Indonesia
NovelToon NovelToon

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Episode 1

Bab 1: Bangun di Tubuh Orang Lain

"Mas, saya hamil. Kursi itu kasih ke saya saja."

Bima Liem membuka mata tepat saat suara perempuan itu menusuk telinganya.

Kesadaran Bima pertama kali menangkap udara pengap bus antarkota, deru mesin, dan papan kecil di depan sopir bertuliskan Bandung-Waringin.

Bandung?

Waringin?

Bima menunduk. Di tangannya ada tiket bus antarkota atas nama Bima Liem. Di layar ponsel yang nyaris mati, ada puluhan pesan keluarga tentang Lebaran, foto warung kecil bernama Warung Dua Pohon, dan satu wallpaper dirinya bersama seorang gadis muda yang tersenyum sambil mengacungkan dua jari.

Ingatan asing menghantam kepalanya seperti air banjir.

Tubuh ini bernama Bima Liem. Dua puluh empat tahun. Kerja serabutan di Bandung. Pulang ke Kabupaten Waringin untuk Lebaran. Ayahnya Harto, ibunya Sri, adiknya Ratna.

Dan dirinya yang asli?

Mati? Pindah? Dilempar ke dunia lain?

Belum sempat ia menyusun napas, perempuan hamil di sebelah lorong mengetuk sandaran kursinya.

"Mas dengar, kan? Saya hamil. Masa kamu tega lihat ibu hamil berdiri?"

Bima mengangkat kepala.

Perempuan itu berdiri sambil memegang perutnya. Usianya mungkin awal tiga puluhan. Wajahnya lelah, tapi matanya tajam. Di belakangnya, seorang anak kecil menggenggam kantong keripik dan menatap kursi Bima seperti itu memang sudah menjadi miliknya.

Bus penuh. Orang berdiri di lorong. Tas ransel terselip di antara kaki. Beberapa penumpang menoleh.

Bima melihat nomor kursinya.

12A.

Ia melihat tiket.

12A.

Ia menatap perempuan itu lagi. "Maaf, Bu. Ini kursi saya."

Suara di dalam bus langsung turun menjadi hening yang menekan.

Seorang perempuan berkerudung cokelat dari kursi seberang mencondongkan badan. Usianya sekitar empat puluhan, wajahnya penuh keyakinan orang yang merasa dirinya selalu benar.

"Mas, jangan begitu. Ibu ini hamil. Kamu laki-laki, masih muda. Berdiri dua jam tidak akan mati."

Bima menoleh pelan. "Bu, tiket saya tertulis 12A."

"Tiket, tiket." Perempuan itu mendecak. "Sopan santun itu lebih tinggi daripada tiket."

Beberapa orang mengangguk.

"Iya, Mas. Kasihan, lho."

"Anak muda sekarang egois."

"Lebaran begini kok hati keras."

Bima menyandarkan punggung ke kursi. Kepalanya masih sakit karena ingatan baru yang belum selesai menyatu, tetapi kalimat-kalimat itu membuat sesuatu di dadanya menyala.

Jadi begini sambutan dunia baru?

Baru bangun di tubuh orang lain, langsung diperas pakai kata "tega".

Tiba-tiba, suara dingin berbunyi di benaknya.

[Deteksi emosi anti-pemerasan moral yang kuat.]

[Sistem Bantah Emas telah terikat. Selamat datang, Tuan Rumah.]

Di depan mata Bima, panel transparan terbuka. Tidak ada orang lain yang bereaksi. Perempuan hamil masih menatapnya. Bu sok suci di seberang masih siap memberi ceramah kedua.

[Tuan Rumah: Bima Liem]

[Level: 1]

[Poin: 0]

[Fitur aktif: Poin, Misi]

[Fitur terkunci: Undian, Toko]

Bima berkedip sekali.

Sistem?

Bu sok suci menunjuk wajahnya. "Mas, jangan pura-pura tidak dengar. Kalau ibu kamu yang hamil dan berdiri, kamu mau orang lain diam saja?"

[Peluang perolehan poin terdeteksi.]

[Sumber: tekanan moral publik.]

Sudut bibir Bima bergerak tipis.

Baik.

Kalau hidup baru ini dibuka dengan pemerasan moral, ia akan menjawabnya langsung.

Bima mengangkat tiketnya. "Bu, saya tanya satu hal. Kalau sopan santun lebih tinggi daripada tiket, kenapa Ibu tidak menyerahkan kursi Ibu?"

Perempuan berkerudung cokelat terdiam.

Beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya.

Kursinya?

Ya. Ia duduk nyaman di 11B, tas belanja besar dipangku.

