Ponsel Jena yang berada di atas bantal berbunyi untuk kesekian kalinya.
Ting!
Suara notif itu datang beruntun, hingga rasa penasaran, membuat Jena yang sedang sibuk mempersiapkan proyek baru untuk pekerjaan, memilih berhenti sejenak, mengecek ponsel.
Jena mengernyit, ada puluhan chat di grup WA alumni SMA. Grup yang biasanya sepi kayak kuburan itu, mendadak ramai. Ia membuka room chat grup alumni untuk mengobati rasa penasaran
[ Guys, jangan lupa hadir ya! Aku mau mengundang kalian semua ke pernikahanku. Minggu depan.]
Di bawah pesan itu terlampir sebuah foto undangan digital.
Raka Pratama & Citra Maharani.
Jena terdiam, cukup lama, memperhatikan foto tersebut. Bukan apa-apa, Raka adalah mantan pacarnya saat SMA. Entah itu cinta pertama, atau cinta monyet.
Grup alumni mendadak ramai karena undangan tersebut. Banyak yang langsung menanggapi.
Winda: ASTAGA! RAKA AKHIRNYA NIKAH JUGA!
Dimas: Jena, jangan sedih ya. WKWKWK.
Tari: Jena datang kan? Biar reuni sekalian sama mantan.
Fajar: Kalau Jena datang, jangan-jangan langsung menyusul nih.
Winda: Eh, Jena kapan nyusul? Umur kita udah pada mau kepala tiga, lho.
Dimas: Yang belum nikah tinggal beberapa orang. Jena salah satunya.
Aleta: Gue kira yang paling cantik, bakalan paling cepat nikah, ternyata gak juga. Ternyata, gue lebih laku guys.
Jena membaca semuanya, satu per satu, meski muak.
"Lucu banget ya?" Ia tertawa hambar. Mematikan ponsel, melempar kembali ke atas bantal.
Tentu saja mereka menganggapnya lucu. Bagi mereka, menikah adalah perlombaan. Siapa yang duluan menikah, siapa yang sudah punya anak, adalah pemenang. Bahkan mungkin siapa yang jadi janda dan duda duluan, juga sebuah prestasi.
Tiga kali Jena menjalin kasih, endingnya selalu di selingkuhi. Maria, teman terbaiknya, sudah menjanda di usia 25 tahun. Dan yang lebih gong nya lagi, Papanya. Laki-laki yang selama ini ia anggap sebagai kepala keluarga yang sempurna. Ternyata diam-diam memiliki istri kedua.
Jena mengetahui semuanya ketika usianya dua puluh tahun. Rumah yang selama ini ia pikir penuh cinta ternyata menyimpan kebohongan bertahun-tahun. Ibunya menangis setiap malam, dan ia menyaksikan itu.
Lalu, laki-laki seperti apa yang bisa ia percaya? Apa sebenarnya arti pernikahan? Kalau sendiri bisa bahagia, apa urgensinya hingga harus berpasangan? Kalau punya pasangan beresiko sakit hati, bukankah sendiri adalah pilihan paling tepat. Setidaknya, kita tidak sedang menunggu waktu untuk disakiti.
"Jena!"
Suara Mama Asri dari luar kamar membuatnya tersentak.
"Ya, Ma?"
Ceklek
Pintu kamar Jena terbuka, Mama Astri melongokkan kepala ke dalam. "Gak lupa kan, besok sore ada acara di rumah Tante Sekar. Acara lamarannya Melisa."
Jena mendesah pelan. "Males ah, Mah. Aku gak ikut, Mama aja sendiri."
"Ini acara keluarga loh, masa kamu gak dateng. Temeni Mama, gak enak Mama dateng sendiri."
"Papa?"
Asri hanya mengedikkan bahu. Ia sudah tak terlalu peduli dengan suaminya itu. Sudah ada perempuan lain yang mengurusnya, jadi lebih baik, ia mengurus diri sendiri saja.
...----------------...
Keesokan harinya, baru juga tiba di rumah Tantenya dan salaman sama keluarga yang lain, Jena sudah langsung di bikin muak.
"Jena, kapan kamu nyusul Melisa?" Tanya Tante Yuli, adik Mamanya.
