Bab 1: Bau Manis di Ambang Pintu
Plak.
Satu kancing kemeja Lia terlepas tepat ketika mobil Grab berhenti di depan gerbang rumah keluarga Wijaya.
Lia buru-buru menutup bagian dadanya dengan telapak tangan. Kemeja bermotif bunga kecil itu sudah terlalu sering dicuci. Warnanya memudar, kainnya menipis, dan sekarang benang di lubang kancing kedua ikut menyerah karena tertarik tubuhnya yang berisi.
“Sudah Tante bilang, tahan sedikit dadamu. Jangan terlalu tegak,” bisik Tante Meilin. “Rumah orang kaya banyak mata. Jangan sampai baru datang sudah jadi bahan omongan.”
Lia menunduk. Di pangkuannya, ransel kain tua dengan resleting berkarat terasa semakin jelek di antara jok mobil yang bersih.
“Iya, Tante.”
Perutnya berbunyi pelan.
Sejak pagi ia hanya minum air putih. Uang terakhir di dompet harus cukup untuk ongkos kembali ke kos kalau keluarga Wijaya menolaknya. Lagi pula, lapar membuat tubuhnya tetap dingin. Selama perutnya kosong, wangi aneh yang selalu muncul dari kulitnya hampir tak tercium.
Itu lebih aman.
Tante Meilin membayar ongkos, lalu menarik Lia turun. Udara PIK yang panas langsung menempel di wajah. Di depan mereka berdiri gerbang besi hitam setinggi dua kali tubuh Lia, dijaga kamera kecil yang mengikuti setiap gerakan. Di balik gerbang, halaman luas membentang dengan pohon palem rapi, batu alam pucat, dan sebuah rumah tiga lantai yang jendelanya memantulkan matahari.
Lia tanpa sadar merapatkan ranselnya ke dada.
Kos sempitnya bahkan tak lebih besar dari salah satu jendela rumah itu.
“Jangan melongo,” tegur Tante Meilin lagi. Kali ini suaranya lebih lembut. Ia membetulkan kerah Lia untuk menutupi kancing yang lepas. “Kesempatan seperti ini susah dicari. Popo keluarga Wijaya butuh orang yang bisa masak masakan rumahan Tionghoa dan membantu menjaga cucunya. Kamu bisa dua-duanya. Tinggal jangan banyak bicara.”
“Saya akan bekerja baik-baik.”
“Dan jangan ceritakan masalah papamu kepada siapa pun.”
Jari Lia yang memegang ransel langsung kaku.
Bayangan tagihan utang yang ditempel di pintu rumah Singkawang melintas di benaknya. Disusul suara Herman yang berat oleh arak, mengatakan bahwa laki-laki hampir lima puluh tahun itu sudah membayar uang muka untuk menjadikannya istri.
Lia menekan kain tipis di dadanya lebih rapat.
“Saya tidak akan cerita.”
Gerbang bergeser terbuka. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan seragam pengemudi berdiri di dekat sebuah Alphard hitam.
“Tante Meilin?” tanyanya sopan.
“Iya, Pak Kelik. Ini Lia yang saya ceritakan.”
Pak Kelik mengangguk kepada Lia. “Silakan masuk, Mbak Lia. Popo sudah menunggu di teras depan.”
Lia baru melangkah melewati gerbang ketika pintu utama terbuka.
Seorang pria tinggi keluar sambil membaca pesan di ponselnya. Kemeja putihnya licin tanpa satu lipatan. Jam logam gelap melingkar di pergelangan tangannya, sederhana tetapi tampak mahal. Wajahnya tenang, nyaris dingin, seolah panas siang dan kesibukan di sekeliling tak berhak menyentuhnya.
Pak Kelik segera membukakan pintu mobil.
“Mobil sudah siap, Pak Sebastian.”
Pria itu mengangguk pendek. “Kita berangkat sekarang.”
Lia menepi terlalu cepat. Ujung sandalnya tersangkut pada sela batu, membuat tubuhnya oleng ke depan.
Sebastian mengangkat tangan secara refleks.
Jarinya sempat menyentuh siku Lia sebelum perempuan itu menemukan keseimbangan. Hanya sesaat, tetapi telapak tangannya menangkap hangat yang tak semestinya ada pada kulit orang yang belum makan sejak pagi.
