Indonesia
NovelToon NovelToon

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Episode 1

Bab 1: Siswa Buangan

"Kamu resmi dikeluarkan."

Pak Kepala Sekolah SMA Budi Utama mendorong dua lembar kertas ke depan Arya Pratama. Stempel biru yayasan sudah menempel di sudutnya.

SURAT KEPUTUSAN PEMBERHENTIAN PESERTA DIDIK.

"Nilaimu paling bawah. Absensimu buruk. Guru-guru sudah menyerah," lanjut pria itu. Nadanya pelan, tapi tiap kata seperti palu. "Bapak tidak mau kamu membuat masalah setelah ini. Tanda tangan penerimaan surat, bawa pulang, minta orang tuamu datang kalau masih ingin protes."

Arya melihat buku rapornya di meja. Angka merah memenuhi kolom matematika, fisika, kimia, sejarah.

Semua orang bilang ia bodoh.

Mereka tidak pernah tahu, setiap kali Arya membuka buku, kepalanya sakit bukan karena ia tidak paham.

Terlalu banyak yang salah di dalam buku itu.

Tetapi siapa yang akan percaya siswa buangan?

"Saya mengerti, Pak," jawab Arya akhirnya.

"Bagus." Pak Kepala Sekolah mengetuk surat itu dengan jari. "Kalau kamu mau masuk Paket C atau sekolah yang lebih... sesuai, Bapak bisa beri rekomendasi."

Lebih sesuai.

Tempat untuk orang gagal.

Arya mengambil surat itu.

Begitu pintu ruang kepala sekolah terbuka, tiga siswa di koridor langsung menoleh. Mereka melihat map cokelat di tangan Arya, lalu tertawa.

"Dikeluarin beneran?"

"Ya jelas. Nilainya begitu terus."

"Kasihan ayahnya. Kerja proyek capek-capek, anaknya malah dibuang sekolah."

Langkah Arya berhenti setengah detik.

Tiga siswa itu langsung diam, tapi senyum mereka belum hilang.

Arya menoleh. Matanya datar.

Anak yang tadi bicara menelan ludah. "Apa?"

Arya tidak menjawab. Bukan karena takut. Ia hanya tahu satu hal: kalau ia memukul orang hari ini, yang akan dipanggil ke sekolah adalah Ayah.

Dan Ayah sedang sakit.

Ia berjalan pergi.

Di gerbang sekolah, satpam menatapnya dengan kasihan. "Pulang cepat, Mas Arya?"

"Iya, Pak."

Tidak ada gunanya menjelaskan.

Arya pulang ke Perumahan Cempaka dengan map cokelat dijepit di bawah lengan. Di depan rumah kontrakan mereka, sandal kerja Ayah sudah ada di teras.

Pulang cepat dari proyek berarti buruk.

Arya membuka pintu.

Di ruang tamu sempit, Budi Pratama duduk di kursi plastik dengan kaus proyek masih melekat di badan. Wajahnya pucat. Begitu melihat Arya, ia mencoba berdiri, tetapi batuk keras lebih dulu mengguncang dadanya.

"Arya?" Budi mengangkat kepala. Suaranya serak. "Kok sudah pulang, Nak?"

"Dari sekolah," kata Arya.

Budi terdiam. Pandangannya jatuh ke map cokelat. "Itu apa?"

Arya meletakkannya di meja.

Budi membuka surat itu. Jari kasarnya berhenti di bagian tanda tangan orang tua.

"Mereka... memberhentikan kamu?"

"Iya, Yah."

Budi menutup surat itu. Ia tidak marah. Justru itulah yang membuat dada Arya lebih sesak.

"Ayah tahu kamu bukan anak nakal," kata Budi pelan. "Mungkin sekolahnya saja tidak cocok. Nanti Ayah coba bicara. Kalau perlu Ayah ambil lembur lagi."

"Jangan." Suara Arya keluar lebih cepat dari yang ia duga.

Budi menatapnya.

Arya menurunkan nada. "Ayah sedang sakit. Jangan tambah lembur."

"Cuma flu sedikit."

Seolah ingin membuktikan kata-katanya, Budi malah batuk keras. Bahunya terguncang. Arya segera mengambil gelas teh, tetapi teh itu sudah dingin. Di rak kecil dekat dapur, kotak obat mereka kosong. Hanya ada satu strip paracetamol bekas dan minyak kayu putih tinggal setetes.

"Obat Ayah habis?"

Budi tersenyum lemah. "Besok juga sembuh."

