Indonesia
NovelToon NovelToon

Senja Untuk Cahaya

Kita Berdua

Cahaya udah ngetuk pintu kamarku jam enam dua puluh lima pagi itu, lima menit lebih cepat dari yang dia janjiin kemarin, dengan intensitas ketukan yang isi pesannya jelas: aku tahu kamu belum bangun dan aku bakal terus gedor sampai tetangga komplain.

"Kamu udah bangun?" tanyanya dari luar pintu.

"Sekarang udah," jawabku dari balik selimut.

"Ganti baju. Sepuluh menit."

"Lima belas."

"Dua belas."

"Tiga belas."

Hening tiga detik dari luar pintu, artinya dia lagi nimbang nimbang apakah angka tiga belas itu kompromi yang bisa diterima.

"Oke," katanya akhirnya. "Tiga belas menit. Aku tunggu di depan."

Aku dengar langkah kakinya menjauh.

Aku natap langit langit kamar dua menit penuh, ngitung ngitung secara mental apakah secara teori mungkin buat ganti baju, cuci muka, sarapan minimal, dan sampai di depan dalam sisa sebelas menit.

Jawabannya: bisa, kalau definisi sarapan minimal itu roti yang dimakan sambil jalan.

Di kampus, suasana hari kedua kerasa lebih rapi dari kemarin. Orang orang udah tahu kelompoknya masing masing, udah tahu harus berdiri di mana, udah punya minimal satu dua wajah yang dikenal buat jadi titik orientasi di tengah keramaian.

Kelompok dua belas kumpul di sudut yang sama kayak kemarin, dan kali ini aku sampai sebelum namaku dipanggil ulang. Bimo udah ada di situ, berdiri agak di tepi lingkaran dengan cara yang persis sama kayak kemarin, dan dia ngangguk pas aku dateng, ekspresinya kayak orang yang nganggep seseorang udah otomatis jadi teman berdasarkan kriteria "sama sama lebih milih berdiri di pinggir daripada di tengah".

Aku ngangguk balik.

Sistem pertemanan yang efisien.

Sesi pertama hari itu pengenalan unit kegiatan mahasiswa, macam macam organisasi dan klub yang resmi di bawah BEM Universitas. Perwakilan tiap UKM gantian maju presentasi kegiatannya dengan semangat yang beda beda, mulai dari yang keliatan beneran passionate sampai yang kayak lagi baca teks dari kartu contekan di luar jangkauan mata audiens.

Aku catet UKM yang secara teori relevan, ada satu klub pemrograman yang kegiatannya kedengeran cukup menarik, satu kelompok studi yang judulnya ambigu tapi deskripsinya lumayan, sambil sesekali natap enggak sepenuhnya sadar ke arah kelompok tujuh duduk.

Cahaya, aku bisa liat, lagi ngobrol pelan sama cewek di sebelah kirinya, temen baru kayaknya, karena mereka udah keliatan cukup akrab buat bisik bisikan di sela sela presentasi. Di depan, perwakilan UKM teater lagi jelasin jadwal latihan mingguan dengan gestur tangan yang mungkin maksudnya dramatik tapi lebih keliatan kayak lagi niruin orang tenggelam.

Terus ada sesuatu di meja perlengkapan di sudut ruangan yang narik perhatianku.

Bukan sesuatu yang besar. Bukan sesuatu yang penting.

Cuma gantungan kunci kecil yang nempel di tas salah satu panitia yang duduk deket meja itu. Karakter chibi dari anime lawas, catnya udah agak pudar di beberapa bagian, tapi bentuknya masih cukup jelas buat dikenali.

Mimosa dari Stellar Blade Chronicle.

Dan tanpa aba aba dari bagian otak mana pun yang bisa aku identifikasi, ada sesuatu mulai gerak di kepalaku.

Enggak ada yang pernah ngajarin aku ini di sekolah manapun, di kurikulum apapun, di mata pelajaran apapun sepanjang dua belas tahun sekolah formal: kenangan enggak nyimpen dirinya sendiri secara rapi dan terorganisir di suatu tempat di kepala kita, siap diakses kapan aja kita butuh, kayak folder berlabel di desktop komputer.

Kenangan lebih mirip reruntuhan. Terpendam di bawah lapisan lapisan waktu, enggak keliatan, enggak kerasa, sampai ada sesuatu yang menggali. Dan yang menggali itu hampir enggak pernah sesuatu yang besar.

Sekecil gantungan kunci yang catnya udah pudar.

Yang pertama muncul, kayak biasa kalau ada sesuatu yang mancing perjalanan ke belakang, bukan yang paling deket sama sekarang.

Selalu yang paling jauh.

Taman Kanak Kanak Mentari Pagi. Empat tahun. Hari pertama.

Aku enggak inget banyak detail dari hari itu, memori manusia umur empat tahun lebih mirip kolase gambar daripada rekaman video, potongan potongan yang enggak selalu nyambung sama kronologi yang jelas. Tapi beberapa fragmen tetap ada sampai sekarang cukup jelas buat aku pegang.

Bau krayon baru yang campur sama bau cat tembok dan sesuatu yang mungkin pewangi ruangan rasa jeruk.

Karpet warna merah motif bunga yang udah agak pudar di bagian tengah karena kelamaan diinjek.

Dan suara tangisan.

Bukan tangisku, aku inget cukup pasti aku enggak nangis hari itu, bukan karena aku berani atau tenang, tapi lebih karena aku terlalu bingung sama situasinya buat proses emosi apapun dengan bener.

Suara tangisan itu datang dari sudut ruangan, di balik rak buku pendek yang penuh buku bergambar. Dan pas aku ikutin, didorong rasa penasaran yang mungkin lebih kuat dari rasa sosialitas, aku nemuin anak perempuan duduk di pojok, lutut dipeluk, pakai baju merah muda gambar bintang kecil, rambut dikuncir dua yang salah satunya udah agak miring karena gerak.

Dia dongak pas aku muncul.

Matanya merah. Pipinya basah. Di tangannya ada kupu kupu kertas origami warna kuning yang agak kusut, mungkin dari rumah, mungkin dibuat di sini dan hasilnya enggak sempurna.

Kami saling natap dalam diem yang canggung beberapa detik.

Terus aku, dalam kapasitas sosialku yang umur empat tahun, ngucapin kalimat yang bahkan sekarang kalau diinget kerasa kayak kalimat paling enggak membantu yang bisa diucapin ke orang yang lagi nangis.

"Kenapa nangis?"

Anak perempuan itu jawab dengan jawaban yang enggak aku inget persis, sesuatu soal ibu yang pergi dan enggak mau balik lagi (yang kemudian aku ngerti itu maksudnya ibu pulang ke rumah dan bakal jemput sore nanti, bukan pergi permanen, tapi buat anak umur empat tahun enggak ada bedanya). Dia ngucapinnya dengan logat anak kecil yang beberapa hurufnya belum sempurna, kesendat di beberapa bagian karena masih nangis.

Aku mikir cukup lama, buat ukuran anak umur empat tahun.

Terus aku duduk di sebelahnya di pojok yang sama, karena itu satu satunya respons yang bisa aku pikirin.

Enggak bilang apa apa. Enggak ngapa ngapain. Cuma duduk di situ, karena keliatannya itu yang bisa aku lakuin.

Anak perempuan itu berhenti nangis pelan pelan, bukan karena sesuatu yang aku lakuin, lebih karena tangisan anak kecil emang biasanya punya durasi terbatas kalau enggak ada yang aktif bikin situasinya makin buruk.

Setelah beberapa menit, dia julurin kupu kupu kertas origami kuningnya ke arahku.

"Ini," katanya. Satu kata. Tanpa penjelasan.

Aku ambil. "Makasih."

"Namaku Cahaya."

"Rendy."

"Kamu mau jadi temenku?"

Aku natap kupu kupu kertas di tanganku. Warnanya udah agak kusut di beberapa lipatan, tapi bentuknya masih bisa dikenali. Ada orang yang bikin ini dengan hati hati.

"Oke," jawabku.

Dan begitulah, dengan efisiensi transaksional yang cuma bisa dicapai anak umur empat tahun, persahabatan kami mulai.

Yang enggak pernah aku ceritain ke siapapun, termasuk ke Cahaya sendiri, kupu kupu kertas origami itu masih ada.

Bukan dalam kondisi bagus. Udah sangat kusut, beberapa lipatannya udah enggak bisa balik ke posisi asli karena pernah kena air sekali waktu kelas tiga SD dan aku enggak berhasil nyelametinnya sepenuhnya. Tapi ada, di dalam kotak kecil di laci paling bawah mejaku, di bawah tumpukan kertas lain yang aku simpen dengan alasan beda beda.

Aku enggak tahu kenapa aku nyimpennya. Bahkan aku enggak inget kapan persisnya aku mutusin benda itu perlu disimpen, kayaknya keputusan itu enggak pernah dibuat secara aktif, cuma enggak pernah kebuang, dan di suatu titik udah kelamaan buat mulai dibuang.

SD berjalan enam tahun yang, kalau aku pikirin sekarang dari posisi mahasiswa baru yang baru aja selesai hari kedua PKKMB, kerasa kayak satuan waktu paling elastis yang pernah aku alamin. Kerasa lama banget waktu lagi dijalanin, tapi kerasa padat banget waktu diringkas dari jarak.

Aku dan Cahaya sekolah di SD yang sama, SD Nusantara 7, gedung tua cat kuning yang selalu ngelupas di sudut sudut tertentu dan lapangan yang enggak pernah cukup gede buat nampung semua kelas yang mau olahraga di waktu bersamaan. Kami enggak selalu satu kelas, tapi selalu satu sekolah, dan itu udah cukup buat nentuin pola yang jalan bertahun tahun sesudahnya: kami berangkat dari gang yang sama, pulang ke arah yang sama, dan di antara keduanya ada dunia masing masing yang enggak selalu ketemu tapi selalu berakhir di titik temu yang sama.

Di SD, Cahaya mulai nunjukin versi awal dari dirinya yang sekarang, gampang bergaul, selalu ada teman yang ngelilingin dia, dipilih jadi ketua kelas sejak kelas tiga karena cara ngomongnya yang enggak pernah bikin orang lain ngerasa kecil, bahkan pas dia lagi enggak setuju. Sementara aku, di jalur yang beda, mulai nemuin bahwa dunia di dalam layar dan halaman kertas lebih gampang aku navigasi daripada dunia yang penuh ekspektasi sosial yang selalu sedikit terlalu ambigu buat aku pecahin dengan tepat.

Kami temenan lebih banyak di luar sekolah daripada di dalam. Sore hari di gang, akhir pekan di taman komplek yang pohon mangganya udah enggak berbuah lagi sejak kami kelas empat tapi tetap jadi titik kumpul karena udah jadi kebiasaan, sesekali di kamar masing masing kalau hujan dan enggak ada tempat lain buat pergi.

Ada satu kejadian di kelas empat yang masih aku inget dengan detail yang enggak sebanding sama tingkat pentingnya.

Siang istirahat. Aku lagi baca di perpustakaan, ensiklopedia Jepang yang baru dipinjem, isinya penjelasan singkat soal macam macam aspek budaya populer Jepang termasuk anime dan manga dan industri di baliknya, pas Cahaya muncul dengan cara yang udah aku kenal: tanpa pemberitahuan, duduk di kursi seberang tanpa ditawarin, langsung natap buku yang aku baca dengan rasa penasaran yang enggak dia sembunyiin.

"Apa itu?"

"Ensiklopedia."

"Tentang anime?"

"Sama hal hal lain."

"Boleh liat?"

Aku geser bukunya ke tengah meja biar kami bisa liat bareng. Cahaya pelajarin dengan serius, baca caption di bawah foto foto, perhatiin ilustrasi. Di halaman soal cosplay, dia diem lebih lama dari halaman halaman lain.

"Ini orang beneran?" tanyanya, nunjuk foto seseorang yang pakai baju persis kayak karakter anime tertentu.

"Iya. Namanya cosplay."

"Mereka bikin sendiri bajunya?"

"Kebanyakan."

Cahaya natap foto itu dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca dengan tepat waktu itu. "Susah kayaknya."

"Katanya butuh waktu lama. Tapi ada yang jago banget."

"Hmm."

Dia enggak komentar lebih jauh. Sepuluh menit kemudian bel bunyi dan kami balik ke kelas masing masing. Percakapan itu selesai dan kelupaan, setidaknya olehku, kayak kebanyakan percakapan kecil yang jumlahnya kebanyakan buat semuanya diinget.

Ada satu momen lain, dua tahun setelah itu, yang kerasa lebih nyambung ke apa yang lagi aku liat sekarang di meja perlengkapan UKM ini.

Kelas enam SD. Tujuh tahun lalu. Hari Sabtu.

