Indonesia
NovelToon NovelToon

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Bab 1

"Kita putus saja, Bima."

Suara dingin itu terdengar sangat jelas di telinga Bima Aditya.

Dia menatap wanita di depannya dengan pandangan tidak percaya.

Wanita itu adalah Rina, kekasih yang sudah menemaninya sejak awal masuk fakultas kedokteran.

"Kenapa tiba-tiba begini?"

Bima mencoba meraih tangan Rina, tetapi wanita itu langsung menepisnya.

"Jangan sentuh aku."

Rina menatap Bima dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Kamu lihat dirimu sendiri, Bima."

"Kamu hanya dokter magang dengan gaji yang bahkan tidak cukup untuk membeli tas yang aku pakai ini."

Bima terdiam mendengar ucapan itu.

Dia memang bukan dari keluarga kaya raya.

Semua biaya kuliahnya didapat dari beasiswa dan kerja kerasnya sendiri.

"Tapi sebentar lagi aku akan menjadi dokter tetap."

"Aku janji hidup kita akan lebih baik, Rina."

Rina malah tertawa mendengar janji Bima.

Tawanya terdengar sangat menyakitkan di telinga.

"Menjadi dokter di rumah sakit ini?"

"Kamu pikir aku tidak tahu berapa gaji dokter biasa?"

"Bahkan jika kamu bekerja sepuluh tahun pun, kamu tidak akan bisa membelikan aku rumah mewah."

Tiba-tiba, sebuah mobil sport berwarna merah berhenti tepat di samping mereka.

Pintu mobil terbuka dan seorang pria berpenampilan rapi keluar dari sana.

Pria itu mengenakan setelan jas mahal dan jam tangan bermerek.

"Sudah selesai bicaranya, Sayang?"

Pria itu langsung merangkul pinggang Rina dengan santai.

Rina tersenyum manja dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.

"Sudah, Mas Kevin."

Bima mengepalkan tangannya kuat-kuat melihat adegan di depannya.

"Jadi ini alasanmu minta putus?"

"Kamu memilih pria ini hanya karena uang?"

Kevin menatap Bima dengan senyum mengejek.

"Jangan bicara begitu, Dokter Magang."

"Cinta itu butuh makan, dan sayangnya kamu tidak punya cukup uang untuk memberi makan wanita secantik Rina."

"Lagi pula, apa yang bisa dibanggakan dari dokter sepertimu?"

"Kamu hanya pesuruh di rumah sakit yang bahkan sering dimarahi oleh atasanmu sendiri."

Bima ingin membalas ucapan Kevin.

Tetapi semua yang dikatakan pria itu memang kenyataan pahit yang selalu dia hadapi setiap hari.

Dia selalu bekerja paling keras, mendapat giliran jaga malam paling sering, namun gajinya adalah yang paling kecil.

Seniornya juga sering mencuri pujian atas hasil kerja kerasnya.

"Ayo kita pergi, Mas."

"Udaranya jadi terasa miskin kalau kelamaan di sini."

Rina menarik tangan Kevin untuk masuk ke dalam mobil.

Mobil sport itu melaju pergi meninggalkan Bima yang berdiri mematung di pinggir jalan.

Rintik hujan mulai turun dari langit.

Seolah alam semesta ikut menertawakan nasibnya malam ini.

Bima berjalan gontai menyusuri trotoar yang mulai basah.

Pikirannya kosong.

Bertahun-tahun dia berjuang mati-matian.

Dia mengorbankan waktu tidur dan masa mudanya untuk belajar medis.

Tetapi pada akhirnya, dia tetap dipandang rendah oleh dunia.

"Apakah menjadi dokter yang baik saja tidak cukup?"

Bima bergumam sendirian di tengah derasnya hujan.

Dia tidak peduli tubuhnya sudah basah kuyup.

Langkah kakinya membawanya menuju sebuah perempatan jalan yang sepi.

Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah untuk pejalan kaki.

Namun pikiran Bima terlalu kacau untuk menyadari hal itu.