Arya tidak menjawab. Ia memasukkan surat pemberhentian itu kembali ke map, lalu mengambil dompet lusuh dari laci. Uangnya tidak banyak. Beberapa lembar dua puluh ribuan, selembar lima ribuan, dan koin yang bunyinya terlalu ramai untuk jumlah sekecil itu.

"Aku beli obat dulu."

"Arya, tidak usah. Uangnya buat makan malam."

"Aku hitung cukup."

Budi tampak ingin membantah, tetapi batuk lagi. Akhirnya ia hanya mengangguk. "Hati-hati, Nak."

Arya keluar ketika langit mulai berubah oranye. Di tangannya, map cokelat masih ia bawa tanpa sadar. Surat itu seperti bayangan yang mengikuti, mengingatkan bahwa hari ini ia resmi jatuh ke dasar.

Apotek terdekat berada dua gang dari rumah, di sebelah toko pulsa dan warung pecel lele. Lampu neon putihnya berkedip-kedip. Di rak kaca, obat flu, vitamin, salep, dan masker ditata rapi dengan label harga yang beberapa bagiannya miring.

Seorang apoteker perempuan berusia tiga puluhan berdiri di balik meja. Namanya tertulis di pin kecil: Rina.

"Cari apa, Mas?" tanyanya.

"Obat flu untuk orang dewasa. Demam, batuk, badan pegal."

Rina mengangguk serius, lalu mengambil dua kotak obat dari rak. "Yang ini untuk demam. Yang ini untuk batuk. Diminum setelah makan."

Arya melihat label harganya.

Rp 25.000.

Rp 18.000.

"Totalnya berapa, Bu?" tanya Arya.

Rina mengambil kalkulator kecil berwarna abu-abu. Ia menekan tombol dengan hati-hati, seolah sedang menjinakkan alat yang berbahaya.

Tik. Tik. Tik.

Ia menatap layar, lalu berkata, "Lima puluh dua ribu."

Arya berkedip.

"Maaf, Bu. Dua puluh lima ribu tambah delapan belas ribu?"

"Iya." Rina mengangguk mantap. "Lima puluh dua."

Arya menatap dua kotak obat itu, lalu kalkulator di tangan Rina. Mungkin ia salah dengar. Mungkin ada biaya tambahan.

"Ada biaya plastik atau administrasi?"

"Tidak ada, Mas. Dua obat saja."

Rina menekan kalkulator lagi. Kali ini lebih lambat. Angka di layar sempat terlihat dari posisi Arya: 25, lalu 18, lalu entah tombol apa yang ia tekan setelahnya. Rina mengerutkan dahi.

"Eh... tiga puluh lima ribu?"

Arya diam.

Rina tampak tidak yakin. Ia mengambil pulpen, menarik selembar kertas nota, lalu menulis angka besar-besar.

25.000

18.000

Garis.

Ia menatap susunan itu seperti melihat soal ujian nasional. Pulpen di tangannya bergerak ke kanan, ke kiri, lalu berhenti. Keringat kecil muncul di pelipisnya.

"Sebentar, Mas. Kalau lima ditambah delapan..." Ia menggigit bibir. "Tiga belas. Berarti tulis tiga, simpan satu. Lalu dua tambah satu..."

"Empat puluh tiga ribu," kata Arya.

Ruangan apotek mendadak terasa terlalu sunyi.

Rina mengangkat kepala pelan-pelan. Matanya membesar.

"Apa?"

"Totalnya Rp 43.000, Bu." Arya menunjuk nota tanpa menyentuhnya. "Dua puluh lima ribu tambah delapan belas ribu. Lima tambah delapan tiga belas, tulis tiga simpan satu. Dua tambah satu tambah satu sama dengan empat. Jadi empat puluh tiga."

Rina menatap nota. Lalu menatap Arya. Lalu kembali ke nota.

Wajahnya berubah. Ekspresinya lebih dekat pada orang yang baru melihat seseorang mengangkat lemari dengan satu tangan.

"Mas..." Suaranya mengecil. "Mas hitung itu di kepala?"

Arya hampir tertawa. Pertanyaan itu terlalu tidak masuk akal untuk dianggap serius.

"Iya."

"Tanpa kalkulator?"

"Itu cuma penjumlahan."

Rina mundur setengah langkah. Punggungnya menyentuh rak obat di belakangnya hingga beberapa kotak vitamin bergoyang. Ia memandang Arya dengan campuran takut, kagum, dan bingung.

"Mas jangan bercanda. Orang biasanya pakai alat. Kalau tidak pakai alat bisa salah."

