Indonesia
NovelToon NovelToon

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Episode 1

Bab 1

Malam yang Tak Kuminta

Nyeri itu datang lebih dulu daripada kesadarannya.

Laras mengerang pelan. Tenggorokannya kering, tubuhnya berat, sementara udara kamar sempit itu terasa panas dan berbau alkohol murah. Cahaya merah dari papan penginapan di luar jendela menyusup melalui gorden tipis. Menyala, padam, lalu menyala lagi tepat di atas sosok lelaki berbaju putih yang menunduk di hadapannya.

Wajah lelaki itu tak terlihat jelas.

Hanya bahunya yang lebar. Kancing teratas kemejanya telah lepas. Napas berat menerpa pelipis Laras, tetapi telapak tangan yang menahan di samping kepalanya justru kaku, seolah pemiliknya sedang mengerahkan sisa tenaga agar tidak jatuh menimpanya.

"Kamu dengar saya?"

Suara itu rendah dan serak.

Laras ingin menjawab. Lidahnya terasa tebal. Pikirannya sadar bahwa ia harus menjauh, harus bangun, harus mencapai jendela yang tadi sudah ia ukur jaraknya. Namun tubuhnya tidak mematuhi satu pun perintah. Panas merayap dari tengkuk ke ujung jarinya, membuatnya menggigil sekaligus mencari sesuatu yang lebih dingin.

Tangannya malah mencengkeram kemeja lelaki itu.

Tidak. Bukan begini rencananya.

Beberapa jam sebelumnya, Pak Rusdi telah mendorongnya masuk ke kamar 302 sambil menyelipkan bungkusan kecil ke telapak tangannya.

"Masukkan ke minumannya," kata lelaki yang bertahun-tahun menyebut diri sebagai ayah angkatnya itu. Bau rokok dan arak menempel di napasnya. "Setelah dia tak sadar, buka pintu. Orang-orangku yang akan mengurus sisanya. Kamu tinggal menangis dan bilang dia memaksamu."

Laras masih bisa merasakan kuku kotor itu menekan pergelangan tangannya.

Ia tahu apa arti kalimat tersebut. Foto, ancaman, uang tutup mulut. Sebuah jebakan murahan yang bisa menghancurkan hidup orang lain dan mengisi meja judi Pak Rusdi untuk beberapa malam.

"Kalau aku menolak?"

Tamparan lelaki itu menjawab lebih cepat.

Namun Laras sudah bukan gadis kecil yang hanya bisa meringkuk di sudut dapur. Saat Pak Rusdi meninggalkannya bersama tamu yang belum datang, ia membuka bungkusan itu, menuangkan isinya ke gelas di meja, lalu menggeser kursi ke bawah jendela.

Rencananya sederhana. Lelaki yang masuk akan meminum anggur, tertidur, dan Laras akan keluar lewat jendela kamar mandi. Lantai dua cukup tinggi untuk membuat kakinya cedera, tetapi masih lebih baik daripada kembali ke tangan Pak Rusdi.

Ia tidak tahu anggur di gelas satunya sudah lebih dulu diberi sesuatu.

Ia juga tidak tahu lelaki berbaju putih itu hanya sempat menyesap minuman sebelum menyadari rasa pahit yang aneh.

Setelah itu, ingatannya pecah menjadi potongan-potongan cahaya merah.

Gelas jatuh dan menggelinding di lantai.

Lelaki itu meraih pinggangnya saat ia hampir membentur sudut meja.

"Siapa yang memberimu minuman ini?"

Laras mencoba menunjuk pintu. Jemarinya bahkan tak mampu lurus.

Lelaki itu memaki lirih, bukan kepadanya. Ia menyeret kursi ke depan gagang pintu, lalu mengambil ponsel. Layar di tangannya tampak berlapis-lapis. Belum sempat nomor tersambung, lututnya goyah.

Mereka jatuh hampir bersamaan ke tepi ranjang.

