PROLOG: TAKDIR MATA KELABU
Dua puluh tahun yang lalu, di sudut terbelakang Jiuzhou—Benua Sembilan Wilayah—terbaring sebuah desa kecil yang terisolasi dari riuk pikuk peradaban kultivasi. Desa itu dikenal sebagai Desa Guwu, bermukim di balik tebing terjal Canglan Dalu (Benua Gelombang Biru).
Malam itu, langit di atas Canglan Dalu mendadak kelam tanpa gumpalan awan. Bintang-bintang meredup seolah enggan menyaksikan apa yang hendak menembus tirai langit.
Di dalam sebuah rumah kayu yang ringkih, jerit tangis bayi laki-laki pecah membelah keheningan malam. Seorang anak baru saja terlahir ke dunia fana. Namun, belum sempat sang ibu merengkuh darah dagingnya, gemuruh tak bersuara mengguncang jiwa setiap makhluk hidup sejauh ribuan li.
Celah dimensi di atas benua terbelah tipis secara misterius. Dari kedalaman kehampaan purba yang paling pekat, sepasang pendar cahaya berwarna kelabu kusam meluncur turun bagaikan meteor jatuh. Cahaya itu tidak membawa hawa panas, melainkan sensasi dingin yang sanggup membekukan alur Qi langit dan bumi.
Syuuuk!
Tanpa menghancurkan atap rumah kayu, sepasang pendar ilahi itu melesat lurus dan menghantam kedua mata sang bayi yang baru saja berkedip.
"Ugh...!"
Bayi kecil itu tidak lagi menangis. Tubuhnya kejang seketika saat sepasang mata misterius itu menyatu, berakar, dan mengunci keberadaannya di dalam saraf serta jiwanya. Untuk satu tarikan napas pendek, pupil mata sang bayi berubah menjadi bening keabu-abuan—mencerminkan kehampaan tak bertepi dan kebenaran sejati alam semesta.
Tidak ada yang menyadari kejadian malam itu. Sang ibu hanya menganggap pancaran cahaya kusam itu sebagai ilusi malam yang redup.
Mereka tidak tahu bahwa pada malam tersebut, Canglan Dalu tidak sekadar menyambut kelahiran seorang manusia biasa. Alam fana baru saja menjadi sarang bagi takdir kuno yang terbangun kembali—sebuah takdir berdarah yang kelak akan menuntut takhta tertinggi di bawah naungan Langit dan Bumi.
dua puluh tahun kemudian, Udara di Lapangan Batu Merah Kota Hanyou terasa panas dan menyengat. Ribuan pemuda berdiri berdesakan di bawah terik matahari, mengantre demi satu kesempatan mengubah nasib.
Di atas panggung utama, panji empat warna berkibar megah, menandakan kehadiran empat penguasa wilayah tersebut. Tiga Sekte Aliran suci dan satu Sekte Iblis berdiri sejajar, menatap ribuan kandidat di bawah bagaikan kawanan ternak yang siap dipilih.
Xuan Chen berdiri di barisan tengah dengan jubah abu-abu lusuh. Wajahnya tenang, matanya sedingin telaga es di puncak gunung. Tidak ada kegelisahan dalam tatapannya, hanya perhitungan dingin yang terus berputar di kepalanya.
“Tiga sekte suci di kiri, satu sekte sesat di kanan... Dunia kultivasi memang penuh kebohongan yang dibungkus rapi.”
Di depannya, seorang pemuda bertubuh kekar dari Klan Liu baru saja menyelesaikan tes kekuatan fisik. Batu Penguji Qi menyala hijau terang, menandakan bakat tingkat menengah di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Tiga.
Sorak-sorai riuh rendah terdengar dari arah Sekte Awan Hijau. Tetua berselimut jubah putih mengangguk puas, memberikan stempel kelulusan tanpa perlu tes pertarungan. Kekayaan Batu Spiritual dan pengaruh klan selalu menjadi pelicin yang sempurna.