Dia terus melangkah menyeberangi jalan.

Ckittt!

Suara rem yang diinjak mendadak memecah keheningan malam.

Sebuah truk pengantar barang melaju kencang dari arah kanan.

Supir truk itu sudah berusaha mengerem, namun jalanan yang licin membuat ban tergelincir.

Bima menoleh dan melihat sepasang lampu sorot yang menyilaukan mata.

Brak!

Tubuh Bima terpental beberapa meter ke udara sebelum akhirnya menghantam aspal dengan keras.

Rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tulang rusuknya terasa patah.

Kepalanya membentur aspal hingga darah segar mengalir deras menutupi pandangannya.

"Apakah aku akan mati di sini?"

Napas Bima tersengal-sengal.

Pandangannya mulai kabur dan menggelap.

Orang-orang mulai berdatangan dan berteriak panik melihat kejadian itu.

Namun suara mereka terdengar semakin menjauh di telinga Bima.

Tepat ketika kesadarannya hampir sepenuhnya hilang, sebuah suara aneh bergema di dalam kepalanya.

Suara itu terdengar sangat mekanis dan tanpa emosi.

[Mendeteksi gelombang otak yang melemah.]

[Mendeteksi tubuh inang dalam kondisi kritis.]

[Mencari solusi penyelamatan.]

[Kecocokan inang mencapai seratus persen.]

Bima tidak tahu dari mana suara itu berasal.

Dia bahkan tidak memiliki sisa tenaga untuk memikirkannya.

[Proses integrasi dimulai.]

[Satu persen... lima puluh persen... seratus persen.]

[Selamat. Sistem Medis Super telah berhasil diaktifkan.]

Gelombang energi yang hangat tiba-tiba mengalir ke seluruh tubuh Bima.

Rasa sakit di kepala dan dadanya berangsur-angsur menghilang.

Luka-luka yang menganga di tubuhnya tertutup kembali dalam hitungan detik.

Bima membuka matanya dengan terkesiap.

Dia menarik napas panjang seperti orang yang baru saja tenggelam.

Dia melihat ke arah tangannya sendiri dengan perasaan tidak percaya.

"Apa yang baru saja terjadi?"

"Bukannya tadi aku tertabrak truk?"

Bima segera bangkit berdiri.

Dia meraba seluruh tubuhnya dan tidak menemukan satu pun luka yang tersisa.

Pakaiannya memang masih robek dan berlumuran darah.

Tetapi tubuhnya berada dalam kondisi yang sangat bugar.

Bahkan dia merasa lebih sehat daripada sebelumnya.

"Bapak tidak apa-apa?"

Seorang pria paruh baya berlari menghampiri Bima dengan wajah pucat pasi.

Dia adalah supir truk yang tadi menabraknya.

"Saya tadi lihat bapak terpental jauh sekali."

"Astaga, banyak sekali darahnya."

Supir itu terlihat sangat ketakutan dan gemetar.

Bima menatap supir itu dengan bingung.

"Saya tidak apa-apa, Pak."

"Luka saya tidak parah."

Tiba-tiba, suara jeritan seorang wanita terdengar dari arah seberang jalan.

"Tolong!"

"Anak saya tolong!"

Bima menoleh dengan cepat.

Ternyata truk tadi tidak hanya menabrak dirinya.

Truk itu sempat oleng dan menabrak sebuah sepeda motor yang ditumpangi oleh seorang ibu dan anak remajanya.

Naluri dokter Bima langsung mengambil alih.

Dia segera berlari mendekati kerumunan orang yang mulai terbentuk.

"Minggir, saya seorang dokter!"

Bima menerobos kerumunan itu.

Dia melihat seorang remaja laki-laki tergeletak di tanah dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Kaki kanannya hancur terjepit badan motor.

Namun yang paling parah adalah luka di perutnya.

Sebuah besi pelindung jalan yang patah telah menusuk menembus perut remaja itu.

Darah segar mengalir deras membentuk genangan di aspal.