"Tapi Ibu pakai alat tadi juga salah."

Kalimat itu keluar datar. Tidak mengejek. Justru karena terlalu datar, Rina seperti makin terpukul. Ia buru-buru menekan kalkulator lagi, kali ini mengikuti arahan Arya: dua, lima, nol, nol, nol, tambah, satu, delapan, nol, nol, nol, sama dengan.

43000.

Angka itu menyala di layar kecil.

Rina menutup mulutnya.

"Masya Allah..."

Arya meletakkan selembar lima puluh ribuan di meja. "Kembaliannya tujuh ribu."

Rina membeku lagi.

"Tujuh?"

"Lima puluh ribu dikurangi empat puluh tiga ribu."

Rina mengambil uang dari laci dengan gerakan kaku. Ia menghitung lembar dua ribuan, seribuan, lalu berhenti, bingung sendiri. Arya menunjuk pelan.

"Dua ribu tiga lembar dan seribu satu lembar."

"Oh. Iya. Iya, benar."

Saat uang kembalian itu berpindah ke tangan Arya, Rina tidak lagi melihatnya seperti pelanggan. Ia melihatnya seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di apotek kecil pinggir gang.

"Mas sekolah di mana?" tanyanya tiba-tiba.

Jari Arya mengencang di map cokelat.

SMA Budi Utama. Bekas siswa. Baru dikeluarkan hari ini karena dianggap terlalu bodoh.

Kalimat itu hampir keluar, tetapi ia menelannya kembali.

"Tidak penting, Bu."

Arya memasukkan obat ke kantong plastik, mengangguk singkat, lalu keluar dari apotek.

Udara malam Kota Buana menyambutnya dengan bau gorengan, asap motor, dan tanah basah. Dari warung sebelah, suara orang tertawa terdengar biasa saja. Lampu jalan menyala setengah redup. Dunia berjalan seperti tidak ada apa-apa.

Arya berhenti di bawah tiang listrik.

Di tangan kirinya ada kantong obat untuk ayahnya. Di tangan kanannya, map cokelat berisi surat yang menyatakan ia tidak layak lagi duduk di bangku SMA Budi Utama.

Beberapa jam lalu, surat itu terasa seperti bukti bahwa hidupnya hancur.

Sekarang, setelah melihat seorang apoteker dewasa gemetar karena penjumlahan Rp 25.000 dan Rp 18.000, arti surat itu mulai retak.

Arya menoleh ke arah apotek. Dari balik kaca, Rina masih memandangi kalkulatornya, lalu mencoba menulis ulang hitungan di nota, seperti sedang mempelajari ilmu rahasia.

Jantung Arya berdetak lebih pelan.

Selama ini, ia selalu mengira dirinya yang tertinggal. Ia tidak cocok dengan pelajaran, tidak cocok dengan guru, tidak cocok dengan cara orang-orang di sekitarnya berpikir. Semua orang berkata ia bodoh, dan dunia begitu kompak mengatakannya sampai ia hampir percaya.

Tapi bagaimana jika masalahnya bukan di kepalanya?

Bagaimana jika sejak awal, ukuran yang dipakai dunia ini memang rusak?

Arya menatap surat pemberhentian di tangannya. Sudut bibirnya tidak tersenyum, tetapi matanya mulai berubah.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, kata "bodoh" tidak lagi terasa seperti cap di dahinya.

Ia berjalan pulang perlahan, membawa obat, uang kembalian tujuh ribu, dan satu pertanyaan yang tidak mau pergi.

Sebenarnya, siapa yang bodoh di dunia ini?

Episode 2

Bab 2: Satu-satunya Orang Normal

Sebenarnya, siapa yang bodoh di dunia ini?

Pertanyaan itu ikut pulang bersama Arya Pratama.

Ia memberi obat kepada Ayah, menyiapkan air hangat, lalu duduk di lantai ruang tamu setelah Budi Pratama tertidur. Kipas kecil masih berputar dengan bunyi seret. Di atas meja, surat pemberhentian dari SMA Budi Utama tergeletak berdampingan dengan nota apotek.

Dua benda itu seharusnya tidak punya hubungan.

Yang satu menyatakan dirinya gagal sebagai siswa.

Yang satu membuktikan seorang apoteker dewasa gemetar karena penjumlahan sederhana.

Arya menatap keduanya sampai lewat tengah malam. Ia tidak langsung senang. Orang normal tidak akan langsung menyimpulkan dunia rusak hanya karena satu apoteker salah hitung. Mungkin Rina kelelahan. Mungkin kalkulatornya rusak. Mungkin hari itu memang hari buruk bagi semua orang.

