Rasa sakit itu bukan berasal dari luka fisik di pelipisku, melainkan dari hancurnya hati yang telah lama ku pendam. Aku terbaring di lantai kamar mandi mewah rumahku sendiri, darah merembes perlahan, membentuk genangan kecil di antara ubin putih yang dulu kubersihkan dengan bangga. Di luar sana, suara tawa renyah terdengar samar-samar. Tawa Fadli. Suamiku. Pria yang kucintai buta selama lima tahun. Dan di sampingnya, suara lembut Nia. Asisten pribadi yang selalu kuanggap seperti adik sendiri.
"Sudahlah, Li. Dia itu lemah. Jantungnya memang nggak kuat," kata Nia, suaranya penuh kepura-puraan sedih yang membuat perutku mual.
"Lagian, siapa suruh dia terlalu banyak tanya-tanya soal rekening perusahaan? Kan sudah dibilangin biar jangan ikut campur urusan bisnis."
" sudah Diam saja Nia. Biar kan dia mati di sini. Toh, asuransi jiwa atas namanya sudah cair bulan depan. Kita bebas," jawab Fadli dingin. Tanpa sedikit pun rasa bersalah. Tanpa sedikit pun sisa cinta. Hanya kalkulasi keuntungan.
Hati ku hancur lebih parah daripada tubuhku. Penyesalan terbesar dalam hidupku bukan karena akan mati, tapi karena telah membuang hidup ku untuk manusia sampah seperti mereka. Aku langsung teringat pada Arya.dia Pria baik yang selalu ada di sisiku saat aku susah, namun aku tolak karena kesetiaan buta pada Fadli.
andai saja aku bisa mengulang waktu... pikirku terakhir kali sebelum kegelapan total menelan segalanya.
"Glek!"
Aku tersentak bangun, napasku memburu seolah-olah baru saja lari maraton. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Jantungku berdegup begitu kencang,rasanya hampir melompat keluar dari dadaku. Mataku terbuka lebar-lebar. Bukan langit-langit kamar mandi kotor itu yang kulihat, melainkan lampu kristal mewah di kamar tidur utama. Cahaya matahari pagi menyelinap lewat gorden putih, menciptakan suasana tenang dan damai.
"Ini... surga?" gumamku, dengan suara serak.
aku mulai Meraba-raba tubuhku. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit. Kulitku masih terasa halus dan kencang. aku kemudian Bangkit dari tempat tidur dan berlari ke depan cermin besar di sudut kamar.disana aku melihat Wajahku yang menatap balik tapi disana adalah wajah Siren lima tahun lalu. Lebih muda, lebih bersinar, tanpa kerutan stres di dahi.
"Nona Muda? Apa Anda baik-baik saja?" suara Mbak Yati, dia adalah pembantu rumah tangga disini, suara iti terdengar dari balik pintu. "Sarapannya sudah siap. Tuan Fadli sudah menunggu di meja makan."
FADLI
Nama itu.
Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Rasa marah, jijik, dan sakit yang tertahan bertahun-tahun di kehidupan sebelumnya meluap kembali. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada kejelasan.aku Melihat kalender di dinding. 17 Agustus 2021. Hari ulang tahun pernikahan ketiga. Hari di mana Fadli memberiku kalung palsu sambil berpura-pura romantis, padahal malam harinya dia pergi 'meeting' dengan Nia di hotel bintang lima.
Senyum tipis ku terbentuk, tapi dibalik senyuman itu penuh tekad baja. Di kehidupan sebelumnya, aku menangis seharian karena merasa tidak dihargai. Kali ini? aku Akan membuat Fadli menyesal telah lahir ke dunia ini.
"Aku baik-baik saja Mbak Yati," jawabku dengan suara stabil yang mengejutkan diri sendiri. "Tolong siapkan baju kerja saya Yang merah ya."
"Yang merah, Nyonya? Bukannya Nyonya lebih suka warna pastel? Tuan Fadli kan bilang warna merah terlalu mencolok buat istri manajer," tanya Mbak Yati bingung.
"Hari ini aku ingin terlihat berani," jawab tegas.
aku Berjalan menuju lemari pakaian. Tanganku gemetar bukan karena takut, tapi merasa tegang,aki Membuka laci rahasia—laci yang di kehidupan sebelumnya baru ditemukan setelah Fadli meninggal. Di sana, tersimpan buku catatan kecil milik Fadli. aku Membukanya. Halaman pertama berisi daftar kode rekening bank rahasia Fadli. Halaman kedua berisi jadwal pertemuan rahasianya dengan Nia.
"Tidak kali ini," bisikku pelan. Mata ku menatap tajam ke arah foto pernikahan di dinding.
"Kali ini, akulah yang akan memegang kendali."
Ponsel ku tiba-tiba berdering. Nama Fadli ❤️ muncul di layar. Dulu, nama itu membuatku tersenyum. Sekarang, sudah membuatku ingin muntah. dengan perlahan aku Mengangkat telepon.
"Ya, Sayang?"
"Ren, kamu sudah bangun? Aku sudah di bawah. Cepat ya, nanti kita terlambat ke kantor," suara Fadli terdengar manis, manipulatif. Seperti racun yang dibungkus madu.