Wajah remaja itu sudah sepucat kertas dan napasnya sangat lemah.

"Tolong anak saya, Dok."

Ibu remaja itu menangis histeris sambil memegangi tangan anaknya.

Bima segera berlutut dan memeriksa denyut nadi di leher remaja itu.

Sangat lemah dan cepat.

Ini adalah tanda syok hemoragik akibat pendarahan hebat.

"Seseorang tolong hubungi ambulans sekarang!"

Bima berteriak kepada kerumunan warga.

"Sudah, Dok."

"Tapi rumah sakit terdekat berjarak sekitar lima belas menit dari sini."

Mendengar itu, hati Bima terasa tenggelam.

Lima belas menit terlalu lama.

Dalam kondisi pendarahan masif seperti ini, pasien akan meninggal dalam waktu kurang dari lima menit.

Tepat pada saat itu, sebuah layar transparan berwarna biru tiba-tiba muncul di depan mata Bima.

Bima terkejut hingga hampir mundur selangkah.

Layar itu melayang di udara dan menampilkan teks yang bercahaya.

[Mendeteksi pasien dengan trauma tembus abdomen dan ruptur arteri hepatika.]

[Estimasi sisa waktu hidup: 4 menit 12 detik.]

[Misi Darurat diaktifkan.]

[Selamatkan nyawa pasien dalam waktu yang ditentukan.]

[Hadiah: Penguasaan Teknik Penjahitan Pembuluh Darah Tingkat Master.]

[Hukuman jika gagal: Penurunan fungsi motorik tangan selama satu bulan.]

Bima menelan ludah membaca tulisan di layar itu.

Sistem Medis Super yang dia dengar sebelumnya ternyata benar-benar nyata.

Sistem ini tidak hanya memberitahu diagnosis yang akurat, tetapi juga sisa waktu hidup pasien.

Ruptur arteri hepatika.

Itu adalah pendarahan pada pembuluh darah utama di hati.

Pantas saja darahnya mengalir sangat cepat.

Tanpa peralatan bedah lengkap dan ruang operasi, ini adalah kasus yang mustahil ditangani.

Tetapi Bima tidak punya pilihan lain.

Jika dia menunggu ambulans, remaja ini pasti akan mati.

Jika dia mencoba mencabut besi itu sekarang, pendarahan akan semakin hebat.

Bima harus melakukan tindakan bedah darurat di tempat ini juga.

Di tengah jalanan yang basah dan kotor.

"Ibu, tolong pegang tangan anak ibu kuat-kuat."

"Saya harus menghentikan pendarahannya sekarang juga."

Bima menatap kerumunan warga di sekitarnya.

"Apakah ada yang punya alkohol murni atau minuman keras?"

"Pisau silet yang baru atau pisau yang sangat tajam?"

Seorang pria dari warung tenda di dekat sana berlari membawa sebotol alkohol tujuh puluh persen dan sebuah pisau dapur kecil yang tajam.

"Ini, Dok."

"Pisau ini baru saya asah tadi sore."

Bima menerimanya tanpa ragu.

Dia menyiramkan alkohol ke pisau dapur itu dan ke tangannya sendiri.

Orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik ngeri.

"Dokter itu mau apa?"

"Dia mau membedah anak itu pakai pisau dapur?"

"Itu gila, dia bisa membunuhnya!"

Bima mengabaikan semua omongan orang-orang itu.

Fokusnya kini hanya pada pasien di depannya.

Tatapan matanya berubah menjadi sangat tajam dan dingin.

Saat dia memegang gagang pisau dapur itu, sebuah aliran data tiba-tiba masuk ke dalam otaknya.

[Mengaktifkan Mode Pandangan Sinar-X sementara.]

[Mengaktifkan Bantuan Anatomi Tingkat Lanjut.]

Tiba-tiba, pandangan Bima menembus kulit dan otot perut remaja itu.

Dia bisa melihat dengan jelas organ dalam yang rusak dan pembuluh darah yang robek.

Dia tahu persis di mana dia harus membuat sayatan.