Tetapi di kepala Arya, ada bagian kecil yang mulai menyusun pola.

Besok pagi, ia memutuskan untuk menguji semuanya.

Subuh baru lewat ketika Arya keluar dari rumah. Budi masih tidur, napasnya lebih lega setelah minum obat. Surat pemberhentian Arya tinggal di meja, tetapi nota apotek ia lipat dan masukkan ke saku celana.

Langit Kota Buana berwarna abu-abu muda. Motor mulai memenuhi jalan. Para pedagang mendorong gerobak, ibu-ibu membawa tas belanja, dan dari mushola dekat gang terdengar orang-orang pulang dengan langkah pelan. Semua tampak biasa.

Terlalu biasa.

Pasar Cempaka sudah ramai ketika Arya tiba. Bau ikan, cabai, minyak goreng, dan tanah basah bercampur jadi satu. Suara tawar-menawar naik turun seperti gelombang.

Arya berhenti di depan lapak buah.

Seorang pedagang berkumis tipis sedang menimbang jeruk untuk seorang ibu muda. Di atas timbangan, jarum bergerak ke angka satu kilogram. Tetapi Arya melihat posisi pemberat kecil di bawah piring timbangan. Dipasang miring. Kesalahannya kasar. Siapa pun yang pernah melihat timbangan waras akan sadar beratnya dikurangi.

Namun ibu muda itu tersenyum biasa saja.

"Berapa, Pak?"

"Tiga puluh ribu, Bu. Satu kilo."

Arya memperhatikan kantong jeruk itu. Beratnya paling banyak tujuh ratus gram.

Ia mendekat. "Pak, timbangannya miring."

Pedagang itu menoleh. "Miring bagaimana, Mas?"

Arya menunjuk pemberat di bawah piring. "Bagian ini mengganjal. Kalau posisinya begitu, jarum naik sebelum beratnya satu kilo."

Pedagang itu membungkuk, melihat alatnya, lalu menggaruk kepala.

"Oh. Begitu, ya?"

Pedagang itu tidak tampak bersalah atau panik. Wajahnya justru seperti orang yang baru diberi tahu bahwa pintu harus dibuka sebelum masuk rumah.

Ibu muda itu ikut melihat. "Jadi jeruk saya kurang?"

"Kurang sekitar tiga ons," kata Arya.

Pedagang berkumis itu terkejut. "Mas bisa tahu dari lihat saja?"

"Kantongnya tidak penuh. Posisi timbangannya juga salah."

Beberapa pembeli di dekat lapak mulai menoleh. Bukan marah kepada pedagang. Mereka memandang Arya.

Tatapan yang sama seperti Rina di apotek.

Arya merasakan tengkuknya dingin.

Pedagang itu buru-buru membetulkan pemberat, menambah jeruk, lalu tertawa kaku. "Wah, Mas hebat sekali. Saya dari tadi tidak kepikiran."

Tidak kepikiran.

Arya melanjutkan jalan. Di lorong sayur, ia melihat penjual cabai menghitung tiga kantong belanja dengan cara memindahkan batu kecil di meja. Di lapak ayam, seorang pembeli membayar Rp 100.000 untuk harga Rp 72.000, lalu menerima kembalian Rp 15.000 dan pergi tanpa protes. Penjualnya pun tidak tampak menipu. Ia terlihat yakin, bahkan bangga karena merasa telah menghitung benar.

Arya ingin menghentikan mereka semua.

Tetapi jika ia berhenti di setiap kesalahan, ia mungkin tidak akan keluar dari pasar sampai malam.

Di ujung pasar, perutnya berbunyi. Ia masuk ke warung bubur ayam kecil yang kursinya menghadap jalan. Seorang bapak tua menyendok bubur ke mangkuk sambil menyapa pelanggan dengan ramah.

"Satu, Pak. Tidak pakai kacang."

"Siap, Mas."

Harga bubur tertulis jelas di papan: Rp 12.000.

Arya makan cepat. Setelah selesai, ia menyerahkan uang Rp 20.000.

Bapak warung membuka laci, mengambil selembar lima ribuan, lalu dua koin lima ratus.

"Kembaliannya enam ribu, Mas."

Arya menatap uang di telapak tangannya. "Ini enam ribu?"

"Iya."

"Ini lima ribu tambah seribu. Total enam ribu. Tapi kembalian saya seharusnya delapan ribu."

Bapak itu membeku. "Delapan?"

"Dua puluh dikurangi dua belas."

