Indonesia
NovelToon NovelToon

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Episode 1

Bab 1

Kain yang Basah di Dada

Kancing blus di dada Laras baru saja terbuka ketika tirai pintu terangkat.

Udara sore yang pengap seakan berhenti bergerak. Satya masih menyusu rakus di pelukannya, pipi kecilnya menekan kulit Laras yang basah oleh keringat. Nyeri akibat payudara yang sejak siang mengeras belum sepenuhnya reda. Setiap isapan bayi itu terasa tajam, tetapi Laras tidak berani melepaskannya.

Anak itu baru turun demam. Sejak pagi, hanya air susunya yang mau diterima.

Di ambang pintu berdiri seorang laki-laki tinggi dengan seragam loreng. Tangan kirinya masih memegang kotak obat, sedangkan tangan kanannya menahan tirai yang terbuat dari kain tipis.

Laras membeku.

Sehelai kain tambalan di bagian depan blusnya telah basah oleh campuran susu dan keringat. Kain itu menempel pada kulit, memperjelas keadaan yang paling ingin ia sembunyikan dari seorang laki-laki asing.

Terlebih laki-laki itu adalah pemilik rumah ini.

Letkol Inf. Bima Prakoso.

"Komandan..." Suara Laras pecah di tenggorokan.

Tangannya bergerak hendak menutup dada, tetapi Satya langsung merengek. Jari-jari mungil bayi itu mencengkeram ujung blusnya seolah takut sumber kehangatan itu akan direnggut.

Bima tidak masuk. Rahangnya mengeras, lalu pandangannya berpindah begitu cepat ke meja kecil di sudut kamar.

"Obat cadangan," katanya pendek.

Ia melangkah sekali, meletakkan kotak obat di ujung meja, kemudian mundur lagi. Hanya sesaat, Laras melihat bekas luka memanjang di tengkuknya ketika laki-laki itu memalingkan wajah.

Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Bahkan tidak ada teguran mengapa Laras tidak mengunci pintu.

Namun justru sikap datar itu membuat telinga Laras terasa semakin panas.

"Maaf. Saya tidak dengar Komandan pulang."

"Saya juga tidak mengetuk."

Jawaban itu membuat Laras mengangkat mata. Bima tetap menatap ke arah lain, seakan retakan cat di dinding jauh lebih penting daripada tubuh perempuan yang baru saja tidak sengaja dilihatnya.

Dari halaman depan terdengar suara ember dipindahkan. Iwan pasti sedang mengisi bak mandi, cukup dekat untuk dipanggil jika diperlukan. Kenyataan bahwa ada orang lain di rumah itu seharusnya membuat Laras sedikit tenang.

Seharusnya.

Namun keringat dingin tetap mengalir di punggungnya.

Satya menyedot lebih kuat. Laras menahan napas ketika nyeri menusuk sampai ke bawah ketiaknya. Sejak tiba tiga hari lalu, tubuhnya belum sempat menyesuaikan diri dengan jadwal menyusu bayi ini. Satya mudah muntah, sering terbangun, dan akan menangis sampai bibirnya membiru jika diberi susu botol.

Begitu Laras mendekapnya, anak itu diam.

Itulah alasan Laras berada di rumah dinas seorang duda yang hampir tidak pernah bicara kepadanya.

Bukan karena ia berani. Bukan pula karena ia tidak punya malu.

Ia hanya tidak punya banyak pilihan.

Bima masih berdiri di ambang pintu.

Laras hampir lupa akan keberadaannya sampai sepatu lars itu bergeser. Ia buru-buru menunduk. Dengan satu tangan, ia menarik ujung selendang untuk menutupi sisi tubuhnya, tetapi gerakan itu kembali membuat Satya protes.

Bima menahan tirai lebih rendah agar kamar tidak terlihat dari halaman.

Gerakan kecil itu begitu cepat, nyaris seperti kebiasaan seorang prajurit yang memastikan posisi aman. Akan tetapi, bagi Laras, kain yang turun itu terasa seperti perlindungan yang tidak ia minta dan tidak ia sangka akan diberikan.

"Demamnya?" tanya Bima.

"Sudah turun. Tadi tiga puluh tujuh koma dua. Dia juga tidak muntah setelah menyusu siang."

Untuk pertama kalinya, Bima menatap wajah Laras, bukan tubuhnya, bukan kain basah di dadanya. Tatapannya tajam, menilai apakah laporan itu bisa dipercaya.