Bima menempelkan ujung pisau dapur ke perut remaja itu.

Tindakannya malam ini akan mengubah jalan hidupnya selamanya.

Bab 2

Suasana di jalanan itu berubah menjadi sangat kacau.

Orang-orang berteriak panik ketika melihat Bima menempelkan pisau dapur ke perut remaja yang terluka itu.

"Hei! Apa yang kamu lakukan?!" teriak seorang pria berbadan besar dari kerumunan.

"Dia mau membunuh anak itu! Cepat hentikan dia!" seru seorang ibu-ibu sambil menunjuk ke arah Bima.

Ibu dari remaja itu semakin histeris melihat tindakan Bima.

"Tolong jangan sakiti anak saya! Lepaskan pisau itu!" tangis sang ibu sambil berusaha menarik tangan Bima.

Bima tidak menepis tangan ibu itu.

Dia menatap mata sang ibu dengan tatapan yang sangat tenang namun penuh ketegasan.

"Ibu, dengarkan saya baik-baik."

"Arteri di dalam perut anak ibu pecah dan dia akan mati kehabisan darah dalam tiga menit."

"Jika ibu menghentikan saya sekarang, saya jamin anak ibu tidak akan selamat sampai ambulans tiba."

Mendengar nada suara Bima yang begitu dingin dan meyakinkan, tangan ibu itu perlahan mengendur.

Dia tidak tahu apa itu arteri, tetapi dia tahu arti dari kematian.

"Tolong selamatkan dia, Dok."

"Saya mohon, lakukan apa saja asalkan anak saya hidup," isak ibu itu dengan putus asa.

Bima mengangguk pelan.

"Saya akan berusaha semaksimal mungkin."

"Tolong bantu saya tahan tubuh anak ibu agar tidak banyak bergerak."

Bima kembali mengalihkan pandangannya ke arah perut remaja yang tertusuk besi pembatas jalan.

[Waktu tersisa: 3 menit 20 detik.]

Teks berwarna biru dari Sistem Medis Super kembali berkedip di sudut matanya.

Waktu terus berjalan mundur tanpa ampun.

Berkat Bantuan Anatomi Tingkat Lanjut, Bima bisa melihat dengan jelas letak pendarahan utama.

Ada sebuah pembuluh darah besar di dekat organ hati yang robek akibat ujung besi.

Bima menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya.

Srak!

Pisau dapur itu mengiris kulit dan lapisan otot di sekitar luka tusukan dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi.

Darah segar langsung menyembur keluar membasahi tangan dan pakaian Bima.

Kerumunan warga menjerit ketakutan melihat pemandangan mengerikan itu.

Beberapa orang bahkan memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat banyak darah.

"Ya Tuhan, dia benar-benar membedahnya!"

"Itu malapraktik! Kita harus rekam ini untuk bukti ke polisi!"

Beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel mereka dan merekam tindakan Bima.

Namun Bima sama sekali tidak peduli dengan kamera yang menyorotnya.

Pikirannya sepenuhnya fokus pada anatomi di dalam perut remaja itu.

"Sistem, seberapa dalam letak arterinya?" tanya Bima di dalam hatinya.

[Tiga sentimeter di bawah lapisan otot transversus abdominis.]

[Arahkan jari telunjuk dan tengah Anda pada sudut empat puluh lima derajat ke arah kiri.]

Bima langsung mengikuti instruksi sistem tanpa ragu sedikit pun.

Dia memasukkan dua jarinya ke dalam genangan darah di perut pasien.

Jari-jarinya meraba-raba mencari sumber denyut nadi yang bocor.

Tekstur licin dan hangat dari darah membuat usahanya menjadi sangat sulit.

"Ayo, di mana kamu?" gumam Bima dengan keringat dingin mengucur di dahinya.

[Waktu tersisa: 2 menit 15 detik.]

[Peringatan. Tekanan darah pasien turun hingga batas kritis.]

Pasien remaja itu mulai kejang ringan karena otaknya kekurangan pasokan darah.