Lia mendongak.
Tatapan mereka bertemu.
Mata pria itu gelap dan tajam. Lia buru-buru menunduk, menyadari kerahnya kembali bergeser. Telapak tangannya menutup kancing yang lepas. Karena panik, panas merambat tipis dari leher ke wajah.
Bersamaan dengan itu, hembusan angin membawa aroma manis yang sangat samar. Seperti buah matang yang baru dikupas, hangat dan lembut, lalu hilang sebelum bisa dikenali.
Langkah Sebastian tertahan setengah detik.
Tenggorokannya bergerak.
“Maaf, Pak,” ucap Lia cepat.
Sebastian melepaskan sikunya. “Hati-hati.”
Hanya dua kata. Datar, bersih, tanpa senyum.
Namun ketika Lia berjalan masuk bersama Tante Meilin, tatapan pria itu tertinggal pada punggungnya lebih lama daripada yang seharusnya.
“Pak Sebastian?” panggil Pak Kelik.
Sebastian masuk ke mobil tanpa menjawab. Pintu tertutup, menyisakan hawa sejuk dan wangi kulit jok. Ia membuka kembali surel di ponsel, tetapi kalimat pertama harus dibacanya dua kali.
Aroma tadi masih seolah menempel di ujung napas.
***
Popo Mei Hoa menunggu di teras dengan kipas lipat di tangan. Rambut putihnya disanggul sederhana, matanya hidup dan teliti. Di atas meja rotan tersedia teh hangat, tetapi Lia tidak berani menyentuhnya.
“Jadi ini anak dari Singkawang itu?” Popo mengamati Lia dari kepala sampai kaki, berhenti sebentar pada tangan yang masih menahan kerah. “Namamu siapa?”
“Lianna Souw, Popo. Biasa dipanggil Lia.”
“Bisa masak apa?”
“Babi kecap, ayam jahe, sup sawi asin, bakso ikan. Saya juga bisa masak makanan rumahan yang diajarkan Popo Hwa.”
Sorot mata Popo berubah saat mendengar nama kota dan masakan itu.
“Popo Hwa-mu orang Singkawang juga?”
“Iya, Popo. Saya dibesarkan beliau.”
Tante Meilin segera menyambung, “Anaknya rajin. Tidak takut bangun pagi. Kalau soal bayi juga telaten.”
Dari dalam rumah terdengar tangis bayi, tipis tetapi terus-menerus. Lia menoleh tanpa sadar.
Popo melihat gerakan itu. “Itu Bryan, cicit Popo. Masih kecil, tetapi susah minum dan susah tidur. Mamanya juga cepat lelah.”
“Saya bisa membantu, Popo.”
“Jangan cepat janji.” Popo mengetuk kipas ke telapak tangan. “Di rumah ini orangnya banyak, aturannya juga banyak. Kamu coba tiga hari dulu. Masak yang benar, jaga Bryan yang benar. Kalau cocok, kamu tinggal.”
Napas yang ditahan Lia akhirnya lolos perlahan.
Tiga hari bukan jaminan. Namun tiga hari berarti tempat tidur tanpa membayar sewa, makanan tanpa menghitung sisa uang, dan jarak yang lebih jauh dari tangan ayahnya.
Ia membungkukkan kepala. “Terima kasih, Popo. Saya akan berusaha.”
“Meilin, antar dia ke kamar belakang. Setelah itu suruh dia ke dapur. Popo mau lihat masakannya.”
Tante Meilin tersenyum lega. “Baik, Popo.”
Saat Lia mengangkat ranselnya, Popo menunjuk kerah yang terus ia tahan.
“Cari peniti di dapur. Jangan kerja sambil memegang baju begitu. Capek.”
Pipi Lia memanas. “Iya, Popo.”
Untuk pertama kalinya sejak turun dari mobil, sudut bibir Popo naik sedikit.
***
Alphard hitam sudah meninggalkan kompleks ketika ponsel Sebastian tersambung ke panggilan Robby.
“Gue kirim revisi jadwal lewat surel,” suara Robby terdengar dari pengeras mobil. “Lo sudah jalan?”
“Sudah.”