"Aku baru bersiap siap. Oh ya, Fadli," tambahkan, suara datar.
"Jangan lupa cek email pribadi kamu. Ada file penting yang mungkin... bocor."
Ada keheningan di seberang sana.
"Apa maksudmu, Ren? Kamu ngomong apa sih pagi-pagi?"
"Nggak apa-apa. cuma ber Canda Sampai jumpa di bawah." aku Menutup telepon. aku Tahu Fadli pasti sedikit panik. Karena pagi ini, di kehidupan sebelumnya, Fadli memang menerima email peringatan dari hacker anonim. Email itu berisi bukti awal perselingkuhannya.
Aku mulai Memakai gaun merah. Gaun yang dulu disimpan karena Fadli bilang
"terlalu mencolok".
Hari ini, aku akan memakainya sebagai armor. Sebagai simbol bahwa Siren yang lama telah mati, dan Siren yang baru telah lahir.
aku melangkah Turun ke ruang makan.di sana Fadli sudah duduk dengan wajah cemas. Matanya terus melirik ponselnya. Saat dia melihatku, matanya langsung membelalak kaget.
"Wah... kamu cantik sekali hari ini, Ren. Tapi...kenapa kamu pakai baju warna merah? Kamu yakin mau pakai baju warna merah? Nanti orang-orang di kantor ngomongin kamu lho," puji Fadli, mencoba mengalihkan perhatian sekaligus memberi kritik terselubung.
aku perlahan Duduk di hadapannya,dan menuangkan kopi dengan tangan stabil.
"Terima kasih, Sayang. Kamu juga terlihat... gugup. Ada masalah di kantor? Atau ada email masuk yang bikin kamu nggak bisa fokus makan?"
Fadli tertawa gugup, tangannya gemetar saat mengambil roti.
"Nggak kok,Kamu kok tiba-tiba nanyain email? Emangnya kamu tahu sesuatu ?"
aku menatap mata Fadli dalam-dalam.aku Bisa melihat kebohongan di sana. Bisa melihat ketakutan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa berkuasa.
"Makanlah, Sayang," kata ku sambil menyodorkan piring roti bakar.
"Kita punya banyak hal untuk dibahas nanti. Tentang masa depan kita. Tentang... kejujuran."
Fadli menelan ludah nya keras. Dia tidak tahu bahwa "masa depan" yang dimaksud Siren adalah masa depan di mana dia tidak ada di dalamnya.
"Ren, kamu hari ini aneh banget. Biasanya kamu cuma diam saja kalau aku ngomong," keluh Fadli, mencoba mengembalikan dinamika lama di mana Siren adalah pendengar pasif.
"Aneh? Mungkin karena aku sadar kalau diam itu nggak menyelesaikan masalah, Fadli. Lagian, aku kan istrimu. Harusnya aku peduli sama apa yang kamu lakukan, kan?" balas Siren dengan senyum manis yang menyembunyikan racun.
Fadli mengerutkan kening, jelas tidak nyaman dengan perubahan ini.
"Oke, oke. Terserah kamu deh. Eh, btw, malam ini aku ada meeting penting sama klien. Jadi nggak bisa rayain anniversary kita secara proper. Kamu ngerti kan?"
"Meeting?" Siren pura-pura berpikir sejenak. "Oh, meeting di Hotel Grand Mercure ya? Sama Nia? Atau ada klien lain yang namanya Nia juga?"
Wajah Fadli langsung pucat pasi. Roti di tangannya hampir jatuh.
"K-Kamu tahu dari mana?! Ren, jangan ngaco! Itu meeting beneran!"
Siren tertawa kecil, tawa yang terdengar renyah tapi membuat bulu kuduk berdiri.
"Aku cuma asal nebak, Sayang.reaksi Kamu kok berlebihan gitu? Apa... ada yang kamu sembunyikan?"
"T-Tidak! Aku cuma kaget kamu bisa nebak lokasi meeting-ku!" Fadli membela diri, keringat dingin mulai muncul di dahinya.
"Yah, kalau begitu, selamat meeting-nya, Sayang. Jangan lupa pakai pengaman. Bukan kondom, tapi pengaman data perusahaan. Siapa tahu ada yang iseng kirim email aneh ke laptop kamu,"
goda Siren sambil berdiri, mengambil tasnya.
"Aku duluan ya. Mobil jemputan sudah di depan."
"Ren! Tunggu! Kita belum bahas soal hadiah anniversary!" seru Fadli panik, berusaha menahan Siren pergi.
aku berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan dingin.
"Hadiah? Oh, kalung emas palsu yang kamu beli di pasar gembrong itu? Simpan saja buat Nia. Aku nggak butuh barang murahan lagi, Fadli. Aku butuh kejujuran. Dan sayangnya, stok kejujuran di rumah ini sepertinya habis."
Fadli terpaku, mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan, dia kehilangan kendali atas istrinya.
aku berjalan keluar rumah dengan langkah tegap. Udara pagi terasa segar di paru-paru. Di mobil, sopir pribadi membuka pintu.
"Selamat pagi, Nyonya Siren. Ke kantor seperti biasa?" tanya sopir.
"Bukan, Pak Budi. Antar saya ke Wijaya Tower," perintah ku dengan suara mantap.