"Selanjutnya! Xuan Chen!" teriak penguji berpakaian zirah besi dengan suara yang menggelegar.
Xuan Chen melangkah maju tanpa ragu. Langkah kakinya konstan, tidak terburu-buru dan tidak tertahan. Begitu tangannya menyentuh permukaan Batu Penguji Qi, cahaya samar berwarna kelabu kusam mencuat perlahan.
"Bakat Qi Kusam! Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Dua! Tidak memenuhi syarat standar sekte!" Penguji itu mengibaskan tangannya gusar, menyuruh Xuan Chen segera menyingkir dari panggung.
Tawa ejekan meledak dari barisan pemuda Klan Liu. Tuan Muda Klan Liu, Liu Bao, maju dua langkah sambil melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan.
“Sampah tetaplah sampah. Kota Hanyou tidak membutuhkan orang miskin tanpa bakat yang berpura-pura menjadi kultivator.”
Xuan Chen tidak membalas ucapan itu. Dia bahkan tidak melirik Liu Bao. Matanya tetap tertuju pada penguji zirah besi di depannya dengan tatapan lurus.
"Aku menantang ujian pertarungan terbuka," ucap Xuan Chen pendek. Suaranya tidak keras, tetapi memotong riuh tawa di sekitar panggung.
Penguji itu mengerutkan dahi. Ujian pertarungan terbuka adalah hak setiap kandidat yang gagal di tes batu, tetapi risikonya adalah cacat atau tewas di panggung tanpa ada yang bertanggung jawab.
"Bocah sombong! Kau pikir panggung ini tempat bermain?!" Liu Bao melompat ke atas panggung dengan gerakan kilat, mendarat dengan dentuman keras yang menggetarkan lantai batu.
"Tetua, biarkan aku mengajarinya cara menghormati aturan Kota Hanyou. Satu pukulan cukup untuk meremukkan kakinya!" seru Liu Bao seraya mengepalkan tangan yang mulai diselimuti pendaran Qi berwarna merah tipis.
Tetua Sekte Awan Hijau di kursi atas hanya tersenyum tipis, membiarkan pertunjukan itu berlangsung. Bagi mereka, hiburan kecil sebelum perekrutan utama adalah hal yang menyenangkan.
Xuan Chen memasang kuda-kuda rendah. Jantungnya berdetak stabil, napasnya diatur dalam ritme yang sangat teratur. Dia tidak memiliki Qi yang melimpah, tetapi setiap inci ototnya telah ditempa lewat latihan mematikan di hutan perbatasan.
Liu Bao menggeram, tubuhnya meluncur deras bagaikan banteng mengamuk. Pukulan berbobot lima ratus kati mengarah lurus ke dada kiri Xuan Chen, membawa angin pukulan yang tajam.
Pada momen kritis itu, sesuatu yang misterius bergejolak di dalam kepala Xuan Chen.
Pandangannya mendadak menyempit mendalam. Warna di sekitarnya seolah memudar, dan gerakan Liu Bao yang tadinya sangat cepat secara ilahi melambat di mata Xuan Chen. Dia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana serat otot bahu Liu Bao tegang, dan bagaimana alur Qi di tangannya agak tersendat di bagian siku.
“Terlalu lambat... Banyak celah.”
Xuan Chen tidak tahu mengapa matanya tiba-tiba bisa menangkap detail sekecil itu. Dia tidak berpikir panjang dan langsung menggunakan kesempatan emas tersebut.
Dengan menggeser kaki kirinya setengah jengkal ke belakang, tubuh Xuan Chen miring dengan sudut yang sangat tipis. Pukulan keras Liu Bao meleset hanya selebar helai rambut dari jubah abu-abunya.
Sebelum Liu Bao menyadari pukulannya luput, Xuan Chen sudah menghantamkan dua jarinya lurus ke titik siku Liu Bao—titik akupunktur di mana alur Qi lawan sedang tersumbat.