"Emang Melisa kemana Tante, pakai harus aku susulin segala." Jena memutar kedua bola matanya sambil bersedekap.
Asri menyenggol lengan putrinya, memberi isyarat agar lebih sopan.
"Kamu udah mau 30 kan, masih nunggu apa lagi?" seseorang tiba-tiba menyahut. "Makanya jangan kelamaan pilih-pilih."
Jena tersenyum kecut.
Pertanyaan berikutnya datang tanpa ampun.
"Memangnya kamu mau nyari yang kek gimana sih, Jen? Kalau standar kamu ketinggian, takutnya laki-laki pada minder. Kamu gak takut, jadi perawan tua?" Cindy, sepupu Jena itu tersenyum kecut.
Perawan tua? Kali ini, dia kata itu bikin Jena lumayan tersinggung. Raut wajahnya berubah tegang.
"Jen, ayo kesana yuk!" Asri menggenggam tangan putrinya, tahu situasi sudah mulai tak kondusif.
"As, sini!" Panggil Tante Sekar, melambaikan tangan pada Bu Asri.
"Jen, kita ke Tante Sekar dulu yuk!" ajak Asri.
"Mama duluan aja, bentar lagi aku nyusul. Masih mau ke toilet bentar."
Astri tampak ragu, namun akhirnya mengangguk, melangkah menghampiri Kakak perempuannya.
"Saranku sih Jen, yang penting gak kayak Papa kamu, udahlah, terima aja." Cindy melipat kedua lengan di dada, senyumannya seperti sedang mengejek.
"Emang kenapa Papaku?"
"Doyan kawin." Cindy dan Laura yang ada disampingnya, kompak tertawa.
"Tapi seenggaknya, Papaku kaya raya!" Jena tersenyum sinis. "Daripada bokap kaliankan?" Puas melihat wajah kesal dua sepupunya yang sejak remaja memang selalu iri padanya.
Jena menyentuh bahu Cindy dengan telunjuk. "Gak usah khawatir aku jadi perawan tua. Meski jadi perawan tua pun, aku masih bisa hidup enak, bisa keliling dunia, bahkan membeli harga diri kalian berdua. Lebih baik, khawatir sama nasib kamu sendiri. Takutnya bentar lagi udah jadi janda aja." Mendekatkan wajah ke telinga Cindy. "Suami kamu dari tadi ngeliatin aku mulu. Tipe-tipe mata keranjang kayak gitu, biasanya doyan selingkuh. Yakin deh dia pengen kawin lagi kayak Papaku, sayangnya gak ada modal. Mokondo." Tertawa puas, lalu melenggang pergi.
Cindy mengepalkan telapak tangan, wajahnya memerah, menatap Jena kesal.
Jena masuk ke dalam toilet, menatap pantulan wajahnya di cermin.
Wajah perempuan berusia dua puluh sembilan tahun menatap balik. Cantik. Mandiri. Punya karier bagus. Punya uang banyak. Tapi ada satu hal yang sulit ia miliki. Kepercayaan.
Jena mengusap wajahnya.
"Menjadi single seumur hidup, itu bukan dosa Jena. Bukan juga merugikan orang lain. Kamu hanya sedang melindungi diri sendiri." Suaranya bergetar.
Dari toilet, bukanya menemui Mamanya, Jena malah keluar dari rumah tersebut. Rumah yang hari ini di dekor indah untuk acara lamaran, tapi kesan yang ia rasakan, malah horor, terlalu banyak orang yang sibuk dengan hidupnya disini.
Ia berjalan menuju halaman. Baru beberapa langkah, ia berhenti. Mobilnya tidak ada.
Ah iya, dia lupa, kesini tadi diantar supir. Dan sekarang supirnya pergi membawa mobil mereka karena tak ada ruang buat parkir tadi.
"Astaga!" Jena mengacak rambutnya.
Ia mengeluarkan ponsel, mau menelepon sopir, namun batal saat melihat sesuatu. Motor di dekat pos satpam.
Jena berjalan mendekat.
"Pak..."
Satpam yang sedang duduk langsung berdiri.
"Iya, Mbak?"
"Motor itu boleh saya pinjam?"
Satpam mengerjapkan mata. "Motor saya?"