"Tahan tubuhnya, Bu! Jangan biarkan dia bergerak!" teriak Bima.

Ibu itu menangis sambil memeluk dada anaknya sekuat tenaga.

Tiba-tiba, ujung jari Bima merasakan semburan darah yang hangat dan berdenyut kencang.

Dia menemukannya.

Itu adalah arteri hepatika yang robek.

Tanpa membuang waktu, Bima langsung menjepit pembuluh darah itu dengan dua jarinya.

Dia menekan arteri itu ke arah tulang belakang untuk menghentikan aliran darah.

Seketika itu juga, semburan darah yang keluar dari perut pasien mulai melambat dan akhirnya berhenti.

Bima menghela napas panjang dengan rasa lega yang luar biasa.

"Berhasil," bisiknya.

[Pendarahan utama berhasil ditekan.]

[Penurunan tekanan darah telah dihentikan.]

[Namun pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut untuk menyambung arteri yang robek.]

Sistem memberikan laporan secara real-time di depan mata Bima.

Bima tahu bahwa menjepit dengan jari bukanlah solusi permanen.

Dia tidak mungkin terus berada dalam posisi seperti ini sampai di ruang operasi.

Dia butuh sesuatu untuk mengikat pembuluh darah itu sementara waktu.

"Apakah ada yang punya benang gigi atau tali pancing yang bersih?!" teriak Bima ke arah kerumunan.

Orang-orang saling berpandangan dengan bingung.

"Untuk apa benang gigi, Dok?" tanya seorang pemuda.

"Jangan banyak tanya! Cepat carikan kalau ada!" bentak Bima yang mulai kehilangan kesabaran.

Seorang wanita muda berlari maju dari kerumunan.

"Saya punya benang jahit yang baru beli dari minimarket, Dok."

"Apakah ini bisa dipakai?"

Wanita itu menyodorkan sebuah gulungan benang nilon berwarna putih.

Bima melihat benang itu dan mengangguk cepat.

"Sempurna."

"Tolong siramkan alkohol ke benang itu dan berikan kepada saya."

Wanita itu melakukan instruksi Bima dengan tangan gemetar.

Setelah benang itu disterilkan secara seadanya, Bima menerimanya dengan tangannya yang bebas.

Sekarang datang bagian tersulitnya.

Dia harus mengikat arteri yang licin itu hanya dengan satu tangan, karena tangannya yang lain masih menjepit sumber pendarahan.

Ini adalah teknik tingkat dewa yang bahkan belum tentu bisa dilakukan oleh dokter spesialis bedah paling berpengalaman sekalipun.

Apalagi dilakukan di tengah jalanan yang gelap dan hujan.

Bima menggigit bibir bawahnya untuk menahan ketegangan.

Tiba-tiba, dia teringat tentang hadiah dari sistem yang belum dia dapatkan.

Jika saja dia sudah menguasai Teknik Penjahitan Pembuluh Darah Tingkat Master, ini pasti akan sangat mudah.

Tetapi dia harus menyelesaikan misi ini terlebih dahulu untuk mendapatkan hadiahnya.

"Aku pasti bisa," gumam Bima menyemangati dirinya sendiri.

Dia menggunakan gigi dan satu tangannya untuk membuat simpul hidup pada benang nilon tersebut.

Lalu dengan gerakan perlahan, dia memasukkan benang itu ke dalam luka dan mengalungkannya pada arteri yang robek.

Jari-jarinya bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan, seolah-olah dipandu oleh insting yang tidak terlihat.

Bab 3

Sret.

Bima menarik simpul benang itu dengan kencang, lalu melepaskan jepitan jarinya secara perlahan.

Darah tidak lagi menyembur keluar.

Ikatan benang nilon itu berhasil menyumbat arteri hepatika dengan sempurna.

Bima jatuh terduduk di aspal sambil mengatur napasnya yang memburu.

Pakaian dan wajahnya sudah penuh dengan noda darah.

[Misi Darurat berhasil diselesaikan.]

