Bab 1: Pelayan yang Dibuang
"Dia itu cuma cadangan."
Tangan Raka Surya Pratama berhenti di depan pintu ruang VIP Restoran Taman. Nampan berisi dua gelas es teh hampir miring, tetapi pergelangan tangannya menegang tepat waktu.
Suara Vera Anggraini keluar dari balik pintu yang belum tertutup rapat. Lembut, manja, tapi menusuk seperti ujung pisau.
"Kalau Ahmad sudah siap tanggung jawab, buat apa aku tahan-tahan Raka? Dia cuma pelayan. Aku pertahankan selama ini karena dia nurut. Disuruh antar jemput mau, disuruh bayar cicilan motor mau, bahkan kalau aku bilang tunggu di depan gang sampai malam, dia tetap datang."
Tawa laki-laki menyusul. Ahmad.
"Terus anak ini?"
"Ya anak kamu, Mas." Vera terkikik pelan. "Tenang. Aku sudah empat bulan. Setelah acara pertunangan minggu depan, semua orang akan tahu aku calon istrimu. Raka? Biar dia dengar sendiri nanti. Paling cuma nangis."
Darah di wajah Raka seperti ditarik habis.
Empat bulan.
Selama empat bulan terakhir, dia mengambil shift tambahan di dapur, mengantar pesanan malam, menahan makian pelanggan, dan menyisihkan hampir semua gaji untuk Vera. Ketika Vera bilang butuh uang obat untuk ibunya, Raka mengirim. Ketika Vera bilang keluarga Ahmad hanya rekan bisnis, Raka percaya.
Di dalam ruangan, gelas berdenting.
"Kamu kejam juga," kata Ahmad.
"Aku realistis. Laki-laki miskin cuma cocok jadi tangga. Setelah naik, tangganya dibuang."
Nampan di tangan Raka bergetar.
Pintu mendadak terbuka.
Herman, supervisor restoran, berdiri di depannya dengan kening berkerut. Pria itu melihat nampan, lalu wajah Raka yang pucat. Senyumnya langsung miring.
"Ngapain berdiri kayak patung? Tamu VIP nunggu minuman. Drama hidupmu simpan di luar."
Suara dari dalam berhenti.
Vera menoleh.
Matanya bertemu mata Raka.
Untuk satu detik, wajahnya kaku. Tetapi hanya satu detik. Setelah itu dagunya terangkat, seakan justru Raka yang melakukan kesalahan.
Ahmad bersandar di sofa kulit, satu tangan melingkar di pinggang Vera. Di atas meja ada kotak perhiasan terbuka, cincin berlian kecil memantulkan cahaya lampu.
"Raka?" Vera berkata datar. "Kamu kerja di sini?"
Raka masuk dua langkah. Dia meletakkan nampan di meja tanpa menumpahkan satu tetes pun.
"Aku yang harus tanya," suaranya serak, tetapi jelas. "Empat bulan?"
Ahmad mengangkat alis. "Oh, ini yang kamu bilang cadangan itu?"
Herman langsung menangkap peluang. Ia menepuk bahu Raka terlalu keras.
"Jaga sikap. Ini Pak Ahmad, tamu penting. Kalau kamu bikin ribut, gajimu bulan ini saya tahan."
"Gaji saya masih kurang tiga minggu lembur," kata Raka, matanya tidak lepas dari Vera.
Herman mendengus. "Lembur? Kamu kerja lambat, saya masih baik tidak potong lebih banyak."
Vera merapikan rambut di belakang telinga. Gerakannya sama seperti dulu saat meminta maaf. Bedanya, sekarang tidak ada rasa bersalah di wajahnya.
"Raka, jangan bikin malu. Kita bicara baik-baik di luar nanti."
"Di luar?" Raka tertawa pendek. "Kamu bicara anak empat bulan di dalam ruangan ini. Sekarang minta aku diam di luar?"
Ahmad menaruh gelasnya dengan keras.
