia!"
Rin terkekeh pelan. "Ya ampun, cuma gara-gara papasan sama orang galak aja kamu hebohnya sampai ke ubun-ubun."
Alexa sengaja tidak menceritakan soal masalah perjodohan yang dikatakan orang tuanya tadi pagi. Ia terlalu malu dan takut diejek oleh ketiga sahabatnya jika tahu ia akan dijodohkan di usia SMA. Jadi, ia memilih menyimpan rahasia besar itu rapat-rapat untuk sementara waktu.
"Pokoknya kalau aku ketemu sama Si Es Batu itu lagi, bakal aku kempesin ban mobilnya!" ancam Alexa sambil mengunyah cirengnya dengan penuh dendam.
Di waktu yang bersamaan, di ruang kerja megah di lantai paling atas Dirgantara Group...
Exel melemparkan jasnya kaku ke atas sofa. Pria itu berdiri di tepi jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan pencakar langit Jakarta, sementara tangannya mengepal kencang.
Achmad masuk membawa secangkir kopi hitam hangat. "Nih, minum dulu Bos. Dari tadi mukanya ditekuk terus, ntar kerutannya nambah."
Exel menerima cangkir itu tanpa mengalihkan pandangannya dari luar. "Gua makin muak sama dunia ini, Mad."
"Lah, kenapa lagi? Soal perjodohan nanti malam?"
"Bukan cuma itu," desis Exel dingin. "Tadi pagi gua ketemu cewek paling aneh dan paling tidak bermoral seumur hidup gua. Suaranya cempreng kaya kaleng rombeng, pendek, pendekar amatir, dan gak punya sopan santun sama sekali."
Achmad langsung tertawa lepas. "Oalah, Bocah Cempreng yang tadi pagi? Lagian lu nanggapinnya serius amat, Cel. Dia kan cuma anak SMA yang panik."
"Dia nyebut gua 'Kanebo Kering', Mad," potong Exel, tatapannya makin tajam membunuh. "Gua harap gua gak bakal pernah ketemu lagi sama cewek aneh itu seumur hidup gua. Satu detik dengar suaranya aja bikin kepala gua mau pecah."
Achmad hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Tanpa mereka berdua sadari, takdir sedang tertawa geli di atas sana—menyiapkan kejutan manis sekaligus pahit untuk acara makan malam perjodohan mereka nanti malam.
Suasana di restoran fine dining bergaya Prancis itu terasa sangat eksklusif dan tenang. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram memantulkan kemewahan di atas meja panjang yang sudah tertata rapi dengan peralatan makan perak. Di sudut ruangan, alunan musik instrumen piano terdengar lembut, mengiringi percakapan hangat antara keluarga Dirgantara dan keluarga Pramudya.
Hendra Dirgantara dan Surya Pramudya tampak asyik mengobrolkan kenangan masa lalu mendiang kakek mereka, sementara Maria dan Sarah terlihat sangat akrab membicarakan gaun dan perhiasan.
Exel duduk di kursinya dengan setelan jas hitam elegan buatan penjahit Italia. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, seolah-olah ia sedang menghadiri rapat akuisisi perusahaan alih-alih makan malam perjodohan. Di sebelahnya, Achmad duduk tenang—menghadiri acara sebagai asisten pribadi sekaligus perwakilan keluarga—sambil sesekali menikmati jus jeruknya.
"Exel," bisik Maria lembut sambil menyenggol pelan lengan putranya. "Tersenyumlah sedikit. Calon tunanganmu sebentar lagi datang bersama mamanya yang tadi sedang dari toilet."
Exel hanya menghela napas tipis, sama sekali tidak berniat mengubah ekspresi kaku di wajahnya. Bagi Exel, siapa pun gadis yang akan melangkah masuk lewat pintu itu tidak akan mengubah fakta bahwa ia terpaksa berada di sini.
Tak lama kemudian, pintu ruang privat restoran itu terbuka. Sarah melangkah masuk terlebih dahulu, disusul oleh seorang gadis mungil yang mengenakan dress pastel merah muda yang sangat anggun. Rambut bergelombangnya terurai rapi, dan wajahnya tampak cantik alami bak boneka porselen.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat gadis mungil itu mendongak dan matanya bertabrakan langsung dengan mata cokelat gelap milik Exel, waktu seolah berhenti seketika.
Mata bulat milik Alexa melotot sempurna. Kakinya membeku di atas karpet mahal. Di seberang meja, Exel yang biasanya selalu tenang dan terkontrol, mendadak menegakkan tubuhnya dengan mata menyipit tajam.
"SI ES BATU KANEBO KERING?!" jerit Alexa reflek dengan suara cemprengnya yang melengking hingga mengalahkan alunan musik piano di ruangan itu.
"CEWEK ANEH CAMPRENG?!" balas Exel tidak kalah reflek, berdiri dari kursinya dengan wajah yang seketika mengeras.