"Wijaya Tower? Itu kantor PT Wijaya Group, Nyonya. Bukannya Nyonya nggak punya urusan bisnis di sana?" Sopir terlihat bingung.
"Sekarang ada," jawab Siren singkat.
"Dan Pak Budi, tolong jangan bilang Tuan Fadli kemana saya pergi. Anggap saja ini urusan pribadi."
"Baik, Nyonya."
Mobil melaju mulus menuju pusat bisnis Jakarta. Siren menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit. Di kehidupan sebelumnya, dia hanya menjadi pajangan di rumah Fadli. Kali ini, dia akan menjadi ratu di dunianya sendiri.
Ponsel ku kembali bergetar. ada Pesan masuk dari nomor tak ku kenal.
"Nyonya Siren, saya Arya Wijaya. Saya menerima permintaan pertemuan mendadak dari Anda jam 9 pagi ini. Saya harap ini bukan lelucon. Waktu saya sangat berharga."
aku pun tersenyum. Arya adalah Pria yang di kehidupan sebelumnya aku abaikan. Pria yang ternyata telah lama memperhatikan kecerdasan dan ketangguhan ku dari jauh.
aku langsung Membalas pesan itu dengan cepat
"Bukan lelucon, Tuan Arya. Ini adalah proposal bisnis yang akan mengubah hidup Anda. Dan saya jamin, waktu Anda tidak akan terbuang sia-sia. Sampai jumpa jam 9."
setelah membalas pesan itu aku Meletakkan ponselku kembali. Jantungku terasa berdegup kencang, tapi bukan karena aku takut.namun Karena excited. Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini, aku tidak akan kalah.
Di luar jendela, seekor burung gereja terbang bebas ke angkasa. Siren tersenyum. Dia juga akan segera terbang bebas. Tapi sebelum itu, ada beberapa ekor kucing licik yang perlu dijebak. Dan Arya Wijaya mungkin adalah kunci untuk semua itu.
Mobil berhenti di depan lobby Wijaya Tower yang megah. Aku turun, mengenakan gaun merah yang kini terasa seperti jubah kebesaran. Security langsung sigap membukakan pintu.
"Selamat pagi, Nyonya. Tuan Arya sudah menunggu di lantai 45," ucap security dengan hormat.
aku mengangguk dan melangkah masuk ke lift dengan kepala tegak. di sana aku melihat diri ku di cermin lift menunjukkan wanita yang berbeda. Wanita yang tahu persis apa yang diinginkan. Wanita yang siap menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya.
Lift perlahan naik. Setiap lantai yang dilewati adalah satu langkah menjauh dari masa lalu yang menyakitkan. Dan satu langkah mendekat ke masa depan yang penuh kekuasaan.
Pintu lift terbuka. Seorang sekretaris cantik langsung menyambut.
"Nyonya Siren? Silakan, Tuan Arya sudah menunggu di ruang rapat utama."
Aku berjalan menyusuri koridor mewah. Langkah kakiku bergema di lantai marmer. Di ujung koridor, pintu ruang rapat terbuka. Dan di sana, berdiri seorang pria tinggi dengan jas hitam sempurna, wajah tampan namun dingin, tatapan tajam yang seolah bisa membaca pikiran.
Arya Wijaya.
Dia menatap ku dari ujung kepala sampai ujung kaki, ekspresinya sulit dibaca. Lalu, bibirnya membentuk senyum tipis yang jarang terlihat.
"Jadi, Anda benar-benar datang," ucap Arya, suaranya berat dan berwibawa. "Dan Anda memakai merah. Berani."
aku membalas tatapannya tanpa gentar.
"Saya selalu berani, Tuan Arya. Terutama ketika menyangkut masa depan saya. Dan mungkin... masa depan Anda juga."
Arya mengangkat alis, tertarik. "Menarik. Silakan duduk, Nyonya Siren. Mari kita lihat seberapa berani Anda sebenarnya."
aku duduk di kursi di depan Arya. Meja rapat di antara mereka terasa seperti medan perang. Tapi aku tidak takut. Karena aku tahu setiap kartu yang dimiliki Arya. Dan aku tahu cara memainkannya agar menang.
"Sebelum kita mulai," ucap ku, meletakkan tasnya di atas meja.
"Saya ingin Tuan Arya tahu satu hal. Saya bukan datang untuk meminta bantuan. Saya datang untuk menawarkan kemitraan. Dan saya jamin, ini adalah kesempatan terbaik yang pernah Tuan Arya dapatkan."
Arya menyandarkan punggung ke kursi, menatap ku dengan intens.
"Anda sangat percaya diri untuk seseorang yang suaminya baru saja mencoba menipu Anda lima tahun lalu."
Mata ku menyipit.
"Tuan Arya tahu tentang itu?"
"Saya tahu banyak hal, Nyonya Siren. Termasuk fakta bahwa Anda seharusnya sudah mati tiga hari yang lalu di versi waktu yang lain," jawab Arya tenang, seolah membicarakan cuaca.
aku tertegun sejenak. Lalu tersenyum lebar. "Kalau begitu, kita memang cocok bekerja sama, Tuan Arya. Karena saya juga tahu banyak hal. Termasuk fakta bahwa Tuan Arya membutuhkan seseorang seperti saya untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh tim hukum atau detektif swasta manapun."