"Saya..." Perempuan itu membuka mulut. "Saya kan perempuan."

"Ibu ini juga perempuan," kata Bima sambil menunjuk perempuan hamil. "Kalau ukuran moralnya jenis kelamin, kalian seharusnya otomatis saling mengalah. Kenapa saya yang jadi target?"

Satu pemuda di belakang tertawa kecil, lalu cepat menutup mulut.

[Poin +12]

Mata Bima bergerak ke panel. Angka berubah dari 0 menjadi 12.

Menarik.

Perempuan hamil mengerutkan dahi. "Mas, jangan muter-muter. Saya cuma minta kursi. Masa segitunya?"

"Justru karena cuma minta kursi, kenapa minta kursi yang sudah dibayar orang lain?" Bima bertanya tenang. "Ibu punya tiket nomor berapa?"

Wajah perempuan itu berubah.

"Saya... tiket saya berdiri."

Bisik-bisik langsung menjalar di lorong.

"Oh, tiket berdiri..."

"Lho, berarti dari awal memang tahu tidak dapat kursi."

"Tapi hamil kok beli tiket berdiri?"

Perempuan hamil menggigit bibir. Anak kecil di sampingnya mulai merengek, "Bu, aku mau duduk."

Bu sok suci cepat masuk lagi. "Mas, jangan mempermalukan orang. Mungkin beliau tidak kebagian tiket duduk. Kita harus punya empati."

Bima mengangguk, seolah setuju.

Lalu ia menunjuk kursi Bu sok suci.

"Empati Ibu lebih besar dari saya. Silakan."

Suasana bus tertahan.

Wajah Bu sok suci menegang. "Kok jadi saya?"

"Karena Ibu yang paling keras menyuruh orang berkorban." Bima menaruh tiket di atas paha, lalu melipat tangan. "Saya cuma ingin belajar. Di dunia Ibu, orang yang paling pandai menasihati juga paling dulu memberi contoh, kan?"

[Poin +18]

[Poin +9]

[Poin +15]

Angka naik. Beberapa penumpang yang tadi ikut mengangguk mulai pura-pura melihat jendela. Seorang bapak berkemeja batik menurunkan koran dari wajahnya, matanya berkilat geli. Dari kursi belakang, terdengar suara ponsel mulai merekam.

"Wah, ada yang berani juga," bisik seseorang.

Bu sok suci sadar banyak mata mengarah padanya. Ia mengangkat dagu. "Saya ini baru operasi lutut."

Bima memandang lututnya. Tidak ada penyangga, tidak ada perban, bahkan kakinya tadi sempat ia lipat di atas kursi.

"Kalau begitu kita panggil kenek," kata Bima. "Biar dicatat. Di bus ini ada ibu hamil dengan tiket berdiri, ada Ibu dengan operasi lutut tanpa bukti, dan ada saya dengan tiket 12A yang diminta membayar kesalahan semua orang."

Pemuda di belakang kali ini tidak kuat menahan tawa.

"Waduh, lengkap benar laporan perjalanannya."

Beberapa penumpang ikut terkekeh. Tawa kecil itu membuat wajah perempuan hamil memerah. Ia memeluk perutnya lebih erat.

"Mas, kamu tega sekali. Saya ini bawa anak, lagi hamil. Kalau saya pingsan bagaimana?"

Bima menatapnya cukup lama hingga perempuan itu mulai gelisah.

"Kalau Ibu pingsan, kita bantu. Kita panggil sopir berhenti, cari puskesmas atau klinik terdekat. Itu namanya pertolongan." Suaranya tetap datar. "Tapi mengambil hak orang lain dulu, baru menyebut orang tidak punya hati kalau ditolak, itu bukan darurat. Itu strategi."

Bus kembali hening. Kali ini mereka tidak lagi menunggu Bima kalah; mereka menunggu siapa yang berani melawan lagi.

[Poin +21]

[Poin +17]

[Total Poin: 92]

Bima menatap panel itu dengan tenang. Dalam beberapa menit, ia sudah memahami aturan dasar sistem ini. Semakin banyak orang merasa tersengat oleh bantahannya, semakin banyak poin masuk.

Sederhana. Sedikit tidak waras.

Bu sok suci memukul sandaran kursinya sendiri. "Mas, kamu pintar bicara, tapi hati kamu kosong. Anak muda seperti kamu ini penyebab bangsa rusak. Semua dihitung uang, tiket, hak. Tidak ada gotong royong!"

Kata "gotong royong" membuat beberapa penumpang yang tadi sudah mundur kembali berani mengangguk.

Bima mengangkat alis.