Brak!
Suara gemertak tulang terdengar nyaring. Pendaran Qi merah di tangan Liu Bao mendadak buyar seketika, disusul jeritan histeris dari mulut tuan muda klan tersebut.
"Aaghh! Tanganku!" Liu Bao ambruk berlutut sambil memegangi lengannya yang gemetar hebat, matanya membelalak tidak percaya.
Xuan Chen tidak berhenti. Sesuai prinsip hidupnya di dunia kultivasi yang keras, membiarkan musuh bernapas adalah kesalahan terbesar. Dia mengayunkan tendangan lurus tepat ke arah rahang Liu Bao, menghempaskan tubuh gemuk itu keluar dari panggung hingga pingsan bersimbah darah.
Panggung Hanyou seketika hening. Ribuan mata melotot tak percaya melihat seorang pemuda berdarah dingin menghabisi tuan muda klan kaya hanya dalam dua gerakan sederhana.
"Jahanam kecil! Kau berani berbuat kejam di panggung ujian?!" Tetua Sekte Awan Hijau berdiri dari kursinya. Tekanan spiritual Ranah Lautan Qi meledak dari tubuhnya, menekan langsung ke arah Xuan Chen.
Tekanan mendominasi itu membuat napas Xuan Chen sesak dan lantai batu di bawah kakinya retak. Namun, matanya tetap dingin, tidak ada pendar ketakutan sedikit pun di sana.
"Panggung pertarungan tidak memiliki aturan larangan melukai. Bukankah Sekte Awan Hijau yang mengagungkan aturan suci tersebut?" tanya Xuan Chen datar, menantang pandangan sang Tetua secara langsung.
"Bicara manis! Dengan tindakan sekeji ini, kau jelas memiliki tabiat iblis! Tiga Sekte Aliran suci tidak akan pernah menerima murid bermoral jahat sepertimu!" bentak Utusan Sekte Pedang Guntur ikut menimpali.
Xuan Chen terkekeh pelan. Ejekan dingin keluar dari bibirnya saat melihat wajah-wajah munafik para pakar sekte tersebut.
“Tiga sekte suci... Ternyata hanya kumpulan anjing yang menggonggong saat peliharaannya dipukul.”
"Siapa bilang dia harus bergabung dengan sekte munafik kalian?"
Sebuah suara serak dan berat menggema dari ujung panggung kanan. Pria bertubuh tinggi kurus dengan jubah hitam berlambang tengkorak merah melangkah maju. Dia adalah Utusan dari Sekte Jurang Jiwa.
Pria berzirah hitam itu menatap Xuan Chen dengan binar mata penuh minat. "Bocah, tindakanmu bersih, tidak bertele-tele, dan tidak membuang waktu dengan omong kosong moral. Sekte Jurang Jiwa menyukai orang-orang pragmatis sepertimu."
Utusan itu melempar sebuah token perunggu berwarna hitam pekat ke arah Xuan Chen.
"Bergabunglah dengan Sekte Jurang Jiwa. Di sana, tidak ada aturan konyol soal kebaikan. Selama kau cukup tangguh, kau bisa mengambil apa pun yang kau mau, termasuk kepala orang-orang yang meremehkanmu hari ini."
Tetua Sekte Awan Hijau berteriak murka, "Bocah Xuan! Jangan tergiur jalan sesat! Jika kau bertobat sekarang dan berlutut memohon maaf pada Klan Liu, Sekte Awan Hijau mungkin masih sudi menjadikanmu murid luar!"
Xuan Chen menangkap token besi hitam itu di udara. Dia merasakan dinginnya aura logam yang meresap ke telapak tangannya. Matanya melirik sekilas ke arah tiga utusan sekte aliran suci yang menatapnya dengan pandangan mengancam, lalu beralih ke utusan Sekte Jurang Jiwa.
Tanpa ragu sedikit pun, Xuan Chen menggenggam erat token tersebut dan membungkuk singkat ke arah Utusan Sekte Iblis.