Pelanggan di sebelah, seorang pria berjaket ojek online, ikut menoleh. "Bukannya enam, ya? Kalau dua belas ke dua puluh kan... banyak."

Arya menatap pria itu.

Pria itu sungguh-sungguh. Tidak sedang mengejek.

Arya mengambil tisu, menulis angka 20.000 - 12.000, lalu membuat susunan pengurangan sederhana. Ia tidak menjelaskan panjang. Hanya menunjuk satuan ribuan, puluhan ribuan, dan hasil akhir.

"Delapan ribu."

Bapak warung menghitung ulang dengan jari. Satu per satu. Lambat. Setelah hampir satu menit, wajahnya berubah pucat.

"Astaghfirullah... benar."

Pria berjaket ojek online menatap Arya seakan baru melihat pesulap. "Mas, itu belajar di mana?"

Arya memasukkan kembalian yang sudah dibetulkan ke saku. "Di sekolah dasar."

Mereka tertawa kecil, mengira itu lelucon.

Arya tidak ikut tertawa.

Di toko kelontong dekat pasar, ia melakukan uji ketiga. Ia membeli sabun cuci Rp 7.500 dan baterai kecil Rp 6.500. Pemilik toko salah menjumlahkan menjadi Rp 19.000, lalu setelah dikoreksi malah berkata Rp 11.000. Arya menyebut Rp 14.000. Pemilik toko mengambil kalkulator, salah menekan tombol, lalu menatap hasil benar dengan ekspresi kosong.

"Mas cepat sekali."

"Itu cuma tujuh setengah tambah enam setengah."

"Tapi ada setengahnya."

Arya berhenti.

Ada setengahnya.

Bagi orang itu, angka .500 bukan sesuatu yang otomatis menyatu menjadi seribu. Hal yang bagi Arya terjadi dalam sepersekian detik, bagi pemilik toko terlihat seperti teka-teki besar.

Ia keluar dari toko dengan tangan kosong. Barang yang ia beli ia kembalikan. Tujuannya bukan belanja.

Tujuannya memastikan bahwa semalam bukan kebetulan.

Matahari mulai naik. Arya duduk di bangku depan agen koran tua. Satu koran lokal tergantung dengan penjepit kayu. Judul utamanya besar:

PEMERINTAH KOTA MENAMBAH TIGA JEMBATAN, TOTAL JEMBATAN BERKURANG MENJADI DUA BELAS.

Arya membaca ulang judul itu.

Di bawahnya, berita menjelaskan bahwa sebelumnya Kota Buana memiliki sebelas jembatan kecil. Pemerintah membangun tiga jembatan baru. Wartawan menulis dengan yakin bahwa totalnya kini dua belas. Berita itu terbit tanpa koreksi atau catatan redaksi. Bahkan ada kutipan pejabat yang memuji "peningkatan besar dari sebelas menjadi dua belas setelah penambahan tiga unit".

Arya membuka halaman lain.

Sebuah artikel olahraga menyebut sebuah tim kalah tiga kali berturut-turut, tetapi "masih belum pernah kalah bulan ini" karena dua kekalahan pertama dianggap terjadi sebelum pertandingan ketiga. Artikel kriminal menulis bahwa pencuri masuk lewat pintu belakang yang terkunci dari luar, lalu menyimpulkan pencuri pasti keluar lewat jendela meskipun jejak lumpur justru masuk dari jendela.

Kesalahan kecil.

Kesalahan besar.

Kesalahan yang tidak disadari siapa pun.

Arya menurunkan koran itu perlahan.

Dunia di sekelilingnya masih bergerak. Orang membeli sayur. Motor lewat. Pedagang tertawa. Anak-anak sekolah berlari mengejar angkot. Tak seorang pun tampak panik melihat matematika kacau, logika berita berlubang, dan hidup yang berjalan seperti mesin rusak.

Karena bagi mereka, inilah normal.

Arya memejamkan mata.

Ingatan tentang kelas di SMA Budi Utama muncul satu per satu. Guru matematika yang salah memindahkan ruas tetapi seluruh kelas mencatat. Guru fisika yang menyebut benda lebih berat pasti jatuh lebih cepat dan dipuji karena "penjelasan sederhana". Teman-temannya yang bingung ketika Arya bertanya mengapa kesimpulan di buku tidak mengikuti premisnya.

Selama ini, ia pikir ia yang tidak cocok.

Ternyata ia bukan terlalu lambat.

Ia terlalu sadar.