"Gotong royong itu semua orang ikut mengangkat beban," katanya. "Bukan satu orang ditunjuk jadi korban, lalu yang lain merasa suci karena ikut menyuruh."

Seorang bapak di depan menurunkan kopernya dari pangkuan. Ia ragu sebentar, lalu berdiri.

"Bu, kalau mau duduk, duduk di kursi saya saja. Saya sebentar lagi turun di rest area."

Perempuan hamil menoleh cepat. Ia langsung bergerak ke kursi bapak itu, tapi wajahnya tetap cemberut.

Anaknya duduk di pangkuannya. Selesai.

Masalah yang sejak awal bisa selesai tanpa merampas kursi Bima, ternyata memang selesai begitu orang yang benar-benar mau membantu berhenti sibuk menyuruh orang lain.

Bima menatap Bu sok suci.

"Lihat, Bu. Itu empati. Yang tadi Ibu lakukan namanya meminjam mulut moral untuk memakai tenaga orang lain."

"Kurang ajar," desis Bu sok suci.

[Poin +30]

[Total Poin: 122]

Ponsel di belakang kini jelas mengarah ke Bima. Layar kecilnya menangkap wajahnya, tiket di tangannya, perempuan hamil yang sudah duduk, dan Bu sok suci yang kehilangan kata-kata.

Bima tidak menghindar. Rekaman itu justru menjadi bukti bahwa ia tidak mengambil hak siapa pun.

Panel sistem kembali bergetar.

[Poin mencapai ambang awal.]

[Misi Pertama Telah Aktif: Hadapi Semua Pemerasan Moral di Perjalanan Ini.]

[Pilihan akan muncul saat konflik berikutnya terdeteksi.]

Belum sempat Bima membaca baris terakhir, seorang pria berkaus hitam dari kursi tengah berdiri. Wajahnya tidak senang. Di sampingnya, dua penumpang lain ikut menatap Bima dengan mata panas.

"Mas," kata pria itu, suaranya berat, "mulut kamu dari tadi terlalu tajam. Di bus umum itu jangan sok benar sendiri."

Bu sok suci seperti mendapat bala bantuan. Ia langsung menunjuk Bima lagi.

"Nah! Bapak ini benar. Orang seperti dia harus diajari adab."

Beberapa ponsel baru terangkat.

Angka poin di panel berkedip pelan, seolah sistem sedang tersenyum.

Bima menyimpan tiketnya ke saku, lalu menatap satu per satu wajah yang mulai mengepungnya dengan moralitas pinjaman.

Ia baru bangun di dunia ini kurang dari setengah jam.

Dan dunia ini sudah memberinya pekerjaan pertama.

Episode 2

Bab 2: Seni Membuat Orang Gila di Tempat Umum

Pria berkaus hitam itu berdiri di lorong bus seperti satpam dadakan yang baru menemukan panggung.

"Mas," katanya, suara dibuat berat, "mulut kamu dari tadi terlalu tajam. Di tempat umum itu jangan sok paling benar."

Bu Santo langsung mendapat napas baru. Perempuan itu menunjuk Bima seolah baru saja menemukan bukti kejahatan. "Nah, dengar? Saya juga melihat begitu. Anak muda sekarang memang perlu diajari adab."

Bima masih duduk di kursi 12A. Tiketnya sudah masuk ke saku. Panel SBE melayang tipis di sudut pandangnya.

[Misi Pertama Aktif: Hadapi Semua Pemerasan Moral di Perjalanan Ini.]

[Pilihan belum diperlukan. Respons bebas dinilai berdasarkan dampak.]

Bima hampir tertawa.

Sistem ini bahkan malas pura-pura netral.

Ia menatap pria berkaus hitam itu dari atas ke bawah. Badannya besar, perutnya sedikit maju, satu tangan menggantung di pegangan kursi seolah siap menarik Bima berdiri. Beberapa penumpang menahan napas. Ponsel yang tadi merekam dari belakang kini bertambah dua. Ada yang pura-pura membuka kamera sambil memiringkan layar.

"Pak," kata Bima tenang, "kalau mulut saya tajam, kenapa Bapak yang berdarah?"

Pria itu mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Saya bicara ke Ibu yang menyuruh orang lain berkorban. Bapak yang berdiri kesakitan. Berarti yang kena kebiasaan Bapak."

Beberapa kepala menunduk. Seseorang di kursi belakang mengeluarkan suara batuk yang terlalu mirip tawa.

[Poin +26]

Wajah pria berkaus hitam itu memerah. "Jangan kurang ajar. Saya cuma mengingatkan."