"Iya."
"Mau ke mana, Mbak?" Ia sudah bekerja lama disini, dan sudah kenal Jena.
"Keluar sebentar."
Satpam terlihat ragu.
"Bentar doang, nanti balik kesini lagi. Lagian Mama masih di dalam, acaranya kan nanti habis magrib. Pak Jono bawa mobilnya pergi, kan tadi Bapak yang ngelarang pakir di tepi jalan, katanya nanti untuk parkir keluarga calon mempelai laki-laki. Tenang, nanti kalau ada apa-apa, saya tanggung jawab."
Akhirnya, setelah beberapa kali meyakinkan, satpam menyerahkan kunci.
Jena mengenakan helm. "Terima kasih, Pak."
Motor melaju meninggalkan rumah, rasanya lega sekali. Jena tidak tahu hendak ke mana, hanya ingin muter-muter, dan kembali lagi nanti saat acara hampir selesai.
Ia muak dengan keluarga besar Mamanya. Ia muak dengan teman alumni SMA. Ia muak pada semua orang yang menganggap hidup perempuan harus memiliki batas waktu.
Dua puluh lima belum menikah.
Dua puluh tujuh mulai ditanya.
Dua puluh sembilan dianggap terlambat.
Tiga puluh seolah-olah sudah gagal.
"Muak!" Jena menggerutu di atas motor. "Kenapa sih semua orang peduli banget sama status pernikahan gue, padahal gue makan gak minta mereka."
Lampu merah, Jena berhenti. Ia menatap kendaraan di depannya dengan wajah kusut.
"Ketemu saudara, ditanya nikah. Ketemu teman sekolah, ditanya nikah. Ketemu tetangga ditanya nikah." Ia mendengus.
Lampu kembali hijau, Jena melanjutkan menyusuri jalan tanpa tujuan.
"Emang kenapa kalau 29 tahun belum nikah? Tidak bisakah mereka menilai, jika itu adalah pilihan, bukan gak laku." Ia tertawa miris, sekaligus pengen nangis saat ingat ucapan orang-orang yang terkesan menganggap dia tak laku.
Tanpa sadar, pandangannya tidak lagi fokus ke jalan. Sampai_
BRUUUK!
"AAAA!"
Motor oleng, Jena terlempar ke samping. Tubuhnya jatuh ke aspal. Dan sesuatu yang jauh lebih keras terdengar.
GEDUBRAK!
Sebuah gerobak roti bakar terguling.
Roti, margarin, selai, botol saus, dan berbagai bahan dagangan berhamburan ke jalan.
Orang-orang yang semula berjalan santai langsung berdatangan.
Laki-laki muda pemilik gerobak, langsung syok mendapati gerobaknya setengah hancur, semua kacanya pecah.
"Astaga!"
"Kecelakaan!"
"Tolongin Mbaknya!"
Jena terduduk di aspal, kepalanya berdenyut, tangannya terasa perih.
Seorang ibu membantunya berdiri, lalu memapahnya ke tepian.
"Mbak, nggak apa-apa?"
Jena menggeleng. Jantungnya masih berdegup kencang karena syok. Lututnya gemetar, matanya tertuju pada gerobak yang terguling. Motornya juga di pinggirkan oleh warga lain.
Seorang laki-laki muda memandangi gerobaknya yang terguling, wajahnya pucat. Ia mengenakan kaus hitam sederhana dan celana jeans. Usianya tampak tidak jauh dari Jena. Ia Lalu memandang Jena yang sekarang duduk di trotoar.
"Mbak..." Nada suaranya terdengar tertahan. "Gerobak saya."
Jena masih pusing, menatap laki-laki tersebut.
Laki-laki itu menunjuk gerobak. "Rusak."
"Terus?"
"Ya... ganti rugi."
Mata Jena langsung membesar. "Kenapa saya yang ganti?"
Beberapa orang langsung menoleh, laki-laki itu mengernyit.
"Mbak yang nabrak."
"Gerobak kamu kenapa mangkal di pinggir jalan?"
Suasana mendadak hening.
Laki-laki itu menatapnya tidak percaya. "Karena saya jualan."
"Ya jualan di tempat yang benar!"
Beberapa warga mulai berbisik.