Sebastian menatap keluar jendela. Gerbang rumahnya mengecil di kaca spion, tetapi bayangan perempuan dengan kemeja pudar dan tangan yang menutup kancing lepas masih terlalu jelas.
Ia seharusnya memikirkan rapat.
Sebaliknya, satu pertanyaan keluar tanpa alasan yang mau diakuinya.
“Rob, yang baru datang ke rumah itu siapa?”
Bab 2: Rahasia yang Disimpan Lapar
Suara mobil Sebastian menghilang di balik gerbang ketika Lia mengikat celemek di dapur keluarga Wijaya.
Ia tidak tahu pria itu sempat menanyakan dirinya. Yang ia tahu, masa depannya untuk tiga hari ke depan ditentukan oleh tiga tungku kompor, sekeranjang bahan segar, dan perempuan-perempuan Wijaya yang sedang menunggu di ruang makan.
“Babi kecapnya jangan terlalu manis,” pesan Popo dari ambang pintu. “Cornelia sekarang sedikit-sedikit takut gula.”
“Mama, saya bukan takut gula. Dokter hanya menyuruh mengurangi,” sahut Nyonya Cornelia dari luar.
Popo mendengus. “Sama saja.”
Lia menahan senyum. Tangannya mulai bergerak lebih tenang. Jahe digeprek, bawang putih dicincang, lalu masuk ke minyak panas dengan bunyi berdesis. Aroma gurih segera memenuhi dapur.
Di tempat inilah ia paling mengerti apa yang harus dilakukan.
Ia menumis ayam bersama jahe dan minyak wijen, mengentalkan kuah babi kecap sampai mengilap, lalu menambahkan sawi asin ke dalam sup bening. Jarinya bekerja cepat tanpa membuang bahan sedikit pun. Setiap potongan daging memiliki ukuran hampir sama. Setiap ceceran saus langsung ia bersihkan.
Ketika hidangan dibawa ke meja, Engkong Tek Sun sudah duduk dengan sendok di tangan.
“Yang pedas mana?” tanyanya.
“Tidak ada yang pedas, Engkong,” jawab Popo.
“Apa? Kurang pedas?” Engkong menoleh kepada Lia. “Tambah cabai.”
“Jangan,” kata Popo dan Cornelia bersamaan.
Lia menunduk agar mereka tidak melihat tawanya.
Cornelia mencicipi ayam jahe lebih dulu. Wajahnya tetap tenang, tetapi sumpitnya kembali mengambil potongan kedua. Popo menyendok sup, meniupnya pelan, lalu berhenti setelah suapan pertama.
Mata tuanya berkilat.
“Rasa seperti ini sudah lama tidak ada di meja ini,” ucapnya. “Jahe, sawi asin, sedikit lada putih. Persis masakan di rumah lama.”
Lia menggenggam ujung celemek. “Popo Hwa yang mengajari saya.”
“Bagus. Jangan ubah resepnya.”
Tangis bayi terdengar dari ruang keluarga. Seorang pengasuh membawa Bryan yang masih merah dan kecil mendekat ke meja. Bayi itu menggeliat di dalam bedong, mulutnya terbuka, kedua tinjunya mengepal.
Saat Lia mencondongkan tubuh untuk melihat, tangisan Bryan melemah sesaat. Hidung kecilnya bergerak seperti mencari sesuatu.
“Aneh,” gumam Cornelia. “Tadi dari pagi tidak berhenti.”
Lia langsung mundur satu langkah. Perutnya masih kosong, tetapi ia telah berkeringat karena panas kompor. Jangan sampai aroma itu muncul sekarang.
Cornelia kembali menatap meja. “Masakanmu baik. Selama tiga hari percobaan, kamu tinggal di kamar belakang dan makan di sini. Kalau pekerjaanmu cocok, gajinya tiga juta delapan ratus ribu sebulan, termasuk tempat tinggal dan makan.”
Angka itu membuat jari Lia bergetar.
Ia bisa membayar tunggakan kos, menyimpan sedikit uang, mungkin membeli tiket jika suatu hari harus pergi lebih jauh lagi.
“Terima kasih, Tante Cornelia. Saya tidak akan mengecewakan.”
“Buktikan lewat kerja.”
Popo meletakkan sepotong ayam ke mangkuk kecil. “Sekarang kamu makan.”