Sore itu aku lagi nonton episode tujuh Stellar Blade Chronicle di laptop pemberian ayah yang udah mulai lemot di beberapa bagian tapi masih lumayan buat streaming kalau enggak ada aplikasi lain yang kebuka bareng, pas pintu kamarku diketuk dengan ketukan yang udah sangat aku kenal. Tiga ketukan cepat, jeda, satu ketukan lagi. Kode yang enggak pernah resmi disepakati tapi udah jalan otomatis sejak kami kelas empat.

"Masuk," kataku tanpa mempause video.

Cahaya masuk bawa dua gelas susu cokelat dari dapurku, yang artinya dia udah sampai cukup lama buat sempet mampir dapur dulu sebelum ke kamarku, hal yang udah cukup sering kejadian sampai mamaku udah enggak nganggep itu perlu dikomentarin lagi.

"Lagi episode berapa?" tanyanya, duduk di tepi kasur sambil naruh satu gelas di meja deketku.

"Tujuh."

"Bagian Mimosa ketemu ayahnya?"

"Belum sampe situ." Aku akhirnya pause videonya. "Kamu udah nonton?"

"Aku nonton sama kamu waktu itu. Episode lima. Di sini. Kamu lupa?"

Aku mikir. Bener, dua minggu lalu, waktu aku baru mulai nonton serial ini, Cahaya kebetulan ada di kamarku buat alasan yang udah aku lupa apa, dan akhirnya nonton dua episode bareng aku sebelum ibunya nelepon suruh dia pulang makan malam.

"Oh. Iya."

"Mimosanya bagus." Cahaya natap layar laptopku yang lagi pause di frame Mimosa yang lagi lari. "Karakternya kuat tapi enggak lebay. Aku suka."

Ini hal yang selalu bikin aku agak heran soal Cahaya. Dia enggak pernah ngaku suka anime, enggak pernah aktif nyari tontonan baru sendiri, tapi tiap kali dia nonton sesuatu bareng aku, responnya selalu tajam dan spesifik. Bukan "bagus" atau "seru" yang generik, tapi selalu ada elemen tertentu yang dia perhatiin dan komentarin.

"Mau nonton lanjutannya?" tanyaku.

Cahaya ngelirik jendela, masih sore, masih cukup terang. "Bentar lagi harus pulang."

"Satu episode."

Dia nimbang nimbang. "Oke. Satu episode."

Kami nonton episode tujuh bareng, aku di kursi meja, Cahaya di tepi kasur, dan pas Mimosa akhirnya ketemu ayahnya di reruntuhan kota tua dan dialog di antara mereka jalan dua belas menit tanpa musik latar yang bikin beban emosionalnya kerasa dua kali lipat, aku noleh ke Cahaya buat liat reaksinya.

Dia natap layar dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca sempurna. Bukan terharu terang terangan. Bukan juga datar. Sesuatu di antaranya, ekspresi orang yang lagi nyerap sesuatu lebih dalam dari yang ditunjukin di permukaan.

Abis episode selesai, dia enggak langsung komentar. Cuma diem beberapa detik.

"Mimosa nungguin ayahnya lama banget," katanya akhirnya, pelan. "Bertahun tahun. Dan pas akhirnya ketemu, ayahnya enggak tahu kalau dia udah nunggu selama itu."

"Itu yang bikin sedih," setujuku.

"Iya." Cahaya berdiri, ambil gelas susunya yang udah kosong. "Harusnya ngomong dari awal."

Waktu itu aku enggak tahu harus respons apa, jadi aku enggak respons apa apa. Dan Cahaya enggak jelasin lebih jauh, dia pamit pulang dengan cara biasa, ngetuk pintu dari luar tiga kali sebagai tanda dia udah sampai di depan rumahnya nanti (kebiasaan lain yang enggak pernah resmi disepakati tapi tetap jalan), dan aku balik lagi ke laptopku.

Sampai sekarang, aku masih belum sepenuhnya ngerti kenapa komentar itu kerasa kayak nyimpen sesuatu yang lebih berat dari sekadar analisis karakter.

Tapi tiga tahun kemudian, di awal kelas tujuh SMP, aku nemuin jawaban dari pertanyaan yang enggak pernah aku tanyain soal momen di perpustakaan itu.

SMP Nusantara 2. Kelas tujuh. Bulan September.

Kami sekolah di SMP yang sama lagi, hasil dari perhitungan zona sekolah dan pilihan orang tua yang kebetulan sama, dan masuk kelas yang beda lagi, karena emang itu pola yang udah jalan sejak TK dan kayaknya enggak berencana berubah.

Sebulan setelah tahun ajaran baru mulai, ada festival budaya kecil yang diadain OSIS, bukan acara besar, lebih kayak pameran minat bakat buat kenalin macam macam ekstrakurikuler ke siswa baru. Ada stand fotografi, stand masak, stand olahraga, stand seni, dan di sudut paling kanan deket kantin ada stand yang enggak resmi masuk katalog ekskul tapi tetap ada karena beberapa siswa kelas delapan sembilan ngurus sendiri izinnya.

Stand cosplay.

Aku mampir ke situ bukan karena ekspektasi tertentu, lebih karena lewat ke arah situ emang jalur tercepat ke stand tujuanku. Tapi pas sampe di depannya, aku berhenti.

Bukan karena kostum kostum yang dipajang, walau beberapa emang dikerjain dengan kualitas yang enggak biasa buat ukuran anak SMP.

Tapi karena di balik meja pameran, bantuin kakak kelas nata properti yang berserakan, ada Cahaya.

Pakai apron kerja, rambut dikucir satu, ekspresi konsentrasi penuh yang biasa dia tampilin kalau lagi ngerjain sesuatu yang dia anggap penting.

Aku panggil namanya.

Dia dongak. Dan buat sepersekian detik, mungkin aku salah liat, mungkin enggak, ada sesuatu di ekspresinya yang keliatan kayak orang yang enggak sepenuhnya siap ketemu di tempat ini.

"Kamu ngapain di sini?" tanyaku.

"Bantu bantu." Dia simpen properti yang lagi dipegang. "Kamu?"

"Lewat."

"Oh."

"Sejak kapan kamu..." Aku natap stand di sekitarnya. "Kamu ikut cosplay?"

Cahaya enggak jawab langsung. Dia merhatiin apron kerjanya sebentar, terus jawab dengan nada yang lebih santai dari yang kerasa natural, "Coba coba aja. Iseng."

"Kamu bikin kostum sendiri?"

"Masih belajar. Belum bagus."

"Karakter apa?"

"..." Dia noleh sebentar ke arah lain. "Mimosa."

Aku diem sebentar.

Mimosa. Dari Stellar Blade Chronicle.

Karakter yang kami tonton bareng di kamarku dua tahun lalu, di episode yang Cahaya komentarin dengan kalimat yang sampe sekarang masih sesekali muncul di kepalaku: harusnya ngomong dari awal.

"Belum jadi," lanjut Cahaya cepet, kayak mau nyalip pertanyaan berikutnya. "Masih proses. Banyak bagian yang harus dibenerin."

"Boleh liat?"

"Lain kali."

"Kenapa..."

"Lain kali, Ren." Nada suaranya enggak keras, tapi ada penekanan tertentu di situ yang udah cukup aku kenal buat aku paham artinya: ini enggak buat dibahas lebih lanjut sekarang. "Kamu mau ke mana tadi?"

"Stand robotika."

"Sana dulu." Dia balik ke kerjaannya. "Nanti kalau mau, aku ceritain."

Nanti itu datang tiga minggu kemudian, waktu Cahaya dengan tenang nunjukin foto kostum Mimosa yang udah jadi di hapenya, enggak sempurna di beberapa bagian, beberapa jahitan masih keliatan kurang rapi di tepinya, tapi secara keseluruhan udah jelas banget bentuk karakternya, dan aku, dalam kapasitasku yang waktu itu baru belajar hargain craft di balik sesuatu, bilang itu bagus.

Cahaya simpen hapenya tanpa banyak komentar.

Tapi ada sesuatu di cara dia nyimpennya, terlalu cepet, terlalu buru buru setelah aku bilang bagus, kayak dia enggak mau kasih aku kesempatan liat lebih lama.

Waktu itu aku enggak mikir apa apa soal momen itu.

Sekarang pun aku enggak bener bener tahu harus mikir apa.

SMA adalah tiga tahun yang, beda dari SD dan SMP, kami jalanin di sekolah yang beda buat pertama kalinya.

Bukan keputusan yang disengaja, lebih hasil dari jalur nilai dan pilihan jurusan dan kapasitas sekolah yang beda. Cahaya masuk SMA Cemerlang yang terkenal program bahasanya. Aku masuk SMA Teknosia yang terkenal program sainsnya. Dua sekolah di dua arah beda dari komplek kami, jadwal yang enggak selalu selaras, dan buat pertama kalinya dalam empat belas tahun, "rutinitas berangkat bareng" berhenti karena secara geografis udah enggak masuk akal lagi.

Aku kira itu bakal bikin perbedaan yang lebih gede dari yang ternyata kejadian.

Yang beneran kejadian: kami masih ketemu tiap sore minimal tiga kali seminggu, komunikasi lewat pesan yang sebelumnya enggak kami perluin karena bisa ngobrol langsung sekarang jadi ada karena kepraktisan, dan kebiasaan kebiasaan yang udah kelamaan jalan buat berhenti cuma karena ada perubahan geografis tetap lanjut dengan penyesuaian secukupnya.

Yang berubah, dan ini baru aku sadar sekarang, bukan waktu itu, cara Cahaya ada di lingkungannya.

Di SMA Cemerlang, tanpa aku sebagai titik referensi tetap, Cahaya berkembang dengan kecepatan yang beda. Waktu dia cerita soal sekolahnya, soal kegiatan OSIS yang dia masukin sejak semester pertama, soal lomba debat pertama yang dia ikutin karena temen sekelas ngajakin dan ternyata dia bagus di situ, soal circle pertemanan yang kebentuk alami di sekitarnya, aku selalu dengerin itu sebagai cerita soal kehidupan yang paralel sama kehidupanku, bukan kehidupan yang ketemu.

Dan itu enggak apa apa. Itu enggak kerasa kayak sesuatu yang perlu dikhawatirin.

Ada satu momen dari kelas dua SMA yang, kalau aku pikirin sekarang, mungkin seharusnya jadi sesuatu yang aku perhatiin lebih dari yang aku lakuin waktu itu.

Kami lagi duduk di taman komplek, pohon mangga yang udah enggak berbuah itu, bangku taman yang catnya udah mulai retak, sore biasa, pas Cahaya tiba tiba nanya, di sela obrolan yang udah aku lupa topik persisnya.

"Ren, kamu pernah suka sama seseorang?"

Pertanyaan yang cukup beda dari obrolan yang lagi jalan, cukup buat bikin aku noleh.

"Maksudnya?"

"Suka. Lebih dari temen." Cahaya natap ke depan, ke arah taman yang udah sepi jam segitu. "Pernah enggak?"

Aku mikir serius. "Enggak."

"Beneran?"

"Enggak pernah ada yang... kayak gitu." Aku ambil daun kering yang jatuh deket aku, muterin di antara jari. "Kenapa tiba tiba nanya ini?"

"Iseng."

"Cahaya."

"Apa?"

"Kamu enggak pernah nanya sesuatu karena iseng."

Dia diem sebentar. Di sekitar kami, angin gerakin daun daun di pohon yang lebih kecil di sudut taman.

"Ada yang nembak aku," katanya akhirnya. Nadanya flat, bukan malu, bukan senang, bukan apa apa yang bisa aku kasih label dengan tepat.

"Oh." Aku nunggu. "Terus?"

"Aku nolak."

"Kenapa?"

Cahaya enggak jawab langsung. Dia natap daun yang aku puterin di jari, natap itu, bukan natap aku, dan ada beberapa detik di mana ekspresinya berubah jadi sesuatu yang enggak familiar.

"Belum nemu yang pas," katanya akhirnya.

Kalimat yang normal banget buat situasi itu. Masuk akal banget. Enggak ada yang aneh di situ.

Tapi ada jeda kecil sebelum dia ngomong itu, jeda yang enggak lebih dari dua detik, yang mungkin enggak akan aku perhatiin kalau aku enggak, karena alasan yang enggak aku ngerti, otomatis selalu merhatiin ritme ngomong Cahaya lebih teliti dari ritme ngomong orang lain.

"Nanti juga ketemu," kataku, karena itu respons paling logis buat pernyataan itu.

"Iya," jawab Cahaya.

Dan percakapan itu pindah ke topik lain, ngalir ke tempat tempat yang lebih gampang, dan aku enggak mikirin itu lebih jauh.

Sampe sekarang, tujuh tahun kemudian, pas sesuatu soal gantungan kunci di tas panitia PKKMB mulai perjalanan ke belakang yang enggak aku minta dan enggak bisa aku hentiin begitu udah mulai.

"...dan UKM Cosplay dan Budaya Pop nerima anggota baru tanpa seleksi khusus, cukup isi formulir pendaftaran yang tersedia di sekretariat kami di gedung F lantai dua..."