"Dengar, Pelayan. Kamu tidak punya hak mengangkat suara di depan calon istriku. Kalau kamu pernah bantu dia, anggap saja sedekah. Berapa totalnya? Dua juta? Lima juta? Saya ganti."
Ia menarik dompet, mengambil selembar uang lima puluh ribu, lalu melemparkannya ke lantai dekat sepatu Raka.
"Ambil. Tips terakhir."
Beberapa pelayan yang lewat di koridor berhenti. Di antara mereka ada Wulan Sari, kasir paruh waktu yang biasa menukar shift dengan Raka. Matanya melebar, tetapi ia tidak berani masuk.
Herman justru makin keras.
"Ambil, Raka. Jangan pura-pura punya harga diri. Orang seperti kamu kalau diberi uang harus bilang terima kasih."
Raka menatap uang di lantai.
Ia pernah berpikir harga dirinya bisa ditukar dengan kesabaran. Selama bisa membayar kontrakan Bibi Lestari, selama Bintang bisa sekolah tanpa malu, selama Vera suatu hari melihat usahanya, ia rela menunduk.
Ternyata orang yang menunduk terlalu lama hanya dianggap lantai.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Bibi Lestari muncul di layar retak.
Raka, uang sekolah Bintang ditagih lagi. Kalau belum ada, tidak apa-apa. Bibi coba pinjam ke tetangga dulu.
Raka menggenggam ponsel itu sampai buku jarinya memutih.
Ahmad mengikuti arah pandangnya dan tertawa.
"Keluarga miskin juga? Lengkap. Vera, seleramu dulu benar-benar rendah."
Vera menunduk sebentar, lalu berkata, "Aku dulu kasihan. Itu saja."
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan.
Raka membungkuk.
Herman tersenyum puas, mengira ia akan memungut uang.
Tetapi Raka tidak mengambil uang itu. Ia mengambil gelas es teh dari nampan, lalu menuangkannya perlahan ke atas lembar lima puluh ribu di lantai. Air cokelat meresap, membuat kertas itu lengket dan kotor.
Ruangan hening.
Raka meletakkan gelas kosong kembali ke meja.
"Uangmu terlalu mahal untuk harga diriku," katanya kepada Ahmad. "Tapi terlalu murah untuk membeli diamku."
Wajah Ahmad mengeras. "Kamu cari mati?"
Herman langsung maju dan mendorong dada Raka.
"Keluar! Mulai hari ini kamu saya pecat. Gaji? Jangan harap. Saya akan tulis kamu menyerang tamu."
Dorongan itu membuat punggung Raka membentur kusen pintu. Nampan jatuh berdenting. Beberapa pelanggan menoleh dari aula utama.
Wulan spontan berseru, "Pak Herman, Raka tidak menyerang siapa-siapa."
"Diam!" bentak Herman. "Kamu mau ikut dipecat?"
Wulan menggigit bibir, matanya merah, tetapi tetap berdiri di tempat.
Raka melihat semua itu. Vera yang memalingkan muka. Ahmad yang tersenyum seolah menonton badut. Herman yang menggunakan seragam supervisor seperti cambuk. Pelayan lain yang takut. Uang basah di lantai.
Dunia terasa sempit, bau minyak goreng dan parfum mahal bercampur dalam dadanya.
Lalu suara asing terdengar.
Bukan dari luar.
Dari dalam kepalanya.
[Ding.]
[Konfirmasi penghinaan publik, pengkhianatan pasangan, penindasan finansial, dan tekanan keluarga terdeteksi.]
[Mimpi, Sistem Ilahi No. 11, berhasil terikat dengan tuan rumah: Raka Surya Pratama.]
Raka membeku.
Tulisan biru pucat muncul di depan matanya, melayang di udara. Tidak ada orang lain bereaksi.
[Aturan utama dunia setelah sinkronisasi: nilai uang tuan rumah berbeda dari dunia luar.]
[Saldo awal: Rp350.000.]
[Daya beli efektif tuan rumah: setara Rp350.000.000.000 di mata sistem harga dunia.]
Napas Raka tercekat.
Tiga ratus lima puluh ribu rupiah.
