Indonesia
NovelToon NovelToon

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Episode 1

Selama dua bulan, Arka Surya Wijaya selalu terbangun di dunia yang sama setiap kali ia tidur: sebuah planet mati bernama Planet Biru.

Dr. Hasan di RSJ Bukit Hijau menyebutnya gejala skizofrenia. Viona menyebutnya lebih singkat, lebih kejam, dan lebih mudah diingat.

Gendut, miskin, dan gila.

Malam ini, Arka tidak punya tenaga untuk memikirkan kalimat itu. Begitu kesadarannya jatuh ke dalam gelap, udara dingin langsung menusuk paru-parunya.

Ia membuka mata di antara reruntuhan beton.

Langit Planet Biru menggantung rendah, kelabu dan sunyi. Hujan asam turun tipis di atas mobil-mobil yang lama ditinggalkan. Udara dingin membuat napasnya memutih, cukup untuk mengingatkan Arka bahwa tubuh di dunia ini bisa mati sungguhan.

Arka memeluk tubuhnya sendiri. Tubuhnya tinggi, tapi terlalu berat, hampir seratus kilo lebih. Di dunia nyata, tubuh itu membuatnya ditertawakan di kampus. Di sini, tubuh yang sama membuat langkahnya lambat dan cepat lelah.

Di sakunya hanya ada setengah botol air dan sepotong roti berjamur yang ia simpan sejak siklus sebelumnya.

Dua bulan.

Selama dua bulan, ia belajar satu hal: kalau ingin hidup sampai dua belas jam berikutnya, ia tidak boleh panik.

Arka mengangkat golok dapur yang sudah tumpul. Gagangnya dililit kain bekas agar tidak mudah lepas dari tangan. Senjata itu konyol, murah, bahkan mungkin tidak layak disebut senjata. Tetapi untuk saat ini, benda itu cukup membuatnya berani melangkah.

Di seberang jalan, papan nama sebuah bank roboh separuh. Huruf-hurufnya hangus, tapi pintu kaca di bawahnya masih menyisakan celah.

Bank.

Mata Arka menyipit.

Di dunia mati, uang kertas tidak lebih berguna daripada sampah basah. Tetapi brankas bank mungkin menyimpan sesuatu yang tidak ikut mati bersama peradaban.

Ia bergerak mendekat, berhenti beberapa kali untuk memastikan tidak ada zombi yang berkeliaran di sekitar pintu. Setelah dua bulan di sini, Arka belajar menghindari masalah lebih sering daripada menyelesaikannya dengan tenaga.

Aman.

Arka menyelinap masuk lewat pintu samping. Ruang utama bank gelap. Mesin antrean, kursi tunggu, dan meja pelayanan berserakan. Di belakang meja teller, ia menemukan pintu besi menuju ruang penyimpanan.

Kuncinya rusak. Separuh engsel meleleh. Mungkin ada orang yang mencoba membukanya saat bencana pertama terjadi.

Arka menendang sekali.

Tidak bergerak.

Ia menggertakkan gigi, mengangkat golok, lalu menghantam celah engsel berkali-kali.

KLANG!

KLANG!

KLANG!

Suara logam menggema terlalu keras.

Arka langsung berhenti.

Dari lorong belakang terdengar geraman.

Satu.

Tidak, dua?

Ia mundur setengah langkah. Dalam dua bulan, ia lebih sering lari daripada melawan. Tubuh seperti ini sulit dipakai menjadi pahlawan.

Namun pintu besi itu sudah terbuka sedikit.

Seekor zombi berseragam satpam bank muncul dari lorong. Gerakannya kaku, tapi cukup cepat untuk membuat Arka lupa bernapas.

Arka tidak menunggu sampai makhluk itu terlalu dekat. Ia menarik kursi tunggu yang roboh, mendorongnya ke depan, lalu menghantam kaki zombi itu dengan seluruh tenaga.

Makhluk itu jatuh menabrak meja teller.

Arka mengayunkan golok.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Pukulannya kacau dan jauh dari gagah. Tetapi pada hantaman terakhir, zombi itu berhenti bergerak.

Arka bersandar ke meja, napasnya putus-putus. Bahunya sakit. Tangannya gemetar. Ia tidak menang seperti pendekar dalam film. Ia hanya bertahan hidup.

Ketika hendak menarik goloknya, ujung bilah menyentuh sesuatu yang keras.

Tik.

Arka membeku.

Di dekat tubuh zombi itu, ada benda putih sebesar kelereng. Permukaannya seperti kristal susu, bersih, anehnya tidak tercemar apa pun. Yang paling mengejutkan, benda itu mengeluarkan aroma nasi hangat.

Perut Arka langsung berkeruyuk.

"Kristal..."