Suara dari depan ruangan narik aku balik ke saat ini.

Aku kedip.

Presentasi UKM ke, aku kehilangan hitungannya, udah enggak tahu keberapa, lagi jalan di depan. Di sebelahku, Bimo lagi corat coret sesuatu di buku catatannya dengan ekspresi yang susah dibedain antara antusias atau bosen. Di sekitar ruangan, kira kira empat ratus mahasiswa baru nyimak dengan tingkat perhatian yang beragam banget.

Aku ngelirik ke kelompok tujuh.

Cahaya lagi dengerin presentasi UKM Cosplay dan Budaya Pop dengan posisi badan yang sedikit lebih tegak dari duduknya sepanjang sesi sebelumnya. Ada sesuatu di cara dia merhatiin pembicara, lebih penuh dari tadi, lebih fokus, yang enggak aku lewatin gitu aja.

Penyaji di depan nampilin beberapa foto dokumentasi kegiatan UKM, foto foto cosplay dari event kampus sebelumnya, foto booth yang mereka dirikan di festival tahunan, foto anggota yang tampil di kompetisi regional.

Di satu foto yang ditampilin cukup lama, ada seseorang pakai kostum Mimosa dari Stellar Blade Chronicle. Kostumnya lebih bagus dari foto yang pernah Cahaya tunjukin di hapenya dulu, lebih detail, lebih proporsional, tapi tetap bawa detail yang sama: jubah biru, rambut putih panjang, pedang bentuk enggak masuk akal secara fisik.

Aku enggak berencana ngelirik ke kelompok tujuh lagi. Tapi entah kenapa, aku ngelakuin itu.

Cahaya lagi natap foto itu.

Ekspresinya sesuatu yang aku enggak bisa kasih nama, tapi yang paling deket dalam kosakataku mungkin: kayak orang yang liat sesuatu yang udah lama dia kenal dari sudut yang beda dari biasanya.

Dia enggak sadar aku merhatiin.

Presentasi lanjut. Foto ganti ke foto berikutnya. Cahaya balik ke ekspresi normalnya, setengah dengerin, setengah sibuk sama pikirannya sendiri, dan sesi pun lanjut kayak enggak ada apa apa yang kejadian.

"Jadi ada yang mau daftar UKM mana?"

Pertanyaan Bimo motong lamunanku pas sesi akhirnya selesai dan kami bubar buat istirahat makan siang.

"Belum tahu," jawabku jujur. "Kamu?"

"Kayaknya UKM Debat. Aku pernah ikut waktu SMA dan lumayan cocok." Dia lipet buku catatannya. "Kamu tadi keliatan ngelamun hampir setengah sesi."

"Aku enggak ngelamun. Aku lagi..."

"Mengobservasi lingkungan?"

"..."

"Temen kamu bilang itu ke aku waktu jalan ke sini tadi. Yang namanya Cahaya." Bimo nunjuk ke arah yang enggak spesifik. "Dia lewat dan bilang, 'kalau Rendy keliatan ngelamun, dia pasti bilang lagi mengobservasi, jangan dipercaya'."

Aku hela napas.

Cahaya dan mulutnya.

"Dia kenal kamu lama banget ya," lanjut Bimo, nadanya netral tapi ngandung sesuatu yang kedengeran kayak pertanyaan.

"Sejak TK."

"Wah." Bimo diem sebentar, kayak lagi proses skala waktu itu. "Gimana rasanya?"

Pertanyaan yang sama kayak yang ditanya kemarin. Dan jawabanku masih sama: aku enggak sepenuhnya tahu gimana ngedeskripsiinnya karena aku enggak pernah punya titik pembanding.

"Biasa aja," kataku lagi.

Bimo ngangguk pelan, kayak nerima jawaban itu walau mungkin enggak sepenuhnya puas.

Dari kejauhan, dari arah kelompok tujuh yang udah mulai gerak ke kantin, aku bisa denger suara tawa Cahaya, tawa yang lebih keras dari yang di bangku deket gerbang kemarin, tawa buat konsumsi banyak orang sekaligus, beda sama yang cuma buat kami berdua.

Dua versi tawa yang beda. Dari orang yang sama.

Aku udah merhatiin perbedaan itu sejak kami SD, walau enggak pernah tahu harus ngapain sama pengamatan itu.

Mungkin enggak ada yang perlu dilakuin, pikirku. Enggak semua pengamatan harus berujung ke kesimpulan.

Aku ikutin Bimo ke kantin.

Siang itu, di antrian kantin yang gerak lebih lambat dari yang diperluin mengingat ada empat ratus orang butuh makan dalam waktu istirahat yang sama, aku nemuin Cahaya udah ada di depanku di antrian, entah sejak kapan, entah dari arah mana dia datang.

"Udah mau makan?" tanyanya tanpa noleh, udah hafal keberadaanku di dekatnya.

"Itu tujuan antrian, iya."

"Mau pesen apa?"

"Belum liat menunya."

"Aku udah liat. Ada ayam geprek, mie ayam, sama nasi uduk. Tapi ayam gepreknya keliatan udah hampir abis."

"Kamu udah survei menunya?"

"Sambil jalan tadi." Dia maju selangkah ngikutin antrian. "Kamu mau ayam geprek kan?"

"Gimana kamu..."

"Karena kamu selalu pesen itu kalau ada pilihan."

Aku enggak bisa bantah itu karena emang bener.

Antrian gerak pelan. Di sekitar kami, percakapan percakapan jalan dalam macam macam volume, orang orang yang udah mulai akrab setelah dua hari cerita soal kehidupan masing masing, pertanyaan pertanyaan perkenalan yang masih kedengeran di beberapa sudut walau udah hari kedua.

"Tadi kamu perhatiin presentasi UKM Cosplay," kataku.

Cahaya enggak langsung respons. Satu detik. Dua detik.

"Siapa yang enggak perhatiin," jawabnya akhirnya. "Fotonya bagus."

"Ada foto Mimosa."

"Aku liat."

"Kamu daftar?"

"Belum tentu."

"Tapi kamu pertimbangin?"

Cahaya noleh ke arahku buat pertama kalinya sejak kami masuk antrian. Ekspresinya bawa sesuatu yang aku identifikasi sebagai pertahanan ringan, bukan defensif, lebih kayak orang yang lagi nimbang seberapa banyak informasi yang mau dia keluarin.

"Mungkin," kata Cahaya akhirnya.

Satu kata. Tapi diucapin dengan cara yang, setidaknya buat aku yang udah kenal ritme ngomongnya belasan tahun, kedengeran lebih kayak iya daripada mungkin.

"Bagus," kataku.

Cahaya natap aku sebentar dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca. Terus dia balik ngadep depan lagi, ngikutin antrian yang maju satu langkah.

"Kamu itu," katanya pelan, setengah buat dirinya sendiri, "kadang bilang sesuatu yang..."

"Apa?"

"Enggak. Lupa."

"Cahaya."

"Apa?"

"Kamu tadi bilang..."

"Antrinya maju, Ren." Dia nunjuk ke depan di mana antrian udah gerak lagi. "Fokus."

Aku ikutin antrian. Di depan, menu ayam geprek emang hampir abis, tapi masih ada dua porsi sisa, dan dengan cara yang kerasa terlalu rapi buat jadi kebetulan, Cahaya tahu persis dua porsi terakhir itu bakal cukup buat kami berdua.

Sore hari, pas PKKMB hari kedua selesai dan lapangan balik jadi ruang yang berpencar, aku berdiri di bawah pohon besar yang sama kayak kemarin, bangku yang sama, posisi yang sama.

Kali ini Cahaya udah ada di situ sebelum aku.

Duduk dengan satu kaki dilipet ke atas bangku, hape di tangan, ekspresi orang yang lagi baca sesuatu dengan perhatian lebih dari setengah.

"Kamu duluan," kataku, duduk di sebelahnya.

"Iya. Selesai lebih cepet." Dia enggak angkat mata dari hape. "Kamu lama."

"Bimo ngajak diskusi soal UKM."

"Kalian udah tukeran nomor belum?"

"Udah."

Cahaya akhirnya angkat mata dari hape, natap aku dengan ekspresi antara heran dan puas. "Akhirnya."

"Situasinya mengharuskan."

"Situasinya udah mengharuskan sejak kemarin, tapi ya udahlah." Dia balik ke hapenya. "Bagus."

Kami duduk dalam diem yang udah familiar. Angin sore gerak, bawa bau tanah yang sama kayak kemarin, dan di langit atas kampus, warna jingga mulai kebentuk di cakrawala dengan cara yang pelan tapi pasti.

"Ren."

"Hm?"

"Tadi kamu bilang bagus. Waktu aku bilang mungkin daftar UKM Cosplay."

"Iya. Bagus emang."

Cahaya diem sebentar. "Kenapa?"

Pertanyaan yang enggak aku duga. "Kenapa apa?"

"Kenapa bagus?"

Aku nimbang nimbang. "Karena kamu suka cosplay. Dan ada wadahnya di sini. Logis kalau gabung."

"Kamu tahu aku suka cosplay?"

"Kamu udah mulai sejak kelas tujuh SMP."

Hening yang agak beda dari hening biasanya. Lebih berat di beberapa tempat, walau aku enggak bisa nentuin di mana persisnya.

"Kamu inget itu," kata Cahaya pelan.

"Kenapa enggak?"

Dia enggak jawab. Natap ke depan, ke arah gerbang kampus yang udah mulai rame sama mahasiswa yang berpencar pulang. Di tangannya, hape udah enggak dibaca lagi, cuma digenggam tanpa tujuan.

"Ren," panggilnya lagi.

"Hm?"

"Kalau suatu hari aku bilang sesuatu yang penting," katanya pelan pelan, milih kata katanya dengan cara yang kerasa lebih hati hati dari biasanya, "kamu bakal dengerin, kan?"

Aku noleh ke arahnya.

Cahaya masih natap ke depan. Profil wajahnya dalam cahaya sore ini, warna jingga yang udah mulai turun dari langit dan mantul di mana mana, keliatan kayak sesuatu yang seharusnya aku perhatiin lebih teliti dari yang lagi aku lakuin.

"Selalu," jawabku.

Dia diem sebentar.

Terus ngangguk sekali, pelan, hampir enggak keliatan.

"Oke," katanya.

Dan kemudian berdiri, masang tasnya, gerak ke arah gerbang dengan langkah yang setengah langkah lebih cepet dari biasanya.

"Ayo," panggilnya dari depan.

Aku berdiri ngikutin.

Di kepalaku, gantungan kunci Mimosa yang pudar warnanya, kupu kupu kertas origami yang kusut, foto kostum yang disimpen terlalu cepet di hape, pertanyaan kamu bakal dengerin kan yang enggak sepenuhnya kerasa kayak pertanyaan biasa, semua itu ngambang di suatu tempat tanpa bentuk pola yang bisa aku baca.

Mungkin ada pola di situ.

Mungkin enggak.

Aku enggak tahu.

Yang aku tahu: jalan ke gerbang dari bangku di bawah pohon ini persis dua ratus dua langkah (aku itung tanpa sadar lagi, kebiasaan yang kayaknya enggak akan pernah ilang), Cahaya selalu setengah langkah di depanku, dan sore ini, kayak semua sore sebelumnya dalam dua belas tahun terakhir, kami pulang ke arah yang sama.

Sama sama.

Kata yang paling gampang di dunia. Yang udah jalan begitu lama sampai enggak perlu lagi dipertanyain.

Satu hal yang belum aku pelajarin, dan belum akan aku pelajarin buat waktu yang sangat, sangat panjang ke depan, adalah bahwa hal-hal yang enggak kita pertanyain itu justru hal-hal yang paling gampang kita lewatin. Serpihan-serpihan kecil yang aku kumpulin hari itu baru bakal tersusun jadi satu gambar utuh waktu semuanya udah terlambat buat diapa-apain.

Apa Yang Dibawa Waktu

Cahaya udah ngetuk pintu kamarku jam enam dua puluh lima pagi itu, lima menit lebih cepat dari yang dia janjiin kemarin, dengan intensitas ketukan yang isi pesannya jelas: aku tahu kamu belum bangun dan aku bakal terus gedor sampai tetangga komplain.

"Kamu udah bangun?" tanyanya dari luar pintu.

"Sekarang udah," jawabku dari balik selimut.

"Ganti baju. Sepuluh menit."

"Lima belas."

"Dua belas."

"Tiga belas."

Hening tiga detik dari luar pintu, artinya dia lagi nimbang nimbang apakah angka tiga belas itu kompromi yang bisa diterima.

"Oke," katanya akhirnya. "Tiga belas menit. Aku tunggu di depan."

Aku dengar langkah kakinya menjauh.

Aku natap langit langit kamar dua menit penuh, ngitung ngitung secara mental apakah secara teori mungkin buat ganti baju, cuci muka, sarapan minimal, dan sampai di depan dalam sisa sebelas menit.