"Xuan Chen memberi hormat kepada Utusan. Mulai hari ini, aku adalah bagian dari Sekte Jurang Jiwa."
Pernyataan pendek itu mengguncang seluruh Panggung Hanyou. Pilihan Xuan Chen bukan hanya menolak sekte ortodoks, tetapi secara terang-terangan menampar wajah ketiga sekte besar di depan publik.
Xuan Chen berbalik, melangkah mengikuti utusan berpakaian hitam tanpa pernah menengok ke belakang lagi.
Di dalam dadanya, penglihatannya yang sempat melambat tadi perlahan kembali normal, meninggalkan pendaran hangat yang eksotis di balik kedua matanya yang masih belum dia pahami sepenuhnya.
Garis takdirnya sebagai kultivator di jalan darah dan besi... baru saja dimulai.
BAB 2: HUKUM RIMBA JALAN DEMONIC
Angin malam menusuk hingga ke tulang saat pedang terbang raksasa milik Utusan Sekte Jurang Jiwa membelah lautan awan. Di belakang sang tetua, Xuan Chen berdiri tegak. Ujung jubah abu-abunya berkibar keras, namun tubuhnya tetap diam tak bergeming, membiarkan pemandangan Kota Hanyou mengecil dan menghilang di balik kegelapan.
Di bawah sana, daratan luas Benua Merah perlahan berubah menjadi pegunungan terjal berkabut hitam. Suasana malam semakin sunyi, hanya menyisakan deru angin dan tebasan aura pedang yang menembus keheningan.
Tetua berpakaian hitam itu melirik ke belakang melalui sudut matanya. Ada sedikit binar kepuasan melihat seorang pemuda belia yang baru pertama kali terbang di angkasa tidak memperlihatkan sedikit pun rasa takut. Sebagian besar murid baru biasanya sudah berlutut memegang tepi pedang karena ketakutan melihat ketinggian ribuan meter.
"Kau bisa memanggilku Tetua Mo," ucap pria itu tanpa menoleh, suaranya menggelegar menembus deru angin. "Karena kau telah memilih Sekte Jurang Jiwa, ada beberapa hal yang wajib kau pahami sebelum melangkah lebih jauh."
Xuan Chen menajamkan pendengarannya. Matanya memandang lurus ke punggung Tetua Mo tanpa mengedip.
"Perjalanan ini memakan waktu satu hari satu malam," lanjut Tetua Mo, tangannya terlipat di balik punggung. "Begitu sampai di sekte, hal pertama yang harus kau lakukan adalah membuka Dantianmu secara mandiri dan beralih dari Ranah Penempaan Tubuh ke Ranah Pengumpulan Qi. Namun, Qi yang akan kau serap bukanlah Qi biasa, melainkan Qi Demonic."
Xuan Chen mengangguk pelan, menyerap setiap kata itu dengan cermat. "Qi Demonic?"
"Benar," Tetua Mo memutar tubuhnya sedikit, memperlihatkan separuh wajahnya yang dipenuhi garis tegas dan aura dingin. "Qi Demonic memiliki sifat korosif dan liar. Tanpa fondasi jiwa yang kuat, Qi Demonic akan melahap kesadaran penyerapnya, mengubahnya menjadi mesin pembunuh tanpa perasaan yang gila akan darah."
Ekspresi Tetua Mo berubah makin serius saat menekankan kalimat berikutnya. "Namun, jika seseorang memiliki jiwa yang cukup tangguh untuk menaklukkannya, Qi Demonic justru memberikan daya hancur dua kali lipat lebih kuat daripada praktisi biasa yang menyerap Qi langit dan bumi."
Tetua Mo berhenti bicara, sengaja memberi jeda untuk melihat apakah raut ketakutan akan muncul di wajah pemuda di depannya.
Namun, bukannya gentar, Xuan Chen justru mengerutkan dahi sejenak, menimbang informasi tersebut di dalam kepalanya sebelum akhirnya mengangguk paham.