Ia pernah melihat benda seperti ini sekali, jauh dari genggaman, ketika sekelompok penyintas bersenjata membunuh zombi di jalan raya. Mereka berebut benda itu seolah-olah sedang berebut emas.

Arka mengangkat Kristal itu ke depan wajahnya.

Aroma nasi semakin kuat.

Dalam kondisi normal, ia tidak akan menelan benda asing dari dunia mati. Tetapi kondisi normal sudah lama tidak berlaku di Planet Biru. Ia hanya punya setengah botol air, roti berjamur, dan dua belas jam hidup yang belum tentu penuh.

Ia menelan Kristal itu.

Rasa dingin menyebar dari tenggorokannya.

Detik berikutnya, tubuhnya seperti dilempar ke dalam tungku.

"Argh!"

Arka jatuh berlutut. Panas menjalar di bawah kulitnya, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Kepalanya berdengung, seakan ada pintu yang dipaksa terbuka dari dalam.

Panas itu berputar menuju pusat kesadarannya.

Di pusat kesadarannya, sebuah ruang kosong terbuka.

Sunyi. Seluas kira-kira satu meter kubik.

Arka terengah-engah. Keringatnya langsung membeku di leher, tetapi rasa lapar yang tadi mengikat perutnya menghilang. Tubuhnya masih berat, tapi ada tenaga baru mengalir di bawah kulit.

Ia menatap pecahan kursi di dekat kakinya.

Masuk.

Begitu pikiran itu muncul, pecahan kursi lenyap.

Arka nyaris lupa bernapas.

Keluar.

Pecahan kursi itu jatuh kembali ke lantai.

Sunyi.

Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.

Kekuatan Dimensi.

Ia tidak tahu dari mana nama itu datang. Mungkin dari nalurinya. Mungkin dari perubahan di pusat kesadarannya. Tetapi ia mengerti fungsinya: ruang penyimpanan. Satu meter kubik. Tidak besar, tapi cukup untuk mengubah hidup.

Cukup untuk mengambil apa pun yang selama ini tidak bisa ia bawa.

Arka menoleh ke pintu besi.

Kali ini, ia tidak menendangnya sembarangan. Ia mengambil batang logam dari meja keamanan, menyelipkannya ke celah engsel, lalu menggunakan seluruh berat badannya untuk menekan.

KRAK!

Engsel terakhir patah.

Pintu ruang penyimpanan terbuka.

Di dalamnya, sebagian besar laci sudah kosong. Uang kertas berserakan, dimakan lembap dan jamur. Arka tidak peduli. Ia menyisir rak demi rak, matanya dingin, napasnya tertahan.

Di sudut terdalam, di balik kotak arsip yang roboh, ia menemukan peti logam kecil.

Kuncinya macet. Goloknya menyelesaikan sisanya.

Begitu penutup peti terbuka, cahaya kuning redup memantul di mata Arka.

Emas.

Tiga puluh batang Emas Batangan, masing-masing tercetak angka 500g. Tertata rapi, seolah-olah dunia belum hancur di luar sana.

Di sampingnya ada kotak beludru yang sudah lembap. Arka membukanya dan melihat sepasang Gelang Giok Imperial, hijau pekat seperti air danau yang tidak pernah tersentuh debu.

Untuk beberapa detik, Arka hanya diam.

Kemarin, di dunia nyata, ia menghitung sisa uang di dompet dan memutuskan tidak membeli lauk tambahan.

Kemarin, Viona bisa membuangnya hanya dengan satu kalimat, karena ia tidak punya masa depan.

Sekarang, di hadapannya, ada masa depan yang bisa ditimbang dengan kilogram.

"Emas... tiga puluh batang," gumam Arka. Bibirnya kering, tapi matanya menyala. "Di dunia nyata, ini bernilai miliaran."

Ia menyentuh satu batang emas.

Masuk.

Emas itu lenyap.

Satu demi satu, tiga puluh batang emas masuk ke ruang Dimensi. Gelang Giok Imperial menyusul. Ruang satu meter kubik itu hampir penuh, tapi cukup. Sangat cukup.

Dari luar bank, terdengar suara langkah terseret.

Arka melirik jam tangan retak di pergelangan kirinya.

Sebelas jam lima puluh tujuh menit.

Hampir waktunya.

Ia tidak boleh meninggalkan tubuh ini di tempat terbuka.

Arka menarik pintu besi ruang penyimpanan dan menahan gagangnya dengan batang logam. Dua lemari arsip ia geser ke belakang pintu. Tidak sempurna, tapi cukup untuk menyembunyikan tubuhnya beberapa jam.

Sesuatu bergerak di ruang utama bank. Arka duduk di sudut, memeluk golok di dada, memaksa napasnya tetap pelan.