“Nanti saja, Popo. Saya masih harus membersihkan dapur.”
“Kerja tidak akan lari.”
Lia tersenyum tipis, tetapi tidak menyentuh mangkuk itu.
***
Malam sudah larut ketika Lia akhirnya masuk ke kamar belakang. Ruangannya sederhana, hanya berisi ranjang tunggal, lemari dua pintu, meja kecil, dan kipas dinding. Namun seprai bersih serta pintu yang bisa dikunci membuat dadanya terasa lebih longgar daripada selama berbulan-bulan terakhir.
Di atas meja ada nasi dan lauk yang disisihkan dapur.
Lia makan tiga suap, lalu berhenti.
Perutnya memprotes. Lidahnya masih mengingat babi kecap yang dimasaknya sendiri. Akan tetapi, kulit di tengkuknya mulai menghangat. Tanda pertama selalu sama.
Ia menutup kotak makan.
Sejak kecil tubuhnya lemah dan sering demam. Popo Hwa memberinya ramuan warisan dari akar, buah kering, dan rempah yang dimasak berjam-jam. Bukan sihir, bukan penyakit. Hanya jamu keluarga yang pada tubuh Lia meninggalkan akibat aneh setelah diminum bertahun-tahun.
Setiap kali kenyang, suhu tubuhnya naik. Kulitnya menjadi lebih lembut, pipinya memerah, dan wangi buah manis menguar dari pori-porinya.
Semakin banyak ia makan, semakin kuat wanginya.
Saat remaja, aroma itu membuat tatapan para lelaki di sekitar rumah berubah. Herman malah melihatnya sebagai barang yang bisa ditukar dengan uang. Sejak itu Lia belajar menahan lapar sebelum tubuhnya sempat mengundang perhatian.
Ia menyimpan kotak makan di bawah meja, lalu membawa pakaian ganti ke ruang bilas belakang.
Air hangat jatuh di atas rambut dan bahunya. Lia menggigit bibir ketika panas segera berkumpul di bawah kulit. Tiga suap nasi ternyata cukup untuk membangunkan aroma yang sedari pagi ia tekan.
Wangi manis memenuhi ruang kecil itu.
Lia mempercepat bilasan. Baru saja ia mengenakan pakaian dan membuka pintu, langkah sepatu terdengar dari lorong belakang.
Sebastian berdiri beberapa meter darinya.
Kemeja putih yang siang tadi rapi kini terbuka satu kancing di leher. Wajahnya menunjukkan lelah setelah bekerja, tetapi matanya langsung tajam saat aroma hangat menyentuhnya.
Lia memeluk pakaian basah ke dada. Ujung rambutnya menetes ke leher.
“Ko Sebas belum tidur?” tanyanya, lalu ingin menarik kembali pertanyaan bodoh itu.
“Baru pulang.”
Tatapan Sebastian turun ke tetes air di lehernya, lalu kembali ke wajah. Tenggorokannya bergerak perlahan.
“Wangi apa itu?”
Jantung Lia menabrak tulang rusuk.
“Wangi sabun.”
“Bukan.”
Satu kata itu membuat lorong terasa semakin sempit.
Sebastian maju satu langkah. Aroma buah matang menjadi lebih jelas, bercampur dengan uap air dan wangi rambut basah. Jarak di antara mereka masih sopan, tetapi Lia merasa seolah pria itu sudah berdiri terlalu dekat.
“Tadi siang juga ada,” katanya.
Lia mencengkeram pakaian di tangannya. “Mungkin dari jamu, Ko Sebas. Dulu Popo Hwa sering membuatkan jamu untuk saya. Kadang wanginya masih keluar kalau tubuh saya kepanasan.”
Itu bukan dusta sepenuhnya. Hanya bagian terpenting yang ia sembunyikan.
Sebastian menatapnya beberapa detik. Lia tidak berani bernapas lega.
“Jamu apa?”
“Ramuan keluarga. Saya tidak tahu semua isinya.”
Tetes air meluncur dari ujung rambut Lia ke tulang selangka. Mata Sebastian mengikuti gerak itu sepersekian detik sebelum rahangnya mengeras.
Ia mundur.
“Keringkan rambutmu. Jangan sakit saat baru mulai kerja.”