"Jadi, Qi Demonic bukanlah sesuatu yang jahat dengan sendirinya," ujar Xuan Chen datar.
"Benar," ucap Tetua Mo.
Tetua Mo melanjutkan dengan tenang, tatapannya menyapu hamparan awan hitam di bawah mereka. "Qi Demonic dapat melahap jiwa seseorang jika jiwa penggunanya lemah. Namun, Qi murni pun dapat membawa kehancuran jika berada di tangan orang yang serakah."
Xuan Chen tidak menyela. Dia hanya mengangguk memahami, menyilangkan tangan di dada sambil mengamati pemandangan yang terhampar di depannya dengan minat yang makin dalam.
Tatapan Xuan Chen mendadak menjadi tajam. Aura dingin menguar tipis dari tubuhnya. "Pada akhirnya, bukan Qi yang menentukan siapa yang akan jatuh ke dalam kegelapan. Yang menentukan adalah penggunanya."
Sebuah senyum tipis yang sulit diartikan terukir di bibir Tetua Mo saat mendengarnya, namun Xuan Chen tetap melanjutkan argumennya tanpa ragu.
"Jadi... Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawa seseorang bergantung pada seberapa bijak dia mengendalikannya," tegas Xuan Chen. "Jika seseorang tidak mampu mengendalikan kekuatannya sendiri, bahkan Qi paling suci sekalipun dapat berubah menjadi bencana mematikan."
Gelak tawa nyaring meledak dari tenggorokan Tetua Mo. Tawa yang membawa getaran Qi hingga membuat pedang terbang di bawah kaki mereka bergetar pelan.
"Hahaha! Kau cukup bijak, bocah! Sangat jarang ada pemuda dari kota kecil yang memiliki pemahaman seperti mu!" Tetua Mo menepuk bahu Xuan Chen cukup keras, menguji kekokohan kuda-kudanya.
Xuan Chen hanya bergeming, menerima tepukan keras itu dengan wajah tanpa ekspresi, menunggu sang tetua menyelesaikan sisa ucapannya.
Matahari perlahan terbit dari ufuk timur, memancarkan sinar kemerahan yang menembus kabut hitam di sekeliling mereka. Setelah menembus lautan pegunungan terjal selama berjam-jam, suhu udara mendadak merosot tajam. Aura kematian yang pekat mulai terasa menyelimuti atmosfer sekitar.
Tetua Mo menatap Xuan Chen cukup lama, matanya menyempit seraya mengikis tawa dari wajahnya. Suasananya mendadak berubah menjadi sangat berat.
"Namun ingat satu hal," suara Tetua Mo merendah, berubah menjadi bisikan berbahaya yang merindingkan bulu kuduk. "Setelah kau melangkahkan kaki ke sekte kami, jangan berharap ada seseorang yang akan melindungimu."
Xuan Chen menyipitkan mata, merasakan ancaman tersirat dalam nada suara tersebut.
"Di sana, nyawamu berada sepenuhnya di tanganmu sendiri," lanjut Tetua Mo dengan suara datar tanpa emosi. "Di sekte kami hanya ada satu aturan: Yang kuat memangsa yang lemah."
Xuan Chen tidak memotong. Dia mendengarkan sambil mencerna setiap implikasi dari hukum rimba yang baru saja dibeberkan.
"Tidak ada belas kasihan. Tidak ada perlindungan bagi mereka yang tidak mampu mempertahankan diri," Tetua Mo melangkah mendekat, menundukkan kepalanya agar sejajar dengan mata Xuan Chen. "Jika seseorang menginginkan sumber daya milikmu, rebutlah kembali. Jika seseorang menginginkan nyawamu, pastikan dialah yang mati terlebih dahulu."
Xuan Chen memotong tenang, menatap lurus sang tetua. "Aku paham. Intinya yang lemah hanya akan jadi batu pijakan bagi yang lebih kuat."