Pandangannya mulai gelap. Ia mengenal tarikan itu; tubuhnya tidak sedang pingsan.

Pergantian dua belas jam.

Saat sosok zombi lewat di balik celah pintu, dunia runtuh ke dalam kegelapan.

Arka tersentak bangun.

Kipas angin tua di langit-langit kost-kostan berputar lambat. Udara Depok yang lembap menempel di kulitnya. Suara motor lewat dari gang sempit di luar jendela. Tidak ada hujan asam, es, atau aroma kematian Planet Biru.

Tangannya masih gemetar.

Ia duduk di tepi kasur, menatap telapak tangannya.

Kalau semua itu hanya mimpi, ruang Dimensi tidak akan ada.

Kalau Dr. Hasan benar, ia hanya pasien yang semakin parah.

Kalau Viona benar, ia memang hanya pria gendut, miskin, dan gila.

Arka menutup mata.

Keluar.

Benda berat jatuh ke telapak tangannya.

Kuning. Padat. Dingin.

Satu batang Emas Batangan, 500 gram, berbaring nyata di antara jari-jarinya. Sudutnya menekan kulit sampai sakit.

Arka menatapnya lama sekali.

Lalu ia tertawa pelan.

Tidak keras. Tidak gila. Hanya satu tawa pendek dari seseorang yang baru melihat pintu takdir terbuka di depannya.

"Ini..." suaranya nyaris tidak terdengar, "nyata."

Tiga puluh batang emas. Masing-masing 500 gram.

Dengan harga pasar hari ini, nilainya setidaknya Rp 10 Miliar.

Kemarin, ia masih pria yang ditinggalkan karena tidak punya masa depan.

Hari ini, Arka menggenggam masa depan itu di tangannya.

Episode 2

Hari ini, Arka menggenggam masa depan itu di tangannya.

Emas Batangan seberat 500 gram itu terasa dingin, tetapi telapak tangannya justru panas. Beratnya tidak bohong. Sudut logam itu menekan kulitnya, meninggalkan bekas merah yang kecil namun jelas.

Ini nyata. Emas itu lolos dari mimpi dan ikut bangun bersamanya, jauh dari semua penjelasan lembut Dr. Hasan di ruang konsultasi RSJ Bukit Hijau.

Arka duduk lama di tepi kasur, membiarkan kipas angin tua berputar di atas kepalanya. Kamar kost-kostan itu sempit, cat temboknya mengelupas, dan di meja kecil masih ada bungkus mi instan yang belum sempat ia buang. Semua tampak sama seperti kemarin.

Hanya dirinya yang tidak sama lagi.

Ia menarik napas, lalu mengembalikan emas itu ke ruang Dimensi. Ruang satu meter kubik di dalam kesadarannya hampir penuh oleh tiga puluh batang emas dan sepasang Gelang Giok Imperial. Satu pikiran saja cukup untuk merasakan posisi setiap benda di sana.

Ajaib.

Tapi keajaiban yang tidak bisa dijual sama saja dengan batu di dasar sungai.

Arka membuka ponsel lama dengan layar retak. Ia mencari harga emas batangan hari itu, lalu menghitung kasar dengan kalkulator. Angkanya membuat dadanya sesak.

Lebih dari sepuluh miliar rupiah.

Untuk orang seperti Revano, uang sebesar itu mungkin angka yang biasa disebut saat pamer di tongkrongan. Untuk Arka, itu adalah jarak antara diinjak dan berdiri tegak.

Namun masalahnya jelas. Mahasiswa miskin, baru putus dari pacar, tiba-tiba membawa belasan kilogram emas tanpa surat. Kalau ia langsung datang ke bank atau toko emas besar, pertanyaan pertama bukan harga.

Pertanyaan pertama adalah asal-usul.

Dan pertanyaan kedua mungkin datang dari polisi.

Arka tidak takut miskin lagi. Tetapi ia belum cukup bodoh untuk menukar satu masalah dengan masalah yang lebih besar.

Ia mandi cepat, mengenakan kaus hitam polos dan jaket lusuh yang biasa dipakainya ke kampus. Dari ruang Dimensi, ia hanya mengambil tiga batang emas. Sisanya tetap disimpan. Gelang Giok Imperial juga tidak ia sentuh. Benda itu terlalu mencolok untuk langkah pertama.

Pagi Depok bergerak seperti biasa. Motor memenuhi jalan, pedagang bubur di gang depan memanggil pelanggan, dan mahasiswa UNUSA berjalan dengan tas punggung sambil menatap layar ponsel. Tidak ada yang tahu seorang pria gendut dengan jaket lusuh sedang membawa emas senilai miliaran di dalam ruang yang tak terlihat.

Arka memesan ojek online menuju Jakarta Selatan.

Tujuannya bukan toko emas di mal.