"Jangan tidur," katanya, masih berusaha terdengar tegas. "Sebutkan namamu."

Laras ingin tertawa. Dalam keadaan seperti itu, lelaki asing ini masih meminta nama seolah sedang mengisi laporan.

"Jendela," bisiknya. "Aku harus pergi."

"Kamu bahkan tidak bisa berdiri."

"Lebih baik jatuh."

Kalimat itu membuat lelaki tersebut diam.

Papan neon kembali menyala. Untuk sesaat Laras melihat garis rahang yang keras dan mata gelap yang tengah berjuang tetap fokus. Tidak ada tatapan rakus di sana. Yang ada justru kemarahan dingin, juga sesuatu yang menyerupai kekhawatiran.

Ia mengangkat telapak tangan untuk menghalangi cahaya merah yang tepat mengenai wajah Laras.

Gerakan kecil itu terasa ganjil. Terlalu hati-hati untuk malam sekotor ini.

"Tidak ada yang akan menjatuhkanmu dari jendela," ucapnya. "Tenang dulu."

"Orang-orangnya akan datang."

"Biar datang."

"Kamu tidak tahu mereka."

"Mereka juga belum tahu saya."

Seharusnya Laras mencibir. Entah karena obat, ketakutan, atau suara lelaki itu yang begitu pasti, kelopak matanya malah memanas.

Seumur hidup, tak pernah ada orang yang berdiri di antara dirinya dan Pak Rusdi. Tidak ketika lelaki itu mengambil upah kerjanya. Tidak ketika ia dikurung tanpa makan. Tidak ketika seorang calo menaksir tubuhnya seperti barang di pasar dan Laras harus melarikan diri dengan sandal putus.

Malam ini, seorang asing yang bahkan tak ia kenal namanya berkata, biar datang.

Pintu sempat digedor dari luar.

Lelaki itu bergerak hendak bangkit, tetapi tubuhnya limbung. Ia hanya berhasil meraih vas keramik dari meja dan menggenggamnya seperti senjata.

"Jangan buka!" teriak suara Pak Rusdi di balik pintu. "Tunggu sampai waktunya!"

Laras membeku. Lelaki di sampingnya menoleh.

"Itu orangnya?"

Ia mengangguk kecil.

Rahang lelaki tersebut mengeras. "Dia menjualmu?"

Pertanyaan itu menghantam lebih telak daripada tamparan. Laras memalingkan wajah. Ia tidak ingin dikasihani, apalagi oleh orang yang sebentar lagi mungkin ikut hancur karena jebakan tersebut.

"Aku yang memasukkan bubuk ke minumanmu," katanya dengan susah payah. "Jadi jangan sok jadi penyelamat."

"Kenapa?"

"Supaya kamu tidur. Supaya aku bisa kabur."

Lelaki itu menatap gelas di lantai, lalu gelas lain di meja. Pemahamannya datang cepat.

"Minumanmu juga sudah dicampur."

"Aku tahu sekarang."

"Berarti kita berdua dijebak."

Tidak ada tuduhan dalam suaranya. Hanya kesimpulan datar, seperti seorang prajurit yang akhirnya mengenali arah serangan.

Laras ingin mengingatkan bahwa pengakuannya bisa dipakai untuk menyeretnya ke polisi. Namun panas di tubuhnya kembali naik. Napasnya patah. Kamar itu seolah miring, membuatnya tanpa sadar mencengkeram lengan lelaki tersebut.

"Dingin," gumamnya.

Padahal keringat membasahi tengkuknya.

Lelaki itu menarik selimut untuk menutup bahunya. Tangannya bergetar hebat. Ia menjaga jarak sejauh yang mampu, tetapi ranjang sempit dan tubuh mereka yang sama-sama kehilangan tenaga tidak memberi banyak pilihan.

"Lihat saya," katanya.

Laras membuka mata.

"Tarik napas pelan."