[Pasien telah melewati masa kritis dan nyawanya aman untuk sementara waktu.]

[Menyalurkan hadiah: Penguasaan Teknik Penjahitan Pembuluh Darah Tingkat Master.]

Seketika itu juga, ribuan memori asing menyerbu masuk ke dalam otak Bima.

Memori itu berisi pengalaman, teknik, dan trik menjahit berbagai macam pembuluh darah manusia.

Perasaannya seolah-olah dia telah melakukan puluhan ribu operasi bedah vaskular selama puluhan tahun.

Tangan Bima terasa gatal dan otot-otot jarinya mengalami sedikit perubahan untuk menyesuaikan dengan memori otot yang baru.

Rasa sakit dan pusing akibat integrasi memori itu membuat Bima memejamkan mata sejenak.

"Anakku... napasnya mulai teratur," ucap sang ibu dengan suara bergetar bahagia.

Wajah pucat remaja itu perlahan mulai menunjukkan sedikit warna kehidupan, meskipun dia masih belum sadarkan diri.

Kerumunan warga yang sejak tadi menahan napas kini mulai bernapas lega.

Beberapa orang mulai memuji tindakan berani Bima.

"Wah, dokter ini hebat sekali."

"Saya kira tadi dia orang gila, ternyata dia benar-benar menyelamatkan nyawa."

"Maafkan kami yang sudah berburuk sangka ya, Dok."

Bima hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan warga.

Dia terlalu lelah untuk berbicara banyak.

Ninu! Ninu! Ninu!

Suara sirene ambulans akhirnya terdengar memecah keramaian.

Sebuah ambulans bertuliskan Rumah Sakit Medika Utama berhenti tepat di dekat lokasi kejadian.

Rumah Sakit Medika Utama adalah tempat Bima bekerja sebagai dokter magang.

Pintu belakang ambulans terbuka dengan cepat.

Beberapa perawat pria melompat turun sambil membawa tandu darurat.

Di belakang mereka, seorang dokter pria berusia sekitar empat puluhan berjalan keluar dengan wajah angkuh.

Dia mengenakan jas dokter yang bersih dan rapi.

Itu adalah Dokter Surya, salah satu dokter spesialis senior yang sangat berkuasa di rumah sakit.

Dokter Surya juga dikenal sering mempersulit pekerjaan Bima dan sering mengambil kredit atas hasil kerja Bima.

"Beri jalan! Biarkan tim medis profesional menangani ini!" teriak Dokter Surya dengan nada merendahkan.

Kerumunan warga segera mundur untuk memberikan ruang.

Mata Dokter Surya langsung tertuju pada pasien remaja yang tergeletak di aspal, dan genangan darah di sekitarnya.

Lalu pandangannya beralih pada sosok pria berlumuran darah yang duduk di dekat pasien.

"Siapa yang melakukan tindakan konyol ini?!" Dokter Surya membentak keras.

Bima perlahan berdiri dan menatap Dokter Surya.

"Saya yang melakukannya, Dokter Surya."

Dokter Surya membelalakkan matanya saat mengenali wajah Bima.

"Bima? Kamu?"

"Kamu dokter magang rendahan yang tidak tahu aturan itu?"

Nada suara Dokter Surya semakin meninggi dan penuh dengan kemarahan.

"Apa yang sudah kamu lakukan, hah?!"

"Kamu mengiris perut pasien di jalanan kotor seperti ini?!"

"Kamu tahu ini pelanggaran prosedur medis yang sangat fatal?!"

Bima tidak gentar sedikit pun menghadapi kemarahan seniornya.

"Pasien mengalami pendarahan masif akibat ruptur arteri hepatika, Dok."

"Jika saya menunggu ambulans datang, pasien sudah menjadi mayat sekarang."

Dokter Surya mendengus jijik mendengar penjelasan Bima.

"Jangan mencoba mengajariku, Magang!"

"Kamu mendiagnosis ruptur arteri hepatika tanpa bantuan alat pencitraan medis?"

"Kamu pikir kamu punya mata rontgen?!"