Dua bulan lalu, saat masih mencoba mempertahankan hubungan dengan Viona, ia pernah mengantar perempuan itu ke sebuah toko perhiasan milik kenalan keluarga temannya. Viona tidak membeli apa pun. Ia hanya ingin melihat-lihat, lalu mengeluh karena Arka tidak mampu membelikan gelang kecil seharga puluhan juta.

Nama toko itu masih tersimpan di memorinya.

Galeri Permata.

Toko itu berada di ruko dua lantai yang bersih dan tenang. Papan namanya tidak mencolok, tetapi mobil-mobil yang parkir di depannya cukup menjelaskan kelas pelanggan mereka. Dua sedan hitam, satu Alphard, dan seorang pria berjam tangan mahal yang baru keluar sambil membawa kotak beludru kecil.

Saat Arka melangkah masuk, seorang pegawai perempuan di balik etalase menatapnya dari atas ke bawah.

Senyumnya tetap muncul, tetapi matanya tidak.

"Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu, Mas?"

Nada itu sopan, namun jaraknya terasa jelas. Di matanya, Arka hanyalah mahasiswa yang salah masuk toko.

Arka tidak tersinggung. Kemarin, tatapan seperti itu mungkin membuatnya ingin mundur. Hari ini, ia hanya meletakkan tas selempang kecil di atas meja kaca.

"Saya ingin bertemu pemilik toko. Ada barang yang mau saya jual."

Pegawai itu ragu. "Untuk penjualan emas biasa, kami bisa bantu di sini. Tapi kalau tidak ada sertifikat..."

"Panggil pemiliknya," kata Arka datar. "Kalau beliau tidak tertarik, saya pergi."

Ketegasan itu membuat pegawai tersebut menahan jawaban. Ia menatap tas kecil di meja, lalu mengangguk kaku dan naik ke lantai dua.

Dua menit kemudian, seorang pria paruh baya turun perlahan. Rambutnya sudah memutih di pelipis, kemejanya rapi tanpa terlihat berlebihan, dan matanya tajam seperti orang yang sudah puluhan tahun membedakan batu asli dari kaca berwarna.

"Saya Hendry Wibisana," katanya. "Anda yang ingin menjual barang?"

Arka berdiri. "Arka."

"Silakan duduk, Pak Arka."

Panggilan itu terdengar kecil, tapi Arka menangkap perbedaannya. Hendry tidak melihat kaus lusuhnya. Hendry melihat cara ia berdiri, cara ia tidak gugup, dan mungkin juga cara pegawainya terlihat bingung.

Mereka duduk di meja konsultasi samping. Hendry memberi isyarat kepada pegawai agar menutup tirai tipis yang memisahkan ruangan dari area etalase.

"Boleh saya lihat barangnya?"

Arka membuka tas.

Tiga batang Emas Batangan tergeletak di atas kain hitam.

Mata pegawai perempuan itu membesar.

Hendry tidak bersuara selama beberapa detik. Ia mengambil sarung tangan, lalu mengangkat satu batang emas. Wajahnya tetap tenang, tetapi jari telunjuknya berhenti sepersekian detik ketika melihat cetakan lama di permukaannya.

"Lima ratus gram per batang," gumamnya. "Tiga batang berarti satu setengah kilogram."

"Benar."

"Ada surat?"

"Tidak."

Hendry menatapnya. "Asal barang?"

Arka sudah menyiapkan jawaban sejak di perjalanan. "Warisan keluarga. Disimpan lama. Saya hanya ingin melepas sebagian."

Itu bukan kebenaran penuh. Tapi juga bukan kebohongan yang bisa dibantah orang lain.

Hendry tidak langsung menekan. Ia mengambil alat uji, menimbang, memeriksa densitas, lalu menggores permukaan dengan hati-hati. Setiap gerakannya rapi. Pegawai tadi berdiri di belakangnya, semakin lama semakin sulit menjaga wajah profesional.

Lima belas menit berlalu.

Hendry meletakkan alatnya.

"Kemurniannya sangat tinggi," katanya pelan. "Lebih tinggi dari banyak produk pasar lokal. Kondisinya juga aneh. Seperti barang lama, tapi tidak teroksidasi sebagaimana mestinya."

Arka tidak menjawab.

Hendry tersenyum tipis. "Pak Arka, saya pedagang. Saya bukan polisi. Tapi barang tanpa surat selalu punya risiko. Risiko itu mempengaruhi harga."

"Saya mengerti."

"Untuk tiga batang ini, saya bisa bayar Rp 3 Miliar. Transfer sekarang."

Pegawai di belakang Hendry hampir tersedak.

Arka menatap emas di meja. Secara harga pasar, itu mungkin tidak maksimal. Tetapi ia tidak datang untuk memeras rupiah terakhir. Ia datang untuk menguji pintu.