Tatapan sang tetua menjadi sedingin es, seolah-olah dia sedang menyampaikan kitab kematian. "Ya."
"Jalan Demonic tidak mengenal aturan sebanyak jalan kultivasi biasa. Tidak ada aturan yang melarangmu menjadi kejam. Tidak ada aturan yang melarangmu menipu. Tidak ada aturan yang melarangmu membunuh."
Tetua Mo berhenti sejenak, mengamati reaksi fisik Xuan Chen. Dia ingin melihat apakah bahu pemuda ini akan gemetar atau matanya akan goyah.
"Selama kau memiliki kekuatan untuk mempertahankan apa yang menjadi milikmu, tidak seorang pun akan mempertanyakannya," Tetua Mo kemudian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan dan realitas kejam dunia kultivasi. "Karena di jalan Demonic... kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar. Kebenaran ditentukan oleh siapa yang masih hidup."
Udara di sekeliling mereka seolah membeku setelah kalimat terakhir itu diucapkan. Tetua Mo menantikan respons panik atau keterkejutan dari calon muridnya.
Namun, di luar perkiraan sang tetua, bibir Xuan Chen perlahan tertarik membentuk sebuah senyuman tipis. Senyuman dingin yang memancarkan kebebasan murni. Tidak ada ketakutan, tidak ada keraguan.
“Dunia di mana tidak ada kebohongan moral... Tempat yang sempurna bagiku.”
Xuan Chen menatap langsung ke dalam mata Tetua Mo, lalu mengangguk secara perlahan.
"Aturan yang sangat adil," bisik Xuan Chen pendek.
Tetua Mo terpana sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan. Dia berbalik kembali ke depan pedang, menatap kabut tebal Array Pelindung Sekte Jurang Jiwa dari kejauhan. Di balik segel formasi petir dan aura hitam yang mengular itu, benteng serta istana megah Sekte Jurang Jiwa mulai terlihat menampakkan keagungan yang menyeramkan di atas puncak-puncak gunung purba.
"Kita sampai, bocah. Selamat datang di neraka."
Pedang terbang raksasa itu mendarat mulus di atas plat besi berukir yang menjadi tumpuan di luar batas segel formasi. Saat kaki Xuan Chen pertama kali menyentuh pijakan keras tersebut, dia mengedipkan matanya beberapa kali.
Tidak ada gelombang energi yang aneh. Tidak ada hawa dingin yang menusuk. Bahkan Array Pelindung Sekte yang biasanya digambarkan begitu agung dalam buku-buku kuno, sama sekali tidak memicu respons fisik di tubuhnya. Bagi Xuan Chen yang masih berada di Ranah Penempaan Tubuh, formasi itu tak ubahnya dinding tak kasat mata yang tenang.
Tetua Mo berdiri di depannya. Pria tua itu meraih sebuah token perunggu bercorak tengkorak dari balik jubah hitamnya, lalu mengarahkannya ke udara kosong di hadapan mereka.
Wussss!
Sebuah titik cahaya merah darah meledak dari ujung token, mengalir cepat membelah kabut tebal yang menyelimuti area puncak. Udara di sekeliling mereka mendadak bergetar hebat. Segel formasi sekte terbuka perlahan, menyibakkan celah kecil yang cukup untuk dilewati dua orang.
Namun, tepat di saat celah itu terbuka, gelombang Qi yang sangat pekat meluncur keluar bagaikan air bah yang jebol dari bendungan.
"Urgh!"
Xuan Chen menahan napas seketika. Dadanya terasa kram mendadak, seolah-olah ada batu berbobot ratusan kati yang dihantamkan tepat ke ulu hatinya. Udara yang dia hirup terasa sangat berat, pekat, dan dipenuhi aroma besi karat murni. Sensasi mencekik itu begitu kuat hingga membuat matanya memerah dan kakinya sempat mundur setengah jengkal.