Ia mencoba mengikuti. Satu tarikan. Gagal. Tarikan kedua terasa seperti menelan api.

Lelaki itu menyebut sesuatu yang tak sempat ia pahami. Mungkin nama satuan. Mungkin doa. Mungkin sumpah untuk menemukan orang di balik pintu.

Cahaya merah menyala lagi.

Kali ini Laras hanya melihat bayangan telapak tangan yang melindungi matanya, kemeja putih yang kusut di bawah jemarinya, dan garis tipis bekas luka di bawah tenggorokan lelaki itu.

Lalu semua suara tenggelam.

***

Ketika terbangun, Laras langsung duduk terlalu cepat.

Nyeri tumpul menjalar dari pinggang ke pahanya. Kepalanya berdenyut. Ia menarik selimut sampai ke dada, menahan mual sambil memeriksa kamar yang kini disiram cahaya pucat subuh.

Kosong.

Lelaki berbaju putih itu tidak ada di sampingnya. Tidak ada siapa pun di dalam kamar.

Kursi masih mengganjal pintu. Pecahan gelas telah dikumpulkan di atas handuk. Di dekat bantal, ada sebotol air mineral yang sudah dibuka dan dua tablet pereda nyeri dalam bungkus utuh.

Laras tidak menyentuhnya.

Kebiasaan lama membuat matanya lebih dulu mencari jalan keluar. Jendela kamar mandi. Pintu utama. Ponsel yang tergeletak di bawah meja. Tas kain miliknya berada di sudut, talinya putus. Uangnya lenyap, tentu saja. Pak Rusdi pasti sudah mengambilnya sebelum mendorongnya ke kamar.

Ia menunduk melihat pakaiannya. Blusnya kusut, dua kancing terlepas. Roknya masih ada, tetapi miring dan penuh noda debu. Kulit di pergelangan tangannya menyisakan bekas merah.

Potongan ingatan semalam datang tanpa urutan. Napas berat. Pintu digedor. Sebuah telapak tangan menutupi cahaya neon. Suara serak yang terus memintanya bertahan sadar.

Laras menekan kedua telapak tangannya ke wajah.

"Hidup macam apa ini?" bisiknya.

Marah datang lebih dulu, panas dan pahit. Ia marah kepada Pak Rusdi. Marah kepada dirinya karena kembali tertangkap setelah bertahun-tahun berhasil menjauh. Marah kepada lelaki asing itu karena wajahnya yang kabur masih menyisakan rasa aman yang tidak pantas berada di kamar ini.

Ia turun dari ranjang. Lututnya nyaris tertekuk.

Sebelum sempat mencapai tas, terdengar bunyi kunci dari luar.

Kursi yang tadi mengganjal pintu rupanya telah bergeser. Daun pintu terbuka perlahan.

Laras meraih pecahan gelas terdekat dan menggenggamnya di balik selimut.

Seorang lelaki masuk.

Kemeja putihnya kini rapi, meski ada bekas sobek kecil di dekat manset. Tubuhnya tinggi, membuat ambang pintu penginapan itu tampak terlalu rendah. Kulitnya sawo matang. Alisnya tegas, matanya tajam, rahangnya bersih dan keras. Di bawah tonjolan tenggorokannya, ada bekas luka tipis yang langsung mengembalikan satu potong ingatan Laras.

Ini lelaki semalam.

Dalam cahaya pagi, wajahnya begitu tampan sampai pikiran Laras yang biasanya cepat mendadak berhenti bekerja selama beberapa detik.

Astaga. Pak Rusdi menjebak orang dengan wajah seperti ini dari mana?

Tatapan lelaki itu turun sepersekian detik. Ia melihat bahu Laras yang terbuka dan kancing blusnya yang lepas.

Ia langsung membalikkan badan.

Tidak ada siulan, tidak ada senyum kurang ajar. Ia berdiri menghadap pintu, lalu meletakkan kantong kertas yang dibawanya di atas meja tanpa menoleh.