Kalau pintu ini terbuka, tiga batang bukan apa-apa.

"Transfer," kata Arka.

Hendry mengangguk. "Nomor rekening?"

Arka menyebutkan rekening banknya. Saat menunggu proses, Hendry menuangkan teh hangat ke cangkir kecil. Uapnya naik perlahan di antara mereka.

"Pak Arka masih muda," ujar Hendry. "Barang seperti ini, kalau terlalu sering dijual sembarangan, akan menarik perhatian PPATK. Bank juga bisa menahan dana jika pola transaksinya terlalu kasar."

"Maka saya datang ke orang yang mengerti cara menjualnya."

Senyum Hendry kali ini lebih nyata. "Anda bicara seperti orang yang sudah pernah kehilangan banyak hal."

Arka menatap cangkir di tangannya. Di permukaan teh, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Gemuk, lelah, mata masih menyisakan lingkar hitam. Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang mulai tenang.

"Saya hanya tidak ingin kehilangan sisanya."

Ponsel Arka bergetar.

Notifikasi bank muncul di layar.

Dana masuk: Rp 3.000.000.000.

Tiga miliar.

Angka itu begitu panjang sampai ponsel lamanya terasa tidak pantas menampilkannya.

Di benak Arka, muncul wajah Viona saat berkata, Kamu gak punya masa depan.

Ia hampir tertawa, tapi menahannya.

Belum waktunya.

Hendry memperhatikan reaksinya. "Kalau masih ada barang lain, saya bisa bantu. Tapi jumlah besar harus dipisah. Sebagian lewat pembeli kolektor, sebagian lewat Singapura, sebagian lewat Dubai. Semua harus punya dokumen dagang yang bersih. Biayanya tidak kecil, tapi aman."

Arka meletakkan ponselnya di meja. "Kalau saya punya tiga puluh batang?"

Pegawai perempuan itu tidak bisa menahan suara kecil dari tenggorokannya.

Hendry diam.

Untuk pertama kalinya sejak turun dari lantai dua, mata pria tua itu benar-benar berubah.

Tertarik.

"Tiga puluh batang seperti ini?"

"Ya."

"Itu bukan transaksi toko biasa, Pak Arka. Itu hubungan bisnis."

"Maka kita bicara sebagai calon mitra."

Hendry bersandar perlahan. Di luar tirai, lonceng pintu toko berbunyi, tetapi tidak ada yang bergerak menyambut pelanggan. Ruangan kecil itu seperti terpisah dari dunia.

"Saya bisa ambil semuanya," kata Hendry akhirnya. "Tetapi pembayaran penuh perlu dibuat bersih. Saya akan pecah menjadi beberapa kontrak jual beli logam mulia dan aset lama. Untuk keamanan, harga bersih yang masuk ke Anda Rp 10 Miliar. Saya tanggung jalur penjualan, biaya dokumen, dan risiko distribusi."

Arka menatapnya. "Hari ini?"

"Hari ini uang muka selesai. Sisanya sebelum bank tutup."

"Saya tidak suka menunggu."

Hendry tertawa pelan. "Saya juga tidak suka kehilangan kesempatan."

Arka berdiri, membawa tasnya. "Siapkan ruangan yang tidak ada kamera."

Hendry mengangkat alis, tetapi tidak bertanya. Ia membawa Arka ke ruang penyimpanan kecil di belakang, lalu mematikan kamera interior dengan alasan pemeriksaan privat barang kolektor. Pegawai perempuan itu diminta menunggu di luar.

Begitu pintu tertutup, Arka memasukkan tangan ke dalam tas kosong.

Satu demi satu, Emas Batangan muncul dari ruang Dimensi dan jatuh tanpa suara ke dalam tas berlapis kain.

Ia tidak membiarkan Hendry melihat prosesnya. Ketika tas dibuka di atas meja, jumlahnya sudah menjadi dua puluh tujuh batang tambahan.

Hendry menarik napas panjang.

"Saya sudah lama berdagang," katanya lirih. "Tapi baru kali ini melihat anak muda membawa masa depan sebuah keluarga di dalam tas selempang murah."

"Bukan masa depan keluarga," jawab Arka. "Masa depan saya."

Hendry menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. "Baik, Pak Arka. Mulai hari ini, Galeri Permata akan menjadi pintu Anda. Tapi saya punya satu syarat."

"Apa?"

"Kalau Anda punya batu giok atau permata langka, jangan jual ke orang lain sebelum saya melihatnya."

Arka teringat Gelang Giok Imperial di ruang Dimensi. Hijau pekat, bersih, terlalu indah untuk dilepas sembarangan.

"Mungkin nanti."

Mata Hendry berbinar, tapi ia cukup pintar untuk tidak mengejar.