Jawabannya: bisa, kalau definisi sarapan minimal itu roti yang dimakan sambil jalan.

Di kampus, suasana hari kedua kerasa lebih rapi dari kemarin. Orang orang udah tahu kelompoknya masing masing, udah tahu harus berdiri di mana, udah punya minimal satu dua wajah yang dikenal buat jadi titik orientasi di tengah keramaian.

Kelompok dua belas kumpul di sudut yang sama kayak kemarin, dan kali ini aku sampai sebelum namaku dipanggil ulang. Bimo udah ada di situ, berdiri agak di tepi lingkaran dengan cara yang persis sama kayak kemarin, dan dia ngangguk pas aku dateng, ekspresinya kayak orang yang nganggep seseorang udah otomatis jadi teman berdasarkan kriteria "sama sama lebih milih berdiri di pinggir daripada di tengah".

Aku ngangguk balik.

Sistem pertemanan yang efisien.

Sesi pertama hari itu pengenalan unit kegiatan mahasiswa, macam macam organisasi dan klub yang resmi di bawah BEM Universitas. Perwakilan tiap UKM gantian maju presentasi kegiatannya dengan semangat yang beda beda, mulai dari yang keliatan beneran passionate sampai yang kayak lagi baca teks dari kartu contekan di luar jangkauan mata audiens.

Aku catet UKM yang secara teori relevan, ada satu klub pemrograman yang kegiatannya kedengeran cukup menarik, satu kelompok studi yang judulnya ambigu tapi deskripsinya lumayan, sambil sesekali natap enggak sepenuhnya sadar ke arah kelompok tujuh duduk.

Cahaya, aku bisa liat, lagi ngobrol pelan sama cewek di sebelah kirinya, temen baru kayaknya, karena mereka udah keliatan cukup akrab buat bisik bisikan di sela sela presentasi. Di depan, perwakilan UKM teater lagi jelasin jadwal latihan mingguan dengan gestur tangan yang mungkin maksudnya dramatik tapi lebih keliatan kayak lagi niruin orang tenggelam.

Terus ada sesuatu di meja perlengkapan di sudut ruangan yang narik perhatianku.

Bukan sesuatu yang besar. Bukan sesuatu yang penting.

Cuma gantungan kunci kecil yang nempel di tas salah satu panitia yang duduk deket meja itu. Karakter chibi dari anime lawas, catnya udah agak pudar di beberapa bagian, tapi bentuknya masih cukup jelas buat dikenali.

Mimosa dari Stellar Blade Chronicle.

Dan tanpa aba aba dari bagian otak mana pun yang bisa aku identifikasi, ada sesuatu mulai gerak di kepalaku.

Enggak ada yang pernah ngajarin aku ini di sekolah manapun, di kurikulum apapun, di mata pelajaran apapun sepanjang dua belas tahun sekolah formal: kenangan enggak nyimpen dirinya sendiri secara rapi dan terorganisir di suatu tempat di kepala kita, siap diakses kapan aja kita butuh, kayak folder berlabel di desktop komputer.

Kenangan lebih mirip reruntuhan. Terpendam di bawah lapisan lapisan waktu, enggak keliatan, enggak kerasa, sampai ada sesuatu yang menggali. Dan yang menggali itu hampir enggak pernah sesuatu yang besar.

Sekecil gantungan kunci yang catnya udah pudar.

Yang pertama muncul, kayak biasa kalau ada sesuatu yang mancing perjalanan ke belakang, bukan yang paling deket sama sekarang.

Selalu yang paling jauh.

Taman Kanak Kanak Mentari Pagi. Empat tahun. Hari pertama.

Aku enggak inget banyak detail dari hari itu, memori manusia umur empat tahun lebih mirip kolase gambar daripada rekaman video, potongan potongan yang enggak selalu nyambung sama kronologi yang jelas. Tapi beberapa fragmen tetap ada sampai sekarang cukup jelas buat aku pegang.

Bau krayon baru yang campur sama bau cat tembok dan sesuatu yang mungkin pewangi ruangan rasa jeruk.

Karpet warna merah motif bunga yang udah agak pudar di bagian tengah karena kelamaan diinjek.

Dan suara tangisan.

Bukan tangisku, aku inget cukup pasti aku enggak nangis hari itu, bukan karena aku berani atau tenang, tapi lebih karena aku terlalu bingung sama situasinya buat proses emosi apapun dengan bener.

Suara tangisan itu datang dari sudut ruangan, di balik rak buku pendek yang penuh buku bergambar. Dan pas aku ikutin, didorong rasa penasaran yang mungkin lebih kuat dari rasa sosialitas, aku nemuin anak perempuan duduk di pojok, lutut dipeluk, pakai baju merah muda gambar bintang kecil, rambut dikuncir dua yang salah satunya udah agak miring karena gerak.

Dia dongak pas aku muncul.

Matanya merah. Pipinya basah. Di tangannya ada kupu kupu kertas origami warna kuning yang agak kusut, mungkin dari rumah, mungkin dibuat di sini dan hasilnya enggak sempurna.

Kami saling natap dalam diem yang canggung beberapa detik.

Terus aku, dalam kapasitas sosialku yang umur empat tahun, ngucapin kalimat yang bahkan sekarang kalau diinget kerasa kayak kalimat paling enggak membantu yang bisa diucapin ke orang yang lagi nangis.

"Kenapa nangis?"

Anak perempuan itu jawab dengan jawaban yang enggak aku inget persis, sesuatu soal ibu yang pergi dan enggak mau balik lagi (yang kemudian aku ngerti itu maksudnya ibu pulang ke rumah dan bakal jemput sore nanti, bukan pergi permanen, tapi buat anak umur empat tahun enggak ada bedanya). Dia ngucapinnya dengan logat anak kecil yang beberapa hurufnya belum sempurna, kesendat di beberapa bagian karena masih nangis.

Aku mikir cukup lama, buat ukuran anak umur empat tahun.

Terus aku duduk di sebelahnya di pojok yang sama, karena itu satu satunya respons yang bisa aku pikirin.

Enggak bilang apa apa. Enggak ngapa ngapain. Cuma duduk di situ, karena keliatannya itu yang bisa aku lakuin.

Anak perempuan itu berhenti nangis pelan pelan, bukan karena sesuatu yang aku lakuin, lebih karena tangisan anak kecil emang biasanya punya durasi terbatas kalau enggak ada yang aktif bikin situasinya makin buruk.

Setelah beberapa menit, dia julurin kupu kupu kertas origami kuningnya ke arahku.

"Ini," katanya. Satu kata. Tanpa penjelasan.

Aku ambil. "Makasih."

"Namaku Cahaya."

"Rendy."

"Kamu mau jadi temenku?"

Aku natap kupu kupu kertas di tanganku. Warnanya udah agak kusut di beberapa lipatan, tapi bentuknya masih bisa dikenali. Ada orang yang bikin ini dengan hati hati.

"Oke," jawabku.

Dan begitulah, dengan efisiensi transaksional yang cuma bisa dicapai anak umur empat tahun, persahabatan kami mulai.

Yang enggak pernah aku ceritain ke siapapun, termasuk ke Cahaya sendiri, kupu kupu kertas origami itu masih ada.

Bukan dalam kondisi bagus. Udah sangat kusut, beberapa lipatannya udah enggak bisa balik ke posisi asli karena pernah kena air sekali waktu kelas tiga SD dan aku enggak berhasil nyelametinnya sepenuhnya. Tapi ada, di dalam kotak kecil di laci paling bawah mejaku, di bawah tumpukan kertas lain yang aku simpen dengan alasan beda beda.

Aku enggak tahu kenapa aku nyimpennya. Bahkan aku enggak inget kapan persisnya aku mutusin benda itu perlu disimpen, kayaknya keputusan itu enggak pernah dibuat secara aktif, cuma enggak pernah kebuang, dan di suatu titik udah kelamaan buat mulai dibuang.

SD berjalan enam tahun yang, kalau aku pikirin sekarang dari posisi mahasiswa baru yang baru aja selesai hari kedua PKKMB, kerasa kayak satuan waktu paling elastis yang pernah aku alamin. Kerasa lama banget waktu lagi dijalanin, tapi kerasa padat banget waktu diringkas dari jarak.

Aku dan Cahaya sekolah di SD yang sama, SD Nusantara 7, gedung tua cat kuning yang selalu ngelupas di sudut sudut tertentu dan lapangan yang enggak pernah cukup gede buat nampung semua kelas yang mau olahraga di waktu bersamaan. Kami enggak selalu satu kelas, tapi selalu satu sekolah, dan itu udah cukup buat nentuin pola yang jalan bertahun tahun sesudahnya: kami berangkat dari gang yang sama, pulang ke arah yang sama, dan di antara keduanya ada dunia masing masing yang enggak selalu ketemu tapi selalu berakhir di titik temu yang sama.

Di SD, Cahaya mulai nunjukin versi awal dari dirinya yang sekarang, gampang bergaul, selalu ada teman yang ngelilingin dia, dipilih jadi ketua kelas sejak kelas tiga karena cara ngomongnya yang enggak pernah bikin orang lain ngerasa kecil, bahkan pas dia lagi enggak setuju. Sementara aku, di jalur yang beda, mulai nemuin bahwa dunia di dalam layar dan halaman kertas lebih gampang aku navigasi daripada dunia yang penuh ekspektasi sosial yang selalu sedikit terlalu ambigu buat aku pecahin dengan tepat.

Kami temenan lebih banyak di luar sekolah daripada di dalam. Sore hari di gang, akhir pekan di taman komplek yang pohon mangganya udah enggak berbuah lagi sejak kami kelas empat tapi tetap jadi titik kumpul karena udah jadi kebiasaan, sesekali di kamar masing masing kalau hujan dan enggak ada tempat lain buat pergi.

Ada satu kejadian di kelas empat yang masih aku inget dengan detail yang enggak sebanding sama tingkat pentingnya.

Siang istirahat. Aku lagi baca di perpustakaan, ensiklopedia Jepang yang baru dipinjem, isinya penjelasan singkat soal macam macam aspek budaya populer Jepang termasuk anime dan manga dan industri di baliknya, pas Cahaya muncul dengan cara yang udah aku kenal: tanpa pemberitahuan, duduk di kursi seberang tanpa ditawarin, langsung natap buku yang aku baca dengan rasa penasaran yang enggak dia sembunyiin.

"Apa itu?"

"Ensiklopedia."

"Tentang anime?"

"Sama hal hal lain."

"Boleh liat?"

Aku geser bukunya ke tengah meja biar kami bisa liat bareng. Cahaya pelajarin dengan serius, baca caption di bawah foto foto, perhatiin ilustrasi. Di halaman soal cosplay, dia diem lebih lama dari halaman halaman lain.

"Ini orang beneran?" tanyanya, nunjuk foto seseorang yang pakai baju persis kayak karakter anime tertentu.

"Iya. Namanya cosplay."

"Mereka bikin sendiri bajunya?"

"Kebanyakan."

Cahaya natap foto itu dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca dengan tepat waktu itu. "Susah kayaknya."

"Katanya butuh waktu lama. Tapi ada yang jago banget."

"Hmm."

Dia enggak komentar lebih jauh. Sepuluh menit kemudian bel bunyi dan kami balik ke kelas masing masing. Percakapan itu selesai dan kelupaan, setidaknya olehku, kayak kebanyakan percakapan kecil yang jumlahnya kebanyakan buat semuanya diinget.

Ada satu momen lain, dua tahun setelah itu, yang kerasa lebih nyambung ke apa yang lagi aku liat sekarang di meja perlengkapan UKM ini.

Kelas enam SD. Tujuh tahun lalu. Hari Sabtu.

Sore itu aku lagi nonton episode tujuh Stellar Blade Chronicle di laptop pemberian ayah yang udah mulai lemot di beberapa bagian tapi masih lumayan buat streaming kalau enggak ada aplikasi lain yang kebuka bareng, pas pintu kamarku diketuk dengan ketukan yang udah sangat aku kenal. Tiga ketukan cepat, jeda, satu ketukan lagi. Kode yang enggak pernah resmi disepakati tapi udah jalan otomatis sejak kami kelas empat.

"Masuk," kataku tanpa mempause video.

Cahaya masuk bawa dua gelas susu cokelat dari dapurku, yang artinya dia udah sampai cukup lama buat sempet mampir dapur dulu sebelum ke kamarku, hal yang udah cukup sering kejadian sampai mamaku udah enggak nganggep itu perlu dikomentarin lagi.

"Lagi episode berapa?" tanyanya, duduk di tepi kasur sambil naruh satu gelas di meja deketku.

"Tujuh."

"Bagian Mimosa ketemu ayahnya?"

"Belum sampe situ." Aku akhirnya pause videonya. "Kamu udah nonton?"

"Aku nonton sama kamu waktu itu. Episode lima. Di sini. Kamu lupa?"