"Ada pakaian bersih di dalam kantong," katanya. Suaranya sama, rendah dan sedikit serak. "Saya tunggu."

Laras menatap punggung tegak itu. Pecahan gelas di tangannya perlahan turun.

Ia mengenakan blus longgar dari kantong, lalu menarik napas. "Sudah."

Baru setelah itu lelaki tersebut berbalik. Tatapannya tetap tenang, tetapi ada bayangan lelah di bawah matanya.

"Kita bicara."

Nada itu tidak keras. Tetap saja, kalimatnya terdengar seperti keputusan yang tak memberi ruang untuk melarikan diri.

Laras membuka mulut. Ia harus mengaku lagi tentang bubuk tersebut. Ia harus menjelaskan bahwa dialah yang menuangkannya, walau bukan dengan niat mencelakai. Namun tenggorokannya perih. Yang keluar hanya bunyi serak tanpa kata.

Lelaki itu menarik kursi, tetapi tidak duduk terlalu dekat. Ia meletakkan botol air di lantai, tepat dalam jangkauan Laras.

Kemudian ia menatapnya lurus-lurus.

"Namamu. Kasih tahu saya dulu."

Episode 2

Bab 2

Namamu Siapa?

"Laras."

Nama itu keluar bersama rasa perih di tenggorokannya.

Bram mengulanginya sekali, pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar. "Laras."

Entah mengapa, namanya terdengar berbeda saat keluar dari mulut lelaki itu. Lebih utuh. Bukan panggilan kasar yang biasa diteriakkan Pak Rusdi dari ujung gang.

Lelaki di depannya mengangguk singkat. "Saya Bramantya Adiprawira. Panggil Bram. Kapten TNI Angkatan Darat, berdinas di Yonif Wira Dharma. Rumah saya di Malang."

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, "Belum menikah. Tidak punya pasangan."

Laras berkedip.

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan wajah setenang orang membacakan identitas di pos pemeriksaan. Justru karena itulah telinga Laras terasa panas.

"Kenapa bilang begitu?" Suaranya masih seperti radio kehabisan baterai.

"Karena situasi kita membuat informasi itu penting."

Jawaban yang sangat masuk akal. Juga sangat menyebalkan.

Laras meraih botol air. Segelnya sudah terbuka, tetapi ia masih ragu. Bram menangkap tatapannya, lalu mengambil botol itu, menuangkan sedikit air ke tutup, dan meminumnya sendiri.

"Tidak ada apa-apa di dalamnya," ucapnya.

Laras menerima botol itu kembali. "Aku tidak menuduh."

"Kamu memang harus curiga setelah kejadian semalam."

Tidak ada sindiran di wajahnya. Ia sungguh menganggap kewaspadaan Laras sebagai sesuatu yang wajar.

Setelah dua teguk, tenggorokannya terasa sedikit lebih baik. Ia menarik selimut lebih rapat, lalu memaksa diri menatap Bram.

"Bubuk itu, aku yang memasukkannya ke gelasmu."

"Saya tahu."

"Aku belum selesai."

"Kamu memasukkannya agar saya tertidur dan kamu bisa keluar lewat jendela. Minumanmu sudah lebih dulu dicampur orang lain. Kita sudah menyimpulkan itu semalam."

Laras mengerutkan kening. Ingatannya tentang percakapan tersebut hanya berupa suara yang datang dari tempat jauh.

"Kamu masih ingat?"

"Tugas saya menuntut saya mengingat hal penting, bahkan saat kondisi buruk."

"Kalau begitu kamu juga ingat aku mencoba menjebakmu."

"Tidak." Nada Bram turun. "Kamu mencoba kabur dari orang yang menjualmu. Itu berbeda."

Jari Laras mengencang di badan botol.