Transaksi berikutnya berjalan seperti operasi kecil. Hendry menelepon dua orang kepercayaannya, menyiapkan dokumen awal, dan memecah transfer dari beberapa rekening perusahaan. Arka membaca setiap lembar, memastikan tidak ada perangkap. Pengetahuan hukumnya terbatas. Setelah hidup dua bulan di Planet Biru, ia belajar membaca niat orang dari jeda napas dan gerakan tangan.

Hendry serakah seperti pedagang. Itu wajar.

Tetapi ia tidak bodoh.

Dan saat ini, Arka membutuhkan orang serakah yang tahu batas.

Menjelang sore, transfer terakhir masuk.

Saldo rekening: Rp 10.000.000.000.

Arka keluar dari Galeri Permata saat langit Jakarta mulai memerah. Di tangannya ada kartu nama Hendry Wibisana, bersih, tebal, dengan nomor pribadi tertulis di belakangnya. Di ponselnya, sepuluh miliar rupiah berbaring seperti monster yang baru bangun.

Ia berdiri di trotoar, dikelilingi suara klakson dan panas aspal.

Kemarin, ia menghitung uang receh untuk membeli Indomie tambahan.

Hari ini, ia bisa membeli seluruh warungnya.

Namun Arka tidak langsung tersenyum. Sepuluh miliar memang cukup untuk membuat Viona menyesal. Cukup untuk membuat Revano berhenti tertawa. Cukup untuk mengubah cara orang memandangnya di UNUSA.

Tetapi semua itu hanya permukaan.

Malam nanti, kesadarannya akan kembali ke Planet Biru.

Di sana, satu batang emas bukan apa-apa dibandingkan makanan. Satu botol air bisa membeli martabat. Satu kardus mi instan mungkin bisa ditukar dengan permata yang membuat orang kaya Jakarta berlutut.

Arka memasukkan kartu nama Hendry ke dompet lusuhnya.

"Sepuluh miliar pertama," gumamnya.

Lalu ia menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang parkir di tepi jalan.

Tubuh gemuk. Jaket murah. Wajah yang kemarin masih disebut tidak punya masa depan.

Matanya dingin.

"Belum cukup."

Episode 3

"Belum cukup."

Kalimat itu mengikuti Arka sampai ia kembali ke kost-kostan.

Di layar ponselnya, saldo Rp 10.000.000.000 masih terpampang seperti angka yang salah ketik. Namun setelah melihat Planet Biru, Arka tahu uang hanyalah alat. Di dunia sana, satu botol air lebih tajam dari kartu kredit platinum. Satu bungkus roti bisa membuat orang kuat menundukkan kepala.

Malam itu, ia tidak membeli pakaian mahal. Tidak memesan makanan mewah. Tidak mengirim pesan pada Viona.

Ia pergi ke minimarket dan toko grosir kecil yang masih buka, membeli air mineral, roti tawar, biskuit, mi instan, obat luka, korek, baterai, senter, pisau lipat, dan beberapa kaleng makanan. Kasir menatap aneh ketika melihat tumpukan barangnya.

"Mau camping, Mas?"

Arka hanya menjawab, "Kurang lebih."

Semua barang itu masuk ke ruang Dimensi begitu ia tiba di kamar. Tanpa emas, ruang satu meter kubik terasa lebih lega. Gelang Giok Imperial ia biarkan di sudut terdalam, terpisah dari makanan dan obat.

Pukul 21.30, Arka berbaring.

Ia tidak takut tidur.

Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, ia menunggu mimpi itu datang.

Gelap turun.

Lalu dingin menggigit tulangnya.

Arka membuka mata di balik barikade ruang penyimpanan bank. Punggungnya kaku, mulutnya kering, dan udara di ruangan itu berbau logam tua. Dari luar pintu besi, suara garukan masih terdengar sesekali.

Zombi belum pergi.

Ia mengecek tubuhnya. Masih utuh. Barikade bertahan.

"Bagus," gumamnya.

Ia mengambil botol air dari ruang Dimensi, meneguk setengahnya, lalu makan dua potong roti. Rasa makanan biasa itu hampir membuat matanya panas. Di Planet Biru, makanan dari minimarket Depok terasa seperti benda suci.

Setelah tenaga kembali, Arka bergerak.

Ia menarik satu lemari arsip sedikit, cukup untuk membuat celah. Seekor zombi terdorong masuk. Arka sudah menunggu di sisi pintu.

Goloknya turun.

Tubuh itu ambruk setelah dua hantaman. Tangan Arka masih tegang, namun tidak lagi gemetar seperti kemarin.

Satu Kristal putih masuk ke genggamannya.

Ia menyimpannya. Kalau mau naik level, ia butuh tempat aman.