"Mengingatkan boleh." Bima menunjuk lorong yang masih penuh. "Tapi kalau Bapak ingin mengajarkan adab, mulai dari yang sederhana. Jangan berdiri menghalangi lorong bus sambil membuat penumpang lain susah lewat."

Kenek yang sejak tadi pura-pura tidak mendengar akhirnya melirik dari depan. "Pak, kalau bisa jangan berdiri di tengah. Nanti kalau rem mendadak bahaya."

Pria itu seperti ditampar tanpa tangan. Ia mundur setengah langkah, tapi gengsinya menolak duduk.

Bu Santo buru-buru menyela, "Masalahnya bukan lorong. Masalahnya sikap dia. Dari tadi dia mempermalukan ibu hamil."

Bima menoleh kepadanya. "Ibu hamilnya sudah duduk, Bu. Yang masih berdiri cuma amarah Ibu. Mau saya carikan kursi juga?"

Kali ini tawa terdengar jelas dari tiga arah.

[Poin +31]

[Poin +18]

Perempuan hamil yang sudah duduk di depan memilih memalingkan wajah ke jendela. Anaknya di pangkuan sibuk membuka keripik. Konflik kursi sudah selesai, tetapi orang-orang yang tadi terlanjur merasa suci masih mencari cara agar tidak terlihat kalah.

Saat itulah tendangan kecil menghantam sandaran kursi Bima.

Duk.

Bima diam.

Duk.

Tendangan kedua lebih keras.

Ia menoleh pelan. Di kursi belakang, seorang bocah laki-laki berusia sekitar delapan tahun menyeringai sambil menggoyang-goyangkan kaki. Ibunya, perempuan berkaus merah muda, menatap Bima dengan wajah lelah yang pura-pura tidak melihat apa pun.

Duk.

Tendangan ketiga membuat bahu Bima sedikit terdorong.

"Dik," kata Bima, "kakinya sakit?"

Bocah itu menjulurkan lidah. "Biarin."

Ibunya langsung mengangkat suara sebelum Bima melanjutkan. "Mas, namanya juga anak-anak. Jangan galak-galak."

Bu Santo seperti menemukan senjata kedua. "Betul. Masa anak kecil juga mau dimarahi?"

Bima memejamkan mata sebentar.

Di dunia mana pun, kalimat "namanya juga anak-anak" selalu dipakai orang dewasa yang malas menjadi orang dewasa.

Panel SBE berkedip.

[Target tambahan terdeteksi: pembiaran perilaku merugikan dengan dalih anak-anak.]

[Poin bonus tersedia.]

Bima membuka mata. Senyumnya halus, hampir ramah.

"Bu," katanya kepada ibu bocah itu, "saya setuju. Namanya juga anak-anak. Karena itu saya tidak akan menyalahkan anak Ibu."

Wajah perempuan itu sedikit melunak. "Nah, begitu dong."

"Saya salahkan Ibu."

Senyumnya langsung beku.

Bima melanjutkan dengan nada yang masih sopan, "Anak kecil belum paham batas. Orang tua yang harus paham. Kalau anak Ibu menendang kursi orang, lalu Ibu membela, berarti yang perlu dididik bukan anaknya saja. Paket keluarga."

Bus meledak oleh tawa tertahan.

[Poin +42]

Perempuan itu berdiri setengah. "Mulut kamu jahat sekali!"

"Tidak, Bu. Jahat itu kalau saya balas tendang kursi anak Ibu selama dua jam lalu bilang, namanya juga penumpang."

Bocah itu berhenti menendang.

Bima belum selesai. Ia menoleh kepada anak itu, suaranya dibuat lembut. "Dik, kalau kursi ini kamu anggap drum, Mas boleh anggap kaki kamu stiknya? Nanti kalau stiknya patah, jangan nangis."

Mata bocah itu membesar. Ia cepat-cepat menarik kakinya.

Ibunya menunjuk Bima. "Kamu mengancam anak saya?"

"Saya sedang pakai metode Ibu," jawab Bima. "Kalau tindakan mengganggu orang boleh disebut anak-anak, maka kalimat saya juga bisa disebut bercanda. Jangan sensitif."

Pukulan itu bersih.

Karena kalimat "jangan sensitif" tadi adalah kalimat yang sering dipakai orang seperti mereka setelah merusak hari orang lain.

[Poin +55]

[Poin +33]

Kenek akhirnya berjalan ke tengah bus. "Bu, mohon anaknya jangan tendang kursi penumpang lain. Kalau ada keributan lagi, nanti kami turunkan di rest area untuk pindah kursi."

Perempuan berkaus merah muda ingin membalas, tetapi puluhan mata sedang mengarah padanya. Ponsel yang merekam juga belum turun.