Arya terdiam sejenak. Lalu mengangguk perlahan.
"Baik. Mari kita bicara soal bisnis. Tapi ingat, Nyonya Siren. Di ruangan ini, tidak ada ruang untuk emosi. Hanya fakta dan strategi."
"Saya setuju sepenuhnya, Tuan Arya," jawab ku.
"Karena emosi adalah kelemahan. Dan saya sudah meninggalkan kelemahan itu bersama mayat Siren yang lama."
Pertemuan pun dimulai. Dan di sanalah, aku menyadari bahwa Arya Wijaya bukan sekadar sekutu. Dia adalah cermin dari kekuatan yang ingin ku bangun dengan adil
Dan bersama Arya, aku akan pastikan bahwa Fadli, Nia, dan semua yang pernah menyakitiku akan merasakan betapa pedihnya kehilangan segalanya. Tepat seperti yang mereka lakukan padaku.
Permainan baru saja dimulai. Dan aku siren siap menang.
BANTU LIKE, KOMENT, DAN FOLLOW YA KALAU SUKA DENGAN NOVEL NYA AGAR KARYA NUNA PENA BISA BERKEMBANG BAIK. MAKASI😘
Ruangan rapat utama di lantai 45 Wijaya Tower terasa dingin, bukan karena AC yang terlalu kencang, melainkan karena aura pria yang duduk di seberangku. Arya Wijaya menatapku dengan mata elang yang tajam, seolah sedang membedah setiap pori-pori wajahku untuk mencari celah kebohongan. Di antara kami terbentang meja marmer hitam mengkilap yang memantulkan bayangan dua orang yang sama-sama berbahaya.
"Jadi," ucap Arya akhirnya, suaranya rendah dan berat, memecah keheningan yang mencekam. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, ritme yang teratur namun penuh tekanan.
"Kamu bilang kamu punya proposal bisnis yang akan mengubah hidup saya. Tapi sampai saat ini, yang saya dengar hanya klaim kosong seorang istri manajer yang baru saja mengalami... 'kebangkitan'."
Aku tidak gentar. Aku justru menyandarkan punggung ke kursi kulit empuk itu, aku menatapnya balik dengan senyum tipis yang sudah kulatih selama lima tahun terakhir—senyum palsu yang kini kugunakan sebagai senjata.
"Tuan Arya tidak perlu percaya pada kata-kata saya," jawabku tenang, suaraku datar tanpa emosi.
"Percayalah pada data. Dan percayalah pada ketakutan suami saya tadi pagi."
Arya mengangkat satu alisnya, tertarik meski tetap skeptis.
"Ketakutan? Siren, meski dia panik Tapi panik belum tentu berarti Anda memegang kendali. Bisa jadi dia hanya kaget karena istrinya tiba-tiba memakai gaun merah dan berbicara seperti orang asing."
"Dia bukan sekadar panik, Tuan Arya," sanggahku, condong sedikit ke depan.
"Dia takut. Karena tadi pagi, tepat sebelum turun ke ruang makan, saya menyebutkan kata 'email bocor'. Dan reaksinya? Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar saat mengambil roti, dan dia hampir tersedak air minumnya. Itu bukan reaksi seseorang yang merasa aman. Itu reaksi seseorang yang tahu ada bom waktu yang siap meledak di hadapannya."
Arya terdiam sejenak, matanya masih menelusuri ekspresiku. Lalu ia bersandar kembali, silang kakinya terlihat elegan namun dominan.
"Anggap saja saya menerima argumen itu. Tapi apa hubungannya dengan saya? kenapa kamu datang ke sini, ke kantor saya, alih-alih langsung menghadapi Fadli atau melaporkan perselingkuhannya ke polisi?"
"Karena polisi butuh bukti konkret, Tuan Arya. Bukti yang tidak bisa dibantah oleh pengacara mahal seperti tim hukum Fadli," jelasku perlahan, memastikan setiap kata terdengar logis dan terukur.
"Dan karena menghadapi Fadli secara frontal sekarang hanya akan membuatnya waspada. Dia akan menutup semua celah, memindahkan aset, dan menghapus jejak digitalnya. Saya butuh Waktu untuk mengumpulkan amunisi tanpa dia curiga."
"Lalu peran saya?" tanya Arya, nada suaranya mulai berubah. Bukan lagi skeptis, tapi kalkulatif. Seperti pedagang yang sedang menilai nilai barang dagangan.
"Anda adalah perisai sekaligus pedang, Tuan Arya," jawabku tegas.
"Sebagai pemilik Wijaya Group, Anda memiliki akses ke jaringan intelijen korporat yang tidak dimiliki siapa pun. Saya membutuhkan informasi tentang aliran dana Fadli, struktur kepemilikan saham perusahaan tempat Nia bekerja, dan pola pertemuan mereka selama enam bulan terakhir. Sebagai gantinya..."
Aku berhenti sejenak, membiarkan ketegangan menggantung di udara. Arya tidak memotong. Ia menunggu, matanya terkunci padaku.