Satu kalimat itu membelah pertahanannya tepat di bagian yang paling rapuh. Ia sudah menyiapkan banyak kemungkinan sejak membuka mata. Bram bisa melapor polisi, menuntut uang, memakinya, atau menyerahkannya kembali kepada Pak Rusdi. Ia tidak menyiapkan jawaban untuk seorang lelaki yang mengerti tanpa memaksanya membuka semua luka.

"Pak Rusdi bukan ayah kandungku," katanya akhirnya.

"Baik."

"Itu saja responsmu?"

"Kamu belum siap bercerita. Saya tidak akan memaksa."

Bram duduk lebih tegak. Ada ketegangan di bahunya yang sejak tadi ia sembunyikan.

"Tapi ada hal yang harus kita putuskan sekarang."

Laras langsung waspada lagi. "Soal polisi?"

"Soal kita."

Kamar mendadak terasa lebih sempit.

Bram meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha, seperti sedang melapor kepada atasan. "Apa pun yang terjadi semalam tidak boleh membuatmu kehilangan pilihan. Kalau kamu ingin pergi setelah kondisi aman, saya akan membantu. Kalau kamu ingin melapor, saya akan jadi saksi."

Laras menunggu lanjutan yang terasa menggantung di udara.

"Tapi saya akan menyampaikan sikap saya lebih dulu," katanya. "Saya ingin menikahimu."

Air yang baru ditelan Laras hampir keluar lagi.

"Apa?"

"Saya akan mengurus izin kawin dari komandan, pemeriksaan latar belakang, dan pencatatan di KUA. Prosesnya tidak bisa selesai hari ini. Kamu bisa tinggal di rumah keluarga saya selama dokumen diurus."

Laras menatapnya lama. "Kamu selalu melamar perempuan seperti sedang menyusun rencana operasi?"

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Bram bergerak tipis. "Saya belum pernah melamar perempuan."

"Aku mungkin penipu."

"Kamu mengaku tentang obat saat bisa saja menyembunyikannya."

"Aku tidak punya KTP."

"Bisa diurus melalui Dukcapil."

"Aku tidak punya uang."

"Saya punya gaji."

"Aku tidak punya keluarga yang akan menjamin siapa aku."

Tatapan Bram tidak berubah. "Saya tidak meminta penjamin. Saya meminta jawabanmu."

Laras membuang napas kasar. Lelaki ini gila. Tampan, berseragam, kelihatannya berasal dari keluarga baik-baik, tetapi jelas gila.

"Kita bahkan tidak saling kenal."

"Karena itu saya tidak meminta kamu langsung percaya. Saya memberi tiga kepastian."

Ia mengangkat satu jari.

"Pertama, kalau setelah menikah kamu merasa tidak aman atau tidak bahagia, kamu boleh meminta cerai. Saya tidak akan menahanmu dengan ancaman, uang, atau nama keluarga."

Jari kedua terangkat.

"Kedua, gaji dan tunjangan saya akan saya serahkan untuk kebutuhan rumah tangga. Orang tua saya tidak bergantung pada uang saya. Kamu tidak perlu kembali kepada siapa pun hanya karena tidak punya biaya hidup."

Laras belum sempat mencerna, jari ketiga sudah menyusul. Namun kali ini Bram berdeham. Ujung telinganya memerah.

"Ketiga, kalau kamu belum siap menjalani hubungan sebagai suami istri, kita bisa tidur di kamar terpisah. Saya tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuanmu."

Sunyi jatuh selama beberapa detik.

Laras menatap telinga merah itu, lalu wajahnya yang tetap sok tenang. Ada dorongan aneh untuk tertawa. Bukan karena kalimatnya lucu, melainkan karena lelaki bertubuh besar yang semalam melawan obat sambil menggenggam vas ini rupanya bisa malu saat mengucapkan pisah kamar.

"Kamu serius?"

"Sangat."

"Kalau tidak cocok, aku boleh minta cerai?"

"Boleh."