Ia menarik anaknya mendekat. "Duduk diam."

Bocah itu cemberut, tapi kakinya berhenti bergerak.

Bima kembali menghadap depan. Di kaca jendela, ia melihat bayangan Bu Santo masih menatapnya dengan marah. Pria berkaus hitam sudah duduk, pura-pura sibuk dengan ponsel. Ibu hamil menunduk, tidak lagi bicara. Beberapa penumpang yang tadi ikut menghakimi kini memilih diam seperti baru sadar bahwa diam ternyata bisa menyelamatkan muka.

Panel SBE muncul lagi.

[Misi Pertama selesai.]

[Evaluasi: A]

[Hadiah: Poin +200]

[Level naik: 1 -> 2]

[Fitur Undian terbuka.]

[1x Undian Gratis tersedia.]

Total poin berhenti di angka 517.

Bima menatap panel itu beberapa detik. Tidak buruk untuk perjalanan pertama di dunia baru.

Satu jam kemudian, bus memasuki Terminal Waringin. Sore mulai turun. Udara di luar lebih panas daripada di dalam bus, tapi Bima merasa kepalanya jauh lebih jernih dibanding saat ia membuka mata tadi.

Begitu bus berhenti, penumpang bergerak turun. Pria berkaus hitam melewati Bima tanpa menoleh. Bu Santo turun paling cepat, seolah terminal itu tempat perlindungan. Ibu bocah menarik anaknya dengan wajah kaku. Hanya pemuda yang sejak tadi merekam dari belakang berhenti sebentar di samping Bima.

"Mas," katanya pelan, antara kagum dan geli, "video tadi sudah naik. Teman saya upload di TikTok."

Bima mengangkat alis. "Cepat sekali."

Pemuda itu menunjukkan layar. Video berdurasi hampir tiga menit sudah ditonton 47.000 kali. Judulnya terlalu dramatis: Penumpang Muda Bikin Satu Bus Diam.

Komentar bergerak cepat.

Ada yang mendukung. Ada yang memaki. Ada yang menyebutnya tidak punya empati. Ada juga yang menulis: akhirnya ada yang ngomong.

Panel SBE berkedip kecil.

[Poin pasif bertambah dari reaksi publik.]

[Poin +3]

[Poin +5]

[Poin +2]

Bima memasukkan ponselnya ke saku. Ia mengambil koper kecil dari bagasi bawah, lalu berdiri di tepi terminal. Di depan sana, Kabupaten Waringin menunggu dengan jalanan padat, pedagang minuman, tukang ojek yang saling memanggil, dan rumah keluarga yang belum benar-benar ia kenal.

Di sudut pandangnya, tombol Undian Gratis menyala pelan.

Bima tersenyum tipis.

Baru satu perjalanan, dunia ini sudah memberinya musuh, penonton, poin, dan hadiah.

Kalau begini cara hidup barunya dimulai, ia tidak keberatan melihat sejauh mana semuanya bisa dibawa.

Episode 3

Bab 3: Pulang Kampung dan Hadiah Pertama

Di tepi Terminal Waringin, tombol Undian Gratis masih menyala di sudut pandang Bima seperti lampu kecil yang sengaja menggoda.

Ia belum menekannya.

Rasa penasarannya justru terlalu besar. Setelah satu bus dibuat diam, angka poin melonjak, dan video dirinya mulai berputar di TikTok, Bima tahu satu hal: sistem ini tidak memberi hadiah tanpa alasan.

Kalau hadiah pertama salah dipakai, ia sendiri yang rugi.

"Mas Bima!"

Suara perempuan muda memotong pikirannya.

Bima menoleh. Seorang gadis berkaus putih dan celana jeans melambai dari dekat deretan tukang ojek. Rambutnya diikat asal, wajahnya cerah, dan di tangannya ada ponsel yang sudah siap merekam apa pun. Di belakangnya, seorang pria paruh baya bertubuh agak kurus membawa helm cadangan. Di samping pria itu, seorang perempuan dengan tas belanja kain menatap Bima dari kepala sampai kaki dengan mata basah yang ditahan.

Ingatan tubuh ini bergerak lebih cepat daripada pikiran Bima.

Ratna.

Pak Harto.

Bu Sri.

Keluarganya.

Atau lebih tepatnya, keluarga tubuh ini.

Ratna berlari duluan dan hampir menabraknya. "Mas! Lama banget! Busnya macet? Mama dari tadi panik, katanya jangan-jangan kamu ketiduran sampai terminal akhir."

"Aku baru turun," jawab Bima.