"Waduh..."
"Yang nabrak malah marah."
Laki-laki itu menarik napas. "Mbak, saya cuma minta tanggung jawab."
Jena semakin emosi. "Saya juga jatuh! Kamu gak lihat, baju saya kotor, tangan saya juga berdarah." Menunjukkan telapak tangannya yang lecet.
"Iya, saya lihat."
"Motor saya juga rusak!" lanjut Jena.
Laki-laki itu menunjuk gerobaknya. "Gerobak saya juga rusak."
Jena terdiam, namun gengsinya membuatnya tetap membela diri. "Pokoknya saya nggak mau ganti!"
Seorang bapak yang berdiri di dekat sana langsung berseru. "Lho, Mbak! Jangan begitu! Kasihan itu orang jualan! Gerobaknya buat cari makan! Setiap hari memang disini mangkalnya."
"Betul Mbak, salah kok gak mau tanggung jawab."
Suara warga semakin ramai. Jena mulai panik.
"Eh... jangan pada ikut campur!" seru Jena.
Bukannya mereda, suara mereka justru semakin keras.
"Yang salah ya harus tanggung jawab!"
"Kalau nggak mau tanggung jawab, jangan naik motor!"
"Bawa aja motornya Bud, sita. Anggap ganti rugi."
Jena melotot, wajahnya pucat. Untuk pertama kalinya, keberaniannya menghilang. Ia melihat begitu banyak orang mengelilinginya. Tidak ada satu pun yang membelanya. Tangannya mulai dingin. Jena takut.
"Sudah..." Suaranya mengecil, bergetar. "Sa, saya ganti."
Laki-laki pemilik gerobak yang bernama Budi menatapnya. "Serius?"
"Iya." Jena menghela napas berat. "Saya ganti."
Ia membuka tas, tapi setelah diobok-obok, dompetnya tidak ada. Sepertinya dompetnya tertinggal di rumah. "Berapa?"
Budi memikirkan nominal yang sesuai.
Orang-orang disana mulai membantu mengambil barang-barang yang bisa diselamatkan, seperti roti yang masih terbungkus plastik, dan berbagai macam toping yang aman di dalam kotaknya masing-masing.
"Isinya gak usah diganti, mungkin sebagian masih bisa diselamatkan. Ganti gerobaknya saja. 3 juta."
Mata Jena membulat sempurnakan. "Segitu?"
"Kacanya hancur Mbak. Segitu cuma untuk renovasi. Kalau beli baru, harganya 5 juta. Belum lagi, gara-gara Mbak, saya gak bisa jualan, rugi berapa coba?"
Jena menyentuh pipi yang terasa perih. Ia melihat ada darah di tangannya. Ternyata pipinya terluka. Pantesan sakit sekali. Hari ini benar-benar sial. Ia menatap motor yang dipinjamnya.
"Gimana Mbak, 3 juta."
"Ya udah, tapi nanti, saya kelupaan bawa dompet."
"Halah, jangan alasan Mbak." Celetuk seorang ibu-ibu. "Bilang aja itu trik buat kabur. Palingan di sembunyikan di dalam tas." Ibu itu masih saja tak percaya.
"Heh Bu, lihat ini!" Jena membuka tasnya yang kotor, yang hanya berisi make up dan kipas angin mini.
"Transfer aja," ujar Budi. "Bawa HP kan?"
HP! Jena langsung teringat benda itu. Ia kembali mengecek shoulder bag nya, mengacak-acak isinya. "Ponselku! Ponselku gak ada." Ia panik. Tadi saat di rumah Melisa, ponselnya masih ada, berarti tidak ketinggalan di rumah. Tas nya tadi terjatuh, baru beberapa saat kemudian, ada yang menyerahkan padanya. Jangan-jangan... apa mungkin dompetnya juga bukan ketinggalan, tapi dimaling orang beserta HP nya.
Budi garuk-garuk kepala, membuang nafas kasar. "Drama apa lagi ini, Mbak?"
"Aku gak drama, ponsel dan dompetku hilang...'
"Tadi katanya ketinggalan di rumah dompetnya." Budi ikutan pusing.
"Ambil aja motornya Bud, buat jaminan." Ide seorang laki-laki yang ada di lokasi.