“Iya, Ko Sebas.”
Lia berjalan cepat menuju kamar. Ia baru berani menarik napas setelah pintu terkunci.
Di lorong, Sebastian masih berdiri di tempatnya. Wangi manis itu tertinggal lebih lama daripada pemiliknya.
***
Pukul dua lewat tujuh belas menit, Sebastian terbangun dengan napas berat.
Kamar tidurnya gelap dan dingin. Selimut terpelintir di kakinya. Di dalam mimpi tadi, rambut basah Lia menyapu lengannya, tubuh hangat itu terkurung di antara dirinya dan dinding, dan aroma manis memenuhi setiap tarikan napas sampai ia lupa bagaimana caranya menjaga jarak.
Sebastian duduk, mengusap wajah dengan kasar.
Ia tidak pernah kehilangan kendali hanya karena seorang perempuan.
Terlebih perempuan yang bahkan baru dikenalnya sehari.
Namun tubuhnya masih menyimpan panas dari mimpi itu, sementara di ujung napasnya, wangi Lia terasa seolah belum pernah pergi.
Untuk pertama kalinya, Sebastian membenci retakan kecil dalam kendali dirinya sendiri.
Bab 3: Hanya Bau Aho yang Bisa Menidurkan Bryan
Sebastian menyerah pada tidur sebelum fajar.
Ketika turun ke dapur dengan kemeja kerja berwarna gelap, Lia sudah mengukus bakpao dan memotong buah untuk sarapan keluarga. Bayangan perempuan berambut basah dari mimpinya semalam kembali muncul terlalu mudah.
Rahang Sebastian mengeras.
Lia melihatnya dan hampir menjatuhkan pisau.
“Selamat pagi, Ko Sebas.”
“Tentang wangi semalam.”
Pisau di tangan Lia berhenti di atas pepaya. Ia berharap pria itu akan menganggap pertemuan mereka sekadar kejadian kecil. Rupanya tidak.
“Saya sudah bilang, mungkin dari jamu.”
“Mungkin?”
Sebastian berdiri di sisi meja dapur. Di bawah lampu putih, wajahnya tampak lebih dingin daripada malam tadi, tetapi bayang-bayang kurang tidur terlihat di bawah matanya.
Lia memaksa tangannya bergerak lagi. “Saya seharian memasak. Ada kecap, jahe, buah, macam-macam bumbu. Wanginya mungkin menempel, lalu keluar lagi kena air hangat.”
“Bumbu dapur tidak menempel seperti itu.”
“Tubuh setiap orang berbeda, Ko Sebas.”
Untuk pertama kalinya, Lia berani menatapnya kembali. Hanya satu detik, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tak akan menjawab lebih jauh.
Tangis Bryan terdengar dari lantai atas. Disusul langkah tergesa dan suara Cornelia memanggil pengasuh.
Lia meletakkan pisau. “Saya harus membantu Tante Cornelia.”
Ia melewati Sebastian sebelum pria itu sempat menahan. Wangi di tubuhnya sangat tipis pagi itu karena sarapan belum menyentuh perut. Tetap saja, Sebastian menangkap sisa manis di udara.
Ia menatap potongan pepaya di meja.
Wangi buah. Wangi jamu. Wangi bumbu dapur.
Terlalu banyak jawaban untuk satu pertanyaan sederhana.
***
Selama dua hari berikutnya, Bryan mengubah seluruh isi rumah menjadi orang-orang yang kurang tidur.
Bayi itu menolak susu, menangis sampai wajahnya merah, lalu terlelap hanya beberapa menit sebelum kembali terbangun. Vanessa berdiri di dekat ranjang dengan rambut berantakan, sementara Cornelia mengukur suhu cucunya berkali-kali.
“Tidak demam,” kata Cornelia. “Popoknya juga kering.”
“Mungkin susunya tidak cocok,” keluh Vanessa. “Dari kemarin aku bilang ganti merek.”
Popo menyentakkan kipasnya. “Bayi bukan mesin. Jangan semua mau diganti setiap dia menangis.”
Lia berdiri di ambang pintu sambil membawa pakaian bayi yang baru dilipat. Ia ragu-ragu mengangkat tangan.
“Boleh saya coba gendong?”
Vanessa menatapnya. “Kamu?”