Arka keluar dari bank lewat pintu samping, bergerak di antara mobil-mobil beku. Matahari Planet Biru hanya terlihat sebagai noda pucat di balik awan abu. Jalanan SCBD versi dunia mati itu dipenuhi gedung miring, kaca pecah, dan papan iklan kosong.

Dalam tiga jam berikutnya, ia bergerak pendek-pendek di sekitar bank. Dua zombi yang menghalangi jalan ia jatuhkan dengan cara paling aman.

Hasilnya sederhana.

Tiga Kristal putih di genggaman.

Arka ingin mencari tempat aman untuk menelannya ketika mendengar suara manusia.

Suara itu tidak mirip geraman atau angin.

Suara manusia.

"Jangan dekat-dekat! Kami tidak punya apa-apa!"

Suara perempuan itu serak, tetapi masih punya ketegasan.

Arka mengikuti suara tersebut ke sebuah butik mewah yang pintunya tertutup papan kayu. Di balik kaca pecah, ia melihat tiga orang penyintas. Dua pria kurus memegang tongkat besi. Di belakang mereka, seorang perempuan muda duduk bersandar pada lemari pajangan.

Wajahnya pucat karena lapar, rambutnya berantakan, tetapi matanya tetap terang.

Di lehernya, ada kalung berlian biru.

Batu itu tidak besar secara berlebihan, namun warnanya terlalu bersih untuk dunia yang sudah mati. Biru dalam, dingin, seperti langit sebelum bencana menelannya.

Arka mengenali jenis tatapan itu dari Galeri Permata.

Barang mahal.

Sangat mahal.

Salah satu pria kurus mengangkat tongkat. "Pergi!"

Arka berhenti lima langkah dari pintu. Ia tidak mengangkat golok. "Kalau aku mau merampok kalian, aku tidak akan bicara dulu."

Perempuan itu menatap tas kecil di pinggang Arka. Tatapannya turun ke botol air yang terselip di sana.

Rasa lapar bisa membuat manusia melihat lebih tajam daripada elang.

"Kamu punya makanan?" tanyanya.

"Ada."

Dua pria di depannya langsung tegang. Salah satu menjilat bibir pecah-pecahnya.

Arka melihat mereka, lalu kembali menatap perempuan itu. "Namamu?"

"Kirana," jawabnya setelah jeda pendek. "Kirana Permata Larasati."

Larasati.

Arka hampir tertawa. Di dunia nyata, nama itu mungkin terpampang di gedung perusahaan permata. Di sini, pewaris keluarga seperti itu duduk kelaparan di butik rusak, menjaga kalung seolah masih ada bank dan pengacara yang bisa melindunginya.

"Aku Arka."

"Kalau kamu punya makanan, kami bisa tukar." Kirana melepas kalung biru di lehernya dengan tangan gemetar. Gerakan itu berat; harga dirinya ikut tertarik bersama rantainya. "Ini Biru Semesta. Berlian biru keluarga Larasati. Di dunia lama, nilainya bisa membeli satu gedung kecil."

Salah satu pria menoleh panik. "Nona Kirana, jangan! Itu warisan keluarga!"

Kirana menatap pria itu dengan lemah. "Warisan tidak bisa dimakan."

Arka menatap Biru Semesta yang tergeletak di telapak Kirana. Batu itu memantulkan cahaya abu-abu dari langit mati, namun warnanya tetap hidup.

"Kamu mau berapa?" tanya Arka.

"Makanan untuk dua hari. Air untuk tiga orang." Kirana menelan ludah. "Kalau ada obat luka, aku tambah terima kasih."

Salah satu pria langsung berseru, "Dua hari? Kalung itu nilainya miliaran!"

Arka menatap pria itu. "Di luar sana, miliaranmu bisa menghentikan zombi?"

Pria itu terdiam.

Kirana memejamkan mata sebentar, lalu membuka lagi. "Aku tahu ini tidak adil. Tapi yang aku butuhkan bukan harga. Yang aku butuhkan adalah hidup sampai besok."

Kalimat itu membuat Arka menghormatinya satu tingkat.

Ia meletakkan ransel kecil di lantai, seolah mengambil barang dari dalamnya. Padahal semua keluar dari ruang Dimensi. Enam botol air mineral, dua roti tawar, biskuit, empat kaleng makanan, mi instan, dan obat luka ia susun di antara mereka.

Mata dua pria itu hampir keluar.

Kirana tidak langsung menyambar. Ia menatap makanan itu, lalu menatap Arka.

"Kamu yakin?"

"Kamu yang menawarkan harga."

"Kamu bisa saja mengambil kalung ini tanpa memberi apa-apa."

"Bisa," kata Arka. "Tapi aku tidak suka membangun bisnis pertama dengan merampok orang yang sudah kelaparan."