Aku mikir. Bener, dua minggu lalu, waktu aku baru mulai nonton serial ini, Cahaya kebetulan ada di kamarku buat alasan yang udah aku lupa apa, dan akhirnya nonton dua episode bareng aku sebelum ibunya nelepon suruh dia pulang makan malam.

"Oh. Iya."

"Mimosanya bagus." Cahaya natap layar laptopku yang lagi pause di frame Mimosa yang lagi lari. "Karakternya kuat tapi enggak lebay. Aku suka."

Ini hal yang selalu bikin aku agak heran soal Cahaya. Dia enggak pernah ngaku suka anime, enggak pernah aktif nyari tontonan baru sendiri, tapi tiap kali dia nonton sesuatu bareng aku, responnya selalu tajam dan spesifik. Bukan "bagus" atau "seru" yang generik, tapi selalu ada elemen tertentu yang dia perhatiin dan komentarin.

"Mau nonton lanjutannya?" tanyaku.

Cahaya ngelirik jendela, masih sore, masih cukup terang. "Bentar lagi harus pulang."

"Satu episode."

Dia nimbang nimbang. "Oke. Satu episode."

Kami nonton episode tujuh bareng, aku di kursi meja, Cahaya di tepi kasur, dan pas Mimosa akhirnya ketemu ayahnya di reruntuhan kota tua dan dialog di antara mereka jalan dua belas menit tanpa musik latar yang bikin beban emosionalnya kerasa dua kali lipat, aku noleh ke Cahaya buat liat reaksinya.

Dia natap layar dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca sempurna. Bukan terharu terang terangan. Bukan juga datar. Sesuatu di antaranya, ekspresi orang yang lagi nyerap sesuatu lebih dalam dari yang ditunjukin di permukaan.

Abis episode selesai, dia enggak langsung komentar. Cuma diem beberapa detik.

"Mimosa nungguin ayahnya lama banget," katanya akhirnya, pelan. "Bertahun tahun. Dan pas akhirnya ketemu, ayahnya enggak tahu kalau dia udah nunggu selama itu."

"Itu yang bikin sedih," setujuku.

"Iya." Cahaya berdiri, ambil gelas susunya yang udah kosong. "Harusnya ngomong dari awal."

Waktu itu aku enggak tahu harus respons apa, jadi aku enggak respons apa apa. Dan Cahaya enggak jelasin lebih jauh, dia pamit pulang dengan cara biasa, ngetuk pintu dari luar tiga kali sebagai tanda dia udah sampai di depan rumahnya nanti (kebiasaan lain yang enggak pernah resmi disepakati tapi tetap jalan), dan aku balik lagi ke laptopku.

Sampai sekarang, aku masih belum sepenuhnya ngerti kenapa komentar itu kerasa kayak nyimpen sesuatu yang lebih berat dari sekadar analisis karakter.

Tapi tiga tahun kemudian, di awal kelas tujuh SMP, aku nemuin jawaban dari pertanyaan yang enggak pernah aku tanyain soal momen di perpustakaan itu.

SMP Nusantara 2. Kelas tujuh. Bulan September.

Kami sekolah di SMP yang sama lagi, hasil dari perhitungan zona sekolah dan pilihan orang tua yang kebetulan sama, dan masuk kelas yang beda lagi, karena emang itu pola yang udah jalan sejak TK dan kayaknya enggak berencana berubah.

Sebulan setelah tahun ajaran baru mulai, ada festival budaya kecil yang diadain OSIS, bukan acara besar, lebih kayak pameran minat bakat buat kenalin macam macam ekstrakurikuler ke siswa baru. Ada stand fotografi, stand masak, stand olahraga, stand seni, dan di sudut paling kanan deket kantin ada stand yang enggak resmi masuk katalog ekskul tapi tetap ada karena beberapa siswa kelas delapan sembilan ngurus sendiri izinnya.

Stand cosplay.

Aku mampir ke situ bukan karena ekspektasi tertentu, lebih karena lewat ke arah situ emang jalur tercepat ke stand tujuanku. Tapi pas sampe di depannya, aku berhenti.

Bukan karena kostum kostum yang dipajang, walau beberapa emang dikerjain dengan kualitas yang enggak biasa buat ukuran anak SMP.

Tapi karena di balik meja pameran, bantuin kakak kelas nata properti yang berserakan, ada Cahaya.

Pakai apron kerja, rambut dikucir satu, ekspresi konsentrasi penuh yang biasa dia tampilin kalau lagi ngerjain sesuatu yang dia anggap penting.

Aku panggil namanya.

Dia dongak. Dan buat sepersekian detik, mungkin aku salah liat, mungkin enggak, ada sesuatu di ekspresinya yang keliatan kayak orang yang enggak sepenuhnya siap ketemu di tempat ini.

"Kamu ngapain di sini?" tanyaku.

"Bantu bantu." Dia simpen properti yang lagi dipegang. "Kamu?"

"Lewat."

"Oh."

"Sejak kapan kamu..." Aku natap stand di sekitarnya. "Kamu ikut cosplay?"

Cahaya enggak jawab langsung. Dia merhatiin apron kerjanya sebentar, terus jawab dengan nada yang lebih santai dari yang kerasa natural, "Coba coba aja. Iseng."

"Kamu bikin kostum sendiri?"

"Masih belajar. Belum bagus."

"Karakter apa?"

"..." Dia noleh sebentar ke arah lain. "Mimosa."

Aku diem sebentar.

Mimosa. Dari Stellar Blade Chronicle.

Karakter yang kami tonton bareng di kamarku dua tahun lalu, di episode yang Cahaya komentarin dengan kalimat yang sampe sekarang masih sesekali muncul di kepalaku: harusnya ngomong dari awal.

"Belum jadi," lanjut Cahaya cepet, kayak mau nyalip pertanyaan berikutnya. "Masih proses. Banyak bagian yang harus dibenerin."

"Boleh liat?"

"Lain kali."

"Kenapa..."

"Lain kali, Ren." Nada suaranya enggak keras, tapi ada penekanan tertentu di situ yang udah cukup aku kenal buat aku paham artinya: ini enggak buat dibahas lebih lanjut sekarang. "Kamu mau ke mana tadi?"

"Stand robotika."

"Sana dulu." Dia balik ke kerjaannya. "Nanti kalau mau, aku ceritain."

Nanti itu datang tiga minggu kemudian, waktu Cahaya dengan tenang nunjukin foto kostum Mimosa yang udah jadi di hapenya, enggak sempurna di beberapa bagian, beberapa jahitan masih keliatan kurang rapi di tepinya, tapi secara keseluruhan udah jelas banget bentuk karakternya, dan aku, dalam kapasitasku yang waktu itu baru belajar hargain craft di balik sesuatu, bilang itu bagus.

Cahaya simpen hapenya tanpa banyak komentar.

Tapi ada sesuatu di cara dia nyimpennya, terlalu cepet, terlalu buru buru setelah aku bilang bagus, kayak dia enggak mau kasih aku kesempatan liat lebih lama.

Waktu itu aku enggak mikir apa apa soal momen itu.

Sekarang pun aku enggak bener bener tahu harus mikir apa.

SMA adalah tiga tahun yang, beda dari SD dan SMP, kami jalanin di sekolah yang beda buat pertama kalinya.

Bukan keputusan yang disengaja, lebih hasil dari jalur nilai dan pilihan jurusan dan kapasitas sekolah yang beda. Cahaya masuk SMA Cemerlang yang terkenal program bahasanya. Aku masuk SMA Teknosia yang terkenal program sainsnya. Dua sekolah di dua arah beda dari komplek kami, jadwal yang enggak selalu selaras, dan buat pertama kalinya dalam empat belas tahun, "rutinitas berangkat bareng" berhenti karena secara geografis udah enggak masuk akal lagi.

Aku kira itu bakal bikin perbedaan yang lebih gede dari yang ternyata kejadian.

Yang beneran kejadian: kami masih ketemu tiap sore minimal tiga kali seminggu, komunikasi lewat pesan yang sebelumnya enggak kami perluin karena bisa ngobrol langsung sekarang jadi ada karena kepraktisan, dan kebiasaan kebiasaan yang udah kelamaan jalan buat berhenti cuma karena ada perubahan geografis tetap lanjut dengan penyesuaian secukupnya.

Yang berubah, dan ini baru aku sadar sekarang, bukan waktu itu, cara Cahaya ada di lingkungannya.

Di SMA Cemerlang, tanpa aku sebagai titik referensi tetap, Cahaya berkembang dengan kecepatan yang beda. Waktu dia cerita soal sekolahnya, soal kegiatan OSIS yang dia masukin sejak semester pertama, soal lomba debat pertama yang dia ikutin karena temen sekelas ngajakin dan ternyata dia bagus di situ, soal circle pertemanan yang kebentuk alami di sekitarnya, aku selalu dengerin itu sebagai cerita soal kehidupan yang paralel sama kehidupanku, bukan kehidupan yang ketemu.

Dan itu enggak apa apa. Itu enggak kerasa kayak sesuatu yang perlu dikhawatirin.

Ada satu momen dari kelas dua SMA yang, kalau aku pikirin sekarang, mungkin seharusnya jadi sesuatu yang aku perhatiin lebih dari yang aku lakuin waktu itu.

Kami lagi duduk di taman komplek, pohon mangga yang udah enggak berbuah itu, bangku taman yang catnya udah mulai retak, sore biasa, pas Cahaya tiba tiba nanya, di sela obrolan yang udah aku lupa topik persisnya.

"Ren, kamu pernah suka sama seseorang?"

Pertanyaan yang cukup beda dari obrolan yang lagi jalan, cukup buat bikin aku noleh.

"Maksudnya?"

"Suka. Lebih dari temen." Cahaya natap ke depan, ke arah taman yang udah sepi jam segitu. "Pernah enggak?"

Aku mikir serius. "Enggak."

"Beneran?"

"Enggak pernah ada yang... kayak gitu." Aku ambil daun kering yang jatuh deket aku, muterin di antara jari. "Kenapa tiba tiba nanya ini?"

"Iseng."

"Cahaya."

"Apa?"

"Kamu enggak pernah nanya sesuatu karena iseng."

Dia diem sebentar. Di sekitar kami, angin gerakin daun daun di pohon yang lebih kecil di sudut taman.

"Ada yang nembak aku," katanya akhirnya. Nadanya flat, bukan malu, bukan senang, bukan apa apa yang bisa aku kasih label dengan tepat.

"Oh." Aku nunggu. "Terus?"

"Aku nolak."

"Kenapa?"

Cahaya enggak jawab langsung. Dia natap daun yang aku puterin di jari, natap itu, bukan natap aku, dan ada beberapa detik di mana ekspresinya berubah jadi sesuatu yang enggak familiar.

"Belum nemu yang pas," katanya akhirnya.

Kalimat yang normal banget buat situasi itu. Masuk akal banget. Enggak ada yang aneh di situ.

Tapi ada jeda kecil sebelum dia ngomong itu, jeda yang enggak lebih dari dua detik, yang mungkin enggak akan aku perhatiin kalau aku enggak, karena alasan yang enggak aku ngerti, otomatis selalu merhatiin ritme ngomong Cahaya lebih teliti dari ritme ngomong orang lain.

"Nanti juga ketemu," kataku, karena itu respons paling logis buat pernyataan itu.

"Iya," jawab Cahaya.

Dan percakapan itu pindah ke topik lain, ngalir ke tempat tempat yang lebih gampang, dan aku enggak mikirin itu lebih jauh.

Sampe sekarang, tujuh tahun kemudian, pas sesuatu soal gantungan kunci di tas panitia PKKMB mulai perjalanan ke belakang yang enggak aku minta dan enggak bisa aku hentiin begitu udah mulai.

"...dan UKM Cosplay dan Budaya Pop nerima anggota baru tanpa seleksi khusus, cukup isi formulir pendaftaran yang tersedia di sekretariat kami di gedung F lantai dua..."

Suara dari depan ruangan narik aku balik ke saat ini.

Aku kedip.

Presentasi UKM ke, aku kehilangan hitungannya, udah enggak tahu keberapa, lagi jalan di depan. Di sebelahku, Bimo lagi corat coret sesuatu di buku catatannya dengan ekspresi yang susah dibedain antara antusias atau bosen. Di sekitar ruangan, kira kira empat ratus mahasiswa baru nyimak dengan tingkat perhatian yang beragam banget.

Aku ngelirik ke kelompok tujuh.

Cahaya lagi dengerin presentasi UKM Cosplay dan Budaya Pop dengan posisi badan yang sedikit lebih tegak dari duduknya sepanjang sesi sebelumnya. Ada sesuatu di cara dia merhatiin pembicara, lebih penuh dari tadi, lebih fokus, yang enggak aku lewatin gitu aja.

Penyaji di depan nampilin beberapa foto dokumentasi kegiatan UKM, foto foto cosplay dari event kampus sebelumnya, foto booth yang mereka dirikan di festival tahunan, foto anggota yang tampil di kompetisi regional.