Tiga ratus lima puluh miliar.
Ahmad melangkah maju. "Kenapa bengong? Takut?"
Herman menarik kerah Raka. "Saya bilang keluar!"
Raka menepis tangan Herman.
Gerakannya tidak kasar, tetapi cukup tegas membuat Herman terhuyung setengah langkah. Untuk pertama kalinya malam itu, mata Herman menunjukkan ragu.
Raka menatap Vera.
"Minggu depan pertunanganmu, kan?"
Vera menelan ludah. "Jangan datang."
"Aku akan datang," kata Raka. "Bukan sebagai cadangan."
Ahmad tertawa dingin. "Datanglah. Saya ingin lihat satpam menyeretmu keluar."
Raka mengambil ponselnya, menaruh uang lima puluh ribu yang basah itu di meja dengan dua jari, lalu berjalan keluar.
Di koridor, Wulan mengikuti beberapa langkah.
"Raka, kamu baik-baik saja?"
Raka berhenti. Suara sistem masih berdenyut pelan di kepalanya, seperti mesin yang baru bangun.
Ia melihat layar ponsel. Saldo rekeningnya masih Rp350.000. Angka kecil yang selama ini membuatnya menghitung harga nasi, bensin, dan obat Bibi satu per satu.
Sekarang angka itu seperti pintu baja yang terbuka.
"Belum," jawab Raka. "Tapi sebentar lagi iya."
Wulan tidak mengerti, tetapi ia melihat sesuatu berubah di mata Raka. Bukan sedih. Bukan putus asa.
Dingin.
Tenang.
Berbahaya.
Di belakang mereka, Herman masih berteriak tentang pemecatan. Ahmad memanggil satpam. Vera berdiri di samping cincin, wajahnya untuk pertama kali kehilangan warna.
Raka turun melewati pintu belakang restoran tanpa menoleh.
Di gang sempit, udara malam Surabaya menampar wajahnya. Ponselnya kembali menyala.
[Hadiah pemula tersedia: Panduan Konsumsi Era Deflasi.]
[Petunjuk pertama: verifikasi harga melalui transaksi kecil sebelum melakukan akuisisi besar.]
Raka menatap pesan Bibi Lestari sekali lagi.
Lalu ia berbisik, "Aku... sudah gila?"
Bab 2: Harga yang Mustahil
"Bang, nasi goreng satu. Telurnya dua."
Pak Maman, pemilik gerobak di ujung gang kos, hampir menjatuhkan spatulanya. "Dua telur? Tumben, Rak. Baru putus cinta atau baru dapat warisan?"
Raka duduk di bangku plastik yang kakinya timpang. Matanya merah karena semalaman tidak tidur, tetapi punggungnya tegak. Ia menaruh ponsel di meja, membuka aplikasi bank, lalu menatap saldo Rp350.000 yang tidak berubah.
Suara Mimpi muncul tenang di kepalanya.
[Uji transaksi disarankan. Nilai yang dibayar tuan rumah akan mengikuti harga deflasi sistem. Pedagang tetap menerima nilai wajar menurut realitas mereka.]
"Kalau aku bayar terlalu sedikit, dia tetap merasa cukup?" gumam Raka.
Pak Maman menoleh. "Ngomong sama siapa?"
"Sama perut saya, Pak. Dari tadi demo."
Pak Maman tertawa, lalu mengaduk nasi di atas wajan. Bau bawang putih dan kecap langsung menampar lapar yang sejak kemarin ditahan Raka. Biasanya ia menghitung dulu sebelum membeli. Nasi goreng satu porsi tujuh belas ribu. Telur tambah lima ribu. Teh hangat tiga ribu. Total dua puluh lima ribu, hampir ongkos makan dua hari kalau ia benar-benar irit.
Pagi ini Mimpi menampilkan angka lain.
[Harga terdeteksi: Rp0,00001.]
Raka menatap angka itu lama.
"Tidak lucu," katanya pelan.
[Tidak dirancang untuk melucu.]
"Kalau sistem bisa tersinggung, berarti aku benar-benar kurang tidur."