"sebagai gantinya," lanjutku,
"saya akan memberikan Anda akses penuh ke buku catatan pribadi Fadli yang saya simpan. Di dalamnya terdapat daftar klien gelap, transaksi suap, dan kode rekening offshore yang bahkan istrinya sendiri tidak pernah tahu. Informasi itu bernilai miliaran rupiah bagi kompetitor Anda. Atau lebih berharga lagi, sebagai leverage untuk mengakuisisi perusahaan Fadli dengan harga murah ketika dia jatuh."
Arya menatapku lama. Detik-detik itu terasa seperti jam. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, tapi aku menolak menunjukkan kelemahan sekecil apa pun. Aku tahu dia sedang menguji ketahananku. Menguji apakah aku benar-benar wanita yang mengklaim telah bangkit dari kematian, atau hanya istri yang terluka yang mencari pelindung dari orang kaya raya.
Akhirnya, bibirnya membentuk senyum samar. Bukan senyum ramah, tapi senyum pengakuan. Senyum seorang predator yang menemukan mangsa yang setara.
"Kamu cerdas, Siren," ucapnya, dan kali ini nadanya berbeda. Ada penghormatan di sana.
"Tapi kecerdasan saja tidak cukup. Saya butuh loyalitas. Jika saya memberimu akses ke jaringan saya, bagaimana saya yakin kamu tidak akan menggunakan informasi itu untuk kepentingan pribadi semata, lalu menghilang begitu Fadli hancur?"
Pertanyaan itu menusuk. Tapi aku sudah menyiapkan jawabannya.
"Karena kehancuran Fadli bukan tujuan akhir saya, Tuan Arya. Itu hanyalah langkah pertama," jawabku, suaraku kini lebih lembut tapi tetap kokoh.
"Tujuan saya adalah membangun sesuatu yang tidak bisa direbut siapa pun. Imperium saya sendiri. Dan untuk itu, saya butuh sekutu yang kuat. Bukan pelindung. Sekutu. Dan saya memilih Anda karena Anda tidak akan memperlakukan saya seperti boneka. Anda menghargai kekuatan, bukan keindahan."
Arya mengangguk perlahan. Ia meraih ponselnya dari atas meja, menekan beberapa tombol, lalu meletakkannya kembali.
"Baik," katanya singkat.
"Saya akan memberi Anda apa yang Anda minta. Tapi dengan syarat."
"katakan Saya akan mendengarkan," sahutku.
"Syarat pertama," ucap Arya, matanya menatapku intens, "Anda harus bertemu dengan kepala divisi intelijen saya sore ini. Dia akan memverifikasi kebenaran informasi yang Anda miliki. Jika terbukti valid, barulah kita lanjutkan."
"Setuju," jawabku tanpa ragu.
"Syarat kedua," lanjutnya, "Anda tidak boleh menghubungi Fadli atau Nia secara langsung selama proses ini. Semua komunikasi harus melalui saya atau tim saya. Saya tidak ingin dia mencium bau strategi Anda sebelum waktunya."
"justru itu yang saya inginkan," balasku. "Semakin dia merasa aman, semakin ceroboh dia bertindak."
"Syarat ketiga," Arya berkata, dan kali ini suaranya lebih rendah, hampir berbisik. Tatapannya tidak lepas dari wajahku.
"Anda harus jujur kepada saya. Tentang segalanya. Termasuk tentang... masa lalu Anda. Tentang bagaimana Anda 'mengetahui' hal-hal yang seharusnya tidak mungkin diketahui."
Jantungku berdegup keras. Ini ujian terbesar. Apakah dia tahu? Atau hanya intuisi bisnisnya yang tajam?
Aku menatap matanya dalam-dalam. Mencari tanda-tanda keraguan atau tuduhan. Tidak ada. Hanya ketertarikan murni pada misteri yang kubawa.
"Tuan Arya," ucapku pelan, memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Saya tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Beberapa hal... terlalu mustahil untuk dipercaya tanpa bukti. Tapi saya berjanji, setiap informasi yang saya berikan akan diverifikasi kebenarannya. Dan jika suatu hari Anda meminta penjelasan lengkap, saya akan memberikannya. Saat Anda siap mendengarnya."
Arya menatapku lagi. Lama. Lalu ia mengangguk.
"Cukup," katanya.
"Untuk sekarang, itu cukup. Saya tidak butuh cerita dongeng. Saya butuh hasil."
Ia berdiri, berjalan mengelilingi meja hingga berdiri di samping kursiku. Bayangannya jatuh menutupi sebagian tubuhku. Aku mendongak, menatapnya dari bawah. Dari sudut ini, ia terlihat sangat tinggi, sangat berkuasa. Tapi aku tidak merasa kecil. Aku merasa... dilihat. Benar-benar dilihat, bukan sebagai objek, tapi sebagai subjek.
"Satu hal lagi, Siren," ucapnya, suaranya kini lebih dekat, hampir menyentuh telingaku. "Gaun merah itu. Itu bukan sekadar simbol keberanian, kan?"
Aku tersenyum, kali ini senyum yang asli. "Tidak, Tuan Arya. Ini adalah deklarasi perang. Dan saya ingin dunia tahu bahwa Siren yang lama sudah mati. Yang tinggal hanyalah wanita yang tidak akan pernah lagi meminta maaf karena eksistensinya."