Jena panik, itu bukan motornya. "Jangan! itu bukan punya saya."
"Tuh kan, Mbak nya emang gak ada niat ganti rugi. Dari tadi ngeles mulu." Budi berdecak.
"Beneran, bukan punyaku."
"Ya Allah Mbak, cantik-cantik tapi tukang tipu." Celetuk ibu yang tadi memapah Jena.
"Heh, saya bukan tukang tipu!" Jena mendelik tak terima.
"Ya kalau emang gitu, kasih motornya ke Budi buat jaminan." Orang-orang itu sesama penjual kaki lima, mereka saling kenal.
"Ya sudah." Jena akhirnya mengalah. "Bawa aja motornya."
Sejak tadi, Budi memperhatikan wajah Jena, rasanya seperti tidak asing. Jenara, nama itu muncul di benaknya. Mungkinkah itu dia? Wajahnya sudah banyak berubah, terlihat makin cantik. Ah, mungkin orang lain.
"Bapak Ibu, bubar aja. Biar masalah ini, saya selesaikan berdua dengan Mbak nya." Budi menatap Jena cukup lama. Setelah semua orang bubar, ia mendekati Jena, duduk di sampingnya. "Mbak, surat motornya mana?"
Jena hanya tersenyum kecut.
"STNK."
"E..."
Budi menatapnya curiga. "Mbak, lihat STNK nya." Ia juga ingin memastikan, apa benar namanya Jenara.
Jena tersenyum semakin lebar. "Kan aku tadi bilang, itu bukan punyaku. Gak ada STNK nya."
"Mbak, aku nanya serius." Budi menatap kedua mata Jena, ada ekspresi kesal disana.
Jena membuang nafas berat. "Aku juga serius." Ia melotot, kembali garang setelah semua orang pergi. "Itu bukan motorku. Kamu jangan natap aku seperti itu dong. Bukan hanya kamu korban disini, aku juga. Kamu cuma rugi 3 juta, tapi aku 30 juta."
"Hah. Kok bisa?"
"I phone dan dompetku hilang!" Jena berteriak frustasi. "Mana tubuhku sakit ketimpa motor. Telapak tangan lecet. Ini juga." Ia meringis, menyentuh pipinya yang perih.
Ia lalu menangis. Bukan hanya karena sakit, tapi karena hari sial tak ada dalam kalender. Semua berawal dari undangan pernikahan Raka, grup chat alumni yang bikin naik darah, dan saudara yang menyebalkan. Semua ini, gara-gara nikah. Ia benci kata itu.
"Mbak, kok malah nangis? Disini saya korbannya."
"Sakit tauk!" bentak Jena.
Budi terdiam, syok. Ia jadi bingung, disini siapa korbannya.
Budi kembali beberapa menit kemudian dengan membawa dua botol air mineral dan sebungkus plester luka. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan salah satu botol kepada Jena.
“Minum dulu.”
Jena menerimanya dengan sedikit ragu. “Makasih.”
Budi kemudian duduk di sampingnya, membuka bungkus plester. Tatapannya kembali tertuju pada luka di pipi Jena.
“Diam sebentar.”
“Hah?”
Budi mendekat, lalu menempelkan plester dengan hati-hati di pipi Jena yang terluka. Gerakannya begitu teliti, seolah takut membuat luka itu semakin sakit.
Jena terdiam, tubuhnya membeku.
“Tangan kamu juga lukakan?"
"Hah!" Jena yang masih beku gara-gara perlakuan Budi, panik sesaat.
"Telapak tangan kamu. Tadi katanya luka."
Jena menunjukkan telapak tangannya. “Cuma lecet.”
"Mau aku pasangin, atau pasang sendiri?" Budi menunjukkan plester di tanganya.
"Aku pasang sendiri aja." Jena mengambil plester yang disodorkan Budi.
"Sini, aku bantu siram dengan air, biar bersih, baru ditampal plester." Budi membuka tutup air mineral, mengalirkan ke tangan Jena. "Kamu ada tisu gak, buat ngeringin?"
Jena mengambil tisu di tas, menyeka telapak tangannya lalu menempelkan plester disana.
“Mana lagi yang sakit?” Budi masih punya banyak sisa plester di tangannya.