“Biarkan,” putus Popo.
Lia mencuci tangan, lalu menerima Bryan dengan hati-hati. Tubuh kecil itu menegang di lengannya. Tangisnya menusuk telinga.
Sejak siang Lia sempat makan setengah porsi nasi karena Popo terus mengawasi. Panas lembut masih tersimpan di bawah kulitnya. Saat ia mendekatkan Bryan ke dada dan menepuk punggung kecilnya, hidung bayi itu bergerak.
Tangisnya tersendat.
Bryan memalingkan wajah, mencari sumber aroma, lalu menempelkan pipi ke leher Lia. Kepalan tangannya perlahan terbuka.
Kamar yang semula riuh mendadak sunyi.
“Coba susunya,” bisik Cornelia.
Lia menerima botol. Dot menyentuh bibir Bryan, dan kali ini bayi itu mengisap tanpa menolak. Suara telannya kecil tetapi teratur.
Popo tersenyum puas. “Dia suka bau Aho.”
Lia menoleh. “Aho?”
“Nama kecilmu, bukan? Meilin pernah cerita. Popo Hwa memanggilmu begitu.”
Dada Lia menghangat. Sudah lama tak ada yang menyebut nama kecil itu dengan suara penuh sayang.
“Iya, Popo.”
“Nah, Bryan juga tahu. Hanya bau Aho yang bisa membuatnya tenang.”
Tidak ada yang menganggap kalimat itu sebagai rahasia. Mereka hanya melihat bayi rewel yang menyukai gendongan pengasuh baru.
Dari luar kamar, Sebastian berdiri tanpa masuk. Tatapannya berpindah dari Bryan yang tenang ke pipi Lia yang memerah.
Lia merasakan tatapan itu. Ia menunduk dan menepuk punggung Bryan lebih pelan.
“Mulai hari ini, kamu bantu pegang Bryan,” kata Cornelia. “Gajimu saya tambah lima ratus ribu. Masa percobaan selesai. Kamu tetap di sini.”
Lia mengangkat wajah. “Terima kasih, Tante Cornelia.”
“Terima kasih pada Bryan. Dia yang memilihmu.”
Vanessa menyilangkan tangan. Di antara semua wajah lega di kamar, hanya matanya yang tetap dingin.
***
Tiga hari kemudian, Cornelia menyuruh Lia membeli popok dan beberapa bahan dapur di supermarket dekat kompleks. Bryan ditinggal bersama Popo dan pengasuh lain karena baru saja tertidur.
Lia mendorong troli kecil menyusuri rak bumbu. Setelah memastikan daftar belanja lengkap, ia beralih ke bagian kebutuhan bayi.
Seorang pria bersandar pada rak popok sambil memainkan kunci mobil.
“Baru lihat wajah secantik ini belanja sendirian.”
Lia memindahkan troli ke sisi lain.
Pria itu ikut bergeser. Kaos bermereknya mahal, senyumnya terlalu akrab.
“Gue Bobby. Rumah keluarga gue dekat kompleks Wijaya.” Ia menatap Lia tanpa sopan santun. “Lo kerja di sana?”
“Permisi.”
Lia hendak lewat, tetapi Bobby menahan pegangan trolinya.
“Santai saja. Cuma kenalan.”
“Saya tidak mau berkenalan.”
Senyum Bobby menipis. “Jangan jual mahal. Gue bisa antar pulang.”
Lia melepaskan tangannya dari troli, berputar, lalu membawa keranjang belanja yang kosong dari tumpukan di samping kasir. Ia memindahkan barang dengan cepat dan meninggalkan troli di tangan Bobby.
“Terima kasih sudah menjaganya.”
Beberapa orang menoleh. Bobby tertawa pendek untuk menutupi wajahnya yang berubah.
Lia membayar, lalu keluar tanpa melihat ke belakang. Di bawah panas siang, telapak tangannya mencengkeram kantong belanja sampai plastiknya meregang. Tegang dan lelah membuat suhu tubuhnya naik. Wangi manis mulai lolos tipis dari lehernya.
Di balik pintu kaca supermarket, Bobby masih mengawasinya.
Ia mengangkat dagu dan berseru, “Adik manis, lo kerja di rumah siapa? Nanti gue cari!”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!