Arya membuka mata. Dadanya terasa kosong dan penuh pada saat yang sama. Surat pemberhentian dari sekolah tidak hilang. Ayahnya masih sakit. Uang di rumah masih tipis. Ia tetap tidak punya seragam baru, tidak punya koneksi, tidak punya tempat belajar.

Tetapi ia punya sesuatu yang tidak dimiliki orang-orang ini.

Sesuatu yang begitu dasar sampai ia hampir tidak pernah menghargainya.

Otak yang normal.

Arya berdiri dari bangku. Di kaca kios koran, bayangannya tampak kurus, kusut, dan masih seperti siswa gagal yang baru dikeluarkan sekolah.

Namun kali ini, ia memandang bayangan itu lebih lama.

"Kalau dunia memang seperti ini," gumamnya pelan, "berarti aku bukan siswa buangan."

Angin dari jalan membawa debu tipis ke wajahnya. Arya menyeka pipi, lalu memasukkan nota apotek ke saku belakang.

Di depan sana, papan penunjuk jalan menuju pusat Kota Buana berdiri miring. Di salah satu sisinya tertulis arah ke Perpustakaan Daerah Kota Buana.

Arya tersenyum tipis.

Kalau pasar, warung, toko, dan koran saja sudah seperti ini, ia harus melihat sumbernya.

Ia harus membaca buku pelajaran dunia ini.

Episode 3

Bab 3: Langit-langit Dunia Ini

Ia harus membaca buku pelajaran dunia ini.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Arya Pratama, itu seperti membuka pintu ke ruang gelap yang selama ini ia kira hanya dinding.

Jika apoteker salah menghitung, itu bisa disebut kelalaian. Jika pedagang pasar, pemilik warung, pemilik toko, dan wartawan lokal membuat kesalahan yang sama, itu sudah menjadi pola. Namun pola masih bisa berasal dari kebiasaan buruk.

Buku pelajaran berbeda.

Buku pelajaran adalah dasar yang dipakai sekolah untuk membentuk pikiran jutaan orang. Jika dasarnya benar, mungkin masyarakat hanya buruk dalam mempraktikkannya. Jika dasarnya salah, berarti kerusakan itu ditanam sejak awal.

Arya pulang sebentar untuk melihat keadaan Ayah. Budi Pratama sedang duduk di teras, memegang gelas air hangat. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya lebih baik.

"Kamu dari mana pagi-pagi, Nak?"

"Jalan sebentar, Yah."

"Jangan terlalu banyak pikiran soal sekolah."

Arya menatap ayahnya. Di atas meja ruang tamu, surat pemberhentian itu masih ada. Kertas yang kemarin menekan dadanya kini tampak lebih kecil.

"Aku mau ke perpustakaan daerah," kata Arya.

Budi berkedip. "Perpustakaan?"

"Iya. Mau baca buku."

Untuk pertama kalinya sejak surat itu datang, senyum lemah muncul di wajah Budi. "Bagus. Ayah selalu senang kalau kamu baca. Tapi makan dulu."

Arya mengangguk. Ia makan nasi sisa semalam dengan telur dadar tipis, lalu berangkat membawa buku catatan lama dan pulpen. Tidak ada tas sekolah. Ia sudah bukan siswa sekolah mana pun.

Perpustakaan Daerah Kota Buana berdiri di dekat alun-alun kecil, bersebelahan dengan kantor dinas pendidikan. Bangunannya dua lantai, cat putihnya mulai kusam, tetapi halaman depannya bersih. Di pintu masuk, seorang petugas perempuan duduk di balik meja pendaftaran sambil menempelkan label pada kartu anggota.

"Mau baca di tempat atau pinjam, Mas?" tanyanya.

"Baca di tempat, Bu. Bagian buku pelajaran SMA di mana?"

Petugas itu menunjuk tangga. "Lantai dua, rak pendidikan. Matematika di sebelah kamus. Kalau bingung, ikuti label warna hijau."

"Terima kasih, Bu."

Arya naik ke lantai dua.

Ruangan itu sejuk karena AC tua yang bekerja keras. Rak-rak buku berjajar rapi. Ada siswa berseragam duduk di meja panjang, menyalin sesuatu dari buku ke kertas dengan wajah sangat serius. Di sudut lain, seorang mahasiswa tampak tertidur di atas modul tebal.

Arya menuju rak pendidikan.

Buku pertama yang ia ambil adalah matematika SMA kelas X. Sampulnya bergambar grafik dan segitiga, dengan logo kurikulum nasional di sudut bawah. Ia membukanya di bab bilangan.

Lima menit kemudian, alisnya mulai berkerut.