Kata aku keluar lebih natural daripada yang ia duga. Mungkin sisa ingatan Bima Liem masih tahu cara pulang.

Bu Sri maju dan menyentuh bahunya. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat dada Bima terasa aneh. Hangat, khawatir, dan sedikit memarahi tanpa suara.

"Kamu kurusan atau Mama yang salah lihat?" tanya Bu Sri.

Pak Harto tertawa pelan. "Baru juga turun, Bu. Kasih anaknya minum dulu."

Bima menatap pria itu. Pak Harto hidup sederhana. Sandalnya usang, kemejanya pudar di bagian kerah. Cara ia mengambil koper dari tangan Bima begitu otomatis, seolah beban anaknya memang harus ia angkat.

"Biar saya bawa, Pak," kata Bima.

Pak Harto berhenti sebentar. Ia menatap Bima, agak heran.

Biasanya, Bima lama selalu membiarkan koper itu diambil.

"Tidak apa-apa," kata Bima, mengambil kembali kopernya dengan tenang. "Bapak capek. Biar saya."

Ratna menyipitkan mata. "Wah. Bandung mengubah orang."

"Terminal juga bisa mengubah orang," jawab Bima.

Ratna tertawa. Bu Sri ikut tersenyum, tapi matanya masih memperhatikan wajah putranya. Ada sesuatu yang berubah, dan naluri seorang ibu mencium itu lebih cepat daripada sistem mana pun.

Rumah keluarga Liem berada di gang kecil tak jauh dari pasar Waringin. Rumah itu layak, meski tampak bertahan dengan hati-hati. Cat pagarnya mulai kusam. Di ruang depan ada kipas angin tua, dua kursi kayu, dan foto keluarga yang tergantung sedikit miring. Dari dapur, aroma bawang goreng dan kuah opor membuat Ratna langsung berteriak, "Mama, aku lapar!"

"Kamu itu yang pulang dari terminal atau Mas Bima?" Bu Sri memukul pelan lengan Ratna dengan serbet.

Suara mereka memenuhi rumah kecil itu.

Bima berdiri di ambang ruang tamu beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Di dunia lamanya, pulang hanya berarti membuka pintu kamar sewaan yang lampunya kadang berkedip. Di sini, bahkan omelan pun terasa seperti sesuatu yang punya akar.

Panel SBE muncul pelan.

[Stabilitas emosional meningkat.]

[Tuan Rumah menemukan jangkar keluarga.]

Bima menatap panel itu. "Kamu juga ikut sentimental?"

[Komentar tidak relevan.]

[Poin +1]

Bima hampir tersenyum. Bahkan sistem pun bisa tersinggung.

Malam belum turun ketika ia masuk ke kamar lama Bima Liem. Kamar itu sempit, tapi rapi. Ada meja belajar, rak buku bekas, dan satu kasur yang seprai birunya sudah pudar. Dari luar terdengar Bu Sri menyuruh Ratna membeli gula dan minyak goreng di toko kelontong dekat pasar.

Bima mengunci pintu.

"Baik," gumamnya. "Kita lihat hadiah pertama."

Panel SBE terbuka.

[Poin: 520]

[Level: 2]

[Undian Gratis: 1]

Bima menekan tombol itu.

Lingkaran cahaya muncul di udara. Lima warna berputar: putih, hijau, biru, ungu, emas. Putarannya cepat, lalu melambat tepat ketika jantung Bima ikut menahan satu ketukan.

Cahaya berhenti di hijau.

[Selamat!]

[Anda memperoleh: Kapsul Penguatan Tubuh (Dasar).]

[Kualitas: Biasa / Hijau.]

[Efek: meningkatkan stamina, kekuatan, refleks, dan daya tahan tubuh ke tingkat atlet pemula.]

Sebuah kapsul kecil muncul di telapak tangannya. Warnanya hijau pucat, dingin, dan terlalu ringan untuk benda yang katanya bisa mengubah tubuh.

Bima tidak langsung menelannya. Ia membaca keterangan dua kali. Tidak ada efek samping. Tidak ada syarat aneh. Tidak ada kalimat kecil yang mengatakan ia akan berubah menjadi makhluk lain.

"Kalau kamu menipu, aku akan menuntut sistem," katanya.

[Silakan. Yurisdiksi tidak ditemukan.]

[Poin +3]

Bima menelan kapsul itu.

Rasa dingin turun ke tenggorokan, lalu pecah di dada seperti air es yang berubah menjadi api. Otot-ototnya menegang. Tulang punggungnya terasa ditarik lurus. Napasnya berhenti setengah detik. Tubuhnya seperti tiba-tiba mengingat cara bekerja yang lebih baik.