Arya menatapku, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya. Bukan hanya kalkulasi bisnis. Ada api. Api yang sama yang terbakar di dadaku.
"Bagus," bisiknya.
"Karena saya juga tidak suka wanita yang meminta maaf tanpa alasan."
Ia mundur selangkah, mengembalikan jarak profesional di antara kami. Tapi atmosfer di ruangan itu telah berubah. Ketegangan yang tadinya bersifat adversarial kini berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih kompleks. Lebih berbahaya. Dan jauh lebih menarik.
"Pertemuan pertama selesai," ucapnya, kembali ke kursinya.
"Kepala intelijen saya, Pak Hendra, akan menjemput Anda jam tiga sore di lobby. Jangan terlambat."
"Saya tidak pernah terlambat untuk kesempatan seperti ini, Tuan Arya," jawabku sambil berdiri.
Saat aku berbalik menuju pintu, suara Arya menghentikan langkahku.
"Siren."
Aku menoleh.
"Hati-hati di jalan," ucapnya, dan kali ini, nada suaranya hampir... lembut. Hampir.
"Fadli mungkin sudah mulai bergerak. Dan saya tidak ingin aset investasi saya rusak sebelum sempat menghasilkan keuntungan."
Aku tersenyum. "Jangan khawatir, Tuan Arya. Saya sudah terbiasa berjalan di atas ranjau. Lagipula..."
Aku menatapnya sekali lagi, mataku bertemu matanya.
"kali ini, saya punya peta."
Pintu tertutup di belakangku. Koridor mewah Wijaya Tower membentang di hadapan. Langkahku tegap, napasku stabil. Tapi di dalam dada, badai sedang berkobar. Bukan karena takut. Karena excited. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup—baik kehidupan pertama maupun kedua—aku merasa benar-benar hidup.
Di lift yang turun, ponselku bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal lagi.
"Nyonya Siren, saya Hendra. Mobil hitam plat B 1234 XY akan menunggu Anda di lobby jam 15.00. Harap bawa dokumen fisik. Verifikasi akan dilakukan hari ini juga."
Aku membalas: "Siap, Pak Hendra. Dokumen sudah saya siapkan sejak lima tahun lalu."
Lift berhenti di lobby. Pintu terbuka. Udara segar Jakarta menyambutku. Tapi kali ini, udaranya terasa berbeda. Terasa seperti oksigen bagi paru-paru yang telah lama tercekik.
Aku melangkah keluar, gaun merahku berkibar pelan diterpa angin. Orang-orang menoleh. Beberapa berbisik. Tapi aku tidak peduli. Biarkan mereka berbisik. Biarkan mereka penasaran.
Karena segera, mereka tidak akan lagi berbisik tentang istri manajer yang aneh. Mereka akan berbisik tentang Siren Wijaya—mitra bisnis Arya Wijaya, wanita yang menghancurkan imperium korupsi dari dalam, dan ratu yang membangun kerajaannya sendiri dari abu pengkhianatan.
Permainan baru saja dimulai. Dan aku tidak intend untuk kalah.
BANTU LIKE KOMEN DAN FOLLOW TEMAN2 UNTUK MENGEMBANGKAN NOVEL NYA MAKASI
Mobil hitam dengan plat B 1234 XY sudah menunggu di pinggir trotoar Wijaya Tower tepat pukul tiga sore. Sopirnya, seorang pria paruh baya berjas rapi,pria itu langsung membukakan pintu saat aku mendekat. Aku masuk ke dalam tanpa ragu, tas jinjingku yang berisi buku catatan Fadli kuletakkan di pangkuanku.
"Selamat siang, Nyonya Siren," ucap sopir itu melalui kaca pembatas.
"Pak Hendra sudah menunggu di ruang verifikasi lantai 38."
"Terima kasih," jawabku singkat. Mataku tertuju pada jalanan Jakarta yang padat. Di kehidupan sebelumnya, aku selalu merasa cemas setiap kali naik mobil sendiri karena takut disusul atau dipantau orang Fadli. Tapi hari ini, perasaan itu hilang. Digantikan oleh ketenangan yang dingin dan terukur.
Sopir itu sepertinya ingin bertanya sesuatu, tapi ia menahan diri. Hanya sesekali matanya melirik ke spion tengah, mengamati ekspresiku. Aku tahu dia penasaran. Siapa wanita bermantel merah yang datang sendirian ke Wijaya Group untuk bertemu kepala intelijen? Tapi kesopanan profesional membuatnya tetap diam.
Aku menghargai keheningan itu. keheningan yang Memberiku waktu untuk menyusun kalimat, mempersiapkan mental, dan mengingat kembali setiap detail dalam buku catatan kecil di pangkuanku. Buku itu berat, bukan karena fisiknya, tapi karena beban dosa dan kejahatan yang tersimpan di dalamnya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di area parkir bawah tanah Wijaya Tower. Pintu terbuka lagi.
"Nyonya, silakan ikuti saya," ucap sopir itu sambil menunjuk lift khusus yang hanya bisa diakses dengan kartu akses.