Pak Maman menaruh piring di depannya. "Makan dulu. Wajahmu kayak orang habis dikejar debt collector."
Raka mengambil sendok. Satu suapan masuk, panasnya membuat lidahnya perih. Justru rasa sakit kecil itu membuatnya yakin ia masih sadar.
Ponsel bergetar.
Nama Vera Anggraini muncul.
Raka memandang layar sampai panggilan itu mati sendiri. Tidak sampai lima detik, panggilan kedua masuk. Ia menekan tombol diam dan melanjutkan makan.
Pak Maman memperhatikan. "Pacar?"
"Mantan."
"Bagus. Kalau masih bikin muka begitu, berarti memang harus jadi mantan."
Raka hampir tersenyum.
Setelah piring bersih, ia berdiri. "Berapa, Pak?"
"Dua puluh dua ribu. Karena kamu langganan, tehnya saya kasih."
Raka mengambil sekeping koin seratus rupiah dari saku. Tangannya sempat berhenti. Koin itu terasa konyol, seperti sedang menghina orang yang selama ini sering memberinya makan ketika dompetnya kosong.
"Pak, saya bayar pakai ini."
Pak Maman menerima koin itu. Detik berikutnya, wajah pria tua itu berubah bingung.
"Lho, ini kebanyakan, Rak. Saya tidak ada kembaliannya."
Raka menahan napas.
Di mata Pak Maman, koin seratus rupiah itu bukan seratus. Sistem membuatnya cukup untuk menutup harga nyata, bahkan lebih.
"Tidak usah kembali, Pak."
Pak Maman mengernyit. "Jangan sok kaya. Kamu baru kehilangan kerja, kan? Herman tadi malam telepon orang-orang sekitar, katanya kamu bikin onar di Restoran Taman."
Jadi Herman sudah bergerak.
Raka memasukkan ponsel ke saku. "Saya memang tidak kerja di sana lagi. Tapi bukan berarti saya habis."
Pak Maman menatapnya beberapa saat. "Raka, saya lihat kamu dari pertama kos di sini. Kamu bukan anak nakal. Kalau butuh makan, bilang. Jangan pinjam ke orang salah."
Kalimat sederhana itu membuat dada Raka menghangat. Bukan semua orang melihatnya sebagai tangga.
"Saya ingat, Pak. Nanti saya balas kebaikan Bapak."
"Balas dengan hidup benar saja cukup."
Raka baru mau menjawab ketika ponselnya bergetar lagi. Kali ini pesan suara dari Vera.
Ia menekan putar.
Suara Vera terdengar tertahan. Tidak ada sesal di sana; hanya kesal karena rencana kecilnya terganggu.
"Raka, jangan kekanak-kanakan. Kamu tidak perlu datang ke acara pertunangan. Kalau kamu butuh uang, aku bisa minta Ahmad transfer sedikit. Tapi jangan ganggu hidupku. Kita sudah beda level."
Pak Maman ikut mendengar bagian terakhir. Wajahnya langsung gelap.
"Itu perempuan yang kamu antar tiap malam itu?"
Raka menghapus pesan suara tanpa membalas.
"Dulu iya. Sekarang cuma pelajaran mahal."
[Mimpi merekomendasikan langkah awal: gunakan aset besar untuk membangun identitas finansial yang tidak bisa dibantah. Target dekat: PT Mutiara Emas Properti, penjualan vila kosong sedang tertekan.]
Peta kecil muncul di penglihatan Raka. Alamat kantor pemasaran, daftar vila, harga pasar, dan harga deflasi yang membuat urat nadinya berdenyut.
Satu vila bernilai puluhan miliar di dunia normal.
Di mata sistem, hanya ratusan rupiah.
Raka duduk lagi. Lututnya tiba-tiba terasa terlalu ringan.
"Mimpi, kalau aku membeli properti besar, dokumennya sah?"
[Selama transaksi dilakukan melalui mekanisme legal yang diterima dunia luar: transfer bank, akta jual beli, notaris, pajak, dan bukti kepemilikan. Sistem hanya menyesuaikan harga yang dibebankan kepada tuan rumah.]