Di satu foto yang ditampilin cukup lama, ada seseorang pakai kostum Mimosa dari Stellar Blade Chronicle. Kostumnya lebih bagus dari foto yang pernah Cahaya tunjukin di hapenya dulu, lebih detail, lebih proporsional, tapi tetap bawa detail yang sama: jubah biru, rambut putih panjang, pedang bentuk enggak masuk akal secara fisik.

Aku enggak berencana ngelirik ke kelompok tujuh lagi. Tapi entah kenapa, aku ngelakuin itu.

Cahaya lagi natap foto itu.

Ekspresinya sesuatu yang aku enggak bisa kasih nama, tapi yang paling deket dalam kosakataku mungkin: kayak orang yang liat sesuatu yang udah lama dia kenal dari sudut yang beda dari biasanya.

Dia enggak sadar aku merhatiin.

Presentasi lanjut. Foto ganti ke foto berikutnya. Cahaya balik ke ekspresi normalnya, setengah dengerin, setengah sibuk sama pikirannya sendiri, dan sesi pun lanjut kayak enggak ada apa apa yang kejadian.

"Jadi ada yang mau daftar UKM mana?"

Pertanyaan Bimo motong lamunanku pas sesi akhirnya selesai dan kami bubar buat istirahat makan siang.

"Belum tahu," jawabku jujur. "Kamu?"

"Kayaknya UKM Debat. Aku pernah ikut waktu SMA dan lumayan cocok." Dia lipet buku catatannya. "Kamu tadi keliatan ngelamun hampir setengah sesi."

"Aku enggak ngelamun. Aku lagi..."

"Mengobservasi lingkungan?"

"..."

"Temen kamu bilang itu ke aku waktu jalan ke sini tadi. Yang namanya Cahaya." Bimo nunjuk ke arah yang enggak spesifik. "Dia lewat dan bilang, 'kalau Rendy keliatan ngelamun, dia pasti bilang lagi mengobservasi, jangan dipercaya'."

Aku hela napas.

Cahaya dan mulutnya.

"Dia kenal kamu lama banget ya," lanjut Bimo, nadanya netral tapi ngandung sesuatu yang kedengeran kayak pertanyaan.

"Sejak TK."

"Wah." Bimo diem sebentar, kayak lagi proses skala waktu itu. "Gimana rasanya?"

Pertanyaan yang sama kayak yang ditanya kemarin. Dan jawabanku masih sama: aku enggak sepenuhnya tahu gimana ngedeskripsiinnya karena aku enggak pernah punya titik pembanding.

"Biasa aja," kataku lagi.

Bimo ngangguk pelan, kayak nerima jawaban itu walau mungkin enggak sepenuhnya puas.

Dari kejauhan, dari arah kelompok tujuh yang udah mulai gerak ke kantin, aku bisa denger suara tawa Cahaya, tawa yang lebih keras dari yang di bangku deket gerbang kemarin, tawa buat konsumsi banyak orang sekaligus, beda sama yang cuma buat kami berdua.

Dua versi tawa yang beda. Dari orang yang sama.

Aku udah merhatiin perbedaan itu sejak kami SD, walau enggak pernah tahu harus ngapain sama pengamatan itu.

Mungkin enggak ada yang perlu dilakuin, pikirku. Enggak semua pengamatan harus berujung ke kesimpulan.

Aku ikutin Bimo ke kantin.

Siang itu, di antrian kantin yang gerak lebih lambat dari yang diperluin mengingat ada empat ratus orang butuh makan dalam waktu istirahat yang sama, aku nemuin Cahaya udah ada di depanku di antrian, entah sejak kapan, entah dari arah mana dia datang.

"Udah mau makan?" tanyanya tanpa noleh, udah hafal keberadaanku di dekatnya.

"Itu tujuan antrian, iya."

"Mau pesen apa?"

"Belum liat menunya."

"Aku udah liat. Ada ayam geprek, mie ayam, sama nasi uduk. Tapi ayam gepreknya keliatan udah hampir abis."

"Kamu udah survei menunya?"

"Sambil jalan tadi." Dia maju selangkah ngikutin antrian. "Kamu mau ayam geprek kan?"

"Gimana kamu..."

"Karena kamu selalu pesen itu kalau ada pilihan."

Aku enggak bisa bantah itu karena emang bener.

Antrian gerak pelan. Di sekitar kami, percakapan percakapan jalan dalam macam macam volume, orang orang yang udah mulai akrab setelah dua hari cerita soal kehidupan masing masing, pertanyaan pertanyaan perkenalan yang masih kedengeran di beberapa sudut walau udah hari kedua.

"Tadi kamu perhatiin presentasi UKM Cosplay," kataku.

Cahaya enggak langsung respons. Satu detik. Dua detik.

"Siapa yang enggak perhatiin," jawabnya akhirnya. "Fotonya bagus."

"Ada foto Mimosa."

"Aku liat."

"Kamu daftar?"

"Belum tentu."

"Tapi kamu pertimbangin?"

Cahaya noleh ke arahku buat pertama kalinya sejak kami masuk antrian. Ekspresinya bawa sesuatu yang aku identifikasi sebagai pertahanan ringan, bukan defensif, lebih kayak orang yang lagi nimbang seberapa banyak informasi yang mau dia keluarin.

"Mungkin," kata Cahaya akhirnya.

Satu kata. Tapi diucapin dengan cara yang, setidaknya buat aku yang udah kenal ritme ngomongnya belasan tahun, kedengeran lebih kayak iya daripada mungkin.

"Bagus," kataku.

Cahaya natap aku sebentar dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca. Terus dia balik ngadep depan lagi, ngikutin antrian yang maju satu langkah.

"Kamu itu," katanya pelan, setengah buat dirinya sendiri, "kadang bilang sesuatu yang..."

"Apa?"

"Enggak. Lupa."

"Cahaya."

"Apa?"

"Kamu tadi bilang..."

"Antrinya maju, Ren." Dia nunjuk ke depan di mana antrian udah gerak lagi. "Fokus."

Aku ikutin antrian. Di depan, menu ayam geprek emang hampir abis, tapi masih ada dua porsi sisa, dan dengan cara yang kerasa terlalu rapi buat jadi kebetulan, Cahaya tahu persis dua porsi terakhir itu bakal cukup buat kami berdua.

Sore hari, pas PKKMB hari kedua selesai dan lapangan balik jadi ruang yang berpencar, aku berdiri di bawah pohon besar yang sama kayak kemarin, bangku yang sama, posisi yang sama.

Kali ini Cahaya udah ada di situ sebelum aku.

Duduk dengan satu kaki dilipet ke atas bangku, hape di tangan, ekspresi orang yang lagi baca sesuatu dengan perhatian lebih dari setengah.

"Kamu duluan," kataku, duduk di sebelahnya.

"Iya. Selesai lebih cepet." Dia enggak angkat mata dari hape. "Kamu lama."

"Bimo ngajak diskusi soal UKM."

"Kalian udah tukeran nomor belum?"

"Udah."

Cahaya akhirnya angkat mata dari hape, natap aku dengan ekspresi antara heran dan puas. "Akhirnya."

"Situasinya mengharuskan."

"Situasinya udah mengharuskan sejak kemarin, tapi ya udahlah." Dia balik ke hapenya. "Bagus."

Kami duduk dalam diem yang udah familiar. Angin sore gerak, bawa bau tanah yang sama kayak kemarin, dan di langit atas kampus, warna jingga mulai kebentuk di cakrawala dengan cara yang pelan tapi pasti.

"Ren."

"Hm?"

"Tadi kamu bilang bagus. Waktu aku bilang mungkin daftar UKM Cosplay."

"Iya. Bagus emang."

Cahaya diem sebentar. "Kenapa?"

Pertanyaan yang enggak aku duga. "Kenapa apa?"

"Kenapa bagus?"

Aku nimbang nimbang. "Karena kamu suka cosplay. Dan ada wadahnya di sini. Logis kalau gabung."

"Kamu tahu aku suka cosplay?"

"Kamu udah mulai sejak kelas tujuh SMP."

Hening yang agak beda dari hening biasanya. Lebih berat di beberapa tempat, walau aku enggak bisa nentuin di mana persisnya.

"Kamu inget itu," kata Cahaya pelan.

"Kenapa enggak?"

Dia enggak jawab. Natap ke depan, ke arah gerbang kampus yang udah mulai rame sama mahasiswa yang berpencar pulang. Di tangannya, hape udah enggak dibaca lagi, cuma digenggam tanpa tujuan.

"Ren," panggilnya lagi.

"Hm?"

"Kalau suatu hari aku bilang sesuatu yang penting," katanya pelan pelan, milih kata katanya dengan cara yang kerasa lebih hati hati dari biasanya, "kamu bakal dengerin, kan?"

Aku noleh ke arahnya.

Cahaya masih natap ke depan. Profil wajahnya dalam cahaya sore ini, warna jingga yang udah mulai turun dari langit dan mantul di mana mana, keliatan kayak sesuatu yang seharusnya aku perhatiin lebih teliti dari yang lagi aku lakuin.

"Selalu," jawabku.

Dia diem sebentar.

Terus ngangguk sekali, pelan, hampir enggak keliatan.

"Oke," katanya.

Dan kemudian berdiri, masang tasnya, gerak ke arah gerbang dengan langkah yang setengah langkah lebih cepet dari biasanya.

"Ayo," panggilnya dari depan.

Aku berdiri ngikutin.

Di kepalaku, gantungan kunci Mimosa yang pudar warnanya, kupu kupu kertas origami yang kusut, foto kostum yang disimpen terlalu cepet di hape, pertanyaan kamu bakal dengerin kan yang enggak sepenuhnya kerasa kayak pertanyaan biasa, semua itu ngambang di suatu tempat tanpa bentuk pola yang bisa aku baca.

Mungkin ada pola di situ.

Mungkin enggak.

Aku enggak tahu.

Yang aku tahu: jalan ke gerbang dari bangku di bawah pohon ini persis dua ratus dua langkah (aku itung tanpa sadar lagi, kebiasaan yang kayaknya enggak akan pernah ilang), Cahaya selalu setengah langkah di depanku, dan sore ini, kayak semua sore sebelumnya dalam dua belas tahun terakhir, kami pulang ke arah yang sama.

Sama sama.

Kata yang paling gampang di dunia. Yang udah jalan begitu lama sampai enggak perlu lagi dipertanyain.

Satu hal yang belum aku pelajarin, dan belum akan aku pelajarin buat waktu yang sangat, sangat panjang ke depan, adalah bahwa hal-hal yang enggak kita pertanyain itu justru hal-hal yang paling gampang kita lewatin. Serpihan-serpihan kecil yang aku kumpulin hari itu baru bakal tersusun jadi satu gambar utuh waktu semuanya udah terlambat buat diapa-apain.

Karakter Ketiga

Kantin Gedung B buka jam tujuh pagi dan udah rame sejak jam tujuh lewat lima, artinya siapa pun yang dateng setelah itu harus rela ngantri di belakang kira-kira dua puluh orang dengan macam-macam tingkat kesabaran dan macam-macam strategi ngisi waktu tunggu, dari yang scroll hape, yang ngobrol sama orang di sebelahnya, sampai yang kayak aku: baca buku.

Aku lagi di halaman empat puluh tujuh pas ada yang nyelip ke antrian tepat di sebelah kiriku dengan kecepatan dan keakraban yang enggak mungkin dimiliki orang asing.

"Udah lama ngantri?" tanya Cahaya, seolah kehadirannya di antrian yang enggak dia masukin dari awal itu hal yang sepenuhnya normal secara etika sosial.

"Delapan menit," jawabku tanpa angkat mata dari buku.

"Masih lama."

"Lima orang lagi di depan."

"Berarti masih lama." Dia berdiri tegak di sebelahku, natap ke depan dengan sabar. Aku denger ada langkah kaki lain yang berhenti persis di sebelah Cahaya, satu orang lagi nyusul, tapi aku enggak noleh karena lagi di bagian yang cukup penting dari chapter ini dan aku hampir enggak pernah bisa balik ke alur yang sama kalau udah kepotong.

"Ren, kenalin. Ini Sasa."

Aku angkat mata dari buku.

Salsabila Anggraini, yang katanya lebih suka dipanggil Sasa, berdiri di sebelah Cahaya dengan tinggi kira-kira satu kepala lebih pendek, rambut hitam pendek sebahu yang keliatan sengaja dipotong dengan pertimbangan praktis, dan sepasang kacamata bingkai persegi tipis di atas hidungnya yang ngasih kesan orang yang terbiasa ngamatin lebih banyak dari yang dia ucapin.

Kesan itu langsung runtuh dalam tiga detik.

"Oh, ini yang Rendy?" kata Sasa. Nadanya datar, bukan datar karena enggak tertarik, tapi datar dengan cara orang yang lagi ngelakuin penilaian aktif dan milih buat enggak nyembunyiin prosesnya. Dia natap aku dari atas ke bawah dengan gerakan yang jelas banget dan enggak berusaha keliatan enggak jelas. "Yang baca manga waktu sambutan PKKMB?"