"Punya kamar sendiri?"

"Kalau itu yang kamu mau."

"Dan kamu akan membantu mengurus KTP-ku?"

"Ya."

Pikiran Laras mulai menghitung.

Ia tidak punya uang, dokumen, atau tempat aman. Pak Rusdi tahu tempat kos terakhirnya dan bisa menjualnya lagi kepada jaringan yang lebih kejam. Di sisi lain, Bram punya pekerjaan jelas, rumah di kota yang cukup jauh, serta keluarga yang kemungkinan tidak berani disentuh Pak Rusdi. Paling penting, ia memberikan pintu keluar sebelum Laras memintanya.

Menikah dengan orang asing tetap berisiko. Namun kembali ke Pak Rusdi bukan risiko. Itu kehancuran yang sudah pasti.

Laras mengangkat dagu. "Baik. Kita bekerja sama dulu."

Alis Bram terangkat. "Bekerja sama?"

"Kita jalani. Kalau cocok, lanjut. Kalau tidak, kamu sudah berjanji tidak akan menghalangiku pergi."

Bram mengembuskan napas melalui hidung. Ia sudah menawarkan tanggung jawab seumur hidup, sementara perempuan di depannya menerimanya seperti kontrak masa percobaan.

"Baik," katanya akhirnya. "Tapi satu hal perlu diluruskan."

"Apa?"

"Kamu tidak perlu kabur. Kalau ingin pergi, katakan. Saya akan mengantarmu."

Dada Laras terasa sesak oleh sesuatu yang tidak ingin ia beri nama.

***

Mereka meninggalkan kamar 302 setelah matahari naik.

Bram telah membayar penginapan dan menyimpan foto dua gelas serta bungkus obat sebagai bukti. Pak Rusdi dan orang-orangnya tidak terlihat. Bram tidak mengejar mereka pagi itu karena Laras belum cukup kuat untuk memberi laporan, tetapi ia meminta pengelola menyimpan rekaman kamera dan data tamu.

Di depan pintu, Laras berhenti. "Kalau keluargamu bertanya kenapa aku memakai pakaian yang kamu beli?"

"Saya akan menjawab."

"Kalau mereka bertanya dari mana kita saling kenal?"

"Saya akan menjawab."

"Kalau mereka tidak menyukaiku?"

Bram mengambil jaket tipisnya dan menyampirkannya ke bahu Laras. Jaket itu terlalu besar, menutupi blus pinjaman dan pergelangan tangannya yang memar.

"Di rumah saya, tidak ada yang akan tanya soal semalam," katanya datar. "Itu urusan saya."

Episode 3

Bab 3

Kereta ke Malang

Jaket Bram masih berada di bahu Laras ketika kereta meninggalkan Stasiun Surabaya Gubeng.

Kainnya menyimpan aroma sabun dan sedikit bau tembakau yang bukan berasal dari pemiliknya, mungkin sisa kamar penginapan. Laras duduk di sisi jendela, memandangi bangunan kota yang berlari mundur. Setiap kali pintu antargerbong terbuka, bahunya menegang.

Bram duduk di sampingnya tanpa mengomentari itu.

Ia hanya memindahkan tas kecil ke bawah kaki, menyisakan lorong di depan Laras tetap kosong. Jalan keluar tidak terhalang. Entah kebetulan atau lelaki itu sengaja melakukannya.

"Perjalanan sekitar dua jam," kata Bram. "Kalau pusing, bilang."

"Aku tidak selemah itu."

"Semalam kamu hampir pingsan lagi saat berdiri."

"Itu semalam."

"Tadi pagi kamu hampir jatuh di tangga."

Laras menoleh tajam. Bram sudah membuka botol air, wajahnya datar seolah tidak baru saja meruntuhkan harga dirinya dengan dua kalimat.

"Kamu suka mencatat kesalahan orang?"

"Saya suka fakta."

"Fakta bahwa aku masih hidup juga bisa dicatat."