Keringat keluar dari pori-porinya.

Bima menahan suara. Tangannya mencengkeram tepi meja. Tiga puluh detik kemudian, tekanan itu hilang.

Ia berdiri di depan cermin kecil di pintu lemari.

Wajahnya masih sama. Tubuhnya tetap wajar. Bahunya lebih tegap. Pinggangnya terasa ringan. Napasnya panjang. Ketika ia mengepalkan tangan, ada tenaga padat yang bergerak dari lengan sampai buku-buku jarinya.

Bima mengambil koper kecilnya dengan dua jari.

Ringan.

Sebelumnya koper itu normal. Sekarang seperti kotak kosong.

Panel SBE berkedip.

[Penguatan selesai.]

[Poin tersisa: 303]

Bima meletakkan koper perlahan.

Hadiah pertama datang dalam bentuk yang jauh lebih praktis.

Tubuh.

Di dunia yang senang memaksa orang baik mengalah, tubuh yang lebih kuat berarti ia punya satu alasan lebih sedikit untuk takut.

"Mas Bima!" suara Ratna mengetuk pintu. "Mama suruh beli gula sama minyak. Kamu mau ikut? Sekalian aku traktir es teh. Tapi bayarnya pakai uang kamu."

Bima membuka pintu. Ratna langsung berhenti bicara.

"Kenapa?" tanya Bima.

Ratna menatapnya dari atas ke bawah. "Mas... kamu tadi mandi?"

"Belum."

"Kok kelihatan lebih... segar?"

"Efek pulang kampung."

"Bohong. Pulang kampung biasanya bikin orang lecek."

"Berarti aku pengecualian. Ayo."

Toko kelontong dekat pasar penuh orang yang membeli kebutuhan Lebaran terakhir. Karung beras ditumpuk di depan. Minyak goreng, gula, telur, sirup, dan biskuit kaleng memenuhi rak sempit. Ratna mengambil keranjang kecil, sementara Bima berdiri di belakangnya, memperhatikan arus orang.

Ia baru menyadari efek kapsul itu di tempat ramai.

Suara jadi lebih terpisah. Langkah orang di belakangnya, plastik diremas, uang koin jatuh di meja kasir, semua terdengar jelas. Matanya menangkap gerak lebih cepat. Seorang anak hampir menabrak tumpukan telur, dan tangan Bima sudah menahan bahunya sebelum telur itu jatuh.

"Eh, makasih, Mas," kata ibu anak itu gugup.

Bima mengangguk.

Ratna menatapnya lagi. "Serius, kamu aneh hari ini."

"Anak kecilnya hampir bikin telur pecah."

"Iya, tapi tanganmu cepat banget. Kayak editan video."

Sebelum Bima menjawab, seorang pria berkemeja kuning menyelip dari samping dan langsung meletakkan dua botol sirup di meja kasir, memotong antrean tiga orang.

Kasir muda itu membuka mulut, tapi ragu. Di belakang pria itu, seorang ibu tua memegang gula dua kilo dan minyak goreng, wajahnya lelah. Ratna spontan maju setengah langkah.

"Pak, antreannya dari belakang," kata Ratna.

Pria itu menoleh malas. "Saya cuma dua barang. Cepat kok."

"Kami juga cuma beberapa barang," balas Ratna.

Pria itu melihat Ratna, lalu Bima. Mungkin ia menilai mereka anak muda yang mudah ditekan. "Dik, ini mau Lebaran. Jangan ribut. Hormati orang tua sedikit."

Bima bergerak ke samping Ratna.

"Pak," katanya, "kalau umur bisa dipakai untuk memotong antrean, nenek di belakang Bapak harusnya berdiri paling depan."

Ibu tua yang tadi diam langsung terkejut. Beberapa pembeli menoleh.

Pria berkemeja kuning mendengus. "Saya buru-buru."

"Semua orang di sini punya urusan. Bedanya, yang lain masih punya malu."

Ratna menutup mulutnya. Kasir muda itu menunduk, tapi sudut bibirnya naik.

Wajah pria itu mengeras. "Kamu siapa?"

"Orang yang antre di belakang adik saya."

"Mau sok jago?"

Bima menatap dua botol sirup di meja kasir, lalu menggesernya pelan ke samping. Gerakannya tenang, tapi pria itu otomatis mundur ketika bahu mereka hampir bersentuhan. Entah karena tatapan Bima, entah karena tubuh Bima sekarang membawa tekanan yang tidak ia sadari.

"Saya tidak sok jago," kata Bima. "Saya cuma mengembalikan barang Bapak ke tempat yang sesuai: setelah orang yang datang lebih dulu."