Aku tutup buku pelan. "Kamu tahu itu?"

"Cahaya cerita."

Aku noleh ke Cahaya.

Cahaya tiba-tiba nemuin antrian di depannya sangat menarik buat diamatin. "Aku cuma nyebut sepintas."

"Sepintas dengan detail lengkap," koreksi Sasa. "Termasuk bagian waktu kamu ngebales lambaian kakak panitia berkumis." Dia noleh ke Cahaya minta konfirmasi. "Itu yang kamu ceritain kan? Yang di lapangan upacara?"

"Sa..."

"Karena itu anekdot yang khas banget buat pengenalan karakter."

Cahaya merem satu detik. "Iya itu yang aku ceritain."

Sasa ngangguk puas, terus balik natap aku dengan ekspresi yang aku identifikasi sebagai "orang yang baru aja konfirmasi hipotesis awal". "Oke. Jadi bener."

"Apa yang bener?" tanyaku.

"Kamu persis kayak yang Cahaya gambarin." Dia berhenti. "Dan itu bukan pujian, biar jelas."

Aku lirik Cahaya. Cahaya tiba-tiba sibuk ngecek hapenya.

"Cahaya gambarin aku kayak apa, tepatnya?" tanyaku.

"Introvert yang lebih nyaman sama karakter fiksi daripada manusia beneran, enggak bisa baca situasi sosial, dan secara enggak sadar jadiin referensi anime sebagai unit ukur buat segala hal di dunia nyata." Sasa nyebutin daftar itu dengan nada yang sama kayak orang lagi bacain hasil ujian lab, informatif, enggak emosional, enggak ada judgement eksplisit walau implisitnya lumayan jelas. "Bener kan?"

Hening tiga detik.

"...Secara teknis enggak ada yang salah dari deskripsi itu," jawabku akhirnya.

"Aku tahu. Makanya aku sebut konfirmasi, bukan tuduhan."

Di sebelahnya, Cahaya ngeluarin suara antara ketawa dan batuk yang enggak berhasil jadi salah satunya secara meyakinkan.

Antrian gerak dua langkah ke depan. Kami ikut gerak dalam hening singkat yang enggak sepenuhnya canggung tapi juga belum nyaman.

"Kamu jurusan apa?" tanyaku akhirnya, karena itu kelihatannya pertanyaan paling netral yang bisa aku ajuin ke orang yang baru aja ngedeskripsiin aku dengan akurasi yang lumayan ganggu.

"Psikologi." Sasa geser tali tasnya ke bahu lain. "Kenapa, mau dianalisa balik?"

"Enggak. Cuma nanya."

"Orang biasanya nanya jurusan sebagai pembuka obrolan sekaligus filter, apakah orang ini bisa diajak ngobrol soal hal tertentu atau enggak." Dia natap aku dengan ekspresi entah serius entah enggak. "Tapi kamu keliatannya bukan tipe yang tertarik ngobrol banyak hal, jadi mungkin kamu emang cuma nanya."

Aku nimbang-nimbang respons yang pas buat itu.

"...Iya," jawabku. "Aku emang cuma nanya."

"Jujur. Bagus." Sasa ngangguk sekali, kayak orang yang baru aja ngasih nilai. "Aku suka orang yang enggak basa-basi."

"Kamu juga enggak keliatan basa-basi."

"Enggak pernah. Hidup kelewat pendek buat ngobrolin hal yang enggak ada yang beneran mau dibahas."

Antrian gerak lagi. Kali ini aku udah bisa liat meja kasir di ujung, artinya tinggal tiga orang lagi.

Cahaya, yang dari tadi lebih banyak diem, anomali yang cukup signifikan kalau dibandingin sama rata-rata kontribusinya dalam obrolan apa pun yang melibatkan dirinya, akhirnya ngomong lagi. "Sasa satu kelompok PKKMB sama aku."

"Kelompok tujuh?" tanyaku.

"Delapan, sebenernya," koreksi Sasa. "Tapi kami ketemu waktu ada sesi diskusi gabungan." Dia lirik Cahaya dengan sesuatu yang aku identifikasi sebagai ekspresi orang yang udah cukup kenal buat bisa komunikasi non verbal. "Tepatnya waktu Cahaya berargumen sama fasilitator soal metodologi ice breaking yang menurutnya enggak efektif secara psikologis."

"Itu emang enggak efektif," kata Cahaya tanpa ekspresi minta maaf apa pun.

"Fasilitatornya keliatan kepojok."

"Bukan salah aku kalau argumenku lebih solid."

"Dia mahasiswa semester tiga."

"Argumen tetap argumen enggak peduli siapa yang nyampein."

Sasa noleh ke arahku dengan ekspresi orang yang mau bilang kamu lihat kan tanpa harus beneran ngomong. "Begitulah kami ketemu," simpulnya.

"Dan kamu milih temenan sama orang yang baru aja bikin fasilitator PKKMB malu?" tanyaku ke Sasa.

"Aku milih temenan sama orang yang enggak takut ngomong yang bener cuma karena situasinya enggak nyaman." Sasa angkat bahu. "Itu kualitas yang langka."

Kami sampai di kasir. Proses pesen berlangsung, nasi uduk buat Cahaya, roti bakar dan teh anget buat Sasa, nasi goreng buat aku karena itu satu-satunya yang enggak butuh waktu tunggu lebih dari lima menit. Kami bawa nampan masing-masing ke meja yang dipilih Cahaya, pojok tengah, cukup jauh dari keramaian utama tapi enggak terlalu terpencil.

Duduk, nata makanan, dan buat pertama kalinya sejak antrian tadi, ada jeda yang cukup panjang di antara kami bertiga.

Sasa makan dengan cara yang sangat sistematis buat ukuran roti bakar.

Aku ngamatin ini kira-kira empat puluh lima detik sebelum sadar bahwa aku sedang ngamatin ini, dan itu mungkin bukan hal yang wajar dilakuin ke orang yang baru aja aku kenal dua puluh menit lalu.

"Kamu sering ngamat-ngamatin orang ya," kata Sasa tanpa angkat mata dari rotinya.

Aku enggak bales.

"Itu bukan kritik," lanjutnya. "Observasi. Kamu udah lirik ke arahku tiga kali dalam dua menit terakhir dengan interval yang kelewat teratur buat disebut kebetulan." Dia akhirnya angkat matanya. "Kamu perhatiin sesuatu?"

"Cara kamu makan."

Sasa natap aku. Cahaya berhenti nyuap sebentar.

"Kamu potong rotinya jadi empat bagian yang sama persis sebelum dimakan," lanjutku. "Diagonal, bukan horizontal. Terus dimakan mulai dari sudut kanan bawah."

Hening dua detik.

"...Itu bener," kata Sasa akhirnya, dengan nada yang buat pertama kalinya kedengeran sedikit di luar kalkulasi. "Aku selalu makan gitu."

"Kenapa diagonal?"

"Karena secara geometris, potongan diagonal ngasilin sudut yang lebih gampang digigit tanpa ngerusak distribusi isian." Dia natap aku lebih teliti dari sebelumnya. "Kamu perhatiin itu dalam empat puluh lima detik?"

"Kurang lebih."

"Kamu biasanya secepet itu nyadar hal kayak gitu?"

"Buat hal-hal yang punya pola, iya."

Sasa naruh rotinya sebentar, sandar dikit ke kursi, natap aku dengan ekspresi yang beda dari sebelumnya, bukan penilaian awal lagi, tapi lebih mirip kalkulasi ulang. "Hm."

"Hm apa?" tanya Cahaya yang dari tadi nonton dengan ekspresi orang yang nonton pertandingan dan belum bisa mutusin harus dukung siapa.

"Enggak." Sasa ambil rotinya lagi. "Cuma update data."

"Data tentang aku?" tanyaku.

"Data tentang semua orang yang aku temuin." Dia gigit sudut kanan bawah rotinya, persis kayak yang aku observasi. "Psikologi itu pada dasarnya ilmu tentang ngumpulin dan nginterpretasi data manusia."

"Itu kedengeran kayak cara yang sangat dingin buat deketin hubungan interpersonal."

"Enggak dingin. Sistematis." Sasa seruput tehnya. "Dan lebih jujur dari kebanyakan cara lain. Orang-orang klaim mereka ngerti orang lain lewat empati dan intuisi, tapi sebenernya mereka juga ngelakuin observasi dan kategorisasi, cuma enggak secara sadar."

Aku nimbang-nimbang argumen itu.

"Kamu enggak salah," kataku akhirnya.

"Aku tahu." Dia bilang itu bukan dengan sombong, tapi dengan cara yang kerasa lebih kayak orang yang udah lama berdamai sama fakta bahwa dia sering bener soal hal-hal yang enggak populer buat diomongin. "Tapi kebanyakan orang enggak suka diingetin bahwa mereka ngelakuin sesuatu yang kedengeran lebih impersonal kalau dieksplisitkan."

"Aku enggak keberatan sama eksplisitasi."

"Aku tahu itu juga." Sasa lirik ke Cahaya. "Dia selalu begini?"

"Selalu," jawab Cahaya tanpa ragu.

"Dan kamu enggak masalah?"

"Udah biasa sejak TK."

Sasa ngangguk pelan, kayak orang yang baru aja nemuin potongan puzzle terakhir dan sekarang liat gambar keseluruhan. "Oke. Aku rasa aku ngerti sekarang."

"Ngerti apa?" tanya Cahaya.

"Dinamikanya." Sasa seruput tehnya lagi. "Kenapa kalian masih temenan padahal secara tipikal orang dengan profil yang sangat beda cenderung kepisah secara alami setelah lewat fase wajib bareng di sekolah."

Cahaya buka mulut.

Nutup lagi.

Buka lagi. "Kita temenan karena... kita emang deket."

"Itu deskripsi, bukan penjelasan." Sasa natap Cahaya dengan tenang. "Tapi enggak perlu dijawab sekarang. Itu pertanyaan retoris."

"Kamu banyak ngajuin pertanyaan retoris buat orang yang katanya enggak suka basa-basi," kataku.

Sasa noleh ke arahku. Satu detik berlalu. Terus, buat pertama kalinya sejak kami kenalan tiga puluh menit lalu, sudut bibirnya gerak ke atas, tipis, tapi ada.

"Oke," katanya. "Aku rasa aku suka kamu."

Cahaya nyemprot dikit minumannya.

Sisa makan pagi berjalan dengan ritme yang, mengejutkannya, enggak secanggung yang aku antisipasi.

Sasa ngomong dengan cara yang efisien dan langsung, enggak pernah pakai sepuluh kata kalau lima udah cukup, tapi juga enggak pernah bener-bener kedengeran kasar, lebih kayak orang yang udah mutusin jauh sebelumnya bahwa dia enggak akan buang energi buat performa sosial yang enggak perlu. Cahaya, yang biasanya jadi pihak paling aktif dalam obrolan apa pun, mengejutkannya lebih banyak dengerin waktu Sasa ngomong, bukan karena dia enggak punya hal buat diomongin, tapi karena keliatannya ada kualitas tertentu dari cara Sasa nyampein sesuatu yang bikin dia cenderung berhenti dan bener-bener mroses sebelum ngerespons.

Kombinasi yang enggak biasa. Tapi enggak enggak nyaman.

"Kalian punya kelas apa setelah PKKMB selesai nanti?" tanya Sasa di sela-sela nyelesain rotinya yang sekarang tinggal satu segitiga terakhir.

"Pengantar Ilmu Komunikasi Selasa Kamis," jawab Cahaya. "Sama Statistik Sosial Rabu."

"Kita satu kelas Pengantar." Sasa noleh ke arahku. "Kamu?"

"Algoritma dan Pemrograman, Kalkulus, Pengantar Teknik Informatika." Aku sebutin jadwal dengan urutan hari. "Enggak ada yang sama sama jadwal kalian."

"Beda fakultas, wajar." Sasa ngangguk. "Berarti kalian cuma ketemu di luar jadwal kelas."

"Kami tinggal deket," kata Cahaya. "Satu komplek."

"Sejak kapan?"

"Sejak lahir, kurang lebih."

Sasa natap Cahaya dengan ekspresi yang aku enggak sepenuhnya bisa baca. "Sejak lahir."

"Orang tua kami udah tetangga sebelum kami ada." Cahaya angkat bahu. "Jadi ya, sejak kami bisa inget satu sama lain."

"Dan kamu," Sasa noleh ke arahku, "pernah enggak pengen... enggak temenan sama dia? Di satu titik?"

Pertanyaan yang enggak aku duga.

Aku nimbang-nimbang serius karena itu keliatannya pertanyaan yang emang dimaksudkan buat dijawab serius, bukan sebagai basa-basi. "Enggak pernah," jawabku akhirnya.

"Kenapa?"

"Enggak ada alasan buat itu."