"Berarti aku tidak mencuri."
[Benar. Tuan rumah membayar. Dunia menerima.]
Raka melihat gang kos yang sempit, kabel listrik kusut, dinding lembap, dan sandal Bintang yang sudah jebol di depan pintu kamar Bibi. Pemandangan itu tidak perlu didramatisasi. Itu adalah alasan yang cukup.
Ia berdiri.
"Pak Maman, kalau ada orang Restoran Taman tanya saya, bilang saya sedang cari tempat tinggal baru."
Pak Maman mendengus. "Dengan uang apa?"
Raka mengangkat koin seratus rupiah yang tersisa di saku, lalu memasukkannya kembali.
"Dengan uang receh."
Pak Maman mengira ia bercanda. Raka tidak menjelaskan.
Di kamar kos, Bibi Lestari sedang menjemur seragam sekolah Bintang yang warnanya mulai pudar. Perempuan itu terkejut melihat Raka pulang terlalu cepat.
"Kamu sakit?"
"Tidak, Bi. Saya berhenti dari restoran."
Tangan Bibi membeku. "Raka..."
"Saya akan urus uang sekolah Bintang hari ini. Bibi jangan pinjam ke siapa pun. Jangan jual cincin peninggalan Ibu."
Bibi Lestari memegang ujung jilbabnya, bingung dan takut. "Kamu dapat kerja baru?"
Raka menatap kamar kecil yang selama bertahun-tahun menampung tiga orang dan terlalu banyak kecemasan.
"Lebih dari kerja baru. Tapi saya belum bisa jelaskan semua. Hari ini saya harus memastikan satu hal. Kalau berhasil, kita pindah."
Bintang muncul dari balik tirai, membawa buku tulis. "Pindah ke mana, Kak?"
Raka berjongkok di depannya. "Ke tempat yang pintunya tidak bocor kalau hujan."
Mata anak itu langsung menyala, tetapi Bibi Lestari justru makin cemas.
"Jangan lakukan hal berbahaya."
"Saya tidak akan jual diri, tidak akan menipu, tidak akan pinjam ke lintah darat," kata Raka. "Saya cuma akan membeli sesuatu."
"Membeli apa?"
Raka melihat peta PT Mutiara Emas Properti yang masih melayang di matanya.
"Rumah. Mungkin beberapa."
Ponsel bergetar lagi. Vera, untuk keempat kalinya.
Raka mengangkat kali ini.
"Akhirnya kamu angkat," kata Vera cepat. "Dengar. Ahmad marah. Kamu jangan muncul di acara kami. Aku bisa bicara ke Herman supaya kamu dapat gaji separuh, tapi syaratnya kamu minta maaf."
Raka membuka pintu kos dan melangkah keluar.
"Vera."
"Apa?"
"Tunggu sebentar."
"Maksudmu?"
Raka menatap matahari pagi yang memantul di kaca gedung jauh di pusat kota. Untuk pertama kalinya, gedung-gedung itu tidak tampak seperti milik dunia lain.
"Aku baru mau belajar menghabiskan uang."
Bab 3: Tiga Puluh Satu Vila
"Maaf, Mas, kantor pemasaran ini bukan tempat berteduh."
Sri Wahyuni bahkan belum mengangkat wajah sepenuhnya saat Raka masuk ke lobi PT Mutiara Emas Properti. Ucapannya halus, tetapi matanya sudah menilai sandal lusuh, kemeja bekas seragam restoran yang sengaja tidak Raka ganti, dan ponsel retak di tangannya.
Fajar belum ada dalam hidup Raka. Bayu belum masuk. Hari ini ia datang sendirian, membawa rekening berisi Rp349.900 setelah sarapan paling mahal yang pernah terasa murah.
"Saya mau lihat daftar vila yang dijual," kata Raka.
Sri tersenyum tipis. "Brosur digital bisa diunduh di situs kami. Untuk survei unit, minimal booking fee sepuluh juta."