“Enggak ada.”
“Sayang banget, aku terlanjur beli banyak.” Budi mengangkat satu renteng plester itu sambil tersenyum tipis. “Kalau masih ada luka lain, bilang. Biar enggak mubazir.”
"Kayaknya pengen banget aku banyak luka." Jena mendengus.
Budi menatap Jena beberapa detik. Seperti kembali memastikan sesuatu. “Boleh tanya?”
“Apa? Soal motor?" tebak Jena. "Aku bukan maling ya, itu motor aku pinjam. Jangan karena aku gak bawa STNK, kamu langsung nuduh aku maling."
"Bukan." Budi menggeleng.
"Lalu?" Jena mengerutkan kening.
“Kamu... Jenara, kan?”
Senyum Jena seketika lenyap. Ia menoleh cepat. “Kok kamu tahu nama aku?”
Budi tertawa kecil. “Berarti benar.”
Jena semakin curiga. “Kita pernah ketemu?”
“Pernah.”
“Di mana?”
“Kampus.”
Jena terdiam.
“Kita dulu satu kampus, cuma beda angkatan. Aku di bawah kamu.”
Mata Jena membesar. “Serius?”
Budi mengangguk.
“Tunggu-tunggu!" Jena tiba-tiba tersenyum. “Kamu kuliah di...Universitas Perjuangan?"
“Iya.” Budi mengangguk.
“Ah, bohong ah." Jena menggeleng. "Itu kampus elit!” Ia tertawa cekikikan sampai harus memegangi pipinya yang terluka. “Aduh!”
Budi memutar kedua bola mata, faham kenapa Jena menertawakannya. " Makanya, jangan suka ngetawain orang."
"Habisnya kamu lucu." Jena menahan agar tidak kembali tertawa. “Lulusan kampus elit_" Menunjuk gerobak roti bakar di dekat mereka. “...sekarang jualan roti bakar di pinggir jalan. Hahaha. Kocak lo!" Tawanya lepas.
Budi terdiam. Wajahnya yang semula santai perlahan berubah datar. “Memangnya kenapa?”
Jena menggigit bibir, berusaha menghentikan tawanya. Sadar, telah membuat orang lain tersinggung. “Enggak, gak papa kok. Sorry...gak bermaksud_"
“Ngetawain?" Potong Budi cepat.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Aku cuma enggak menyangka.”
Budi menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecut. “Kadang, dunia memang enggak selalu berjalan sesuai rencana." Menatap ke arah gerobaknya.
Tawa Jena perlahan menghilang. Untuk sesaat, ia menatap Budi dengan pandangan berbeda. "Jangan-jangan!"
"Jangan-jangan apa?" Budi menoleh.
"Kamu CEO yang lagi nyamar ya?"
Mulut Budi langsung terbuka lebar, melongo.
"Beneran, kamu CEO yang lagi nyamar?" Memegang kedua bahu Budi, menatap matanya lama. "Kamu CEO perusahaan mana? Mau nyari jodoh gadis yang tulus, yang gak mandang harta gitu?" Ia tiba-tiba menggeleng cepat. "Jangan masukin aku dalam list. Aku gak pengen nikah."
"Awww!" Jena menjerit kecil saat keningnya didorong Budi dengan telunjuk.
"Kebanyakan nonton dracin!" Budi geleng-geleng.
Jena tertawa cekikikan. "Aku wanita karier, seorang manager, kamu kira ada waktu buat nonton dracin hah? Temenku yang hobi nonton dracin, tiap hari ngayal jadi bininya CEO." Ia kembali meminum air mineral yang diberikan Budi, lalu menyandarkan punggungnya ke tiang rambu di belakang trotoar. "Jadi, kamu CEO bukan?"
"CEO roti bakar!" Budi mendelik, lalu geleng-geleng.
"Yah...bukan ya. Padahal mau aku kenalan sama temen aku. Eh, tapi kok kamu jualan roti bakar sih?"
"Emangnya kenapa? Jualan kan pekerjaan halal."
"Halal sih halal, tapi..." Jena tak enak hati untuk bicara langsung.
"Tapi pekerjaan rendahan gitu, kurang elit dalam bahasa kamu?"