"Kalau naik lagi, panggil Iwan. Jangan tunggu sampai malam."

"Baik, Komandan."

Satya akhirnya mengendurkan mulut. Matanya setengah terpejam, tetapi tangannya masih menggenggam blus Laras. Setetes susu tertinggal di sudut bibirnya. Laras menyekanya dengan ibu jari, lalu menegakkan tubuh bayi itu untuk disendawakan.

Bima memperhatikan gerakan tersebut. Wajahnya tetap keras, namun bahunya yang sejak tadi tegang turun sedikit ketika Satya mengeluarkan suara sendawa kecil.

Laras menahan keinginan untuk tersenyum. Seorang komandan yang membuat satu batalyon berdiri tegak ternyata bisa menunggu napas lega hanya karena seorang bayi berhasil bersendawa.

"Terima kasih sudah membawa obat," katanya pelan.

Bima mengangguk satu kali.

Ia melepaskan tirai. Kain itu berayun di antara mereka, sebentar menampakkan seragam lorengnya, sebentar menutupinya. Sebelum berbalik, pandangannya sempat jatuh sekali lagi pada Satya yang kini tenang dalam pelukan Laras.

Lalu suaranya terdengar dari balik kain.

"Lanjutkan."

Langkah sepatu lars menjauh tanpa tergesa.

Laras tetap duduk kaku. Telapak tangannya menutupi kain basah di dada, sementara di lengannya Satya mulai tertidur dengan perut kenyang. Malu masih membakar wajahnya, tetapi tidak ada bentakan, tidak ada pandangan merendahkan, dan tidak ada tangan yang mencoba mengambil keuntungan dari keadaannya.

Hanya sebuah kotak obat di atas meja dan tirai yang sengaja diturunkan lebih rapat.

Di luar, bayangan Bima melintas sekali sebelum hilang menuju ruang depan.

Tirai itu masih bergoyang pelan ketika satu kata tadi terus tertinggal di kepala Laras.

Lanjutkan.

Perlahan, Laras menurunkan dagunya ke ubun-ubun Satya. Rambut tipis bayi itu basah oleh keringat, tapi napasnya sudah teratur. Demamnya benar-benar turun. Untuk hari ini, itu cukup.

Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai pikirannya melayang ke tempat lain.

Setahun lalu, Laras masih menunggu suara sepeda motor suaminya berhenti di depan rumah Mbah Inah. Sekarang yang datang adalah surat gugur, lalu penagih utang, lalu ancaman bahwa adiknya akan celaka. Uang santunan habis. Beras tinggal segenggam. Nala, bayinya yang baru lahir, menangis kelaparan di gendongan Mbah Inah, sementara susu Laras justru berlimpah.

Tiga hari lalu, Mbah Inah mendorongnya pergi. Mata perempuan tua itu merah, tetapi suaranya dibuat tegar.

"Pergilah, Nduk. Mbah bisa menjaga Nala. Cari rezeki yang halal, lalu cepat pulang."

Laras mencium kening Nala lama sekali sebelum menyerahkannya. Bayi perempuan mungil itu menggeliat mencari dada ibunya, lalu menangis ketika Laras melepaskan genggaman jari-jari mungilnya. Suara tangis itu masih menempel di telinganya, bersama rasa bersalah yang tak kunjung reda, dua puluh kilometer dari desa, di kamar sempit rumah dinas ini, dengan anak orang lain di pangkuannya.

Jari Laras mengusap punggung Satya perlahan.

"Pelan-pelan, Le," bisiknya, lebih untuk dirinya sendiri. "Tidak ada yang akan mengambilnya darimu."

Kalimat itu justru melukai dirinya sendiri.

Di luar, langit mulai menggelap. Ember-ember di halaman sudah tidak terdengar lagi. Iwan pasti sudah selesai. Rumah dinas yang besar itu kembali sunyi, hanya ditemani suara dengkuran halus Satya dan detak jantung Laras yang masih berdebar tidak karuan.

Ia memandangi kotak obat di atas meja. Bima tidak berkata banyak, tapi ia datang, tepat ketika Laras paling tidak siap, dan pergi tanpa menuntut apa pun.

Laras tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau justru semakin waspada.

Yang ia tahu, besok pagi ia harus menyusui Satya lagi. Lalu lusa. Lalu hari-hari setelahnya.

Sampai ia cukup punya modal untuk pulang.