Dokter Surya menunjuk wajah Bima dengan jarinya.

"Kamu hanya mencari sensasi!"

"Menggunakan pisau dapur kotor dan benang sembarangan untuk membedah orang."

"Jika pasien ini mati karena infeksi, kamu akan membusuk di penjara!"

"Aku pastikan lisensi medismu akan dicabut seumur hidup!"

Warga sekitar yang tadinya memuji Bima kini mulai kembali ragu mendengar ucapan Dokter Surya.

Mereka berpikir bahwa mungkin Bima memang melakukan kesalahan prosedur.

"Cepat angkat pasien ke tandu dan periksa tanda-tanda vitalnya!" perintah Dokter Surya kepada para perawat.

Dua orang perawat segera memeriksa pasien tersebut.

Mereka memasang alat pengukur tekanan darah dan mengecek luka di perut pasien.

Salah satu perawat itu, yang bernama Rudi, menatap luka pasien dengan ekspresi terkejut.

"Dokter Surya..." panggil perawat Rudi dengan suara ragu.

"Ada apa? Pasiennya sudah meninggal karena ulah anak ini?" sahut Dokter Surya sinis.

"Bukan begitu, Dok."

Perawat Rudi menelan ludahnya sebelum melanjutkan laporannya.

"Tekanan darah pasien memang rendah, tapi perlahan mulai naik dan stabil."

"Dan... pendarahan di perutnya benar-benar berhenti total."

Dokter Surya mengernyitkan dahinya tidak percaya.

"Jangan bicara omong kosong, Rudi."

"Minggir, biar aku lihat sendiri."

Dokter Surya berjongkok dan memeriksa luka sayatan di perut pasien.

Dia menyalakan senter medisnya dan menyorot ke bagian dalam luka.

Mata Dokter Surya melebar hingga hampir keluar dari kelopaknya.

Dia melihat sebuah ikatan benang nilon yang sangat rapi dan presisi menyumbat arteri yang pecah.

Ikatan itu dibuat dengan teknik yang sangat sempurna.

Bahkan Dokter Surya ragu apakah dia sendiri bisa membuat ikatan serapi itu di ruang operasi yang terang benderang.

"Ini... ini tidak mungkin," gumam Dokter Surya dengan suara pelan.

"Bagaimana seorang dokter magang bisa melakukan ligasi pembuluh darah secara buta di jalanan gelap seperti ini?"

Dokter Surya menatap Bima seperti melihat hantu.

Rasa tidak percaya, iri, dan harga diri yang terluka bercampur aduk di dalam dadanya.

Bima membalas tatapan Dokter Surya dengan senyum tipis yang meremehkan.

"Bawa pasien ke rumah sakit sekarang, Dokter Surya."

"Tugas saya di sini sudah selesai."

"Dan jangan lupa, pastikan ruang operasi sudah siap saat kalian tiba di sana."

Bima membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari ambulans.

Dia meninggalkan Dokter Surya yang masih terdiam kaku karena syok.

Langkah kaki Bima terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Di dalam kepalanya, suara Sistem Medis Super kembali terdengar.

[Inang telah menunjukkan potensi yang sangat baik.]

[Misi Utama Tahap Satu diaktifkan.]

[Tingkatkan reputasi medis inang di Rumah Sakit Medika Utama.]

[Jadilah dokter yang paling disegani dalam waktu tiga puluh hari.]

Bima menatap langit malam yang masih menyisakan rintik hujan.

Hari ini, dia dicampakkan oleh kekasihnya dan dihina karena kemiskinannya.

Namun mulai malam ini juga, Bima Aditya yang lama telah mati.

Dia akan menggunakan sistem ini untuk membuktikan kepada dunia, siapa dokter yang sebenarnya.

"Rina, Kevin, Dokter Surya..."

"Tunggu saja pembalasanku," batin Bima dengan tekad yang membara.

Langkah kakinya menembus kegelapan malam, menuju masa depan yang baru saja terbuka lebar untuknya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!