PRANG!
Gelas teh yang sedang dipegang Surya Pramudya hampir saja merosot dari jemarinya. Keheningan yang sangat canggung mendadak menyelimuti seluruh ruangan. Ibu Sarah menutup mulutnya karena terkejut, sementara Maria dan Hendra saling pandang dengan dahi berkerut dalam.
Achmad yang duduk di samping Exel bahkan sampai tersedak jus jeruknya sendiri. Ia terbatuk-batuk kecil sambil menatap Exel dan Alexa bergantian dengan mata berbinar antusias. Ini plot twist paling gila se-Jakarta! batin Achmad terbahak.
"Alexa! Jaga bahasamu!" tegur Sarah dengan bisikan tajam namun penuh penekanan. "Apa-apaan kamu menyebut calon suamimu dengan sebutan seperti itu?!"
"Exel, ada apa ini? Kenapa kamu berteriak begitu?" Hendra menatap putranya dengan nada penuh selidik.
Maria memandangi Exel dan Alexa secara bergantian dengan tatapan curiga yang sangat kentara. Sebuah senyuman tipis yang penuh tanda tanya terbit di bibirnya. "Tunggu... kalian berdua... sudah saling kenal sebelumnya?"
"TIDAK!"
Alexa dan Exel menjawab secara bersamaan dengan nada tegas, kompak, dan penuh penolakan yang membumbung tinggi.
Jawaban yang terlalu serentak itu justru membuat kecurigaan di mata kedua orang tua mereka makin menjadi-jadi.
Surya menyandarkan punggungnya di kursi, memandangi putri semata pembawa ulahnya itu dengan mata menyipit. "Kalian bilang tidak kenal, tapi baru saja kalian menyebut nama panggilan yang sangat... spesifik. Es batu kanebo kering? Cewek aneh cempreng? Itu bukan sebutan untuk orang yang baru pertama kali bertemu, kan?"
Wajah Alexa mendadak memerah padam karena malu sekaligus panik. Ia menyenggol lengan mamanya sambil berbisik panik, "Ma... ini benaran om-om galak yang mau dijodohin sama Alexa? Dia ini cowok aneh yang hampir nabrak Alexa tadi pagi!"
Exel mengeraskan rahangnya, menatap Achmad dengan tatapan membunuh saat mendengar kata 'om-om' lagi dari bibir cempreng gadis itu.
"Dia anak sekolah yang tidak punya sopan santun, Pa," potong Exel dingin, mencoba menguasai keadaan kembali meski dadanya gemuruh oleh kekesalan. "Tadi pagi dia memotong jalan mobil saya secara ceroboh dengan motornya. Hanya insiden kecil di jalanan."
"Ooh... jadi kalian sudah bertemu tadi pagi di jalan?" goda Maria dengan binar mata bahagia yang tidak bisa disembunyikan. Ia menatap Sarah sambil tersenyum lebar. "Sarah, sepertinya takdir memang sudah mengatur pertemuan mereka lebih cepat dari rencana kita!"
"Iya, Maria! Ternyata mereka memang sudah punya chemistry tersendiri ya, walau agak sedikit... heboh," sahut Sarah terkekeh gembira, sama sekali tidak menghiraukan raut wajah Alexa yang sudah seperti mau menangis.
"Ih, Mama! Chemistry dari mana?! Dia itu galak banget, Ma! Tadi pagi aja mau beli sepuluh motor cuma buat nyombong!" protes Alexa heboh, tangannya bertengger di pinggang tanpa sadar.
Exel mengepalkan tangannya di balik saku celana, berusaha keras menahan diri agar tidak meledak di depan orang tuanya. "Papa, Mama, saya rasa perjodohan ini—"
"Duduk, Exel," pangkas Hendra dengan suara berat yang tak tertahankan. "Kalian berdua duduk sekarang. Kita nikmati makan malam ini dulu."
Alexa mengerucutkan bibirnya dalam-dalam, lalu duduk di kursi yang berseberangan langsung dengan Exel. Selama acara makan malam berlangsung, suasana terasa sangat absurd. Para orang tua asyik tertawa dan membicarakan rencana pernikahan yang makin dimatangkan, sementara dua sejoli di hadapan mereka saling melempar tatapan permusuhan secara sembunyi-sembunyi.
Setiap kali Exel menatap kaku ke arah depan, Alexa akan menjulurkan lidahnya tipis atau membuat muka mengejek. Dan setiap kali Alexa mulai berceloteh cempreng pada mamanya, Exel akan mendengus dingin seraya meminum air putihnya dengan penuh penekanan.
Di sudut meja, Achmad hanya bisa tersenyum puas menyaksikan penderitaan sahabatnya. Selamat menikmati masa depanmu, Exel Dirgantara. Hidupmu yang sepi sebentar lagi bakal berubah jadi arena wahana permainan! batin Achmad tertawa riang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!