Episode 2

Bab 2

Perempuan yang Punya Air Susu

Kata itu masih terngiang ketika langkah Bima benar-benar hilang dari depan kamar.

Lanjutkan.

Laras baru berani mengembuskan napas. Ia menunduk, memastikan Satya tidak terganggu, lalu merapatkan kembali blusnya setelah bayi itu benar-benar kenyang. Kancing paling atas sulit masuk ke lubangnya karena jemarinya masih gemetar.

Satya menggeliat kecil. Laras menegakkannya di bahu, menepuk-nepuk punggungnya sampai terdengar sendawa pelan.

“Enak, ya, Le? Perutmu penuh.”

Bayi itu menjawab dengan desah nyaman.

Perut Laras justru mengeluarkan bunyi panjang.

Ia menekan bagian bawah tulang rusuknya. Sejak pagi ia hanya makan setengah potong singkong rebus dan teh tawar. Jatah makan sebenarnya tersedia, tetapi pada hari-hari pertama ini ia belum tahu mana yang boleh disentuh dan mana yang harus menunggu izin.

Lebih aman menahan lapar daripada dianggap lancang.

Suara sandal berhenti di depan tirai.

“Mbak Laras?” panggil Iwan.

Laras buru-buru membetulkan kerudung. “Iya?”

“Saya taruh beras sama perlengkapan mandi di depan, ya. Ada minyak telon juga buat Satya.”

“Masuk saja, Wan.”

“Waduh, jangan. Nanti Komandan mengira saya tidak tahu aturan.”

Nada Iwan terdengar setengah bercanda, tetapi kalimatnya menusuk tepat ke kegelisahan Laras. Ia meletakkan Satya yang sudah mengantuk di kasur tipis, lalu membuka tirai secukupnya.

Di lantai ada sekarung beras lima kilogram, sabun, popok kain, minyak telon, dan satu bungkus gula. Iwan berdiri dua langkah dari pintu sambil membawa buku catatan kecil.

“Ini untuk rumah atau untuk saya?” tanya Laras.

Iwan berkedip. “Ya untuk Mbak Laras. Jatah bulanan.”

“Semuanya?”

“Semuanya. Nanti gaji juga lewat bendahara, biasanya awal bulan.” Iwan menurunkan suara. “Kalau kurang, bilang saja. Satya itu kalau sudah menangis bisa bikin satu rumah ikut tidak tidur.”

Seolah mendengar namanya, Satya merengek dari dalam kamar.

Iwan meringis. “Nah, kan.”

Laras menahan senyum. “Terima kasih.”

“Tidak usah terima kasih sama saya. Saya cuma disuruh.”

“Oleh Komandan?”

Iwan mengangguk terlalu cepat. “Iya. Memang orangnya begitu. Mukanya keras, perintahnya juga keras. Di batalyon, orang dengar suara sepatunya saja sudah berdiri tegak.”

“Dia tinggal sendiri di sini?”

Mulut Iwan sudah terbuka, lalu ia seperti baru ingat batas. Pandangannya melirik ke arah ruang depan.

“Sejak istrinya meninggal, rumah ini sepi. Cuma Komandan, Satya, dan saya yang keluar masuk kalau ada tugas. Pengasuh sebelumnya tidak ada yang tahan lama. Satya menolak botol, demam terus, berat badannya susah naik.”

“Istrinya meninggal kapan?”

“Waktu Satya masih kecil sekali.” Iwan menggaruk tengkuk. “Sudah, saya ke depan dulu. Kalau saya cerita lebih banyak, nanti yang perlu pengasuh bukan Satya, tapi mulut saya.”

Ia pergi sebelum Laras sempat bertanya lagi.

Senja turun cepat. Lampu rumah mendadak padam bersama beberapa rumah lain di kompleks. Dari luar terdengar seruan para penghuni, disusul bunyi genset dari arah kantor batalyon.

Laras menyalakan lampu minyak kecil yang diberikan Iwan kemarin. Cahaya kuningnya membuat bayangan Satya memanjang di dinding.

Tiga hari lalu, cahaya serupa menerangi rumah Mbah Inah ketika seorang perempuan perantara datang membawa tawaran kerja.

“Anaknya enam bulan, sakit-sakitan, butuh ibu susuan,” kata perempuan itu. “Rumah dinasnya di Magelang. Makan dan tempat tinggal ditanggung. Gajinya tetap, ada jatah beras.”

Laras menatap Nala yang tidur di pangkuan Mbah Inah. Pipi putrinya semakin tirus sejak bubur beras encer menggantikan sebagian besar susunya.