Aku mengangguk, melangkah masuk ke lift. Lantai 38. Angka itu bersinar merah di panel tombol. Lift naik dengan mulus, sunyi senyap. Saat pintu terbuka, koridor lantai 38 tampak berbeda dari lantai lain. Lebih sepi. Lebih steril. Dindingnya dilapisi panel akustik berwarna abu-abu gelap, dan tidak ada jendela sama sekali. Ini adalah zona aman. Zona rahasia.
Seorang pria tinggi kurus dengan kacamata bingkai tipis berdiri menunggu di ujung koridor. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, celana bahan gelap, dan sepatu pantofel yang mengkilap. Wajahnya biasa saja, tapi matanya... matanya tajam seperti pisau bedah. Itu Pak Hendra.
"Selamat siang, Nyonya Siren," sapanya, suaranya datar tanpa basa-basi. Ia tidak menjabat tanganku.melainkan Langsung berbalik dan berjalan menuju sebuah ruangan di ujung koridor. "Silakan masuk."
Aku mengikuti langkahnya. Ruangan itu luas, dindingnya seluruhnya terbuat dari kaca satu arah. Di tengahnya terdapat meja panjang dengan dua kursi. Di atas meja, sudah tersedia laptop, printer, dan beberapa folder tebal. Tidak ada hiasan. Tidak ada tanaman. Hanya peralatan kerja dan dokumen.
"silahkan Duduk, Nyonya," ucap Pak Hendra sambil menunjuk kursi di seberangnya. Ia sendiri duduk di sisi lain, membuka laptopnya dengan gerakan cepat dan efisien.
"Tuan Arya sudah memberi tahu saya tentang pertemuan pagi tadi. Saya akan memverifikasi klaim Anda hari ini juga. Prosesnya mungkin memakan waktu beberapa jam. Apakah Nyonya keberatan?"
"Tidak sama sekali, Pak Hendra," jawabku sambil meletakkan tas di atas meja.
"Saya justru berharap prosesnya Semakin detail verifikasinya, semakin kuat fondasi kemitraan kita nanti."
Pak Hendra menatapku sekilas, lalu mengangguk pelan. Sepertinya ia terkesan dengan jawaban itu. Banyak orang yang datang ke ruangan ini biasanya gugup, defensif, atau malah terlalu percaya diri. Tapi aku datang dengan sikap yang tenang dan kooperatif. Itu penting. Karena kepercayaan bukan dibangun dari janji manis, tapi dari konsistensi perilaku.
"Baik," ucapnya, jari-jarinya mulai menari di keyboard.
"Mari kita mulai dengan hal paling dasar. Buku catatan yang Nyonya bawa. Bisakah saya melihatnya?"
Aku mengeluarkan buku catatan kecil berwarna coklat tua dari tas, lalu mendorongnya perlahan ke arahnya.
"Halaman pertama berisi daftar rekening bank pribadi Fadli yang tidak tercatat di laporan keuangan perusahaan. Halaman kedua sampai kelima berisi jadwal pertemuan rahasianya dengan Nia, lengkap dengan nama hotel, nomor kamar, dan durasi. Halaman enam sampai sepuluh berisi daftar klien gelap dan nominal suap yang diterima Fadli selama dua tahun terakhir."
Pak Hendra menerima buku itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang bom. Ia membukanya pelan, matanya menyapu halaman demi halaman. Ekspresinya tidak berubah. Tetap datar. Tapi aku memperhatikan bagaimana jemarinya berhenti sejenak di halaman ketiga, lalu bergeser lebih cepat di halaman tujuh. Artinya, ada pola yang ia kenali. Ada koneksi yang mulai terbentuk di pikirannya.
"Ini tulisan tangan Tuan Fadli?" tanyanya setelah beberapa saat, matanya masih tertuju pada halaman ketujuh.
"Ya," jawabku.
"Saya mengenal tulisannya sejak lima tahun menikah. Dan saya juga mengenal pola pikirnya. Setiap kali dia mencatat sesuatu yang sensitif, dia selalu menggunakan singkatan yang hanya dia dan Nia yang paham. Misalnya 'GM' di halaman empat bukan General Manager, tapi Grand Mercure. 'NT' di halaman sembilan bukan Nama Teman, tapi Nia Tanjung."
Pak Hendra mendongak, menatapku dengan tatapan baru. Kali ini ada rasa hormat di sana. Bukan karena aku istri manajer, tapi karena aku pengamat yang teliti.
"Singkatan itu..." gumamnya, lalu mengetik sesuatu di laptop.
"Sudah kami identifikasi sebelumnya dalam investigasi internal PT Surya Global. Tapi kami tidak pernah bisa memecahkan kodenya karena tidak punya konteks personal. Nyonya memberikan konteks itu."
"Saya hidup bersama pemilik kode itu selama lima tahun, Pak Hendra," balasku tenang.
"Setiap kebiasaan kecilnya, setiap cara dia menyembunyikan sesuatu, saya hafal di luar kepala. Dulu, pengetahuan itu membuat saya sakit. Sekarang, pengetahuan itu menjadi aset."