"E..." Jena nyengir, garuk-garuk kepala yang tidak gatal. "Ya kan kamu lulusan kampus elit."
"Aku di DO dari kampus."
"What!" Jena langsung melotot. "Wah, kasus nih orang. Kasus apaan, nyolong? Atau...pencabulan!" Ia reflek menutup dada dengan kedua lengan.
Budi membuang nafas kasar. "Gak bisa bayar UKT."
"Lah, dah tahu gak ada duit, ngapain kuliah disana. Kocak!" Jena tertawa sambil geleng-geleng. "Miskin, tapi banyak gaya. Ups!" Buru-buru ia menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan. "Sorry, gak bermaksud_"
"Menghina." Potong Budi cepat. "Aku memang miskin kok."
"Maaf, keceplosan."
"Keceplosan kok terus."
"Hehehe."
"Ngomong-ngomong, HP kamu benar-benar hilang?" Budi mulai mengalihakan pembicaraan ke lainnya.
"Eh, aku nggak bohong, ya."
"Aku nggak bilang kamu bohong."
"Serius hilang. Dompetku juga." Ekspresi Jena berubah kesal saat mengingat kejadian beberapa menit lalu. "Pasti pas rame-rame tadi, ada yang nyolong."
Budi mengangguk pelan, percaya. Kadang disaat orang kesusahan, memang ada aja yang nyari kesempatan. "HP kamu iPhone kan? Sepertinya bisa dilacak."
Jena menghela napas. "Semoga aja."
"Bisa pakai fitur lokasi. Sekarang kan canggih. Kalau pencurinya nggak langsung matiin perangkat, kemungkinan masih bisa ketahuan."
Jena mengusap wajahnya. "Semoga aja bisa kelacak, nanti aku minta bantuan teman."
Pandangan Jena perlahan bergeser ke arah gerobak roti bakar yang sudah dipinggirkan oleh orang-orang. Rodanya patah, kaca etalasenya pecah. Beberapa peralatan di dalamnya berantakan. Rasa bersalah langsung menghantam dadanya. "Maaf ya."
Budi mengikuti arah pandangannya. "Oh, soal gerobak?"
Jena mengangguk. "Ini salahku."
Budi menghela napas pendek. "Ya, memang salah kamu."
"Aku bakal ganti rugi."
Budi menoleh. "Serius?"
"Iya, tapi.." Jena mengusap tengkuknya dengan canggung. "Tapi nggak sekarang. Aku lagi apes banget hari ini."
"Iya, aku ngerti kok."
"Eh, btw, nama kamu siapa?"
"Aku Budi."
"HP hilang, dompet hilang, terus jatuh dari motor. Lengkap pokoknya apesku hari ini." Jena mengembuskan napas panjang. "Aku juga nggak bisa ninggalin motor sebagai jaminan. Itu bukan motor punya aku. Gini aja deh, kamu simpen nomor aku, nanti kamu hubungi."
"Lah, kan HP kamu ilang."
"Ya siapa tahu nanti ketemu."
"Kalau enggak?"
"Kan masih tetep bisa, pakai nomor lama, tinggal diurus aja. Tenang, aku gak bakalan kabur kok. Lagian duit 3 juta gak ada apa-apanya buat aku. Buat sekali ngopi aja habis."
"Kopi apaan 3 juta, dicampur emas?"
"Flexing, gitu aja gak faham. Lagi nge branding diri, biar kamu yakin kalau aku orang kaya. Soalnya..."
"Soalnya apa? Jangan bilang, orang tua kamu sudah bangkrut?"
"Syukurnya sih belum."
"Lalu?"
"E..." Ekspresi wajah Jena tampak ragu. "Aku...mau pinjem duit."
Budi seketika melongo.
"Tadi aku lihat bensinnya mau habis. Aku gak mau kehabisan di jalan terus nuntun. Mau ditaruh mana mukaku!" Kakinya begerak-gerak tak karuan, membayangkan ada di posisi itu.
Budi garuk-garuk kepala. Udah gerobaknya rusak. Udah keluar uang buat beli minum dan plester. Sekarang masih harus keluar uang lagi buat beliin bensin. Kenapa sial bisa bertubi-tubi gini sih?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!