“Harus tinggal di sana?”

“Kalau anaknya menyusu malam, ya harus.”

Mbah Inah langsung menggeleng. “Nduk, kamu baru kehilangan suami. Tinggal di rumah laki-laki sendirian akan jadi omongan.”

“Ada prajurit yang keluar masuk, Mbah. Katanya rumah dinas, bukan rumah terpencil.” Perantara itu menyelipkan kartu nama ke atas tikar. “Bapaknya Danyon. Orangnya tegas, bukan sembarang lelaki.”

Bu Jum yang sejak tadi duduk dekat pintu segera mengambil kartu itu.

“Gajinya berapa?”

Begitu angka disebutkan, mata Bu Jum berubah. Parman yang bersandar di dinding ikut menegakkan badan.

“Ambil saja, Mbak,” desaknya. “Daripada di sini cuma menambah beban. Sebagian gajinya bisa buat melunasi urusanku.”

Laras memandang adiknya lama. “Urusanmu bukan urusanku.”

“Kalau penagih datang ke rumah Ibu, tetap saja jadi urusanmu.”

Bu Jum menepuk lutut Laras. “Keluarga harus saling menolong. Kamu punya air susu, orang membutuhkan. Ini rezeki.”

Tidak seorang pun bertanya bagaimana perasaan Laras jika harus meninggalkan Nala.

Hanya Mbah Inah yang malam itu memeluknya di dapur. Perempuan tua itu menyelipkan dua lembar uang kusut ke telapak tangannya.

“Jangan kirim semuanya pulang,” bisiknya. “Kamu menyusui. Kamu harus makan.”

Laras mengembalikan uang itu. “Untuk beli telur Nala saja, Mbah.”

Kini, di kamar belakang rumah Bima, Laras membuka simpul kain di pinggangnya. Uang yang tersisa tidak banyak. Gaji pertama belum turun, tetapi ia sudah menghitung berapa yang akan dikirim untuk Nala, berapa untuk obat Mbah Inah, dan berapa yang harus disembunyikan agar tidak habis di tangan Bu Jum atau Parman.

Ia menarik buku kecil dari tas. Di bawah cahaya lampu minyak, angka-angka itu tampak semakin sempit.

Satya terbangun dan menangis.

Laras segera menggendongnya. Bayi itu menggesekkan wajah ke dadanya, mencari susu lagi meski baru saja kenyang. Ia berjalan pelan di dalam kamar sambil menepuk pantat kecil Satya.

“Mama-mu pasti sangat menyayangimu,” bisiknya. “Kalau tidak, mana mungkin rumah sebesar ini masih terasa menunggunya?”

Ia sendiri tidak tahu dari mana kalimat itu datang.

Satya akhirnya tenang. Laras duduk di tepi kasur dan kembali menghitung dalam hati. Susunya untuk Satya. Uangnya untuk Nala. Tenaganya untuk rumah ini. Tidak ada bagian yang sungguh-sungguh tersisa untuk dirinya.

Ia bukan keluarga. Ia bukan tamu.

Ia hanya perempuan yang punya air susu dan bisa diganti kapan saja bila dianggap tidak berguna.

Listrik menyala kembali. Lampu putih di langit-langit membuat kamar sempit itu terasa lebih dingin. Laras mematikan lampu minyak, lalu berbaring miring dengan Satya di sisinya.

Menjelang tengah malam, ia bangun lagi untuk menyusui dan menepuk punggung bayi itu dalam gelap. Dadanya kembali penuh, perutnya kembali kosong.

Besok pagi ia akan belajar aturan rumah ini.

Sementara malam ini, sejak datang ke Magelang, Laras belum juga merasakan satu kali makan sampai benar-benar kenyang.

Episode 3

Bab 3

Jaga Nama Baik

Pagi berikutnya, aturan pertama datang bukan dari Bima, melainkan dari tiga perempuan berseragam Persit.

Laras baru selesai menjemur popok Satya ketika ketukan terdengar di pintu depan. Iwan sudah berangkat membawa dokumen ke kantor batalyon. Bima pergi sejak sebelum matahari naik untuk apel dan dinas. Rumah itu hanya berisi Laras dan seorang bayi yang mulai mengantuk di gendongannya.

Ia membuka pintu sambil menepuk punggung Satya.

Perempuan di depan berdiri paling tegak. Kerudungnya rapi, lencana Persit terpasang lurus, dan senyumnya terlalu tipis untuk disebut ramah.