Pak Hendra mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya. Ia memindai halaman-halaman buku catatan itu ke sistem, mencocokkannya dengan database internal Wijaya Group. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara ketikan keyboard dan dengungan halus AC. Aku duduk diam, tidak gelisah, tidak mencoba mengisi keheningan dengan obrolan kecil. Aku tahu Pak Hendra tipe orang yang fokus pada data, bukan basa-basi. Dan aku menghormati itu.
Dua jam berlalu. Pak Hendra akhirnya menutup laptopnya, lalu menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Verifikasi tahap satu selesai," ucapnya.
"Informasi dalam buku catatan ini valid. Rekening-rekening yang Nyonya sebutkan memang ada, dan transaksi-transaksinya cocok dengan pola aliran dana mencurigakan yang telah kami lacak selama delapan bulan terakhir. Jadwal pertemuan dengan Nia juga sesuai dengan data CCTV dan reservasi hotel yang kami peroleh dari sumber eksternal."
Aku menarik napas pelan. Bukan lega, tapi puas. Validasi ini penting. Bukan untuk membuktikan bahwa aku benar, tapi untuk membuktikan bahwa aku layak dipercaya.
"Lalu?" tanyaku, suaraku tetap stabil.
"Lalu," lanjut Pak Hendra,
"ada satu anomali. Halaman kesepuluh. Daftar klien gelap. Tiga dari lima nama di sana adalah perusahaan yang secara legal dimiliki oleh holding company berbeda. Tapi struktur kepemilikannya... terlalu mirip dengan pola yang digunakan Tuan Arya untuk mengakuisisi perusahaan target. Nyonya tahu mengapa?"
Aku tersenyum tipis. "Karena Fadli belajar dari Tuan Arya. Dia mengagumi metode akuisisi Tuan Arya, tapi tidak memiliki integritas untuk melakukannya secara legal. Jadi dia meniru strukturnya, tapi menggunakannya untuk mencuci uang suap. Ironisnya, dia menggunakan playbook Tuan Arya untuk menghancurkan reputasi Tuan Arya sendiri."
Pak Hendra terdiam. Matanya menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku masuk ruangan ini, bibirnya membentuk senyum samar.
"Tuan Arya benar," ucapnya pelan.
"Nyonya bukan sekadar istri yang terluka. Nyonya adalah analis yang brilian."
Ia berdiri, berjalan menuju lemari besi di sudut ruangan, membuka pintunya, dan mengeluarkan sebuah tablet. Ia meletakkannya di depanku.
"Ini akses terbatas ke server intelijen Wijaya Group," ucapnya.
"Hanya berlaku untuk proyek ini. Nyonya bisa mengakses data aliran dana Fadli, struktur kepemilikan perusahaan Nia, dan pola komunikasi mereka selama enam bulan terakhir. Semua data real-time. Tapi ingat, Nyonya hanya bisa melihat. Tidak bisa mengunduh, tidak bisa mencetak, tidak bisa membagikan. Setiap akses akan tercatat dan diaudit."
Aku mengambil tablet itu, merasakan bobotnya di tangan. Bukan bobot fisik, tapi bobot tanggung jawab. Bobot kepercayaan.
"Saya mengerti, Pak Hendra," ucapku serius.
"Dan saya berjanji akan menggunakannya hanya untuk tujuan yang telah disepakati."
Pak Hendra mengangguk. "Satu hal lagi, Nyonya. Tuan Arya meminta saya menyampaikan pesan pribadi."
Aku mengangkat alis, penasaran. "Pesan apa?"
"Dia bilang," ucap Pak Hendra, meniru nada suara Arya dengan akurat,
"Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Verifikasi ini bukan ujian. Ini adalah fondasi. Dan fondasi yang kuat butuh waktu.'"
Aku terdiam sejenak. Kalimat itu sederhana, tapi maknanya dalam. Arya tidak hanya memberiku akses data. Dia juga memberiku izin untuk bernapas. Untuk tidak merasa harus membuktikan diri setiap detik. Itu... berarti banyak.
"Sampaikan terima kasih saya kepada Tuan Arya," ucapku akhirnya, suaraku lebih lembut dari sebelumnya.
"Dan sampaikan bahwa fondasi ini akan saya jaga sebaik-baiknya."
Pak Hendra mengangguk, lalu kembali ke kursinya.
"Sekarang, mari kita bahas langkah selanjutnya. Berdasarkan data yang sudah diverifikasi, ada tiga titik lemah dalam jaringan Fadli yang bisa kita eksploitasi dalam dua minggu ke depan. Pertama..."
Dan, kami menghabiskan sisa sore itu membahas strategi. Bukan sebagai atasan dan bawahan. Bukan sebagai pria dan wanita. Tapi sebagai dua profesional yang saling menghormati, saling melengkapi, dan sama-sama berkomitmen pada satu tujuan: menghancurkan korupsi dari dalam, dan membangun sesuatu yang bersih di atas puing-puingnya.
Saat matahari terbenam dan cahaya oranye menyelinap lewat celah tirai, aku menyadari satu hal. Aku tidak lagi sendirian. Aku punya sekutu. Aku punya peta. Dan aku punya api yang tidak akan pernah padam.
Permainan baru saja memasuki babak kedua. Dan aku siap.
BANTU LIKE KOMENT YA AGAR NOVELNYA BERKEMBANG
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!