“Ini... Qi Demonic ? Atmosfer di dalam sini benar-benar berbahaya!”
Seolah dapat merasakan guncangan fisik yang dialami calon muridnya, Tetua Mo melirik dari sudut mata. Bibirnya terangkat membentuk garis datar.
"Wajar bagimu merasa tertekan seperti itu," suara Tetua Mo terdengar santai, berbanding terbalik dengan kondisi Xuan Chen yang sedang menahan bobot udara. "Kau belum terbiasa dengan densitas Qi di wilayah dalam. Tanpa Dantian yang aktif, tubuh biasa akan merasa seolah-olah tenggelam di dasar samudra."
Tetua Mo mengangkat token di tangannya sebentar sebelum memasukkannya kembali. "Dan ingat, token yang kau genggam saat ini bukan hanya tanda pengenal statusmu di sekte, tetapi juga kunci utama untuk menembus Array Pelindung ini. Tanpa token itu, tubuhmu akan langsung dihancurkan oleh petir formasi dalam satu tarikan napas jika mencoba masuk secara paksa."
Tanpa menunggu balasan Xuan Chen, sang tetua melangkah masuk lebih dulu menembus celah formasi. Xuan Chen mengatur ritme napasnya yang tidak teratur, menegakkan punggungnya kembali dengan paksa, lalu menyusul dari belakang.
Begitu menembus formasi, pandangan Xuan Chen seketika terperana.
Di balik citranya sebagai sekte demonic yang kejam, pemandangan di dalam Sekte Jurang Jiwa sangatlah megah. Puncak-puncak gunung berdiri menjulang menembus lautan awan hitam. Istana-istana kuno berarsitektur megah dari batu hitam berdiri kokoh di atas tebing-tebing curam, dihubungkan oleh jembatan rantai besi raksasa yang menggantung di udara.
Meskipun aura spiritual di tempat ini sangat mencekik , keagungan struktur bangunan sekte tersebut tidak bisa dibantah. Ini adalah markas dari sebuah kekuatan besar yang telah berdiri selama ribuan tahun.
"Kau tunggu di sini," ucap Tetua Mo mendadak saat mereka tiba di sebuah platform batu luas yang dikelilingi patung iblis tanpa kepala. "Jangan bergerak terlalu jauh jika kau masih sayang dengan nyawamu."
Syuuuk!
Belum sempat Xuan Chen mengangguk, tubuh Tetua Mo telah meledak menjadi gumpalan asap hitam dan menghilang tanpa jejak dalam sekejap mata. Xuan Chen ditinggalkan sendirian di tengah platform batu yang sepi dan dingin.
Angin malam yang berhembus membawa aroma amis menusuk hidung Xuan Chen. Dia berdiri menyilangkan tangan di dada, matanya yang tajam tetap menyapu sekeliling dengan tingkat kewaspadaan maksimal. Dia mengingat dengan jelas kata-kata Tetua Mo : Yang kuat memangsa yang lemah.
Tidak perlu waktu lama bagi kata-kata itu untuk terbukti.
Wuuuuushhhhhh!
Hanya selang waktu menyeduh setengah cangkir teh setelah kepergian Tetua Mo, sebuah dorongan angin kencang meluncur deras dari balik patung batu di sebelah kiri Xuan Chen. Niat membunuh yang sangat pekat dan dingin langsung mengunci keberadaan Xuan Chen.
Aura membunuh itu begitu nyata hingga membuat bulu kuduk di lehernya berdiri tegak. Seorang pemuda berpakaian murid luar Sekte Jurang Jiwa melompat keluar dengan belati hitam di tangannya.
"Anak baru! Jadilah bahan kultivasi untuk teknik darahku! Hahaha!" tawa gila meledak dari mulut penyerang tersebut.
Belati hitam itu meluncur lurus mengincar dada kiri Xuan Chen dengan kecepatan yang sangat tinggi bagi ukuran praktisi Ranah Penempaan Tubuh.