"Saya tidak minta survei. Saya minta daftar."
Di meja sebelah, Wulan Sari, staf marketing yang lebih muda, mengangkat kepala. Ia mengenali suara orang yang sedang menahan marah. Ia mendengar luka di sana, tanpa tanda orang yang sengaja mencari masalah.
"Mas bisa duduk dulu," kata Wulan. "Saya ambilkan katalog."
Sri langsung menahan lengannya. "Wulan, jangan buang waktu. Calon pembeli kita hari ini dari Bank Garuda dan grup ekspor."
Raka menatap papan maket di tengah lobi. Komplek vila Bukit Amerta berdiri di sana dalam bentuk miniatur: tiga puluh satu unit, kolam kecil, jalan berpaving, taman, dan satu vila utama menghadap bukit. Di dunia normal, tempat seperti itu hanya muncul di iklan yang ia lewati tanpa berani membuka.
[Mimpi mendeteksi aset tertekan: 31 unit vila Bukit Amerta. Total harga dunia luar Rp1.100.000.000.000. Harga sistem untuk tuan rumah: Rp11.000.]
Sebelas ribu.
Lebih murah daripada makan siangnya dulu di kantin karyawan.
Pintu kaca terbuka dari belakang.
"Lho, Raka?"
Suara Herman membuat seluruh punggung Raka mengeras.
Supervisor Restoran Taman itu masuk bersama dua pria berbatik. Rupanya ia datang mengantar tamu atau sekadar ikut menempel pada orang kaya. Begitu melihat Raka, wajahnya langsung cerah seperti menemukan hiburan gratis.
"Kamu cepat juga cari kerja baru. Tapi salah alamat. Di sini jual vila. Kalau mau jadi pelayan, cari pintu belakang."
Sri tertawa kecil, merasa pendapatnya terbukti.
Wulan menahan napas. "Pak Herman kenal Mas Raka?"
"Kenal sekali. Baru tadi malam saya pecat karena tidak tahu diri. Tamu VIP dilempari kata-kata. Sekarang dia mau lihat vila? Mungkin mau bersihin kolamnya."
Beberapa staf menoleh. Dua tamu Herman ikut tersenyum.
Raka memasukkan tangan ke saku. Jari-jarinya menyentuh koin, lalu ponsel.
Dulu, ia akan menjelaskan. Ia akan bilang tidak seperti itu. Ia akan berharap orang percaya.
Hari ini tidak perlu.
"Saya mau beli seluruh vila Bukit Amerta," kata Raka.
Tawa Herman meledak paling dulu.
"Seluruh? Kamu tahu satu unit berapa? Bahkan kalau kamu kerja seratus tahun di dapur, uangmu belum cukup bayar pagar."
Sri bersandar di kursi. "Mas, kalau mau bercanda, silakan di luar. Kami sedang bekerja."
Wulan justru membuka katalog dan menaruhnya di depan Raka. Tangannya sedikit gemetar, tetapi suaranya profesional.
"Ini daftar unitnya, Mas. Mas bisa pilih tipe dulu."
"Saya bilang seluruh. Tiga puluh satu unit." Raka menunjuk maket. "Termasuk vila utama."
Sri mendengus. "Wulan, panggil security."
"Tunggu," kata Wulan. Ia menatap Raka. "Mas serius?"
"Serius. Siapkan rekening escrow atau rekening perusahaan yang sah. Saya ingin AJB dan dokumen pajak bersih. Kalau perlu notaris, panggil sekarang."
Kalimat itu membuat tawa Herman patah.
Orang miskin bisa pura-pura kaya. Tetapi orang miskin jarang menyebut escrow, AJB, dan pajak dengan nada setenang itu.
Sri mulai ragu, tetapi gengsinya sudah terlanjur berdiri. "Mas, prosedur kami tidak sesederhana itu. Pembelian bulk harus melalui direktur."
"Panggil direktur."
"Direktur kami sibuk."
"Kalau dia terlalu sibuk menerima Rp11.000, saya bisa cari developer lain."