Sepuluh menit kemudian, ia menutup buku itu, menarik napas, lalu membukanya lagi dari awal untuk memastikan ia tidak salah membaca.

Di halaman dua puluh tiga, buku itu menulis bahwa hasil 7 x 8 "mendekati 54 atau 58 tergantung konteks penggunaan". Di halaman tiga puluh satu, pecahan 1/2 disebut selalu lebih besar dari 2/3 karena angka 2 lebih kecil daripada angka 3. Di bagian latihan, soal yang meminta siswa menyederhanakan 12/18 diberi kunci jawaban 12/18 karena "angka tidak boleh diubah tanpa izin guru".

Arya menatap kalimat itu lama sekali.

Ia ingin tertawa.

Ia juga ingin marah.

Ia tidak merasa lebih hebat. Masalahnya, buku ini bukan coretan anak kecil. Buku ini dicetak, diedarkan, diajarkan, dan dipakai untuk menentukan siapa yang pintar dan siapa yang bodoh.

Termasuk dirinya.

Arya mengambil buku fisika.

Bab pertama membahas gerak. Di sana tertulis bahwa gaya adalah "keinginan benda untuk berpindah tempat". Rumus yang seharusnya F \= m x a ditulis terbalik menjadi a \= F x m, lalu penjelasan di bawahnya menyebut bahwa semakin berat benda, semakin besar percepatan bila didorong dengan gaya yang sama.

Arya mencoret di buku catatannya sendiri.

F \= m x a.

a \= F / m.

Ia menulis contoh sederhana: dua benda didorong dengan gaya sama, benda lebih ringan bergerak lebih cepat. Tidak sulit. Anak SMP di dunia asalnya bisa memahami ini dalam satu pelajaran.

Di sini, kesalahan itu duduk tenang di buku teks seperti raja.

Arya berpindah ke kimia. Tabel periodik yang tercetak di bagian belakang buku tampak rapi, tetapi beberapa unsur ditempatkan berdasarkan warna favorit penulis. Oksigen berada dekat emas karena "keduanya penting bagi kehidupan dan kemakmuran". Natrium dan klorin dipisahkan jauh karena "terlalu berbahaya jika berdekatan di kertas".

Pulpen Arya berhenti bergerak.

"Ini bukan salah cetak," gumamnya.

Seorang siswa berseragam di meja sebelah menoleh. "Mas bilang apa?"

Arya melihat badge di seragamnya. Siswa itu berasal dari SMA lain, mungkin kelas XI. Di depannya ada buku matematika yang sama, terbuka di bab pecahan.

"Tidak apa-apa," kata Arya.

Siswa itu menunjuk catatan Arya. "Mas bisa mengerjakan bagian pecahan?"

"Bisa."

Mata siswa itu langsung berbinar. "Yang ini, Mas. Satu per dua sama dua per empat, kan? Tapi guru saya bilang belum tentu sama kalau bentuknya beda. Saya bingung."

Arya menatap soal itu.

1/2 dan 2/4.

"Itu sama," katanya.

"Sama bagaimana?"

Arya menggambar sebuah persegi panjang, membaginya menjadi dua bagian, lalu mengarsir satu. Di sampingnya, ia menggambar persegi panjang lain, membaginya menjadi empat bagian, lalu mengarsir dua.

"Lihat luas yang diarsir. Sama besar."

Siswa itu memandangi gambar tersebut. Dahinya berkerut sekeras orang memecahkan sandi rahasia.

"Oh..." katanya setelah hampir setengah menit. "Jadi angka bawah boleh beda asal bagiannya sama?"

"Iya."

"Masya Allah." Siswa itu menatap Arya dengan kagum polos. "Mas kuliah matematika?"

Arya hampir menjawab bahwa ia baru dikeluarkan dari SMA.

Ia menelan kata itu.

"Belum."

"Berarti Mas anak Kelas Inovasi?"

Kelas Inovasi.

Nama itu pernah ia dengar. Program unggulan di SMA Negeri 1 Buana, sekolah terbaik di Kota Buana. Katanya hanya siswa paling cerdas yang bisa masuk. Katanya guru-gurunya lulusan kampus besar. Katanya kelas itu melahirkan juara olimpiade kota hampir setiap tahun.

Dulu, nama itu terasa seperti puncak gunung yang mustahil ia sentuh.

Sekarang, setelah melihat 1/2 dan 2/4 menjadi masalah besar, gunung itu mulai terlihat berbeda.

"Bukan," kata Arya.

Siswa itu tampak terkejut. "Kalau bukan, kok bisa paham?"