Kali ini Laras yakin sudut bibir lelaki itu bergerak.

Kereta semakin ramai setelah berhenti di stasiun berikutnya. Seorang pedagang mendorong troli minuman. Dua mahasiswa tertawa sambil berbagi earphone. Di seberang lorong, seorang perempuan berkardigan cokelat duduk bersama bocah laki-laki yang diperkirakan berusia lima tahun.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Perempuan itu menyandarkan kepala si bocah ke lengannya. Sebuah tas besar diletakkan di pangkuan. Wajahnya tampak lelah seperti orang tua lain yang bepergian dengan anak kecil.

Laras hendak memalingkan mata ketika kereta bergoyang.

Kepala bocah itu terayun terlalu lemas.

Perempuan tersebut buru-buru menahannya, lalu menoleh ke kanan-kiri. Bukan tatapan malu karena anaknya tertidur. Tatapannya mencari siapa yang memperhatikan.

Laras mengamati lebih teliti.

Celana pendek si bocah basah di bagian depan. Kakinya memakai sandal biru yang terlalu besar. Kukunya kotor, tetapi kaus bergambar mobil yang dikenakannya masih terlihat baru. Ada bekas tekanan kemerahan di salah satu pergelangan tangan.

"Jangan menatap terlalu lama," bisik Bram.

Laras tidak menoleh. "Kamu juga melihat?"

"Melihat apa?"

Ia sengaja bertanya begitu. Laras paham, Bram ingin mendengar penilaiannya tanpa memberi arah.

"Anak itu dibiarkan mengompol, tapi perempuan itu tidak memeriksa atau mengganti pakaiannya. Sandalnya salah ukuran. Dia tidak membawa tas anak, cuma tas besar yang terus dipeluk."

"Bisa saja mereka terburu-buru."

"Bisa."

"Kamu tidak percaya."

"Tidak."

Bram memandang pantulan mereka di kaca jendela. "Apa yang mau kamu lakukan?"

"Memastikan dulu."

Laras berdiri sebelum Bram sempat melarang. Lututnya masih sedikit nyeri, tetapi langkahnya cukup stabil. Ia berhenti di depan kursi seberang dan tersenyum kepada perempuan berkardigan cokelat.

"Bu, maaf. Anak Ibu kelihatannya kurang sehat."

Perempuan itu menarik tubuh si bocah lebih rapat. "Cuma tidur."

"Tidurnya lemas sekali. Mau saya panggil petugas?"

"Tidak perlu. Dia memang susah bangun kalau sudah tidur."

Laras berjongkok agar sejajar dengan wajah anak tersebut. Bau samar yang pahit mengusik hidungnya. Bukan bau obat gosok atau minyak telon. Bau itu sama dengan endapan di dasar gelas kamar 302.

Jantungnya memukul keras.

Seketika ia kembali menjadi gadis belasan tahun di terminal antarkota. Seorang lelaki memegang lengannya, sementara Pak Rusdi berdebat soal harga dengan orang di belakang kios. Laras masih ingat suara koin jatuh, bau solar, dan kalimat, beri sedikit saja biar anaknya tenang.

Ia lolos hari itu dengan menggigit tangan si calo sampai berdarah.

"Namanya siapa, Bu?" tanya Laras.

"Rian."

"Umurnya?"

"Enam tahun."

Laras menatap sandal biru si bocah. Di bagian talinya, nama `Daffa` ditulis dengan spidol hitam.

"Rian sekolah di mana?"

"Kamu siapa, sih?" Perempuan itu mulai meninggikan suara. "Suka sekali ikut campur urusan orang."

Beberapa penumpang menoleh. Bram belum bergerak dari kursinya, tetapi matanya tidak lepas dari tangan perempuan tersebut.

Laras tetap tersenyum. "Saya cuma kasihan. Celananya basah."

"Anak saya, terserah saya."