Sri hampir tertawa lagi karena angka itu absurd. Tetapi pada saat yang sama, sistem di mata Raka menampilkan tombol konfirmasi.
[Transaksi legal tersedia melalui rekening perusahaan PT Mutiara Emas Properti. Nilai dunia luar akan disesuaikan pada sisi penerima. Konfirmasi pembayaran Rp11.000?]
Raka menekan layar.
Notifikasi transfer masuk ke komputer kasir.
Wulan yang sedang login admin melihat layar lebih dulu. Wajahnya memucat.
"Bu Sri..."
"Apa lagi?"
"Ada transfer masuk."
"Booking fee?"
Wulan menelan ludah. "Pembayaran penuh. Untuk kode aset Bukit Amerta."
Sri merebut mouse. Matanya melebar membaca sistem internal yang mendadak menandai seluruh tiga puluh satu unit sebagai lunas. Di kolom nilai, angka dunia luar tampil penuh sesuai pembukuan perusahaan: Rp1.100.000.000.000.
Herman maju, lalu berhenti.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Lift belakang berbunyi.
Seorang pria berusia lima puluhan keluar dengan langkah cepat, diikuti sekretaris. Jasnya sederhana, tetapi semua staf langsung berdiri.
Hendra Salim.
"Siapa yang melakukan pembayaran Bukit Amerta?" suaranya tajam.
Wulan mengangkat tangan pelan. "Pak, Mas ini. Mas Raka Surya Pratama."
Tatapan Hendra jatuh kepada Raka. Ia tidak tertawa. Tidak menilai sandal. Ia melihat layar, melihat Raka, lalu berjalan mendekat.
"Pak Raka," katanya, langsung memakai sapaan yang membuat Sri tertegun. "Saya Hendra Salim. Mohon maaf atas keributan di kantor kami."
Herman seperti ditampar tanpa tangan.
Raka mengangguk. "Saya ingin prosesnya bersih. Sertifikat, pajak, notaris. Tidak ada unit bermasalah."
"Tentu. Saya tangani pribadi." Hendra menoleh ke Sri. "Kenapa calon pembeli sebesar ini berdiri di lobi?"
Sri pucat. "Pak, saya... saya kira..."
"Anda kira dari pakaian?"
Tidak ada bentakan. Justru karena suaranya pelan, semua orang makin tegang.
Wulan segera menarik kursi. "Silakan, Pak Raka. Saya siapkan minum."
Raka duduk, tetapi ia tidak lupa menoleh kepada Herman.
"Pak Herman."
Herman tersentak.
"Tadi Anda bilang saya cocok bersihkan kolam."
"Raka, saya cuma bercanda."
"Bagus. Mulai sekarang kalau Anda lewat vila saya, jangan masuk lewat gerbang utama. Saya tidak suka lelucon murah mengotori halaman."
Dua tamu Herman menunduk, pura-pura memeriksa ponsel. Sri menggigit bibir sampai warna lipstiknya rusak.
Mimpi memberi notifikasi baru.
[Loyalitas awal Hendra Salim: 65. Terbuka peluang kerja sama strategis.]
Hendra menatap Raka dengan minat yang tidak disembunyikan.
"Pak Raka, kalau Bapak berkenan, kita lanjutkan di ruang VIP. Ada beberapa peluang properti yang seharusnya hanya saya tawarkan kepada investor inti."
Raka berdiri.
Ia datang untuk menguji sistem.
Ia keluar dari lobi sebagai pemilik tiga puluh satu vila.
Di belakangnya, Herman masih berdiri seperti orang yang baru sadar bahwa uang lima puluh ribu basah tadi malam bukan hinaan terakhir.
Raka mengikuti Hendra menuju lift khusus.
Pintu lift menutup, memisahkan wajah-wajah pucat di lobi.
Hendra menekan tombol lantai eksekutif, lalu berkata pelan, "Pak Raka, kalau Bapak bisa membeli Bukit Amerta tanpa negosiasi, mungkin saya sedang berhadapan dengan orang yang bisa menyelamatkan seluruh Mutiara Emas Properti."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!