Arya tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu kembali ke rak.

Buku sejarah menunggunya.

Di bagian awal, tertulis bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi "sekitar pertengahan bulan yang penting" karena penulis tidak yakin tanggal pastinya, lalu halaman berikutnya menulis tanggal 17 Agustus tetapi menyebut tahunnya berbeda. Peristiwa besar dicampur dengan legenda lokal tanpa pemisahan. Sebuah peta menunjukkan Kota Buana berada terlalu dekat dengan Jakarta, padahal jarak perjalanan darat di bagian lain buku disebut lebih dari dua belas jam.

Kesalahan logika.

Kesalahan angka.

Kesalahan sebab akibat.

Kesalahan yang terlalu banyak untuk disebut kesalahan biasa.

Arya duduk di lantai di antara dua rak. Buku catatannya kini penuh coretan. Di satu halaman, ia membuat tiga kolom: matematika, sains, sejarah. Di bawah setiap kolom, daftar kesalahan memanjang hampir memenuhi kertas.

Ia berhenti menulis saat menyadari sesuatu.

Jika ia terus mencari, daftarnya tidak akan selesai.

Masalahnya melampaui satu buku, satu guru, dan satu sekolah. Kerusakannya berada di seluruh sistem pengetahuan dunia ini.

Dan jika seluruh sistem itu rusak, maka label "bodoh" yang ditempelkan padanya sejak lama juga berasal dari sistem yang rusak.

Arya menutup buku catatannya.

Di luar jendela lantai dua, Kota Buana bergerak di bawah matahari. Angkot berhenti sembarangan. Seorang petugas parkir memberi aba-aba berlawanan arah kepada dua motor sampai keduanya hampir bertabrakan. Di halaman kantor dinas pendidikan, papan slogan berdiri tegak:

PENDIDIKAN CERDAS UNTUK MASA DEPAN CERDAS.

Arya membaca kalimat itu, lalu melihat kembali tumpukan buku di sekelilingnya.

Masa depan cerdas, dibangun dari buku yang bahkan tidak memahami pecahan.

Ada rasa dingin yang aneh merambat di dadanya. Bukan takut. Lebih dekat pada kesadaran bahwa sebuah pintu raksasa baru saja terbuka di depannya.

Selama ini, ia berdiri di dasar.

Ternyata dasar itu bukan tempatnya.

Ia hanya ditempatkan di sana oleh orang-orang yang tidak bisa membedakan langit-langit dengan lantai.

Arya kembali ke rak matematika dan mengambil buku latihan ujian masuk sekolah unggulan. Di sampulnya tertulis:

TES MASUK KELAS INOVASI SMA NEGERI 1 BUANA.

Edisi persiapan paling sulit se-Kota Buana.

Ia membuka halaman pertama.

Soal nomor satu meminta menghitung 15 + 27.

Soal nomor dua meminta menentukan mana yang lebih besar, 3/4 atau 2/4.

Soal nomor tiga meminta melengkapi pola 2, 4, 6, 8, ...

Arya membaca sampai halaman terakhir dalam waktu kurang dari dua puluh menit.

Tidak ada satu pun soal yang benar-benar menahan matanya.

Di meja dekat jendela, siswa SMA tadi masih memandangi gambar pecahan yang Arya buat. Di rak depan, mahasiswa yang tidur akhirnya bangun, membuka buku, lalu menguap bingung di depan soal perkalian dua digit.

Arya menutup buku latihan ujian itu.

Kertasnya mengeluarkan bunyi pelan, tetapi bagi Arya, bunyi itu seperti pintu yang terkunci dari dalam akhirnya terbuka.

SMA Budi Utama sudah membuangnya.

Bagus.

Kalau sekolah itu menganggapnya sampah, ia akan masuk ke tempat yang disebut paling pintar di Kota Buana dan melihat seberapa tinggi sebenarnya langit-langit dunia ini.

Arya menyalin alamat pendaftaran SMA Negeri 1 Buana dari halaman belakang buku. Lalu, di bawahnya, ia menulis satu kalimat.

Masuk Kelas Inovasi.

Pulpen berhenti. Ia menatap tulisan itu beberapa detik, lalu menambahkan kalimat kedua.

Tapi jangan terlalu cepat menunjukkan semuanya.

Karena jika kemampuan menghitung Rp 43.000 saja bisa membuat orang dewasa ketakutan, Arya harus tahu dulu satu hal penting.

Di dunia seperti ini, menjadi terlalu pintar mungkin jauh lebih berbahaya daripada menjadi bodoh.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!