Pada momen kritis itu, sensasi misterius kembali bergejolak di balik kelopak mata Xuan Chen.
Penglihatannya mendadak menyempit. Warna dunia sekitar seolah meredup, dan pergerakan penyerang yang tadinya secepat kilat mendadak melambat secara ilahi di mata Xuan Chen. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana sudut genggaman belati lawan agak miring, dan bagaimana otot kaki kiri penyerang itu goyah saat mendarat.
Mata Xuan Chen langsung bereaksi, membaca seluruh lintasan serangan musuh tanpa rasa panik sedikit pun.
Xuan Chen sama sekali tidak mencoba melompat mundur atau menghindar. Dia sengaja menggeser tubuh nya setengah inci ke kanan, membiarkan ujung belati hitam itu menyayat menggores dada nya.
Srkkkkk!
Jubah di bagian dadanya teroyak tipis, memercikkan sedikit goresan darah di kulit Xuan Chen. Namun, belati itu sama sekali tidak menembus jantungnya.
Pria penyerang itu melebarkan matanya. Seringai kemenangan di wajahnya mendadak membeku saat melihat respons dari korban yang diincarnya.
Bibir Xuan Chen justru perlahan terangkat, membentuk sebuah seringai dingin yang sangat mengerikan di bawah pancaran sinar bulan. Matanya yang memancarkan kilatan misterius menatap lurus ke dalam pupil mata si penyerang.
Perlahan, tawa dingin keluar dari tenggorokan Xuan Chen.
Penyerang itu merasakan hawa dingin menusuk punggungnya. Perasaan terancam yang sangat luar biasa mendadak mengepung jiwanya, membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan pemuda di depannya ini.
"A-apa yang kau tertawakan, bocah?!" bentak pria itu, berusaha menutupi rasa takut yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Pria itu berniat menarik kembali belatinya dengan cepat untuk mundur dan mengambil jarak. Namun, mata Xuan Chen sudah memprediksi niat tersebut jauh sebelum otot lengan musuhnya bergerak.
Sebelum pria itu sempat menarik lengannya kembali, Xuan Chen melangkah maju satu tapak. Otot-otot di lengan kanannya mengeras seketika, dialiri seluruh tenaga dari Ranah Penempaan Tubuh yang telah dia latih di hutan perbatasan.
Brak!
Tangan kanan Xuan Chen meluncur bagaikan cakar besi yang dingin, mencengkeram erat kerongkongan leher pria itu dengan akurasi yang mematikan.
Krekkkkkk!
Suara remukan tulang leher dan jaringan otot yang tertekan hebat bergema nyaring di platform batu yang sunyi. Cengkeraman Xuan Chen begitu kuat hingga mengangkat tubuh pria itu beberapa inci dari atas tanah.
"Akkkhhh... ughhh!"
Mata penyerang itu membelalak hampir keluar dari kelopaknya. Seluruh aliran udaranya terputus seketika. Lidahnya terjulur keluar, dan belati hitam di tangannya terjatuh ke lantai batu dengan bunyi dentang yang keras.
Pria itu mencoba memukul dan mencakar lengan Xuan Chen dengan sisa tenaga di kakinya, namun lengan Xuan Chen berdiri kokoh bagaikan pilar besi yang tak tergoyahkan. Tatapan mata Xuan Chen tetap dingin dan datar, menatap proses sekarat musuhnya tanpa ada sedikit pun riak emosi atau rasa kasihan.
Rasa penyesalan yang sangat dalam meledak di dalam dada pria penyerang itu. Setiap inci sel di tubuhnya berteriak histeris menahan rasa sakit dan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Pria itu bahkan tidak bisa lagi mengucapkan sepatah kata pun untuk memohon ampun.
Di dalam pikirannya yang makin menggelap, jeritan keputusasaan menggema dengan sangat jelas:
“Monster... Ini bukan murid baru! Aku... aku akan mati di tangan monster ini...!”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!