Beberapa pembeli langsung bersuara.

"Iya, Pak, antre."

"Dari tadi kami juga nunggu."

"Lebaran bukan alasan nyerobot."

Pria itu melihat kerumunan yang mulai tidak memihaknya. Ia mendecak, mengambil botol sirupnya, lalu pindah ke belakang dengan wajah merah.

[Poin +27]

Ratna menatap panel yang tentu saja tidak bisa ia lihat, lalu menatap Bima. "Mas, sejak kapan kamu kalau ngomong bikin orang susah balas?"

"Sejak orang-orang terlalu gampang cari alasan."

Ibu tua di depan mereka tersenyum. "Terima kasih, Mas. Anak muda sekarang jarang yang berani menegur tapi tetap sopan."

Bima membantu mengangkat gula dan minyak ibu itu ke meja kasir. Benda dua kilo itu terasa seperti kapas.

Ratna memperhatikan lagi, kali ini lebih curiga.

Saat mereka pulang, langit Waringin sudah oranye. Ratna berjalan di sampingnya sambil membawa plastik kecil, sedangkan Bima membawa sisanya tanpa terlihat terbebani.

"Mas," kata Ratna tiba-tiba, "video bus itu kamu, ya?"

Bima berhenti setengah detik. "Video apa?"

Ratna mengangkat ponsel. Di layarnya, wajah Bima terlihat dari samping di dalam bus. Judulnya masih sama, penontonnya sudah melewati tujuh puluh ribu.

"Jangan pura-pura. Itu jaketmu. Itu tasmu. Itu gaya sok kalemmu."

"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"

Ratna tertawa keras. "Gila, Mas. Kamu viral sebelum sampai rumah. Mama belum lihat. Kalau lihat, dia pasti pingsan dulu baru marah."

"Jangan kasih lihat dulu."

"Tergantung. Kamu bayar es tehku berapa hari?"

Bima menatap adiknya. Gadis ini cerewet, jahil, dan terlalu cepat menangkap peluang. Tapi matanya bersih. Tidak ada rasa ingin memanfaatkan, hanya kegembiraan punya bahan meledek kakaknya.

"Tiga hari," kata Bima.

"Seminggu."

"Empat hari."

"Deal. Aku murah hati karena Lebaran."

Mereka pulang dengan kesepakatan konyol itu. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di bus, Bima merasa dunia baru ini tidak hanya berisi orang yang harus dilawan.

Ada juga orang yang harus dijaga.

Malam itu, setelah makan, ponsel Bu Sri berdering. Nama di layar membuat Pak Harto yang sedang minum teh langsung menurunkan gelas.

Tante Lina.

Bu Sri menekan tombol speaker karena tangannya masih sibuk merapikan piring.

"Sri, sudah siap-siap belum?" Suara perempuan di seberang terdengar manis, terlalu manis. "Besok kami mampir. Darmawan juga ikut, Siska juga. Kasihan Mas Harto, Lebaran masa sepi-sepi saja. Biar rumah kalian agak ramai."

Ruang makan kecil itu langsung berubah sunyi.

Pak Harto tersenyum kaku. Bu Sri menjawab ramah, tapi jari-jarinya berhenti bergerak. Ratna, yang tadi masih bercanda, langsung memutar mata.

Bima mendengar nada di balik kata-kata itu.

Kasihan.

Itu label, bukan perhatian.

Tante Lina melanjutkan, "Oh ya, jangan repot-repot masak banyak. Kami biasa makan yang agak bersih sekarang. Nanti kalau tidak sempat, kita makan di luar saja. Darmawan tahu restoran yang layak."

Ratna mengepalkan sendok.

Bu Sri masih tersenyum. "Iya, Mbak Lina. Besok kami tunggu."

Telepon ditutup.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Pak Harto menghela napas. "Namanya juga saudara. Sudah, jangan dipikirkan."

Kalimat itu lembut, tapi Bima mendengar lelah di dalamnya. Lelah yang sudah bertahun-tahun dipaksa terlihat sabar.

Panel SBE muncul.

[Pemerasan Moral Keluarga terdeteksi.]

[Target awal: Tante Lina.]

[Misi lanjutan sedang disiapkan.]

Ratna menatap Bima. "Mas, besok pasti Tante Lina pamer lagi. Tolong kamu jangan terpancing, ya. Mama nanti sedih."

Bima mengambil gelasnya, minum seteguk, lalu meletakkannya dengan tenang.

"Besok kalau Tante Lina datang, duduk tenang saja," katanya.

Ratna mengerutkan dahi. "Maksudnya?"

Bima tersenyum tipis.

"Biar Mas yang urus."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!