“Mbak Laras?”

“Iya. Silakan masuk, Bu.”

“Saya Ratna, istri Kapten Sofyan. Saya membantu kepengurusan Persit di sini.”

Dua perempuan di belakangnya saling pandang sebelum ikut masuk. Laras mempersilakan mereka duduk di ruang tamu, lalu mengambil air minum dari dapur. Saat kembali, Bu Ratna sedang memperhatikan pintu menuju kamar belakang.

“Kamarmu di sana?”

“Iya, Bu. Dekat dengan dapur supaya kalau Satya bangun malam saya tidak mengganggu bagian depan.”

Bu Ratna menerima gelas tanpa meminumnya. “Mbak Laras masih muda, ya.”

“Dua puluh enam.”

“Masih sangat muda untuk seorang janda.”

Kata terakhir diucapkan sedikit lebih keras.

Satya bergerak dalam gendongan. Laras mengubah posisi selendangnya, menahan bayi itu lebih dekat ke dada.

“Suami saya gugur saat bertugas, Bu.”

“Saya tahu. Kami ikut berduka.” Senyum Bu Ratna tidak berubah. “Karena itu saya datang. Kompleks ini punya aturan tidak tertulis. Semua orang saling menjaga. Apalagi rumah ini rumah seorang komandan.”

Laras menunggu.

“Pak Bima duda. Mbak Laras janda muda. Kalian tinggal satu atap.” Bu Ratna akhirnya menyesap air. “Orang bisa salah paham.”

Salah satu perempuan di belakangnya berdeham. Yang lain menunduk, menyembunyikan senyum.

“Saya tinggal di kamar belakang karena Satya harus menyusu malam,” jawab Laras. “Kalau saya pulang-pergi ke desa, bayi ini tidak makan.”

“Tidak ada yang menyalahkan pekerjaanmu.”

“Tapi Bu Ratna menyalahkan tempat saya tidur?”

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Ratna meletakkan gelas lebih keras daripada perlu. “Saya cuma mengingatkan. Jaga jarak. Jaga nama baik. Jangan sampai orang luar mengira rumah seorang Danyon tidak tahu aturan khalwat.”

Laras mengusap kepala Satya. Ia bisa saja menunduk dan meminta maaf agar kunjungan itu cepat selesai. Namun ia teringat mulut Nala yang mencari susu ketika ditinggalkan. Ia teringat Mbah Inah yang sudah tua, beras yang menipis, serta lima kilogram beras di dapur yang baru bisa ia kirim sebagian setelah mendapat izin.

Ia tidak datang ke rumah ini untuk merebut suami siapa pun.

“Iwan keluar masuk rumah setiap hari,” katanya. “Prajurit piket dan pengantar barang juga datang. Pintu depan tidak pernah saya kunci saat Komandan ada di rumah. Kalau ada aturan tertulis yang saya langgar, tolong tunjukkan. Saya akan patuh.”

“Mbak Laras pintar menjawab.”

“Saya hanya ingin jelas, Bu. Saya bekerja untuk menyusui Satya. Kalau saya diminta menjaga nama baik, saya juga berhak menjaga nama baik saya sendiri.”

Wajah Bu Ratna menegang.

Satya tiba-tiba merengek. Tangannya mencengkeram kerudung Laras, lalu wajahnya menekan dada perempuan itu. Laras tahu tanda tersebut. Bayi itu lapar lagi.

“Maaf, Bu. Satya harus menyusu.”

Bu Ratna berdiri. “Ya sudah. Kami tidak mau mengganggu.”

Di depan pintu, ia berhenti dan menoleh.

“Ingat saja, Mbak Laras. Di kompleks tentara, omongan bisa sampai ke telinga atasan lebih cepat daripada laporan resmi.”

“Kalau begitu, semoga yang sampai adalah omongan yang benar.”

Dua perempuan di belakang Bu Ratna saling pandang lagi. Kali ini tak ada yang tersenyum.

Setelah mereka pergi, Laras menutup pintu dan menyandarkan punggung ke daun kayu. Lututnya terasa lemas. Ia memang berhasil menjawab, tetapi telapak tangannya basah oleh keringat.

Satya menangis semakin keras.

“Iya, Le. Sebentar.”