"Bukan alasan buat enggak. Aku nanya kenapa enggak pernah." Sasa naikin alisnya dikit. "Orang bisa pengen enggak temenan sama seseorang bahkan tanpa alasan yang konkret banget. Karena bosen, karena berubah, karena energinya kelewat beda, karena fase kehidupan yang beda. Itu normal."

"Aku tahu itu normal," kataku. "Tapi enggak pernah kejadian ke aku dalam konteks ini."

"Karena?"

Aku natap pertanyaan itu sebentar di kepala, coba nemuin cara buat ngejanya yang akurat.

"Karena Cahaya itu... referensi," kataku akhirnya. "Bukan dalam arti instrumental. Lebih dalam arti... waktu aku coba mahamin sesuatu tentang dunia di luar hal-hal yang udah aku ngerti dengan baik, Cahaya itu titik yang paling konsisten yang bisa aku pake buat orientasi."

Hening di meja.

Bukan hening bingung. Hening yang lebih kayak waktu seseorang bilang sesuatu yang butuh satu momen lebih buat sepenuhnya mendarat.

Sasa natap aku dengan ekspresi yang udah geser jauh dari penilaian awal tadi, sekarang lebih mirip orang yang lagi sangat serius nyatet sesuatu di sistem internal mereka. "Kamu bilang itu dengan nada yang sama kayak ngedeskripsiin kompas."

"Analogi yang enggak jelek, sebenernya."

"Rendy." Sasa naruh tehnya. "Kamu sadar kamu baru aja ngedeskripsiin sahabatmu sebagai alat navigasi?"

"Bukan alat. Referensi. Ada beda konotasi..."

"Aku tahu beda konotasinya." Nada Sasa enggak berubah, tapi ada sesuatu di dalamnya yang geser dikit. "Itu yang bikin lebih menarik, bukan lebih enggak masalah."

Aku enggak langsung ngerti maksudnya.

Dan sebelum aku bisa minta klarifikasi, Cahaya, yang dari tadi sangat diem dengan cara yang enggak biasa buat standarnya, tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Aku mau ambil air minum dulu." Dia ambil gelas kosongnya. "Bentar."

Dia jalan ke arah dispenser di sudut kantin.

Ninggalin aku dan Sasa berdua di meja.

Sasa natap ke arah Cahaya yang jalan menjauh, terus balik ke arahku, dengan ekspresi yang aku enggak bisa kategoriin ke template mana pun yang udah aku kenal.

"Boleh aku nanya sesuatu?" katanya.

"Kamu udah banyak nanya sejak tadi."

"Yang ini beda." Dia naruh dua siku di meja, condong dikit ke depan. "Udah berapa lama kalian temenan?"

"Sejak TK. Kamu udah tahu itu."

"Berapa tahun itu?"

"Empat belas tahun, kurang lebih. Kami masuk TK umur empat tahun."

Sasa ngangguk pelan. "Empat belas tahun." Dia ulangin angka itu dengan nada yang kedengeran kayak orang yang lagi naruh sebuah data dalam konteks yang lebih besar. "Dan sepanjang empat belas tahun itu, apa definisi hubungan kalian pernah berubah? Di pikiranmu?"

"Maksudnya?"

"Pernah enggak, di satu titik, kamu liat Cahaya bukan sebagai 'teman masa kecil' tapi sebagai sesuatu yang lain?"

Pertanyaan itu mendarat dengan cara yang beda dari semua pertanyaan Sasa sebelumnya.

Bukan karena nyentuh sesuatu. Lebih karena formatnya, sangat langsung, tanpa basa-basi, tanpa kemasan, bikin otakku enggak punya cukup waktu buat ngelakuin proses penghindaran yang biasanya kejadian otomatis waktu pertanyaan dengan topik tertentu muncul.

"Enggak," jawabku.

Sasa enggak langsung ngerespons.

"Enggak pernah?" tanyanya akhirnya.

"Enggak pernah secara eksplisit."

"Kamu baru aja nambahin kata 'eksplisit'."

"Karena itu kata yang akurat buat apa yang aku maksud."

"Rendy." Sasa natap aku dengan tatapan yang kerasa kayak sorotan lampu, enggak nyakitin, tapi jelas dan enggak ngasih tempat buat sembunyi. "Kamu itu orang yang sangat literal dalam pemakaian bahasa. Kalau kamu nambahin kata 'eksplisit' sebagai kualifikasi, artinya kamu sadar ada sesuatu yang enggak masuk kategori 'eksplisit' tapi juga enggak absen sepenuhnya."

Aku natap meja.

"Aku enggak klaim ngerti perasaanmu lebih baik dari kamu sendiri," lanjut Sasa, nadanya enggak berubah dari informatif ke apa pun yang lebih emosional. "Itu bukan tujuanku nanya. Aku cuma pengen tahu: kamu pernah beneran periksa asumsinya enggak?"

"Asumsi apa?"

"Bahwa itu teman masa kecil. Enggak lebih dari itu. Kamu pernah beneran periksa, atau kamu terima aja sebagai fakta karena udah ada sejak awal dan enggak pernah ada alasan buat mempertanyakannya?"

Hening yang lebih panjang dari biasanya.

"Itu pertanyaan yang enggak gampang dijawab," kataku akhirnya.

"Aku tahu." Sasa ambil tehnya lagi. "Makanya aku nanya." Dia seruput sekali. "Enggak perlu dijawab sekarang. Atau ke aku. Itu lebih sebagai... sesuatu buat dipikirin."

"Kamu sering lempar pertanyaan yang enggak perlu dijawab ke orang yang baru aja kamu kenal?"

"Cuma ke orang yang keliatannya enggak akan lari dari pertanyaannya." Sasa natap aku dengan sesuatu yang mendekati apresiasi. "Dan yang jujur dalam jawabannya walau jawabannya enggak enak buat diakui."

Aku enggak ngerespons itu.

Dari arah dispenser, Cahaya udah balik badan dan jalan lagi ke meja, gelas udah keisi, langkahnya santai, rambut yang dikuncir goyang dikit.

Aku liat dia jalan balik ke arah kami.

Dan buat alasan yang enggak sepenuhnya aku ngerti, pertanyaan Sasa tadi masih ada di suatu tempat di kepalaku kayak notifikasi yang belum dibuka.

Kamu pernah beneran periksa asumsinya enggak?

Cahaya duduk lagi, naruh gelas, natap kami berdua bergantian dengan ekspresi orang yang tahu dia ketinggalan sesuatu tapi enggak yakin seberapa banyak. "Kalian ngobrol apa?"

"Enggak ada yang penting," jawab Sasa.

"Kamu enggak pernah ngobrol hal yang enggak penting."

"Poin yang valid." Sasa angkat bahu. "Tapi kali ini bukan hal yang perlu kamu tahu sekarang."

Cahaya natap Sasa. Natap aku. Natap Sasa lagi.

"...Oke," katanya akhirnya, dengan nada orang yang milih nyimpen pertanyaannya buat nanti.

"Anyway." Sasa rapiin hapenya yang dari tadi ada di tepi meja. "Kalian biasanya ngapain setelah PKKMB selesai? Pulang langsung atau ada yang dikerjain di sini?"

"Tergantung," jawab Cahaya. "Kadang ke perpus. Kadang langsung pulang."

"Kalian biasanya bareng?"

"Biasanya."

"Selalu atau biasanya?"

Cahaya mikir sebentar. "...Hampir selalu."

Sasa ngangguk dengan cara yang ganggu, bukan ganggu dalam arti negatif, tapi dalam arti dia ngangguk seolah jawaban itu ngonfirmasi sesuatu yang udah dia simpulin sebelum pertanyaannya selesai diucapin.

"Boleh aku ikut?" tanyanya.

"Ikut ke mana?" tanya Cahaya.

"Ke mana pun kalian pergi setelah ini." Sasa natap Cahaya dengan ekspresi yang sepenuhnya datar. "Aku belum punya temen lain di sini selain kamu. Dan berdasarkan tiga puluh menit terakhir, aku lebih tertarik ngabisin waktu sama kalian daripada sama kebanyakan orang lain yang udah aku temuin sejak PKKMB mulai."

"Itu pujian?" tanya Cahaya.

"Pernyataan fakta. Tapi bisa kamu interpretasiin sebagai pujian kalau itu bikin kamu lebih nyaman."

Cahaya noleh ke arahku dengan ekspresi minta input.

Aku angkat bahu. "Enggak ada keberatan dari aku."

"Berarti boleh," kata Cahaya ke Sasa.

"Makasih." Sasa abisin segitiga terakhir rotinya. "Satu hal lagi."

"Apa?"

"Aku bakal langsung kalau ada sesuatu yang menurutku perlu diomongin." Dia natap Cahaya, terus aku, terus balik ke Cahaya. "Dan aku enggak akan pura-pura enggak liat hal yang jelas keliatan cuma karena lebih nyaman kalau enggak diomongin. Itu bukan cara aku berteman."

"Oke..." Cahaya kedengeran sedikit enggak yakin. "Itu maksudnya apa konkretnya?"

"Nanti kamu tahu." Sasa ambil tasnya, berdiri. "Ayo, PKKMB mulai sepuluh menit lagi."

Kami bertiga jalan ke lapangan dengan Cahaya di tengah, Sasa di kirinya, aku di kanan, formasi yang kebentuk secara organik tanpa ada yang ngaturnya.

Di perjalanan, aku denger Sasa dan Cahaya ngobrol soal jadwal kuliah, soal dosen yang udah mulai bisa diriset reputasinya dari kakak tingkat, soal sistem SKS yang ternyata lebih fleksibel dari yang mereka kira sebelum masuk. Obrolan yang normal, informatif, produktif.

Aku jalan di sebelah kanan sambil setengah dengerin, pikiranku masih ngorbit sesuatu yang enggak terlalu mau pergi.

Kamu pernah beneran periksa asumsinya enggak?

Ini, aku putusin, adalah efek berbahaya dari temenan sama mahasiswi Psikologi di hari ketiga perkenalan. Mereka ninggalin pertanyaan kayak orang lain ninggalin komentar di postingan medsos, gampang, tanpa tanggung jawab atas konsekuensi psikologis yang ditimbulinnya ke penerima.

"Ren."

Aku angkat pandangan dari trotoar.

Cahaya jalan setengah langkah di depan, natap aku dari sudut matanya. "Kamu ngelamun."

"Aku lagi mikir."

"Itu hal yang beda?"

"Biasanya iya."

Sasa, yang keliatannya enggak pernah bener-bener berhenti ngamatin apa pun bahkan sambil ngobrol soal sistem SKS, lirik aku dari sisi Cahaya tanpa ngubah ekspresinya. Aku nangkep lirikan itu.

Dia nangkep bahwa aku nangkep itu.

Enggak ada yang diomongin.

Tapi aku ngerti, dengan cara yang lebih intuitif dari yang biasa aku pake buat maham komunikasi non verbal, kalau Sasa lagi bilang: aku tahu kamu masih mikirin pertanyaan tadi, dan aku enggak akan mempermasalahin itu.

Lapangan udah keliatan di ujung jalan, rame sama gerombolan mahasiswa baru yang balik kumpul buat sesi kedua.

"Eh, Sasa," kata Cahaya tiba-tiba. "Tadi kamu bilang kamu bakal langsung kalau ada sesuatu yang perlu diomongin."

"Iya."

"Itu berlaku juga buat hal-hal tentang aku?"

"Terutama hal-hal tentang kamu." Sasa enggak berkedip. "Justru karena kita bakal temenan, bukan meski kita bakal temenan."

Cahaya gigit pipi bagian dalam, gestur yang aku kenal sebagai tanda dia lagi mroses informasi yang enggak sepenuhnya dia suka tapi enggak bisa dia bantah.

"...Oke," katanya akhirnya.

"Bagus." Sasa natap ke depan ke arah lapangan. "Ini bakal jadi pertemanan yang menarik."

"Atau ngerepotin," kata Cahaya.

"Dua hal itu enggak saling eksklusif."

Kami masuk lapangan.

Dan di suatu tempat di kepalaku, aku bikin catatan kecil: bahwa hari ini adalah hari di mana komposisi dunia sehari-hariku berubah dari dua jadi tiga, dan, ini bagian yang enggak sepenuhnya aku antisipasi, perubahan itu kerasa lebih alami dari yang seharusnya kerasa buat sesuatu yang baru.

Enggak kayak karakter baru yang dimasukin secara paksa di tengah arc.

Lebih kayak karakter yang emang udah seharusnya ada di situ tapi baru ketemu di halaman yang tepat.

Walau, aku tambahin dalam catatan yang sama, karakter yang satu ini kayaknya juga bakal jadi sumber pertanyaan yang enggak nyaman dalam jumlah yang enggak aku perkirain sebelumnya, termasuk satu pertanyaan, yang waktu itu belum aku sadari, baru bakal berhenti muter di kepalaku bertahun-tahun kemudian.

Itu, aku putusin, urusan episode-episode berikutnya.

Buat sekarang, PKKMB udah mulai lagi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!