Kirana menatapnya lebih lama. Sesuatu di matanya berubah. Ia belum percaya penuh, hanya cukup untuk membedakan Arka dari banyak pria bersenjata yang pernah ia temui sejak dunia runtuh.

Ia menyerahkan Biru Semesta.

Saat rantai itu menyentuh telapak Arka, ruang Dimensi seperti bergetar halus. Benda itu masuk ke dalam penyimpanan bersama Gelang Giok Imperial, menjadi cahaya biru kecil di antara persediaan.

Transaksi selesai.

Namun suara jatuh terdengar dari luar butik.

Satu zombi menabrak papan kayu, mungkin tertarik oleh suara mereka. Dua pria langsung mundur. Kirana mencoba berdiri, tetapi tubuhnya terlalu lemah.

Arka bergerak lebih dulu.

Ia membuka celah pintu dan menyelesaikannya sebelum makhluk itu masuk penuh.

Dua penyintas laki-laki menatapnya dengan wajah pucat. Kirana juga melihat. Kali ini, kecepatan Arka bertindak membuatnya ikut diam.

Tidak ada Kristal.

Sial.

Ia menutup pintu lagi, lalu berkata, "Jangan membuat suara besar. Makan sedikit-sedikit. Kalau langsung rakus, perut kalian bisa kram."

Kirana mengangguk. "Kamu akan kembali?"

Pertanyaan itu sederhana, tapi di Planet Biru, pertanyaan seperti itu hampir sama dengan meminta janji hidup.

Arka menatap jam retaknya. Masih ada waktu, tapi tidak banyak. Ia harus mencari tempat aman untuk menyerap Kristal.

"Kalau kalian masih hidup, mungkin."

Salah satu pria tampak tidak puas dengan jawaban itu, tapi Kirana justru tersenyum lemah.

"Itu jawaban paling jujur yang kudengar minggu ini."

Arka tidak membalas. Ia pergi melalui gang samping, masuk ke sebuah ruang kantor kecil yang pintunya masih bisa dikunci. Setelah memastikan tidak ada zombi, ia menelan tiga Kristal sekaligus.

Rasa sakit langsung meledak.

Tubuhnya jatuh ke lantai. Ototnya berdenyut seperti kabel dialiri listrik. Kali ini panasnya lebih kuat, merayap ke tulang, paru-paru, mata, dan pusat kesadarannya. Ruang Dimensi di dalam dirinya bergetar, retak seperti cangkang telur, lalu mengembang.

Satu meter kubik.

Tiga meter.

Tujuh.

Sebelas meter kubik.

Arka membuka mata dengan napas berat. Keringat dingin membasahi lehernya. Tetapi dunia terlihat lebih tajam. Suara gerakan zombi di lantai bawah terdengar jelas. Tubuh gemuknya masih belum berubah banyak, tapi di balik lemak itu, tenaga baru mulai padat.

Evolvor tingkat dua.

Arka mengepalkan tangan.

Di dunia nyata, Rp 10 Miliar sudah membuatnya berdiri.

Di sini, tiga Kristal membuatnya tidak mudah dibunuh.

Dua jalur itu kini terbuka bersamaan.

Beberapa jam kemudian, pergantian kesadaran menariknya kembali.

Arka terbangun di kamar kost dengan napas memburu. Langit Depok sudah pagi. Burung berkicau di luar jendela seolah dunia tidak pernah runtuh di tempat lain.

Ia langsung mengambil ponsel dan menghubungi nomor pribadi Hendry Wibisana.

Panggilan tersambung pada dering ketiga.

"Pagi, Pak Arka," suara Hendry terdengar masih berat. "Ada barang lagi?"

Arka tersenyum tipis. Pedagang tua itu cepat belajar.

"Bukan emas. Berlian biru. Namanya Biru Semesta. Aku ingin Anda lihat hari ini."

Hening di seberang sana.

"Biru Semesta?" Nada Hendry berubah. "Pak Arka, jangan bercanda dengan nama itu. Kalau yang Anda maksud benar, barang seperti itu tidak pantas ditaruh di etalase biasa. Itu barang lelang internasional."

"Berapa kira-kira?"

Hendry menarik napas. "Kalau asli dan kondisinya bagus... bisa mendekati Rp 200 Miliar. Mungkin lebih untuk kolektor yang tepat."

Arka menatap kotak mi instan di sudut kamar.

Dua hari makanan.

Di minimarket, nilainya tidak sampai Rp 200.000.

Di Planet Biru, benda yang sama membeli berlian senilai dua ratus miliar.

Ia menutup mata, lalu tertawa pelan.

Inilah aturan dunia barunya.

Orang yang paling cepat memahami harga di dua dunia akan berdiri paling tinggi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!