"Tentu. Anak Ibu pasti biasa memanggil Ibu dengan apa? Mama? Bunda? Ibu?"

Wajah perempuan itu menegang. "Ya Ibu."

"Kalau begitu bangunkan saja. Biar dia bilang sendiri tidak apa-apa."

"Jangan sentuh dia!"

Perempuan itu menepis tangan Laras sebelum tangannya benar-benar mendekati si bocah. Gerakannya begitu keras hingga kepala anak tersebut terkulai ke sisi lain. Kerah kausnya bergeser, memperlihatkan lebam kecil di bawah telinga.

Suara Bram terdengar dari belakang.

"Bu, turunkan nada suara."

Perempuan itu melihat tubuh tinggi Bram dan langsung pucat. "Ini anak saya. Kalian mau apa?"

"Kalau benar anak Ibu, petugas akan memastikannya dalam lima menit," jawab Bram.

"Tidak perlu petugas!"

Ia berdiri mendadak sambil mengangkat si bocah. Tas besar di pangkuannya hampir jatuh. Dengan satu tangan menopang anak, ia mencoba menyelinap ke lorong.

Bram bergeser setengah langkah, cukup untuk menutup jalan tanpa menyentuhnya.

"Duduk kembali."

"Minggir! Saya mau turun di stasiun depan."

"Kereta belum berhenti."

"Saya mau ke toilet."

"Toilet ada di arah sebaliknya," kata Laras.

Bisik-bisik mulai memenuhi gerbong. Seorang bapak tua berdiri dan menawarkan memanggil kondektur. Mahasiswa yang tadi memakai earphone menyalakan kamera ponselnya, tetapi Bram mengangkat telapak tangan.

"Jangan rekam wajah anaknya. Panggil petugas saja."

Mahasiswa itu langsung menurunkan ponsel dan berlari menuju gerbong depan.

Perempuan berkardigan makin panik. Tangannya masuk ke saku luar tas.

Bram menangkap pergelangannya sebelum ia mengeluarkan sesuatu. Tidak kasar, tetapi cengkeramannya membuat perempuan itu tak bisa bergerak.

"Lepaskan!"

"Keluarkan tangan pelan-pelan."

"Kamu polisi?"

"Bukan. Tapi saya tahu orang yang mau ke toilet tidak perlu menggenggam gunting."

Wajah Laras mengeras. Ia mengambil tubuh si bocah ketika pegangan perempuan itu melonggar. Anak tersebut ringan, terlalu ringan. Napasnya ada, pelan dan berbau pahit.

"Bram, dia diberi obat."

"Saya tahu. Pegang kepalanya. Jangan beri minum sebelum petugas medis memeriksa."

Perempuan itu meronta. "Kalian menculik anak saya! Tolong!"

Ia berteriak lebih keras, berharap keributan mengubah orang-orang menjadi pembelanya. Namun para penumpang kini justru berdiri mengelilingi lorong. Mereka sudah melihat sandal bertuliskan nama berbeda, lebam di leher, dan cara si bocah tak bereaksi meski suara begitu gaduh.

Laras menyerahkan anak itu kepada seorang ibu yang duduk paling dekat, lalu berdiri di depan perempuan tersebut.

"Kalau dia anakmu, sebutkan tanggal lahirnya."

"Saya tidak perlu menjawab kamu."

"Alerginya apa?"

"Diam!"

"Nama lengkapnya Rian siapa?"

Perempuan itu menendang tas Laras, lalu mencoba menarik diri dari Bram. Cengkeraman Bram tidak bergeser sedikit pun.

Suara pintu gerbong terbuka terdengar dari ujung lorong. Petugas sedang datang.

Laras melihat kepanikan telanjang di mata perempuan itu. Semua keraguan terakhirnya lenyap.

Ia mencengkeram lengan kardigan cokelat tersebut dan menatapnya lurus-lurus.

"Anak ini bukan anak Ibu, kan?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!