Panggilan lembut itu terdengar terlalu akrab di telinganya sendiri. Laras tertegun, lalu buru-buru membawanya ke kamar belakang. Ia duduk membelakangi jendela, merapatkan tirai, dan menyusui sampai tangis Satya berubah menjadi suara tegukan kecil.

Menjelang siang, Laras membawa popok bersih ke jemuran umum karena tali di belakang rumah putus. Baru beberapa langkah dari sumur, ia mendengar suara-suara perempuan.

“Masih muda sekali.”

“Katanya tidur di kamar belakang. Dekat dapur, dekat juga ke kamar utama.”

“Kalau cuma pengasuh, kenapa harus cantik?”

Tawa kecil pecah.

Laras menggantung popok pertama tanpa menoleh. Angin mengibaskan kain putih itu ke wajahnya.

“Suaranya pelan sedikit,” kata seorang perempuan lain. “Nanti dia dengar.”

“Kalau tidak merasa macam-macam, kenapa harus tersinggung?”

Laras memasang penjepit terakhir, lalu berbalik. Tiga perempuan di dekat sumur langsung sibuk dengan ember masing-masing.

“Bu,” sapa Laras tenang. “Kalau ada yang ingin ditanyakan tentang pekerjaan saya, tanyakan langsung. Suara dari sumur bisa berubah sebelum sampai ujung jalan.”

Salah satu dari mereka tersipu. “Kami tidak membicarakan siapa-siapa.”

“Syukurlah.” Laras mengangkat keranjang kosong. “Berarti saya tidak perlu menjelaskan apa-apa.”

Ia berjalan pulang dengan punggung tegak. Baru setelah berbelok di ujung jalan, napas yang ditahannya terlepas.

Di rumah, Iwan sudah kembali dan menaruh sebungkus nasi di meja dapur.

“Mbak Laras belum makan?” tanyanya.

“Nanti.”

“Jangan nanti terus. Satya minum dari badan Mbak.”

Laras membuka bungkusan itu. Nasi, sayur bening, tempe goreng, dan sepotong ayam. Porsi yang jauh lebih baik daripada makanannya beberapa hari terakhir.

Namun sebelum sempat menyuap, seorang pengantar dari desa tiba membawa pesan. Mbah Inah membutuhkan uang untuk membeli beras dan telur Nala. Bu Jum juga menagih bagian yang katanya pernah dijanjikan untuk Parman.

Gaji muka yang baru diterima Laras pagi tadi seolah sudah memiliki pemilik sebelum menyentuh tangannya.

Ia menyisihkan ongkos secukupnya, membungkus sisanya, lalu menitipkannya kepada pengantar. Beras dan telur untuk Nala, obat untuk Mbah Inah. Tidak satu rupiah pun untuk utang judi Parman. Ia meminta pesan itu disampaikan dengan jelas.

Saat kembali ke dapur, nasi telah dingin. Ayamnya ia simpan untuk besok, tempe ia makan setengah. Selebihnya ditutup rapat. Laras belum tahu apakah jatah itu hanya untuk sekali makan atau untuk sehari penuh.

Malam datang bersama tangis Satya.

Bayi itu rewel, mungkin perutnya kembung. Laras menggendongnya mondar-mandir sampai punggungnya pegal. Ia mengoleskan minyak telon, menggerakkan kaki kecil Satya perlahan, lalu menyusuinya sedikit demi sedikit agar tidak muntah.

Menjelang tengah malam, Satya akhirnya tertidur.

Laras kembali ke dapur. Bungkusan nasi masih ada, tetapi ia hanya mengambil tempe yang tersisa. Ketika hendak menggigit, dari luar terdengar dua perempuan lewat sambil membicarakan “janda di rumah Danyon”.

Tangannya berhenti.

Ia memasukkan lagi tempe itu ke dalam bungkus, seolah makan pun bisa dijadikan bahan tuduhan bila dilakukan di rumah ini.

Rasa perih merambat dari lambung ke dada. Laras mengambil segelas air putih dan meminumnya perlahan. Satu gelas, lalu satu lagi, sampai perutnya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa memberi tenaga.

Dari kamar belakang, Satya merengek.

Laras menaruh gelas dan kembali menggendongnya. Ia duduk di lantai, bersandar pada sisi kasur, sementara bayi itu mencari kehangatan di dadanya.

Di luar, malam kompleks militer terdengar tenang.

Di dalam kamar, suara perut Laras bersahutan dengan napas Satya yang belum teratur.

Malam masih panjang, dan air putih adalah satu-satunya yang berani ia telan sampai habis.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!